• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III (METODE PENELITIAN)

G. Teknik Pengujian Instrumen

1. Validitas

Penelitian ini menguji instrumen dengan menghitung validitas dari masing-masing instrumen.

i. Definisi Validitas

Djiwandono (2008) yang menyatakan bahwa validitas adalah kesesuaian soal sebagai alat ukur dengan sasaran pokok yang perlu diukur. Pendapat serupa mengenai validitas juga diungkapkan oleh Uno dan Koni (2012) berpendapat bahwa validitas adalah hal yang berhubungan dengan ketepatan terhadap apa yang seharusnya diukur oleh suatu butir soal dan seberapa cermat soal tersebut melakukan pengukurannya. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian validitas butir soal, peneliti dapat menyimpulkan bahwa validitas butir soal adalah sifat yang sesuai dengan kenyataan. Butir soal dapat dikatakan valid apabila mampu memberikan gambaran mengenai hal yang ingin diukur secara benar sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya, butir soal dikatakan tidak valid apabila tidak mampu memberikan gambaran tentang hal yang ingin diukur secara benar.

ii. Jenis Validitas

Ada tiga jenis validitas, yaitu: (1) validitas isi yang memeriksa sejauh mana tes mengukur ranag isi pengetahuan atau keterampilan di bidang tertentu yang tepat; (2) validitas konstruk yang memeriksa sejauh mana tes mengukur suatu konstruk tertentu baik berupa kemampuan yang lebih didominasi oleh fungsi kognitif seperti intelegensi maupun fungsi afektif seperti sifat; (3) validitas kriteria yang memeriksa sejauh mana tes mampu memprediksikan variabel-variabel tertentu sebagaimana diharapkan berdasarkan penalaran teoritis tertenntu.

Penelitian ini menggunakan dua jenis validitas yaitu validitas isi dan validitas konstruk.

1. Validitas Isi

Validitas isi yaitu derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Validitas isi juga berperan penting untuk tes pencapaian hasil belajar (achievement test). Validitas umumnya ditentukan melalui pertimbangan para ahli. Fungsi dari validitas isi yaitu sebagai alat penilaian untuk mengukur isi materi yang akan diajarkan.

23

Validitas isi pada penelitian ini digunakan untuk perangkat pembelajaran berupa RPP, bahan ajar, lembar kerja, dan soal evaluasi. Uji validitas isi ini dilakukan dengan meminta pertimbangan validasi dari para ahli melalui expert judgement. Validator I yaitu salah satu dosen Universitas Sanata Dharma sebagai ahli dalam bidang IPS, validator II yaitu Kepala Sekolah SDN Geblog, dan validator III yaitu guru kelas IV SDN Geblog sebagai guru kelas tempat diadakannya penelitian.

Dalam meghitung hasil validasi penelitian ini menggunakan kriteria validasi perangkat pembelajaran, menggunakan Pedoman Acuan Pembelajaran I (PAP I) (Masidjo, 1995) dengan rentang skor 1-5 sebagai berikut.

Tabel 3.3 Pedoman Acuan Pembelajaran I (PAP I)

Persentase Rentang Skor Kriteria

90% - 100% 4,5 – 5,00 Sangat layak

80% - 89% 4 – 4,4 Layak

65% - 79% 3,25 – 3,99 Cukup layak

55% - 64% 2,75– 3,24 Kurang layak

Dibawah 55% 1,00 – 2,74 Sangat kurang layak

Sumber: Masidjo (1995)

Adapun hasil perhitungan validasi perangkat pembelajaran sebagai berikut.

a. Validasi Silabus

Adapun komponen yang dinilai dalam penilaian silabus yaitu, (1) kelengkapan komponen silabus, (2) kesesuaian SK, KD, dan Indikator, (3) kesesuaian pilihan metode pembelajaran, (4) penggunaan bahasa dan tata tulis baku, dan (5) kesesuaian antara penilaian dengan indikator yang dirumuskan. Hasil validasi silabus dapat dilihat pada tabel 3.4 di bawah ini.

Tabel 3.4 Hasil Validasi Silabus

Validator Komponen Penilaian Rata-Rata

1 2 3 4 5

Validator I 4 4 2 5 5 4

Validator II 4 4 4 5 4 4,2

Validator III 4 5 5 4 4 4,4

24

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa rata-rata skor yang diperoleh dari validator I yaitu 4; validator II yaitu 4,2; dan validator III yaitu 4,4. Rata-rata secara keseluruhan dari 3 validator diperoleh skor 4,2.

Dari total rata-rata 4,3 tersebut dapat dikatakan bahwa silabus sudah layak dan peneliti tidak perlu melakukan revisi dikarenakan rata-rata yang dipaparkan sudah lebih dari 3, karena skor 3 merupakan median atau titik tengah dari skala 1 – 5 dan sudah tergolong cukup. Jika hasil rata-rata yang diberikan validator kurang dari 3, maka peneliti perlu melakukan revisi, namun jika hasil rata-rata yang diperoleh lebih dari 3, maka tidak perlu dilakukan revisi.

b. Validasi RPP

Adapun komponen-komponen yang dinilai dalam penilaian RPP, yaitu: Kejelasan rumusan; kelengkapan cakupan rumusan indikator; kesesuaian dengan kompetensi dasar; kesesuaian dengan kompetensi yang akan dicapai; kesesuaian dengan karakteristik peserta didik; keruntutan dan sistematika materi; kesesuaian materi dengan alokasi waktu; kesesuaian sumber belajar atau metode pembelajaran dengan standar kompetensi (tujuan) yang ingin dicapai; kesesuaian sumber belajar atau metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik; kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan kompetensi (tujuan) pembelajaran; kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan materi pembelajaran; kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik; kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi yang ingin dicapai; kejelasan prosedur penilaian (awal, proses akhir, tindak lanjut); kelengkapan instrumen (soal, rubik, kunci jawaban); ketetapan ejaan, ketetapan pilihan kata; kebakuan struktur kalimat, dan bentuk huruf dan angka baku. Adapun hasil dari validasi RPP adlah sebagai berikut.

Tabel 3.5 Hasil Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Komponen

Penilaian

Validator

Rata-rata Validator I ValidatorII ValidatorIII

1 2 4 4 3,3

2 5 4 4 4,3

3 2 5 4 3,6

4 2 5 4 3,6

25 6 5 5 4 4,6 7 4 5 4 4,3 8 5 4 5 4,6 9 5 4 5 4,6 10 2 4 4 3,3 11 4 4 4 4 12 5 4 4 4,3 13 5 4 4 4,3 14 1 5 5 3,6 15 4 4 5 4,3 16 1 5 5 3,6 17 4 5 5 4,6 18 5 4 4 4,3 19 5 4 4 4,3 20 5 4 4 4,3 Rata-rata 3,8 4,25 4,3 4,7

Tabel 3.5 menunjukkan bahwa skor maksimal pada komponen yang diperoleh dalam validasi RPP adalah 5, sedangkan skor minimal yang diperoleh adalah 1. Rata-rata yang diperoleh dari validator I yaitu 3,8; dari validator II yaitu 4,25; dari validator III yaitu 4,3. Rata-ratra keseluruhan dari 3 validator diperoleh skor 4,6.

Dari rata-rata 4,6 tersebut dapat dikatakan bahwa RPP sudah layak dan peneliti tidak perlu melakukan revisi, dikarenakan rata-rata yang didapatkan sudah lebih dari 3 karena skor 3 merupakan titik tengah dari skala 1 – 5 dan sudah tergolong cukup. Jika hasil rata-rata yang diberikan validator kurang dari 3, maka peneliti perlu melakukan revisi, namun jika hasil rata-rata yang diperoleh lebih dari 3, maka tidak perlu dilakukan revisi.

c. Validasi Lembar Kerja Siswa

Komponen yang dinilai dalam validitas LKS meliputi: (1) kelengkapan unsur LKS, (2) kesesuaian indikator atau tujuan pembelajaran dengan LKS, (3) rumusan petunjuk pengerjaan LKS sederhana dan mudah dipahami siswa, (4) LKS membantu siswa dalam memahami materi ajar, (5) LKS menunjukkan keruntutan kegiatan belajar, (6) Tampilan LKS menarik dan indah, (7) penggunaan bahasa dan tata tulis baku. Adapun hasil validasi LKS dapat dilihat dari tabel berikut ini.

26

Tabel 3.6 Hasil Validasi Lembar Kerja Siswa

Validator Komponen Penilaian Rata-rata

1 2 3 4 5 6 7

Validator I 2 4 5 4 4 1 5 3,6

Validator II 5 4 5 5 2 2 4 3,8

Validator III 5 4 5 4 4 4 4 4,3

Rata-rata 4 4 5 4,3 3,3 2,3 4,3 3,9

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa skor maksimal pada komponen yang diperoleh dalam validasi LKS adalah 5. Skor minimal yang diperoleh dalam validasi LKS adalah 1. Data di atas menunjukkan rata-rata skor yang diperoleh dari validator I yaitu 3,6; validator II yaitu 3,8; validator III yaitu 4,3.

Dari rata-rata 4,3 tersebut dapat dikatakan bahwa LKS sudah layak dan peneliti tidak perlu melakukan revisi dikarenakan rata-rata yang diperoleh sudah lebih dari 3, karena skor 3 merupakan median atau titik tengah dari skala 1 – 5 dan sudah tergolong cukup. Jika hasil rata-rata yang diberikan validator kurang dari 3 maka peneliti perlu melakukan revisi, namun jika hasil rata-rata yang diperoleh lebih dari 3 maka tidak perlu dilakukan revisi.

d. Validasi Bahan Ajar

Komponen yang dinilai dalam validasi bahan ajar meliputi: (1) kesesuaian materi ajar dengan karakteristik peserta didik; (2) materi ajar cakupannya luas dan memadai; (3) materi ajar dengan kompetensi yang akan dicapai; (4) pengorganisasian materi ajar runtut dan sistematik; (5) kesesuaian alokasi waktu dengan kesesuaian materi ajar; (6) penggunaan bahasa dan tata tulis baku. Hasil validasi bahan ajar dapat dilihat dari tabel 3.7.

Tabel 3.7 Hasil Validasi Bahan Ajar

Validator Komponen Penilaian Rata-rata

1 2 3 4 5 6

Validator I 1 5 2 4 5 5 3,6

Validator II 4 4 2 4 4 4 3,6

Validator III 4 4 4 4 4 4 4

Rata-rata 3 4,3 2,6 4 4,3 4,3 3,7

Tabel 3.7 menunjukkan bahwa skor maksimal pada komponen yang diperoleh dalam validasi bahan ajar adalah 5. Skor minimal yang

27

diperoleh dalam validasi LKS adalah 1. Data diatas menunjukkan rata-rata skor yang diperoleh dari validator I yaitu 3,6; validator II yaitu 3,6; validator III yaitu 4. Rata-rata keseluruhan dari 3 validator diperoleh skor 3,7.

Dari rata-rata 3,7 tersebut dapat dikatakan bahwa bahan ajar sudah layak dan peneliti tidak perlu melakukan revisi dikarenakan rata-rata yang didapatkan sudah lebih dari 3 karena skor 3 merupakan titik tengah dari skala 1 – 5 dan sudah tergolong cukup. Jika hasil rata-rata yang diberikan validator kurang dari 3 maka peneliti perlu melakkan revisi, namun jika hasil rata-rata yang diperoleh lebih dari 3 maka tidak perlu dilakukan revisi.

2. Validitas konstruk

Instrumen berupa tes diujikan dengan validasi empiris (konstruks). Validasi konstruks terjadi ketika guru menyusun soal berdasarkan teori atau konsep yang ada (Widanarto, 2007). Validasi konstruk diartikan sebagai proses menentukan derajat kemampuan tes diinterpretasikan ke dalam satu atau lebih konstruk, maksudnya kemampuan tes untuk mengukur pengertian-pengertian yang terkandung dalam materi yang diukurnya. Validasi konstruk dipakai untuk mengukur hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pada materi kenampakan alam. Validasi instrumen soal dilakukan dengan uji empiris. Peneliti melakukan uji validitas soal evaluasi di kelas IV di 3 SD berbeda yaitu SD A, SD B, dan SD C. Peneliti menggunakan bantuan SPSS 19 untuk menghitung validitas soal. Peneliti memilih SPSS 19 dengan alasan untuk mempermudah perhitungan dan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti sehingga dengan menggunakan SPSS 19 hasil perhitungan per item soal dapat dikerjakan dengan cepat dan mudah. Setelah mendapatkan data validasi kemudian dilanjutkan menghitung reliabilitas, penghitungan juga menggunakan SPSS 19. Setelah diujikan di lapangan kemudian validitas suatu tes dapat dihitung dengan teknik korelasi Point Biserial dengan rumus sebagai berikut. (Sugiyono, 2014)

28

Rumus Korelasi Point Biserial

Pada penelitian uji validasi soal ini, jumlah responden keseluruhannya untuk siklus I sebanyak 58 siswa dan untuk siklus II sebanyak 53 siswa, maka r tabel yang digunakan adalah r tabel dengan N = 58 dan N = 53, pada taraf signifikansi 5% yaitu pada N = 58 sebesar 0,258 dan pada N = 53 sebesar 0,270. Setelah menemukan r tabel dan r hitung, maka dibandingkan antara r tabel dan r hitung. Jika r hitung lebih besar dari r tabel maka dapat dikatakan data tersebut valid, akan tetapi sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r tabel maka data tersebut tidak valid. Peneliti menggunakan taraf signifikansi 5% berarti peneliti mengambil resiko kesalahan sebanyak 5% dan memiliki tingkat kepercayaan atau benar sebesar 95%. Dapat dikatakan peneliti percaya bahwa 95% dari keputusan hipotesa yang salah adalah benar.

Hasil output SPSS 19 terdapat tanda yang menandakan soal tersebut valid atau tidak. Tanda tersebut dinamakan sebagai simbol asterik (**). Dengan simbol asterik satu (*) menandakan bahwa soal tersebut valid, dilihat pada taraf signifikan 0,05. Sedangkan simbol asterik dua (**) soal tersebut valid namun dilihat dengan taraf signifikan 0,01. Soal juga dikatakan valid apabila r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung ≥ r tabel).

Untuk menguji hasil belajar pada penelitian yaitu kelas IV yang tergolong dalam kelas atas, peneliti melakukan konsultasi kepada dosen, guru, dan kelompok belajar untuk menyepakati bahwa cukup 20 yang valid yang diujikan kepada siswa kelas penelitian sebagai instrumen pengumpulan data prestasi belajar siswa. Dari 20 soal tersebut, harus mewakili masing-masing indikator pembelajaran pada siklus I dan siklus

Keterangan :

= Koefisien korelasi Point Biserial

= Mean Skor dari subjek yang menjawab benar

= Mean Skor total

= Simpangan baku

= Proposisi subjek menjawab benar item tersebut

29

II. Dari perhitungan SPSS 19 menunjukkan bahwa terdapat 40 soal pilihan ganda yang diujikan oleh peneliti. Soal yang valid dan digunakan oleh peneliti berjumlah 39 soal dan terdapat 1 soal yang tidak valid. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai hasil perhitungan validasi soal siklus I dan II dengan bantuan SPSS 19 dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut ini.

Tabel 3.8 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus I

No r hitung r tabel Keterangan Tindak Lanjut

1 0,295* 0,258 Valid Tidak Dipakai

2 0,010 0,258 Tidak Valid Tidak Dipakai

3 0,409** 0,258 Valid Tidak Dipakai

4 0,447** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 1)

5 0,470** 0,258 Valid Tidak Dipakai

6 0,478** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 2)

7 0,520** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 3)

8 0,461** 0,258 Valid Tidak Dipakai

9 0,371** 0,258 Valid Tidak Dipakai

10 0,446** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 4)

11 0,323** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 5)

12 0,680** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 6)

13 0,660** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 7)

14 0,282* 0,258 Valid Tidak Dipakai

15 0,621** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 8)

16 0,434** 0,258 Valid Tidak Dipakai

17 0,597** 0,258 Valid Tidak Dipakai

18 0,417** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 9)

19 0,345** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 10)

20 0,501** 0,258 Valid Tidak Dipakai

21 0,358** 0,258 Valid Tidak Dipakai

22 0,358** 0,258 Valid Tidak Dipakai

23 0,322* 0,258 Valid Tidak Dipakai

24 0,611** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 11)

25 0,396** 0,258 Valid Tidak Dipakai

26 0,709** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 12)

27 0,602** 0,258 Valid Tidak Dipakai

28 0,659** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 13)

29 0,450** 0,258 Valid Tidak Dipakai

30 0,418** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 14)

31 0,553** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 15)

32 0,403** 0,258 Valid Tidak Dipakai

33 0,559** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 16)

34 0,619** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 17)

35 0,580** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 18)

36 0,507** 0,258 Valid Tidak Dipakai

37 0,502** 0,258 Valid Tidak Dipakai

38 0,478** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 19)

39 0,466** 0,258 Valid Tidak Dipakai

40 0,413** 0,258 Valid Dipakai (soal no. 20)

Dari hasil output perhitungan SPSS 19 menunjukkan bahwa dari ke 40 soal yang diujikan terdapat 39 yang valid dan 1 soal yang tidak valid. Dari ke 39 soal yang valid tersebut kemudian dipilih kembali 20 soal yang valid untuk diujikan ke kelas penelitian. Pemilihan soal yang diapakai berdasarkan r hitung yang paling tinggi menurut indikator (1 dan 2) pembelajaran pada kisi-kisi soal evaluasi siklus I dan 20 soal tersebut sudah mewakili masing-masing indikator pembelajaran pada siklus I. Kemudian ke 20 soal yang valid tersebut dikelompokkan menurut

30

indikator-indikatornya dan disusun dalam kisi-kisi soal evaluasi siklus I setelah validasi pada tabel 3.9 berikut ini.

Tabel 3.9 Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus I Setelah Validasi Nama Sekolah : SDN Geblog

Mata Pelajaran : IPS Kelas/Semester : IV/II

SK : 1. Memahami sejarah, kenampakan alam dan kebergaaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi KD : 1.2 Mendeskripsikan kenampakan alam di lingkungan

kabupaten/kota dan provinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

No Indikator No Soal Jumlah Soal

1 Menyebutkan kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

(1,2,3,5,7,11,16,17, 18,19)

10

2 Menjelaskan kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

(4,6,9,10,20) 5

3 Menghargai kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

(8,12,13,14,15) 5

Jumlah 20

Tabel 3.9 menunjukkan kisi-kisi soal evaluasi siklus I setelah divalidasi. Dari 39 butir soal yang valid dipilih 20 butir soal yang digunakan sebagai soal evaluasi siklus I. Ke 20 soal tersebut sudah mewakili indikator yang telah dibuat. Adapun bobot untuk indikator 1, menjelaskan kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya. Kemudian untuk indikator 2, menjelaskan kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya. Sedangkan untuk indikator 3, menghargai kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya. Pada soal evaluasi siklus II. Hasil validasi soal evaluasi pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3.10 berikut ini.

Tabel 3.10 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus II

No r hitung r tabel Keterangan Tindak Lanjut

1 0,637** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 1)

2 0,508** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 2)

3 0,581** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 3)

4 0,566** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 4)

31

6 0,490** 0,270 Valid Tidak Dipakai

7 0,621 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

8 0,252 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

9 0,232 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

10 0,328* 0,270 Valid Tidak Dipakai

11 0,485** 0,270 Valid Tidak Dipakai

12 0,673** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 6)

13 0,563** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 7)

14 0,339** 0,270 Valid Tidak Dipakai

15 0,212 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

16 0,512** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 8)

17 0,545** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 9)

18 0,372** 0,270 Valid Tidak Dipakai

19 0,152 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

20 0,450** 0,270 Valid Tidak Dipakai

21 0,198 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

22 0,95 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

23 0,517** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 10)

24 0,402** 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

25 0,510** 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

26 0,506** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 11)

27 0,417** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 12)

28 0,294** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 13)

29 0,641** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 14)

30 0,499** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 15)

31 0,153 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

32 0,059 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

33 0,499** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 16)

34 0,625** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 17)

35 0,572** 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

36 0,446** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 18)

37 0,555** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 19)

38 0,194 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

39 0,043 0,270 TidakValid Tidak Dipakai

40 0,432** 0,270 Valid Dipakai (soal no. 20)

Dari hasil output SPSS 19 menunjukkan bahwa dari ke 40 soal yang diujikan terdapat 25 soal yang valid dan 25 soal yang tidak valid. Dari ke 25 soal yang valid tersebut kemudian dipilih kembali 20 soal yang valid untuk diujikan ke kelas penelitian. Pemilihan soal yang dipakai berdasarkan r hitung yang paling tinggi menurut indikator (1 dan 2) pembelajaran pada kisi-kisi soal evaluasi siklus II dan 20 soal tersebut sudah mewakili masing-masing indikator pembelajaran pada akhir siklus II. Kemudian ke 20 soal yang valid tersebut dikelompokkan menurut indikator-indikatornya dan disusun dalam kisi-kisi soal evaluasi siklus I setelah validasi pada tabel 3.11 berikut ini.

Tabel 3.11 Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus II Setelah Validasi Nama Sekolah : SDN Geblog

Mata Pelajaran : IPS Kelas/Semester : IV/II

SK : 1. Memahami sejarah, kenampakan alam dan kebergaaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi KD : 1.2 Mendeskripsikan kenampakan alam di lingkungan

kabupaten/kota dan provinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

No Indikator No Soal Jumlah Soal

32

alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

18,19)

2 Menjelaskan kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

(4,6,9,10,20) 5

3 Menghargai kenampakan alam di lingkungan kabupaten/kota dan privinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya

(8,12,13,14,15) 5

Jumlah 20

Tabel 3.11 menunjukkan kisi-kisi soal evaluasi siklus II setelah divalidasi. Dari 25 butir soal yang valid dipilih 20 butir soal yang digunakan sebagai soal evaluasi siklus II. Adapun bobot untuk indikator 1, menyebutkan kenampakan alam memiliki bobot 50% atau sejumlah 10 butir soal yaitu soal nomor 1, 2, 3, 5, 7, 11, 16 , 17, 18, 19. Kemudian untuk indikator 2, menjelaskan kenampakan alam memiliki bobot 25% atau sejumlah 5 butir soal yaitu soal nomor 4, 6, 9, 10, 20. Sedangkan untuk indikator 3 Menghargai kenampakan alam di memiliki bobot 25% atau sejumlah 5 butir soal yaitu soal nomor 8, 12, 13, 14, 15. Kisi-kisi soal evaluasi setelah validasi siklus I dan II kemudian digunakan sebagai pedoman dalam membuat soal evaluasi untuk setiap akhir siklus I dan II.

2) Reliabilitas

Consuello (dalam Widanarto, 2007) mengemukakan bahwa reliabilitas atau keandalan adalah ketepatan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Reliabilitas juga diartikan sebagai tingkat kemampuan instrumen atau alat tes untuk mengumpulkan informasi dari peserta didik.

Reliabilitas suatu tes adalah taraf suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil (Masidjo, 1995). Menurut pengujian validitas, suatu tes yang reliabel akan menunjukkan ketepatan dan ketelitian hasil dalam suatu pengukuran. Sehingga kapan pun, dimanapun alat tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama item yang tidak valid pasti juga tidak reliabel. Item-item yang valid bisa jadi reliabel atau tidak reliabel. Oleh karena itu, taraf reliabilitas dinyatakan dalam suatu koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas dinyatakan dalam suatu

33

bilangan koefisien antara 0,00 sampai dengan 1,00, untuk memberi arti terhadap koefisien teliabilitas yang diperoleh besar koefisien korelasi dalam tabel statistik atas dasar taraf signifikansi 1% dan 5%. Kualifikasi reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.12.

Tabel 3.12 Kualifikasi Reliabilitas

No Koefisien Korelasi Kualifikasi

1 0,91 – 1,00 Sangat Tinggi

2 0,71 – 0,90 Tinggi

3 0,41 – 0,70 Cukup

4 0,21 – 0,40 Rendah

5 Negatif – 0,20 Sangat Rendah Sumber: (Masidjo, 1995)

Teknik yang digunakan mencari reliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Untuk memudahkan perhitungan dalam mencari reliabilitas instrumen penelitian, maka peneliti menggunakan program SPSS 19 dalam penelitiannya. Rumus Alpha Cronbach menurut Purwanti (2009) adalah sebagai berikut:

Rumus Alpha Cronbach:

Peneliti menggunakan program komputer SPSS 19 untuk membantu perhitungan reliabilitas. Penghitungan menggunakan SPSS 19 dapat melalui beberapa langkah, yaitu: (1) buka spss 19; (2) copy data tabulasi dari excell (yang gugur dan jumlah total tidak dimasukkan); (3) paste pada spss, seperti langkah pada uji validitas; (4) scale > reliabilitas analisis. Hasil pengolahan data menggunakan SPSS 19 dapat dilihat pada tabel 3.13

Keterangan :

rtt = koefisien reliabilitas n = jumlah item

ΣSi2 = jumlah kuadrat S dari masing-masing item

34

Tabel 3.13 Hasil reliabilitas siklus I Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Items

N of Items

,913 ,913 39

Tabel 3.13 menunjukkan bahwa hasil reliabilitas pada siklus I dengan jumlah 40 soal dan N of items menunjukkan jumlah soal yang valid dengan koefisien alfa sebesar 0,913, termasuk dalam kriteria reliabilitas sangat tinggi sesuai dengan kualifikasi reliabilitas menurut Masidjo (1995). Hasil reliabilitas soal pada siklus II pada tabel hasil pengolahan data menggunakan SPSS 19 siklus II dapat dilihat pada tabel 3.14 beikut.

Tabel 3.14 Hasil Reliabilitas Siklus II Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Items

N of Items

,931 ,937 29

Tabel 3.14 menunjukkan bahwa hasil reliabilitas pada siklus II dengan jumlah 40 soal yaitu 0,931, termasuk dalam kriteria reliabilitas sangat tinggi sesuai dengan kualifikasi reliabilitas menurut Masidjo (1995). Tabel 3.13 dan 3.14 menunjukkan hasil reliabilitas soal evaluasi pada siklus I dan siklus II reliabel dan layak digunakan untuk penelitian dengan kulifikasi sangat tinggi sehingga instrumen soal evaluasi siklus I dan II tidak akan diganti.

3) Indeks Kesukaran Soal

Indeks Kesukaran (IK) digunakan untuk mengetahui seberapa sukar sebuah soal. Penelitian ini menggunakan rumus indeks kesukaran ini untuk mengetahui tingkat kesukaran soal evaluasi. Untuk memperoleh kualitas soal yang baik selain validitas dan reliabilitas juga perlu adanya keseimbangan kesukaran soal, yaitu antara soal yang mudah, sedang dan sukar proporsinya seimbang (Sudjana, 2014). Rumus yang digunakan untuk menghitung kesukaran soal menurut Sudjana (2014).

35

Rumus untuk mencari indeks Kesukaran:

Penghitungan indeks kesukaran dari setiap item dalam suatu evaluasi/tes dilakukan guna mengetahui tingkat kesukaran item-item yang bersangkutan. Hasil penghitungan indeks kesukaran item soal tersebut dapat digolongkan pada kriteria indeks kesukaran. Semakin kecil hasil indeks yang diperoleh maka soal tersebut dikategorikan semakin sulit, sedangkan semakin besar indeksnya maka soal tersebut dapat dikategorikan semakinmudah. Kriteria indeks kesukaran menurut Sudjana (2009) sebagai berikut:

Tabel 3.15 Kriteria Indeks Kesukaran

Indeks Kesukaran Kategori

0 – 0,30 Sukar

0,31 – 0,70 Sedang 0,71 – 1,00 Mudah

Berdasarkan tabel 3.15 tersebut kriteria indeks kesukaran ada tiga. Ketiga kriteria tersebut adalah sukar, sedang, dan mudah. Peneliti telah menghitung tingkat kesukaran dari masing-masing soal evaluasi yang sudah dibalidasi baik pada soal evaluasi siklus I maupun soal evaluasi pada siklus II. Diperoleh kriteria tersebut dilihat dari hasil indeks kesukarannya.

Tabel 3.16 Hasil Perhitungan Kesukaran Soal Evaluasi Silus I

Soal B N I Kriteria Soal 1 53 58 0,91 Mudah

Dokumen terkait