• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Teknik Pengumpulan data

I. Teknik Pengujian Instrumen

Pada penelitian ini, ada dua uji yang digunakan dalam teknik pengujian instrument, uji tersebut adalah uji validitas (validity testing) serta uji realiabilitas (reliability testing). Berikut penjelasan masing-masing kedua uji tersebut:

1. Uji validitas

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2017:198). Hasil penelitian dikatakan valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Contohnya jika dalam suatu objek berwarna merah, data yang terkumpul berwarna merah maka hasil penelitian dikatakan valid, sebaliknya jika data yang dikumpulkan berwarna merah sedangkan objek penelitian berwarna putih maka data tersebut ditakan tidak valid.

Menurut Sugiarto (2017:201) validitas dalam penelitian merepresentasikan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Semakin tinggi ketepatan antara data yang terjadi pada objek peneitian dengan data yang dilaporkan peneliti maka semakin tinggi pula validitasnya.

Untuk menentukan instrumen itu valid atau tidak maka memiliki ketentuan sebagai berikut:

a. Jika rhitung ≥ rtabel maka instrumen tersebut valid.

b. Jika rhitung < rtabel maka instrumen tersebut tidak valid.

2. Uji reliabilitas

Menurut Sugiyono (2017:199) Instrumen yang reliabel maksudnya adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Penelitian dikatakan reliabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Contohnya jika objek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok akan tetap berwarna merah. Dalam penelitian ini, instrumen dikatakan reliabel jika cronbach’s alpha dalam analisis data lebih besar (>) dari nilai 0.60.

J. Teknik analisis data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah menggunakan regresi linear berganda. Regresi linear berganda pada dasarnya merupakan perluasan dari regresi linear sederhana, yaitu menambah jumlah variabel bebas yang sebelumnya hanya satu menjadi dua atau lebih (Sanusi, 2011:134). Dengan demikian, dapat digambarkan persamaan matematika regresi linear berganda dari penelitian ini adalah sebagai berikut

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + e Dimana:

Y = keputusan pembelian

X1 = ekuitas merek

X2 = kualitas produk X3 = promosi online a = bilangan konstanta

b1 – b3 = koefisien regresi e = variabel pengganggu

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik ini digunakan untuk menguji apakah model regresi benar-benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representatif. Ada empat pengujian dalam asumsi klasik, yaitu:

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, terdapat distribusi normal antara variabel terikat dan variabel bebas.

Apabila distribusi data normal ataupun mendekati normal, berarti model regresi bisa digunakan. Pengujian untuk menentukan data terdistribusi normal atau tidak, dapat menggunakan uji statistik non parametrik. Uji statistik non-parametrik yang digunakan adalah uji one sample Kolmogorov-Smirnov (1-Sampel K-S). Apabila hasilnya menunjukkan nilai probabilitas signifikan diatas 0,05 atau 5% maka variabel berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antar variabel independen dalam model regeresi (Wiyono, 2011:157). Dalam hal ini, keputusan untuk pengujian uji

multikolinearitas adalah dengan melihat nilai inflation factor (VIF).

Dasarnya yaitu jika nilai VIF lebih besar (>) daripada 10, maka terdapat gejala multikolinearitas. Sebaliknya jika nilai VIF lebih kecil atau sama dengan (≤) 10, maka tidak terdapat gejala multikolinearitas (Sanusi, 2011:136).

c. Uji Heteroskedastisitas

Tungga, Saputra, & Vijaya (2014: 121) menjelaskan bahwa uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain dan jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedatistitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastistitas.

Dalam penelitian ini dasar pengambilan keputusan untuk menentukan terdapat atau tidaknya gejala heterokedastisitas adalah dengan menggunakan model scatterplot. Jika dalam model scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak, baik di bagian atas angka nol atau dibagian bawah angka nol dari sumbu vertikal atau sumbu Y, maka dapat simpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi ini (Sarjono & Julianita, 2011:70).

d. Uji t atau uji parsial

Uji signifikansi terhadap masing-masing koefisien regresi diperlukan untuk mengetahui signifikan tidaknya pengaruh dari masing-masing variabel bebas (Xi) terhadap variabel terikat (Y) (Sanusi, 2011:138).

Berkaitan dengan hal itu uji signifikan secara parsial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Nilai yang digunakan untuk melakukan pengujian adalah nilai t hitung. Langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif penelitian yaitu:

Ekuitas merek:

H0: Ekuitas merek, secara parsial tidak berpengaruh positif pada keputusan pembeliaan konsumen.

Ha: Ekuitas merek, secara parsial berpengaruh positif pada keputusan pembelian konsumen.

Kualitas Produk:

H0: Kualitas produk, secara parsial tidak berpengaruh positif pada keputusan pembeliaan konsumen.

Ha: Kualitas produk, secara parsial berpengaruh positif pada keputusan pembelian konsumen.

Promosi Online:

H0: Promosi online, secara parsial tidak berpengaruh positif pada keputusan pembeliaan konsumen.

Ha: Promosi online, secara parsial berpengaruh positif pada keputusan pembelian konsumen.

2). Menghitung nilai thitung dengan alfa (α) = 5%

3). Membandingkan nilai thitung dengan ttabel yang tersedia pada α 5%.

Rumus untuk mencari nilai t tabel yaitu t = (α/2; n – k-1).

Di mana:

α = tingkat kepercayaan sebesar 5%

n = jumlah sampel

k = jumlah vairiabel independen 4). Mengambil keputusan dengan kriteria:

a) Jika nilai signifikansi lebih kecil atau sama dengan (≤) 0,05, atau nilai t hitung lebih besar (>) daripada nilai t tabel maka terdapat pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Yang artinya ekuitas merek, kualitas produk, dan promosi online secara parsial berpengaruh pada keputusan pembelian konsumen atau H0 diterima Ha ditolak.

b) Atau sebaliknya jika nilai signifikansi lebih besar (>) dari 0,05, atau t hitung lebih kecil (<) daripada t tabel maka tidak terdapat pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

Yang artinya ekuitas merek, kualitas produk, dan promosi online secara parsial tidak berpengaruh pada keputusan pembelian konsumen atau Ha diterima dan H0 ditolak.

e. Uji F atau uji simultan

Uji F yang signifikan menunjukkan bahwa variasi variabel terikat dijelaskan sekian persen oleh variabel bebas secara bersama-sama adalah benar-benar nyata dan bukan jadi karena kebetulan. Dengan kata lain, berapa persen variabel terikat dijelaskan oleh seluruh variabel bebas secara serempak, dijawab oleh koefisien determinasi (R2). Berdasarkan asumsi ini, nilai koefisien determinasi dan uji F menentukan baik tidaknya model yang digunakan. Makin tinggi nilai koefisien determinasi dan signifikan maka semakin baik model itu.

Langkah untuk melakukan uji F adalah sebagai berikut:

1) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif penelitian yaitu:

H0: Ekuitas merek, kualitas produk, promosi online, secara bersama-sama tidak berpengaruh pada keputusan pembeliaan.

Ha: Ekuitas merek, kualitas produk, promosi online, secara bersama-sama berpengaruh pada keputusan pembelian.

2) Menghitung nilai F dengan alfa (α) = 5%

3) Membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel yang tersedia nilai 5%. Rumus untuk mencari f tabel = F (k: n-k).

Di mana k adalah jumlah variabel indipenden dan n adalah jumlah sampel.

4) Mengambil keputusan dengan kriteria jika H0 dierima maka model dapat digunakan karena, baik besaran maupun tanda +/ koefisien

regresi dapat digunakan untuk memprediksi perubahan variabel terikat akibat perubahan variabel bebas. Kriteria pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:

a) Jika nilai signifikansi lebih kecil atau sama dengan (≤) 0,05 atau nilai F hitung lebih besar (>) daripada nilai F tabel maka terdapat pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Yang artinya kualitas produk, kualitas layanan, promosi penjualan, dan harga secara bersama-sama berpengaruh pada keputusan pembelian konsumen atau H0 diterima dan Ha ditolak.

b) Sebaliknya jika nilai signifikansi lebih besar dari (>) 0,05 atau F hitung lebih kecil (<) daripada F tabel maka tidak terdapat pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Yang artinya kualitas produk, kualitas layanan, promosi penjualan, dan harga secara bersama-sama tidak berpengaruh pada keputusan pembelian konsumen atau H0 ditolak dan Ha diterima.

f. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi atau R2 adalah koefisien yang menjelaskan proporsi variasi dalam variabel terikat (Y) yang dijelaskan oleh variabel bebas (lebih dari satu variabel) secara bersama-sama.

Sementara itu R adalah koefisien korelasi majemuk yang mengukur

tingkat hubungan antara variabel terikat (Y) dengan semua variabel bebas yang menjelaskan secara bersama-sama dan nialinya selalu positif. Persamaan regresi linear berganda semakin baik apabila nilai koefisien determinasi (R2) semakin besar (mendekati 1) dan cenderung meningkat nilainya sejalan dengan peningkatan jumlah variabel bebas.

Dalam penelitian ini, nilai koefisien determinasi yang digunakan untuk analisis adalah nilai R2 yang disesuaikan (R2adjusted). Misalnya nilai koefisien determinasi adjusted (R2) didapat sebesar 0,707 ini menunjukkan bahwa variasi nilai keputusan pembelian dijelaskan oleh ekuitas merek, kualitas produk, dan promosi online sebesar 70,7 persen. Sedangkan 29,3 persen dijelaskan oleh variabel lain yang

tidak dianalisis dalam konsep.

BAB IV

GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN

A. Sejarah Perusahaan Sepatu Vans

Perusahaan Vans didirikan oleh Paul Van Doren, lahir pada tahun 1930 dan tinggal di Boston. Pada 16 maret 1966, Paul Van Doren dan tiga orang temannya membuat perusahaan baru bernama Van Doren Rubber Co, (sekarang dikenal Vans). Vans adalah produsen sepatu, pakaian dan aksesoris untuk olahraga skateboard, snowboard, BMX, dan selancar. Pada awalnya, Paul Van Doren bekerja di pabrik sepatu bermerek Randy’s sebagai buruh pembuat sepatu dan penyapu lantai. Setelah 20 tahun bekerja disana, ia sudah beberapa kali naik jabatan karena ketekunannya. Sampai akhirnya, Paul manjabat sebagai Vice President di Randy’s. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan sepatu tersebut dan pindah ke Southern California.

Disana Paul dan temannya mendirikan perusahaan sepatu baru pada 1966 (merupakan cikal bakal Vans).

40

Gambar IV.1

Toko dan Pabrik Pertama Vans Berdiri

Paul mengawali perusahaannya dengan membuka sebuah toko dan pabrik dalam satu sistem. Toko ini dibuka pada tanggal 1 Maret 1966 dan hanya memajang contoh-contoh sepatu. Paul baru akan membuat sepatu jika ada yang memesan sepatu. Setah mendapat order Paul segera masuk pabrik dan langsung membuat order yang di pesan. Di hari pertama toko ini hanya di kunjungi oleh 16 orang. Vans semakin populer saat membuat sepatu untuk sekolah-sekolah, tim-tim olahraga, dan cheerleader di seluruh California Selatan. Beberapa tahun kemudian, perusahaan rumahan tersebut berkembang dan banyak menghasilkan bnyak model-model septu baru. Pada 1970-an, Vans memproduksi sepatu dengan kanvas bergambar dan karet di bagian bawah sepatunya. Inovasi tersebut rupanya berbuah manis bagi mereka.

Perusahaan sepatu itu kemudian menandatangani kontrak dengan pihak Departement Pertahanan AS dan US Air Force. Para pemain skateboard juga lebih menyukai mengunakan sepatu ini ketika bermain skateboard. Permukaan karet pada alas sepatu memudahkan mereka untuk berolahraga. Di akhir 1970-

an, perusahaan ini telah memiliki 70 toko di California. Sepuluh tahun kemudian, Vans telah berubah menjadi perusahaan besar. Sepatu yang diproduksi pun berkembang. Mereka tidak hanya memproduksi sepatu untuk olahraga skateboarding, tetapi juga untuk wakeboarding, cross motor, dan berselancar.

Meskipun penjualannya mencapai angka yang cukup baik, nyatanya Vans tidak berhasil mengatasi permasalahan keuangan intern mereka. Pada 1983, Vans tidak dapat mengatasi hutang mereka sehingga perusahaan itu terpaksa berganti status menjadi “Perusahaan Bangkrut”. Kebangkrutan Vans tidak berlangsung lama. Lima tahun kemudian, 1988, Vans menjual beberapa sahamnya pada perusahaan investment banking. semenjak itu, Vans kembali “menghentak”

dunia fashion dunia.

Gambar IV.2 Logo Perusahaan Vans

B. Visi Misi Perusahaan Vans di Indonesia

Visi perusahaan Vans adalah menjadi pemimpin bisnis alas kaki di Indonesia dan meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sedangkan misinya adalah suskses sebagai organisasi dunia yang paling dinamis dan fleksibel serta mengerti kondisi pasar alas kaki, meningkatkan pelayanan dan kualitas produk untuk kepuasan pelanggan,

Karyawan Karyawan

Bagian Gudang Bagian Produksi

menggunakan teknologi terbaik serta memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar baik manusia maupun alam.

C. Struktur Organisasi

Gambar IV.3

Struktur Organisasi Perusahaan Vans

D. Pemasaran sepatu Vans di Indonesia

PT Gagan Indonesia adalah distributor pertama resmi Vans di Indonesia.

Sempat dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negara Jakarta Pusat setelah gagal berdamai dengan para krediturnya dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU), hal ini dikarenakan pemasukan retail mereka

Owner (Pemilik)

Pengelola Toko

Bagian Pemasaran

tidak cukup buat menutupi pengeluaran yang diperlukan. Tetapi Vans kini hadir di Indonesia yang dinaungi oleh distributor barunya PT. Navya Ritel Indonesia.

Pada saat itu Vans hanya membuka dau gerai saja yakni di Jakarta dan Surabaya. Setelah itu Vans kini berkembang sampai sekarang hingga saat ini.

E. Contoh produk - produk sepatu Vans

Gambar IV.4

Sepatu Vans Classic Tumble Old Skool

Gambar IV.5

Sepatu Vans Authentic Platform 2.0

BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data dan Analisis

Peneliti akan memaparkan mengenai pembahasan dan pengolahan data dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini menggunakan kuisioner yang diberikan kepada konsumen sepatu Vans melalui 20 butir pernyataan dalam bentuk kuisioner online. Kusioner online tersebut dibagikan atau disebarkan kepada 100 orang responden yang menggunakan sepatu Vans.

Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan mulai tanggal 15 Mei – 2 Juli 2020.

Data penelitian dikumpulkan dari responden sepatu Vans yang disebar secara online yang dimana respondennya berada di Yogyakarta. Bentuk kuisioner yang disebarkan secara online adalah persis sama dan tidak ada modifikasi.

Bagian yang akan dipaparkan dalam penelitian ini antara lain karakteristik responden yang mencakup jenis kelamin, pekerjaan atas status responden, usia dari responden penelitian sepatu Vans. Selain karaktersitik responden, peneliti juga akan menjelaskan mengenai uji validitas dan reliabilitas data, uji asumsi klasik (yang mencakup uji normalitas, uji heteroskedatisitas, uji multikolinearitas), analisis regresi linear berganda, uji signifikasin koefisien regresi secara serempak (uji F, uji signifikasni koefisien regresi secara parsial (uji t).

45

1. Deskripsi Data Responden a. Jenis Kelamin

Tabel V.1

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase

1 Laki-laki 55 55%

2 Perempuan 45 45%

Total 100 100%

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.1 menjelaskan responden berdasarkan perbandingan jenis kelamin. Data menunjukkan bahwa responden laki-laki sebanyak 55 orang (55%) dan responden perempuan sebanyak 45 orang (45%).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini mayoritas adalah laki - laki dengan persentase paling besar sebanyak 55%.

b. Pekerjaan atau Status

Tabel V.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Atau Status

No Pekerjaan Jumlah

Responden

Persentase

1 Mahasiswa 63 63%

2 Pengusaha / Wiraswasta 31 31%

3 Lainnya 6 6%

Total 100 100%

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.2 adalah tabel yang menjelaskan karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan atau status. Dari 100 responden yang ada, sebanyak 63% adalah responden dengan jenis pekerjaan atau status sebagai mahasiswa, 31% adalah responden dengan jenis pekerjaan atau status sebagai pengusaha / wiraswasta, sebanyak 6% adalah responden dengan jenis pekerjaan yang tidak disebutkan dalam hasil penelitian.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berdasarkan karakteristik jenis pekerjaan dalam penelitian ini adalah mahasiswa dengan persentase yakni 63%.

c. Umur / usia

Tabel V.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Usia

No Usia Jumlah

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.3 menjelaskan karakteristik responden berdasarkan tingkat usia. Dari data dapat di rangkai bahwa usia 15-19 tahun mempunyai persentase sebanyak 15%, usia 20-24 tahun sebanyak 73%, usia 25-29 tahun sebanyak 12%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini, paling banyak adalah konsumen dengan rentang usia 20-24 tahun yakni sebesar 73%.

2. Deskripsi Variabel

Dalam kuisioner penelitian, peneliti menggunakan skala Likert guna mengukur tingkat kesetujuan setiap responden terhadap pernyataan variabel. Skala tersebut mempunya rentang nilai 1-5. Interval 1,00- 1,79 menunjukkan keterangan “sangat tidak baik”, interval 1,80-2,59 menunjukkan keterangan “tidak baik”, interval 2,60-3,39

menunjukkan keterangan “kurang baik”, interval 3,40-4,19 menunjukkan keterangan “baik”, dan interval 4,20-5,00 menunjukkan keterangan “sangat baik”. Berikut adalah tabel nilai rata-rata dari persepsi konsumen mengenai deskripsi variabel penelitian:

a. Ekuitas Merek

Tabel V.4

Nilai Rata-Rata Butir Pernyataan Ekuitas Merek

No Pernyataan Rata-

3 Anda menyukai logo yang menjadi ciri khas sepatu Vans.

3.75 Baik

4 Sepatu Vans memiliki ciri khas yang menarik dari sepatunya, seperti desain, warna, model, dsb.

4.07 Baik

5 Anda selalu merekomendasikan sepatu Vans kepada setiap orang

3.58 Baik 6 Anda berniat kembali lagi / ingin

membeli sepatu Vans ketika anda membutuhkan sepatu

3.87 Baik

Rata-rata Total 3.89 Baik

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.4 adalah tabel yang menjelaskan nilai rata-rata dari butir pernyataan variabel ekuitas merek. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai rata-rata tertinggi adalah sebesar 4,11 dengan pernyataan “Sepatu Vans sangat dikenali oleh masyarakat luas.” yang masuk dalam kategori

baik. Nilai rata-rata paling rendah adalah sebesar 3.58 dengan pernyataan

“Anda selalu merekomendasikan sepatu Vans kepada setiap orang.” yang masuk dalam kategori baik. Sedangkan rata-rata total dari setiap butir pernyataan ekuitas merek adalah sebesar 3.89 yang termasuk kedalam kategori baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi konsumen mengenai ekuitas merek dari sepatu Vans masuk dalam kategori baik bagi konsumen.

b. Kualitas Produk

Tabel V.5

Nilai Rata-Rata Butir Pernyataan Kualitas Produk

No Pernyataan Rata-

2 Kualitas, desain, kenyamanan, warna, dsb selalu diminati oleh banyak konsumen.

4.11 Baik

3 Sepatu Vans memiliki banyak varian model sehingga tidak membosankan.

4.09 Baik

4 Kualitas sepatu Vans dari waktu ke waktu selalu konsisten.

3.99 Baik 5 Kualitas Vans memenuhi standar diatas

dari sepatu sepatu lainnya.

3.95 Baik

Rata-rata Total 4.04 Baik

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.5 adalah tabel yang menjelaskan nilai rata-rata dari butir pernyataan variabel kualitas produk. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai rata-rata tertinggi adalah sebesar 4,11 dengan pernyataan “Kualitas,

desain, kenyamanan, warna, dsb selalu diminati oleh banyak konsumen.”

yang masuk dalam kategori baik. Nilai rata-rata paling rendah adalah sebesar 3.95 dengan pernyataan “Kualitas Vans memenuhi standar diatas dari sepatu sepatu lainnya.” yang masuk dalam kategori baik. Sedangkan rata-rata total dari setiap butir pernyataan kualitas produk adalah sebesar 4.04 yang termasuk kedalam kategori baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi konsumen mengenai kualitas produk dari sepatu Vans masuk dalam kategori baik bagi konsumen.

c. Promosi Online

Tabel V.6

Nilai Rata-Rata Butir Pernyataan Promosi Online

No Pernyataan Rata-

rata

Keterangan 1 Informasi dalam bentuk promosi online

yang dilakukan Vans mudah diakses ditawarkan Vans, maka pengetahuan akan sepatu Vans (informasi) dapat bertambah.

4.20 Sangat Menarik

4 Dengan adanya promosi online yang dilakukan Vans, maka konsumen tidak akan kesulitan dalam mencari

informasi.

4.14 Menarik

5 Daya tarik membeli sepatu Vans akan bertambah dengan adanya promosi

4.20 Sangat Menarik

secara online.

Rata-rata Total 4.23 Sangat

Menarik Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.6 adalah tabel yang menjelaskan nilai rata-rata dari butir pernyataan variabel promosi online. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai rata-rata tertinggi adalah sebesar 4,36 dengan pernyataan “Informasi dalam bentuk promosi online yang dilakukan Vans mudah diakses oleh konsumen.” yang masuk dalam kategori sangat menarik. Nilai rata-rata paling rendah adalah sebesar 4.14 dengan pernyataan “Dengan tidak adanya promosi online yang dilakukan Vans, maka konsumen akan kesulitan dalam mencari informasi.” yang masuk dalam kategori menarik.

Sedangkan rata-rata total dari setiap butir pernyataan promosi online adalah sebesar 4.23 yang termasuk kedalam kategori sangat menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi konsumen mengenai promosi online dari sepatu Vans masuk dalam kategori sangat menarik bagi konsumen.

d. Keputusan Pembelian

Tabel V.7

Nilai Rata-Rata Butir Pernyataan Keputusan Pembelian

No Pernyataan Rata-

2 Anda memutuskan untuk membeli karena saya percaya kepada Vans bisa memenuhi keinginan.

4.01 Pasti

3 Jika anda memerlukan sepatu, maka saya akan membeli sepatu Vans

3.86 Pasti

4 Selalu yakin kepada Vans walaupun teman anda menyarankan merek sepatu lain kepada anda.

Rata-rata Total 3.98 Pasti

Sumber: Data Primer, Diolah (2020)

Tabel V.7 adalah tabel yang menjelaskan nilai rata-rata dari butir pernyataan variabel keputusan pembelian. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai rata-rata tertinggi adalah sebesar 4.09 dengan pernyataan “Anda sudah memiliki target seperti model, warna, dsb, pada Vans ketika membeli sepatu.” yang masuk dalam kategori pasti. Nilai rata-rata paling rendah adalah sebesar 3.86 dengan pernyataan “Jika anda memerlukan sepatu, maka saya akan membeli sepatu Vans.” yang masuk dalam kategori pasti.

Sedangkan rata-rata total dari setiap butir pernyataan keputusan pembelian adalah sebesar 3.98 yang termasuk kedalam kategori pasti. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi konsumen mengenai keputusan pembelian dari sepatu Vans masuk dalam kategori pasti bagi konsumen.

B. Uji Instrumen

Uji ini dilakukan dengan bantuan program aplikasi IBM SPSS Statistik versi 22, dan Micosoft Excel 2013. Uji instrumen di sini adalah uji validitas data dan uji reliabilitas data.

1. Uji validitas

Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2017:198). Uji validitas di sini digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu item pernyataan. Jika pernyataan tersebut tidak valid, maka pernyataan tersebut tidak cocok untuk dijadikan instrumen sebuah penelitian. Solusinya, pernyataan tersebut bisa diganti dengan pernyataan lain atau bahkan bisa dihilangkan dari instrumen penelitian. Dalam bahasan ini, peneliti akan membahas mengenai uji validitas data dari variabel ekuitas merek (X1), kualitas produk (X2), promosi online (X3), keputusan pembelian

Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2017:198). Uji validitas di sini digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu item pernyataan. Jika pernyataan tersebut tidak valid, maka pernyataan tersebut tidak cocok untuk dijadikan instrumen sebuah penelitian. Solusinya, pernyataan tersebut bisa diganti dengan pernyataan lain atau bahkan bisa dihilangkan dari instrumen penelitian. Dalam bahasan ini, peneliti akan membahas mengenai uji validitas data dari variabel ekuitas merek (X1), kualitas produk (X2), promosi online (X3), keputusan pembelian