• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.5 Prosedur Penelitian

3.5.3 Teknik Penganalisisan Data

Pada tahapan ini peneliti akan menyajikan hasil analisis dari data yang diteliti, yakni Carita Maung Padjajaran ditinjau dari segi Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan, Fungsi dan Makna. Penganalisisan ini dilakukan dengan menggunakan beberapa teori.Analisis struktural mengacu pada skema aktan dari A.J.Greimass, analisis proses penciptaan pada teori skema Amin Sweeny, konteks penuturan mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat mengenai tujuh aspek kebuadayaan, teori fungsi yang digagas oleh Wiliam Bascom dan analisis makna dengan teori signifikansi.

Teori-teori tersebut digunakan dalam penelitian karena dianggap sesuai dengan karakteristik objek dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian. Selain itu, keseluruhan analisis merupakan kolaborasi antara teori-teori yang berkaitan, peneliti, serta hasil wawancara dengan informan. Hal ini dilakukan untuk menghindari subjektifitas dalam penelitian.Selain itu, untuk menjaga objektifitas hasil penelitian.Oleh karena itu instrument dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.

Untuk memudahkan pemahaman mengenai penelitian Carita Maung Padjajaran di Kecamatan Surade. Berikut ini kerangka berpikir peneliti yang akan digambarkan melalui bagan alur penelitian.

Fenomena Carita Maung Padjajaran di

Kecamatan Surade

a. Prabu siliwangi sebagai tokoh mitologi b. Munculnya hipotesis bahwa prabu siliwangi

merupakan tokoh sejarah

c. Beberapa tempat di sekitar Surade Sukabumi dianggap petilasan Prabu Siliwangi

d. Cerita Prabu Siliwangi yang berkembang di beberapa daerah memiliki versi yang berbeda

Pemilihan Objek

Studi Pustaka

Rekonstruksi Data (TranskripsiTransliterasi

Analisis Berikut Kerangka Berpikir Penelitian

Pendekatan Folklor

Metode Deskriptif Kualitatif

Wawancara dalam bentuk rekaman dengan beberapa narasumber

Analisis Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan,

Fungsi, dan Makna CMP.

Cerita Maung Padjajaran di Kecamatan Surade:

Analis Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan, Fungsi, dan

Makna. Data Empiris Berupa Hasil

Analisi Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan,

BAB V PENUTUP

5.1. Simpulan

Cerita Maung Padjajaran (CMP) merupakan cerita rakyat yang hidup di Masyarakat Surade. CMP dikatagorikan sebagai mite dan dongeng. Pengkatagorian tersebut berdasarkan ciri-ciri dalam CMP, baik itu dalam hal alur, tokoh, maupun latarnya serta penerimaan masyarakat terhadap cerita tersebut. berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan.

Pertama, struktur cerita dalam CMP cukup kompleks terutama dalam hal alur. Alur cerita disajikan dengan menfokuskan pada dua tokoh sekaligus, yakni Prabu Siliwangi dan tokoh tandingannya seperti Jaya Antea (CMP 1), Kian Santang (CMP 2), dan Kean Santang (CMP 3), sehingga keseluruhan CMP mengacu pada tindakan kedua tokoh tersebut. Secara umum, tokoh dalam CMP dikatagorikan sebagai tokoh protagonis. Artinya, setiap tokoh mampu menarik simpati pendengar dan dianggap sebagi tokoh pahlawan. Selain itu, terdapat latar tempat yang mengacu pada nama-nama tempat di sekitar Surade semakin menambah kongkrit cerita. Meski penyebutan tempat tersebut dipaparkan dengan singkat, tetapi memiliki pemaknaan lebih di masyarakat sepertihalnya Ranca Maung, Mekah, Batu Kuter, dan lain-lain. Tempat-tempat tersebut pada akhirnya mendapatkan nilai kesakralan yang berbeda yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh cerita.

Kedua, ciri-ciri yang dimiliki dalam proses penciptaan CMP menujukkan kesamaan dengan proses penciptaan dalam masyarakat tradisional melayu, yakni skematik. Artinya, ada bagian-bagian tertentu yang harus tetap dan ada bagian tertentu yang boleh berbeda, tetapi bagian-bagian tersebut membentuk suatu pola, yakni adanya bagian awal, tengah, dan akhir. Skema tersebut merupakan hasil akumulasi ingatan penutur. Proses penciptaan berkaitan pula dengan proses pewarisan CMP. CMP diwariskan dengan cara vertikal dan horisontal, seperti yang dilakukan oleh para penutur CMP 1, 2, dan 3 terhadap putra-putrinya. Adapun pewarisan horizontal dilakukan dengan mewariskan cerita terhadap

seseorang dari generasi yang sama, seperti yang dilakukan Ki Kamal terhadap Bapak E. Suparman dalam CMP 1.

Ketiga, konteks penuturan CMP secara keseluruhan mengalami perubahan dari yang awalnya harus dilakukan dengan aturan-aturan tertentu menjadi lebih bebas, seperti halnya dalam waktu, tujuan, peralatan, tempat, penutur, teknik penuturannya, dan lain-lain. Akan tetapi, khusus untuk CMP 1 waktu penuturannya hanya bisa dilakukan pada malam hari. Selain itu, konteks penuturan pun menganalisis situasi dan kondisi mayarakat Surade sebagai masyarakat pemilik CMP melalui analisis unsur kebudayaan yang dikemukakan Koentjaraningrat. Berdasarkan hasil analisis, masyarakat Surade masih termasuk dalam masyarakat tradisional, yaitu jika ditinjau dari ciri-ciri masyarakatnya baik dari peralatan, sistem religi, mata pencaharian, sistem pengetahun, kesenian, dan lain-lain. Misal, dalam sistem religi masyarakat Surade secara tidak langsung dalam aktifitas religinya menggabungkan antara Hindu dan Islam.

Keempat, fungsi CMP secara keseluruhan termasuk dalam empat katagori yang dikemukakan Bascom, yaitu sistem proyeksi, pengesah kebudayaan, alat pendidikan, dan pengawas norma di masyarakat. Akan tetapi, diantara keempatya, CMP lebih didominasi pada fungsi alat pendidikan dan pengawas berlakunya norma-norma sosial. CMP sebagai alat pendidikan menekankan pada pendidikan moral, terutama mengenai tindakan terpuji dan tercela ditunjukan oleh para tokoh yang secara implisit dijadikan sebagai cerminan mengenai hasil yang akan didapat dari setiap perbuatan. Adapun CMP sebagai alat pengawas norma-norma sosial berkenaan dengan pelestarian alam yang terjadi pada salah satu tempat yang dimunculkan dari CMP, yakni munculnya berbagai mitos mengenai Ranca Maung yang mengakibatkan tempat tersebut dihormati sekaligus ditakuti sehingga kelestarian tempat tersebut tetap terjaga hingga kini.

Kelima, makna yang ditemukan dalam CMP berkaitan dengan pelajaran mengenai kehidupan yang harus dijalani setiap manusia terutama tentang hubungan yang harus terjalin antar manusia baik itu untuk dirinya maupun dengan orang lain, seperti antar ayah dan anak, raja dan rakyat, pemimpin dan bawahan, dan sebagainya. Berdasarkan pelajaran-pelajara tersebut manusia diajarkan

tentang kearifan hidup. Selain itu, CMP dimakna pula sebagai angan-angan masyarakat akan hadirnya sosok manusia sempurna ataupun pemimpin ideal melalui penggambaran tokoh Prabu Siliwangi dalam cerita. Pemaknaan tersebut tampak dari sikap masyarakat Surade terhadap keyakinan akan keberadaan sosok Prabu Siliwangi.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, penelitian ini mengajukan beberapan saran. Saran-saran tersebut diantaranya sebagai berikut.

Pertama, saat ini informasi mengenai cerita Prabu Siliwangi lebih didominasi oleh versi cerita-cerita di beberapa daerah saja padahal hampir setiap daerah, khusunya di tatar Sunda memiliki versi yang berbeda-beda tentang cerita Prabu Siliwangi. Oleh karena itu, penelitian CMP dapat dijadikan sebagai dorongan terhadap munculnya penelitian-penelitian lain yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi, khususnya di daerah-daerah yang belum terekspose sebelumnya, sehingga informasi mengenai cerita yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi dapat lebih kaya dan beragam sesuai dengan daerah masing-masing.

Kedua, hasil penelitian CMP dapat dijadikan sebagai dokumentasi sekaligus inventarisasi cerita Prabu Siliwangi, khususnya mengenai keterkaitan sosok harimau dengan Prabu Siliwangi. Dengan demikian, penelitian ini dapat dijadikan sebagai upaya pelestarian cerita sebelum benar-benar hilang atau punah untuk kemudian dapat diteruskan atau dipelajari oleh generasi-generasi.

Ketiga, penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi terhadap penelitian mengenai cerita yang berkembang di masyarakat yang harus dikaji dari berbagai sisi. Artinya, tidak saja berdasarkan teks cerita, tetapi juga unsur-unsur di luas teks seperti masyarakat pemilik yang secara implisit akan mempengaruhi wujud cerita, sehingga penelitian dapat dilakukan secara menyeluruh, yakni dengan mempertimbangkan segala aspek yang mempengaruhi cerita, baik itu secara langsung, maupun tidak langsung.

Daftar Pustaka

Ampera, T. (2012). “Sri Baduga dalam Sastra Lisan: Antara Mitos Leuweung Sancang denga Mitos Gunung Salak”. Makalah disampaikan dalam seminar “Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan, Bandung

Boeree. G. (2010). Psikologi Sosial. Yogyakarta: Prismashopie.

Danandjaja, J. (1986). Foklor Indonesia: Ilmi Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafitipers

Darsa, U.A. (2012). “Sri Baduga dalam Lintas Tradisi Kepustakaan Mandala (Sebuah Tinjauan Filologis)”. Makalah disampaikan dalam seminar “Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan, Bandung

Dewi, L. (2006). Legenda Jaka Poleng di Kabupaten Brebes Jawa tengah (Analisis Struktur, Konteks Penceritaan, dan Fungsi Penuturan). Skripsi Sarjana pada FPBS UPI Bandung : tidak diterbitkan

Durachman. M. (1996). Khotbah di atas Bukit, Novel Gagasan Karya Kuntowijoyo. Tesis Magister di Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia Jakarta: tidak diterbitkan.

Ekadjati, E. S. (2009). Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran (Jilid 2). Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Hariadi, dkk. 2012. “Analisis Mitos Melalui Paradigma Struktural ‘Moksanya Prabu Siliwangi’”. Makalah pada perkuliahan Fakultas Bahasa dan Seni UNESA, Surabaya.

Hutomo, S. S. 1991. Mutiara Yang Terlupakan. Surabaya: Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, HISKI-Komisariat Jawa Timur

Koentjaraningrat. 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 1981. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Penerbit Djambatan.

Lubis, Z. P. 2011. Cerita Rakyat Simalungun (Sumatera Utara). Jakarta: PT Grasindo

Maryaeni. 2005. Metode Penelitian kebudayaan. Jakarta: PT Bumi Aksara

Maryanti, S. 2011. Carita Maung Panjalu: Struktur, Konteks penuturan, Proses penciptaan, dan Fungsi. Skripsi Sarjana pada FPBS UPI Bandung : tidak diterbitkan

Muhsin, M. 2012. “Sri Baduga (1482-1521): Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda”. Makalah disampaikan dalam seminar Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan, Bandung.

Muhsin, M. 2011. “Eksistensi Kerajaan Padjajaran dan Prabu Siliwangi”. Makalah disampaikan dalam Seminar Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung.

Nurgiantoro. B. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pundentia. 1998. Metode Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Rusyana, dkk. 2000. Prosa Tradisional: Pengertian, Klasifikasi, dan Teks. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Naional.

Satjadibrata, R. Dongeng-Dongeng Sasakala (Djilid Ka II). 1946. Jakarta: Bale Poestaka

Sutari, dkk. 2006. Cerita Si Kabaya: Transformasi, Proses Penciptaan, Makna, dan Fungsi. Hibah Kompetitif, Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI

Sukmawarni. R. 2012. Memodernkan Petani Kecamatan Surade. Makalah pada Fakultas Pertanian, Bogor

Suwondo, T. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widya.

Taum, Y. Y. 2011. Studi Sastra Lisan (sejarah, teori, metode dan pendekatan disertai contoh penerapannya). Yogyakarta: Lamalera

Dokumen terkait