BAB III. METODE PENELITIAN
J. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan uji statistik Korelasi Pearson Product Moment dengan menggunakan program computer SPSS versi 16.0, dengan Interpretasi hasil sebagai berikut :
1. Jika p value ≤ 0,01 maka hasil uji dinyatakan sangat signifikan.
2. Jika p value > 0,01 tetapi < 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan.
3. Jika p value > 0,05 maka hasil uji dinyatakan tidak signifikan (Hastono, 2001).
64
64 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Bagian Mekanik Maintenance Utility Compresor
Penelitian ini dilaksanakan di bagian meknik maintenance utility compresor yang merupakan ruangan karyawan untuk bekerja dan beristirahat.
Ruang tersebut kurang kedap terhadap kebisingan karena ruang mekanik ini bersebelahan dengan ruang mesin compresor yang mana mesin tersebut menimbulkan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yaitu rata-rata dalam sehari 88,5 dBA. Mesin ini bertugas menyuplai udara tekan untuk proses produksi dan juga untuk menggerakkan alat-alat instrument.
Pada PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkamat, Karanganyar terdapat 6 buah compresor dengan spesifikasi yang berbeda yaitu :
1. 4 buah compresor piston dengan kapasitas udara @ = 1250 kg/jam 2. 2 buah compresor turbo dengan kapasitas udara @ = 5250 kg/jam
B. Karakteristik Subjek Penelitian 1. Umur
Dari hasil penyebaran angket di bagian mekanik maintenance utility compresor umur karyawan yang paling muda adalah 26 tahun, umur
49
65
65
paling tua adalah 50 tahun, dengan rata-rata umur dari keseluruhan 43,3 tahun. Daftar umur responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
Umur (Tahun) Frekuensi Persentase (%) 20-30 Sumber : Data primer penelitian
Karyawan yang berada di mekanik maintenance utility compresor pada saat penelitian umur antara 20-30 tahun hanya ada satu karyawan dengan presentase 3,3%, umur antara 31-40 tahun ada 3 karyawan dengan presentase 10%, sementara umur yang paling banyak diantara 41-50 tahun yaitu 26 karyawan dengan presentase 86,7%.
2. Masa Kerja
Masa kerja karyawan di bagian mekanik maintenance utility compresor lebih dari 5 tahun, adapun sebaran masa kerja responden dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 6. Daftar responden berdasarkan masa kerja
Masa Kerja (Tahun) Frekuensi Persentase (%)
5 - 20 Sumber : Data primer penelitian
Masa kerja antara 5-20 tahun ada 13 karyawan dengan presentase 43,3% dan masa kerja antara 21-35 tahun ada 17 karyawan dengan presentase 56,7%.
66
66
C. Pengukuran Intensitas Kebisingan Tempat Kerja
Pengukuran intensitas kebisingan pada tempat kerja dilakukan di satu ruangan pada 6 titik pengukuran dengan jarak 1,5 m dimana karyawan berada pada titik-titik tersebut selama bekerja. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 7. Pengukuran intensitas kebisingan Titik Intensitas
Sumber : Data primer penelitian
Pengukuran intensitas kebisingan dengan alat sound level meter.
Intensitas kebisingan yang dihasilkan rata-rata dalam sehari adalah 88,5 dBA dengan intensitas kebisingan terendah adalah 87 dBA dan intensitas kebisingan tertinggi adalah 90 dBA. Jam kerja karyawan selama 8 jam/hari dengan waktu pemaparan kebisingan selama 7 jam/hari dan satu jam digunakan untuk istirahat. Selama penelitian dilakukan tidak ada penambahan mesin dan alat-alat lainnya yang dapat menambah intensitas kebisingan.
Selain itu selama penelitian dilakukan alat yang beroperasi untuk produksi sama, sehingga intensitas kebisingan tidak jauh berbeda dibandingkan hari-hari lainnya.
67
67 D. Pengukuran Kelelahan Kerja
Pengukuran kelelahan kerja dilakukan sebelum dan sesudah bekerja dengan alat reaction timer, hasil pengukurannya adalah sebagai berikut : Tabel 8. Hasil pengukuran kelelahan kerja
Waktu Reaksi mengalami kelelahan ringan. Hasil pengukuran sesudah bekerja 2 sampel (6,7%) mengalami kelelahan ringan dan 28 sampel (93,3%) mengalami kelelahan sedang.
E. Uji Hubungan Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja
Dari hasil pengukuran intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja di bagian mekanik maintenance utility compresor, dilakukan uji statistik dengan metode Korelasi paerson product moment melalui program SPSS versi 16.0 didapatkan hasil pada tabel sebagai berikut :
68
68
Tabel 9. Hasil uji statistik korelasi pearson product moment
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,030 maka dikatakan signifikan karena apabila dibandingkan dengan nilai a = 5% dimana nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak artinya ada hubungan anatara kebisingan dengan kelelahan. Jadi hipotesis menyatakan ada hubungan intensitas kebisingan dengan kelelahan kerja sebelim dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.
Correlations
KSebelum
KSetelah
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
KSebelum KSetelah
1
30
.398* .030
30
.398* .030
30
1 30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
BAB V PEMBAHASAN
A. Karakteristik Subjek Penelitian 1. Umur
Umur karyawan di bagian mekanik maintenance utility compresor yaitu antara 26-50 tahun dan umur tersebut masuk dalam umur produktif yang akan mempengaruhi kapasitas kerja.
Kriteria umur yang digunakan sebagai sampel penelitian ini sesuai dengan kriteria menurut Lambert, David; 1996 yaitu kinerja fisik mencapai puncak dalam usia pertengahan 20-an dan menurun dengan bertambahnya usia.
2. Masa Kerja
Masa kerja karyawan di bagian mekanik maintenance utility compresor 100% lebih dari 5 tahun bahkan ada yang telah 20-an tahun, hal ini menunjukkan bahwa tingkat keterampilan dan kemampuan karyawan yang tinggi. Menurut Suma’mur P.K., 1996 Semakin tinggi keterampilan kerja yang dimiliki, semakin efisien badan dan jiwa bekerja, sehingga beban kerja menjadi relatif sedikit. Dalam penelitian ini masa kerja karyawan ini masuk dalam kriteria karena keterampilan yang dimiliki karyawan semakin tinggi karena dari masa kerja yang sudah lama.
54
55
55
B. Analisis Intensitas Kebisingan Tempat Kerja
Rata-rata intensitas kebisingan yang diperoleh dari 6 titik pengukuran adalah 88,5 dBA. Pengukuran kebisingan dilakukan dimana karyawan melaksanakan kegiatan kerja dengan jarak pengukuran 1,5 meter. Karyawan mekanik maintenance utility compresor bekerja selama 8 jam/hari dengan waktu istirahat satu jam, sehingga karyawan terpapar kebisingan selama 7 jam/hari. Berdasarkan Kepmenaker No.KEP 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Fisika di Tempat Kerja yang menyebutkan bahwa Nilai Ambang Batas untuk pemajanan 7 jam per hari atau 40 jam dalam satu minggu adalah sebesar 86 dBA. Dari hasil pengukuran dapat disimpulkan bahwa intensitas kebisingan pada tempat kerja tersebut melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan yaitu rata-rata dalam sehari 88,5 dBA. Intensitas kebisingan 88,5 dBA berdasarkan teori intensitas tersebut dapat memaparkan kebisingan pada waktu pemajanan 3 jam/hari tetapi karyawan harus memakai ear plug dalam bekerja, karena ear plug dapat mengurangi intensitas kebisingan suara antara 10-15 dBA (A.M.
Sugeng Budiono, dkk; 2003:331). Pada waktu bekerja karyawan ada yang memakai ear plug dan ada yang tidak memakai ear plug,, sehingga intensitas kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Penanggulangan yang bisa dilakukan untuk mencegah adanya intensitas kebisingan yang melebihi nilai ambang batas adalah dengan kedisiplinan memakai alat pelindung telinga, seperti ear plug pada karyawan dan perbaikan terhadap ruang kerja agar kedap terhadap suara bising seperti diberikan
56
56
fiberglass atau karpet karena jelas terlihat bahwa di ruang mekanik maintenance utility compresor intensitas kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas.
C. Analisis Kelelahan Kerja
Pengukuran dari kelelahan kerja telah ditetapkan batas tingkat kelelahan kerjanya. Kriteria kelelahan berat yaitu dengan waktu reaksi > 580,0 milidetik sedangkan kriteria normalnya sendiri adalah dengan waktu reaksi 150,0-240,0 milidetik. Hasil pengukuran kelelahan kerja didapatkan, pengukuran sebelum kerja terdapat 11 sampel dengan presentase 36,7%
dalam keadaan normal atau belum terjadi kelelahan dan 19 sampel dengan presentase 63,3% mengalami kelelahan ringan. Hasil pengukuran sesudah kerja adalah 2 sampel dengan presentase 6,7% mengalami kelelahan ringan dan 28 sampel dengan presentase 93,3% mengalami kelelahan sedang. Dapat dilihat bahwa dari hasil pengukuran kelelahan kerja karyawan setelah bekerja di tempat kebisingan dengan presentase 93,3% mengalami kelelahan sedang.
Dengan demikian telah terjadi kelelahan pada tenaga kerja. Hal ini berarti kebisingan dari lingkungan yang diterima oleh tenaga kerja dapat meningkatkan kelelahan tenaga kerja dan kenaikan rata-rata waktu reaksi masih dalam taraf sedang sehingga peningkatan kelelahan tergolong sedang.
Walaupun untuk masing-masing tenaga kerja terdapat perbedaan pada umur, dan masa kerja tidak banyak mempengaruhi kelelahan.
D. Analisis Hubungan Kebisingan dengan Kelelahan Kerja
57
57
Dari hasil uji statistik dengan metode Korelasi Pearson Product Moment melalui program SPSS versi 16.0 didapatkan nilai signifikansi (p) yaitu 0,030 sehingga dapat dikatakan bahwa hasil tersebut signifikan karena setelah dibandingkan dengan signifikasi 5% nilai p < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT.
Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar. Selain dari faktor kebisingan, kelelahan kerja dapat juga disebabkan karena faktor lain, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Psikologi karyawan berpengaruh karena dari tempat kerja yang kurang kedap terhadap kebisingan sehingga karyawan tidak bersemangat beraktivitas dan adanya tanggung jawab dalam bekerja. faktor psikologi mempunyai peran besar dalam mempengaruhi kelelahan, karena penyakit dan kelelahan itu dapat timbul dari konflik mental yang terjadi di lingkungan pekerjaan, akhirnya dapat mempengaruhi kondisi fisik pekerja.
2. Beban kerja, setiap pekerjaaan merupakan beban kerja bagi pelakunya.
Beban-beban tersebut tergantung bagaimana orang tersebut bekerja.
Beban dimaksud dapat berupa beban fisik, mental atau sosial. Seseorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Hal ini sesuai dengan beban kerja fisik di bagian mekanik maintenance utility compresor memperbaiki mesin yang rusak dan maintenance, maka beban fisik tenaga kerja tidak begitu besar.
58
58
Beban kerja mental dapat berupa sejauh mana tingkat keahlian yang dimiliki tenaga kerja secara individu dengan individu lainnya yang sama dan beban sosial yang ringan karena hubungan antar tenaga kerja, tenaga kerja dengan atasannya adalah baik.
3. Status gizi merupakan salah satu penyebab kelelahan. Perusahaan telah memberikan gizi yang sama pada karyawan agar mendapatkan ketahanan tubuh yang baik. Seorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik, begitu juga sebaliknya.
4. Bekerja di lingkungan yang panas dapat mempercepat timbulnya kelelahan oleh karena tubuh kehilangan ion-ion melalui keringat. Tenaga kerja yang bekerja di lingkungan panas diperlukan proses aklimatisasi yaitu adaptasi terhadap suhu lingkungan yang sama.
Kelelahan juga dipengaruhi oleh lingkungan yang kurang nyaman dalam bekerja di samping kapasitas tenaga kerja itu sendiri dan jenis pekerjaannya. Lingkungan kerja yang kurang nyaman dapat memicu timbulnya kelelahan pada tenaga kerja. Kebisingan bagian mekanik maintenance utility compresor melebihi ambang batas. Hal ini sesuai dengan pendapat Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002 bahwa kebisingan dapat mengganggu pekerjaan dan menyebabkan timbulnya kesalahan karena tingkat kebisingan yang kecil pun dapat mengganggu konsentrasi, sehingga muncul sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan
59
59
untuk melakukan aktivitas, keluhan yang disampaikan merupakan gejala kelelahan.
Akibat kebisingan terhadap kesehatan yang lain adalah meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, selain gangguan kesehatan kebisingan juga menimbulkan gangguan emosional, kebisingan juga dapat mengganggu konsentrasi yang menyebabkan terjadi kesalahan ketika bekerja sehingga menurunkan prestasi kerja tenaga kerja, selain itu kebisingan juga dapat meningkatkan kelelahan.
Pengendalian kebisingan dilakukan pada sumber suara, pada media perantara kebisingan seperti memberikan peredam pada ruang kerja dan pengendalian kebisingan pada manusia dengan memakai alat pelindung telinga, hal ini sesuai dengan pendapat Dwi P Sasongko, dkk., 2000 bahwa kebisingan yang terjadi dapat dikendalikan agar tingkat kebisingan tersebut sampai batas nilai yang diijinkan.
Dengan masa kerja rata-rata lebih dari 20 tahun maka dapat dimungkinkan bahwa tenaga kerja bagian mekanik maintenance utility compresor telah mengalami penurunan fungsi pendengaran sehingga suara yang sangat bising dianggap biasa dikarenakan sudah kebiasaan dan penurunan tersebut. Hal ini dapat diperkuat oleh ketidak disiplinan tenaga kerja dalam menggunakan alat pelindung telinga sehingga mempercepat terjadinya penurunan ambang dengar tersebut dan ruangan kerja yang kurang kedap terhadap suara bising. Alat pelindung telinga yang disediakan diperusahaan hanya ear plug tetapi karyawan kurang nyaman memakainya,
60
60
padahal ear plug bisa meredam kebisingan sebesar 10-15 dBA. Sehingga diperlukan kebiasaan pada karyawan dalam memakai ear plug pada waktu bekerja diruangan tersebut dan mengetahui fungsi alat pelindung telinga, karena intensitas kebisingan di bagian mekanik maintenance utility compresor antara 87-90 dBA, intensitas ini melebihi nilai ambang batas yang diperkenankan. Alat pelindung diri yang lebih bagus adalah ear muff yang bisa meredam kebisingan 30 dBA, tetapi harga ear muff lebih mahal dari ear plug.
Maka dari itu perlunya pemakaian ear plug karena dapat menurunkan intensitas kebisingan, dari pada tidak memakai alat pelindung diri sama sekali.
Sehingga penurunan pendengaran bisa dikurangi walaunpun itu sedikit.
Pengendalian dari tempat kerjanya sendiri adalah dengan memberikan peredam suara seperti fiberglass atau karpet.
Hubungan intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja ini didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu penelitian Irwan Harwanto (2003) yang mengatakan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang sangat signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0.000, artinya P ≤ 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas kebisingan berpengaruh terhadap kelelahan dengan hubungan semakin tinggi intensitas kebisingan maka semakin meningkat kelelahan kerja. Uji Statistik menggunakan Analisis Regresi Linear Sederhana dan penelitian yang dilakukan oleh Robertus Iskandar S. R (2007) yang mengatakan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0,002 (p < 0,05). Hal ini
61
61
menunjukkan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan dapat menyebabkan kelelahan kerja meningkat. Uji Statistik menggunakan Independent Sample Test.
E. Keterbatasan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian terdapat beberapa keterbatasan yaitu :
1. Keterbatasan waktu dalam pemeriksaan kelelahan sebelum kerja, sehingga pada beberapa karyawan kelelahan sebelum kerja diukur sesaat setelah bekerja.
2. Ketelitian dan kejujuran karyawan dalam mengisi angket, sehingga tidak tertutup kemungkinan adanya jawaban yang tidak mewakili keadaan sebenarnya dan hal ini dapat mempengaruhi hasil penelitian.
62
62 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Intensitas kebisingan rata-rata di ruang mekanik maintenance utility compresor adalah 88,5 dBA dengan intensitas kebisingan terendah 87 dBA dan intensitas kebisingan tertinggi 90 dBA dan dari hasil perhitungan kelelahan kerja sebelum kerja 11 sampel (36,7%) dalam keadaan normal atau belum terjadi kelelahan dan 19 sampel (63,3%) mengalami kelelahan ringan. Hasil pengukuran sesudah kerja adalah 2 sampel (6,7%) mengalami kelelahan ringan dan 28 sampel (93,3%) mengalami kelelahan sedang.
2. Hasil uji statistik Korelasi pearson product moment menunjukkan bahwa nilai p = 0,030 bila dibandingkan dengan signifikasi 5% dimana nilai p < 0,05. maka Ho ditolak Ha diterima. Berarti dari hasil penelitian ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.
62
63
63 B. Saran
1. Bagi Perusahaan
a. Hendaknya memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada karyawan tentang pentingnya pemakaian alat pelindung telinga dan gangguan kesehatan akibat kebisingan agar selama bekerja selalu memakai alat pelindung telinga maupun alat pelindung lainnya.
b. Sebaiknya ruang mekanik maintenance utility compresor diberi peredam suara seperti fiberglass atau karpet agar mengurangi intensitas kebisingan ruang kerja tersebut.
c. Pemberian ear plug kepada karyawan apabila ruang kerja kurang kedap terhadap suara bising.
d. Peneguran atau pemberian sangsi kepada karyawan yang tidak memakai alat pelindung diri agar menjadi kedisiplinan karyawan.
e. Diadakan pemeriksaan kesehatan sebelum, berkala dan khusus pada karyawan.
2. Bagi Peneliti
Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja lainnya.
64
64
DAFTAR PUSTAKA
A. M. Sugeng Budiono. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Astrand, P.O. 1997. Textbook of Work Physiology-Physiology Bases of Exercise, 2nd edt. McGraw-Hill Book Company. USA.
Benny L, Priatna dan Adhi Ari Utomo dalam Edhie Sarwono, dkk, 2002, Green Company Pedoman Pengelolaan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3), Jakarta: PT Astra Internasional Tbk.
Departemen Kesehatan RI. 2003. Modul pelatihan bagi Fasilitator Kesehatan Kerja. Jakarta.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor:KEP-51.MEN/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja, 1999, Jakarta: Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.
Dwi P. Sasongko, dkk, 2000, Kebisingan Lingkungan, Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.
Eko Nurmianto, 2004, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya : Guna Widya.
Gabriel, 1996.”Definisi dan Istilah tentang Kebisingan di Tempat Kerja”.
http://www.indomedia.com/intisari/2000/januari/bising.htm. Diakses 30 Maret 2009.
Ganong, W.F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta : EGC.
Grandjean. 1993. Fitting the Task to the Man, 4th edt. Taylor & Francis Inc.
London.
Hastono. 2001. Analisis Data. Jakarta: FKM UI.
I Dewa Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar, 2002. Penilaian Status Gizi, Jakarta: EGC.
Irwan Harwanto, 2003.
“Pengaruh Intensitas Kebisingan terhadap
Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja pada Bagian Palet dan
65
65
Bagian Inspecting PT. Iskandartex”. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Kastomo Wirosuhardjo, 2000, Dasar-dasar Demografi, Jakarta:
Lembaga Demografi FE UI.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51: 1999. Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Jakarta.
Lambert, David. 1996, Tubuh Manusia, Jakarta : Arcan.
Margatan, Arcole. 1996, Kiat Hidup Sehat Bagi Usia Lanjut, Solo: CV Aneka.
Robertus Iskandar S. R, 2007.
“Pengaruh Paparan Kebisingan terhadap Tingkat Kelelahan di PT. Inka (Persero) Madiun”. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Sihar Tigor Benjamin Tambunan, 2005, Kebisingan di Tempat Kerja (occupational Noise), Yogyakarta: Andi.
Soekidjo Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: CV Rineka Cipta.
Suma’mur, PK. 1996. Higene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja, Jakarta: PT.
Toko Gunung Agung.
Suma’mur, PK. 2009. Higene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja, Jakarata: Sagung Seto.
Sritomo Wignjosoebroto, 2003, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu, Surabaya : Guna Widya.
Tata Soemitra. 1997. Hearing Conservation Program. Bandung : FKM UI.
Work Health and Organisation (WHO). 1993. Code of Practice for Noise Management at Work. Australia.
Www.inmedjs.blogspot.com
Yayasan Spirita. 2004. Kelelahan, http://www.i-base.org.uk.
66
66
LAMPIRAN
67
67 Lampiran A.
Data surat persetujuan menjadi responden penelitian
SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama :
TTL :
Pekerjaan :
Alamat :
Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi Responden Penelitian. Saya telah memahami tujuan, prosedur dan manfaat penelitian yang berjudul “Hubungan Intensitas Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Kerja pada Karyawan Mekanik Maintenance Utility Compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk.
Kemiri, Kebakramat, Karanganyar.”
Karanganyar, Responden Penelitian
( )
68
68 Lampiran B.
Data kuisioner penjaringan sampel
ANGKET PENJARINGAN SAMPEL
I. IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Jenis kelamin :
Umur :
Masa Kerja : Lama Kerja : Bekerja di bagian :
II. KESEDIAAN UNTUK DIJADIKAN SUBYEK PENELITIAN 1. Ya, saya bersedia
2. Tidak, saya tidak bersedia
III. KEADAAN LAIN
1. Apakah anda mempunyai riwayat penyakit pendengaran?
a. Ya b. Tidak
2. Apakah anda sering mengkonsumsi obat-obatan apabila merasa lelah setelah bekerja atau minum minuman berstamina?
a. Ya b. Tidak
69
69 Lampiran C.
Daftar responden di bagian Mekanik Maintenance Utility Compresor
Responden Jenis
(Tahun) Pekerjaan Keterangan 1
70
70 Lampiran F
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-51/MEN/1999
MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONSIA
KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : KEP–51/MEN/I999
TENTANG
NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA
Menimbang : a. Bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 3 ayat (1) huruf g Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
perlu ditetapkan Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di tempat Kerja;
b. Bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang ketentuan- ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja.
2. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3. Keputusan Presiden R.I. Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan.
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP 28/MEN/1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja.
71
71
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FlSIKA DI TEMPAT KERJA
Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Tenaga Kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
2. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
3. Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
4. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat tisika yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro dan sinar ultra ungu.
5. Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban. kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya.
6. Suhu kering (Dry Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu kering.
7. Suhu basah alami (Nat Wet Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola basah alami (Natural Wet bulb Thermometer).
8. Suhu bola (Globe Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola (Globe Thermometer).
72
72
9. Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang disingkal ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola.
10. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat- alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
11. Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak- balik dari kedudukan keseimbangannya.
11. Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak- balik dari kedudukan keseimbangannya.