• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Teori Umum

2.1.1 Pengertian Electronic Logistic Information System (E-Log)

Electronic Logistic Information System (E-Log) adalah sistem informasi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para user dalam mengolah data dan informasi mengenai ketersediaan barang lalu menggunakannya untuk keperluan dalam penerbangan. User menggunakan Sistem Informasi E-Log untuk mempermudah pekerjaan para karyawannya, lalu menggunakannya untuk keperluan ketersediaan barang dalam penerbangan umum pada PT. Aerowisata Inflight Logistic wilayah Jakarta. Penggunaan Sistem Informasi E-Log sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pengembangan suatu sistem yang sedang berjalan pada PT. Aerowisata Inflight Logistic wilayah Jakarta.

2.1.2 Definisi Sistem Informasi E-Log

Menurut (http://www.freightgate.com/products/elogistic.desc), E-Logistic is the perfect extension for online exchanges in order to provide interactive shipping services to their users.

E-Logistic adalah penambahan fitur yang sempurna bagi pertukaran secara online didalam menyediakan kebutuhan untuk pelayanan pengiriman interaktif kepada user mereka.

(2)

Menurut (http://www.research.ibm.com/people/b/bth/zhang.pdf), E-Logistic is defined to be the mechanism of automating logistics processes and providing an integrated, end-to-end fulfillment and supply chain management services to the players of logistics processes.

E-Logistic adalah mekanisme dari proses logistik otomatis dan penyediaan pelayanan pengaturan rantai suplai dan pemenuhan end-to-end yang terintegrasi.

2.1.3 Information System

Menurut Laudon dan Laudon (2002, p7) informasi adalah data yang telah diolah dalam suatu bentuk yang berarti dan berguna bagi manusia. Sedangkan data itu sendiri terdiri dari fakta-fakta dan angka-angka yang relative tidak berarti bagi pemakai.

Berdasarkan pendapat O’Brien (2005, p.8) sistem adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan, bekerja sama, untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input, serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur.

Menurut Turban, Rainer dan Potter (2003, p.15), “Information System is a collects, process, stores, analyzes, disseminates information for a specific purpose. Like any other system, an information system includes inputs (data, instructions) and outputs (reports,z9o calculations)”.

Sistem Informasi adalah kumpulan, proses, penyimpanan, analisa, menggabungkan informasi untuk tujuan spesifik.

Menurut Mukhtar (1999, p4) menyimpulkan bahwa agar suatu Sistem Informasi dapat berguna harus memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

(3)

1. Reliable (dapat dipercaya)

Informasi harus bebas dari kesalahan dan harus akurat dalam mempresentasikan suatu kejadian atau kegiatan dari suatu organisasi. Setiap sistem informasi harus bebas dari kesalahan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, misalnya pada saat mengaplikasikan sistem informasi tidak terjadi error.

2. Relevan (cocok atau sesuai)

Informasi yang relevan harus memberikan arti atau berguna kepada pengguna.

Informasi ini dapat mengurangi ketidakpastian dan bisa meningkatkan nilai dari suatu kepastian. Setiap informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi harus dapat meningkatkan nilai dari suatu kepastian yang dicari oleh user.

3. Timely (tepat waktu)

Informasi yang disajikan tepat pada saat dibutuhkan (tepat waktu) dan bisa mempengaruhi proses pengambilan keputusan.

4. Complete (lengkap)

Informasi yang disajikan lengkap termasuk di dalamnya data-data yang relevan.

5. Understandable (dapat dimengerti)

Informasi yang disajikan hendaknya dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh user.

Berdasarkan (www.wikipedia.org/wiki/informasi) informasi adalah hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian/penataan dari sekelompok data yang mempunyai nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya.

(4)

2.1 Tabel Variabel, Dimensi & Indikator Sistem Informasi

Variabel Dimensi Indikator

E-Logistic

Reliable

Relevan

Timely

Complete

Understandable

Bebas Dari Kesalahan Keamanan

Akurasi Kegunaan

Kehandalan Tepat Waktu

Waktu Respon Kelengkapan

Teknologi

Berguna Berarti Kemudahan

Berdasarkan analisis teori-teori tersebut di atas, didapatkan indikator–indikator sebagai berikut :

1. Bebas dari kesalahan, karena user dapat dengan mudah mengetahui barang- barang atau keperluan untuk penerbangan yang harus segera dilakukan pergantian sebelum pesawat take-off.

(5)

2. Keamanan, karena informasi yang dihasilkan diharapkan dapat terjamin keamanannya.

3. Akurasi, karena sistem diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berguna bagi user.

4. Kegunaan, karena user dengan mudah menggunakan menu-menu dan fungsi-fungsi sistem yang telah disediakan sesuai dengan kebutuhannya.

5. Kehandalan, karena dalam menggunakan sistem, user harus yakin bahwa sistem tersebut handal didalam membantu user dalam memberikan hasil kerja yang lebih baik lagi.

6. Tepat Waktu, melalui sistem, informasi diharapkan daapt disajikan lebih cepat sehingga berguna di dalam mendukung proses pengambilan keputusan.

7. Waktu respon, jika user mengakses sistem dengan waktu respon yang cepat maka user dapat lebih efisien dalam bekerja.

8. Kelengkapan, karena sistem diharapkan dapat menghasilkan informasi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan usernya.

9. Teknologi, sebagai acuan yang dibutuhkan oleh user untuk pengiriman barang sehingga lebih cepat, efektif dan efisien.

10. Berguna, agar pengerjaan dalam pengririman dapat lebih cepat diselesaikan karena masalah yang terjadi sudah dapat diatasi terlebih dahulu.

11. Berarti, karena user dapat menganalisa setiap jenis kerusakan barang yang akan di distribusikan ke pesawat.

(6)

12. Kemudahan, karena jika user telah mengerti bagaimana sistem bisa dioperasikan, maka user dapat mengoperasikan sistem dengan lebih baik dan lebih user friendly.

2.1.4 Sintesis Variabel Electronic Logistic Information System

Berdasarkan analisis teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Electronic Logistic Information System adalah tipe pengerjaan yang menggunakan teknologi dalam memperoleh suatu informasi sehingga dapat berguna untuk perusahaan agar tujuan perusahaan tercapai dan menyediakan kebutuhan bagi konsumen. Dengan indikator yaitu (1) Bebas dari kesalahan (2) Keamanan (3) Akurasi (4) Kegunaan (5) Kehandalan (6) Tepat waktu (7) Waktu respon (8) Kelengkapan (9) Teknologi (10) Berguna (11) Berarti dan (12) Kemudahan.

2.1.5 Konstruk Variabel Electronic Logistic Information System

Berdasarkan sintesis dari teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Electronic Logistic Information System dalam penelitian ini adalah suatu ukuran dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh PT. Aerowisata Inflight Logistic yang membantu karyawan dalam memproses pengiriman barang sehingga memudahkan User dalam mengerjakan pekerjaannya meliputi informasi pengadaan barang, penyediaan barang, penerimaan barang dan sebagainya sehingga user dapat mencapai tujuan dan target yang diinginkan perusahaan dengan indikator yaitu (1) Bebas dari kesalahan (2) Keamanan (3) Akurasi (4) Kegunaan (5) Kehandalan (6) Tepat waktu (7) Waktu respon (8) Kelengkapan (9) Teknologi (10) Berguna (11) Berarti dan (12) Kemudahan.

(7)

2.1.6 Pengertian Kinerja

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002, p570) kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja.

Menurut (Endang Lestari G.Sh.MM & Drs MA . Maliki M.Ed Komunikasi yang Efektif 2003 ,P iii) Kompetensi yang disyaratkan bagi jabatannya yang menyangkut aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap dan prilaku.

Menurut Veithzal Rivai (2005, p 14) Kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.

Menurut A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007, p 67) Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tangung jawab yang diberikan kepadanya.

Kinerja (http://id.wikipedia.org/wiki/Kinerja) adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia dari kata dasar "kerja" yang menterjemahkan kata dari bahasa asing prestasi.

Bisa pula berarti hasil kerja.

Definisi kinerja menurut Gomes (2003, p142), penilaian prestasi kerja dapat dilakukan berdasarkan deskripsi perilaku yang spesifik yaitu :

1. Quantity of work, jumlah pekerjaan yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.

2. Quality of work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.

3. Job knowledge, luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan.

(8)

4. Creativeness, keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

5. Cooperation, kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain.

6. Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar

tanggung jawabnya.

7. Personal qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi.

2.1.7 User

Menurut Raymond Mcleod (2001,p21), End User sinonim dengan pemakai ; ia menggunakan produk akhir suatu sistem yang berbasis komputer.

Berdasarkan (http://www.webopedia.com/TERM/S/user.html) User An in http://www.webopedia.com/TERM/S/user.html User dividual who uses a computer.

User adalah seseorang yang menggunakan komputer.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kinerja user adalah kemampuan user dalam memberikan hasil kerja terbaiknya dengan menyelesaikan tugas-tugas yang utama, dimana kinerja seorang user dapat didukung dari sarana lain.

(9)

Tabel 2.2 Variabel, Dimensi & Indikator Kinerja user

Variabel Dimensi Indikator

Kinerja User

Quantity Of Work

Quality Of Work

Job Knowledge

Creativeness

Coorporation

Initiative

Personal Qualities

Jumlah hasil kerja

Kualitas hasil kerja

Keterampilan dalam menggunakan sistem

Gagasan

Kerjasama

Tanggung Jawab

Kepribadian

2.1.8 Sintesis Variabel Kinerja user

Berdasarkan analisis teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Kinerja user adalah kemampuan kerja yang dimiliki oleh user dalam menggunakan sistem informasi yang tersedia pada perusahaan tersebut, agar tujuan perusahaan bisa tercapai secara maksimal. Dengan indikator yaitu (1) Jumlah hasil kerja (2) Kualitas hasil kerja (3) keterampilan dalam menggunakan system (4) Gagasan (5) Kerjasama (6) tanggung jawab (7) Kepribadian.

(10)

2.1.9 Konstruk Variabel Kinerja User

Berdasarkan sintesis dari teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Kinerja User adalah kemampuan kerja yang dimiliki oleh user dalam menggunakan sistem informasi pada PT. Aerowisata Inflight Logistic bertujuan untuk memenuhi kebutuhan serta hasil yang diinginkan. Dengan indikator yaitu yaitu (1) Jumlah hasil kerja (2) Kualitas hasil kerja (3) keterampilan dalam menggunakan system (4) Gagasan (5) Kerjasama (6) tanggung jawab (7) Kepribadian.

2.1.10 Tabel Kisi – Kisi Variabel, Dimensi dan Indikator Penelitian Tabel 2.3 Kisi – Kisi Variabel, Dimensi dan Indikator

Variabel Dimensi Indikator

E-Logistic

Reliable

Relevan

Timely

Complete

Understandable

Bebas Dari Kesalahan Keamanan

Akurasi Kegunaan

Kehandalan Tepat Waktu

Waktu Respon Kelengkapan

Teknologi

Berguna

(11)

Kinerja user

Quantity Of Work

Quality Of Work

Job Knowledge

Creativeness

Coorporation

Initiative

Personal Qualities

Berarti Kemudahan

Jumlah hasil kerja

Kualitas hasil kerja

Keterampilan dalam menggunakan sistem

Gagasan

Kerjasama

Tanggung Jawab

Kepribadian

2.1.11 Kerangka Berpikir

Berdasarkan sintesis dari teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Electronic Logistic Information System adalah suatu ukuran dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh PT. Aerowisata Inflight Logistic yang membantu karyawan dalam memproses pengiriman barang sehingga memudahkan dalam mengerjakan pekerjaannya meliputi informasi pengadaan barang, penyediaan barang, penerimaan barang dan sebagainya sehingga user dapat mencapai tujuan dan target yang diinginkan perusahaan sehingga user dapat mencapai tujuan dan target yang diinginkan

(12)

perusahaan dengan indikator yaitu (1) Bebas dari kesalahan (2) Keamanan (3) Akurasi (4) Kegunaan (5) Kehandalan (6) Tepat waktu (7) Waktu respon (8) Kelengkapan (9) Teknologi (10) Berguna (11) Berarti dan (12) Kemudahan.

Berdasarkan sintesis dari teori-teori tersebut diatas, yang dimaksud dengan Kinerja User adalah kemampuan kerja yang dimiliki oleh user dalam menggunakan sistem informasi pada PT. Aerowisata Inflight Logistic bertujuan untuk memenuhi kebutuhan serta hasil yang diinginkan. Dengan indikator yaitu (1) Jumlah hasil kerja (2) Kualitas hasil kerja (3) keterampilan dalam menggunakan system (4) Gagasan (5) Kerjasama (6) tanggung jawab (7) Kepribadian.

Semakin baik Electronic Logistic Information System digunakan akan semakin meningkatkan kinerja user, maka diduga terdapat hubungan antara Electronic Logistic Information System dengan kinerja user.

2.1.12 Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan kerangka berpikir, maka dapat dirumuskan sebagai berikut

“Terdapat hubungan antara Electronic Logistic Information System (E-Logistic) dengan Kinerja user pada PT. Aerowisat Inflight Logistic”. Perumusan statistiknya yaitu :

H0 : ρ1 = 0

Ha : ρ1 > 0

Sumber : Sudjana, Metode Statistika, (Tarsito,: Bandung 2005) p.379.

(13)

Keterangan : ρ : Nilai Korelasi dalam Formulasi yang Dihipotesiskan

H0 : Hipotesis Nol

Ha : Hipotesis Alternatif

2.2 Teori Khusus

2.2.1 Metodologi Penelitian

Menurut Sugiyono (2004, p1), metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau dengan penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Data yang diperoleh melalui penelitian adalah data empris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu yaitu valid. Valid menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

Menurut Sugiyono (2004, p14), Data penelitian dibagi menjadi 2 bagian yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan. Data kuantitatif terdiri dari dua data, yaitu data diskrit/nominal dan data kontinum. Data nominal adalah data yang hanya dapat digolongkan secara terpisah. Data kontinum terdiri dari data ordinal, interval, dan ratio.

(14)

2.2.2 Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2004, p.31) variabel penelitian adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain. Dalam penulisan skripsi ini, variabel yang digunakan dalam penelitian adalah:

a. Variable independent : variabel ini disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variabel dependent (terikat). Dalam skripsi ini variabel independent/bebasnya adalah Electronic Logistic Information System (E-Log).

b. Variabel dependent : sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel dependent/terikat dalam skripsi ini adalah Kinerja User.

Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (1998, p99) variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau dependent variable (Y).

2.2.3 Populasi

Menurut Sugiyono (2004, p.72) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

(15)

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

Menurut Arikunto (2006, p.130) Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.

Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus.

2.2.4 Sampel

Menurut Sugiyono (2004, p.74), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.

Menurut Arikunto (2006, p.132), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.

2.2.5 Teknik Sampling

Berdasarkan pendapat Supranto (2000, p.55), sampling acak (random sampling) ialah sampling dimana elemen-elemen sampelnya ditentukan atau dipilih berdasarkan

(16)

nilai probabilitas dan pemilihannya secara acak. Menurut Sugiyono (2004, p73), Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Menurut Sugiyono (2004, p.74), teknik sampling dikelompokan menjadi 2 yaitu:

1. Probability Sampling : teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Teknik ini meliputi:

a. Simple Random Sampling: Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.

b. Proportionate Startified Random Sampling: Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

c. Disproportionate Stratified Random Sampling: Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

d. Cluster Sampling (area sampling): Teknik sampling daerah digunakan untuk menetukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu negara, propinsi, kabupaten.

2. Nonprobability Sampling: teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:

a. Sampling Sistematis: Teknik pengambilan sampel berdasarkan urut dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

(17)

b. Sampling Kuota: Teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

c. Sampling Aksidenta: Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

d. Sampling Purpopsive: Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

e. Sampling Jenuh: Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

f. SnowballSampling: Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Rumus untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya adalah sebagai berikut:

Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (CV. Alfabeta : Jakarta 2004), hal 81

Keterangan:

λ² dengan dk = 1, taraf kesalahan 1%, 5%, 10%

P = Q = 0,5

D = 0,05 dengan s = jumlah sampel

λ².N.P.Q

s =

d² (N-1) + λ².P.Q

(18)

2.2.6 Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

a. Skala Likert: Menurut Sugiyono (2004, p.86) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai negatif yang dapat berupa kata–

kata antara lain:

1. Sangat Setuju (SS) 2. Setuju (S)

3. Ragu – Ragu (RR) 4. Tidak Setuju (TS)

(19)

Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:

1 Setuju/Selalu/Sangat positif diberi skor 5

2 Setuju/Sering/Positif diberi skor 4

3 Ragu-ragu/Kadang-kadang/Netral diberi skor 3

4 Tidak setuju/Hampir Tidak Pernah/Negatif diberi skor 2 5 Sangat Tidak Setuju/Tidak Pernah/Sangat Negatif diberi skor 1

b. Skala Guttman: Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif”

dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau dikhotomi (dua alternatif). Penelitian menggunakan skala Guttman bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol.

c. Semantic Deferential: Skala pengukuran yang berbentuk semantic deferential dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabannya sangat positif terletak di bagian kanan garis, dan jawaban sangat negatif terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.

d. Rating Scale: Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating-scale data mentah yang diperoleh

(20)

berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang disediakan tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan Oleh karena itu rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya. Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap instrumen.

Menurut Sugiyono (2004, p.86) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.

Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Dalam penelitian ini, kami menggunakan Skala Likert dengan penilaian sbb:

Untuk pertanyaan positif :

a. Sangat setuju diberi skor 5 b. Setuju diberi skor 4 c. Ragu-ragu diberi skor 3 d. Tidak setuju diberi skor 2 e. Sangat tidak setuju diberi skor 1

(21)

Untuk pertanyaan negatif :

a. Sangat setuju diberi skor 1 b. Setuju diberi skor 2 c. Ragu-ragu diberi skor 3 d. Tidak setuju diberi skor 4 e. Sangat tidak setuju diberi skor 5

2.2.7 Teknik Pengumpulan Data

Dalam buku Sugiyono (2004, p.129) dikatakan bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Teknik pengumpulan data bila dilihat dari segi teknik atau cara pengumpulannya dapat dilakukan dengan cara kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan keduanya.

Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyatan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan atau apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.

(22)

Beberapa prinsip penting dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu :

a. Prinsip Penulisan Angket: Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu : isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka negatif positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.

b. Prinsip Pengukuran: Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrumen penelitian, yang digunkan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel.

c. Penampilan Fisik: Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpulan data akan mempengaruhi respon atau keseluruhan responden dalam mengisi angket.

Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang tercetak di kertas bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.

Menurut Suharsimi Arikunto (1998, p.229) sebelum kuesioner disusun harus melalui beberapa prosedur, antara lain :

a. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.

(23)

b. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.

c. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub variabel yang lebih spesifik dan tunggal.

d. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknik analisisnya.

2.2.8 Statistik

Menurut J. Supranto (2000, p.11) dalam arti sempit, statistik berarti data ringkasan berbentuk angka (kuantitatif), sedangkan dalam arti luas statistik berarti suatu ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis data serta cara pengambilan keputusan secara umum berdasarkan hasil penelitian yang tidak menyeluruh.

Menurut Sugiyono (2004, p.142), teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial.

Statistik Inferensial meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris. Contoh penggunaan statistik untuk pengujian hipotesis secara lengkap adalah sebagai berikut : 1. Statistik Deskriptif dan Inferensial

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. Tetapi bila peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi, maka teknik analisis yang digunakan adalah statistik inferensial.

(24)

Statistik inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas), adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sample diambil dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel itu dilakukan dengan secara random.

2. Statistik Parametris dan Statistik Non-Parametris.

Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio.

Penelitian ini menggunakan statistik parametris, karena sampel diambil dari populasi. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Dalam statistik, pengujian parameter melalui statistik (data sampel) tersebut dinamakan uji hipotesis statistik. Oleh karena itu, penelitian yang berhipotesis statistik adalah penelitian yang menggunakan sampel. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio. Dan statistik parametris memerlukan terpenuhi banyak asumsi. Asumsi yang utama adalah data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu tes mengharuskan data homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi linearitas.

Stastistik non-parametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Statistik non-parametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi. Oleh karena itu. Statistik non-parametris sering disebut “distribusi free” (bebas distribusi). Statistik non-parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal dan ordinal.

(25)

Menurut Sudjana (2005, p.2), statistik dipakai untuk menyatakan kumpulan data. Bilangan maupun non-bilangan yang disusun dalam tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan. Statistika merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan atau penganalisisannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilakukan.

2.2.9 Hipotesis

Berdasarkan Sugiyono (2004, p.156), hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Secara statistik, hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi (parameter) yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian (statistik). Jadi maksudnya adalah taksiran keadaan populasi melalui data sampel. Oleh karena itu dalam statistik yang diuji adalah hipotetsis nol. Jadi hipotesis nol adalah pernyataan tidak adanya perbedaan antara parameter dengan statistik (data sampel).

Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternatif, yang menyatakan ada perbedaan antara parameter dan statistik. Hipotesis nol diberi notasi Ho dan hipotesis alternatif diberi notasi Ha.

Konsep dasar pengujian hipotesis terdiri dari : 1. Taraf Kesalahan

Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Terdapat dua cara menaksir yaitu, apoint estimate dan interval estimate. Apoint estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasrkan satu nilai dari rata-rata data sampel. Sedangkan interval estimate (taksiran

(26)

interval) adalah suatu parameter populasi berdasarkan nilai interval rata-rata data sampel. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya.

2. Dua Kesalahan dalam Menguji Hipotesis

Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel, kemungkinan akan terdapat dua kesalahan, yaitu :

a. Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar. Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan α (baca alpha).

b. Kesalahan tipe II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah. Tingkat kesalahan untuk dinyatakan dengan β (baca betha).

Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan.

2. Keputusan menerima hipotesis no yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II (β).

3. Membuat keputusan menolak hipotetsis nol yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I (α).

4. Membuat menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak membuat kesalahan.

Menurut Sudjana (2005, p.219), hipotesis merupakan asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar oleh karena itu perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis disebut pengujian hipotesis.

(27)

2.2.10 Uji Validitas

Dalam buku Sugiyono (2004, p.109), validitas berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Berdasarkan Uma sekaran (2000, p.44), validitas memastikan kemampuan dari instrumen untuk mengukur konsep yang dimaksud. Bila instrumen mampu mengukur konsep yang sedang diteliti maka dapat dikatakan bahwa data yang dihasilkan adalah valid atau sah.

Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (1998, p.160) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.

Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Ada dua macam validitas sesuai dengan cara pengujiannya, yaitu validitas eksternal dan validitas internal.

1. Validitas Eksternal

Instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data atau informasi lain mengenai variabel penelitian yang dimaksud.

Validitas instrumen diuji dengan menggunakan koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total (r hitung). Hasil pengujian validitas kemudian akan dibandingkan dengan r tabel. Dari pengambilan uji validitas ini adalah:

a. Jika r hasil positif, serta r hasil > r tabel, maka butir atau variabel tersebut valid.

b. Jika hasil r tidak positif, serta r hasil < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak valid.

Untuk mengukur validitas butir, maka digunakan rumus korelasi yang dikemukakan oleh Pearson dan dikenal dengan rumus korelasi Product Moment, yaitu :

(28)

 

     

(Sumber : Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 1998, p162)

Keterangan :

r : Koefisien korelasi n : Jumlah sampel

∑Xi : Jumlah variabel X yang ke-i

∑Yi : Jumlah variabel Y yang ke-i

Setiap nilai korelasi mengandung tiga makna, yaitu :

1. Ada tidaknya korelasi, ditunjukkan oleh besarnya angka yang terdapat dibelakang koma.

2. Arah korelasi menunjukkan kesejajaran antara nilai variabel X dengan nilai variabel Y. Arah dari korelasi ini ditunjukkan oleh tanda hitung yang ada di depan indeks. Jika tandanya plus (+), maka arah korelasinya positif, jika tandanya minus (-) maka arah korelasinya negatif.

3. Besarnya korelasi, besarnya angka yang menunjukan kuat dan tidaknya, atau mantap tidaknya kesejajaran antara dua variabel yang diukur korelasinya.

Dalam hal yang menentukan besarnya korelasi ini kita tidak perlu memperhatikan tanda hitung yang terdapat di depan indeks.

Dikatakan setelah penggunaan rumus, setelah diperoleh nilai r, lalu dikonsultasikan ke Tabel r – Product – Moment ( lihat Tabel 2.3 )

(29)

Tabel : 2.4

Nilai–nilai r Product Moment

N TARAF SIGNIF

N TARAF SIGNIF

N TARAF SIGNIF

5% 1% 5% 1% 5% 1%

3 0,997 0,999 27 0,381 0,487 55 0,266 0,345 4 0,950 0,990 28 0,374 0,478 60 0,254 0,330 5 0,878 0,959 29 0,367 0,470 65 0,244 0,317

6 0,811 0,917 30 0,361 0,463 70 0,235 0,306 7 0,754 0,874 31 0,355 0,456 75 0,227 0,296 8 0,707 0,834 32 0,349 0,449 80 0,220 0,286 9 0,666 0,798 33 0,344 0,442 85 0,213 0,278 10 0,632 0,765 34 0,339 0,436 90 0,207 0,270

11 0,602 0,735 35 0,334 0,430 95 0,202 0,263 12 0,576 0,708 36 0,329 0,424 100 0,195 0,256 13 0,553 0,684 37 0,325 0,418 125 0,176 0,230 14 0,532 0,661 38 0,320 0,413 150 0,159 0,210 15 0,514 0,641 39 0,316 0,408 175 0,148 0,194

16 0,497 0,623 40 0,312 0,403 200 0,138 0,181 17 0,482 0,606 41 0,308 0,398 300 0,113 0,148 18 0,468 0,590 42 0,304 0,393 400 0,098 0,128 19 0,456 0,575 43 0,301 0,389 500 0,088 0,115 20 0,444 0,561 44 0,297 0,384 600 0,080 0,105

(30)

21 0,433 0,549 45 0,294 0,380 700 0,074 0,097 22 0,482 0,537 46 0,291 0,376 800 0,070 0,091 23 0,413 0,526 47 0,288 0,372 900 0,065 0,086 24 0,414 0,515 48 0,284 0,368 1000 0,062 0,081

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.317)

2. Validitas Internal

Dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan. Dengan kata lain sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas internal apabila setiap bagian instrumen mendukung ”misi” instrumen secara keseluruhan, yaitu mengungkap data dari variabel yang dimaksud.

2.2.11 Uji Reliabilitas

Menurut Sugiyono (2004, p110), reliabilitas adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, maka akan menghasilkan data yang sama.

Menurut Uma Sekaran (2004, p44), reliabilitas merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk pengukuran suatu konsep ditunjukkan oleh seberapa jauh instrumen tersebut bebas dari kesalahan.

Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan:

(31)

a. Test-retest Dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden.

Jadi dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama, dan waktunya yang berbeda.

b. Ekuivalen

Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan dengan bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Pengujian reliabilitas dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda.

c. Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang ekuivalen itu beberapa kali, pada responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan kedua.

d. Internal consistency

Dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Suatu instrumen dapat dikatakan andal (reliable) bila memiliki koefesien keandalan reabilitas sebesar 0,6 atau lebih untuk menentukan kriteria indeks reabilitas adalah sebagai berikut:

(32)

Tabel 2.5

Tabel Indeks Reliabilitas

Interval Kriteria

<0,200 Sangat Rendah

0,200 – 0,399 Rendah

0,400 -0,599 Cukup

0,600 -0,799 Tinggi

0,800 -1,00 Sangat Tinggi

Sumber :Yarnes, Panduan Aplikasi Statistik (DIOMA, Malang, 2004), p68

Mencari rumus dengan Alpha :

Sumber : Prof. Dr. Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, 2002,p193

Keterangan :

r11 = Reabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

σ b2 = Jumlah varians butir σ t = Varians total

⎟⎟

⎜⎜

Σ

= 22

11 1

1 t

b k

r k

σ σ  

(33)

Sebelum mencari reliabilitas dengan rumus Alpha Cronbach, maka terlebih dahulu dicari varians nya dengan sebagai berikut :

Sumber : Sudjana, Metode Statistika (Tarsito, Bandung 2002), hal 94

Keterangan :

n = Jumlah peserta uji coba ( Sampel ) S² = Varians butir

xi = Skor Butir

2.2.12 Pengujian Persyaratan Analisis

Pengujian normalitas dan homogenitas merupakan persyaratan yang harus dipenuhi agar regresi linear dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Pengujian normalitas dilakukan untuk menguji kenormalan distribusi galat taksiran (Ү-Ŷ).

Menurut Sudjana (2005,h466), pengujian normalitas yang digunakan dikenal dengan nama Uji Liliefors. Sedangkan pengujian homogenitas yang dilakukan menggunakan Uji Bartlett. Pengujian dilakukan untuk menguji kesamaan varians dari pasangan variabel Y-X.

( )

n

( )

1

n

Xi Xi

S n

2 2 2

=

(34)

  2.2.13 Analisis Regresi Linier Sederhana

Dalam buku Sugiyono (2004, p.204), regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen dengan satu variabel dependen.

Persamaan umum regresi linier sederhana adalah :

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.204)

Selain itu harga a dan b dapat dicari dengan rumus :

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.206

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.206)

Keterangan :

a : Harga Y bila X = 0 (harga konstan)

b : Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka

peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen. Nilai b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan.

X : Subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu.

Ý = a + bX

(35)

Y : Subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan.

Xi : Variabel bebas X yang ke-i Yi : Variabel terikat Y yang ke-i

2.2.14 Analisis Korelasi Sederhana

Menurut Sugiyono (2004, p.182), koefisien korelasi dapat dicari menggunakan metode korelasi Product Moment, yaitu:

   

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.182)

(Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.182)

Keterangan :

r : Koefisien korelasi n : Jumlah sampel ∑X : Jumlah variabel X

∑Y : Jumlah varibel Y

(36)

Menurut Sudjana (2005, p47), Product Moment lebih sering digunakan karena:

a. Perhitungannya sederhana dan besar-besaran yang diperlukan bisa langsung diperoleh dari besar-besaran yang ada pada saat menentukan regresi Y atas X.

b. Kekeliruan yang terjadi pada hasil akhir r sangat kecil karena lebih sering terlibat dalam bentuk data asli.

c. Tanda untuk r, positif atau negatif bisa langsung diperoleh.

d. Mudah untuk dibuat program perhitungan apabila menggunakan bantuan komputer.

Dalam buku Sugiyono (2004, p.183), untuk dapat memberikan interpretasi terhadap kuatnya hubungan antara variabel X dan Y, maka digunakan pedoman koefisien korelasi sebagai berikut :

Tabel : 2.6

Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2004), p.183

Gambar

Tabel 2.2 Variabel, Dimensi &amp; Indikator Kinerja user
Tabel Indeks Reliabilitas

Referensi

Dokumen terkait

Target penerimaan perpajakan pada APBN tahun 2013 ditetapkan sebesar Rp1.193,0 triliun, terdiri atas pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp1.134,3 triliun

Kecambah dibungkus dengan kain kasa% kain kasa memiliki pori&gt;pori yang cukup besar sehingga dapat digunakan untuk memberi ruang atau celah yang dapat dilewati oleh oksigen dan

(3) Apabila hasil pemeriksaan sebagaimana yang dimaksud ayat (1) pasal ini ternyata menimbulkan gangguan yang membahayakan lingkungan, kepada perusahaan tersebut

Maka dari itu perlu adanya dukungan dari keluarga dan orang tua kepada anak untuk terus memotivasi agar dapat berprestasi disekolah maupun diluar sekolah karena dukungan

Jadi, dari hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan komitmen organisasi karyawan office PT Jadi Abadi Corak

Menurutnya kalau yang dimkasud jilbab adalah baju, maka ia adalah pakaian yang menutupi tangan dan kakinya, kalau kata “jilbab” diartikan sebagai kerudung, maka yang

Pada pelaksanaanya ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan agar sistem pendidikan (pembelajaran) jarak jauh dapat berjalan dengan baik yaitu tingkat perhatian

Terjadinya penurunan kualitas air karena adanya kadar minyak yang terkandung pada telur yang telah menetas (larva), sehingga hal ini memberikan pengaruh yang