PENDAMPINGAN EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN (Penguatan Ekonomi Keluarga Melalui Pemanfaatan Asset Hasil Laut di
Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban Kota)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Guna Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos)
Oleh :
Moh. Syifa’ Shobirin B92212037
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN MANAJEMEN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
PENDAMPINGAN EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN (Penguatan Ekonomi Keluarga Melalui Pemanfaatan Asset Hasil Laut di
Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban Kota)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Guna Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos)
Oleh :
Moh. Syifa’ Shobirin B92212037
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN MANAJEMEN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
ABSTRAK
Moh. Syifa’ Shobirin, (B92212037), PENDAMPINGAN EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN (Penguatan Ekonomi Keluarga Melalui Pemanfaatan Hasil Laut Berbasis Asset di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban)
Kata Kunci: Pengeloalaan Aset, Ekonomi, Masyarakat Nelayan
Penilaian kesejahteraan ekonomi merupaka n langkah awal masyarakat untuk menemukan dampak yang timbul di tengah-tengah masyarakat nelayan. Wilayah Kelurahan Sidomulyo merupakan daerah yang terletak di area Pesisir Pantau Utara Laut Jawa Kota Tuban. Dengan pemanfaatan aset yang ada secara maksimal akan menjadikan penambahan ekonomi keluarga nelayan. Dengan adanya suatu potensi aset atau sumber daya alam yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal dan berdampak positif bagi masyarakat. Pendampingan yang dilakukan kepada masyarakat menggunakan metode asset besed community development (ABCD).
MOTTO
Wajar saja ketika ada yang menyakiti diri sendiri dinilai tidak waras atau gila. Tapi, lebih tidak waras lagi jika agama dan atas nama Tuhan menjadi alasan bagi manusia untuk saling membenci dan saling menyakiti.
PERSEMBAHAN
Syukur Alhamdulillah, atas pancaran rahmat dan hidayah Sang Mahapencipta hingga karya ini dapat penulis persembahkan kepada orang-orang terkasih
sepanjang masa;
Yang terkasih dan penulis ta’dzimi
Ibu dan Bapak tercinta:
Kesederhanaan, perjungan dan kasih sayangmu
Senantiasa mengalir memotivasi d menginspirasi putra-putramu.
Sahabat-sahabat seperjuangan Pengembangan Masyarakat Islam angkatan 2012 UIN Sunan Ampel Surabaya yang sudah menjadi bagian dialektika dan dinamika
kalian.
Terimakasih kepada semua teman-temanku yang sudah merelakan banyak waktunya untuk membantuku menyelesaikan jalannya proses mulai dari awal sampai akhir pembuatan karya Skripsi, baik dalam bentuk materil, fikiran dan
tenaganya.
Terimakasih kepada pihak-pihak dinas terkait yang sudah membatu jalannya kelancarnya menyelesaikan tugas skripsi ini.
Terimaksih kepada seluruh dulur-dulur Jannatul Maiyah Nusantara yang selalu melahirkan generasi-generasi baru.
Terimakasih kepada semua dulur-dulur dari Ikatan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (IMARO) yang telah menjadi dialektika kehidupan di tanah rantau ini.
Kata Pengantar
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufiq, hidayah serta karunian-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Skripsi ini. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada
Nabi Muhammad SAW yang selalu mengembangkan ajaran Islam di muka
bumi. Semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai dan mendapat
syafaat di hadapan-Nya nanti.
Selanjutnya secara moral, materil, dan intelektual, penulis
menghaturkan segenap terimakasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak
yang terlibat dalam proses pendewasaan penulis sehingga dapat terus
berproses dan berdealiktika menuju proses yang diridhoi. Terucap
terimkasih kepada:
1. Ibunda Siti Nur Syamsyiah dan Ayahanda Nur Wahib yang telah
mengajarkan penulis tentang, kedigdayaan, kesederhanaan dan kesolehan
hidup.
2. Prof. Dr. H. Abdul A’la, M.Ag sebagai Rektor yang gagah memimpin
UIN Sunan Ampel Surabaya.
3. Dr. Hj. Rr. Suhartini, M.Si selaku Dekan Fakultas Dakwah dan
Komunikasi.
5. Drs. H. Hasan Bisri WD, M.A selaku dosen pembimbing yang selalu
memberikan bimbingan, arahan serta motivasi dna dukungan sehingga
penulis dapat menulis skripsi dengan baik.
6. Drs. Agus Afandi, M.Fil.I, selaku dosen penguji yang mengarahkan
semua penulisan dan penyajian data yang mendetail, sehingga penulis
dapat menulis skripsi dengan lebih baik.
7. Kepada seluruh civitas akademika yang telah memberikan semangat dan
motivasi untuk tetap semangat.
8. Keluarga Bapak Mubin dan Ibu Karmulin sekeluarga serta Masyarakat
Kelurahan Sidomulyo, memberikan pelajaran hidup yang nyata dan
kemauan keras untuk berjuang menunjukkan kekuatan masyarakat untuk
mewujudkan mimpi menjadi masyarakat yang mandiri
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini membawa manfaat bagi
kita semua dan bagi penulis Khususnya. Amin.
Surabaya, 28 Januari 2017
DAFTAR ISI
COVER ...
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iii A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Fokus Pendampingan ... 3
C.Pihak-pihak yang g terkait ... 4
D.Agenda Dampingan ... 5
E.Sistematika Pendampingan ... 7
BAB II KAJIAN TEORI A.Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat... 12
B.Teori Kesadaran... 15
C.Perubahan Sosial dan Teori Dakwah Bil Hall ... 16
1. Teori perubahan dalam pendekatan Berbasis Asset ... 16
2. Teori Manajemen pengelolaan asset ... 18
3. Teori Dakwah Bil Hall ... 19
BAB III METODE PENELITIAN DALAM PENDAMPINGAN A.Pendekatan Penelitian ... 24
B.Asset Besed Community Development... 25
C.Prinsip-prinsip Penelitian ... 30
D.Langkah-langkah Pendampingan dengan pendekatan ABCD.... 35
E.Subjek Penelitian ... 38
F. Teknik Pengumpulan Data ... 39
G.Teknik Validasi Data ... 42
H.Teknik Analisis Data... 44
BAB IV PROFIL DAMPINGAN A.Realitas Keluraha Sidomulyo ... 48
B.Strategi Fasilitas Publik ... 52
C.Kesehatan... 54
BAB V PENGENALAN ASET DAN POTENSI PENDAMPINGAN
A.Aset-aset dan Potensi ... 59
B.Peluang dan Hambatan dalam pendampingan ... 69
BAB VI DINAMIKA PENDAMPINGAN KELUARGA A.Inkulturasi ... 74
B.Kejayaan di Masa Lalu ... 79
C.Mewujudkan segala impian dan Kemandirian (Dream) ... 81
D.Merencanakan Kegiatan Masa Depan (Design) ... 82
E.Menentukan kekuatan untuk mewujudkan Impian (Define) ... 85
F. Melaksanakan Rencana Masyarakat (Destiny) ... 87
G.Monitoring, pembelajaran dan evaluasi pendampingan ... 88
H.Manfaat yang di dapat perempuan pasif menuju perubahan ... 90
I. Mengasah kembali keterampilan terkait Aset yang dimiliki ... 92
BAB VII REFLEKSI PENDAMPINGAN ... 95
BAB VIII PENUTUP A.KESIMPULAN ... 100
B.SARAN ... 102
C.Rekomendasi ... 103 DAFTAR PUSTAKA
Daftar Tabel
Daftar Keterangan Halaman
Tabel 1.1 Jadwal Pendampingan 5
Tabel 4.1 Batas wilayah Kelurahan Sidomulyo 49
Tabel 4.2 Penduduk menurut Usia 51
Tabel 4.3 Penduduk menurut kepercayaan 52
Tabel 4.4 Sarana prasarana keagamaan 52
Tabel 4.5 Sarana Kesehatan 53
Tabel 5.1 Asset Fisik 61
Tabel 5.2 Data Pendidikan 63
Tabel 5.3 Penduduk menurut mata pencaharian 64
Tabel 5.4 Keuangan atau Leacky Bucket Perbulan 67
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR KETERANGAN Halaman
Gambar 4.1
Peta Kelurahan Sidomulyo 48
Gambar 6.1
FGD bersama warga 77
Gambar 6.2 Mengelolah bahan untuk
dijadikan makanan 84
Gambar 6.3
Olahan makanan 86
Gambar 6.4 Bersama ibu-ibu membuat
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota Tuban adalah sebuah kota yang akrab dijuluki dengan kota
Ronggolawe dan Kota Toak, karena banyaknya petani penghasil toak, legen dan buah siwalan di kota ini, serta Bumi Wali pada pemerintahan Bupati
Tuban Fathul Huda. Kota kecil tersebut kini menjadi kota industri
dikarenakan ada beberapa perusahaan besar yang beroperasi disana, seperti
PT. Semen Gresik, PT. TPPI dan PT. Holcim Indonesia. Selain dikenal
dengan kota industri Tuban juga terkenal dengan objek wisata, seperti
Sunan Bonang, Air Terjun Nglirip, Goa Akbar dan Klenteng Kwan Sing Bio
yang merupakan klenteng terbesar di asia tenggara. Disisi lain Tuban juga
terkenal dengan kerajinan batik yaitu batik gedog dan predikat sebagai kota
Adipura.1
Kelurahan Sidomulyo terletak 0,5 Km dari pusat pemerintahan
Kabupaten Tuban, merupakan salah satu kawasan pemukiman pesisir kota
tuban, yang mana mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai
nelayan. Nelayan dan komunitas desa pesisir adalah bagian dari kelompok
masyarakat miskin yang berada pada level paling bawah dan seringkali
menjadi korban pertama yang paling menderita akibat tidak berdayaan dan
kerentanannya. Berbagai kajian yang telah dilakukan me nemukan, bahwa
1
http://www.k erjaterus.com/2012/11/leistimewaan -k ota-tuban.html. Di a kses pada tanggal 10
para nelayan bukan saja sehari- hari harus berhadapan dengan ketidakpastian
pendapatan dan tekanan musim paceklik ikan yang panjang, tetapi mereka
juga dihadapkan menajemen penegelolaan keuangan dan pemasaran hasil
produksinya dan lebih dari itu mereka juga sering harus berhadapan dengan
berbagai tekanan dan bentuk pemerasan, penguasaan yang muncul
beramaan dengan berkembangnya proses modernisasi di sektor perikanan.
Masyarakat nelayan (Fisher Society) dalam hal ini bukan hanya mereka yang dalam mengatur hidup dan kehidupannya hanya bertarung
berperang melawan benturan-benturan badai siang dan malam hari, hanya
sekedar mencari sesuap yang bisa menghidupi keluarganya. Mengingat
manusia hidup ditengah-tengah masyarakat, bukan hidup ditengah hutan,
yang mana faktor lingkungan besar sekali pengaruhnya terhadap kehidupan
manusia dalam masyarakat.
Kondisi masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir merupakan
kelompok masyarakat yang relatif tertinggal secara ekonomi, sosial
(khususnya dalam hal akses pendidikan dan layanan kesehatan), dan
kultural dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Kondisi
masyarakat pesisir atau masyarakat nelayan diberbagai kawasan pada
umumnya ditandai oleh adanya beberapa ciri, seperti kemiskinan,
keterbelakangan sosial-budaya, rendahnya sumber daya manusia (SDM)
karena sebagian besar penduduknya hanya lulus sekolah dasar atau belum
Bersama (KUB), Lembaga Keuangan Mikro (LKM), atau kapasitas
berorganisasi masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat umumnya dirancang dan dilaksanakan
secara komprohensif. Meminjam definisi Asian Development Bank (ABD), kegiatan pembangunan termasuk kegiatan pemberdayaan masyarakat
dianggap bersifat komprohensif jika menampilkan lima karateristik yaitu
berbasis lokal, beroriantasi pada peningkatan kesejahteraan, berbasis
kemitraan, secara holistik dan berkelanjutan.
Pemberdayaan berbasis lokal jika perencanaan dan pelaksanaan
dilakukan pada lokasi setempat dan melibatkan sumber da ya lokal return tolocal resource dan hasilnya pun dinikmati oleh masyarakat lokal. Dengan demikian, maka prinsip daya saing kompetitif. Program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat berbasis lokal tidak membuat penduduk lokal
sekedar penonton dan pemerhati di luar sistem, tetapi melibatkan mereka
dalam pembangunan itu sendiri.2
B. Fokus Masalah
Fokus pendampingan ini adalah Penguatan Ekonomi Keluarga
Nelayan Melalui Pemanfaatan Asset Hasil Ikan Laut di Kelurahan
Sidomulyo Kecamatan Tuban Kota.
2
C. Pihak-pihak yang Terkait
Pihak-pihak yang berada pada pendampingan pengembangan ekonomi
lokal warga kelurahan sidomulyo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban
melalui Pendampingan Kelompok Usaha Bersama, sebagaimana berikut:
1. Perangkat Kelurahan Sidomulyo
Mulai dari jajaran warga Kelurahan Sidomulyo Gang Sumur
Serumbung dan Gang Ikan dan Pak RT memiliki peran pada
pendampingan sisi birokrasi serta menghimpun kekuatan masyarakat
terlebih karakter wilayah dampingan kampung urban yang sedikit
pragmatis dan hedonis.
2. Masyarakat Kelurahan Sidomulyo
Masyarakat merupakan pihak penting yang mampu mensukseskan
suatu pendampingan, karena masyarakat adalah objek maupun subjek
dalam suatu pemberdayaan secara mandiri.
3. Lembaga atau perkumpulan warga
Adalah organisasi masyarakat seperti ibu-ibu PKK, Karan Taruna,
Remaja Masjid, dan lain- lain. Organisasi masyarakat mempunyai peran
penting dalam setiap proses perubahan masyarakat, pada proses
pendampingan ini tentu saja membutuhkan bantuan-bantuan dari
organisasi masyarakat. Karena lewat perkumpulan warga itula h proses
pendampingan akan lebih mudah dan lebih efektif dari pada berjalan
sendiri tanpa bantuan pihak manapun. Selain itu, warga dampingan
D. Agenda Pendampingan
Adapun agenda yang akan dilaksanakan dalam “PENDAMPINGAN
EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN (Penguatan Ekonomi Keluarga
Melalui Pemanfaatan Asset Hasil Ikan Laut di Kelurahan Sidomulyo
Kecamatan Tuban)” sebagaimana yang sudah dijadwalkan berikut ini:
Tabel 1.1: Jadwal Pendampingan
No NAMA KEGIATAN
JADWAL
KET Agus
2016
Sept 2016
Okt 2016
Nov 2016
1 Inkulturasi x x 1,5 bulan
2 Discovery x 1 pertemuan
3 Dream x 1 pertemuan
4 Design x 1 pertemuan
5 Difine x 1 pertemuan
6 Destiny x 1 bulan
7 Evaluasi x 1 pertemuan
1. Inkulturasi
Proses inkulturasi ini berlangsung selama hampir dua bulan
lebih, lebih tepatnya 1 bulan 14 hari mulai dari Juli sampai September
2016. Banyak sekali hal yang dilakukan mulai dari wawancara dengan
Pamong Desa, dan mengikuti kegiatan masyarakat untuk menjadi
bagian dari mereka hingga mempunyai modal sosial yang cukup untuk
melalukan proses pendampingan selanjutnya.
2. Discovery
Discovery ini terjadi pada tanggal 16 September 2016, proses ini
lebih menekankan pada bagaimana proses pemapara n pengungkapan
hal- hal yang sudah ada dimasyarakat, berkaitan kejayaan yang pernah
diraih di masa lalu oleh masyarakat Kelurahan Sidomulyo Kecamatan
Tuban.
3. Dream
Menjabarkan proses pendampingan memimpikan apa yang
diinginkan masyarakat dan mengilustrasikannya berbentuk gambar.
Proses ini berlangsung pada tanggal 30 September 2016.
4. Design
Proses ini berlangsung pada tangal 1 Oktober 2016. Proses ini
merancang apa saja baik yakni hal yang dibutuhkan baik itu keuangan,
material, pengetahuan, dan lain sebagainya. Langkah ini merancang
5. Define
Proses ini menentukan langkah-langkah selanjutnya setelah dari
proses dream dan design. Pada proses ini dilakukan pada 29 Oktober
2016, setelah define ini diteruskan lagi pada proses destiny agar
proses pendampingan yang dilakukan agar efektif dan linier.
6. Destiny
Proses ini berlangsung selama satu bulan pada November 2016,
di dalam PAR biasa disebut aksi atas semua yang ditentukan pada
proses difine. Destiny ini sebagai klimaks atas semua proses yang ada
pada pendampingan Asset Bassed Community Development. 7. Evaluasi
Proses ini berlangsung selama 1 kali pertemuan pada tanggal
2016, sebagai evaluasi yang telah dilakukan mulai proses ABCD
yakni discovery hingga destinity. 8. Pelaporan
Pelaporan ini dilakukan sebagai kewajiban akademis, agar bisa dibaca
dan dilihat agar menjadi releksi bersama. Serta sebagai bahan
pendampingan membangun Penguatan Ekonomi Keluarga Nelayan Melalui
Pemanfaatan Asset Hasil Laut di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban”.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penulisan pendampingan ekonomi
Asset Hasil Laut di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Tuban Kabupaten
Tuban”, sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Membahas tentang realitas problematika yang ada di Kelurahan
Sidomulyo, Kecamatan Tuban Kota Kabupaten Tuban, yang meliputi:
A.Latar Belakang Masalah
B.Fokus Pendampingan
C.Pihak-pihak Yang Terlibat
D.Agenda Pendampingan
E. Sistematika Pendampingan
BAB III : KAJIAN TEORI
Membahas teori-teori yang menggiringi pendampingan ini seperti:
teori yang membahas teori pemberdayaan ekonomi nelayan, teori kesadaran
dan teori dakwah bilhal. Teori akan membangun kesadaran dan
meningkatkan pendapatan keluarga nelayan.
BAB III : METODE PENDAMPINGAN
Membahas metode pendampingan yang menjadi acuaan metode
pendampingan yaitu:
A.Pendekatan penelitian
B.Asset Besed Community Development
D.Langkah- langkah pendampingan dengan Pendekatan ABCD
E. Subyek Penelitian
F. Teknik Pengumpulan data
G.Teknik Validasi Data
H.Teknik Analisis Data
BAB IV: PROFIL LOKASI DAMPINGAN
Membahas tentang gambaran umum pendampingan yang meliputi
realitas masyarakat Kelurahan Sidomulyo yaitu:
A.Realitas kelurahan Sidomulyo
1. Keadaan Geografis dan keadaan iklim
2. Keadaan Demografis
B.Strategi Fasilitas Publik
1. Tempat pendidikan
2. Agama dn tempat ibadah
C.Kesehatan
D.Adat dan Kebudayaan
BAB V: PENGENALAN ASET DAN POTENSI PENDAMPINGAN
A.Aset-aset dan Potensi
1. Asset
a. Aset Alam
c. Aset Infrastruktur
d. Aset Finansial
2. Potensi
a. Pemetaan Asset Komunitas
b. Analisis Ember Bococr (Leaky Bucket)
B.Peluang dan Hambatan dalam Pendampingan
a. Faktor penghambat
b. Faktor pendukung
BAB VI: DINAMIKA PENDAMPINGAN
Membahas proses pendampingan tahap terakhir yakni:
A.Inkulturasi
B.Kejayaan di Masa Lalu
C.Mewujudkan segala mimpi dan Kemandirian (Dream)
D.Merencanakan Kegiatan Masa Depan (Design)
E. Menentukan kekuatan untuk mewujudkan Impian (Define)
F. Melaksanakan Rencana Masyarakat (Destiny)
G.Monitoring, Pembelanjaan dan evaluasi pendampingan
H.Manfaat yang di dapat perempuan pasif menuju perubahan
BAB VII: REFLEKSI
Membahas tentang refleksi atas pendampingan yang dilakukan mulai
dari proses pendampingan sampai akhir pendampingan.
BAB VIII: PENUTUP
Membahas tentang penutup dari proses pendampingan yang meliputi
kesimpulan perubahan proses dampingan ini, adanya saran serta
BAB II
PERSPER TIF TEORITIS
A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
1. Pengertian Pemberdayaan
Istilah pemberdayaan (empowerment) menurut Ginanjar Kartasasmita, pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan
mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi serta
berupaya untuk mengembangkan.1 Sedangkan menurut Wuradji yang
dikutip oleh Aziz pemberdayaan adalah sebuah proses penyadaran
masyarakat yang dilakukan secara transformatif, partisipatif dan
kesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani
berbagai persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisi hidup
sesuai dengan harapan.2
Dengan kata lain pemberdayaan merupakan sebuah proses dan tujuan.
Sebagai proses pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk
memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam
masyarakat, sedangkan sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada
keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial.3
Dari pengertian diatas, maka dapat disimpilkan bahwa pengertian
pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan bersama-sama melalui
1
Ginanjar Kartasasmita, Pengembangan Untuk Rak yat:Meadukan Pertumbuhan dan Pemerataan,
(Jaka rta: PT. Pustaka Cidesindo, 1996), hal. 145. 2
Aziz Muslim, Metodologi Pengembangan Masyarakat, (Yogyakarta: Te ras, 2009), ha l. 3. 3
serangkaian kegiatan untuk memperkuat keberdayaan suatu kelompok
lemah dalam masyarakat untuk mencapai tujuan kemandirian hidup yang
lebih baik.
2. Ekonomi masyarakat Nelayan
Pada umumnya masyarakat nelayan di desa-desa pantai Utara Jawa
menghadapi persoalan yang sama dengan nelayan Indramayu. Nelayan yang
bisa bertahan atau meningkatkan kesejahteraan hidupnya adalah
nelayan-nelyan bermodal besar, yang kemampuan jelajah penangkapannya hingga ke
lepas pantai (off shore). Jumlah mereka relatif kecil. Sebaliknya, untuk nelayan kecil atau nelayan tradisional dengan kepemilikan kemampuan
peralatan tangkap dna modal usaha yang terbatas, harus puas dengan
kenyataan kepahitan hidup dan persaingan yang semakin keras dalam
memperoleh hasil tangkap.
Secara sosial ekonomi, tingkat kehidupan nelayan kecil atau nelayan
tradisional, tidak banyak berubah. Artinya, tingkat kesejahteraan mereka
semakin merosot jika dibandingkan masa- masa tahun 1970-an. Hal yang
sama (bahkan lebih parah) juga dialami oleh para nelayan tradisional atau
nelayan dengan peralatan tangkap yang lebih modern, seperti perahu sleker.
Karena tingkat sosial ekonomi dan kesejahteraan hidup yang rendah, dalam
struktur masyarakat nelayan maka nelayan buruh merupakan lapisan sosial
yang paling miskin.
Kaum perempuan di desa-desa nelayan tidak sekedar membantu suami
keluarga. Dari sisi tanggung jawab sosial ekonomi keluarga ini, suami dan
istri nelayan berposisi sejajar (komplementer). Kaum perempuan dan
pranata-pranata sosial budaya yang ada merupakan potensi pembangunan
masyarakat nelayan yang bisa dieksplorasi untuk mengatasi kemiskinan dan
kesulitan ekonomi lainnya.4
Hal-hal yang menjadi penyebab timbul- nya kelangkaan sumber daya
perikanan, yang kemudian mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan,
kemiskinan, dan kesejahteraan merupakan sebagian dari sebab-sebab yang
kompleks. Sebab-sebab yang kompleks tersebut dapat dikategorikan
menjadi dua bagian, yaitu sebab yang bersifat internal dan sebab eksternal.
Kedua kategori sebab kemiskinan tersebut saling berinteraksi dan
melengkapi.
Sebab kemiskinan yang bersifat internal berkaita dengan kondisi
internal sumber daya manusia nelayan dan aktivitas kerja mereka.
Sebab-sebab internal ini mencakup masalah: (1) keterbatasan kualitas sumber daya
manusia nelayan, (2) keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi
penangkapan, (3) hubungan kerja (pemiliki perahu- nelayan buruh) dalam
organisasi penangkapan yang dianggap kurang menguntungkan nelayan
buruh, (4) kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan, (5)
ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut, dan (6) gaya hidup
yang dipandang “boros” sehingga kurang berorientasi ke masa depan.
4
Sebab kemiskinan yang bersifat eksternal berkaitan dengan kondisi di
luar diri dan aktivitas kerja nelayan. Sebab-sebab eksternal ini mencakup
masalah: (1) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi
pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan
parsial, (2) sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan
pedagang perantara, (3) kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena
pencemaran dari wilayah darat, praktik penangkapan dengan bahan kimia,
perusakan terumbu karang, dan konversi hutan bakau di kawasan pesisir, (4)
penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan, (5 ) penekan
hukum yang lemah terhadap perusakan lingkungan, (6) terbatasnya
teknologi pengelolaan hasil tangkapan pascapanen, (7) terbatasnya
peluang-peluang kerja di sektor nonperikanan yang tersedia di desa-desa nelayan, (8)
kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan
melaut sepanjang tahun, dan (9) isolasi geografis desa nelayan yang
menggunakan mobilitas barang, jasa, modal, dan manusia.
B. Teori Kesadaran
Kesadaran merupakan satu-satunya tingkat kehidupan mental yang
secara langsung tersedia bagi kita. Pikiran-pikiran dapat mencapai
kesadaran dari dua arah yang beda. Pertama dari sistem sadar persepsi
terhadap stimulus-stimulus eksternal. Dengan kata lain, apa yang kita
persepsikan melalui organ-organ pancaindra kita bila tidak terlalu
Sumber kedua dari elemen-elemen sadar berasal dari dalam struktur
mental dan meliputi pikiran-pikiran yang tidak mengancam dari alam
prasadar (ke pra-sadaran), dan juga pikiran-pikiran yang mengancam tetapi
tersamar dengan baik dari ketidaksadaran.5
Kemampuan menyampaikan secara jelas pikiran dan perasaan
seseorang, membela diri dan mempertahankan pendapat (sikap asertif),
kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dan berdiri dengan
kaki sendiri (kemandirian), kemampuan untuk mengenali kekuatan dan
kelemahan orang dan menyenangi diri sendiri meskipun seseorang memiliki
kelemahan (penghargaan diri), serta kemampuan mewujudkan potensi yang
seseorang miliki dan merasa senang (puas) dengan potensi yang seseorang
raih di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi (aktualisasi).6
C. Perubahan Sosial dan Teori Dakwah Bil Hall
1. Teori Perubahan dalam Pendekatan Berbasis Asset
Pengembangan masyarakat ada dua yakni berbasis kelemahan dan
pendekatan berbasis kekuatan. Pendekatan berbasis aset memasukkan
cara pandang baru yang lebih holistis dan kreatif dalam melihat realitas
seperti melihat gelas setengah penuh; mengapresiasi apa yang berkerja
dengan baik dimasa lampau, dan menggunakan apa yang kita miliki
untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.7 Pendekatan ini lebih
5
Yustinus Semiun, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 59.
6
Ibid, ha l. 60. 7
memilih cara pandang bahwa masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang
dapat diberdayakan.
Pendekatan berbasis kekuatan melihat realitas dengan cara yang
jauh lebih alami dan holistik. Kegiatan pembangunan harus diterapkan
dalam konteks organisme hidup yang memiliki sejarah dan aspirasi untuk
masa depan yang lebih baik. Selain menggunakan logika dan analisis,
memori dan imajinasi juga penting dihidupkan dalam menciptakan
perubahan. Proses perubahan adalah upaya bersengaja menggumpulkan
apa yang memberi hidup pada masa lalu (memori) dan apa yang member
harapan untuk masa depan (imajinasi). Proses tersebut didasarkan pada
apa yang sedang terjadi sekarang dan memobilisasi apa yang sudah ada
sebagai potensi.
Aset adalah segala bentuk yang berharga, bernilai sebagai
kekayaan atau perbendaharaan. Segala yang bernilai disebut memiliki
guna untuk memenuhi kebutuhan.8 Pendekatan berbasis aset membantu
komunitas melihat kenyataan mereka dan kemungkinan perubahan secara
berbeda. Mempromosikan perubahan fokus pada apa yang mereka ingin
capai dan membantu mereka menemukan cara baru dan kreatif unutk
mewujudkan visi mereka. Datangnya fasilitator pada komunitas mereka
tidak hanya sekedar sebagai pengamat yang melihat keseharian mereka.
Akan tetapi ikut berperan membaur dengan nelayan yang berada di
sekitar pantai Boom Tuban untuk membangun keesadaran masyarakat
8
dalam meningkatkan ekonomi serta memanfaatkan aset yang ada. Perlu
adanya perhatian bukan fasilitator yang menjadi tokoh utama, akan tetapi
masyarakatlah yang menjadi aktor penting untuk menuju perubahan yang
diinginkan. Tugas fasilitator bagaimana membangun paradigma diantara
mereka dan membangun masyarakat menjadi lebih baik.
2. Teori Manaje men Pengelolaan Asset
Setiap organisasi perusahaan swasta maupun pemerintah aset baik
yang berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intagible). Setiap aset dan efesian sehingga aset tersebut dapat memberikan manfaat tertinggi
bagi perusahaan. Istilah manjemen aset mungkin jarang didengar atau
mengatakan istilah menejemen dan aset secara terpisah. Manajemen yang
dimaksud, yaitu Planning, Organizing, Leading, dan Controling, sedangkan yang dimaksud dengan aset pada umumnya adalah kekayaan.
Kekayaan itu bisa dalam bentuk kekayaan yang terwujud (fisik) maupun
tidak terwujud. Aset adalah segala sesuatu yang memiliki nilai ekonomi
yang dapat dimiliki baik oleh individu, perusahaan, maupun dimiliki
pemerintah yang dapat dimiliki finansial.9
Berdasarkan pada pengelolaan aset fisik, secara definitif
manajemen aset adalah ilmu dan seni untuk memadu pengelolaan
kekayaan yang mencakup proses merencanakan kebutuhan aset,
mendapatkan, menginventarisasi, melakukan legal audit, menilai,
9
mengoprasikan, memelihara, membaharukan atau menghapuskan hingga
mengalihkan aset secara efektif dan efesien.
Majanemen adalah suatu proses yang diterapkan individu atau
kelompok dalam upaya koordinasi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam
bukunya George R. Terry manajemen adalah suatu proses yang membedakan atau perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demi
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.10 Aset adalah barang,
yang didalam pengertian hukum disebut benda, terdiri dari benda
bergerak dan benda tidak bergerak, baik yang berwujud (tangible)
maupun tidak berwujud (intangaible), yang tercakup dalam aktiva atau aset dari suatu instasi, organisasi, badan usaha ataupun individu
perorangan. 11
3. Dawkah bil Hall
Dawkah bil Hall adalah dakwah dengan mengunakan perbuatan
atau teladan pesannya. Dakwah bil Hall biasa juga disebut dakwah
alamiah. Maksudnya, dengan menggunakan pesan dalam bentuk
perbuatan, dakwah dilakukan sebagai upaya pemberantasan
kemungkaran secara langsung (fisik) maupun langsung menegakkan
ma’ruf (kebaikan) seperti membangun masjid sekolah, atau apa saja yang
10
George R. Terry dan Leslie W. Rue, 1996, Dasar-dasar Manjemen, (Bu mi Aksara: Jaka rta) hal.2
11
mudah dikerjakan bersifat mewujudkan pelaksanaan syariat Allah SWT
dari segala aspeknya.
Praktik dakwah seperti demikian pada hakikatnya merupakan
“dakwah diam”, artinya melakukan dakwah secara diam-diam yang
langsung mengajak berbuat secara islami, sehingga mudah dipahami
khalayak untuk meniru atau ikut berpartisipasi melakukan kegiatan yang
dicontohkannya itu.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk
mentransformasikan pertumbuhan masyarakat sebagai kekuatan nyata
masyarakat, untuk melindungi dan memperjuangkan nilai- nilai dan
kepentingan di dalam arena segenap aspek kehidupan. Pemberdayaan
masyarakat mempunyai arti meningkatkan kemmapuan atau
meningkatkan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan masyarakat
bukan hanya meliputi penguatan individu tetapi juga pranata-pranata
sosialnya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah yang menyeru manusia untuk
selalu berusaha dalam menghadapi masalah hidup sebagai masalah
pengembangan dan pemberdayaan umat Islam khususnya, sebagaimana
termaktub dalam Mushaf Al-qur’an surat Ar rad ayat 11:
...
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.12
Dari ayat di atas ada indikasi bahwa Allah tidak akan merubah
keadaan mereka (kaum) selama mereke (kaum) tidak merubah
sebab-sebab kemunduran mereka, maksudnya Allah menyuruh atau mengajak
kita agar mau berusaha dalam menghadapi permasalahan yang ada, tidak
lengah dan mudah putus asa yang mana pada dasanya Allah tidak akan
memberikan cobaan atau musibah kepada hambanya diluar kemampuan
dan Allah tidak merubah nasib hambanya selama hamba tersebut tidak
mau berusaha dan bertindak yang lebih baik lagi.
Allah juga akan murka dan marah pada hambanya yang tidak mau
bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan hanya pasrah saja dalam
menghadapi permasalahan yang ada. Dengan ini diharapkan masyarakat
nelayan mampu untuk berusaha hidup agar lebih baik dari hari- hari
sebelumnya.
Jika ingin meningkatkan taraf hidupnya dan membangun sosialnya,
haruslah berangkat dari diri masing- masing. Bukan semacam
pembangunan model top down yang telah banyak terbukti kurang efektif dalam membangun masyarakat. Karena pembangunan masyarakat yang
ideal menekankan keterlibatan masyarakat secara sadar dalam
12
Departe man Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Bandung: Ge ma Risalah Press 2006,
pembangunan.13 Pemanfaatan potensi pengetahuan pengelolaan tentu saja
digunakan sebagai alat untuk memberdayakan mereka sendiri.
Pengetahuan yang dimiliki, dikembangkan serta diaplikasikan didalam
kehidupan jika ingin mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Karakter dan perilaku masyarakat merupakan hal yang sangat
penting bagi kelangsungan pembangunan suatu masyarakat. Selain
memiliki rasa tanggung jawab mereka juga harus memiliki sifat sebagai
warga desa beriman yang menaati perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Begitu pula dengan sifat sabar dan penolong sesama manusia.
Dengan begitu masyarakat memiliki ilmu pengetahuan dan pemikiran
yang bisa merubah dan mengembangkan pembangunan yang ada di
dalam desa mereka. Begitu pula dengan masyarakat nelayan, mereka
harus memiliki kreteria masyarakat ideal yang sudah diterangkan dalam
Al-Qur’an, bahwasannya masyarakat harus memiliki jiwa yang beriman
kepada Tuhan dan memiliki pemikiran yang inovatif. Semua ini harus
diterpakan di dalam jiwa masyarakat kelurahan Sidomumulyo. Pada
hakekatnya dakwah adalah usaha atau upaya untuk merubah suatu
keadaan menjadi suatu keadaan yang lebih baik menurut tolak ukur
agama Islam.
Dan tidak hanya itu dalam Al-Qur’an pun telah di ajarkan
bahwasanya Allah Swt telah memberikan amanah kepada umat manusia
untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Berkaitan dengan amanah
13
tersebut Allah Swt member kewenangan kepada manusia untuk
memanfaatkan segala sumberdaya yang ada dimuka bumi dalam batas
kewajaran untuk kemaslahatan bersama, Allah berfirman dalam Al Qasas
ayat 77:
dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah ka mu me lupakan bahagianmu dari (ken ikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepada mu, dan janganlah ka mu berbuat kerusakan di (mu ka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyuka i orang-orang yang berbuat kerusakan..14
Dari arti diatas telah jelas bahwasanya dakwah yang seharusnya
dilakukan umat muslim dimuka bumi ini adalah harus berpijak pada
upaya untuk menjalankan aktivitas perekonomian dengan berpegang
teguh pada perintah maupun larangan Allah, yang didasarkan pada
kesadaran adanya hubungan manusia dengan Allah. Dengan begitu
manusianya dapat serta mampu untuk memanfaatkan aset yang ada
disekelilingnya dengan sebaik mungkin.
14
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, k esan dan k eserasian Al-Qur’an, Vo lu me 10,
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian untuk Pendampingan
Metode Asset besed community development (ABCD) dianggap sebagai pendekatan tepat untuk persoalan diatas. Hal ini karena ABCD
merupakan sebuah pendekatan dalam pengembanga masyarakat yang berada
dalam aliran besar mengupayakan terwujudnya sebuah tatanan kehidupan
sosial dimana masyarakat menjadi pelaku dan penentu upaya pembangunan
di lingkungnnya atau yang seringkali disebut dengan Community-Driven Development (CDD). Upaya pengembangan masyarakat harus dilaksanakan dengan sejak dari awal menempatkan manusia untuk mengetahui apa yang
dipunyai yang potensi untuk dimanfaatkan. Hanya dengan mengetahui
kekuatan dan aset, diharapkan manusia mengetahui dan bersemangat untuk
terlibat sebagai aktor dan oleh karenanya memiliki inisiatif dalam segala
upaya perbaikan.1
Dengen mengetahui kekuatan dan aset yang dimiliki, serta memiliki
agenda perubahan yang dirumuskan bersama, persoalan keberlanjutan
sebuah program perbaikan kualitas kehidupan diharapkan dapat
diwujudkan. Melalui pendekatan ABCD, warga masyarakat difasilitsi untuk
merumuskan agenda perubahan yang mereka anggap penting. Kegiatan riset
pendampingan dilaksanakan sangat penting untuk memastikan bahwa warga
1
masyarakat berkesempatan untuk turut serta sebagai penentu agenda
perubahan tersebut. Perubahan menuju kepada upaya perbaikan hanya dapat
diwujudkan tatkala manusia dapat mencermati hal terbaik dalam dirinya,
dan mengoptimalkan hal baik tersebut untuk apapun yang diimp ikannya.
B. Asset Based Community Development (ABCD)
Metode (ABCD) Asset Based Community Development adalah pendekatan pendampingan yang mengupayakan pengembangan masyarakat
harus dilaksanakan dengan sejak awal menempatkan manusia untuk
mengetahui apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki serta segenap potensi
dan aset yang dipunyai yang potensial untuk dimanfaatkan. Pendekatan
ABCD merupakan pendekatan yang mengarah pada pemahaman dan
internalisasi asset, potensi, kekuatan, dan pendayagunaannya secara mandiri
dan maksimal. Prinsip pengambangan masyarakat berbasis asset (ABCD)
sebagai berikut: Setengah terisi lebih berarti, semua punya potensi,
Partisipasi, Kemitraan, Penyimpangan Positif, Berasal dari dalam
masyarakat, dan Mengarah pada sumber energi.2
Asset adalah segala sesuatu yang berharga, bernilai sebagai kekayaan
atau perbendaharaan. Segala yang bernilai tersebut memiliki guna untuk
memenuhi kebutuhan.3
Asset Bassed Community Development atau (ABCD) menurut R.M. Brown ialah: Bila anda mencari masalah, anda akan menemukan lebih
2
Nadhir Salahuddin, dkk, Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya, (LPPM IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2015), hal. 26.
3
banyak masalah; Bila anda mencari sukses, anda akan menemukan lebih
banyak sukses bila Anda percaya pada mimpi, Anda akan merengkuh
keajaiban maka motto kami adalah “mencari akar penyebab sukses” dan
bukan “akar penyebab masalah.4
Untuk menggali potensi-potensi masyarakat selain model yang diatas,
masih ada strategi lain yang digunakan oleh fasilitator yang dilakukan
bersama untuk terwujudnya pendampingan yang akan dilakukan bersama.
Strategi-strategi tersebut diantaranya:
1. Discovery (menemukan), 2. Dream (mimpi),
3. Design (merancang), 4. Define (menentukan), dan 5. Destiny (memastikan)
Model ini memutuskan posisinya pada kekuatan dan keberhasilan diri
dan komunitas yang bertujuan merangsang kreativitas, inspirasi, dan inovasi
masyarakat untuk mendapatkan kembali masa kejayaan yang pernah mereka
peroleh dahulu. Kemampuan terkait potensi, kekuatan, keberhasilan, serta
dibarengi dengan aset yang mereka miliki akan memberikan energy positif
untuk membantu dan mengembalikan kekuatan dan keberhasila n mereka
dalam mengubah cara pandang terhadap segala sesuatu menjadi lebih baik
dalam segi berbagai hal bahwa kita mampu dan bisa merubah kondisi hidup
diri sendiri maupun orang lain.
4
Tahap pertama yakni Discovery, yakni menemukan kembali apa yang dimiliki dari setiap individu maupun komunitas. Tujuan dari tahap ini
adalah menemukan dan mengapresiasi energi positif yang ada disertai
keberhasilan-keberhasilan yang pernah diperoleh dengan cara menceritakan
kembali peristiwa-peristiwa penting keberhasilan masyarakat. Komunitas
diajak menceritakan dan memahami apa-apa yang telah mereka dapatkan
pada masa lalu.
Dengan dilakukan tahap ini masyarakat bisa merenungkan akan masa
kejayaan yang pernah mereka peroleh mulai dari bagaimana cara mereka
melakukan, kerja keras, proses, sampai mereka mendapatkan keberhasilan
tersebut. Dengan cara memberikan waktu untuk mereka bercerita dan
mengungkapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
yang membanggakan.
Tahap ini perlu dilakukan dengan potensi-potensi yang dimiliki
masyarakat yang bertujuan menemukan kembali segala sesuatu yang
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa (positif- negatif), dimana pertukaran
cerita atau pendapat dari tiap-tiap individu dalam suatu komunitas sedang
terjadi. Bila tahap ini berhasil maka langkah- langkah selanjutnya tidaklah
tertalu sulit.5
Tahap kedua yaitu Dream, yakni membayangkan atau memimpikan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan yang ingin diwujudkan. Tahap
ini merupakan suatu cara untuk menggali apa yang diharapakan pada setiap
5
individu maupun komunitas. Tidak selamanya harapan mereka sama
terkadang secara kebetulan terd apat kesamaan mimpi yang mereka
inginkan. Setiap individu memiliki kesempatan menyampaikan apa
harapan-harapan dan impian- impian yang ingin dicapai. Komunitas diajak
memikirkan hal- hal yang menggugah semangat, kreatif, dan masa depan
terbaik. Kemudian dari mimpi- mimpi tersebut akan dibuat
rumusan-rumusan untuk diperlihatkan kepada komunitas inilah impian-impian yang
mereka inginkan.
Dalam proses ini mereka mulai menyadari dan melihat bagaimana
mereka membangun mimpi bersama terlepas dari sektor masyarakat mana
mereka berasal. Mereka menginginkan hal yang sama untuk mereka dan
orang lain, dan mereka dapat melukiskannya dengan sangat baik karena
mereka bicara dengan bahasa yang sama, yakni mosaic gambar. Mosaic
gambar dan kata-kata inilah yang lantas diletakka pada gambar- gambar
yang menjadi ruh yang memandu tindakan-tindakan bersama selanjutnya.6
Tahap selanjutnya, yakni design, yaitu merancang langkah- langkah sukses untuk merengkuh masa depan yang diimpikan. Tahap ini merupakan
proses merumuskan mimpi yang besar yang ingin diwujudkan. Peserta
memilih elemen-elemen rancangan yang memiliki dampak besar,
menciptakan strategi dan rencana provokatif yang memuat berbagai kualitas
komunitas yang paling diinginkan ketika menyusun strategi untuk
6
menghasilkan rencana, peserta mengkolaborasikan kualitas kehidupan
bersama yang ingin dilindungi dengan hubungan yang ingin dicapai.7
Tahap berikutnya yakni define, yaitu komunitas diminta untuk kembali ke visi masa depan dan memilih gambar-gambar yang paling
memanggil mereka, elemen-elemen mana yang mereka rasa paling penting
bagi mereka dan menyeru untuk bertindak. Secara bersama-sama,
komunitas diminta untuk mengidentifikasi elemen-elemen keberhasilan
yang diperlukan demi mewujudkan mimpi- mimpi dalam bentuk prinsip,
kriteria dan indikator- indikator.8
Tahap terakhir yaitu Destiny, yaitu menegaskan langkah untuk mewujudkan masa depan yang diinginkan. Tahap ini merupakan
serangkaian tindkan baru dan inovatif yang mendukung pembelajaran dan
inovasi berkelanjutan. Tahap ini secara khusus memusatkan pada komitmen
dan arah ke depan individu dan komunitas.9
Tahap Destiny merupakan tahapan untuk memeriksa dan mendialogkan momentum- momentum yang harus dimanfaatkan untuk
memastikan impian-impian bersama terwujud. Pada tahapan ini komunitas
mulai merumuskan langkah bersama yang bercermin pada papan visi
C. Prinsip-prinsip Penelitian
1. Setengah terisi lebih berarti (Half Full Half Empty)
Salah sayu modal utama dalam program pengabdian terhadap
masyarakat berbasis asset adalah merubah cara pandang komunitas
terhadap dirinya. Tidak hanya terpaku pada kekurangan dan masalah
yang dimiliki. Tetapi memberikan perhatian kepada apa yang dipunyai
dan apa yang dapat dilalukan.11
2. Semua punya potensi (Nobody Has Nothing)
Dalam konteks ABCD, prinsip ini dikenal dengan istilah “Nobody has nothing”. Setiap manusia terlahir dengan kelebihan masing- masing. Tidak ada yang tidak memiliki potensi, walau hanya sekedar kemampuan
untuk tersenyum dan memasak air. Semua berpotensi dan semua bisa
berkontribusi.
Dengan demikian, tidak ada alasan bagi setiap masyarakat untuk
tidak berkontribusi nyata terhadap perubahan lebih baik. Bahkan,
keterbatasan fisikpun tidak menjadi alasan untuk tidak berkontrib usi. Ada
banyak kisah dan inspirasi orang-orang sukses yang justru berhasil
membalikkan keterbatasan dirinya menjadi sebuah berkah, sebuah
kekuatan.12
11
Christopher Dureau, Pembaru dan Kekuatan Lokal unutk Pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (Agustus 2013), hal. 14.
12
3. Partisipasi (Participation)
Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang
kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya.
Banyak ahli memberikan pengertian mengena i konsep partisipasi.13
Partisipasi berarti peran yang sangat urgen terhadap masyarakat untuk
meningkatkan perekonomian yang lebih baik dalam bentuk pernyataan
maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran,
tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan
dan menikmati hasil- hasil pembangunan.
Pengertian tentang partisipasi dapat juga berarti bahwa pembuat
keputusan menyarankan kelompok atau masyarakat ikut terlibat dalam
bentuk penyampaian saran dan pendapat, barang, keterampilan, bahan
dan jasa. Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal
masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat keputusan,
dan memecahkan masalahnya.
4. Kemitraan (Partnership)
Partnership merupakan salah satu prinsip utama dalam pe ndekatan
pengembangan masyarakat berbasis aset (Asset Based Community Development). Partnership merupakan modal utama yang sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan posisi dan peran masyarakat dalam
pembangunan yang dilakukan. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk
pembangunan dimana yang menjadi motor dan penggerak utamanya
13
adalah masyarakat itu sendiri (community driven development). Karena pembangunan yang dilakukan dalam berbagai varinnya seharusnya
masyarakatlah yang harus menjadi penggerak dan pelaku uta manya.
Sehingga diharapkan akan terjadi proses pembangunan yang maksimal,
berdampak empowerment secara masif dan terstruktur. Hal itu terjadi
karena dalam diri masyarakat telah terbentuk rasa memiliki (sense of belonging) terhadap pembangunan yang terjadi di sekitarnya.14 Didalam proses pendampingannya yang memanfaatkan tangkapan hasil laut untuk
menjadi sebuah olahan agar menambah ekonomi masyarakat.
5. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)
Positive Deviance atau (PD) secara harfiah berarti penyimpangan
positif. Secara terminologi positive deviance (PD) adalah sebuah pendekatan terhadap perubahan perilaku individu dan sosial yang
didasarkan pada realitas bahwa dalam setiap masyarakat meskipun bisa
jadi tidak banyak terdapat orang-orang yang mempraktekkan strategi atau
perilaku sukses yang tidak umum, yang memungkinkan mereka untuk
mencari solusi yang lebih baik atas masalah yang dihadapi daripada
rekan-rekan mereka itu sendiri.15 Praktek tersebut bisa jadi, seringkali
atau bahkan sama sekali keluar dari praktek yang pada umum dilakukan
oleh masyarakat. Realitas tersebut mengisyaratkan bahwa sering kali
terjadi pengecualian-pengecualian dalam kehidupan masyarakat dimana
seseorang atau beberapa orang mempraktekkan perilaku dan strategi
14
Ibid, hal. 20. 15
berbeda dari kebanyakan masyarakat pada umumnya. Strategi dan
perilaku tersebut yang membawa kepada keberhasilan dan kesuksesan
yang lebih dari yang lainnya. Realitas ini juga mengisyaratkan bahwa
pada dasarnya masyarakat kelurahan Sidomulyo memiliki asset yang
berupa tangkapan hasil laut dan sumber daya mereka sendiri untuk
melakukan perubahan-perubahan yang diharapkan.
Positive deviance merupakan modal utama dalam pengembangan Masyarakat dalam membangun kesadaran dalam pengelolahan asset,
yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis aset-kekuatan.
Positive deviance menjadi energi alternatif yang vital bagi proses
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Energi itu
senantiasa dibutuhkan dalam konteks lokalitas masing- masing
komunitas.16
6. Berawal dari Masyarakat (Endogenous)
Endogenous dalam konteks pembangunan memiliki beberapa
konsep inti yang menjadi prinsip dalam pendekatan pembangunan dan
pemberdayaan komunitas mesyarakat berbasis asset kekuatan. Beberapa
konsep ini tersebut adalah sebagai berikut.17
a. Memiliki kendali lokal atas proses pembangunan peningkatan
perekonomian.
b. Mempertimbangkan nilai budaya secara sungguh-sungguh.
c. Mengapresiasi cara pandang yang pernah di peroleh masyarakat.
16
Ibid, hal. 25. 17
d. Menemukan keseimbangan antara sumber internal dan eksternal.
Beberapa aspek di atas merupakan kekuatan pokok yang sangat
penting dalam pembangunan masyarakat. Sehingga dalam aplikasinya,
konsep “pembangunan endogen” kemudian mengakuinya sebagai aset
kekuatan utama yang bisa dimobilisasi untuk digunakan sebagai modal
utama dalam peningkatan perekonomian masyarakat .
Aset dan kekuatan tersebut bisa jadi sebelumnya terabaikan atau
bahkan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat
dalam pendapatan perekonomian. Pembangunan Endogen mengubah
aset-aset tersebut menjadi aset penting yang bisa dimobilisasi untuk
pembangunan sosial dan ekonomi kerakyatan. Meteode ini menekankan
dan menjadikan aset-aset tersebut sebagai salah satu pilar pembangunan.
Sehingga dalam kerangka pembangunan endogen, aset-aset tersebut
kemudian menjadi bagian dari prinsip pokok dalam pendekatan ABCD
yang tidak boleh dinegasikan sedikitpun.18
7. Menuju Sumber Energi (Heliotropic)
Energi dalam pengembangan bisa beragam. Di antaranya adalah
mimpi besar yang dimiliki oleh komunitas, proses pengembangan yang
apresiatif, atau bisa juga keberpihakan anggota komunitas yang penuh
totalitas dalam pelaksanaan program. sumber energi ini layaknya
keberadaan matahari bagi tumbuhan. Terkadang bersinar dengan terang,
18
mendung, atau bahkan tidak bersinar sama seka li. Sehingga energi dalam
komunitas ini harus tetap terjaga dan dikembangkan.19
Masyarakat seharusnya mengenali peluang-peluang sumber daya
alam yang ada di sekitar mereka, yang mampu memberikan pendapatan
perekonomian mereka dan kekuatan baru dalam proses pengembangan.
Sehingga tugas komunitas tidak hanya menjalankan program saja,
melainkan secara bersamaan memastikan sumber energi dalam kelompok
mereka tetap terjaga dan berkembang.20
D. Langkah-langkah Pendampingan dengan pendekatan ABCD
Tahap 1: Mempelajari dan Mengatur Skenario
Dalam Apprecitive Inquiry (AI) terkadang disebut ‘Difine’. Dalam
Asset Based Community Development (ABCD), terkadang digunakan frasa
“Pengamatan dengan Tujuan/Purposeful Reconnaissance’. Pada dasarnya
terdiri dari dua elemen kunci memanfaatkan waktu untuk mengenal
orang-orang dan tempat di mana perubahan akan dilakukan, dan menentukan fokus
program. Ada empat langkah terpenting di tahap ini, yakni menentukan.21
(1) Tempat (2) Orang (3) Fokus Program (4) Informasi tentang Latar
Belakang
Tahap 2: Menemukan masa Lampau
Kebanyakan pendekatan berbasis aset dimulai dengan beberapa cara
untuk mengungkap (discovering) hal- hal yang memungkinkan sukses dan
19
Christopher Dureau, Pembaru dan Kekuatan Lokal untuk Pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (Agustus 2013), hal. 29.
20
Ibid, hal. 29. 21
kelentingan di komunitas sampai pada kondisi sekarang ini.22 Kenyataan
bahwa masyarakat Sidomulyo masih berfungsi sampai saat ini membuktikan
bahwa ada sesuatu dalam masyarakat yang harus dirayakan. Tahap ini
terdiri dari:
a. Mengungkap (discover) sukses apa sumber hidup dalam komunitas. Apa yang memberi kemampuan untuk tiba di titik ini dalam
rangkaian perjalanannya. Siapa yang melakukan lebih baik.
b. Menelaah sukses dan kekuatan elemen dan sifat khusus apa yang
muncul dari telaah cerita-cerita yang disampaikan oleh komunitas.
Tahap 3: Memimpin Masa Depan
Memimpikan masa depan atau proses pengembangan visi (visioning)
adalah kekuatan positif luar biasa dalam mendorong perubahan. Tahap ini
mendorong komunitas menggunakan imajinasinya untuk membuat
gambaran positif tentang masa depan mereka. Proses ini menambahkan
energi dalam mencari tahu “apa yang mungkin.”23
Tahap 4: Memetakan Aset
Tujuan pemetaan aset adalah agar komunitas belajar kekuatan yang
sudah mereka miliki sebagai bagian dari kelompok. Apa yang bisa
dilakukan dengan baik sekarang dan siapa di antara mereka yang memiliki
keterampilan atau sumber daya alam yang ada di desa. Mereka ini kemudian
22
Ibid, hal. 131. 23
dapat diundang untuk berbagi kekuatan demi kebaikan seluruh kelompok
atau komunitas.24 Pemetaan dan seleksi aset dilakukan dalam 2 tahap:
a. Memetakan aset komunitas atau bakat, kompetensi dan sumber
daya sekarang.
b. Seleksi mana yang relevan dan berguna untuk mulai mencapai
mimpi komunitas
Tahap 5: Menghubungkan dan Menggerakkan Aset/Perencanaan Aksi.
Tujuan penggolongan dan mobilisasi aset adalah untuk langsung
membentuk jalan menuju pencapaian visi atau gambaran masa depan. Hasil
dari tahapan ini harusnya adalah suatu rencana kerja yang didasarkan pada
apa yang bisa langsung dilakukan diawal, dan bukan apa yang bisa
dilakukan oleh lembaga dari luar. Walaupun lembaga dari luar dan potensi
dukungannya, termasuk anggaran pemerintah adalah juga set yang tersedia
untuk dimobilisasi, maksud kunci dari tahapan ini adalah untuk membuat
seluruh masyarakat menyadari bahwa mereka bisa mulai memimpin proses
pembangunan lewat kontrol atas potensi aset yang tersedia dan tersimpan.25
Tahap 6: Pemantauan, Pembelajaran dan Evaluasi
Pendekatan berbasis aset juga membutuhkan studi data dasar
(baseline), monitoring perkembangan dan kinerja outcome. Tetapi bila suatu program perubahan menggunakan pendekatan berbasis aset, maka yang
dicari bukanlah bagaimana setengah gelas yang kosong akan diisi, tetapi
bagaimana setengah gelas yang penuh dimobilisasi. Pendekatan berbasis
24
Ibid, hal. 145. 25
aset bertanya tentang seberapa besar anggota organisasi masyarakat mampu
menemukenali dan memobilisasi secara produktif aset mereka mendekati
tujuan bersama.
Empat pertanyaan kunci Monitoring dan Evaluasi dalam pendekatan
berbasis aset adalah:
1. Apakah komunitas sudah bisa menghargai dan menggunakan pola
pemberian hidup dari sukses mereka di masa lampau?
2. Apakah komunitas sudah bisa menemukenali dan secara efektif
memobilisasi aset sendiri yang ada dan yang potensial
(keterampilan, kemampuan, sistem operasi dan sumber daya)?
3. Apakah komunitas sudah mampu mengartikulasi dan bekerja
menuju pada masa depan yang diinginkan atau gambaran
suksesnya?
4. Apakah kejelasan visi komunitas dan penggunaan aset dengan
tujuan yang pasti telah mampu memengaruhi penggunaan sumber
daya luar (pemerintah) secara tepat dan memadai untuk mencapai
tujuan bersama?
E. Subjek Penelitian
Peneliti mengambil subyek pendampingan di Kelurahan Sidomulyo
Kecamatan Tuban Kota Kabupaten Tuban. Dengan memanfaatan sumber
daya alam laut yang ada guna membantu kemandirian ekonomi keluarga
nelayan yang berada di Gang Ikan Tongkol dan Gang Sumurserumbung
F. Teknik Pengumpulan Data
Motode dan alat menemukenali dan memobilisasi aset untuk
pemberdayaan masyarakat melalui Asset Besed Community Development
(ABCD), antara lain:
1. Penemuan apresiatif (Appreciative Inquiry)
Appreciative Inquiry(AI) adalah cara yang positif untuk melakukan perubahan organisasi berdasarkan asumsi yang sederhana yaitu bahwa
setiap organisasi memiliki sesuatu yang dapat bekerja dengan baik,
sesuatu yang menjadikan organisasi hidup, efektif dan berhasil, serta
menghubungkan organisasi tersebut dengan komunitas dan
stakeholdernya dengan cara yang sehat.26
AI dimulai dengan mengidentifikasi hal- hal positif dan menghubungkannya dengan cara yang dapat memperkuat energi dan visi
untuk melakukan perubahan untuk mewujudkan masa depan organisasi
yang lebih baik.
AI melihat isu dan tantangan organisasi dengan cara ya ng berbeda. Berdeda dengan pendekatan yang fokus pada masalah, AI mendorong anggota organisasi untuk fokus pada hal- hal positif yang terdapat dan
bekerja dengan baik dalam organisasi. AI tidak menganalisis akar
masalah dan solusi tetapi lebih konsen pada bagaimana memperbanyak
hal- hal positif dalam organisasi.
26
Proses AI terdiri dari 4 tahap yaitu Discovery, Dream, Design dan
Destiny atau sering disebut Model atau Siklus 4-D. AI ini diwujudkan dengan adanya Forum Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada jenjangnya masing- masing.
2. Pemetaan Komunitas (Community Mapping)
Pendekatan atau cara untuk memperluas akses ke pengetahuan
lokal. Community map merupakan visualisasi pengetahuan dan persepsi
berbasis masyarakat mendorong pertukaran informasi dan menyetarakan
kesempatan bagi semua masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses
yang mempengaruhi lingkungan dan kehidupan mereka.27
3. Pemetaan Asosiasi dan Institusi
Asosiasi merupakan proses interaksi yang mendasari terbentuknya
lembaga- lembaga sosial yang terbentuk karena memenuhi faktor- faktor
sebagai berikut : (1) kesadaran akan kondisi yang sama, (2) adanya relasi
sosial, dan (3) orientasi pada tujuan yang telah ditentukan.28
4. Pemetaan Aset Individu (Individual Inventory Skill)
Metode/alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemetaan
individual asset antara lain kuisioner, interview dan focus group
discussion.29 Manfaat dari Pemetaan Individual Aset antara lain:
a. Membantu membangun landasan untuk memberdayakan masyarakat
dan memiliki solidaritas yang tinggi dalam masyarakat,
b. Membantu membangun hubungan yang tidak baik dengan masyarakat.
27
Ibid, hal. 36. 28
Soetomo, Pembangunan Masyarak at, (Yogyakarta : Pustaka Pe laja r, 2009), ha l. 41. 29
c. Membantu masyarakat mengidentifikasikan keterampilan dan bakat
mereke sendiri.
5. Sirkulasi Keuangan (Leacky Bucket)
Perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa merupakan
hal yang tidak terpisahkan dari komunitas dalam kehidupan mereka
sehari- hari. Seberapa jauh tingkat dinaminitas dalam pengembangan
ekonomi lokal mereka dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi
yang masuk dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan
memobilisir asset-asset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga
lokal diperlukan sebuah anlisa dan pemahaman yang cermat. Salah satu
pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ABCD (Asset Based Community Development) adalah melaluil Leacky Bucket.30
6. Skala Prioritas (Low hanging fruit)
Setelah masyarakat mengetahui potensi, kekuatan dan peluang
yang mereka miliki dengan melaui menemukan informasi dengan santun,
pemetaan aset, penelusuran wilayah, pemetaan kelompok/ institusi dan
mereka sudah membangun mimpi yang indah maka langkah berikutnya,
adalah bagaimana mereka bisa melakukan semua mimpi- mimpi diatas,
karena keterbatasan ruang dan waktu maka tidak mungkin semua mimpi
mereka diwujudkan.31 Skala prioritas adalah salah satu cara atau tindakan
yang cukup mudah untuk diambil dan dilakukan untuk menetukan
30
Christopher Dureau, Pembaru dan Kekuatan Lokal untuk Pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (Agustus 2013), hal. 44.
31
manakah salah satu mimpi mereka bisa direalisasikan dengan
menggunakan potensi lahan kosong sebagai peningkatan pendapat
ekonomi masyarakat kelurahan Sidomulyo itu sendiri tanpa ada bantuan
dari pihak luar.
7. Wawancara
Wawancara semi terstruktur ini merupakan alat penggalian data
berupa tanya jawab yang sestematis tentang pokok-pokok tertentu.
Wawancara ini bersifat semi terbuka, artinya alur pembicaraan lebih
santai. Wawancara ini bertujuan untuk keintiman anatar pe neliti dengan
para peternak sapi. Hal ini menunjukkan bahwa riset pendampingan ini
tidak memiliki batasan antara peneliti dengan komunitas sasaran. Selain
itu dalam prosesnya teknik ini menumbuuhkan kepercayaan antara
peneliti dan para masyarakat Kelurahan Sidomulyo.
G. Teknik Validasi Data
Dalam prinsip metodologi PRA untuk meng crosh check data yang diperoleh dapat melalui triangulasi. Triangulasi adalah suatu system crosh check dalam pelaksanaan teknik PRA agar memperoleh informasi yang akurat.
1. Triangulasi Komposisi Tim
Triangulasi komposisi Tim akan dilakukan oleh peneliti dengan para
nelayan dan. Triangulasi ini bertujuan untuk memperoleh data yang valid
dan tidak sepihak karena semua pihak akan dilibatkan untuk mendapatkan