BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Teknik Pengolahan Data
Adapun teknik pengolahan data yang digunakan terhadap data – data tersebut, antara lain :
1) Data Tes Pemahaman Konsep
Pengolahan data untuk mengukur pemahaman konsep dilakukan terhadap skor pretest dan posttest. Dari data skor pretest dan posttest tersebut, diperoleh nilai gain yang akan menunjukkan adanya perbedaan atau tidak adanya perbedaan pemahaman konsep setelah diterapkan model pembelajaran advance
organizer. Selanjutnya dari gain tersebut kita bisa mengetahui gain
ternormalisasi pada pembelajaran sehingga diketahui korelasi tes pemahaman konsep.
Berikut langkah-langkah yang peneliti lakukan agar dapat menganalisis data tes awal dan data tes akhir, yaitu sebagai berikut:
1. Pemberian Skor
Sebelum lembar jawaban siswa diberi skor, terlebih dahulu ditentukan standar penilaiansehingga dalam pelaksanaannya unsure subjektivitas dapat diminimalisir. Skor untuk soal pilihan ganda ditentukan berdasarkan metode Rights Only, yaitu jawaban benar diberi skor satu dan jawaban salah atau butir soal tidak dijawab diberi skor nol. Skor setiap siswa ditentukan dengan menghitung jumlah jawaban yang benar.
2. Menghitung gain skor semua subyek penelitian
Skor gain adalah selisih antara skor tes awal dengan skor tes akhir. Secara matematis dituliskan sebagai berikut :
G = skor posttest – skor pretest (Persamaan 3.6)
3. Menghitung gain ternormalisasi
Gain ternormalisasi merupakan perbandingan antara skor gain yang diperoleh siswa dengan skor gain maksimum yang dapat diperoleh. Secara matematis dituliskan sebagai berikut :
<g> = = (Persamaan 3.7) (Hake, 1998) Keterangan :
<g> = rata-rata gain yang dinormalisasi <G> = rata-rata gain aktual
<Gmaks> = gain maksimum yang mungkin terjadi <Sf> = rata-rata skor tes akhir
<Si> = rata-rata skor tes awal
4. Menentukan nilai rata-rata (mean) dari skor gain ternormalisasi.
5. Menginterpretasikan nilai rata-rata skor gain ternormalisasi dengan menggunakan tabel 3.8 di bawah ini:
Tabel 3.8
Interval Gain Ternormalisasi
Interval Kategori 0,00 < (<g>) < 0,30 Rendah 0,30 < (<g>) < 0,70 Sedang 0,70 < (<g>) < 01,0 Tinggi (Hake, 1998) 2) Lembar Observasi
Data yang diperoleh melalui lembar observasi dalam bentuk tabel yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung, dianalisis dan dipresentasikan dalam kalimat.
3) Analisis data angket skala sikap siswa
Pengolahan data angket dilakukan dengan menggunakan skala Likert. Setiap jawaban diberikan bobot tertentu sesuai dengan jawabannya. Untuk mengetahui besar persentase dalam angket digunakan rumus sebagai berikut:
(Persamaan 3.8) Keterangan:
P = Persentase jawaban f = Frekuensi jawaban
n = Banyaknya siswa (responden)
Penafsiran data angket dilakukan dengan menggunakan kategori persentase berdasarkan Kuntjaraningrat (Maulana, 2007 : 64) seperti ditunjukkan tabel berikut:
Tabel 3.9
Klasifikasi Interpretasi Perhitungan Persentase Angket
Besar Persentase (%) Interpretasi 0 Tidak ada 1 - 25 Sebagian kecil 26 - 49 Hampir setengahnya 50 Setengahnya 51 - 75 Sebagian besar 76 – 99 Pada umumnya 100 Seluruhnya
Skala penilaian yang digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, siswa memiliki lima pilihan respon yang sesuai dengan pernyataan
% 100 x n f P
berikut :Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu atau Netral(N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Namun, dalam penelitian ini alternatif respon ragu-ragu tidak digunakan dengan alas an agar respon yang diberikan oleh siswa mencerminkan (memihak) kearah respon positif atau negatif. Untuk pernyataan positif, bobot yang diberikan 5 sampai dengan 1 dari pilihan sangat setuju hingga sangat tidak setuju. Sedangkan untuk pernyataan negatif, bobot yang diberikan 1 sampai dengan 5 dari pernyataan sangat setuju hingga sangat tidak setuju. Untuk lebih jelasnya, pembobotan respon siswa tersebut disajikan pada tabel 3.10 berikut ini.
Tabel 3.10
Bobot Penilaian Respon Siswa
Alternatif Jawaban Jenis Pernyataan Positif Negatif Sangat Setuju (SS) 5 1
Setuju (S) 4 2
Netral (N) 3 3
Tidak Setuju (TS) 2 4 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5
(Suherman, 2003) Selanjutnya kelas tersebut langsung digolongkan pada kelas responden yang memiliki tanggapan positif atau memiliki tanggapan negatif. Menurut Suherman (2003: 191), penggolongan dapat dilakukan dengan membandingkan skor subjek dengan jumlah skor alternatif jawaban netral dari semua butir pernyataan. Jika skor subjek lebih besar daripada jumlah skor netral, maka subjek tersebut mempunyai tanggapan positif. Sebaliknya, jika skor subjek kurang dari jumlah skor netral, maka sebjek itu mempunyai tanggapan negatif.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data yang telah dilaksanakan, maka dapat diperoleh simpulan dari penelitian adalah sebagai berikut :
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data terhadap data hasil penelitian yang telah dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung mengenai penerapan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep, maka disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa SMA pada materi teori kinetik gas setelah diterapkan model pembelajaran
advance organizer berbantuan peta konsep dengan kategori sedang.
Beberapa hal lain yang dapat disimpulkan terkait penelitian ini adalah: 1. Terjadi peningkatan pemahaman konsep aspek menafsirkan (interpreting)
setelah diterapkan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep dengan kategori sedang.
2. Terjadi peningkatan pemahaman konsep aspek menyimpulkan (inferring) setelah diterapkan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep dengan kategori sedang.
3. Terjadi peningkatan pemahaman konsep aspek menjelaskan (explaining) setelah diterapkan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep dengan kategori tinggi.
4. Siswa memberikan tanggapan positif terhadap proses pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep.
Yola Fransiska, 2013
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran advance
organizer berbantuan peta konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep
siswa.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka beberapa saran yang dapat dikemukakan diantaranya sebagai berikut:
1. Model pembelajaran advance organizer hendaknya dijadikan sebagai alternatif pembelajaran untuk memfasilitasi dan memudahkan siswa dalam memahami konsep fisika.
2. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peningkatan pemahaman konsep siswa, misalnya pada pokok bahasan lain dengan sampel penelitian yang berbeda.
3. Model pembelajaran advance organizer ini akan lebih mudah jika waktu yang tersedia cukup banyak, terutama jika para siswa belum terbiasa dalam melakukan kegiatan dan tahapan-tahapan pembelajaran yang berbeda dengan tahapan pembelajaran yang biasa ditemukan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin. (2010). Pembelajaran Advance Organizer. [Online]
Tersedia: http://arifin-penelitian.blogspot.com/2010/05/efektivitas-model-pembelajaran advance.html [28 Juni 2013]
Arifin, Z. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Asan, A. (2007). Concept Mapping in Science Class: A Case Study of Fifth
Grade Student,. Educational Technology & Society [Online]
Tersedia: www.ifets.info/journals/10_1/17.pdf [Oktober 2012]
Avyani, Eva Nur. (2010). Perbandingan Tingkat Penguasaan Konsep Siswa
Menggunakan Alat Evaluasi Peta Konsep dan Pilihan Ganda pada Materi Sistem Ekskresi. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak
diterbitkan.
Bloom,B.S. (1978). Taxonomy Of Educational Objectives, The Classification
Of Educational Goals. Handbook I: Cognitive Domain. New York :
David McKay Company, Inc.
Dahar, R W. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga.
Dahar, R. W. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional. (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
John. (1997). Concept Maps Assessment of Classroom Learning: Reliability,
Validity, and Logistical Practicality. Journal of research in science
teaching Vol. 36, NO. 4, PP. 475–492 (1999).
Hake, R. R. (1998). “Interactive-Engagement Versus Tradisional Methods: A Six-Thousand-Student Survey of Mechanics Tes Data For Introductory Physics Course”. Am. J. Phys. 66 (1) 64-74
Karinasyari. (2004). Penggunaan Peta Konsep dan Wacana sebagai Alat
Evaluasi untuk Mengukur Penguasaan Konsep Sistem Hormon Manusia pada Siswa SLTP. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak
diterbitkan.
Khasanah, Elen U. (2011). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran
Advance Organizer dengan Peta Konsep terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman KonsepMatematis Siswa. Skripsi pada
FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Khasanah, Uswatun. (2012). Profil Kemampuan Berpikir Logis dan
Pemahaman Konsep Pemantulan Cahaya pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Lestari, Ayu R. (2012). Penggunaan Model Pembelajaran Advance Organizer
Berbantuan Multimedia untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Aktivitas Belajar Siswa. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Lindari, Mesa. (2008). Analisis Kemampuan Kognitif Siswa kelas X dalam
Pembelajaran Fisika setelah Penerapan Model Pembelajaran Advance Organizer. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak
Novak, J. D., dan Gowin, D. B. (1985). Learning How to Learn. New York, USA: Cambridge University Press.
Pandia, Suka P. (2012). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
dengan Media CMAPTOOLS PROTOTYPE pada Topik Kalor dan Suhu untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa SMP. Skripsi
pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Silitonga, M P. (2006). Penggunaan Peta Konsep sebagai Alat Evaluasi
Mata Kuliah Biokimia Dasar. Dalam Jurnal Pendidikan Matematikan
dan Sains [Online], vol 1 (2), 5 halaman.
Solihat, N.F. (2010). Penerapan Model Pembelajaran Fisika Berbasis
Fenomena untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Sudijono , A. (2001). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sugandi, Eka. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Advance Organizer
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ranah Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran Fisika. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak
diterbitkan.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Sundari, Merinda. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Advance
Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Skripsi pada
FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Sutiadi, Asep. (2013). Penyusunan Instrumen Soal Kognitif dan KPS. Bahan Ajar Workshop: tidak diterbitkan.
Syaodih, N. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umamah, Nunung Q. (2010). Kajian Penguasaan Konsep Biologi Sel pada
Siswa Kelas XI melalui Tes Essai dan Tes Peta Konsep. Skripsi pada
FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Wuryani, Tiwi. (2007). Efektifitas Model Advance Organizer dalam
Pembelajaran Fisika di SMA (penelitian kuasi eksperimen terhadap siswa kelas XI SMAN 14 Bandung semester I tahun ajaran 2006/2007). Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Yuliani, Y. (2007). Pembelajaran dengan Model Advance Organizer untuk
Meningkatkan Pemahaman Matematis Siswa SMA. Skripsi pada