• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik Pengolahan Data

Untuk memperoleh soal tes yang baik, maka soal-soal tes tersebut diujicobakan agar dapat diketahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembedanya. Dalam hal ini uji coba soal tersebut dilakukan kepada salah satu kelas yang telah mempelajari pokok bahasan yang diteskan, yaitu siswa kelas V SDN Lamajang II Kecamata Pangalengan Kabupaten Bandung.

Sebelum diuji coba soal tes dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk mengetahui validiatas isi dan validitas susunannya, berkenaan dengan ketepatan antara alat ukur dengan materi yang diuji.

Setelah uji coba instrumen, maka dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda sebagai berikut:

1. Uji Validitas Instrumen

Validitas (kesahihan) adalah kualitas yang menunjukan hubungan antara suatu pengukuran (diagnosis) dengan arti atau tujuan kriteria belajar atau tingkah laku. Suatu instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi (disebut valid) jika instrumen tersebut dapat mengukur apa yang sebenarnya akan diukur (Purwanto, 2010:138).

Untuk mengetahui validitas instrumen berupa soal tes maka digunakan uji statistik menggunakan rumus korelasi product moment Pearson dengan angka kasar yang rumus lengkapnya adalah sebagai berikut :

41 = �∑ − ∑ ∑ �∑ 2− ∑ 2 �∑ 2− ∑ 2 ... (1) (Arikunto, 2012:87) Keterangan : rxy = koefisien korelasi N = jumlah responden

X = jumlah skor total (seluruh item) Y = jumlah skor item

Hasil perhitungan validitas tiap item tes uji coba, untuk mengetahui signifikansi korelasi yang didapat, selanjutnya diuji dengan menggunakan rumus uji-t yaitu:

= 2

1− 2 ... (2) (Furqon, 2011:223)

Keterangan: thitung = nilai thitung

n = jumlah responden

= koefisien korelasi hasil (rhitung)

Distribusi (Tabel t) untuk  = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = n – 2) dengan kaidah keputusan jika thitung > ttabel berarti valid sebaliknya jika thitung < ttabel berarti tidak valid.

Untuk menentukan valid atau tidakya suatu instrumen, maka dilihat penafsiran mengenai indeks korelasi menurut Riduwan (dalam Komalasari, 2012:40) sebagai berikut:

Tabel 3.2

Penafsiran Indeks Korelasi

Indeks Korelasi Kategori

Antara 0,800 sampai dengan 1,000 Sangat Tinggi Antara 0,600 sampai dengan 0,799 Tinggi Antara 0,400 sampai dengan 0,599 Cukup Antara 0,200 sampai dengan 0,399 Rendah

42

Dari hasil uji coba soal, diperoleh berbagai validitas dari tiap butir soal tersebut. Analisis validitas ini menggunakan program Microsoft Excel 2007. Adapun rekapitulasi validitas dari 12 butir soal yang diujicobakan dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini:

Tabel 3.3

Rekapitulasi Hasil Perhitungan Validitas

No. Butir

Soal

r

xy Kriteria

t

hitung

t

tabel Keputusan

1 0.763 Tinggi 6.470 2,042 Valid 2 0.692 Tinggi 5.255 2,042 Valid 3 0.687 Tinggi 5.184 2,042 Valid 4 0.632 Tinggi 4.464 2,042 Valid 5 0.643 Tinggi 4.601 2,042 Valid 6 0.591 Cukup 4.013 2,042 Valid

7 0.828 Sangat Tinggi 8.097 2,042 Valid

8 0.705 Tinggi 5.437 2,042 Valid

9 0.704 Tinggi 5.429 2,042 Valid

10 0.793 Tinggi 7.134 2,042 Valid

11 0.673 Tinggi 4.980 2,042 Valid

12 0.603 Tinggi 4.139 2,042 Valid

Dari hasil uji coba instrumen penelitian diperoleh kesimpulan bahwa 12 item alat ukur dinyatakan valid, sehingga semua nomor butir soal digunakan sebagai instrumen penelitian.

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas suatu instrumen adalah ketetapan instrumen dalam mengukur atau ketetapan siswa dalam menjawab instrumen tersebut (Ruseffendi, 2010:158). Apabila instrumen terebut reliabel, maka hasil dari dua kali atau lebih pengetesan dengan dua atau lebih instrumen yang senilai (ekivalen) pada masing-masing pengetesan di atas akan serupa.

43

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode belah dengan memberikan sebuah tes dan dicobakan satu kali, atau disebut juga single-test-single-trial method dengan menggunakan rumus Spearman Brown; yang rumus lengkapnya sebagai berikut:

11= 2 1 212 1+ 1 212 ... (3) (Arikunto, 2012:107) Keterangan: 1

212 = korelasi Product Moment antara belahan (ganjil-genap) 11 = koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan

Untuk menginterpretasikan harga koefisien reliabilitas digunakan kategori perbaikan dari Guilford dalam Iriawan (2008: 32) dengan kriteria:

Tabel 3.4

Interpretasi Koefisien Reliabilitas

Koefisien Reliabilitas Kategori

0,80 < r11≤ 1,00 Sangat Tinggi

0,60 < r11≤ 0,80 Tinggi

0,40 < r11≤ 0,60 Sedang

0,20 < r11≤ 0,40 Rendah

r11≤ 1,00 Sangat Rendah

Dari hasil uji coba soal diperoleh berbagai reliabilitas dari tiap butir soalnya. Analisis reliabilitas ini menggunakan program Microsoft Excel 2007. Adapun rekapitulasi validitas dari 12 butir soal yang diujicobakan dapat dilihat pada Tabel 3.5 berikut ini:

44

Tabel 3.5

Rekapitulasi Hasil Pengujian Reliabilitas Tiap Butir Soal

No. Butir

Soal

�1

212 r11 Kriteria rtabel Keputusan

1 0.763 0.866 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 2 0.692 0.818 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 3 0.687 0.815 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 4 0.632 0.774 Tinggi 0.349 Reliabel 5 0.643 0.783 Tinggi 0.349 Reliabel 6 0.591 0.743 Tinggi 0.349 Reliabel 7 0.828 0.906 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 8 0.705 0.827 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 9 0.704 0.826 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 10 0.793 0.885 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 11 0.673 0.804 Sangat Tinggi 0.349 Reliabel 12 0.603 0.752 Tinggi 0.349 Reliabel

Dari perhitungan untuk mengetahui reliabilitas instrumen dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007, maka diperoleh nilai reliabilitasnya sebesar 0,903. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen tersebut reliabel dan termasuk dalam kategori sangat tinggi.

3. Daya Pembeda

Analisis daya pembeda soal adalah mengkaji soal-soal tes dari segi kesanggupan untuk membedakan siswa yang termasuk ke dalam kelompok unggul atau higher group dan kelompok asor atau lower group (Wahyudin et al., 2006: 94).

Untuk mencari kelompok atas/unggul dan kelompok bawah/asor, maka siswa diurutkan berdasarkan skor yang diperoleh. Lalu diambil 27% skor teratas sebagai kelompok atas (H) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah (L).

45

Tabel 3.6

Interpretasi Kriteria Daya Pembeda

Indeks Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda

0, 00 – 0,20 0,21 – 0,40 0,41 – 0,70 0,71 – 1,00 rendah cukup baik baik sekali (Wahyudin et al, 2006: 99) Daya pembeda soal dimaksudkan untuk melihat seberapa mampu soal tersebut membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan yang berkemampuan rendah dicari dengan menghitung indeks daya pembeda. Indeks daya pembeda setiap soal dihitung dengan memakai rumus berikut:

� = × 100% ... (4)

(Wahyudin et al., 2006:99) Keterangan:

Dp = indeks daya pembeda

SA = jumlah skor kelompok atas (27% dari seluruh siswa) SB = jumlah skor kelompok bawah (27% dari seluruh siswa) IA = jumlah skor ideal kelompok (atas dan bawah)

Adapun interpretasi indeks daya pembeda menurut Tarno To dalam Iriawan (2008: 34) adalah sebagai berikut:

Tabel 3.7

Interpretasi Indeks Daya Pembeda

Indeks Daya Pembeda (%)

Kriteria

Negatif - 9 Sangat Buruk

10 - 19 Buruk

20 - 29 Agak Baik

30 - 49 Baik

46

Dari hasil uji coba terhadap soal diperoleh berbagai daya pembeda dari tiap butir soalnya. Analisis daya pembeda ini menggunakan program ANATES.v4. Adapun rekapitulasi daya pembeda dari 12 butir soal yang diujicobakan dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut:

Tabel 3.8

Rekapitulasi Hasil Perhitungan Daya Pembeda

No. Butir Soal DP (%) Kriteria 1 72.22 Sangat Baik 2 47.22 Sangat Baik 3 55.56 Sangat Baik 4 38.89 Baik 5 66.67 Sangat Baik 6 50.00 Sangat Baik 7 58.33 Sangat Baik 8 41.67 Sangat Baik 9 38.89 Baik 10 50.00 Sangat Baik 11 33.33 Baik 12 38.89 Baik 4. Tingkat Kesukaran

Analisis tingkat kesukaran butir soal adalah megkaji soal-soal dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal yang termasuk soal mudah, sedang dan sukar (Wahyudin et al, 2006: 94). Tingkat kesukaran dihitung dengan menggunakan rumus :

=

... (5) (Wahyudin et al, 2006: 96)

Keterangan :

TK = Tingkat kesukaran soal

∑B = Jumlah siswa yang menjawab benar

N = Jumlah siswa yang memberikan jawaban pada soal yang bersangkutan

47

Adapun kriteria yang digunakan adalah makin kecil indeks tingkat kesukaran yang diperoleh, maka makin sukar soal tersebut. Sebaliknya makin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh, maka makin mudah soal tersebut. Untuk mengetahui tingkat kesukaran maka digunakan kiteria pada tabel sebagai berikut :

Tabel 3.9

Kriteria Tingkat Kesukaran Butir Soal

Indeks Tingkat kesukaran Kriteria

0,00 – 0,30 0,31 – 0,70 0,71 – 1,00 Sukar Sedang Mudah (Wahyudin et al, 2006: 97) Untuk menunjukan presentase indeks kesukaran, menggunakan interpretasi indeks kesukaran menurut Karno To dalam Iriawan (2008: 33) adalah:

Tabel 3.10

Interpretasi Indeks Kesukaran

Indeks Kesukaran (%) Kriteria 0 %-15% Sangat Sukar 16%-30% Sukar 31%-70% Sedang 71%-85% Mudah 86%-100% Sangat Mudah

Dari hasil uji coba terhadap soal diperoleh berbagai indeks kesukaran dari tiap butir soalnya. Analisis tingkat kesukaran ini menggunakan program ANATES.v4. Adapun rekapitulasi indeks kesukaran dari 12 butir soal yang diujicobakan dapat dilihat pada tabel 3.11 berikut ini:

48

Tabel 3.11

Rekapitulasi Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran

No. Soal Ik (%) Kriteria Indeks Kesukaran 1 58.33 Sedang 2 48.61 Sedang 3 52.78 Sedang 4 55.56 Sedang 5 63.89 Sedang 6 69.44 Sedang 7 54.17 Sedang 8 48.61 Sedang 9 33.33 Sedang 10 52.78 Sedang 11 50.00 Sedang 12 52.78 Sedang

Dari keseluruhan uji instrumen yang telah dilakukan maka didapat kesimpulan hasil pengujian instrumen berupa rekapitulasi berikut ini:

Tabel 3.12

Rekapitulasi Hasil Uji Instrumen

No.

Soal Validitas Reliabilitas

Daya Pembeda

Indeks

Kesukaran Ket.

1. Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 2. Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 3. Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai

4. Tinggi Tinggi Baik Sedang Dipakai

5. Tinggi Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 6. Cukup Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 7. Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 8. Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 9. Tinggi Sangat Tinggi Baik Sedang Dipakai 10. Tinggi Sangat Tinggi Sangat Baik Sedang Dipakai 11. Tinggi Sangat Tinggi Baik Sedang Dipakai

49

Dokumen terkait