• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Metode Penelitian

2. Teknik Pengumpulan Data

Pada tataran operasionalnya, penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan kerja, yaitu: kerja lapangan (field work), kerja laboratorium (desk work), dan penyusunan laporan penelitian.36

36Curt Sachs membagi riset etnomusikologi ke dalam dua bagian kerja,

Kerja lapangan dilakukan pada tahap pengumpulan data-data penelitian, teknik kegiatan pada tahapan ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu: studi literatur, studi diskografi, observasi/pengamatan langsung di lapangan, dan wawancara dengan para pakar karawitan Sunda dan para pendidik seni serta praktisi seni karawitan Sunda terutama pada orang-orang yang paham dengan kekaryaan gaya Mang Koko.

Teknik pengumpulan data penelitian yang dilakukan adalah mengadaptasi konsep Bogdan dan Biklen yang digabung dengan konsep Creswell, yaitu dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, juga dilakukan teknik pelengkap dan catatan lapangan serta studi pustaka dan studi analisis data.37 Dalam pengumpulan data tersebut, peneliti pergi ke lapangan melakukan teknik pengamatan visual dan auditif, wawancara, dengan menggunakan alat bantu berupa alat perekam wawancara, perekam gambar, dan perekam audio-visual.

Beberapa jenis teknik yang dianggap praktis dan tepat guna untuk pengumpulan data ini, yaitu teknik studi literatur, studi diskografi, observasi atau cara pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, dan studi analisis. Praktik penerapan teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut:

hague: M. Nijhoff, 1962), 16-20; Bruno Nettl, Theory and Method In

Etnomusicology, (London: The Free Press of Glencoe Collier-Macmillan

Limited,1964), 62-130.

a. Studi Literatur

Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan peta situasi historis dan budaya musik Sunda yang melatar belakangi proses penciptaan karawitan Sunda gaya Mang Koko. Pencarian dan penelahaan dilakukan melalui sumber-sumber tertulis di antaranya buku biografi Mang Koko tulisan Tatang Benyamin Koswara dan kawan-kawan, manuskrip-manuskrip tulisan Mang Koko sendiri, majalah Kawit, majalah Kebudayaan, majalah dan tabloid Swara Cangkurileung, manuskrip tulisan Tatang Suryana, buku Koko Koswara Maestro karawitan Sunda yang ditulis Tardi Ruswandi, serta manuskrip karya-karya Mang Koko yang ditulis tangan oleh mang Koko sendiri.

b. Studi Diskografi

Teknik ini dilakukan dengan cara mencari data dari rekaman komersial maupun rekaman koleksi pribadi, yang berhubungan langsung dengan sasaran penelitian, baik karya-karya Mang Koko maupun karya-karya-karya-karya yang dipandang memiliki jejak hubungan pengaruh dengan karawitan Sunda gaya Mang Koko. Teknik ini dilakukan untuk 1) menjaring data produk-produk karawitan gaya Mang Koko, 2) mengidentifikasi ciri-ciri karawitan gaya Mang Koko, 3) memetakan perkembangan dan

persebaran karawitan gaya Mang Koko di masyarakat, dan pengaruh karawitan gaya Mang Koko terhadap kesenian lain, seperti pengaruh konsep wanda anyar Mang Koko terhadap karya gamelan degung yang dikemas oleh Nano S.

Pencarian data tersebut dilakukan dengan mengamati hasil rekaman komersial atau koleksi pribadi dalam bentuk: kaset analog, cakram, atau piringan hitam, baik audio maupun audio visual yang memuat karya-karya Mang Koko mulai dari jenis Jenaka Sunda, kawih kacapian, sekar gending, gending karesmén, baik produk rekaman grup binaan Mang Koko maupun grup lain yang membawakan karya Mang Koko.

Beberapa karya Mang Koko yang telah beredar di masyarakat berupa rekaman lagu-lagu kawih kacapian dan gending-gending gamelan wanda anyar yang terpilih sebagai judul kaset. Rekaman-rekaman karawitan Sunda tersebut dijadikan sumber data penelitian, karya Mang Koko yang direkam dalam kaset tersebut di antaranya berjudul: 1) Badminton, 2) Kacapian Mang Koko, 3) Kawih Mang Koko, 4) Salam Manis, 5) Lagu-lagu Mang Koko, 6) Tepung di Lamping Galunggung, 7) Adu Asih, 8) Guntur Galunggung, 9) Puji-pujian, Hamdan dan Al Iman, 10) Sariak Layung.

c. Observasi

Teknik ini dikembangkan berdasarkan pertimbangan dan kedudukan peneliti dan sifat penelitian. Observasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan. Observasi dikhususkan kepada hal-hal yang berhubungan dengan 1) keberadaan organisasi Ganda Mekar dan Cangkurileung yang dibangun oleh Mang Koko, dan 2) proses pembelajaran karya-karya Mang Koko yang diterapkan di lembaga pendidikan seni formal seperti di Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN 10 Bandung), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, dan di Jurusan Pendidikan Musik FPBS UPI Bandung, 3) karya-karya Mang Koko yang digunakan di masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencari tahu kemungkinan adanya grup karawitan yang menggarap karya-karya Mang Koko sebagai materi pentasnya.

d. Wawancara

Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan terarah sesuai tujuan penelitian. Pelaksanaan wawancara dipandu dengan pedoman wawancara yang berisi poin-poin masalah yang digali di lapangan, dengan harapan seluruh poin yang dibicarakan dapat berkembang lagi sesuai fokus penelitian.

Wawancara mendalam dilakukan kepada beberapa nara sumber yang dipandang kompeten dan memiliki cakrawala keilmuan tentang karawitan Sunda gaya Mang Koko, baik konsep maupun praktik atas objek penelitian. Selain bentuk wawancara tersebut di atas, dilakukan pula wawancara dengan terstruktur dan tidak terstruktur, hal ini dilakukan guna menggali data sebanyak-banyaknya. Wawancara mendalam dilakukan pada waktu dan konteks yang dianggap tepat guna mendapatkan data yang rinci, dan dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan dan kejelasan masalah yang diteliti.

Nara sumber utama yang dipilih antara lain para budayawan, seniman, tokoh karawitan Sunda yang mengenal Mang Koko, nara sumber lainnya berasal dari berbagai kalangan yang memiliki kemampuan dalam bidang seni karawitan, sastra, dan budaya Sunda, seperti: kerabat/keluarga, kolega, murid Mang Koko, para pengrawit karawitan gaya Mang Koko, pelatih, dosen STSI Bandung, Guru SMKN 10 yang dahulu dinamakan KOKAR (Konservatori Karawitan) Bandung, dan tokoh seni lainnya, semua itu dianggap mengetahui tentang Mang Koko dan karya-karyanya.

Pengumpulan data wawancara mengenai latar belakang kesenimanan dan proses kreatif Mang Koko dilakukan pertama kali kepada keluarga Mang Koko. Wawancara dilakukan dengan putra-putri Mang Koko, antara lain: 1) Tatang Benyamin Koswara,

anak kandung Mang Koko, pewaris dan penerus karawitan Sunda gaya Mang Koko, juga pengelola Yayasan Cangkurileung, pensiunan guru SMKN 10 Bandung; 2) Ida Rosida Koswara, adik Tatang Benyamin, guru karawitan di SMKN 10 Bandung, banyak berperan sebagai pewaris dan penerus karawitan Sunda gaya Mang Koko termasuk berperan sebagai fasilitator, transformator, kolektor, mediator, dan aktor dalam menjaga keberlanjutan karya-karya Mang Koko; 3) Tati Rosmiati, anak pertama Mang Koko; 4) Cecep Bastadi, anak kedua Mang Koko; 5) Titin Rostini, anak keenam, dosen dan Ketua Jurusan Bahasa Jepang di STBA Bandung; dan 6) Nia Henrita, anak ketujuh, guru SMP Negeri 15 Bandung. Data yang digali dari putra-putri Mang Koko tersebut adalah faktor-faktor kebiasaan Mang Koko dalam kesehariannya di lingkungan keluarga, terutama dalam kaitannya dengan aktivitas kreatif Mang Koko.

Wawancara berikutnya dilakukan kepada orang-orang yang memiliki keterikatan sejarah dengan aktivitas kreatif Mang Koko membuat karya seni dan mengajar karawitan. Data-data yang digali adalah data-data yang berhubungan dengan proses kreatif Mang Koko, kolaborasi penciptaan, repertoar kawih kacapian dan aransemennya, tema, karakter, kekhasan senggol, dan pola pembelajaran dan atau pelatihan, laras dan surupan di dalam kawih kacapian maupun gamelan wanda anyar.

Nara sumber ini di antaranya adalah: 1) Pandi Upandi, dosen di jurusan Karawitan STSI (sekarang ISBI) Bandung; Wahyu Wibisana, sastrawan dan penulis rumpaka lagu; 2) Deddy Widiyangiri, sastrawan dan penulis rumpaka lagu, pada tanggal 23 Desember 2010 yang berlokasi di Bandung. Wahyu Wibisana dan Deddy Widiyangiri merupakan tokoh-tokoh yang pernah berkolaborasi dengan Mang Koko, membuat sastra lagu (rumpaka) yang digunakan dalam kekaryaan karawitan Sunda gaya Mang Koko; 3) Maman SWP, meninggal 26 Mei 2013, semasa hidupnya Maman dikenal sebagai seorang pemain kacapi gaya Mang Koko terhebat di Bandung, setelah Tatang Benyamin Koswara; 4) Eka Gandara WK, pensiunan dosen STSI Bandung jurusan Teater, mantan anggota grup Ganda Mekar, pasangan duet vokal bersama Ida Rosida dalam album rekaman lagu-lagu kawih kacapian; 5) Atang Warsita, mantan anggota grup Ganda Mekar, pensiunan guru karawitan di SMKNegeri 10 Bandung, penerus misi Mang Koko dalam menciptakan lagu-lagu untuk pendidikan tingkat sekolah dasar dan lanjutan.

Selanjutnya, data yang terkait dengan masalah pengaruh wanda anyar pada kesenian lainnya didapat dari wawancara dengan Engkos Warnika dan Ganjar Akhdiat. Data yang berhubungan dengan kacapi siter banyak digali dari hasil wawacara bersama Riskonda.

Penggalian data persebaran karya-karya Mang Koko di masyarakat, dibagi dalam dua kelompok masyarakat pengguna, yakni: 1). Masyarakat seniman tradisi; dan 2). Masyarakat pendidik. Wawancara terhadap masyarakat seniman tradisi dilakukan kepada Edih AS, pensiunan penilik kebudayaan yang merangkap sebagai pengurus Pepadi kabupaten Subang, yang juga aktif dan kreatif sebagai pencipta lagu-lagu kawih baik dalam bentuk kawih kacapian, degung, maupun kawih kepesindenan, dan mantan pengurus Yayasan Cangkurileung Cabang Kabupaten Subang. Data yang digali dari Edih AS. adalah sekitar tanggapan masyarakat seniman tradisi terhadap karya-karya Mang Koko terutama gending wanda anyar. Wawancara dengan masyarakat pendidik diwakili oleh beberapa guru kesenian, diantaranya: 1) Yayat, guru kesenian di SMPNegeri II Cimalaka, Sumedang; 2) Nugraha, pensiunan guru SMA Negeri II Subang; 3) Jajat Sudrajat, guru SMPNegeri II Cikareo, Sumedang; 4) Ade Ahmad Yani, Kepala Sekolah SMPNegeri Labuhan, Banten.

Dokumen terkait