Dalam buku Sugiyono (2004, p.129) dikatakan bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Teknik pengumpulan data bila dilihat dari segi teknik atau cara pengumpulannya dapat dilakukan dengan cara kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan keduanya.
Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyatan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan atau apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.
Beberapa prinsip penting dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu :
a. Prinsip Penulisan Angket: Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu : isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka negatif positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.
b. Prinsip Pengukuran: Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrumen penelitian, yang digunkan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel.
c. Penampilan Fisik: Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpulan data akan mempengaruhi respon atau keseluruhan responden dalam mengisi angket.
Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang tercetak di kertas bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998, p.229) sebelum kuesioner disusun harus melalui beberapa prosedur, antara lain :
a. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
b. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
c. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub variabel yang lebih spesifik dan tunggal.
d. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknik analisisnya.
2.2.8 Statistik
Menurut J. Supranto (2000, p.11) dalam arti sempit, statistik berarti data ringkasan berbentuk angka (kuantitatif), sedangkan dalam arti luas statistik berarti suatu ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis data serta cara pengambilan keputusan secara umum berdasarkan hasil penelitian yang tidak menyeluruh.
Menurut Sugiyono (2004, p.142), teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial.
Statistik Inferensial meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris. Contoh penggunaan statistik untuk pengujian hipotesis secara lengkap adalah sebagai berikut : 1. Statistik Deskriptif dan Inferensial
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. Tetapi bila peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi, maka teknik analisis yang digunakan adalah statistik inferensial.
Statistik inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas), adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sample diambil dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel itu dilakukan dengan secara random.
2. Statistik Parametris dan Statistik Non-Parametris.
Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio.
Penelitian ini menggunakan statistik parametris, karena sampel diambil dari populasi. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Dalam statistik, pengujian parameter melalui statistik (data sampel) tersebut dinamakan uji hipotesis statistik. Oleh karena itu, penelitian yang berhipotesis statistik adalah penelitian yang menggunakan sampel. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio. Dan statistik parametris memerlukan terpenuhi banyak asumsi. Asumsi yang utama adalah data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu tes mengharuskan data homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi linearitas.
Stastistik non-parametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Statistik non-parametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi. Oleh karena itu. Statistik non-parametris sering disebut “distribusi free” (bebas distribusi). Statistik non-parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal dan ordinal.
Menurut Sudjana (2005, p.2), statistik dipakai untuk menyatakan kumpulan data. Bilangan maupun non-bilangan yang disusun dalam tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan. Statistika merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan atau penganalisisannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilakukan.
2.2.9 Hipotesis
Berdasarkan Sugiyono (2004, p.156), hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Secara statistik, hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi (parameter) yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian (statistik). Jadi maksudnya adalah taksiran keadaan populasi melalui data sampel. Oleh karena itu dalam statistik yang diuji adalah hipotetsis nol. Jadi hipotesis nol adalah pernyataan tidak adanya perbedaan antara parameter dengan statistik (data sampel).
Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternatif, yang menyatakan ada perbedaan antara parameter dan statistik. Hipotesis nol diberi notasi Ho dan hipotesis alternatif diberi notasi Ha.
Konsep dasar pengujian hipotesis terdiri dari : 1. Taraf Kesalahan
Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Terdapat dua cara menaksir yaitu, apoint estimate dan interval estimate. Apoint estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasrkan satu nilai dari rata-rata data sampel. Sedangkan interval estimate (taksiran
interval) adalah suatu parameter populasi berdasarkan nilai interval rata-rata data sampel. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya.
2. Dua Kesalahan dalam Menguji Hipotesis
Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel, kemungkinan akan terdapat dua kesalahan, yaitu :
a. Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar. Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan α (baca alpha).
b. Kesalahan tipe II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah. Tingkat kesalahan untuk dinyatakan dengan β (baca betha).
Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan.
2. Keputusan menerima hipotesis no yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II (β).
3. Membuat keputusan menolak hipotetsis nol yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I (α).
4. Membuat menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak membuat kesalahan.
Menurut Sudjana (2005, p.219), hipotesis merupakan asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar oleh karena itu perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis disebut pengujian hipotesis.