• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBAKKRAMAT KARANGANYAR SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEBAKKRAMAT KARANGANYAR SKRIPSI"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN INTENSITAS KEBISINGAN TERHADAP KELELAHAN KERJA SEBELUM DAN SESUDAH KERJA PADA KARYAWAN

MEKANIK MAINTENANCE UTILITY COMPRESOR DI PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI

KEBAKKRAMAT KARANGANYAR

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Saint Terapan

Oleh :

Bayu Krisnawati R0206019

PROGRAM DIPLOMA IV KESEHATAN KERJA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2010

(2)

ii

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi dengan Judul :

Hubungan Intensitas Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Kerja pada Karyawan Mekanik Maintenance Utility Compresor

di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar Oleh :

Bayu Krisnawati, R0206019, Tahun 2010

Telah diuji dan sudah di sahkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi Program Diploma IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pada hari : , Tanggal 2010

Pembimbing Utama

Nama : Lusi Ismayenti, ST., M.Kes

NIP : 19720322 200812 2 001 ( )

Pembimbing Pendamping Nama : Reni Wijayanti, dr. MSc

NIP : - ( __________________ )

Penguji

Nama : Sarsono, Drs, M.Si

NIP : 19581127 198601 1 001 ( __________________ )

Tim Skripsi Ketua Program

D. IV Kesehatan Kerja FK UNS

Vitri Widyaningsih, dr. Putu Suriyasa, dr, MS, PKK, Sp.Ok.

NIP.19820423 200801 2 011 NIP : 19481105 198111 001

(3)

iii

(4)

iv

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustakaan.

Surakarta, 26 Mei 2010

Bayu Krisnawati NIM. R0206019

(5)

v ABSTRAK

Bayu Krisnawati. R0206019. 2010. HUBUNGAN INTENSITAS KEBISINGAN TERHADAP KELELAHAN KERJA SEBELUM DAN SESUDAH KERJA PADA KARYAWAN MEKANIK MAINTENANCE UTILITY COMPRESOR DI PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR. Program Studi Diploma IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor.

Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan point time approach. Subjek penelitian 30 karyawan dengan cara purposive sampling. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan uji statistik Korelasi pearson product moment dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Dalam penelitian ini ditetapkan tingkat signifikan 5%.

Hasil pengukuran rata-rata intensitas kebisingan selama sehari adalah 88,5 dBA dan hasil pengukuran kelelahan kerja sebelum kerja menunjukkan bahwa 11 sampel dalam keadaan normal, 16 sampel dalam kriteria kelelahan ringan dan 3 sampel dalam kriteria kelelahan sedang. Hasil pengukuran kelelahan kerja setelah kerja menunjukkan 27 sampel mengalami kelelahan sedang dan 3 sampel mengalami kelelahan berat.

Hasil uji statistik p = 0,030. Hal ini berarti hasil tersebut signifikan karena p < 0,05. sehingga dapat dikatakan ada hubungan antara intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk.

Kata kunci : Intensitas Kebisingan, Kelelahan Kerja

(6)

vi ABSTRACT

Bayu Krisnawati. R0206019. 2010. NOISE INTENSITY RELATIONS OF WORK BEFORE AND AFTER FATIQUE OF WORKING UTILITY MAINTENANCE MECHANIC COMPRESSOR AT PT. INDO ACIDATAMA, Tbk.KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR. Diploma IV Occupational Health Medical Faculty of Medicine of Sebelas Maret University.

This study aims to determine the relationship of noise intensity on the fatigue of work before and after working on mechanical maintenance compressor utility.

Type of research is observational analytic with cross sectional and time points approach. 30 employees of the research subjects by purposive sampling. Processing and data analysis techniques were tested with Pearson

product moment correlation statistics using SPSS version 16.0. In this

study determined a significant level of 5%.

The average results of measurements of noise intensity for a day is 88.5 dBA and measured fatigue before work showed that 11 samples under normal circumstances, 16 samples in the criteria for mild fatigue and three samples in medium fatigue criteria. The measurement results showed fatigue after working 27 fatigue samples and three samples were experiencing severe fatigue.

Results of statistical test p = .030. This means the result is significant because the p < 0.05. so that it can be said there is a relationship between noise

intensity of fatigue before and after working on mechanical maintenance employees utility compressors at PT. Indo Acidatama, Tbk.

Keywords: Intensity Noise, work fatigue

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini berjudul “Hubungan Intensitas Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Kerja pada Karyawan Mekanik Maintenance Utility Compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar”. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Saint Terapan di Program Studi Diploma IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam penyelesaian penelitian sampai dengan tersusunnya skripsi ini, dengan rasa rendah hati disampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. A.A. Subijanto, dr., MS. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

2. Bapak Putu Suriyasa, dr., MS, PKK, Sp. Ok selaku Ketua Program D. IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedoteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

3. Ibu Lusi Ismayenti, ST., M.Kes selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan selama penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Reni Wijayanti, dr., MSc. selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan selama penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Sarsono, Drs, M.Si selaku penguji yang telah memberikan masukan dalam skripsi ini.

6. Pimpinan Perusahaan PT. Indo Acidatama, Tbk yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

7. Bapak Setyo Budi selaku Safety Inspector dan semua karyawan PT. Indo Acidatama. Tbk, Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar yang telah membimbing dan membantu penulis selama penelitian.

(8)

viii

8. Bapak, Ibu, kakak, adikku dan orang-orang terdekat yang aku sayangi, atas segala doa, cinta, dukungan dan motivasinya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

9. Sahabat, rekan-rekan angkatan 2006 dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

10. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu.

Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sekalian. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi civitas akademika Program Diploma IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, untuk menambah wawasan ilmu di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.

Surakarta, 26 Mei 2010

Bayu Krisnawati

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN ... iii

PERNYATAAN... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

DAFTAR GAMBAR ALAT ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II. LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 6

B. Kerangka Pemikiran ... 37

C. Hipotesis ... 38

BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 39

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

C. Populasi Penelitian ... 40

D. Sampel Penelitian ... 40

E. Teknik Sampling ... 40

F. Identifikasi Variabel Penelitian ... 41

G. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 42

(10)

x

H. Desain Penelitian ... 44

I. Instrumen Penelitian ... 44

J. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 48

BAB IV. HASIL PENELITIAN A. Bagian Mekanik Maintenance Utility Compresor ... 49

B. Karakteristik Subjek Penelitian ... 49

C. Pengukuran Intensitas Kebisingan ... 51

D. Pengukuran Kelelahan Kerja ... 52

E. Uji Hubungan Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja ... 52

BAB V. PEMBAHASAN A. Karakteristik Subjek Penelitian ... 54

B. Analisis Intensitas Kebisingan Tempat Kerja ... 55

C. Analisis Kelelahan Kerja ... 56

D. Analisis Hubungan Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja ... 57

E. Kererbatasan Penelitian ... 61

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Nilai Ambang Batas Kebisingan di Tempat Kerja ... 11

Tabel 2 Kerugian Berat badan Kurang dan Berat Badan Berlebih ... 26

Tabel 3 Klasifikasi Metabolisme, Respirasi, Temperatur Badan dan Denyut Jantung sebagai Media Pengukur ... 28

Tabel 4 Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia ... 30

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur ... 50

Tabel 6 Daftar Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 50

Tabel 7 Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan ... 51

Tabel 8 Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja ... 52

Tabel 9 Uji Hubungan Kebisingan terhadap Kelelahan Kerja ... 53

(12)

xii

DAFTAR BAGAN

Bagan 1 Penyebab Kelelahan ... 18 Bagan 2 Kerangka Pemikiran ... 37 Bagan 3 Desain Penelitian ... 44

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR ALAT

Gambar 1 Alat Sound Level Meter ... 46 Gambat 2 Alat Reaction Meter Type L.77 Lakassidaya ... 47

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Data surat persetujuan menjadi responden penelitian Lampiran B. Data kuisioner penjaringan sampel

Lampiran C. Daftar responden dibagian Mekanik maintenance utility compresor Lampiran D. Hasil pengukuran kelelahan kerja sebelum kerja

Lampiran E. Hasil pengukuran kelelahan kerja setelah kerja

Lampiran F. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEP–51/MEN/I999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan di Indonesia masih dilaksanakan pada segala bidang, pembangunan guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik materi maupun spiritual. Visi pembangunan kesehatan di Indonesia yang dilaksanakan adalah Indonesia Sehat 2010 dimana penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Departemen Kesehatan RI, 2003:5).

Teknologi modern selain meningkatkan industri juga menimbulkan masalah kebisingan yang mempunyai pengaruh luas mulai dari gangguan konsentrasi, komunikasi dan kenikmatan kerja sampai pada cacat karena kehilangan daya dengar yang menetap. Kebisingan tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas kerja tetapi juga berpengaruh terhadap tenaga kerja (A.M.

Sugeng Budiono, 2003:33).

Kebisingan di tempat kerja mempunyai pengaruh terhadap tenaga kerja yaitu mengurangi kenyamanan dalam bekerja, mengganggu komunikasi, mengurangi konsentrasi (A.M. Sugeng Budiono, 2003:33). Kebisingan mengganggu perhatian tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu proses produksi atau hasil serta dapat membuat kesalahan-kesalahan

1

(16)

16

16

akibat terganggunya konsentrasi. Kebisingan yang tidak terkendali dengan baik, juga dapat menimbulkan efek lain yang salah satunya berupa meningkatnya kelelahan tenaga kerja (Suma’mur P.K., 2009:125).

Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi, performa kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan (Sritomo Wignjosoebroto, 2003:238).

Kelelahan dalam penelitian ini diartikan sebagai kecepatan reaksi tenaga kerja terhadap rangsang suara yang diberikan diukur dengan reaction timer. Pada keadaan sehat, tenaga kerja akan lebih cepat merespon rangsang yang diberi daripada seseorang yang telah mengalami kelelahan akan lama merespon rangsang yang akan diberi.

Berdasar survei di negara maju diketahui bahwa 10-50%

penduduk mengalami kelelahan kerja. Hal ini terlihat dengan adanya prevalensi kelelahan sekitar 20% pasien yang membutuhkan perawatan (Hastono, 2001:5).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irwan Harwanto (2003) yang berjudul pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang sangat signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0.000, artinya P ≤ 0,001. Penelitian menggunakan metode Uji Statistik dengan Analisis Regresi Linear Sederhana. Penelitian tentang kelelahan lainnya adalah Robertus Iskandar S. R (2007) yang mengatakan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0,002 (p < 0,05). Penelitian ini menggunakan metode Uji Statistik dengan Independent Sample Test. Hal ini menunjukkan

(17)

17

17

bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan yang dapat menyebabkan kelelahan kerja meningkat.

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar merupakan perusahaan yang mampu mengolah tetes tebu (molasses) sebagai hasil samping pabrik gula menjadi produk- produk kimia. Pada survei awal, peneliti mengukur intensitas kebisingan tempat kerja di bagian mekanik maintenance utility compresor yaitu kebisingan yang berasal dari mesin compresor piston dengan intensitas kebisingan rata-rata 88,5 dBA dimana tenaga kerja berada di ruangan tersebut selama 8 jam kerja atau 40 jam seminggu dengan istirahat 1 jam. Tenaga kerja juga mengalami beberapa keluhan seperti letih dan pening (pusing), dalam survei awal tersebut peneliti juga melihat tenaga kerja yang tidak memakai ear plug dalam bekerja dan peneliti melihat ruang mekanik tersebut kurang kedap terhadap kebisingan yang disebabkan karena kaca-kaca dinding sudah rusak. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diketahui bahwa intensitas kebisingan di tempat kerja melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan, yaitu 85 dBA untuk 8 jam kerja seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-51/MEN/1999.

Dengan mengacu pada hasil survei awal yang dilakukan oleh penulis, maka penulis ingin mengadakan penelitian mengenai “Hubungan intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.”

(18)

18

18 B. Perumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar?

C. Tujuan Penelitian

Untuk memahami pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Diharapkan sebagai pembuktian teori bahwa intensitas kebisingan berpengaruh terhadap kelelahan kerja.

2. Aplikatif :

a. Diharapkan tenaga kerja PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar menyadari pentingnya kesehatan dalam bekerja.

b. Diharapkan pimpinan perusahaan PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar untuk mengetahui Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan yang sudah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang sebagai kenyamanan pekerja dalam berproduksi.

(19)

19

19 BAB II

LANDASAN TEORI

(20)

20

20 A. Tinjauan Pustaka

1. Kebisingan

Kebisingan merupakan masalah kesehatan yang selalu timbul, baik pada industri besar seperti pabrik baja, pabrik mobil, pabrik kimia maupun industri rumah tangga seperti penggergajian kayu, pande besi, perajin kuningan serta aneka logam lainnya.

a. Pengertian Bunyi

Bunyi atau suara didefinisikan sebagai serangkaian gelombang yang merambat dari suatu sumber getar sebagai akibat perubahan kerapatan dan juga tekanan udara (J.F. Gabriel, 1996:65). Definisi lain suara adalah sensasi yang dihasilkan apabila getaran longitudinal molekul-molekul dari lingkungan luar, yaitu fase pemadatan dan peregangan dari molekul-molekul yang silih berganti, mengenai membran timpani. Pola dari gerakan ini digambarkan sebagai perubahan-perubahan tekanan pada membran timpani tiap unit waktu merupakan sederetan gelombang dan gelombang ini dalam lingkungan sekitar kita umumnya dinamakan gelombang suara (W.F. Ganong, 1999:171).

b. Pengertian Kebisingan

Menurut Kepmenaker No.Kep-51/MEN/1999, kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-

6

(21)

21

21

alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia (Dwi P.

Sasongko, dkk, 2000:1). Definisi lain adalah bunyi yang didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada telinga oleh getaran-getaran melalui media elastisitas manakala bunyi-bunyi tersebut tidak diinginkan (Suma’mur P.K., 2009:116). Kebisingan adalah suara-suara yang tidak dikendaki bagi manusia (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:246).

Kualitas suatu bunyi ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya (Suma’mur P.K., 2009:116). Intensitas atau arus energi per satuan luas yang dinyatakan dalam desibel (dBA) dengan memperbandingkannya dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm2 yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat didengar oleh telinga manusia (Dwi P. Sasongko, dkk, 2000:3).

c. Pengukuran Kebisingan

Pengukuran kebisingan dilakukan untuk memperoleh data kebisingan di Perusahaan atau dimana saja dan mengurangi tingkat kebisingan tersebut sehingga tidak menimbulkan gangguan (Suma’mur P.K., 2009:118). Alat yang digunakan dalam pengukuran kebisingan adalah Sound Level Meter (Sihar Tigor Benjamin Tambunan,

(22)

22

22

2005:75). Sound Level Meter adalah alat pengukur level kebisingan, alat ini mampu mengukur kebisingan di antara 30-130 dBA dan frekuensi-frekuensi dari 20-20.000 Hz (Suma’mur P.K., 2009:119).

d. Tipe Kebisingan

Menurut Sihar Tigor Benjamin Tambunan (2005:7) klasifikasi kebisingan di tempat kerja dibagi dalam dua jenis golongan besar, yaitu :

1) Kebisingan tetap (steady noise), yang terbagi menjadi dua yaitu : a) Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency

noise), berupa “nada-nada” murni pada frekuensi yang beragam.

b) Broad band noise, kebisingan yang terjadi pada frekuensi terputus yang lebih bervariasi (bukan “nada” murni).

2) Kebisingan tidak tetap (unsteady noise), yang terbagi menjadi tiga yaitu :

a) Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise), kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.

b) Intermittent noise, kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah, contoh kebisingan lalu lintas.

c) Impulsive noise, dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya suara ledakan senjata api.

(23)

23

23

Menurut Suma’mur P.K (2009:118-119), jenis kebisingan yang sering dijumpai yaitu :

1) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state wide band noise), misalnya : kipas angin, suara katup mesin gas, mesin tenun dan lain-lain.

2) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state narrow band noise), misalnya : suara sirine, generator, compressor, suara gergaji sirkuler dan lain-lain.

3) Kebisingan terputus-putus (intermittent), misalnya : kebisingan yang terdapat di lapangan udara, di jalan raya dan lain-lain.

4) Kebisingan impulsif berulang, misalnya : mesin tempa diperusahaan.

e. Sumber Bising

Sumber bising dapat diidentifikasi jenis dan bentuknya.

Kebisingan yang berasal dari berbagai peralatan memiliki tingkat kebisingan yang berbeda dari suatu model ke model lain (Dwi P.

Sasongko, dkk, 2000:12-13). Sumber bising pada ruang compresor dalam penelitian adalah berasal dari mesin piston dan turbo apabila beroperasi.

f. Nilai Ambang Batas (NAB)

Nilai ambang batas adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau

(24)

24

24

gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu (KEPMENAKER No.Kep-51/MEN/1999). NAB kebisingan di tempat kerja adalah intensitas suara tinggi yang merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang menetap untuk waktu kerja terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:298).

Nilai ambang batas yang diperbolehkan untuk kebisingan adalah 85 dBA, selama waktu pemaparan 8 jam berturut-turut (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:248).

Berikut adalah pedoman pemaparan terhadap kebisingan (NAB Kebisingan) berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep- 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan : Waktu pemajanan per

hari

Intensitas (dBA)

(25)

25

25 8

Jam 4 2 1

30 Menit

15 7,5 3,75 1,88 0,94

28,12 Detik

14,06 1,88 7,03 3,52 1,76 0,88 0,44 0,22 0,11 Tidak boleh

85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 115 118 109 121 124 127 130 133 136 139 140

Sumber: A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:33 g. Pengaruh Kebisingan

Pengaruh kebisingan pada tenaga kerja adalah adanya gangguan-gangguan seperti dibawah ini (Departemen Kesehatan RI, 2003:MI-2:37) :

1) Gangguan Fisiologis

Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat kebisingan. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas, pembicara terpaksa berteriak-teriak selain memerlukan ekstra tenaga juga menambah kebisingan (Departemen Kesehatan RI, 2003:MI-2:37). Contoh

(26)

26

26

gangguan fisiologis : naiknya tekanan darah, nadi menjadi cepat, emosi meningkat, vaso kontriksi pembuluh darah (semutan), otot menjadi tegang atau metabolisme tubuh meningkat. Semua hal ini sebenarnya merupakan mekanisme daya tahan tubuh manusia terhadap keadaan bahaya secara spontan (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:247). Kebisingan juga dapat menurunkan kinerja otot yaitu berkurangnya kemampuan otot tersebut menunjukkan terjadi kelelahan pada otot (Suma’mur P.K., 2009:125).

2) Gangguan Psikologis

Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja adalah mengurangi kenyamanan dalam bekerja, mengganggu komunikasi, mengganggu konsentrasi (A.M. Sugeng Budiono, dkk., 2003:33), dapat mengganggu pekerjaan dan menyebabkan timbulnya kesalahan karena tingkat kebisingan yang kecil pun dapat mengganggu konsentrasi (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:255) sehingga muncul sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktivitas.

Kebisingan mengganggu perhatian tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu proses produksi atau hasil serta dapat membuat kesalahan-kesalahan akibat terganggunya konsentrasi. Kebisingan yang tidak terkendalikan dengan baik juga dapat menimbulkan efek lain yang salah satunya

(27)

27

27

berupa meningkatnya kelelahan tenaga kerja (Suma’mur P.K., 2009:128-129).

3) Gangguan Patologis Organis

Pengaruh kebisingan terhadap alat pendengaran yang paling menonjol adalah menimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen (Departemen Kesehatan RI, 2003:MI- 2:37). Kebisingan dapat menurunkan daya dengar dan tuli akibat kebisingan (A.M. Sugeng Budiono, dkk., 2003:33). Pengaruh utama dari kebisingan kepada kesehatan adalah kerusakan pada indera-indera pendengar yang menyebabkan ketulian progresif.

Pemulihan terjadi secara cepat sesudah dihentikan kerja di tempat bising untuk efek kebisingan sementara (Suma’mur P.K., 2009:121).

Ditempat kerja, tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin dapat merusak pendengaran dan dapat pula menimbulkan gangguan kesehatan (tingkat kebisingan 80 s/d 90 dBA) atau lebih dapat membahayakan pendengaran. Seseorang yang terpapar kebisingan secara terus menerus dapat menyebabkan dirinya menderita ketulian. Ketulian akibat kebisingan yang ditimbulkan akibat pemaparan terus menerus dibagi menjadi dua yaitu :

a) Temporari deafness, yaitu kehilangan pendengaran sementara.

b) Permanent deafness, yaitu kehilangan pendengaran secara permanen atau disebut ketulian saraf. Pada pekerja permanent

(28)

28

28

deafness harus dapat dikompensasi oleh jamsostek atau rekomendasi dari dokter pemeriksa kesehatan (Benny L.

Priatna dan Adhi Ari Utomo., 2002:250).

h. Pengendalian Kebisingan

Pengendalian kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:299) : 1) Survei dan Analisis Kebisingan

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja apakah tingkat kebisingan telah melampaui NAB, bagaimana pola kebisingan di tempat kerja serta mengevaluasi keluhan yang dirasakan oleh masyarakat sekitar. Perlu dilakukan analisis intensitas dan frekuensi suara, sifat, jenis kebisingan, terus menerus atau berubah dan sebagainya. Berdasarkan hasil survei dan analisis ini, ditentukan apakah program perlindungan ini perlu segera dilaksanakan atau tidak di perusahaan tersebut.

2) Teknologi Pengendalian

Dalam hal ini dilakukan upaya menentukan tingkat suara yang dikehendaki, menghitung reduksi kebisingan dan sekaligus mengupayakan penerapan teknisnya. Teknologi pengendalian yang ditujukan pada sumber suara dan media perambatnya dilakukan dengan mengubah cara kerja, dari yang menimbulkan bising menjadi berkurang suara yang menimbulkan bisingnya;

menggunakan penyekat dinding dan langit-langit yang kedap

(29)

29

29

suara; mengisolasi mesin-mesin yang menjadi sumber kebisingan;

subtitusi mesin yang bising dengan mesin yang kurang bising;

menggunakan pondasi mesin yang baik agar tidak ada sambungan yang goyang dan mengganti bagian-bagian logam dengan karet;

modifikasi mesin atau proses; merawat mesin dan alat secara teratur dan periodik (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:34).

3) Pengendalian Secara Administratif

Pengendalian secara administratif dapat dilakukan dengan adanya pengadaan ruang kontrol pada bagian tertentu dan pengaturan jam kerja, disesuaikan dengan NAB yang ada.

4) Pengendalian Alat Pengendalian Diri

Untuk menghindari kebisingan digunakan alat pelindung telinga. Alat pelindung telinga berguna untuk mengurangi intensitas suara yang masuk ke dalam telinga. Ada dua jenis alat pelindung telinga, yaitu sumbat telinga atau ear plug dan tutup telinga atau ear muff (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:34).

5) Pemeriksaan Audiometri

Dilakukan pada saat awal masuk kerja secara periodik, secara khusus pada akhir masa kerja (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:34), pemeriksaan berkala audiometri pada pekerja yang terpapar (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:252).

(30)

30

30 6) Pelatihan dan Penyuluhan

Pelatihan dan penyuluhan dilakukan pada pekerja atau semua orang di perusahaan tentang manfaat, cara pemakaian dan perawatan alat pelindung telinga, bahaya kebisingan di tempat kerja dan aspek lain yang berkaitan (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:34).

7) Evaluasi : evaluasi hasil pemeriksaan audiometri.

2. Kelelahan Kerja

a. Pengertian Kelelahan

Kelelahan (fatique) adalah rasa capek yang tidak hilang waktu istirahat (Yayasan Spirita, 2004:thl). Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan syaraf pusat terdapat sistem aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis).

(Grandjean, 1993).

Istilah kelalahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda- beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh. Istilah kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun itu bukan satu-satunya gejala. Secara umum gejala kelelahan yang lebih dekat adalah pada

(31)

31

31

pengertian kelelahan fisik atau physical fatique dan kelelahan mental atau mental fatique (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:86). Dengan kelelahan fisik otot kita tidak dapat melakukan kegiatan apapun semudah seperti sebelumnya. Dengan kelelahan mental kita tidak dapat memusatkan pikiran seperti dulu (Yayasan spirita, 2004:thl).

Kelelahan adalah reaksi fungsionil dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonistik yaitu sistem penghambat atau inhibisi dan sistem penggerak atau aktivasi, dimana keduanya berada pada susunan saraf pusat. Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia beraksi dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur.

Adapun sistem penggerak terdapat dalam formatio retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat vegetatif untuk konversi ergotropis dari dalam tubuh ke arah bekerja. Maka keadaan seseorang pada suatu saat tergantung pada hasil kerja diantara dua sistem antagonistik tersebut.

Apabila sitem aktivasi lebih kuat maka seseorang dalam keadaan segar untuk bekerja, sebaliknya manakala sistem penghambat lebih kuat maka seseorang dalam keadaan kelelahan (Suma’mur P.K., 2009:360).

b. Penyebab Kelelahan

Sebagaimana diketahui, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kelelahan yang mempunyai beragam penyebab yang berbeda, namun demikian secara umum dapat dikelompokkan seperti pada gambar dibawah ini (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:88) :

(32)

32

32 Bagan 1. Penyebab kelelahan :

Penyebab kelelahan dikelompokkan seperti gambar di atas oleh Grandjean (1993) merupakan diagram teoritik efek kombinasi dari penyebab kelelahan dan usaha yang diperlukan untuk memperbaiki keadaan tersebut (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:88).

Jantung berdenyut kira-kira 70 kali dalam satu menit pada keadaan istirahat. Frekuensi melambat selama tidur dan dipercepat oleh emosi, olahraga, demam dan rangsang lain (W.F. Ganong, 1999:535). Berbagai kondisi kerja dapat menaikkan denyut jantung seperti bekerja dengan temperatur yang tinggi, tingginya pembebanan otot statis dan semakin sedikit otot yang terlibat dalam suatu kondisi kerja (Eko Nurmianto, 2004:136).

Kelelahan yang disebabkan oleh karena kerja statis berbeda dengan kerja dinamis. Pada kerja otot statis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksimum otot hanya dapat bekerja selama 1 Intensitas dan lamanya

upaya fisik dan psikis

Masalah-masalah fisik:

Tanggung jawab, kecemasan, konflik Masalah Lingkungan

kerja:

- Kebisingan - Penerangan

Irama detak jantung

Nyeri dan penyakit lainnya

Gizi/Nutrisi Tingkat

Kelelahan

PENYEMBUHAN

(33)

33

33

menit, sedangkan pada pengerahan tenaga < 20% kerja fisik dapat berlangsung cukup lama. Tetapi pengerahan tenaga otot statis sebesar 15-20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlangsung sepanjang hari. Astrand (1997) berpendapat bahwa kerja dapat dipertahankan beberapa jam per hari tanpa gejala kelelahan jika tenaga yang dikerahkan tidak melebihi 8% dari maksimum tenaga otot.

Lebih lanjut lagi Suma’mur (2009); Grandjean (1993), juga menyatakan bahwa kerja otot statis merupakan kerja berat (Strenous), kemudian mereka membandingkan antara kerja otot statis dan dinamis.

Pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunyai konsumsi energi lebih tinggi, denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat yang lebih lama.

Kebisingan merupakan bunyi-bunyian yang tidak dikehendaki oleh telinga (Sritomo Wignjosoebroto, 2003:85). Rangsang bunyi bising yang diterima oleh telinga akan menyebabkan sensasi suara gemuruh dan berdenging. Timbulnya sensasi suara ini akan menggerakkan atau menguatkan sistem inhibisi atau penghambat yang berada pada thalamus (W.F. Ganong, 1999:122). Selain itu penerangan atau pencahayaan juga dapat menyebabkan kelelahan. Pencahayaan yang kurang mengakibatkan mata pekerja menjadi cepat lelah karena mata akan berusaha melihat dengan cara membuka lebar-lebar.

Lelahnya mata ini akan mengakibatkan pula lelahnya mental dan lebih

(34)

34

34

jauh lagi bisa menimbulkan rusaknya mata (Sritomo Wignjosoebroto, 2003:85).

Intensitas dan lamanya upaya fisik dan psikis dalam bekerja dengan melakukan gerakan yang sama dapat menyebabkan waktu putaran menjadi lebih pendek, sehingga pekerja sering melakukan gerakan yang sama secara berulang-ulang (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:92). Kondisi kerja yang berulang-ulang dapat menimbulkan suasana monoton yang berakumulasi menjadi rasa bosan, dimana rasa bosan dikategorikan sebagai kelelahan (Eko Nurmianto, 2004:269).

Pekerja dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih baik (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:154). Tubuh memerlukan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh dan diperlukan juga untuk pekerjaan yang meningkat sepadan dengan lebih beratnya pekerjaan (Suma’mur P.K., 1996:197).

Faktor psikologis juga memainkan peranan besar dalam menimbulkan kelelahan. Seringkali pekerja-pekerja tidak mengerjakan apapun juga, tetapi mereka merasa lelah (Suma’mur P.K., 2009:359).

Sebabnya ialah adanya tanggung jawab, kecemasan dan konflik.

Kelelahan dapat dihilangkan dengan berbagai cara yaitu melakukan rotasi sehingga pekerja tidak melakukan pekerjaan yang sama selama berjam-jam, memberi kesempatan pada pekerja untuk berbicara dengan rekannya, meningkatkan kondisi lingkungan kerja

(35)

35

35

seperti mereduksi kebisingan, memperbaiki lingkungan kerja (A.M.

Sugeng Budiono, dkk, 2003:94-95), memberikan waktu istirahat yang cukup (Eko Nurmianto, 2004:264).

c. Gejala Kelelahan

Gambaran mengenai gejala kelelahan (Fatique Symptons) secara subyektif dan obyektif antara lain : perasaan lesu, ngantuk dan pusing, tidak atau berkurangnya konsentrasi, berkurangnya tingkat kewaspadaan, persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau berkurangnya gairah untuk bekerja, menurunnya kinerja jasmani dan rohani (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:88).

Gejala-gejala atau perasaan-perasaan yang ada hubungannya dengan kelelahan yaitu (Suma’mur P.K., 2009:359-360) :

1) Pelemahan kegiatan ditandai dengan gejala : perasaan berat di kepala, badan merasa lelah, kaki merasa berat, menguap, merasa kacau pikiran dan lain-lain.

2) Pelemahan motivasi ditandai dengan gejala lelah berbicara, menjadi gugup, tidak dapat berkonsentrasi, cenderung untuk lupa, tidak tekun dalam pekerjaannya dan lain-lain.

3) Pelemahan fisik ditandai dengan gejala : sakit kepala, kekakuan di bahu, merasa nyeri di punggung, merasa pernapasan tertekan, tremor pada anggota badan, spasme dari kelopak mata dan merasa pening.

(36)

36

36

Secara umum gejala kelelahan dapat dimulai dari yang sangat ringan sampai perasaan yang sangat melelahkan. Kelelahan subjektif biasanya terjadi pada akhir jam kerja, apabila rata-rata beban kerja melebihi 30-40% dari tenaga aerobik maksimal (Astrand, 1997)

d. Cara Mengurangi Kelelahan

Kelelahan dapat dikurangi dengan berbagai cara yang ditujukkan kepada keadaan umum dan lingkungan fisik di tempat kerja, misalnya dengan peraturan jam kerja, pemberian kesempatan istirahat yang tepat (Suma’mur P.K., 2009:362). Pengetrapan ergonomi sangat membantu, monotoni dan tegangan dapat dikurangi dengan menggunakan warna serta dekorasi pada lingkungan kerja.

Demikian pula organisasi proses produksi yang tepat, selanjutnya usaha ditujukkan kepada kebisingan, tekanan panas, pengudaraan dan penerangan yang baik (Suma’mur P.K., 2009:262).

Untuk mencegah dan mengatasi memburuknya kondisi kerja akibat faktor kelelahan pada tenaga kerja disarankan agar (A.M.

Sugeng Budiono, dkk., 2003:91) :

1) Memperkenalkan perubahan pada rancangan produk.

2) Merubah metode kerja menjadi lebih efisien dan efektif.

3) Menerapkan penggunaan peralatan dan piranti kerja yang memenuhi standar ergonomi.

4) Menjadwalkan waktu istirahat yang cukup bagi seorang tenaga kerja.

(37)

37

37

5) Menciptakan suasana lingkungan kerja yang sehat, aman dan nyaman bagi tenaga kerja.

6) Melakukan pengujian dan evaluasi kinerja tenaga kerja secara periodik.

7) Menerapkan sasaran produktivitas kerja berdasarkan pendekatan manusiawi dan fleksibilitas yang tinggi.

e. Faktor yang mempengaruhi Kelelahan

Grandjean (1993) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadi nya kelelahan di industri sangat bervariasi dan untuk memelihara atau mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan diluar tekanan (cancel out the stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu- waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran.

Menurut Suma’mur 1996 karakteristik pekerja yang mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja sebagai berikut :

1) Faktor Internal a) Umur

Kebanyakan kinerja fisik mencapai puncak dalam usia pertengahan 20-an dan kemudian menurun dengan bertambahnya usia (Lambert, David, 1996:244). WHO menyatakan batas usia lansia adalah 60 tahun ke atas (Margatan, Arcole, 1996:11). Sedang di Indonesia umur 55 tahun sudah dianggap sebagai batas lanjut usia (Margatan,

(38)

38

38

Arcole, 1996:81). Dengan menanjaknya umur, maka kemampuan jasmani dan rohani pun akan menurun secara perlahan-lahan tapi pasti. Aktivitas hidup juga berkurang yang mengakibatkan semakin bertambahnya ketidakmampuan tubuh dalam berbagai hal (Margatan, Arcole, 1996:24).

b) Jenis Kelamin

Suatu identitas seseorang, laki-laki atau wanita. Pada tenaga kerja wanita akan terjadi siklus biologis setiap bulan di dalam mekanisme tubuhnya, sehingga akan mempengaruhi turunnya kondisi fisik maupun psikisnya. Hal ini akan menyebabkan tingkat kelelahan wanita lebih besar daripada laki-laki.

c) Riwayat penyakit

Penyakit akan menyebabkan hipo atau hipertensi suatu organ, akibatnya akan merangsang syaraf tertentu. Dengan perangsangan yang terjadi akan menyebabkan pusat syaraf otak akan terganggu atau terpengaruh yang dapat menurunkan kondisi fisik seseorang.

d) Faktor psikologis atau keadaan psikis

Manusia bekerja bukan seperti mesin, karena manusia juga mempunyai perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran, harapan-harapan dan kehidupan sosialnya. Hal tersebut berpengaruh pula pada keadaan dalam pekerjaan. Faktor ini

(39)

39

39

dapat berupa sifat, motivasi, hadiah-hadiah, jaminan keselamatan dan kesehatannya dan lain-lain (Suma’mur P.K., 1996:207).

Faktor psikologis memainkan peran besar, karena penyakit dan kelelahan itu dapat timbul dari konflik mental yang terjadi di lingkungan pekerjaan, akhirnya dapat mempengaruhi kondisi fisik pekerja (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:151).

Keadaan psikis adalah suatu respon yang ditafsirkan sebagai bahan yang salah, sehingga merupakan suatu aktifitas atau deaktifitas secara primer suatu organ, akibatnya timbul ketegangan yang dapat meningkatkan tingkat kelelahan seseorang.

e) Ukuran Tubuh (Berat Badan dan Tinggi Badan)

Ukuran tubuh disini kaitannya dengan status gizi tenaga kerja yang dilihat dari berat badan dan tinggi badannya. Berat normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila berat badan normal adalah penampilan baik, lincah dalam bergerak dan resiko sakit rendah. Sedangkan berat badan yang kurang atau berlebih akan menimbulkan resiko terhadap berbagai macam penyakit. Kerugian dari keadaan berat badan kurang dan berlebih dapat dilihat pada tabel berikut :

(40)

40

40

Tabel 2. Kerugian berat badan kurang dan berat badan berlebih

Berat badan Kerugian

Kurang/Kurus

Kelebihan/gemuk

- Penampilan cenderung kurang menarik - Mudah lelah dan letih

- Resiko sakit tinggi antara lain penyakit infeksi, depresi, anemia, diare dan sebagainya.

- Wanita kurus yang hamil beresiko tinggi melahirkan bayi dengan BBLR - Kurang mampu bekerja keras

- Penampilan kurang menarik

- Gerakan dalam bekerja tidak gesit dan cenderung lamban

- Mempunyai resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing manis, tekanan darah tinggi, gangguan sendi dan tulang, gangguan ginjal, gangguan kandungan empedu, kanker dan sebagainya.

- Pada wanita dapat mengakibatkan gangguan haid (haid tidak teratur, perdarahan yang tidak teratur) dan faktor penyakit pada persalinan.

Sumber : A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003 2) Faktor Eksternal

a) Beban Kerja

Pada pekerjaan yang terlalu berat dan berlebihan akan mempercepat kontraksi otot tubuh, sehingga hal ini mempercepat pula kelelahan seseorang (Suma’mur P.K., 1996).

Begitu juga dengan oksigen, bahwa setiap individu mempunyai keterbatasan maksimum untuk oksigen yang di konsumsi. Semakin meningkatnya beban kerja, maka konsumsi oksigen akan meningkat secara proporsional sampai didapat

(41)

41

41

kondisi maksimumnya. Beban kerja yang lebih tinggi yang tidak dapat dilaksanakan dalam kondisi aerobik. Akibatnya adalah manifestasi rasa lelah yang ditandai dengan meningkatnya kandungan asam laktat (Eko Nurmianto, 2004:133).

Derajat beratnya beban kerja tidak hanya tergantung pada jumlah kalori yang dikonsumsi, tetapi juga bergantung pada jumlah otot yang terlibat pada pembebanan otot statis.

Konsumsi energi dapat menghasilkan denyut jantung yang berbeda-beda, selain itu temperatur sekeliling yang tinggi, tingginya pembebanan otot statis serta semakin sedikit otot yang terlibat dalam suatu kondisi kerja dapat meningkatkan denyut jantung. Dengan demikian denyut jantung dipakai sebagai indeks beban kerja (Eko Nurmianto, 2004136). Adapun hubungan antara metabolisme, respirasi, temperatur badan dan denyut jantung sebagai media pengukur beban kerja ditunjukkan pada tabel di bawah ini (Eko Nurmianto, 2004:137).

(42)

42

42

Tabel 3. Klasifikasi metabolisme, respirasi, temperatur badan dan denyut jantung sebagai media pengukur beban kerja.

Beban Kerja

Kons umsi Oksi

gen (liter /men it)

Resp irasi (liter /men it)

Tem perat

ur bada

n (oC)

D en yu t ja nt un g (/

m en it) (

1 ) S a n g at ri n g a n R in g a n A g a k b er at B er at S a

(2) 0,25- 0,3 0,5-1 1-1,5 1,5-2 2-2,5 2,5-4

(3) 6-7 11- 20 20- 31 31- 43 43- 56 60- 100

(4) 37,5 37,5 37,5- 38 38- 38,5 38,5- 39

>39

(5 ) 60 - 70 75 - 10 0 10 0- 12 5 12 5- 15 0 15 0- 17 5

>1 75

(43)

43

43 n

g at b er at L u ar bi a s a b er at

Sumber : Eko Nurmianto, 2004:137 b) Masa Kerja

Masa kerja adalah waktu yang dihitung berdasarkan tahun pertama tenaga kerja mulai bekerja hingga saat penelitian dilakukan, yang dihitung dalam tahun.

c) Iklim kerja

Pada suhu yang terlalu rendah akan dapat menimbulkan keluhan kaku dan kurangnya koordinasi sistem tubuh, sehingga suhu yang terlalu tinggi (diatas 320C) akan menyebabkan menurunnya kelincahan dan menggangu kecermatan, sehingga kondisi semacam ini akan meningkat tingkat kelelahan seseorang.

d) Penerangan

(44)

44

44

Penerangan yang terlalu kecil intensitasnya akan meningkatkan daya akomodasi mata dan syaraf pengelihatan.

Intensitas penerangan yang terlalu tinggi akan menimbulkan kesilauan pada mata yang dapat merangsang syaraf pengelihatan untuk bekerja lebih berat, sehingga hal ini dapat meningkatkan kelelahan seseorang.

e) Getaran mekanis

Merupakan salah satu faktor bahaya di tempat kerja yang disebabkan oleh mesin atau peralatan yang dioperasikan.

Dalam menjalankan proses produksi, tidak lepas dari mesin atau alat mekanis lainnya yang dijalankan oleh motor penggerak. Sebagian dari kekuatan mekanis ini disalurkan kepada tubuh pekerja atau lainnya dalam bentuk getaran mekanis. Efek yang dapat ditimbulkan dari getaran mekanis antara lain gangguan kenikmatan kerja dan timbulnya kelelahan kerja.

f) Waktu pemaparan

Waktu pemaparan adalah waktu yang di hitung mulai dari tenaga kerja mulai bekerja dan berada hingga tenaga kerja selesai bekerja yang dihitung dalam jam. Waktu pemaparan mempengaruhi tingkat kelelahan tenaga kerja.

g) Status Gizi

(45)

45

45

Status gizi merupakan kondisi tubuh yang berhubungan dengan konsumsi dan penggunaan zat makan atau nutrien.

Sehingga penilaian status gizi penting untuk menunjukkan keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang.

Status gizi seseorang dapat diketahui melalui nilai IMT (Indeks Massa Tubuh). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi seseorang khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, IMT dihitung dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (I Dewa Nyoman Supariasa, 2002:60). Hasil pengukuran dikategorikan sesuai ambang batas IMT pada tabel berikut.

Tabel 4. Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia

No Kategori IMT

1

2 3

Kurus

Normal Gemuk

Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat

<

17,0 17,0- 18,5 18,5- 25,0

>

25,0- 27,0

>

27,0 Sumber: I Dewa Nyoman Supriasa, 2002:61

(46)

46

46 h) Alat Pelindung Diri

Usaha pencegahan terhadap kemungkinan Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan kecelakaan kerja harus dilakukan untuk menghindari dan mengurangi paparan dan risiko kebisingan. Salah satu upaya pengendalian adalah melengkapi tenaga kerja dengan Alat Pelindung Diri (APD). Undang- Undang No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, khususnya pasal 9, 13 dan 14, mengatur tentang penyediaan dan penggunaan Alat Pelindung Diri di tempat kerja, baik bagi pengusaha maupun bagi tenaga kerja (A.M. Sugeng Budiono, 2003:329). Alat Pelindung Diri merupakan seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja (A.M. Sugeng Budiono, 2003).

Alat Pelindung Telinga merupakan salah satu bentuk Alat Pelindung Diri yang digunakan untuk melindungi telinga dari paparan kebisingan, sering disebut sebagai personal hearing protection atau personal protective devices. Alat Pelindung Telinga dapat menurunkan kerasnya bising yang melalui hantaran udara sampai 40 dBA, tetapi pada umumnya tidak lebih dari 30 dBA. Pemakaian Alat Pelindung Telinga ini dapat mereduksi tingkat kebisingan yang masuk ke telinga

(47)

47

47

bagian luar dan bagian tengah, sebelum masuk ke telinga bagian dalam. Semua tenaga kerja yang bekerja dalam area 85 dBA harus memakai alat pelindung telinga, memperoleh pemeriksaan audiometri secara barkala, dan memperoleh pelatihan atau penyuluhan secara berkala (Tata Soemitra, 1997:3).

f. Macam Kelelahan

Menurut Suma’mur P.K (2009:358), kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam :

1) Kelelahan Umum

Gejala utama kelelahan umum adalah perasaan letih yang luar biasa dan rasa aneh. Semua aktivitas menjadi terganggu dan terhambat karena timbulnya gejala kelelahan tersebut. Tidak adanya gairah untuk bekerja baik secara fisik maupun psikis, segalanya terasa berat dan merasa “ngantuk” (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:87). Perasaan adanya kelelahan umum adalah ditandai dengan berbagai kondisi antara lain kelelahan visual yang disebabkan oleh illuminasi, luminasi dan seringnya akomodasi mata; kelelahan seluruh tubuh; kelelahan mental; kelelahan urat saraf; stress dan rasa malas bekerja (Eko Nurmianto, 2004:267).

Sebab-sebab kelelahan umum adalah monotoni, intensitas dan lamanya kerja, mental dan fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental seperti tanggung jawab, kekhawatiran dan konflik serta

(48)

48

48

penyakit. Pengaruh-pengaruh ini berkumpul di dalam tubuh dan mengakibatkan perasaan lelah (Suma’mur P.K., 2009:359).

2) Kelelahan Otot (Muscular fatique)

Kelelahan otot ditujukkan melalui gejala sakit nyeri yang luar biasa seperti ketegangan otot dan daerah sekitar sendi. Gejala kelelahan otot dapat terlihat pada gejala yang tampak dari luar (External sign). Tanda-tanda kelelahan otot pada percobaan- percobaan, otot dapat menjadi lelah sebagai berikut :

a) Berkurangnya kemampuan untuk menjadi pendek ukurannya.

b) Bertambahnya waktu konsentrasi dan relaksasi.

c) Memanjangnya waktu laten yaitu waktu diantara perangsangan dan saat mulai kontraksi (A.M. Sugeng Budiono,dkk, 2003:86).

Derajat beratnya beban kerja tidak hanya tergantung pada jumlah otot yang terlibat pada pembebanan otot statis. Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat jika hanya ditunjang oleh sejumlah kecil otot relatif terhadap sejumlah besar otot (Eko Nurmianto, 2004:135). Dalam suasana kerja statis, aliran darah menurun, sehingga asam laktat terakumulasi dan mengakibatkan kelelahan otot lokal. Di samping itu juga dikarenakan beban otot yang tidak merata pada sejumlah jaringan tertentu yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja seseorang (Eko Nurmianto, 2004:265).

(49)

49

49

3. Hubungan antara kebisingan dengan kelelahan

Menurut Dwi P. Sasongko, dkk (2000:21) pengaruh kebisingan terhadap kesehatan selain kerusakan pada indera pendengaran, kebisingan juga menimbulkan gangguan terhadap mental emosional serta sistem jantung dan peredaran darah.

Gangguan mental emosional berupa terganggunya kenyamanan hidup, mudah marah dan menjadi lebih peka atau mudah tersinggung. Melalui mekanisme hormonal yaitu diproduksinya hormon adrenalin, dapat meningkatkan frekuensi detak jantung dan meningkatkan tekanan darah. Kejadian ini termasuk gangguan kardiovaskuler.

Kebisingan mengganggu perhatian tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu proses produksi atau hasil serta dapat membuat kesalahan-kesalahan akibat terganggunya konsentrasi. Kebisingan yang tidak terkendalikan dengan baik, juga dapat menimbulkan efek lain yang salah satunya berupa meningkatnya kelelahan tenaga kerja. Kebisingan merupakan suara atau bunyi yang tidak dikehendaki karena pada tingkat atau intensitas tertentu dapat menimbulkan gangguan, terutama merusak alat pendengaran. Kebisingan akan mempengaruhi faal tubuh seperti gangguan pada saraf otonom yang ditandai dengan bertambahnya metabolisme, bertambahnya tegangan otot sehingga mempercepat kelelahan (Suma’mur, P.K, 2009:125).

Kelelahan terjadi apabila adanya pengaruh hal-hal diluar diri yang berwujud pada tingkah laku atau perbuatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti suasana kerja, interaksi dengan sesama pekerja maupun

(50)

50

50

dengan atasan (Depnaker, 1999:55). Kelelahan fisiologis merupakan kelelahan yang disebabkan karena adanya faktor-faktor yang diantaranya kebisingan.

Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja adalah mengurangi kenyamanan dalam bekerja, mengganggu komunikasi, mengurangi konsentrasi (A.M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:33), dapat mengganggu pekerjaan dan menyebabkan timbulnya kesalahan karena tingkat kebisingan yang kecil pun dapat mengganggu konsentrasi (Benny L.

Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:250) sehingga muncul sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktivitas.

Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat kebisingan. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas, pembicara terpaksa berteriak-teriak selain memerlukan ekstra tenaga juga menambah kebisingan (Departemen Kesehatan RI, 2003:MI-2:37). Contoh gangguan fisiologis: naiknya tekanan darah, nadi menjadi cepat, emosi meningkat, vaso kontriksi pembuluh darah (semutan), otot menjadi tegang atau metabolisme tubuh meningkat. Semua hal ini sebenarnya merupakan mekanisme daya tahan tubuh manusia terhadap keadaan bahaya secara spontan (Benny L. Priatna dan Adhi Ari Utomo, 2002:247). Kebisingan juga dapat menurunkan kinerja otot yaitu berkurangnya kemampuan otot untuk melakukan

(51)

51

51

kontraksi dan relaksasi, berkurangnya kemampuan otot tersebut menunjukkan terjadi kelelahan pada otot (Suma’mur P.K., 2009:125).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irwan Harwanto (2003) yang berjudul pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang sangat signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0.000, artinya P ≤ 0,001. Penelitian menggunakan metode Uji Statistik dengan Analisis Regresi Linear Sederhana. Penelitian tentang kelelahan lainnya adalah Robertus Iskandar S. R (2007) yang mengatakan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan hasil yang signifikan pada probabilitasnya sebesar P = 0,002 (p < 0,05). Penelitian ini menggunakan metode Uji Statistik dengan Independent Sample Test. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh intensitas kebisingan dapat menyebabkan kelelahan kerja meningkat.

B. Kerangka Pemikiran :

(52)

52

52

Berdasarkan landasan teori yang diuraikan diatas dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut :

: Diteliti : Tidak diteliti

C. Hipotesis :

Faktor Eksternal : - Beban kerja - Iklim kerja - Penerangan - Getaran mekanis - Waktu pemaparan - Status gizi

- APD

- Faktor psikologis atau keadaan psikis

- Berat badan dan Tinggi badan Faktor Internal :

- Usia

- Jenis kelamin

- Riwayat penyakit dan status kesehatan - Masa kerja

Intensitas Kebisingan

Kelelahan Kerja Rangsang Cortex cerebri

Sistem Penghambat

Bagan 2. Kerangka Pemikiran

(53)

53

53

Ada hubungan intensitas kebisingan terhadap kelelahan kerja sebelum dan sesudah kerja pada karyawan mekanik maintenance utility compresor PT.

Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

BAB III

(54)

54

54

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik yaitu penelitian yang berupaya mencari hubungan antar variabel yang kemudian dilakukan analisis terhadap data yang telah terkumpul. Berdasarkan pendekatannya, maka penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan pendekatan point time approach.

Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel bebas dengan variabel tergantung (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:71).

Pendekatan point time approach atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat, dimana setiap subjek hanya diobservasi satu kali saja dan faktor resiko serta efek diukur menurut keadaan atau status saat diobservasi (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:145).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di bagian mekanik maintenance utility compresor di PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar pada bulan Maret 2010.

C. Populasi Penelitian

39

(55)

55

55

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau objek yang diteliti (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:97). Populasinya adalah tenaga kerja bagian mekanik maintenance utility sejumlah 40 orang.

D. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:79). Subjek dalam penelitiannya adalah karyawan bagian mekanik maintenance utility, dari populasi 40 orang yang memenuhi kriteria subjek penelitian sebanyak 30 orang. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 30 karyawan sebagai sampel dengan cara purposive sampling.

E. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yang didasarkan pada pertimbangan tertentu, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Soekidjo Notoatmodjo, 2002).

Ciri-ciri tersebut antara lain yaitu : 1. Umur antara 20 – 50 tahun 2. Masa kerja lebih dari 5 tahun 3. Jenis kelamin laki-laki

4. Tidak memiliki riwayat penyakit pendengaran.

F. Identifikasi Variabel Penelitian

(56)

56

56

Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus dalam penelitian.

Berdasarkan hubungan antara satu variabel dengan variabel lain, maka dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :

1. Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas kebisingan.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kelelahan kerja.

3. Variabel Pengganggu

Variabel pengganggu adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel pengganggu ada dua yaitu :

a) Variabel pengganggu terkendali : umur, jenis kelamin, riwayat penyakit pendengaran, masa kerja dan lama kerja.

b) Variabel pengganggu tidak terkendali : faktor psikologis atau keadaan psikis, Alat Pelindung Diri (APD) dan kebiasaan sehari- hari.

G. Definisi Operasional Variabel Penelitian

(57)

57

57 1. Kebisingan

Kebisingan adalah suara yang dihasilkan oleh mesin compresor piston yang bertugas mensupplay udara tekan untuk proses produksi dan juga untuk menggerakkan alat-alat instrument. Dalam penelitian ini yang diukur adalah intensitas kebisingan di lingkungan kerja tersebut dengan menggunakan :

Alat ukur : Sound Level Meter Satuan : dBA (desibel)

Skala : Rasio (Lebih dari NAB) 2. Kelelahan Kerja

Kelelahan adalah suatu keadaan dimana tubuh mengalami penurunan kestabilannya saat terpapar kebisingan sebelum dan sesudah bekerja. Untuk mengetahui kelelahan kerja yaitu melalui pengukuran langsung kepada karyawan yang dilakukan oleh peneliti sendiri dengan menggunakan :

Alat ukur : Reaction Timer type L.77 Lakassidaya Satuan : Milidetik

Skala : Interval (Normal, Ringan, Sedang, Berat) 3. Umur

Umur adalah waktu yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran, hingga saat penelitian dilakukan yang dihitung dalam tahun. Data yang diperoleh dengan cara pengisian angket, atau menanyakan langsung kepada tenaga kerja. Umur tenaga kerja yang diteliti yaitu sekitar 20-50

(58)

58

58

tahun. Berdasarkan teori yang ada umur 20-50 tahun merupakan umur produktif.

4. Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah identitas seseorang, laki–laki atau perempuan yang dapat kita lihat secara visual. Jenis kelamin yang ada di tempat penelitian ini adalah yang berjenis kelamin laki-laki.

5. Penyakit Pendengaran

Penyakit pendengaran adalah semua jenis penyakit yang mengganggu pendengaran tenaga kerja sehingga tidak bisa mendengarkan suara dengan normal. Untuk mengetahui pendengaran tenaga kerja masih normal atau tidak yaitu dari pengakuan tenaga kerja itu sendiri dari pengisian angket dan dengan melakukan wawancara tanpa ada kesulitan komunikasi.

6. Masa Kerja dan Lama Kerja

Masa kerja adalah waktu tenaga kerja tersebut mulai bekerja pada perusahaan itu sampai sekarang yang dapat diketahui dengan pengakuan dari karyawan. Lama kerja adalah waktu kerja dari tenaga kerja selama satu hari yang dapat diketahui dari pengakuan karyawan.

H. Desain Penelitian

(59)

59

59

Keterangan :

: Variabel yang akan diuji.

Menggunakan Korelasi Paerson Product Moment karena uji statistik yang dilakukan dari hasil data pengukuran kebisingan terhadap kelelahan yaitu menguji hubungan antara dua variabel dengan skala data rasio dengan interval.

I. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan peralatan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini peralatan yang digunakan untuk pengambilan data beserta pendukungnya adalah :

Populasi

Purposive Sampling Subjek

Kelelahan Kerja Intensitas kebisingan > NAB

Korelasi Paerson Product Moment

Bagan 3. Desain Penelitian

(60)

60

60

1. Lembar isian data (angket) yaitu daftar identitas dan pertanyaan untuk menentukan subjek penelitian.

2. Reaction Timer type L.77 Lakassidaya yaitu alat untuk mengkur kelelahan kerja.

3. Sound Level Meter yaitu alat untuk mengukur intensitas kebisingan.

4. Buku dan bolpoin untuk mencatat hasil pengukuran.

5. Wawancara digunakan untuk memperoleh data dari sampel, dilakukan teknik komunikasi langsung dengan wawancara. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan karyawan adalah data mengenai keluhan seputar pekerjaan mereka.

6. Data umum diperoleh dari dokumen perusahaan yang berisi data laporan penelitian, standar operasional prosedur atau instruksi kerja dan standar peraturan yang ada kegiatannya dengan PKL. Selain itu, penulis juga mengambil beberapa literatur dari buku umum maupun internet.

7. Validasi

a. Alat Sound Level Meter yang digunakan adalah benar-benar alat yang sesuai dengan standart yang dipergunakan sebagaimana mestinya.

Merupakan peralatan resmi yang digunakan oleh Departement Tenaga Kerja dalam melakukan survei kebisingan di tempat kerja atau perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari informasi yang diberikan, peneliti peroleh data bahwa Pemda Pesawaran sebenarnya pernah melakukan komunikasi dengan LPM Unila terkait pengembangan TTG yang

Hasil simulasi menggunakan metode SPE menunjukan arus inrush yang timbul pada ketiga fasa mencapai nilai steady state 5,2 detik..

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : (a) Pengolahan tanah dan mulsa jerami menghasilkan interaksi pada komponen pertumbuhan dan yang terbaik pada

Hal ini menunjukkan perlu adanya pengkajian dari peran Balai KSDA berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam hayati dan pengendalian perdagangan satwa liar

Penelitian ini mengungkapkan perkembangan jumlah kendaraan yang telah dilayani pada tahun 2002-2003 dan tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang

Bahan belajar ini memuat materi yang terkait dengan konsep Interaksi dengan orangtua dalam komite sekolah berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013. Manfaat

kapasitor interdigital CRLH microstrip pada rangkaian lumped merupakan ekuifalen dari impedansi(Z), sedangkan stub pada rangkaian lumped merupakan ekuifalen dari

Berdasarkan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa pertunjukan musik Barongsai di Vihara Tri Dharma Bumi Raya Kota Singkawang adalah sebagai Fungsi pertunjukan, Barongsai yang