BAB III METODE PENELITIAN
3.3. Populasi dan sampel penelitian
3.3.2. Sampel penelitian
3.3.2.3. Teknik pengambilan sampel penelitian
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik Random Sampling (Sampel acak) yaitu teknik pengambilan sampel dari populasi dimana setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai
sampel. Cara pengambilanya menggunakan Simple Random Sampling dengan menggunakanrumus:
=
n = (1.962)(0.5)(1-0.5) / (0.12) = 96.04 (dibulatkan 100 sampel)
Keterangan:
n = besar sampel penelitian
Za2 = tingkat kemaknaan [ditetapkan] = 1.96 P = proporsi
Q = 1-P
D = tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki [ditetapkan] = 1,96
3.4. Cara mengumpulkan data
Data yang dikumpulkan berupa data primer. Tenaga perawat telah diberikan penjelasan dan diminta untuk menandatangani surat persetujuan setelah penjelasan yang diberikan peneliti. Bila tenaga perawat setuju, peneliti akan memberikan kuisioner penelitian yang akan diisi oleh mereka pada saat itu juga. Data tersebut dikumpulkan dan diinterpretasikan lebih lanjut.
3.5 Cara menganalisis data
Semua data yang dikumpulkan telah diolah dengan menggunakan sebuah perangkat lunak statistik sesuai dengan tujuan penelitian. Data telah dianalisis secara analitik menggunakan teknik chi-square untuk mengetahui distribusi frekuensi karakteristik subyek penelitian. Data yang dilkumpulkan kemudian akan dilakukan
proses editing, coding, entry, cleaning dan saving untuk selanjutnya dianalisa.
Analisis data secara statistic menggunakan bantuan program SPSS.
3.6. Variabel dan Definisi Operasional
Adapun definisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini adalah seperti berikut:
Tabel 3.1 Definisi operasional
VARIABEL DEFINISI ALAT UKUR SKALA UKUR
Usia Rentang kehidupan yang diukur dengan tahun
Kuesioner Ratio
Jenis kelamin Perbedaan antara perempuan dan laki-laki secara biologis sejak seorang lahir
Kuesioner Nominal
Pendidikan Lamanya sekolah atau tingkatan tingkat sekolah yang telah diikuti oleh responden
Kuesioner Ordinal
Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh tenaga perawat umah Sakit USU tentang aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
Kuesioner Ordinal
Sikap Reaksi atau respon tenaga perawat terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja. Dengan kata lain sikap adalah kecenderungan untuk mengadakan tindakan, dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk sepakat atau tidaknya kebijakan terhadap sesuatu.
Kuesioner Ordinal
Tindakan Hasil observasi peneliti dengan lembar observasi berupa kuesioner terkait tindakan tenaga perawat terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
Kuesioner Ordinal
3.7. Metode Pengukuran Variabel
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit USU yang merupakan salah satu dari 20 Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Rumah sakit ini terletak di Jalan Dr Mansyur, Medan.
Sarana yang dimiliki Rumah Sakit USU Medan, antara lain:
1) Instalasi Gawat Darurat (IGD) 2) Instalasi Rawat Jalan
3) Instalasi Rawat Inap
4) Instalasi Radiologi-Pencitraan 5) Instalasi Laboratorium Klinik 6) Rehabilitasi Medik
7) Hemodialisa
8) Pemulasaran Jenazah 9) Kamar Persalinan 10) Maternitas
Data-data penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner kepada tenaga perawat yang bekerja di Rumah Sakit USU dan mengambil waktu selama 1 bulan bermula dari 7 September 2018 dan selesai pengumpulan data pada 10 Oktober 2018. Pertanyaan dari kuesioner tersebut berdasarkan domain perilaku terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan yang keseluruhannya 27 pertanyaan.
4.2 Analisis Univariat
4.2.1 Karakteristik Responden di Rumah Sakit USU
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1 Karakteristik demografi responden tenaga perawat di Rumah Sakit USU menurut usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lama bekerja
No. Karakteristik Responden n (%) penelitian ini berusia antara 26-35 tahun (masa dewasa awal) yaitu sebanyak 81 orang (81%), untuk karakteristik jenis kelamin menunjukkan presentase perempuan lebih dominan dari laki-laki yaitu 84 orang (84%) berbanding 16 orang (16%). Bagi karakteristik pendidikan yang terbanyak adalah tingkat pendidikan diploma keperawatan (d3 keperawatan) sebanyak 69 orang (69%).
Bila dilihat dari lama bekerja pula, mayoritas tenaga perawat sudah bekerja >5 tahun yaitu sebanyak 73 orang (73%).
4.2.2 Distribusi indikator pengetahuan pada kuesioner
Hasil dari kuesioner pengetahuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2 kuesioner pengetahuan
No. Indikator Pengetahuan SS % S % TS % STS %
1. Rumah sakit tempat saya bekerja harus memiliki komite yang mengelola K3
RS. 80 80 20 20 0 0 0 0
2. Saya harus mengetahui dan memahami Standar Prosedur Operasional (SPO) dan ketentuan K3 yang berhubungan dengan pekerjaan saya.
77 77 23 23 0 0 0 0
3. Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh lalainya menggunakan alat pelindung diri dan kondisi tempat kerja yang tidak aman.
58 58 34 34 6 6 2 2
4. Pada area yang mengandung sumber bahaya perlu diberikan tanda
peringatan. 77 77 30 30 2 2 1 1
5. Meletakkan peralatan dan ruangan kerja yang baik dapat mencegah terjadinya
kecelakaan. 63 63 34 34 0 0 3 3
6. Petunjuk bahaya di lingkungan kerja rumah sakit berpengaruh terhadap pencegahan kecelakaan kerja.
59 59 41 41 0 0 0 0
7. Menurut saya, pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan dan keselamatan kerja yang diberikan rumah sakit sudah cukup memadai.
32 32 52 52 16 16 0 0
8. Menurut saya, penyebab dasar terjadinya kecelakaan adalah karena
kondisi dan tindakan yang tidak aman. 19 19 67 67 14 14 0 0 9. Saya telah mengenali dengan baik
seluruh risiko bahaya ada ada di lingkungan kerja saya.
7 7 52 52 32 32 9 9
Pengetahuan responden dianalisis berdasarkan 9 pertanyaan dengan pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Tabel 4.2 ini menunjukkan bahwa jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas menyatakan sangat setuju dan setuju.
Responden yang mayoritas menjawab sangat setuju, antara lain dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan berikut; Rumah sakit tempat saya bekerja harus memiliki komite yang mengelola K3 RS, sebanyak 80 orang (80%)
menjawab sangat setuju. Saya harus mengetahui dan memahami Standar Prosedur Operasional (SPO) dan ketentuan K3 yang berhubungan dengan pekerjaan saya, dan pada area yang mengandung sumber bahaya perlu diberikan tanda peringatan masing-masing sebanyak 77 orang (77%) menjawab sangat setuju.
Responden yang mayoritas menjawab setuju, dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan berikut; Menurut saya, pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan dan keselamatan kerja yang diberikan rumah sakit sudah cukup memadai, sebanyak 52 orang (52%) menjawab setuju. Menurut saya, penyebab dasar terjadinya kecelakaan adalah karena kondisi dan tindakan yang tidak aman, sebanyak 67 orang (67%) menjawab setuju. Saya telah mengenali dengan baik seluruh risiko bahaya ada ada di lingkungan kerja saya, sebanyak 52 orang (52%) menjawab setuju.
4.2.3 Distribusi indikator sikap pada kuesioner
Hasil dari kuesioner sikap dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3 kuesioner sikap
No. Indikator Sikap SS % S % TS % STS %
1. Menurut saya, pedoman K3 di Rumah sakit harus
dipatuhi dengan disiplin. 67 67 33 33 0 0 0 0
2. Menurut saya, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya perlindungan bagi
pegawai dan rekan kerja. 55 55 45 45 0 0 0 0
3. Menurut saya, kecelakaan adalah suatu kejadian
yang tidak dikehendaki. 48 48 48 48 4 4 0 0
4. Menurut saya, alat pelindung diri hanya perlu
dipakai ditempat berbahaya. 10 10 29 29 54 54 7 7
5. Menurut saya, kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh lalainya pegawai menggunakan
alat pelindung diri. 13 13 47 47 38 38 2 2
6. Menurut saya, kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh acuhnya pegawai pada
aturan-aturan K3. 12 12 72 72 13 13 3 3
7. Menurut saya ,perlu mengingatkan pegawai lain yang tidak mematuhi peraturan pekerjaan yang
beresiko kecelakaan. 39 39 51 51 9 9 1 1
8. Saya akan membiarkan alat.-alat atau material
yang berbahaya berserakan di tempat kerja. 12 12 18 18 21 21 49 49
Sikap responden dianalisis berdasarkan 8 pertanyaan dengan pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Tabel 4.3 ini menunjukkan bahwa jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas menyatakan sangat setuju dan setuju.
Responden yang menjawab sangat setuju tentang sikap dapat dilihat dari pertanyaan-pertanyaan berikut; Menurut saya, pedoman K3 di Rumah sakit harus dipatuhi dengan disiplin, sebanyak 67 orang (67%) menjawab sangat setuju.
Menurut saya, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya perlindungan bagi pegawai dan rekan kerja, sebanyak 55 orang (55%) menjawab sangat setuju.
Responden yang menjawab setuju tentang sikap dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan berikut; Menurut saya, kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh lalainya pegawai menggunakan alat pelindung diri, sebanyak 47 orang (47%) menjawab setuju. Menurut saya, kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh acuhnya pegawai pada aturan-aturan K3, sebanyak 72 (72%) menjawab setuju. Menurut saya, perlu mengingatkan pegawai lain yang tidak mematuhi peraturan pekerjaan yang beresiko kecelakaan, sebanyak 51 orang (51%) menjawab setuju.
Responden yang mayoritas menjawab tidak setuju dapat dilihat pada pertanyaan berikut; Menurut saya, alat pelindung diri hanya perlu dipakai ditempat berbahaya, sebanyak 54 orang (54%) menjawab tidak setuju.
Responden yang menjawab dengan jawaban sangat tidak setuju dapat dilihat pada pertanyaan berikut; Saya akan membiarkan alat.-alat atau material yang berbahaya berserakan di tempat kerja, sebanyak 49 orang (49%) menjawab sangat tidak setuju.
4.2.4 Distribusi indikator tindakan pada kuesioner
Hasil dari kuesioner sikap dapat dilihat pada tabrel di bawah ini:
Tabel 4.4 kuesioner tindakan
No. Indikator Sikap Ya
(n) % Tidak
(n) %
1. Pernah mengikuti pelatihan K3. 79 79 21 21
2. Pernah mengalami kecelakaan kerja. 34 34 66 66
3. Memakai APD saat bekerja. 100 100 0 0
4. Bekerja mematuhi SPO. 100 100 0 0
5. Memakai APD hanya bila diawasi. 29 29 71 71
6. Kecelakaan kerja karena tidak hati-hati. 81 81 19 19
7. Memakai APD dengan tepat. 98 98 2 2
8. Mengetahui SPO pekerjaan. 86 86 14 14
9. Rekan kerja dan atasan mengingatkan untuk mematuhi SPO. 78 78 22 22
10. Mendapat sosialisasi kebijakan dari rumah sakit. 79 79 21 21
Tindakan responden dianalisis berdasarkan 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban yaitu Ya dan Tidak. Mayoritas responden memilih untuk menjawab Ya kecuali pada pertanyaan-pertanyaan berikut; Pernah mengalami kecelakaan kerja, sebanyak 66 orang (66%) menjawab tidak. Memakai APD hanya bila diawasi, sebanyak 71 orang (71%) menjawab tidak pada pertanyaan ini.
4.2.5 Distribusi Kategori pada Kuesioner Pengetahuan
Tabel 4.5 Distribusi Kategori pada Kuesioner Pengetahuan
Kategori Pengetahuan n (%)
Proporsi responden berdasarkan kategori pengetahuan terbanyak adalah yang berkategori Baik yaitu sebanyak 77 orang (77%), dan responden yang berkategori cukup baik sebanyak 23 orang (23%).
4.2.6 Distribusi Kategori pada Kuesioner Sikap
Tabel 4.6 Distribusi Kategori pada Kuesioner Sikap
Kategori sikap n (%)
Baik 74 (0,74)
Cukup Baik 26 (0,26)
Kurang Baik 0 (0,00)
Sangat Kurang Baik 0 (0,00)
Total 100 (1,00)
Proporsi responden berdasarkan kategori sikap terbanyak adalah yang berkategori Baik yaitu sebanyak 74 orang (74%), dan responden yang berkategori cukup baik sebanyak 26 orang (26%).
4.2.7 Distribusi Kategori pada Kuesioner Tindakan
Tabel 4.7 Distribusi Kategori pada Kuesioner Tindakan
Kategori Tindakan n (%)
Baik 0 (0,00)
Cukup Baik 95 (0,95)
Kurang Baik 5 (0,05)
Total 100 (1,00)
Proporsi responden berdasarkan kategori Tindakan terbanyak adalah yang berkategori Cukup Baik yaitu sebanyak 95 orang (95%), dan responden yang berkategori Kurang Baik sebanyak 5 orang (5%).
4.3 Analisis Bivariat
4.3.1 Frekuensi Hubungan tindakan tenaga perawat dengan
pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja
Adapun distribusi frekuensi hubungan tindakan tenaga perawat dengan pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 hubungan tindakan tenaga perawat dengan pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan
Hasil analisis hubungan antara tindakan tenaga perawat dengan pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja terhadap 100 responden yang terdapat di Rumah Sakit USU menunjukkan bahwa ada sebanyak 21% responden yang mempunyai pengetahuan yang cukup baik dan akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja. Presentasi yang mendominasi hasil analisis ini adalah pada responden yang mempunyai pengetahuan yang baik dan akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja yaitu sebesar 74%.
Manakala, yang mempunyai pengetahuan yang cukup baik serta akan melakukan tindakan yang sesuai dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja merangkumi 2% daripada hasil analisis ini. Berdasarkan hasil uji chi square diperoleh p value
= 0.324 (>0.05), artinya tidak terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja dengan tindakan tenaga perawat di Rumah Sakit USU.
4.3.2 Frekuensi Hubungan tindakan tenaga perawat dengan sikap terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja
Distribusi frekuensi hubungan tindakan tenaga perawat terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilihat pada tabel 4.9
Tabel 4.9 hubungan tindakan tenaga perawat dengan sikap terhadap aspek kesehatan dan
Hasil analisis hubungan antara tindakan tenaga perawat dengan sikap terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja terhadap 100 responden yang terdapat di Rumah Sakit USU menunjukkan bahwa ada sebanyak 4% responden yang mempunyai sikap yang baik dan akan melakukan tindakan sesuai dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja. Presentasi yang mendominasi hasil analisis ini adalah pada responden yang mempunyai sikap yang cukup baik dan tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja yaitu sebesar 73%. Manakala, yang mempunyai sikap yang cukup baik serta akan melakukan tindakan yang sesuai dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja merangkumi 1% daripada hasil analisis ini. Berdasarkan hasil uji chi square diperoleh p value = 0.016 (>0.05), artinya terdapat hubungan antara sikap terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja dengan tindakan tenaga perawat di Rumah Sakit USU.
4.4 PEMBAHASAN
4.4.1 Karakteristik Tingkat Pendidikan Tenaga Perawat di Rumah Sakit USU
Kemampuan kerja seseorang berkait rapat dengan tingkat pendidikan yang telah ditetapkan untuk ditempuh oleh seseorang sebagai tenaga perawat. Hal ini dapat dibuktikan melalui uji hasil analisis pada penelitian ini, yang menunjukkan seramai 69 orang dengan tingkat pendidikan D3, 30 orang dengan tingkat pendidikan S1 keperawatan dan 1 orang dengan tingkat pendidikan S2. Melihat dari sisi tingkat pendidikan, semua tenaga perawat di rumah sakit USU mencapai standar yang dibutuhkan bagi profesi sebagai salah satu tenaga kesehatan.
Selain itu, Astriana (2014) turut menyatakan bahwa tingkat pendidikan mempunyai pengaruh besar dalam perlaku tenaga perawat terhadap aspek K3.
Hasil data tersebut, sesuai dengan angkanya bahwa jumlah perawat D3 keperawatan lebih banyak karena perawat D3 keperawatan berperan sebagai perawat vokasional atau perawat terampil sedangkan perawat S1 keperawatan dibutuhkan oleh rumah sakit sebagai perawat manajerial yang mengatur masalah pelayanan di tiap-tiap ruangan.
4.4.2 Karakteristik Lama Bekerja Tenaga Perawat di Rumah Sakit USU Lama bekerja bermaksud masa yang telah diluangkan oleh tenaga perawat dalam pekerjaan mereka di rumah sakit. Hasil frekuensi daripada penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata perawat telah bekerja selama lebih dari 5 tahun sebanyak 73 orang (73%). Hal ini, seiring dengan kualitas kerja dan juga tindakan tenaga perawat di RS USU terhadap aspek K3. Tingginya jumlah perawat dengan masa kerja >5 tahun, semakin tinggi produktivitasnya karena karyawan semakin berpengalaman dan memiliki keterampilan dalam tugasnya.
Hasil dari kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas mempunyai pengetahuan dan sikap yang baik. Menurut Siagian (2008), salah satu faktor yang
Kecenderungan yang sering terlihat adalah semakin lanjut usia karyawan, tingkat kepuasan kerjanya pun biasanya semakin tinggi. Alasan ini dikemukakan bagi menjelaskan situasi misalnya: gaya hidup yang sudah mapan, sumber penghasilan yang relatif terjamin, adanya ikatan batin dan tali persahabatan antara yang bersangkutan dengan dengan rakan-rakannya dalam organisasi (Siagian, 2008).
Hal ini secara tidak langsung dapat mewujudkan seorang tenaga perawat yang kompeten dalm melaksanakan tugas di sesebuah rumah sakit.
4.4.3 Hubungan tindakan tenaga perawat dengan pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja
Pengetahuan perawat tentang aspek kesehatan dan keselamatan kerja terdiri dari 9 pertanyaan. Pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 77 orang (77%) dan 23 orang responden termasuk dalam kategori cukup baik (23%). Dari hasil analisis dari kuesioner tersebut, rata-rata tenaga perawat di RS USU telah melakukan tindakan yang sewajarnya terhadap tugas mereka. Berdasarkan hasil pada tabel 4.8 di atas, p value dari hubungan tersebut ialah 0.324 berarti tidak ada hubungan antara tindakan tenaga perawat dengan pengetahuan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
Meskipun skor pengetahuan tenaga perawat di RS USU baik, namun tindakan mereka hanya di kategori cukup baik. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya interaksi sosial antara tenaga perawat dengan pasien dan juga rakan sejawat mereka. Hasil observasi peneliti di lapangan, mendapati bahwa komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien kurang sehingga informasi yang ingin disampaikan perawat tidak difahami oleh pasien. Kepentingan komunikasi yang efektif ini turut dinyatakan dalam penelitian Arianto (2013).
Penelitiannya menyatakan bahwa komunikasi yang baik/ efektif memegang peran penting dalam memastikan keberhasilan sesuatu pengobatan. Oleh itu, dapat kita simpulkan bahwa selain dari pengetahuan tenaga perawat, interaksi sosial atau komunikasi efektif amat berperan dalam tindakan perawat perawat.
Walaupun begitu, pengetahuan dan tindakan tetap merupakan indikator bagi menentukan perilaku seseorang individu tersebut. Pengetahuan umumnya
datang dari penginderaan yang terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Effendi dan Makhfudli, 2009).
4.4.4 Hubungan tindakan tenaga perawat dengan sikap terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja
Berdasarkan tabel 4.9, hasil analisis menunjukkan bahwa responden memiliki sikap yang cukup baik adalah sebanyak 74 orang (74%) dan yang memiliki sikap yang baik adalah sebanyak 26 orang (26%). Hasil analisis tersebut menggunakan Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% dan alpha (α) atau tingkat kesalahan 0,05 dimana nilai probabilitas yang diperoleh adalah p = 0,016.
Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tindakan tenaga perawat dengan sikap terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
Sikap juga merupakan reaksi atau respon dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2012).
Newcomb menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksanaan dari motif tertentu (Fitriani, 2011).
Manakala Azwar (2009), menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi dan faktor, kedua adalah reaksi atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi/ menghindari sesuatu. Pembentukan sikap yang positif tidaklah bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Respon seseorang dimulai dari perhatiannya terhadap suatu stimulus sampai dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri terhadap stimulus yang diberikan, memerlukan proses yang bertahap.
Pembentukan sikap harus dimulai dari adanya kepercayaan terhadap pemberi
sekedar pengajaran sesaat. Dan ini juga tentunya juga harus diselaraskan dengan proses peningkatan pengetahuan (Ismiralda, 2013).
Berdasarkan tujuan penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan tenaga perawat terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit USU.
2. Terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan tenaga perawat terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit USU.
5.2 SARAN
1. Disarankan agar pihak Rumah Sakit USU perlu terus memonitoring perkembangan aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) agar tenaga perawat dapat bekerja secara aman dan nyaman ketika bertugas.
2. Bagi tenaga perawat pula, diharapkan agar terus mengembangkan serta mempertahankan pengetahuan, sikap, dan tindakan mereka dalam melaksanakan aspek K3 supaya dapat melaksanakan tugas dengan baik dan suasana kerja yang optimal di rumah sakit.
3. Hendaknya seluruh tenaga perawat di Rumah Sakit USU mendapat pelatihan mengenai K3 secara berkala untuk meningkatkan kualitas dalam melakukan tugas mereka sehari-hari dalam upaya kesehatan dan keselamatan diri dan pasien.
4. Pihak Rumah Sakit perlu menambah jumlah alat pelindung diri (masker dan sarung tangan) agar selalu tersedia supaya setiap perlakuan dapat dilakukan sesuai standar prosedurnya.
5. Disarankan agar pihak Rumah Sakit melakukam pendekatan reward and punishment supaya perilaku tenaga perawat di RS USU sentiasa dalam tahap yang optimal.
Astriana, (2014), Hubungan pendidikan, masa kerja dan beban kerja dengan keselamatan pasien RSUD Haji Makassar, [Diakses 10 Nopember 2018]
Azwar, S. (2009), Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya, Yogjakarta: Pustaka Belajar
Dwi, P.S., (2016), Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Tenaga Medis Dan Paramedis Terhadap Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di Rumah Sakit Tugurejo Semarang Tahun 2016, [Diakses Tanggal 6 Mei 2018]
Effendi, F & Makhfudli, (2009), Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktek dalam Keperawatan, Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Fitriani. S., (2011), Promosi Kesehatan. Ed 1, Yogjakarta: Penerbit Graha Ilmu Hendra, (2008), Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan. Diambil dari:
http: //ajang-berkarya. Wordpress. Com/ 2008/ 06/ 07/ Konsep Pengetahuan/
17/ 05/ 2011
Hidayat, Aziz. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Tekhnik Analisis Data.
Jakarta: Percetakan Salemba Medika.
Indriyani Y. (2016), Analisis Implementasi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di Rumah Sakit (K3RS) Menggunakan Metode PDCA (PLAN-DO-CHECK-ACT) DI RSUD Dr. Moewardi Surakarta [Diakses tanggal 5 Mei 2018].
Ismiralda S, (2013), Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Perawat terhadap Pelaksanaan Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rawat Inap Kelas III Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2012 [Diakses 10 Nopember 2018]
Iwan M. Ramdan (2017), Analisis Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Perawat [diakses tanggal 4 Mei 2018]
Kurniawati (2017), Laporan Evaluasi Panitia Pembina Kesehatan Dan
Keselamatan Kerja Tahun 2017 RSU Anwar Medika, [Diakses Tanggal 6 Mei 2018].
Linggasari (2008), Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Di Departemen Engineering PT Indah Kiat Pulp & Paper TBK Tangerang, [Diakses Tanggal 6 Mei 2018]
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Novita (2012), Penguatan Peran dan Fungsi Manajemen Kepala Ruang Melalui Faktor Kepribadian dan Sosial Organisasi, Muhammadiyah Journal of Nursing. [Diakses Tanggal 6 Mei 2018].
Nursalam (2008), Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Potter & Perry (2005), Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik, Ed.4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Rahayuningsih.P.W, Hariyono W (2011), Penerapan Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (MK3) Di Instalasi Gawat Darurat RSU PKU Muhammadiyah Yogjakarta. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Sandeep, N., Shreemathi, M., Kalyan, C.,Teddy, A., Kapil, G., & Prachi, P. (2016).
Work-related injuries and stress level innursing professional. International Journal of Medical Science and Public Health, 5(08)
Sastroasmoro, S. & Ismail, S. (eds). 2014. Dasar- dasar Metodologi Penelitian Klinis, 5thedn. Jakarta: Sagung Seto.
Siagian, Sondang P., (2008) Manajemen Sumber Daya Manusia (edisi pertama), Jakarta: Penerbit Buku Aksara
Simamora, Raymond. (2009). Buku Ajar Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Tarwaka, (2008). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Surakarta: Harapan Press.
Tarwoto (2011), Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi keempat Cetakan Kedua. Jakarta: Penerbitan Salemba Medika.
Verawati, S. (2012). Pengetahuan K3, Sikap, dan Tindakan Perawat Di Rumah Sakit Islam Surakarta. Ebook Surakarta: Universitas Sebelas Maret, p.25. [Diakses
Verawati, S. (2012). Pengetahuan K3, Sikap, dan Tindakan Perawat Di Rumah Sakit Islam Surakarta. Ebook Surakarta: Universitas Sebelas Maret, p.25. [Diakses