BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Pengujian Keabsahan Data
Validitas kualitatif merupakan upaya pemeriksaan pada akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur. Yin (Cresswell 2003: 285) menegaskan bahwa para peneliti kualitatif harus mendokumentasikan prosedur studi kasus dan sebanyak mungkin langkah dalam prosedur tersebut. Tema yang dibangun berdasarkan sejumlah data akan menambah validitas penelitian.
1. Menerapkan member checking untuk mengetahui akurasi hasil penelitian. Cara ini dapat dilakukan dengan membawa laporan akhir untuk mengecek hasil sudah akurat.
2. Membuat deskripsi yang kaya dan padat tentang hasil penelitian. Penulis menyajikan deskripsi yang detail mengenai setting.
3. Mengklarifikasi bias yang membawa peneliti ke dalam penelitian. Dengan melakukan refleksi diri, peneliti akan mampu membuat narasi yang terbuka dan jujur.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang digunakan yaitu dengan metode kualitatif deskriptif.
Informasi yang didapat dengan melakukan penyebaran angket secara tertutup dan wawancara dengan beberapa mahasiswa. Penelitian berlangsung selama bulan April-Mei 2021. Pada tahap pertama peneliti melakukan penyebaran angket melalui google form kepada 10 mahasiswa setiap angkatan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Dari data yang diperoleh melalui google form, peneliti melanjutkan dengan melakukan wawancara dengan 3 mahasiswa dari angkatan 2018. 3 mahasiswa ini dipilih berdasarkan perbedaan yang mendasar pada jawaban yang telah diberikan.
Pada bab ini, penulis memaparkan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Penulis memfokuskan pada 3 aspek yaitu ketercapaian tujuan pembelajaran, minat mahasiswa terhadap pembelajaran daring, dan sikap mahasiswa terhadap pembelajaran berbasis daring.
A. Profil Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik
Mengutip dalam buku Panduan Akademik Program Studi Pendidikan Keagaman Katolik (PENDIKKAT) memiliki visi yaitu sebagai lembaga pendidik mendidik calon sarjana Pendidikan Keagaaman Katolik yang beriman tangguh dan profesional demi terwujudnya Gereja yang memperjuangkan masyarakat Indonesia yang semakin bermartabat. Misi Pendidikan Keagamaan
Katolik yaitu mendidik kaum muda menjadi sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik yang dapat berprofesi sebagai guru agama Katolik, Katekis, dan Pengembang karya katekese di Indonesia.
Sebagai respon terhadap pencegahan penularan dan penyebaran COVID-19, Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan pembelajaran secara daringbagi mata kuliah praktek yang menjadi syarat kelulusan mahasiswa pada jenjang terakhir. Momentum ini menjadi pijakan Universitas Sanata Dharma untuk mengawali impian besar yang tercantum dalam Renstra Universitas Sanata Dharma 2018-2022 terkait pembelajaran tanggap zaman. Pelaksanaan pembelajaran praktek tatap muka akan berlangsung sesuai protokol kesehatan.
Pembelajaran daring yang dipilih oleh setiap dosen wajib didasarkan berdasarkan pada prinsip-prinsip pokok pembelajaran untuk menjamin mutu layanan pendidikan.
Selama satu tahun pelaksanaan pembelajaran daring, prodi Pendikkat telah menggunakan berbagai media untuk mendukung kelancaran perkuliahan.
Para dosen memanfaatkan LMS, Zoom, Google Meet, Whatsapp, serta Google Classroom sebagai media yang paling mudah untuk diakses oleh mahasiswa.
Sebagian mahasiswa melakukan perkuliahan dari rumah, sehingga menimbulkan rasa bosan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Mahasiswa menganggap, pembelajaran yang berlangsung lebih memudahkan namun jika berlangsung secara berkelanjutan akan menimbulkan kejenuhan karena mahasiswa kesulitan dalam berdiskusi dari pihak dosen maupun sesama mahasiswa.
Panduan pembelajaran daring di Universitas Sanata Dharma dikembangkan dengan mengacu pada ketentuan terkait pembelajaran. Kebijakan Rektor terkait persiapan perkuliahan Kebijakan Rektor No. 189/Rektor/VII/
2020 tentang Kebijakan Persiapan Perkuliahan Semester I T.A. 2020/2021 mencantumkan beberapa poin penting sebagai landasan panduan terutama terkait beberapa poin penting berikut ini.
a. Perkuliahan secara umum akan diselenggarakan secara daring untuk setidaknya sampai dengan masa ujian tengah semester. Perkuliahan praktikum, praktik, dan kegiatan penelitian di laboratorium dapat diselenggarakan secara luring dengan syarat dapat diikuti oleh semua mahasiswa yang menempuhnya dan pelaksanaannya mengikuti protokol kesehatan secara ketat.
b. Ketentuan pelaksanaan kuliah daring, seperti model presensi, frekuensi pertemuan daring, bentuk evaluasi, dan lain-lain, akan ditetapkan paling lambat 2 minggu sebelum kuliah dimulai.
c. Pemberian bantuan pendanaan koneksi internet kepada mahasiswa aktif akan ditentukan setelah perekaman data rencana studi mahasiswa selesai dilakukan.
d. Kegiatan pembimbingan dan ujian tugas akhir dapat dilakukan secara campuran antara daring dan luring.
e. Semua pihak yang membutuhkan layanan tatap muka di kampus akan dipenuhi dengan mengikuti protokol kesehatan.
B. Hasil Penelitian
Penyebaran covid-19 semakin hari semakin bertambah, hal ini mengakibatkan terbatasanya ruang gerak di luar rumah yang mengharuskan masyarakat mematuhi kebijakan pemerintah untuk bekerja secara daring untuk menekan penyebaran virus ini. Berdasarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19), salah satu kebijakannya berisi tentang
pembelajaran dari rumah. Efektivitas menjadi pedoman keberhasilan dari suatu kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari respon mahasiswa selama pembelajaran berlangsung.
1. Penyebaran Angket
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti telah melakukan survei untuk mengetahui keefektifan pembelajaran daring selama pandemi covid ini. Peneliti melakukan penyebaran angket secara tertutup, pada 10 mahasiswa di setiap angkatan 2017 hingga 2020. Dari hasil tersebut peneliti mendapatkan 40 informan yang terdiri dari mahasiswa yang berada di luar maupun dalam Yogyakarta.
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan angketonline dalam google from diperoleh beberapa hal berikut:
Tabel 4
Berdasarkan angket yang telah terkumpul, dapat dilihat bahwa 55%
informan melakukan kegiatan pembelajaran daring di rumah pribadi (bersama orang tua, saudara). Perkuliahan di rumah bukan berarti membiarkan kegiatan yang berlangsung dikampus hilang, melainkan mahasiswa harus tetap produktif melaksanakannya secara daring. Mahasiswa diharapkan mampu belajar mandiri, namun masih memerlukan bimbingan dari dosen. Mahasiswa menyatakan dirinya telah mampu menggunakan perangkat pembelajaran (laptop, smartphone, internet) dengan baik sehingga mampu mendukung proses pembelajaran daring selama pandemi covid- 19. Menurut Siahaan (Waryanto, 2006: 11) pembelajaran daring merupakan salah satu pemanfaatan internet dalam dunia pendidikan. Pada penelitian yang dilakukan, dosen telah menggunakan Whatsapp dan zoom dalam pembelajaran daring. Whatsapp digunakan untuk memberikan materi dan informasi yang berkaitan dengan perkuliahan. Media ini digunakan karena seluruh dosen dan mahasiswa telah terbiasa dan mampu menggunakannya. Sedangkan zoom digunakan untuk proses interaksi bagi dosen dan mahasiswa saat menjelaskan materi. Pemanfaatan internet di era digital perlu dikembangkan terutama di bidang pendidikan. Melalui internet, kita dapat mengakses web setiap hari tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Pemberian materi sebelum perkuliahan berlangsung telah berlangsung dengan baik terlihat dalam diagram tersebut menunjukkan 47,5%. Materi yang diberikan sebelum perkuliahan dimaksudkan untuk mempermudah interaksi antara dosen dengan mahasiswa agar terjadi komunikasi timbal balik yang aktif.
Selama perkuliahan yang sering terjadi, saat dosen memberikan materi mahasiswa
hanya diam saja tanpa merespon pertanyaan yang diajukan sehingga dosen merasa kesulitan dengan materi yang disampaikan sudah dapat diterima dengan baik atau belum. Pemahaman mahasiswa saat diberi materi oleh dosen baik, karena dosen telah memberikan materi sebelum perkuliahan ditambah dengan variasi yang menarik dalam penyampaiannya baik di LMS, maupun metode yang digunakan.
Metode yang diberikan sering kali berupa power point, video ilustrasi, dan video penyampaian dosen yang dibuat sendiri lalu diunggah pada laman Youtube.
Penyampaian yang diberikan terkadang tidak selalu memudahkan mahasiswa dalam menanggapi hal tersebut, sehingga mahasiswa terkadang mengajukan pertanyaan pada dosen terkait matrei yang kurang dipahami. Jika dirasa waktu tersebut kurang, tidak jarang mereka bertanya dengan sesama mahasiswa. Namun hal ini pun menjadi kesulitan juga, karena mereka terbiasa dengan diskusi secara langsung di kampus tapi karena adanya covid mereka hanya dapat bertanya secara virtual saja.
Salah satu ciri yang disebutkan oleh Harry Firman (1987: 25) efektivitas pembelajaran merupakan pembelajaran yang tidak terlepas dari aktivitas yang berkualitas dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh dosen dan akan menjadi tolak ukur keberhasilan. Kesadaran diri sendiri yang menjadi faktor utamanya, yaitu dengan cara berfikir positif dan melakukan hal- hal yang membuat semangat dalam diri menjadi tumbuh.
Menumbuhkan motivasi untuk selalu belajar dengan giat, menjaga kesehatan diri yang paling penting untuk mengurangi terjadinya penularan virus covid-19 dengan cara rajin berolahraga agar tidak mudah merasa bosan, dan lebih merasa
bahagia setelah olahraga karena tubuh merasa bugar dan sehat. Penggunaan LMS pengajar dapat mengelola kelas dan bertukar informasi dengan peserta didik. Selain itu, akses terhadap materi pembelajaran yang berlangsung dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Pengembalian hasil pekerjaan oleh dosen bertujuan untuk mengevaluasi diri untuk melihat sejauh mahasiswa memahami materi yang telah disampaikan agar kedepannya dapat memperbaiki kesalahan yang ada. Namun hal ini sering kali masih belum dilakukan oleh semua dosen, hanya ada beberapa dosen saja yang mengembalikan hasil pekerjaan dan membahasnya kembali dalam kelas.
Biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti pembelajaran daring termasuk banyak, terutama untuk membeli kuota. Berbeda dengan perkuliahan sebelumnya, biaya yang dibutuhkan lebih banyak untuk kehidupan sehari-hari, namun untuk saat ini biaya yang dikeluarkan untuk membeli kuota. Memang dalam pelaksanaan ini, universitas telah memberikan bantuan kuota setiap bulannya, namun kuota yang telah diberikan masih belum mencukupi untuk keperluan perkuliahan. Hal ini dikarenakan rata-rata dosen setiap perkuliahan menggunakan zoom dan juga wajib menyalakan kamera sehingga tidak mencukupi hal tersebut. Media pembelajaran yang digunakan didominasi oleh WAG, namun media tersebut tidak memungkinkan untuk melakukan tatap muka dengan jumlah lebih dari 20 orang, sehingga pembelajaran berlangsung dengan penugasan mandiri dan sangat minim adanya interaksi, diskusi, kolaborasi selama proses pembelajaran daring. Respon yang diberikan mahasiswa di setiap perkuliahan sangat bagus 52, 5%.
Mahasiswa telah memberikan respon yang positif dan menggambarkan pembelajaran daring sudah memfasilitasi interaksi antara dosen dengan mahasiswa dalam berdiskusi. Dosen juga telah memberika waktu luangnya untuk dapat merespon mahasiwa di dalam whatsapp grup yang ada di luar jam perkuliahan berlangsung. Saat ini mahasiswa masih merasa pembelajaran daring yang sedang berlangsung belum efektif karena belum terbiasa dan masih perlu menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Fitur- fitur baru yang digunakan dosen sering kali baru terdengar dan masih belum pandai dalam pengoperasiannya. Sedangkan untuk kedepannya pembelajaran daring dinilai mampu menggantikan pembelajaran tatap muka, terlebih dengan kondisi pandemi covid-19 yang saat ini belum berangsur membaik dan praktek yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dilakukan di dalam dan di luar kota Yogyakarta.
2. Wawancara
a. Profil Informan
Informan dalam penelitian ini terdiri dari 3 mahasiswa (dua perempuan dan satu laki- laki. Penulis mewawancarai Kaprodi Pendidikan Keagamaan Katolik, untuk memenuhi data triangulasi. Di bawah ini penulis memaparkan profil informan dengan pengodean yang digunakan untuk mempermudah dalam penyebutan. Berikut profil informan:
1) Informan 1 (I1), berusia 21 tahun, mahasiswa angkatan 2018 dan pada saat melaksanakan pembelajaran daring berada di rumah, Temanggung.
2) Informan 2 (I2), berusia 21 tahun, mahasiswa angkatan 2018 dan pada saat melaksanakan pembelajaran daring berada di rumah, Lampung.
3) Informan 3 (I3), berusia 22 tahun, mahasiswa angkatan 2018 dan pada saat melaksanakan pembelajaran daring berada di kos.
4) Informan 4 (I4), informan triangulasi, Kepala Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
b. Wawancara dengan Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik
1) Pendapat tentang ketercapaian tujuan dari penggunaan pembelajaran berbasis daring
Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga mahasiswa Pendidikan Keagamaan Katolik, selama satu tahun mereka telah merasakan kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran daring. Pertanyaan awal sebagai pembuka yaitu tentang pemahaman tujuan pembelajaran. Mereka semua setuju dengan pertanyaan tersebut, bahwa tujuan pembelajaran yang akan dilakukan selama satu semester telah disampaikan dosen dengan baik. Menurut I2, saat awal pertemuan perkuliahan, dosen telah memberikan rancangan yang akan dicapai satu semester kedepan dengan poin-poin yang harus didapatkan oleh mahasiswa sehingga mereka dapat mengatur dan menata pola belajar yang akan diterapkan. Hal tersebut selaras dengan Miarso (Rohmawati, 2015) efektivitas pembelajaran
merupakan standar mutu pendidikan dan sering kali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran, dan dapat juga diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi “doing the right things.” Walaupun pembelajaran dilakukan secara daring, dosen sudah merumuskan tujuan secara jelas untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan, sehingga mahasiswa paham dengan kriteria yang digunakan untuk menilai berkaitan pada tujuan. Informan mengungkapkan dengan adanya pembelajaran secara daring menjadi terobosan baru bagi mereka yang selama ini belum pernah mereka alami. Hal tersebut berkaitan pula pada surat edaran pemerintah maupun universitas untuk mengurangi penyebaran virus yang semakin tinggi.
Sementara itu, dalam hubungannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan penggunaan pembelajaran daring membantu dalam mengingat pembelajaran yang disampaikan dalam pertemuan. I1 dan I2 menyampaikan dengan model pembelajaran daring membuat mahasiswa malas untuk mencatat materi yang disampaikan, karena materi yang dibahas sudah dibagikan dalam bentuk file. Sehingga saat proses pembelajaran mahasiswa hanya mendengarkan penyampaian dosen. Sedangkan jika perkuliahan dilaksanakan secara langsung, mahasiswa mencatat materi yang disampaikan sebagai catatan sehingga secara tidak langsung mahasiswa sambil belajar.
Berbeda dengan pernyataan informan I1 dan I2, I3 menyampaikan dengan metode pembelajaran daring materi yang disampaikan dapat dengan mudah diingat. Hal tersebut karena materi yang disampaikan berbeda dengan perkuliahan di kampus.
Dosen memberikan materi dengan video yang dibuat sendiri oleh dosen maupun
video ilustrasi dari youtube. Dengan penggunaan video tersebut, mahasiswa dituntut untuk mencatat materi yang disampaikan.
Berdasarkan data hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan mahasiswa, dapat disimpulankan bahwa I1-I3 telah memahami tujuan pembelajaran yang akan berlangsung selama satu semester. Dengan adanya pedoman tersebut, mahasiswa dapat mempersiapkan strategi untuk mencapai poin-poin yang telah ditetapkan oleh dosen pengampu mata kuliah. Untuk mencapai hal hal tersebut, mereka juga mengusahakan untuk tetap berdiskusi secara virtual dengan sesama mahasiswa untuk bertukar pikiran dan saling membantu satu sama lain.
2) Pendapat tentang minat terhadap pembelajaran berbasis daring
Pertama-tama, penulis mengajukan pertanyaan tentang tanggapan mahasiswa tentang pembelajaran daring. Data yang didapatkan informan menjawab dalam kondisi pandemi covid-19 mereka antusias dalam pelaksanaannya, karena tingginya kekhawatiran orang tua terhadap persebaran virus ini. Dalam pernyataan I1 mengatakan selama pembelajaran daring lebih cepat lelah dan bosan. Pembelajaran sulit untuk dimengerti dan mudah stres karena banyaknya tugas yang diberikan dan deadline sementara tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan teman- teman untuk bertukar pikiran.
Terlebih I3 juga menambahkan hal yang membuat tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran daring yaitu karena praktek yang ada hanya dapat
dilakukan secara virtual mulai dari praktek mengajar di sekolah dan praktek Shared Christian Praxis (SCP).
Mendukung pernyataan tersebut, penulis mengajukan pertanyaan kembali berkaitan dengan cara mengajar dosen selama pembelajaran daring. I2 menyatakan dosen telah menggunakan LMS dan zoom dengan baik selama kurang lebih satu tahun ini. Dalam proses perkuliahan dosen memanfaatkan pula WAG untuk menyampaikan informasi, pemberian materi, dan melakukan presensi saat LMS terjadi gangguan. Model yang digunakan dosen saat mengajar bermacam- macam, ada yang menjelaskan dulu melalui zoom kemudian membaca materi ppt/ pdf, ada yang membaca materi terlebih dahulu lalu dibahas dalam zoom. Ada pula dosen yang hanya memberikan materi/ video dari youtube atau video penjelasan yang sudah dosen buat. Untuk kuis pada semester lalu melalui aplikasi quizizi dan pada semester ini menggunakan moodle. Kebanyakan dosen menjelaskan melalui zoom, walaupun ada sebagian yang hanya menggunakan WAG. Para dosen pun memiliki banyak waktu untuk merespon mahasiswa yang kesulitan dalam mengikuti perkuliahan.
Berdasarkan data hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan mahasiswa, diperoleh data mahasiswa menanggapi pembelajaran daring secara positif. Hal tersebut berkaitan dengan kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang jauh dari rumah. Mahasiswa juga menyatakan, cara mengajar dosen sudah baik dengan menggunakan metode yang menarik dan lebih baru sehingga dapat menggugah semangat mahasiswa. Semangat yang timbul di mahasiswa hanya di awal saja, sedangkan akhir- akhir ini mahasiswa merasa bosan dengan sistem
yang ada. Adanya hal tersebut, mahasiswa terus mengupayakan untuk dapat mengontrol setiap tingkah lakunya dalam setiap perkuliahan.
3) Pendapat tentang sikap mahasiswa terhadap pembelajaran berbasis daring
Pada bagian ini, penulis mengajukan pertanyaan tentang kegiatan yang mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan rasa keingintahuannya terhadap suatu mata kuliah. I1 dan I2 menyatakan hal tersebut tergantung pada kuis atau tugas yang diberikan oleh dosen. Jika tidak ada tugas yang diberikan, mahasiswa tidak mencari tahu kembali bahan- bahan kuliah sehingga mereka hanya berpatokan dari materi yang diberikan oleh dosen saja. Sedangkan pemaparan I3, dengan pembelajaran daring ini membuat mahasiswa semakin tumbuh rasa keingin tahuan terhadap suatu materi. Hal ini terjadi karena, sulitnya materi yang didapatkan dan tidak bisa datang ke perpustakaan untuk mencari buku yang dimaksud.
Pertanyaan selanjutnya, penulis mengajukan pertanyaan berkaitan dengan keefektifan pembelajaran daring. Menurut ketiga informan, pembelajaran daring dapat menggantikan pembelajaran secara langsung mengingat dengan metode pembelajaran seperti ini dapat dilakukan di mana pun asal ada terkoneksi dengan internet. Secara tidak langsung pula dengan adanya pembelajaran daring ini, mahasiswa diajak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dengan waktu yang ada karena dosen tidak dapat mendampingi proses perkuliahan secara langsung karena keterbatasan jarak.
Efektivitas pembelajaran menurut Rohmawati (2015:17) adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, respon peserta didik terhadap pembelajaran dan penguasaan konsep siswa. Untuk mencapai suatu konsep pembelajaran yang efektif perlu adanya hubungan timbal balik antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai suatu tujuan secara bersama, selain itu juga harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, serta media pembelajaran yang dibutuhkan untuk membantu tercapainya seluruh aspek perkembangan peserta didik.
c. Wawancara dengan Ketua Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik
1) Pendapat tentang ketercapaian tujuan dari penggunaan pembelajaran berbasis daring
Pada bagian ini, penulis mengajukan pertanyaan berkaitan dengan ketercapaian tujuan dari penggunaan pembelajaran daring. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kaprodi, informan mengatakan hasil yanng diperoleh selama satu tahun pembelajaran daring kurang, tidak bisa optimal sehingga dapat dikatakan menurun. Keterbatasan yang ada salah satunya bosan bukan hanya mahasiswa saja melainkan juga dosen. Informan berpendapat untuk mengatasi
halitu dosen harus dapat mencari cara untuk mengatasi itu semua salah satunya dengan membuat kelompok diskusi agar memudahkan mahasiswa memahami materi yang diberikan agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Pada setiap bulannya pada saat rapat dosen, melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan, dan persiapan khusus untuk mempersiapkan bahan kuliah dan evaluasi yang sudah ada. (Komunikasi Personal, 27 Juni 2021).
Berdasarkan hasil wawancara, penulis mendapatkan informasi bahwatujuan pembelajaran yang telah dirancang belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil akhir yang diterima oleh mahasiswa dapat dikatakan menurun. Beberapa faktor yang dianalis karena proses pembelajaran daring yang belum terlalu optimal, dan mahasiswa masih belum terbiasa dengan perubahan yang ada. Keterbatasan lainnya karena munculnya rasa bosan, dan kekurangan pemahaman mahasiswa yang belajar sendiri. Berbeda dengan perkuliahan tatap muka, dalam pembelajaran daring ini mahasiswa dituntut untuk dapat belajar secara mandiri. Hal ini membuat kebiasaan mahasiswa yang terkadang mengadakan diskusi bersama tidak dapat dilakukan seperti biasanya. Selain itu, keterbatasan jangkauan internet merupakan faktor yang paling utama, terutama bagi mahasiswa yang berada di luar jangkauan sehingga yang sering terjadi saat perkuliahan berlangsung koneksi internet terputus dan mengakibatkan mahasiswa terhambat menerima materi. Sebagai upaya untuk menangani masalah tersebut dosen memberi tugas yang dapatmembantu mahasiswa untuk menambah poin yang masih kurang dan meningkatkan usaha mereka.
2) Pendapat tentang minat terhadap pembelajaran berbasis daring
Informan menyampaikan, pemanfaatan zoom sudah tidak ada masalah, hanya kendala yang terjadi masih banyak mahasiswa yang tidak menyalakan kamera. Hal itu diakibatkan karena koneksi internet yang buruk, sehingga hal tersebut tidak dapat diatasi. Untuk mengatasi mahasiswa yang tidak dapat mengikuti zoom dengan baik, dosen memberikan tugas atau refleksi sehingga mahasiswa dapat mengejar tugas yang tertinggal. Ketika diberi tugas membuat mereka membaca atau melihat video dan direfleksikan. Dengan tugas tersebut membantu mereka belajar walaupun masih kurang efektif. Penyesuaian, tapi lama kelamaan juga bosen karena tidak adanya tatap muka dan terus- menerus menatap layar. Dan mahasiswa pun akan merasa bosan, namun harus tetap dicari cara untuk mengatasi hal tersebut. Maka dosen mengatasinya dengan membuat kelompok diskusi.
Berdasarkan hasil wawancara, penulis mendapatkan informasi bahwa kurang efektifnya penggunaan zoom yaitu keaktifan mahasiswa. Keaktifan yang salah satunya yaitu mahasiswa mematikan kamera, hal ini terjadi karena koneksi yang buruk, serta keterbatasan kuota mahasiswa karena sebagian besar pertemuan
Berdasarkan hasil wawancara, penulis mendapatkan informasi bahwa kurang efektifnya penggunaan zoom yaitu keaktifan mahasiswa. Keaktifan yang salah satunya yaitu mahasiswa mematikan kamera, hal ini terjadi karena koneksi yang buruk, serta keterbatasan kuota mahasiswa karena sebagian besar pertemuan