BAB III METODE PENELITIAN
F. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Kebenaran suatu data ditentukan oleh teknik pengumpulan dan analisis datanya. Wirartha (2006, hlm. 244) mengemukakan mengenai teknik dalam pengumpulan data “...diantaranya adalah tes, misalnya tes kecerdasan, angket atau kuisioner, wawancara, observasi atau pengamatan dan telaah dokumen.” Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner, wawancara, telaah dokumen atau studi dokumentasi dan interpretasi peta.
1. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah a. Kuesioner atau angket
Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dengan pertanyaan tertutup.
Bertujuan agar data atau jawaban dari responden didapat sebaik mungkin dengan waktu yang efisien.
1) Uji Validitas
Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin dukur. Sugiyono (2011, hlm. 348) menyatakan “valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur”.
Dalam pengujian instrumen peneliti menggunakan aplikasi yang memiliki kemampuan mengolah statistik yakni Statistical Product and Service Solutions atau dikenal dengan sebutan SPPS. Pada program SPSS teknik pengujian yang digunakan oleh peneliti untuk uji validitas adalah menggunakan korelasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson) Pada korelasi Bivariate Pearson, pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
a) Jika r hitung ≥ r tabel (uji 2 sisi dengan sig. 0,05) maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).
b) Jika r hitung < r tabel (uji 2 sisi dengan sig. 0,05) maka instrumen atau item-item pertanyaan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak valid).
Hasil sampel analisis dari pengujian validitas menggunakan SPSS dengan analisis Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson) dapat dilihat pada lampiran.
2) Uji Reliabilitas
Sugiyono (2011) mengungkapkan instrumen reliabel jika digunakan untuk mengukur obyek yang sama maka akan menghasilkan data yang sama pula. Dalam proses pengukuran pertanyaan, peneliti hanya skali menyebarkan kuesioner terhadap responden, dan hasil skornya diukur korelasinya antar skor jawaban pada butir pertanyaan yang sama dengan fasilitas Cronbach Alpha (a). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60. Hasil analisis dari pengujian reliabilitas dengan menggunakan SPSS dapat dilihat pada lampiran.
b. Wawancara
Salah satu metode yang sering digunakan dalam pengumpulan data diantaranya dengan wawancara. Sebagaima yang dikemukakan Silalahi (2012, hlm. 312) wawancara adalah “metode yang digunakan untuk mengumpulkan data atau keterangan lisan dari seseorang yang disebut responden melalui suatu percakapan yang sistematis dan terorganisasi.”
Adapun teknik wawancara dalam penelitian ini menggunakan pedoman wawancara yang digunakan pada penduduk dan pihak dari peusahaan. Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan data mengenai kondisi pendidikan, ekonomi, dan kesehatan dari sampel penduduk setempat dan untuk mendapatkan data mengenai program-program CSR dalam kontribusinya terhadap masyarakat sekitar industri pangan PG Jatitujuh.
c. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data sekunder atau data pendukung dari penelitian seperti dokumen-dokumen. Dalam hal ini subjek penelitian adalah daerah terdekat dengan industri PG Jatitujuh.
d. Interpretasi Peta
Interpretasi peta dilakukan untuk memperoleh sampel yang diperlukan, yakni sampel wilayah. Adapun interpretasi peta ini dilakukan dengan menggabungkan beberapa peta, diantaranya peta rupa bumi lembar Jatitujuh, Sukaslamet, Jatiwangi dan Jatisura.
2. Analisis Data
Wirartha (2006) mengungkapkan bahwa pengolahan data dimaksudkan sebagai suatu cara mengorganisasikan data sedemikian rupa sehinga dapat dibaca (readable) dan dapat ditafsirkan (interpretabel). Kegiatan pengolahan data diawali dari suatu tabulasi. Tabulasi adalah proses pembuatan tabel induk yang memuat susunan data penelitian berdasarkan klasifikasi yang sistematis sehingga mudah dianalisis. Adapun pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pemeriksaan data dan tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang dibuat.
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan statistik deskriptif, seperti yang telah dikemukakan oleh Sugiyono (2002 hlm. 12) bahwa
Statisitik deskriptif adalah statistik yang berfungsi utnuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
Pola atau model analisis data dalam penelitian ialah analisis data kuantitatif dimana analisis tersebut menggunakan model matematika, model statistika dan ekonometrik. Analisis data berupa angka kemudian dijelaskan dan diinterpretasikan dalam bentuk uraian.
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya menggunakan perhitungan persentase dan analisis regresi.
a. Perhitungan Persentase
𝑃 = 𝐹
𝑁𝑋 100%
Keterangan:
P = Besaran Presentase F = Frekuensi Jawaban
n = Jumlah Total Responden
Data yang dimasukan kedalam rumus tersebut merupakan data yang diperoleh dari instrumen penelitian. Metode penghitungan persantase digunakan untuk mempermudah peneliti dalam mendeskripsikan jawaban yang telah diperoleh dari responden.
b. Analisis Regresi
Penelitian ini dilakukan bukan hanya untuk mengukur asosiasi dua variabel tetapi hubungan lebih dari dua variabel tersebut. Oleh karena itu, analisis yang tepat untuk digunakan yaitu analisis regresi. Analisis regresi sederhana juga digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel yang sedang diteliti saling berhubungan. Dimana keadaan satu variabel membutuhkan adanya variabel yang lain dan sejauh mana pengaruhnya, serta dapat mengestimasi tentang nilai suatu variabel.
Sugiyono (2011) mengungkapkan bahwa analisis regresi terbagi menjadi dua, yaitu regresi linier sederhana dan regresi ganda. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier sederhana. Persamaannya adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Ŷ = Subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan a = Harga Y ketika harga X = 0 (harga konstan)
b = Slope of the line ialah ngka arah atau koefisien regresi, yang menunjukan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada perubahan variabel independen.
Bila (+) arah garis naik, dan bila (-) maka arah garis turun.
X = Subyek pada variabel independen yang mempunyai nila tertentu.
Adapun perhitungan a dan adalah sebagai berikut:
Harga 𝑏 = 𝑟 𝑆𝑦 𝑆𝑥 Harga 𝑎 = 𝑌 − 𝑏𝑋
Ŷ = a ˧ bX
Keterangan:
r = koefisien korelasi product moment antara variabel X dengan variabel Y
Sy = simpangan baku variabel Y Sx = simpangan baku variabel Y Selain itu, harga a dan b dapat dicari dengan:
𝑏 =𝑛. ∑ 𝑋𝑌 − ∑ 𝑋. ∑ 𝑌 𝑛 ∑ 𝑋² − (∑ 𝑋) ² 𝑎 =∑ 𝑌 − 𝑏. ∑ 𝑋
𝑛
Asumsi dalam analisis regresi adalah linearitas. Maksudnya adalah apakah garis regresi antara X dan Y menunjukan garis linear atau tidak. Apabila tidak menunjukan adanya linear, maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan.
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam uji linearitas adalah sebagai berikut:
𝐽𝐾 (𝑇) = ∑ 𝑌2 ; 𝐽𝐾 (𝑎) =(∑ 𝑌)² 𝑛 𝐽𝐾 (𝑏
𝑎) = 𝑏 {∑ 𝑋𝑌 −(∑ 𝑥) (∑ 𝑦)
𝑛 }
𝐽𝐾 (𝑠) = 𝐽𝐾 (𝑇) − 𝐽𝐾 (𝑎) − 𝐽𝐾(𝑏 𝑎) 𝐽𝐾 (𝐺) = ∑ {∑ 𝑌² −(∑ 𝑦)²
𝑛 } 𝐽𝐾 (𝑇𝐶) = 𝐽𝐾 (𝑆) − 𝐽𝐾 (𝐺)
Keterangan:
JK (T) = Jumlah Kuadrat Total JK (a) = Jumlah Kuadrat Koefisien a JK (b|a) = Jumlah Kuadra Regresi (b|a) JK (S) = Jumlah Kuadrat Sisa
JK (TC) = Jumlah Kuadrat Tuna Cocok JK (G) = Jumlah Kuadrat Galat
53 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Wilayah Penelitian
1. Kondisi Fisik Wilayah Penelitian a. Letak dan Luas
Secara geografi Kecamatan Jatitujuh terletak di sebelah utara Kabupaten Majalengka, dengan batas-batas wilayahnya:
Batas sebelah selatan : Kecamatan Dawuan Batas sebelah barat : Kecamatan Kertajati Batas sebelah utara : Kabupaten Indramayu Batas sebalah timu : Kecamatan Ligung
Jarak dari desa-desa ke Ibukota Kecamatan berkisar antara satu sampai sembilan kilometer. Sedangkan jarak dari Ibukota Kecamatan Jatitujuh ke Ibukota Kabupaten Majalengka berkisar antara 30-42 kilometer. Luas wilayah Kecamatan Jatitujuh adalah 73,66 Km2, dengan ketinggian tempat antara 30-53 meter diatas permukaan laut. Adapun lokasi adminstrasi serta luas masing-masing desa di Kecamatan Jatitujuh dapat dilihat pada tabel 4.1 dan gambar 4.1 halaman 55.
Tabel 4.1 Luas Wilayah Desa
No Desa LUAS (Km2) No Desa Luas (Km2)
1 Biyawak 3,14 9 Jatitujuh 3,14
2 Pasindangan 2,26 10 Babajurang 1,70
3 Panongan 3,44 11 Pilangsari 11,42
4 Panyingkiran 2,74 12 Jatiraga 8,92
5 Randegan Kulon 2,41 13 Sumber Kulon 9,06 6 Randegan Wetan 2,79 14 Sumber Wetan 9,07
7 Putridalem 3,36 15 Pangkalanpari 4,27
8 Jatitengah 5,94 Jumlah 73,66
Sumber : Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Dikutip Oleh: Machrip Aziz (1006302)
b. Iklim
Iklim merupakan keadaan cuaca rata-rata pada daerah yang luas dalam waktu yang relatif lama. Berdasarkan Schmidt - Fergusen, tipe iklim pada suatu daerah ditentukan dengan memperhitungkan jumlah rata-rata bulan basah, bulan lembab dan bulan kering. Dikatakan bulan basah apabila curah huan lebih dari 100 mm, bulan lembab antara 60-90 mm dan bulan kering apabila curah hujan kurang dari 60 mm. Rumus yang digunakan Schmidt-Fergusen yaitu:
𝑄 = 𝑀𝑑 𝑀𝑤𝑥100 Dimana:
Q : Tipe iklim Schmidt-Fergusen Md : Rata-rata bulan kering
Mw : Rata-rata bulan basah
Schmidt-Fergusen menentukan tipe iklim berdasarkan nilai yang diperoleh dari Q. Klasifikasi tipe iklim yang digunakan menurut Schmidt – Fergusen dapat dilihat pada tabel 4.2
Tabel 4.2
Klasifikasi Tipe Iklim Shmidt - Ferguson No Tipe
Iklim Nilai Q Sifat 1 A 0 - 14,3 Sangat Basah 2 B 14,3 - 33,3 Basah
3 C 33,3 - 60 Agak Basah
4 D 60 - 100 Sedang
5 E 100 - 167 Agak Sedang 6 F 167 - 300 Kering 7 G 300 - 700 Sangat Kering 8 H > 700 Ekstrim Kering Sumber: Rafi'i, 1995 hlm. 262
Data jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan yang didapatkan dari badan pengelola sumber daya air dan pertambangan (PSDAPE) Rentang Kecamatan Jatitujuh dan Profil Kecamatan Jatitujuh dapat dilihat pada tabel 4.3
Tabel 4.3
Bulan Basah, Lembab dan Kering Kecamatan Jatitujuh No Tahun Bulan
Basah
Bulan Lembab
Bulan Kering
1 2004 5 1 6
2 2005 8 1 3
3 2006 5 1 5
4 2007 7 1 4
5 2008 6 1 5
6 2009 6 1 5
7 2010 10 2 0
8 2011 9 0 3
9 2012 10 1 1
10 2013 10 1 1
Jumlah 76 10 33
Sumber: PSDA dan Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Tabel 4.3 memuat informasi mengenai jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan kering selama 10 tahun. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa jumlah bulan basah yakni sebesar 76, bulan lembab sebanyak 10 dan bulan kering sebanyak 33. Dengan demikian rata-rata bulan basah 7,6 dan rata-rata bulan kering 3,3, sehingga nilai Q dapat diketahui, yaitu:
𝑄 =3,3
7,6𝑥100 % 𝑄 = 43,4 %
Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai Q 43,4 %. Nilai tersebut terletak di antara 33,3% dan 60%, maka Kecamatan Jatitujuh termasuk iklim C, yakni agak basah. Rata-rata ketinggian tempat di Kecamatan Jatitujuh adalah 33 meter diatas permukaan laut, adapun suhunya berkisar antara 37°C. Iklim Kecamatan Jatitujuh cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian seperti padi, palawija dan yang lainnya.
c. Geologi
Berdasarkan data dari peta geologi lembar Arjawinangun 1309-1, kecamatan Jatitujuh termasuk kedalam jenis aluvium (Qa) dan batupasir tufan, lempung dan konglomerat (Qos). Aluvium terdiri dari formasi lempung, lana, pasir, kerikil, terutama endapan sungai holosen.
d. Tanah
Kecamatan Jatitujuh didominasi oleh tanah alluvial, grumosol, latosol, pedosol merah kuning yang memenuhi syarat sebagai kawasan budidaya. Tanah jenis ini memiliki fermeabilitas yang tinggi, mudah meresapkan air, daya menahan air cukup baik dan kepekaan erosi kecil. Sementara pada beberapa wilayah terdapat tanah-tanah berbatu yang dapat menjadi faktor pembatas untuk dibudidayakan.
e. Hidrologi
Kecamatan Jatitujuh dilewati oleh beberapa sungai, diantarnya Ci Manuk, Ci Buaya, Ci Lutung, Ci Pelang. Meskipun dilewati oleh beberapa sungai, Kecamatan Jatitujuh bukan merupakan daerah rawan banjir karena Kecamatan Jatiujuh memiliki bendungan Rentang yang sudah dijalankan sesuai dengan fungsinya.
Keberadaan sungai di Kecamatan Jatitujuh bukan dijadikan sebagai sumber air utama untuk keperluan rumah tangga melainkan untuk keperluan pertanian atau pengairan untuk sawah.
f. Penggunaan Lahan
Lahan merupakan faktor yang sangat penting karena mencermikan aktivitas manusia pada lahan tersebut. Luas lahan total di Kecamatan Jatitujuh adalah 73,66 Km2. Penggunaan lahan di wilayah Kecamatan Jatitujuh bervariasi diantaranya sawah, ladang, kebun, lahan kosong, pemukiman dan perindustrian. Namun, sebagian besar lahan di Kecamatan Jatitujuh adalah sawah dan kebun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.2 halaman 58.
Dikutip Oleh: Machrip Aziz (1006302)
2. Sosial Ekonomi Wilayah Penelitian a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data dari profil Kecamatan Jatitujuh tahun 2013, penduduk yang tersebar di 15 desa terdapat 51.018 yang dikepalai 16.790 kepala keluarga (KK).
Untuk mengetahui kepadatan penduduk daerah penelitian, digunakan rumus kepadatan penduduk atau population density (PD) dimana total penduduk dibagi oleh luas wilayah.
PD = 𝑃𝐴 𝑥 100 PD = 51.01873,66 𝑥 100 PD = 69,3
Dengan luas toal 73,66 Km2, maka kepadatan penduduk Kecamatan Jatiujuh adalah sebanyak 69 jiwa per Km2.
Mengenai ketentuan kepadatan penduduk menurut UU No. 56 Th. 1960 adalah 0-50 jiwa/ km2 merupakan wilayah tidak padat, 51-250 jiwa/ km2 merupakan wilayah kurang padat, 251 – 400 jiwa/ km2 merupakan wilayah cukup padat, > 400 jiwa/ km2 merupakan wilayah sangat padat.
Berdasarkan ketentuan UU No. 56 Th. 1960 mengenai kepadatan penduduk, maka kepadatan penduduk Kecamatan Jatitujuh sangat padat karena kepadatan penduduknya mencapai 69 jiwa/ km2, itu artinya tiap 1 km2 dihuni oleh 69 jiwa.
Jumlah dan kepadatan penduduk masing-masing desa di Kecamatan Jatitujuh bisa dilihat pada tabel 4.4 pada halaman 60.
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Jatitujuh paling banyak terdapat di Desa Jatitujuh yang merupakan ibukota kecamatan, kemudian posisi kedua di Desa Pilangsari. Sementara desa paling sedikit jumlah penduduknya yakni Desa Babajurang. Selain itu desa dengan jumlah kepadatan penduduk terpadat yakni Desa Jatituju disusul oleh Desa Biyawak.
Sedangkan desa dengan jumlah kepadatan penduduk yang paling sedikit yakni Desa Jatiraga.
Tabel 4.4
Kepadatan Penduduk per Desa di Kecamatan Jatitujuh
No Desa Sumber: Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
b. Komposisi Penduduk Menurut Usia dan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarakan usia digunakan untuk mengathui keadaan penduduk disuatu wilayah dan memprediksikan pertumbuhannya di masa depan.
Selain itu, komposisi penduduk berdasarakan usia sangat penting untuk mengetahui jumlah angkatan kerja pada suatu daerah, seperti mengetahui jumlah usia produktif dan tidak produktif.
Komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin di Kecamatan Jatitujuh dapat dilihat pada tabel 4.5 halaman 62. Berdasarkan data dari profil Kecamatan Jatitujuh tahun 2013, jumlah penduduk di Kecamatan Jatitujuh mencapai 51.018 jiwa, yang terdiri dari 25.705 laki-laki dan 25.313 perempuan.
Tabel 4.5
Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin No Kelompok
Umur
Laki-laki (Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
1 0 – 4 2.013 2.050 4.063
2 5 – 9 2.735 1.820 4.555
3 10 – 14 2.717 2.124 4.841
4 15 – 19 1.691 1.499 3.190
5 20 – 24 1.296 1.714 3.010
6 25 – 29 1.511 1.552 3.063
7 30 – 34 1.853 2.106 3.959
8 35 – 39 1.926 2.219 4.145
9 40 – 44 2.375 1.926 4.301
10 45 – 49 1.969 1.838 3.807
11 50 – 54 1.673 1.516 3.189
12 55 – 59 1.332 1.357 2.689
13 60 – 64 1.115 964 2.079
14 65 – 69 666 926 1.592
15 70 – 74 576 678 1.254
16 > 75 623 889 1.512
Jumlah 25.705 25.313 51.018
Sumber : Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Jatitujuh paling banyak terdapat pada usia 10 – 14 tahun, kemudian posisi kedua pada usia 35-39. Dari tabel 4.5 maka dapat disimpulkan bahwa penduduk terbanyak di Kecamatan Jatitujuh berada pada usia tidak produktif. Sedangakn jumlah penduduk paling sedikit pada usia 70 – 74 tahun yakni sebesar 576 jiwa. Jumlah penduduk Kecamatan Jatitujuh yang digolongkan berdasarkan usia produktif dan tidak produktif bisa dilihat pada tabel 4.6
Tabel 4.6
Penduduk Usia Belum Produktif, Produktif dan Tidak Produktif No Golongan Umur Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 0 – 14 13.459 26,4
2 15 – 64 33.201 65,1
3 >65 4.358 8,5
Jumlah 51.018 100
Sumber : Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Berdasarkan tabel 4.6 dapat disusun gambar 4.3 mengenai penduduk usia belum produktif, produktif dan tidak produktif di Kecamatan Jatitujuh
Gambar 4.3 Penduduk Usia Belum Produktif, Produktif dan Tidak Produktif
Dari tabel 4.6 dan gambar 4.3 dapat diketahui bahwa penduduk di usia produktif berjumlah 33.201 jiwa atau sekitar 65,1 % dari total jumlah penduduk di Kecamatan Jatitujuh. Sementara untuk penduduk non produktif di usia 0 – 14 tahun sebanyak 13.459 jiwa atau 26,4 % dan pendudu non produktif di atas usia 65 tahun sebanyak 4.358 jiwa atau sekitar 8,5 % dari total penduduk di Kecamatan Jatitujuh.
Dan untuk mengetahui angka beban ketergantungan (dependency ratio) penduduk di Kecamatan Jatitujuh dihitung dengan perhitungan sebagai berikut :
DR = 𝑃𝑜−14+𝑃>64
𝑃15−64 𝑥 100%
DR = 13.459+4.358
33.201 𝑥 100%
DR = 17.81833.201 𝑥 100%
0 10.000 20.000 30.000 40.000
0 – 14 15 – 64 >65 13.459
33.201
4.358
DR = 53,7 DR = 54
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui bahwa angka ketergantungan penduduk di Kecamatan Jatiujuh tiap 100 orang produktif terdapat 54 orang non produktif, artinya tiap 100 orang produktif harus menanggung 54 orang non produktif. Angka beban ketergantungan ini dapat menjadi indikator keadaan ekonomi penduduk. Semakin sedikit angka beban ketergantungan, maka semakin baik kondisi ekonominya.
Komposisi penduduk di Kecamatan Jatitujuh juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Jatitujuh adalah 25.705 jiwa atau sekitar 50,3 % dan jumlah penduduk perempuan adalah 25.313 jiwa atau sekitar 49,7 %. Berdasarkan data tersebut dapat di hitung sex – rationya atau perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan.
SR = 𝑃𝑃𝑙
𝑝 𝑥 100 SR = 25.705
25.313 𝑥 100 SR = 1.0154861 𝑥 100 SR = 101,5
SR = 102
Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh angka sex-rationya adalah 102, ini berarti penduduk dikecamatan Jatitujuh dari 100 penduduk perempuan terdapat 102 penduduk laki-laki.
c. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Petumbuhan ekonomi suatu daerah sudah seharusnya ikut untuk memberikan sumbangsihnya pada bidang pendidikan. Semakin tinggi pendidikan maka akan meningkatkan kualitas penduduk pada suatu wilayah tersebut. Pendidikan akan memberikan keterampilan untuk memanfaatkan sumber daya alam pada suatu wilayah sehingga akan mendongkrak perekonomian penduduk di wilayah tersebut.
Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan di Kecamatan Jatitujuh bisa dilihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7
Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Kecamatan Jatitujuh
No Desa Pendidikan
Jumlah SD SLTA SLTP PT
1 Biyawak 512 278 227 41 1.058
2 Pasindangan 524 169 106 15 814
3 Panongan 1.694 1.277 457 94 3.522
4 Panyingkiran 615 98 47 8 768
5 Randegan Kulon 620 172 130 42 964
6 Randegan Wetan 199 129 64 36 428
7 Putridalem 1.287 311 173 39 1.810
8 Jatitengah 2.654 540 348 231 3.773
9 Jatitujuh 2.176 1.652 940 95 4.863
10 Babajurang 430 100 60 11 601
11 Pilangsari 1.501 206 58 26 1.791
12 Jatiraga 411 372 491 24 1.298
13 Sumber Kulon 810 450 307 42 1.609
14 Sumber Wetan 82 80 471 298 531
15 Pangkalanpari 295 337 227 59 918
Jumlah 13.810 6.171 3.706 1.061 23.830 Sumber: Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Berdasarkan tabel 4.7 dapat disusun gambar 4.4 sebagai berikut
Gambar 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Kecamatan Jatitujuh
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
SD SLTA SLTP PT
d. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan aspek dari sosial ekonomi. Mata pencaharian dipengaruhi oleh kondisi alam yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Komposisi penduduk Kecamatan Jatitujuh berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 4.8
Tabel 4.8
Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian No Mata Pencaharian Jumlah
(Jiwa) Persentase
1 Petani 7.927 25,6 %
2 Buruh tani 8.370 27,0 %
3 Pengrajin 58 0,1 %
4 Pedagang 1.991 6,4 %
5 Peternak 657 2,1 %
6 Montir 81 0,3 %
7 Buruh jasa 6.169 20,0 %
8 Dokter 3 0,0 %
9 PNS (TNI-POLRI) 616 2,0 %
Jumlah 30.946 100,0 %
Sumber: Profil Kecamatan Jatitujuh 2013
Berdasarkan tabel 4.8 dapat disusun gambar 4.5 komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian
Gambar 4.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000
9.000 7.927 8.370
58
1.991
657 81
6.169
3 616
Berdasarkan tabel 4.8 dan gambar 4.5 tentang mata pencaharian penduduk dapat diketahui bahwa sektor pertanian merupakan mata pencaharian yang paling banyak di pilih oleh penduduk Kecamatan Jatitujuh, sesuai dengan lahan pertanian di Kecamatan Jatitujuh yang sangat luas. Penduduk yang bermata pencaharian buruh tani sebesar 8.370 atau sekitar 27 %, petani sebesar 7.927 atau sekitar 25,6
% dan buruh jasa sebesar 6.169 atau sekitar 20%.
Penduduk yang bekerja pada sektor buruh tani dan buruh jasa cukup besar hal ini karena di Kecamatan Jatitujuh terdapat industri Pabrik Gula, yang mana industri ini cukup banyak mempekerjakan penduduk sekitar dalam proses penebangan tebunya atau disebut dengan pekerja buruh tani.
B. Deskripsi Data Hasil Penelitian
Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu perlu mendeskripsikan keadaan data dari setiap variabel yang diukur. Deskripsi data yang akan disajikan dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai penyebaran data yang diperoleh di lapangan. Tujuannya agar karya tulis ini dapat dimengerti dengan lebih mudah oleh peneliti dan pembaca.
Data yang disajikan berupa data mentah yang diolah menggunakan teknik statistik deskripsi.
Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa variabel yaitu data mengenai CSR PG Rajawali II Jatitujuh (X) yang terbagi menjadi enam komponen yakni cause promotions, cause related marketing, corporate philantropy, corporate societal marketing, communty volunteering dan socially responsible bussiness practice. Dan data tentang sosial ekonomi (Y) yang terbagi juga menjadi tiga komponen, yakni pendidikan, pendapatan dan kesehatan.
1. Program CSR PG Rajawali II Jatitujuh (X)
Data mengenai program CSR diperoleh dari hasil angket/kuesioner, responden yang mendapatkan angket/kuesioner adalah PG Rajawali II Jatitujuh. Program CSR dibagi menjadi enam komponen, tiap komponen memiliki beberapa butir pertanyaan. Total butir pertanyaan mengenai CSR adalah 46 soal. Tiap soal
pertanyaan memiliki lima item/opsi jawaban dengan skor terendah satu dan skor tertinggi lima.
a. Promosi kegiatan sosial (Cause promotion)
Pada program ini, perusahaan harus memberikan sumbangan baik berupa dana atau sumber daya lainnya untuk meningkatkan kesadaran terhadap suatu kegiatan sosial atau mendukung pengumpulan dana. Pertanyaan untuk menjaring cause promotion berjumlah delapan butir soal. Berdasarkan pertanyaan yang telah diajukan, jawaban yang diberikan oleh PG Rajawali II Jatitujuh cukup bervariasi.
Adapun data hasil dari angket/kuesiner dapat dilihat pada tabel 4.9
Tabel 4.9 Cause Promotion
No Kegiatan Pelakansaan
1 Memberikan penyuluhan pendidikan Setahun sekali 2 Memberikan penyuluhan kewirausahaan Setahun sekali 3 Memberikan penyuluhan kesehatan Setahun sekali 4 Memberikan penyuluhan kelingkungan Sebulan sekali 5 Memberikan pelatihan keterampilan Setahun sekali
6 Penyuluhan/pelatihan dilaksanakan di Desa terdekat dengan perusahaan 7 Sosialisasi pentingnya melek media Setiap enam bulan sekali
8 Fasilitator untuk kegiatan sosial Per desa Sumber: Hasil Pengolahan Data 2014
Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa penyuluhan-penyuluhan yang diberikan PG Rajawali II Jatitujuh terlaksana setahun sekali atau bisa dikatakan cukup jarang. Adapun penyuluhan dilaksanakan hanya didaerah yang dekat dengan lokasi perusahaan. Kegiatan sosial lainnya seperti sosialisasi pentingnya mengakses internet dan media untuk mengikuti isu-isu sosial, ekonomi, budaya dan politik dilakukan setengah tahun sekali.
b. Pemasaran terkait kegiatan sosial (Cause Related Marketing)
Pada kegiatan ini, perusahaan haru memberikan beberapa presentase hasil keuntungannya untuk kegiatan sosial berdasarkan jumlah produk yang telah terjual.
Data hasil dari angket/kuesioner mengenai cause related marketing dapat dilihat pada tabel 4.10
Tabel 4.10 Cause Related Marketing
No Program/Kegiatan CSR Pelakansaan
1 Periode sumbangan Seminggu sekali
2 Sasaran yang memperoleh sumbangan Desa terdekat dengan perusahaan 3 Bentuk sumbangan yang diberikan Sembako
4 Bantuan yang diberikan ke lembaga pendidikan
Pembuatan bangunan fisik dan beasiswa
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2014
Berdasarkan tabel 4.10 menyajikan mengenai program CSR PG Rajawali II Jatitujuh pada bidang pemasaran terkait kegiatan sosial. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa perusahaan memberikan sumbangan kepada masyarakat sekitar seminggu sekali dan sasarannya adalah desa-desa terdekat dengan perusahaan. Perusahaan juga memberikan bantuan kepada beberapa sekolah di Kecamatan Jatitujuh diantaranya dalam bentuk beasiswa dan sumbangan untuk pembuatan bangunan fisik sekolah.
c. Pemasaran kemasyarakatan korporat (Corporate Societal Marketing)
Pada kegiatan ini, perusahaan melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, keselamatan, kesejahteraan masyarakat dan menjaga lingkungan hidup. Pertanyaan untuk menjaring corporate societal marketing berjumlah enam butir soal. Data hasil dari angket/kuesiner mengenai corporate societal marketing dapat dilihat pada tabel 4.11 halaman 69.
Tabel 4.11
Corporate Societal Marketing
No Program/Kegiatan CSR Pelakansaan 1 Sosialisasi bahaya penggunaan obat terlarang Setahun sekali 2 Bantuan keamanan yang diberikan Setiap ada kegiatan 3 Pengobatan gratis untuk masyarakat Lebih dari setahun sekali 4 Kegiatan donor darah Lebih dari setahun sekali
No Program/Kegiatan CSR Pelakansaan 1 Sosialisasi bahaya penggunaan obat terlarang Setahun sekali 2 Bantuan keamanan yang diberikan Setiap ada kegiatan 3 Pengobatan gratis untuk masyarakat Lebih dari setahun sekali 4 Kegiatan donor darah Lebih dari setahun sekali