BAB III METODE PENELITIAN DALAM PENDAMPINGAN
F. Teknik Pengumpulan Data
D.Langkah- langkah pendampingan dengan Pendekatan ABCD E. Subyek Penelitian
F. Teknik Pengumpulan data G.Teknik Validasi Data H.Teknik Analisis Data
BAB IV: PROFIL LOKASI DAMPINGAN
Membahas tentang gambaran umum pendampingan yang meliputi realitas masyarakat Kelurahan Sidomulyo yaitu:
A.Realitas kelurahan Sidomulyo
1. Keadaan Geografis dan keadaan iklim 2. Keadaan Demografis
B.Strategi Fasilitas Publik 1. Tempat pendidikan 2. Agama dn tempat ibadah C.Kesehatan
D.Adat dan Kebudayaan
BAB V: PENGENALAN ASET DAN POTENSI PENDAMPINGAN
A.Aset-aset dan Potensi 1. Asset
a. Aset Alam
c. Aset Infrastruktur d. Aset Finansial 2. Potensi
a. Pemetaan Asset Komunitas
b. Analisis Ember Bococr (Leaky Bucket)
B.Peluang dan Hambatan dalam Pendampingan a. Faktor penghambat
b. Faktor pendukung
BAB VI: DINAMIKA PENDAMPINGAN
Membahas proses pendampingan tahap terakhir yakni:
A.Inkulturasi
B.Kejayaan di Masa Lalu
C.Mewujudkan segala mimpi dan Kemandirian (Dream)
D.Merencanakan Kegiatan Masa Depan (Design)
E. Menentukan kekuatan untuk mewujudkan Impian (Define)
F. Melaksanakan Rencana Masyarakat (Destiny)
G.Monitoring, Pembelanjaan dan evaluasi pendampingan H.Manfaat yang di dapat perempuan pasif menuju perubahan I. Mengasah kembali keterampilan terkait Aset yang dimiliki
BAB VII: REFLEKSI
Membahas tentang refleksi atas pendampingan yang dilakukan mulai dari proses pendampingan sampai akhir pendampingan.
BAB VIII: PENUTUP
Membahas tentang penutup dari proses pendampingan yang meliputi kesimpulan perubahan proses dampingan ini, adanya saran serta rekomendasi atas pendampingan yang dilakukan.
BAB II
PERSPER TIF TEORITIS
A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
1. Pengertian Pemberdayaan
Istilah pemberdayaan (empowerment) menurut Ginanjar Kartasasmita, pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi serta berupaya untuk mengembangkan.1 Sedangkan menurut Wuradji yang dikutip oleh Aziz pemberdayaan adalah sebuah proses penyadaran masyarakat yang dilakukan secara transformatif, partisipatif dan kesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani berbagai persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisi hidup sesuai dengan harapan.2
Dengan kata lain pemberdayaan merupakan sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, sedangkan sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial.3
Dari pengertian diatas, maka dapat disimpilkan bahwa pengertian pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan bersama-sama melalui
1
Ginanjar Kartasasmita, Pengembangan Untuk Rak yat:Meadukan Pertumbuhan dan Pemerataan,
(Jaka rta: PT. Pustaka Cidesindo, 1996), hal. 145. 2
Aziz Muslim, Metodologi Pengembangan Masyarakat, (Yogyakarta: Te ras, 2009), ha l. 3. 3
serangkaian kegiatan untuk memperkuat keberdayaan suatu kelompok lemah dalam masyarakat untuk mencapai tujuan kemandirian hidup yang lebih baik.
2. Ekonomi masyarakat Nelayan
Pada umumnya masyarakat nelayan di desa-desa pantai Utara Jawa menghadapi persoalan yang sama dengan nelayan Indramayu. Nelayan yang bisa bertahan atau meningkatkan kesejahteraan hidupnya adalah nelayan-nelyan bermodal besar, yang kemampuan jelajah penangkapannya hingga ke lepas pantai (off shore). Jumlah mereka relatif kecil. Sebaliknya, untuk nelayan kecil atau nelayan tradisional dengan kepemilikan kemampuan peralatan tangkap dna modal usaha yang terbatas, harus puas dengan kenyataan kepahitan hidup dan persaingan yang semakin keras dalam memperoleh hasil tangkap.
Secara sosial ekonomi, tingkat kehidupan nelayan kecil atau nelayan tradisional, tidak banyak berubah. Artinya, tingkat kesejahteraan mereka semakin merosot jika dibandingkan masa- masa tahun 1970-an. Hal yang sama (bahkan lebih parah) juga dialami oleh para nelayan tradisional atau nelayan dengan peralatan tangkap yang lebih modern, seperti perahu sleker.
Karena tingkat sosial ekonomi dan kesejahteraan hidup yang rendah, dalam struktur masyarakat nelayan maka nelayan buruh merupakan lapisan sosial yang paling miskin.
Kaum perempuan di desa-desa nelayan tidak sekedar membantu suami mencari nafkah, tetapi mereke sangat menentukan kelangsungan hidup
keluarga. Dari sisi tanggung jawab sosial ekonomi keluarga ini, suami dan istri nelayan berposisi sejajar (komplementer). Kaum perempuan dan pranata-pranata sosial budaya yang ada merupakan potensi pembangunan masyarakat nelayan yang bisa dieksplorasi untuk mengatasi kemiskinan dan kesulitan ekonomi lainnya.4
Hal-hal yang menjadi penyebab timbul- nya kelangkaan sumber daya perikanan, yang kemudian mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan, kemiskinan, dan kesejahteraan merupakan sebagian dari sebab-sebab yang kompleks. Sebab-sebab yang kompleks tersebut dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu sebab yang bersifat internal dan sebab eksternal. Kedua kategori sebab kemiskinan tersebut saling berinteraksi dan melengkapi.
Sebab kemiskinan yang bersifat internal berkaita dengan kondisi internal sumber daya manusia nelayan dan aktivitas kerja mereka. Sebab-sebab internal ini mencakup masalah: (1) keterbatasan kualitas sumber daya manusia nelayan, (2) keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan, (3) hubungan kerja (pemiliki perahu- nelayan buruh) dalam organisasi penangkapan yang dianggap kurang menguntungkan nelayan buruh, (4) kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan, (5) ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut, dan (6) gaya hidup
yang dipandang “boros” sehingga kurang berorientasi ke masa depan.
4
Sebab kemiskinan yang bersifat eksternal berkaitan dengan kondisi di luar diri dan aktivitas kerja nelayan. Sebab-sebab eksternal ini mencakup masalah: (1) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial, (2) sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara, (3) kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat, praktik penangkapan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang, dan konversi hutan bakau di kawasan pesisir, (4) penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan, (5 ) penekan hukum yang lemah terhadap perusakan lingkungan, (6) terbatasnya teknologi pengelolaan hasil tangkapan pascapanen, (7) terbatasnya peluang-peluang kerja di sektor nonperikanan yang tersedia di desa-desa nelayan, (8) kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut sepanjang tahun, dan (9) isolasi geografis desa nelayan yang menggunakan mobilitas barang, jasa, modal, dan manusia.
B. Teori Kesadaran
Kesadaran merupakan satu-satunya tingkat kehidupan mental yang secara langsung tersedia bagi kita. Pikiran-pikiran dapat mencapai kesadaran dari dua arah yang beda. Pertama dari sistem sadar persepsi terhadap stimulus-stimulus eksternal. Dengan kata lain, apa yang kita persepsikan melalui organ-organ pancaindra kita bila tidak terlalu mengancam akan memasuki kesadaran.
Sumber kedua dari elemen-elemen sadar berasal dari dalam struktur mental dan meliputi pikiran-pikiran yang tidak mengancam dari alam prasadar (ke pra-sadaran), dan juga pikiran-pikiran yang mengancam tetapi tersamar dengan baik dari ketidaksadaran.5
Kemampuan menyampaikan secara jelas pikiran dan perasaan seseorang, membela diri dan mempertahankan pendapat (sikap asertif), kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dan berdiri dengan kaki sendiri (kemandirian), kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan orang dan menyenangi diri sendiri meskipun seseorang memiliki kelemahan (penghargaan diri), serta kemampuan mewujudkan potensi yang seseorang miliki dan merasa senang (puas) dengan potensi yang seseorang raih di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi (aktualisasi).6
C. Perubahan Sosial dan Teori Dakwah Bil Hall
1. Teori Perubahan dalam Pendekatan Berbasis Asset
Pengembangan masyarakat ada dua yakni berbasis kelemahan dan pendekatan berbasis kekuatan. Pendekatan berbasis aset memasukkan cara pandang baru yang lebih holistis dan kreatif dalam melihat realitas seperti melihat gelas setengah penuh; mengapresiasi apa yang berkerja dengan baik dimasa lampau, dan menggunakan apa yang kita miliki untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.7 Pendekatan ini lebih
5
Yustinus Semiun, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 59.
6
Ibid, ha l. 60. 7
Christoper Dereau, Pe mbaru dan Kek uatan Lok al untuk Pembangunan , Australian Co mmun ity Develop ment and Civ il Soc iety Strengthening Scheme (A CCESS) Phase II, 2013 ). ha l. 3
memilih cara pandang bahwa masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dapat diberdayakan.
Pendekatan berbasis kekuatan melihat realitas dengan cara yang jauh lebih alami dan holistik. Kegiatan pembangunan harus diterapkan dalam konteks organisme hidup yang memiliki sejarah dan aspirasi untuk masa depan yang lebih baik. Selain menggunakan logika dan analisis, memori dan imajinasi juga penting dihidupkan dalam menciptakan perubahan. Proses perubahan adalah upaya bersengaja menggumpulkan apa yang memberi hidup pada masa lalu (memori) dan apa yang member harapan untuk masa depan (imajinasi). Proses tersebut didasarkan pada apa yang sedang terjadi sekarang dan memobilisasi apa yang sudah ada sebagai potensi.
Aset adalah segala bentuk yang berharga, bernilai sebagai kekayaan atau perbendaharaan. Segala yang bernilai disebut memiliki guna untuk memenuhi kebutuhan.8 Pendekatan berbasis aset membantu komunitas melihat kenyataan mereka dan kemungkinan perubahan secara berbeda. Mempromosikan perubahan fokus pada apa yang mereka ingin capai dan membantu mereka menemukan cara baru dan kreatif unutk mewujudkan visi mereka. Datangnya fasilitator pada komunitas mereka tidak hanya sekedar sebagai pengamat yang melihat keseharian mereka. Akan tetapi ikut berperan membaur dengan nelayan yang berada di sekitar pantai Boom Tuban untuk membangun keesadaran masyarakat
8
Agus Afandi, dkk, Modul Participatory Action Research. Surabaya: LPPM UIN Sunan Ampel. 2014. ha l 308
dalam meningkatkan ekonomi serta memanfaatkan aset yang ada. Perlu adanya perhatian bukan fasilitator yang menjadi tokoh utama, akan tetapi masyarakatlah yang menjadi aktor penting untuk menuju perubahan yang diinginkan. Tugas fasilitator bagaimana membangun paradigma diantara mereka dan membangun masyarakat menjadi lebih baik.
2. Teori Manaje men Pengelolaan Asset
Setiap organisasi perusahaan swasta maupun pemerintah aset baik yang berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intagible). Setiap aset dan efesian sehingga aset tersebut dapat memberikan manfaat tertinggi bagi perusahaan. Istilah manjemen aset mungkin jarang didengar atau mengatakan istilah menejemen dan aset secara terpisah. Manajemen yang dimaksud, yaitu Planning, Organizing, Leading, dan Controling, sedangkan yang dimaksud dengan aset pada umumnya adalah kekayaan. Kekayaan itu bisa dalam bentuk kekayaan yang terwujud (fisik) maupun tidak terwujud. Aset adalah segala sesuatu yang memiliki nilai ekonomi yang dapat dimiliki baik oleh individu, perusahaan, maupun dimiliki pemerintah yang dapat dimiliki finansial.9
Berdasarkan pada pengelolaan aset fisik, secara definitif manajemen aset adalah ilmu dan seni untuk memadu pengelolaan kekayaan yang mencakup proses merencanakan kebutuhan aset, mendapatkan, menginventarisasi, melakukan legal audit, menilai,
9
http://Novian-hidayat-apprraisal.blogspot.co.id/2014/ 09/definisimana je men-aset.html? m=1 Dia kses 16 September 2016
mengoprasikan, memelihara, membaharukan atau menghapuskan hingga mengalihkan aset secara efektif dan efesien.
Majanemen adalah suatu proses yang diterapkan individu atau kelompok dalam upaya koordinasi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam bukunya George R. Terry manajemen adalah suatu proses yang membedakan atau perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.10 Aset adalah barang, yang didalam pengertian hukum disebut benda, terdiri dari benda bergerak dan benda tidak bergerak, baik yang berwujud (tangible)
maupun tidak berwujud (intangaible), yang tercakup dalam aktiva atau aset dari suatu instasi, organisasi, badan usaha ataupun individu perorangan. 11
3. Dawkah bil Hall
Dawkah bil Hall adalah dakwah dengan mengunakan perbuatan atau teladan pesannya. Dakwah bil Hall biasa juga disebut dakwah alamiah. Maksudnya, dengan menggunakan pesan dalam bentuk perbuatan, dakwah dilakukan sebagai upaya pemberantasan kemungkaran secara langsung (fisik) maupun langsung menegakkan
ma’ruf (kebaikan) seperti membangun masjid sekolah, atau apa saja yang
10
George R. Terry dan Leslie W. Rue, 1996, Dasar-dasar Manjemen, (Bu mi Aksara: Jaka rta) hal.2
11
Muchar Hidayat, 2012, Manajemen Aset (Privat atau Publik), (Laks Bang PRESSindo, Yogyaka rta, 2012) ha l, 4.
mudah dikerjakan bersifat mewujudkan pelaksanaan syariat Allah SWT dari segala aspeknya.
Praktik dakwah seperti demikian pada hakikatnya merupakan
“dakwah diam”, artinya melakukan dakwah secara diam-diam yang langsung mengajak berbuat secara islami, sehingga mudah dipahami khalayak untuk meniru atau ikut berpartisipasi melakukan kegiatan yang dicontohkannya itu.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk
mentransformasikan pertumbuhan masyarakat sebagai kekuatan nyata masyarakat, untuk melindungi dan memperjuangkan nilai- nilai dan kepentingan di dalam arena segenap aspek kehidupan. Pemberdayaan masyarakat mempunyai arti meningkatkan kemmapuan atau meningkatkan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan masyarakat bukan hanya meliputi penguatan individu tetapi juga pranata-pranata sosialnya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah yang menyeru manusia untuk selalu berusaha dalam menghadapi masalah hidup sebagai masalah pengembangan dan pemberdayaan umat Islam khususnya, sebagaimana termaktub dalam Mushaf Al-qur’an surat Ar rad ayat 11:
...
...Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.12
Dari ayat di atas ada indikasi bahwa Allah tidak akan merubah keadaan mereka (kaum) selama mereke (kaum) tidak merubah sebab-sebab kemunduran mereka, maksudnya Allah menyuruh atau mengajak kita agar mau berusaha dalam menghadapi permasalahan yang ada, tidak lengah dan mudah putus asa yang mana pada dasanya Allah tidak akan memberikan cobaan atau musibah kepada hambanya diluar kemampuan dan Allah tidak merubah nasib hambanya selama hamba tersebut tidak mau berusaha dan bertindak yang lebih baik lagi.
Allah juga akan murka dan marah pada hambanya yang tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan hanya pasrah saja dalam menghadapi permasalahan yang ada. Dengan ini diharapkan masyarakat nelayan mampu untuk berusaha hidup agar lebih baik dari hari- hari sebelumnya.
Jika ingin meningkatkan taraf hidupnya dan membangun sosialnya, haruslah berangkat dari diri masing- masing. Bukan semacam pembangunan model top down yang telah banyak terbukti kurang efektif dalam membangun masyarakat. Karena pembangunan masyarakat yang ideal menekankan keterlibatan masyarakat secara sadar dalam
12
Departe man Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Bandung: Ge ma Risalah Press 2006, hal 315
pembangunan.13 Pemanfaatan potensi pengetahuan pengelolaan tentu saja digunakan sebagai alat untuk memberdayakan mereka sendiri. Pengetahuan yang dimiliki, dikembangkan serta diaplikasikan didalam kehidupan jika ingin mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Karakter dan perilaku masyarakat merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan pembangunan suatu masyarakat. Selain memiliki rasa tanggung jawab mereka juga harus memiliki sifat sebagai warga desa beriman yang menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Begitu pula dengan sifat sabar dan penolong sesama manusia. Dengan begitu masyarakat memiliki ilmu pengetahuan dan pemikiran yang bisa merubah dan mengembangkan pembangunan yang ada di dalam desa mereka. Begitu pula dengan masyarakat nelayan, mereka harus memiliki kreteria masyarakat ideal yang sudah diterangkan dalam Al-Qur’an, bahwasannya masyarakat harus memiliki jiwa yang beriman
kepada Tuhan dan memiliki pemikiran yang inovatif. Semua ini harus diterpakan di dalam jiwa masyarakat kelurahan Sidomumulyo. Pada hakekatnya dakwah adalah usaha atau upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi suatu keadaan yang lebih baik menurut tolak ukur agama Islam.
Dan tidak hanya itu dalam Al-Qur’an pun telah di ajarkan
bahwasanya Allah Swt telah memberikan amanah kepada umat manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Berkaitan dengan amanah
13
Nanih Mahendrawati, Pengembangan Masyarakat Islam, (Bandung : PT Re maja Rosda Karya, 2001), hal.156
tersebut Allah Swt member kewenangan kepada manusia untuk memanfaatkan segala sumberdaya yang ada dimuka bumi dalam batas kewajaran untuk kemaslahatan bersama, Allah berfirman dalam Al Qasas ayat 77:
dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah ka mu me lupakan bahagianmu dari (ken ikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepada mu, dan janganlah ka mu berbuat kerusakan di (mu ka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyuka i orang-orang yang berbuat kerusakan..14
Dari arti diatas telah jelas bahwasanya dakwah yang seharusnya dilakukan umat muslim dimuka bumi ini adalah harus berpijak pada upaya untuk menjalankan aktivitas perekonomian dengan berpegang teguh pada perintah maupun larangan Allah, yang didasarkan pada kesadaran adanya hubungan manusia dengan Allah. Dengan begitu manusianya dapat serta mampu untuk memanfaatkan aset yang ada disekelilingnya dengan sebaik mungkin.
14
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, k esan dan k eserasian Al-Qur’an, Vo lu me 10, (Jaka rta, Lentera Hati. 2002) hal. 405
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian untuk Pendampingan
Metode Asset besed community development (ABCD) dianggap sebagai pendekatan tepat untuk persoalan diatas. Hal ini karena ABCD merupakan sebuah pendekatan dalam pengembanga masyarakat yang berada dalam aliran besar mengupayakan terwujudnya sebuah tatanan kehidupan sosial dimana masyarakat menjadi pelaku dan penentu upaya pembangunan di lingkungnnya atau yang seringkali disebut dengan Community-Driven Development (CDD). Upaya pengembangan masyarakat harus dilaksanakan dengan sejak dari awal menempatkan manusia untuk mengetahui apa yang dipunyai yang potensi untuk dimanfaatkan. Hanya dengan mengetahui kekuatan dan aset, diharapkan manusia mengetahui dan bersemangat untuk terlibat sebagai aktor dan oleh karenanya memiliki inisiatif dalam segala upaya perbaikan.1
Dengen mengetahui kekuatan dan aset yang dimiliki, serta memiliki agenda perubahan yang dirumuskan bersama, persoalan keberlanjutan sebuah program perbaikan kualitas kehidupan diharapkan dapat diwujudkan. Melalui pendekatan ABCD, warga masyarakat difasilitsi untuk merumuskan agenda perubahan yang mereka anggap penting. Kegiatan riset pendampingan dilaksanakan sangat penting untuk memastikan bahwa warga
1
Nadhir Sa lahuddin, dkk, Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya, (LPPM IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2015), hal. 14-15.
masyarakat berkesempatan untuk turut serta sebagai penentu agenda perubahan tersebut. Perubahan menuju kepada upaya perbaikan hanya dapat diwujudkan tatkala manusia dapat mencermati hal terbaik dalam dirinya, dan mengoptimalkan hal baik tersebut untuk apapun yang diimp ikannya.
B. Asset Based Community Development (ABCD)
Metode (ABCD) Asset Based Community Development adalah pendekatan pendampingan yang mengupayakan pengembangan masyarakat harus dilaksanakan dengan sejak awal menempatkan manusia untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki serta segenap potensi dan aset yang dipunyai yang potensial untuk dimanfaatkan. Pendekatan ABCD merupakan pendekatan yang mengarah pada pemahaman dan internalisasi asset, potensi, kekuatan, dan pendayagunaannya secara mandiri dan maksimal. Prinsip pengambangan masyarakat berbasis asset (ABCD) sebagai berikut: Setengah terisi lebih berarti, semua punya potensi, Partisipasi, Kemitraan, Penyimpangan Positif, Berasal dari dalam masyarakat, dan Mengarah pada sumber energi.2
Asset adalah segala sesuatu yang berharga, bernilai sebagai kekayaan atau perbendaharaan. Segala yang bernilai tersebut memiliki guna untuk memenuhi kebutuhan.3
Asset Bassed Community Development atau (ABCD) menurut R.M. Brown ialah: Bila anda mencari masalah, anda akan menemukan lebih
2
Nadhir Salahuddin, dkk, Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya, (LPPM IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2015), hal. 26.
3
Agus Afandi, dkk, Modul Perticipatory Action Research, (Surabaya: LPPM UIN Sunan Ampe l, 2014), hal. 308.
banyak masalah; Bila anda mencari sukses, anda akan menemukan lebih banyak sukses bila Anda percaya pada mimpi, Anda akan merengkuh keajaiban maka motto kami adalah “mencari akar penyebab sukses” dan bukan “akar penyebab masalah.4
Untuk menggali potensi-potensi masyarakat selain model yang diatas, masih ada strategi lain yang digunakan oleh fasilitator yang dilakukan bersama untuk terwujudnya pendampingan yang akan dilakukan bersama. Strategi-strategi tersebut diantaranya:
1. Discovery (menemukan), 2. Dream (mimpi),
3. Design (merancang), 4. Define (menentukan), dan 5. Destiny (memastikan)
Model ini memutuskan posisinya pada kekuatan dan keberhasilan diri dan komunitas yang bertujuan merangsang kreativitas, inspirasi, dan inovasi masyarakat untuk mendapatkan kembali masa kejayaan yang pernah mereka peroleh dahulu. Kemampuan terkait potensi, kekuatan, keberhasilan, serta dibarengi dengan aset yang mereka miliki akan memberikan energy positif untuk membantu dan mengembalikan kekuatan dan keberhasila n mereka dalam mengubah cara pandang terhadap segala sesuatu menjadi lebih baik dalam segi berbagai hal bahwa kita mampu dan bisa merubah kondisi hidup diri sendiri maupun orang lain.
4
Christopher Dureuau, Pembaru dan Kekuatan Lokal untuk Pembangunan, Australian Co mmunity Develop ment and Civil Siciety St reangthening Scheme (A CCESS) Tahap II, (Agustus 2013), hal. 59.
Tahap pertama yakni Discovery, yakni menemukan kembali apa yang dimiliki dari setiap individu maupun komunitas. Tujuan dari tahap ini adalah menemukan dan mengapresiasi energi positif yang ada disertai keberhasilan-keberhasilan yang pernah diperoleh dengan cara menceritakan kembali peristiwa-peristiwa penting keberhasilan masyarakat. Komunitas diajak menceritakan dan memahami apa-apa yang telah mereka dapatkan pada masa lalu.
Dengan dilakukan tahap ini masyarakat bisa merenungkan akan masa kejayaan yang pernah mereka peroleh mulai dari bagaimana cara mereka melakukan, kerja keras, proses, sampai mereka mendapatkan keberhasilan tersebut. Dengan cara memberikan waktu untuk mereka bercerita dan mengungkapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang membanggakan.
Tahap ini perlu dilakukan dengan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat yang bertujuan menemukan kembali segala sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa (positif- negatif), dimana pertukaran cerita atau pendapat dari tiap-tiap individu dalam suatu komunitas sedang terjadi. Bila tahap ini berhasil maka langkah- langkah selanjutnya tidaklah tertalu sulit.5
Tahap kedua yaitu Dream, yakni membayangkan atau memimpikan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan yang ingin diwujudkan. Tahap ini merupakan suatu cara untuk menggali apa yang diharapakan pada setiap
5
Dani Wahyu Munggoro dan Budhita Kasmadi, Panduan Fasilitator, (Indonesia Australia Partnership: IDSS Acces Phase II, 2008), hal. 21.