BAB II TINJAUAN PUSTAKA
N. Teknik Pengendalian Kualitas Produk Kain Grey
Dalam menentukan langkah-langkah pengendalian kualitas produk, terdapat berbagai metode/teknik pengendalian, diantaranya adalah :
1. Menggunakan teknik Control Chart (C-Chart). Adapun langkah-langkah perhitungannya sebagai berikut :
a. Menentukan rata-rata kerusakan
c = i diobservas yang bulan jumlah rusak yang produk total
b. Menentukan batas pengendalian
1) Batas pengendalian atas (UCL) = c+3 c
2) Batas pengendalian bawah (LCL) = c−3 c
2. Selain itu untuk mengendalian kualitas produk juga bisa menggunakan teknik Diagram Pareto. Diagram Pareto merupakan metode untuk mencari sumber kesalahan, masalah atau kerusakan produk untuk membantu memusatkan perhatian pada usaha penyelesaian masalah. Diagram pareto menyatakan bahwa 80% permasalahan yang terdapat pada perusahaan merupakan hasil dari penyebab yang hanya 20% (Render dan Heizer, 2005 : 266).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
20
Adapun langkah-langkah pembuatan diagram pareto menurut Render dan Heizer (2005 : 266) adalah sebagai berikut:
1) Menentukan prosentase kerusakan untuk setiap jenis kerusakan, misalanya terdapat kerusakan A, B, C, dan D yang jumlahnya masing-masing sebesar a%, b%, c%, dan d%.
2) Membuat diagram pareto dengan mengurutkan jenis/kerusakan yang jumlahnya paling besar ke jumlah paling kecil. Langkahnya adalah :
Menghitung prosentase jenis kerusakan
3. Setelah itu, untuk memperoleh solusi untuk pengendalian kualitas produk tersebut, maka digunakanlah Teknik Diagram sebab akibat untuk memperoleh sumber-sumber penyebab kerusakan/cacat pada kain grey. Diagram sebab akibat merupakan salah satu dari banyak teknik yang dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang mungkin dari terjadinya masalah-masalah mutu dan lokasi pemeriksaan (Render dan Heizer, 2005 : 265). Tujuan dari penggunaan diagram sebab akibat ini adalah untuk mengidentifikasi kesalahan sehari-hari dari pengendalian mutu.
Diagram sebab akibat juga digunakan untuk penelusuran akar penyebab terjadinya masalah aktif (Render dan Heizer, 2005 : 265). Menurut pembahasan
sebelumnya muncul permasalahan- permasalahan dalam memproduksi kain grey,
dengan diagram sebat akibat dapat dicari penyebab-penyebab permasalahan yang muncul dalam upaya mengendalikan kain grey di PT. Iskandar Indah Printing Textile.
Berikut permasalahan-permasalahan yang muncul dalam proses produksi kain grey pada PT. Iskandar Indah Printing Textile :
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user Produk rusak Pengukuran Peralatan uji salah Spesifikasi salah Metode tidak pantas Kendali temperatur tidak Debu dan kotoran Kondisi gudang Lingkungan Manusia Pelatihan tidak cukup Ketiadaan konsentrasi Pengawasan yang lemah
Cacat dari penjual
Bukan ke spesifikasi Penanganan maerial yang tidak sesuai Material Disain proses tidak pas Manajemen mutu tidak efektif Defisiensi didalam disain produk Proses Mesin Usia ketua Keluar dari penyesuaian Pemasalahan yang dibuat mesin 21
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
22
Dari diagram sebab akibat dapat dijelaskan mengenai permasalahan yang muncul dari upaya pengendalian kualitas. Secara garis besar penjelasan masing-masing permasalahan adalah sebagai berikut :
a) Mesin
1) Permasalahan yang dibuat mesin
Pada umumnya permasalahan yang muncul dari mesin sangat mempengaruhi kondisi kain misalnya oli mesin, rusaknya kain akibat pakan.
2) Keluar dari penyesuaian
Bisa diartikan terlambat dalam memperbaiki kondisi mesin. Akibat yang muncul berupa lambatnya kinerja mesin dan tidak sesuai kontruksi.
3) Usia tua
Masalah ini merupakan masalah yang paling banyak dihadapi oleh industri tekstil karena mahalnya biaya untuk pembelian mesin dengan teknologi yang baru.
b) Manusia
1) Pengawasan yang lemah
Sedikitnya petugas bila dibandingkan dengan jumlah mesin juga berpengaruh terhadap proses produksi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya mesin yang butuh pengawasan lebih karena usia tua.
2) Ketiadaan konsentrasi
Konsentrasi yang sangat tinggi sangat dibutuhkan namun banyaknya pekerjaan membuat konsentrasi karyawan terpecah. Masalah ini sangat terasa dialami oleh pekerja pada shift malam karena selain menangani mesin juga melawan rasa kantuk.
3) Pelatihan tidak cukup
Masa pelatihan selama 6 bulan memang sudah lama namun sasaran yang dituju tampaknya belum bisa dicapai. Terlebih banyak dari pekerja yang sudah berumur di atas 30 tahun.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
23
c) Pengukuran
1) Metode tidak pas
Kesalahan seperti ini mungkin saja terjadi karena banyak konstruksi yang diproduksi sehingga membuat kelalaian penggunaan metode yang sama namun dalam konstruksi yang berbeda.
2) Spesifikasi yang salah
Penggunaan spesifiksi yang meleset dalam produksi juga dapat mempengaruhi kualitas kain grey.
3) Peralatan uji salah
Kesalahan ini bisa saja muncul karena afat yang digunakan dipakai terus menerus dan kurang mendapatkan perawatan.
d) Proses
1) Desain proses tidak pas
Munculnya kesalahan ini akibat dari desain metode yang tidak pas yang menyebabkan kondisi kain grey tidak sesuai keinginan.
2) Manajemen mutu tidak efektif
Pengawasan berkala yang dilakukan yaitu tiga kali dalam satu shift kerja menimbulkan adanya kesalahan yang muncul dalam waktu jeda antara pengawasan yang satu ke pengawasan yang berikutnya.
3) Defisiensi di dalam desain produk
Tidak adanya efisiensi yang terjadi dalam proses produksi membuat pemborosan penggunaan bahan baku yang juga akan mempengaruhi kain grey.
e) Material
1) Cacat dari penjual
Bahan baku yang didatangkan mungkin saja terdapat produk yang cacat. Hal ini tampak waktu proses penghanian yaitu putusnya benang dan benang bergulung.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
24
Bahan baku yang digunakan tidak cocok dengan spesifikasi, kesalahan ini bisa terjadi pada waktu uji coba yang terlihat bagus namun dalam produksi jangka panjang terdapat kesalahan.
3) Penanganan material yang tidak sesuai
Kesalahan ini muncul, misalnya penumpukan yang melebihi ketentuan, tidak adanya pembatas antara tumpukan material dan lantai, tidak adanya pencatatan barang secara lengkap.
f) Lingkungan
1) Kendali temperatur tidak akurat
Kesalahan ini juga berpengaruh terhadap kondisi bahan baku karena temperaturnya yang berubah-ubah menyebabkan benang/kain grey mudah putus.
2) Debu dan kotoran
Pada umumnya kondisi pabrik tekstil memang berdebu dan kotor namun upaya untuk meminimalkan kondisi seperti ini hendaknya harus ditingkatkan karena apabila tidak segera diatasi maka akan semakin banyak hasil produksi yang rusak/cacat.
3) Kondisi gudang
Kebersihan gudang juga sangat berpengaruh dalam kualitas kain. Apabila gudang kotor dan banyak hewan pengerat maka akan merusak kondisi bahan baku maupun kain grey.