HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum dan Geografis Desa Petarangan
4.4. Teknik Pengendalian Hama di Desa Petarangan
P = 5
243 × 100% P = 2,1 %
Berdasarkan informasi dari Anonimus, 2014 bahwa nilai ambang ekonomi ulat grayak berdasarkan stadia serangga, yang dikelompokkan menjadi empat stadia. Pada keadaan tanaman diserang oleh kompleks hama daun, ambang ekonominya setara dengan kerusakan daun sebesar 12,5%. Berdasarkan dari kedua angka tingkat serangan tersebut baik serangan mutlak maupun serangan relatif, keduanya menunjukan angka yang relatif besar yaitu 18,52 % untuk besar serangan mutlak dan 2,1 % untuk serangan relatif, hal ini menunjukan bahwa tingkat serangan hama pada tanaman tembakau yang diamati cukup tinggi. Ulat grayak ini mulai menyerang tanaman tembakau sejak umur tanaman 15 HST hingga menjelang panen tapi intensitas serangannya tergolong rendah saat mendekati masa panen.
4.4. Teknik Pengendalian Hama di Desa Petarangan.
Dalam hal pengendalian hama, petani di Desa Petarangan memiliki banyak cara, seperti kimiawi, biologis, kultur teknis dan pengendalian dengan metode PHT. Namun sebagian besar petani lebih memilih cara kimiawi karena diangap instan, karena mudah dan bereaksinya lebih cepat. Untuk mengendalikan hama ulat grayak secara kimiawi yang dilakukan petani di Desa Petarangan pada umumnya menggunakan Basmilat 80 EC, Matador 25 EC, dan Matarin 25 EC, yang paling sering digunakan petani adalah Basmilat 80 EC, dan Matador 25 EC masing - masing dilarutkan dengan takaran petani biasanya 2 tutup botol per 1 tangki, atau 2 tutup botol = 20 ml untuk 14 - 17 liter air untuk ± 400 M2.
Contoh pestisida yang digunakan petani dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tembakau bisa di lihat pada Lampiran 4. Gambar Pestisida yang digunakan petani Tembakau, di Desa Petarangan. Takaran penggunaan pestisida biasanya petani menaikan dosis takarannya jika hama masih banyak hama menyerang, hingga 3 tutup botol atau setara dengan 30 ml per tangki, intensitas penyemprotan oleh petani Desa Petarangan biasanya dilakukan 1 minggu sekali, dengan waktu peyemprotan yang baik adalah pada pukul 06.00 -
49
07.00 waktu setempat atau sore hari pada pukul 15.00 - 17.00, dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Penyemprotan Pestisida di Ladang
Penyemprotan yang dilakukan terlalu pagi (kurang dari pukul 06.00) atau terlalu sore (lebih dari pukul 17.00) akan mengakibatkan pestisida yang menempel pada bagian tanaman akan terlalu lama mengering sehingga dapat mengakibatkan bagian yang disemprot keracunan, sedangkan jika dilakukan saat matahari terik dapat menyebabkan pestisida banyak yang menguap. Intensitas penyemprotan pada tiap responden petani tembakau di Desa Petarangan bisa di lihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Intensitas Penyemprotan Pestisida Di Desa Petarangan
Petani % Kerusakan Intensitas Penyemprotan
Paringkuat 20% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Parmidi 30% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Wawan 20% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Wagiman 25% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Timbul 35% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Juarlan 20% 15 hari sekali Setelah serangan hama
Mulud 35% 1 Minggu Sekali setelah terserang
Jumarno 45% 10 Hari sekali setelah ada serangan
50
Dari tabel diatas bisa dilihat bahwa rata - rata penyemprotan masih menggunakan dosis rendah karena biasanya petani mulai menyemprot pada saat ada serangan hama, dimana biasanya serangannya tidak terlalu tinggi, namun jika populasi atau serangan hama meningkat biasanya petani menambahkan dosis, bahkan ada yang melebihi dari dosis yang dianjurkan sesuai takaran pakai, atau biasa dari PPL, yaitu sebanyak 20 ml Basmilat, matador, atau matarin untuk 14-17 liter air.
Penggunaan dosis yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap hama dan munculnya hama baru yang dahulunya tidak begitu menggangu tanaman tembakau. Selain itu peningkatan jumlah hama yang menyerang juga dikarenakan letak lahan pertanian antara satu dengan yang lainnya berdekatan sehingga adanya perbedaan waktu penyemprotan antar petak yang tidak bersamaan sehingga memungkinkan perpindahan hama dari lahan satu ke lahan lain.
Akibat dari penggunaan pestisida dan senyawa-senyawa kimia yang berlebihan atau dosis tinggi yang juga berdampak pada pencemaran tanah - tanah pertanian sehingga tidak subur karena unsur hara yang ada dalam tanah terganggun dengan adanya penumpukan residu dari bahan kimia tersebut dan menyembabkan tanah menjadi tercemar, bahkan dapat mengakibatkan timbulnya penyakit baru yang diakibatnya oleh nematoda ataupun patogen lain.
Untuk pengendalian hama secara biologis petani di Desa Petarangan menggunakan sejenis cendawan/fungi yang termasuk kelas ascomycetes seperti: Trichoderma sp. Namun cara ini jarang digunakan, hanya sebagian petani saja yang masih menggunakan cara ini dikarenakan proses nya tidak terlalu signifikan, dan masih banyak tanaman yang terserang penyakit layu, mungkin hal ini disebabkan karena penggunaan pestisida yang terlalu banyak dan tidak mementingkan faktor lingkungan.
Untuk pengendalian secara kultur teknis para petani biasanya melakukan rotasi atau penggantian penanaman dan tidak hanya menanam tanaman yang sama, tanaman yang biasanya di tanaman secara bergiliran adalah tanaman bawang putih, kacang merah, cabai dan juga ada sebagian yang menanam bawang
51
merah. cara ini sering digunakan oleh petani karena selain berguna untuk menekan tingkat serangan hama berguna juga untuk menambah penghasilan karena petani bisa menanam dan memanen tanaman yang memiliki umur pendek tanpa harus menunggu tanaman yng berumur panjang dapat di panen.
Metode Pengendalian Hama Terpadu di Desa Petarangan untuk penerapan musuh alami kurang berpengaruh dikarenakan proses yang terlalu lama dan dinilai kurang efisien dalam penanganan hama. Metode selanjutnya yang sedang dicobakan adalah dengan penggunaan pestisida nabati. Metode ini baru dikenalkan kepada petani sejak satu tahun yang lalu. Para petani belum sepenuhnya menggunakan pestisida nabati, hal ini dikarenakan mereka menilai proses yang cukup lama jika dibandingkan dengan pestisida kimia yang prosesnya cendrung lebih cepat dalam mengendalikan hama.
Dari hasil wawancara kami dengan 8 responden, mereka mengaku bahwa mereka sedang mencoba untuk akrab dengan pestisida nabati. Hal ini dikarenakan para petani pun sudah mulai merasakan dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia baik untuk dirinya sendiri, ataupun pada lahan pertanian milik mereka. Walaupun dalam waktu dekat ini mereka belum sepenuhnya menggunakan pestisida nabati karena pada tingkat serangan tertentu mereka terpaksa menggunakan pestisida kimia untuk menekan tingkat serangan hama.
Dari hasil pembicaraan kami dengan Petugas Penyuluh Lapangan, Bapak Heriyanto. Beliau mengatakan bahwa sudah 1 tahun berjalan sejak pengenalan penggunaan pestisida nabati, para petani diharapkan dapat merubah pola pikir dan pola kesehariannya dari penggunaan pestisida kimia menjadi pestisida nabati. Bahkan Beliau berkata, bahwa Pelatihan pembuatan pestisida nabati sudah mulai dilakukan. Hal ini bertujuan agar para petani dapat membuat sendiri pestisida nabati yang diperlukan selain dapat menekan pengeluaran mereka juga dapat memproduksi atau bahkan menjual pestisida nabati yang mereka buat sendiri.