BAB III METODE PENELITIAN
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini peneliti menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan data yang telah dihimpun. Metode pengumpulan data yang utama digunakan adalah wawancara, sedangkan metode
33 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, (Bandung: Alfabeta, 2013), 376.
34 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, 376.
pengumpulan data observasi dan dokumentasi adalah sebagai pengumpulan data penunjang. Akan tetapi semua metode pengumpulan data tersebut bersifat saling melengkapi antara metode satu dengan metode yang lain. berikut ini adalah metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti.
1. Wawancara
Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang sejauh mana upaya guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Wawancara atau interview adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.35
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.36
Berdasarkan penjelasan diatas wawancara adalah metode pengumpulan data yang digunakan oleh pewancara untuk memperoleh informasi dari orang yang telah diwawancarai, dengan melakukan tanya jawab sehingga dapat diperoleh informasi yang lebih akurat. Wawancara dilakukan kepada guru khusunya mata pelajaran pendidikan agama islam.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat Peneliti melakukan wawancara dengan guru beserta siswa SMA Negeri 6 Metro. Wawancara ini dilakukan setelah proses belajar mengajar selesai. Tujuan dari
35 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, 384.
36 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 186.
wawancara ini untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan bagaimana upaya guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Metro.
2. Observasi
Observasi dilakukan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.37 Setelah Peneliti mengobservasi upaya guru pendidikan agama islam di SMA Negeri 6 Metro, peneliti melihat ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan praktiknya dilapangan.
Nasution berpendapat bahwa, observasi sebagai dasar ilmu pengetahuan. Sebelum lebih jauh melakukan penelitian seseorang harus mengumpulkan data berdasarkan fakta yang ada dilapangan melalui observasi. Kemudian data tersebut dikumpulkan sehingga peneliti dapat membedakan mana data yang diperlukan dan tidak diperlukan.38
Jadi metode observasi yang dimaksud di sini adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena yang tampak pada objek penelitian.
Sanafiah Faisal mengklasifikasi observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation dan covert observation) dan
37 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), 158.
38 Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen, 377.
obervasi yang tak berstruktur (unstructured observation).39 Sedangkan jenis observasi diatas maka observasi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah observasi terus terang.
Observasi terus terang merupakan observasi yang dilakukan dengan terbuka tanpa ada unsur yang ditutupi dan pihak yang dijadikan sebagai penelitian mengetahui data maupun aktifitas yang peneliti lakukan.40 Tujuan dari observasi terang-terangan adalah untuk menghindari adanya pencurian data yang dirahasiakan.
Dari beberapa penjelasan diatas peneliti dapat simpulkan yaitu observasi adalah proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis mengenai kejadian-kejadian yang ada dilapangan. Observasi dilakukan untuk melihat kejadian yang sebenarnya terjadi di lapangan, peneliti melakukan observasi pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Metro untuk melihat tentang upaya guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kenakalan siswa.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah kumpulan fakta dan data yang tersimpan dalam bentuk teks atau artefak.41 Studi dokumentasi adalah mengumpulkan data dengan mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan seseorang yang dijadikan sebagai penelitian.42
39 Ibid.
40 Ibid., 379-380
41 Musfiqon, Metologi Penelitian Pendidikan. (Jakarta: Prestasi Pesdakarya, 2012). 131.
42 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2011), 112.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan dalam suatu penelitian dengan cara mencatat beberapa masalah yang sudah di dokumentasikan oleh guru dan siswa. Metode dokumentasi digunakan peneliti dengan tujuan mendokumentasikan yang dilihat oleh peneliti yang terjadi di lapangan selama proses penelitian.
D. Teknik Penjaminan Keabsahan Data
Pada teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. 43 Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kreadibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data.44
Pada penelitian kualitatif, teknik triangulasi dimanfaatkan sebagai pengecekan keabsahan data yang peneliti temukan dari hasil wawancara dengan beberapa informan lainnya dan kemudian peneliti mengkonfirmasikan dengan studi dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian serta hasil pengamatan peneliti di lapangan sehingga kemurnian dan keabsahan data
43 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, cet. ke-25, 241
44 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 330.
terjamin.45 Dalam penelitian ini, triangulasi yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. 46 Menggunakan metode triangulasi sumber maka data yang dibutuhkan tidak hanya dari satu sumber saja tetapi berasal dari sumber-sumber lain yang terkait dengan sumber penelitian. Sumber data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah guru pendidikan agama islam dan siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Metro.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan cara mengecek kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner.47 Jadi data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi atau dokumentasi. Bila dengan dua teknik pengujian kreadibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka penulis melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya yang berbeda-beda.
45 Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif).
(Jakarta: Gp. Press, 2009), 230-231.
46 lexy j. moleong, metodologi penelitian kualitatif, 330.
47 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2009), 137.
3. Triangulasi Waktu
Tringulasi waktu ini untuk pengujian kreadibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. Observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Apabila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditentukan kebenaran datanya.
Pengujian keabsahan data yang diperoleh peneliti menggunakan triangulasi sumber, waktu dan triangulasi teknik. Dalam triangulasi sumber yaitu guru pendidikan agama islam dan siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Metro. Penulis melakukannya dengan membandingkan data dari metode yang sama terhadap sumber yang berbeda menggunakan teori lain untuk memeriksa data yang bertujuan untuk penjelasan banding lalu membandingkan sumber data yang sama dari observasi dengan data dari wawancara, serta membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi dan memanfaatkan peneliti atau pengamat lain untuk meluruskan dalam pengumpulan data dan melakukannya tersebut di waktu dan situasi yang berbeda.
E. Teknik Analisis Data
Proses terakhir dalam penelitian adalah menganalisis data-data yang telah terkumpul. Pada penelitian ilmiah ada dua macam teknis analisi data, yaitu: analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif.48
48 Muh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: Uin- Maliki Press, 2010), 196.
Analisis deskriptif adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. 49
Sedangkan Secara bahasa, penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan tentang situasi pada objek penelitian. Pada analisis deskriptif penelitian yang digambarkan harus secara sistematis (tersusun alurnya), sesuai fakta atau tidak memanipulasi data maupun keadaan sesungguhnya, dan dapat dipercaya mengenai fakta dan sifat populasi tertentu. 50
Dari data yang sudah diperoleh kemudian diterangkan dalam bentuk kata-kata dan gambar kemudian dideskripsikan sehingga dapat memberian kejelasan kenyataan realitas. Maka analisis data yang dilakukan melalui beberapa tahapan:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah Peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
Di sini data yang direduksi adalah mengenai yang terkumpul, baik dari hasil penelitian lapangan atau kepustkaan dibuat sebuah rangkuman.
49 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 11.
50 Sumardi Surya Brata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2012), 75-76.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, serta merencanakan tindakan selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Selain itu melalui penyajian data, maka data dapat terorganisasikan sehingga akan semakin mudah dipahami.
Sajian data tersebut dimaksudkan untuk memilih data yang sesuai dengan kebutuhan peneliti tentang upaya guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 6 Metro.
Ini artinya data yang telah dirangkum tadi kemudian dipilih, sekiranya data mana yang diperlukan untuk penulisan laporan penelitian.
3. Conslusion Drawing / Verification (Kesimpulan)
Langkah ketiga yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan ini akan diikuti dengan bukti-bukti yang diperoleh ketika penelitian dilapangan.
Verifikasi data dimaksudkan untuk penentuan data akhir dari keseluruhan proses tahapan analisis sehingga keseluruhan permasalahan mengenai upaya guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kenakalan siswa dapat terjawab sesuai dengan data dan permasalahannya.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa yang dimaksud dengan analisis deskriptif adalah suatu analisis data yang digunakan dalam suatu penelitian kualitatif lapangan. Analisis deskriptif bertujuan untuk mengumpulkan gambar, kata-kata dan bukan angka-angka, semua yang
dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap yang telah diteliti.
Sehingga dapat memberikan predikat kepada variabel yang diteliti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Sejarah SMA Negeri 6 Metro
SMA Negeri 6 Metro, yang berlokasi di jalan FKPPI, Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan Kota Metro menempati lahan seluas 20.000 m2 ( 2 HA ). Dari awal pembagian 5 Kecamatan di Kota Metro, yaitu Metro Timur, Metro Pusat, Metro Barat, Metro Utara, dan Metro Selatan. Sampai tahun 2010 Kecamatan Metro Selatan adalah Kecamatan yang belum memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri.Seperti 4 Kecamatan lainnya di Kota Metro, Maka dari hal tersebut yang mendasari Pemerintah Kota Metro untuk mendirikan Sekolah Menengah Atas Negeri di Kecamatan Metro Selatan. Selain itu untuk mempermudah Masyarakat Metro Selatan mendapatkan pelayanan Pendidikan untuk bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri dan tidak perlu jauh untuk mendapatkan pelayanan perlu ke Kecamatan lain yang cukup jauh.
Di Kota Metro sudah didirikan sebanyak lima Sekolah Menengah atas. Jadi di Metro Selatan akan didirikan Sekolah Menengah Atas Negeri yang ke-6, sehingga menjadi SMA Negeri 6 Metro. selain sebagai Sekolah Menengah Atas pada umumnya, SMA Negeri 6 Metro juga di jadikan sebagai sekolah Olahraga, yang di dalam peneriman siswanya terdapat jalur khusus atlit olahraga yang berprestasi dalam
olahraga. Yaitu berprestasi di Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional.Yang kemudian siswa yang merupakan atlit-atlit tersebut di bina sesuai dengan cabang olahraga masing –masing.pembangunan sekolah pun dilaksanakan pada tahun 2011 di bulan awal, pembangunan sehingga pada penerimaan siswa baru 2011 SMA Negeri 6 Metro sudah dapat menerima siswa baru. Pada awal pembukaan SMA Negeri 6 Metro menerima 3 kelas dengan kuota siswa yang di terima sebanyak 192 orang.Kuota tersebut telah ditentukan oleh Dinas Dikbudpora Kota Metro. Dengan bangunan awal yang dibangun yaitu 3 ruang kelas, 1 kantor tata usaha, 1 Laboratorium Biologi, 1 ruang perpustakaan, 3 ruang WC dan 1 ruang gudang.
2. Deskripsi SMA Negeri 6 Metro
SMA Negeri 6 Metro memiliki deskripsi yang berisi semua data penting sekolah seperti pada Tabel 1.1 Deskripsi SMA Negeri 6 Metro,
Kecamatan : Kec. Metro Selatan Kabupaten/Kota : Kota Metro
Provinsi : Prov. Lampung
Negara : Indonesia 6 Posisi Geografis : -5.1652 Lintang
105.3168 Bujur 7 SK Pendirian Sekolah : 310/KPTS/D.3/2010 8 Tanggal SK Pendirian : 2010-11-18
9 Status Kepemilikan : Pemerintah Daerah 10 SK Izin Operasional : 310/KPTS/D.3/2010 11 Tgl SK Izin Operasional : 2010-11-18
12 Kebutuhan Khusus
Dilayani : -
13 Nomor Rekening : 3810304096238
14 Nama Bank : BANK LAMPUNG
15 Cabang KCP/Unit : METRO
16 Rekening Atas Nama : SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 6
17 MBS : Ya
18 Luas Tanah Milik (m2) : 22031 19 Luas Tanah Bukan Milik
(m2) : 0
20 Nama Wajib Pajak : SMA NEGERI 6 METRO
21 NPWP : 009177565321000
20 Nomor Telepon : 07257525196
21 Nomor Fax : -
22 Email : [email protected]
23 Website : http://www.smanegeri6metro.sch.id 24 Waktu Penyelenggaraan : Sehari Penuh/5 hari
25 Bersedia Menerima Bos? : Ya
26 Sertifikasi ISO : Belum Bersertifikat 27 Sumber Listrik : PLN
28 Daya Listrik (watt) : 13200
29 Akses Internet : Lainnya (Serat Optik) 30 Akses Internet Alternatif : Tidak Ada
31 Kecukupan Air : Cukup 32 Sekolah Memproses Air
Sendiri : Ya
33 Air Minum Untuk Siswa : Tidak Disediakan 34 Mayoritas Siswa : Ya
Membawa Air Minum 35 Jumlah Toilet
Berkebutuhan Khusus : 0
36 Sumber Air Sanitasi : Sumur terlindungi 37 Ketersediaan Air di
Lingkungan Sekolah : Ada Sumber Air
38 Tipe Jamban : Leher angsa (toilet duduk/jongkok) 39 Jumlah Tempat Cuci
: Laki-laki Perempuan Bersama
0 0 13
42 Jumlah Jamban Tidak Dapat Digunakan
: Laki-laki Perempuan Bersama
0 0 0
Sumber: Dokumentasi Deskripsi SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021.
3. Visi dan Misi SMA Negeri 6 Metro a. Visi SMA Negeri 6 Metro
Dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan nasional sekolah harus menyusun Visi Sekolah, yakni:
“Terwujudnya SMA Negeri 6 Metro Berakhlak, Berilmu, Berprestasi, Melestarikan Lingkungan dan Berbudaya Lingkungan serta Berwawasan Wisata Pendidikan.”
b. Misi SMA Negeri 6 Metro
Dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan nasional sekolah harus menyusun Misi Sekolah, seperti pada point-point berikut:
1) Mengembangkan Kurikulum Tahun 2013 berdasarkan kompetensi lingkungan.
2) Melaksanakan Pembinaan Peningkatan Keimanan Dan Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
3) Meningkatkan kompetensi pendidik dalam menunjang tugas-tugas profesionalismenya.
4) Menyelenggarakan Proses Pembelajaran Yang berdaya saing tinggi.
5) Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik peserta didik baik untuk tingkat lokal, regional, dan nasional.
6) Melaksanakan Praktek Ketrampilan Pengembangan Bakat, Minat, Dan Kegemaran Siswa.
7) Meningkatkan kesadaran berakhlak mulia kepada seluruh warga sekolah
8) Menyelenggarakan Kegiatan Ekstra Kurikuler Sekolah Secara Kontinyu.
9) Menyelenggarakan Kerja sama Dengan Pihak Terkait Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan.
10) Melaksanakan pembangunan tempat ibadah untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan.
11) Melaksanakan pembangunan ruang kelas yang berkelanjutan untuk meningkatkan sarana pembelajaran yang kondusif.
12) Meningkatkan Kesejahteraan Siswa (Student Well Fare), Melalui Pengadaan Sumber Beasiswa.
13) Mewujudkan Kebersihan, Keindahan, Kenyamanan, Ketertiban dan Keamanan Sekolah (Mewujudkan Sekolah Yang Berwawasan Wisata).
4. Struktur Organisasi SMA Negeri 6 Metro
Bagan 1.1 Struktur Organisasi SMA Negeri 6 Metro SUNARTI, M.Pd.
5. Denah Lokasi SMA Negeri 6 Metro
Sumber: Dokumentasi Denah SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021
6. Sarana dan Prasarana SMA Negeri 6 Metro
SMA Negeri 6 memiliki sarana dan prasarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yakni:
a. Data Sarana SMA Negeri 6 Metro
SMA Negeri 6 memiliki sarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, seperti Tabel 1.2 Data Sarana SMA Negeri 6 Metro yakni:
Tabel 1.2
Data Sarana SMA Negeri 6 Metro
No Jenis Ruang Jumlah Kondisi Keterangan
01. Ruang Kelas 24 Baik Cukup
02. Ruang Lab Kimia/Biologi 1 Baik
03. Ruang Lab Bioligi 1 Baik
04 Laboratorium Fisika 1 Baik 05. Laboratorium Komputer 2 Baik
06. Perpustakaan 1 Baik
b. Data Prasarana SMA Negeri 6 Metro
SMA Negeri 6 memiliki sarana dan prasarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, seperti pada Tabel 1.3 Data Prasarana SMA Negeri 6 Metro yakni:
Tabel 1.3
Data Prasarana SMA Negeri 6 Metro
No Jenis Ruang Jumlah Kondisi Keterangan 01. Meja Kepala Sekolah 1 Baik Kurang 1
7. Keadaan Guru SMA Negeri 6 Metro
Tabel 1.4
Data Guru SMA Negeri 6 Metro
No Nama NUPTK Status Kepegawaian Jenis PTK Keterangan
Jurusan/Prodi 1 Mizam Rizki 5235765666130113 Guru Honor Sekolah Guru Mapel Pendidikan Bahasa Inggris 2 Setria Utami 9648756657300082 Guru Honor Sekolah Guru Mapel Manajemen Perusahaan 3 Willy Saputra 3640770671130042 Tenaga Honor Sekolah Tenaga Administrasi Sekolah Administrasi Negara 4 Robet Susanti 8154765666130113 Tenaga Honor Sekolah Tenaga Administrasi Sekolah Pendidikan Ekonomi 5 Tri Retnowati 8737753655130102 Tenaga Honor Sekolah Tenaga Administrasi Sekolah Administrasi Negara
6 Sugiyanto Tenaga Honor Sekolah Penjaga Sekolah Pendidikan Umum
7 Heni Putri Jelita, S.pd Guru Honor Sekolah Guru Mapel Bahasa Inggris
8 Untung Prayitno Tenaga Honor Sekolah Pesuruh/Office Boy Mekanisasi Pertanian 9 Lela Dian Melawati Tenaga Honor Sekolah Tenaga Administrasi Sekolah Kebidanan
10 Thanggab Ady Tyas Tenaga Honor Sekolah Petugas Keamanan Teknik Mekanik Otomotif
11 Agus Mu'azin Tenaga Honor Sekolah Penjaga Sekolah Teknik Mekanik Otomotif
12 Eka Tri Agustina Tenaga Honor Sekolah Tenaga Perpustakaan Guru Kelas SD/MI
13 Kuntari Tenaga Honor Sekolah Tukang Kebun Bangunan Air
14 Wawan Edi Priyatno Tenaga Honor Sekolah Tukang Kebun Manajemen Informatika dan Komputer
15 Siti Nurkhamidah 3240772672130053 Guru Honor Sekolah Guru Kelas Pendidikan Agama Islam
16 Okta Ade Nurdyanto Guru Honor Sekolah Guru Mapel Pendidikan Kesehatan dan
Rekreasi
17 Muamar Rahmanto Tenaga Honor Sekolah Tenaga Administrasi Sekolah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 18 Kumalasari Anisa
Teladan Guru Honor Sekolah Guru Mapel Matematika
19 Maria Gega Guru Honor Sekolah Guru Mapel Matematika
20 Vivi Nur Utami Guru Honor Sekolah Guru Mapel Matematika
Sumber: Data Guru SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021.
8. Keadaan Siswa SMA Negeri 6 Metro
a. Jumlah Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin
SMA Negeri 6 Metro memiliki jumlah siswa berdasarkan kelamin, seperti pada Tabel 1.5 Data Jumlah Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin yakni:
Tabel 1.5
Data Jumlah Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
229 322 551
Sumber:Dokumentasi Data Jumlah Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021.
b. Data Jumlah Siswa Berdasarkan Usia
SMA Negeri 6 Metro memiliki jumlah siswa berdasarkan SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021.
c. Data Jumlah Siswa Berdasarkan Agama
SMA Negeri 6 Metro memiliki jumlah siswa berdasarkan agama, seperti pada Tabel 1.7 Data Jumlah Siswa Berdasarkan Agama yakni:
Tabel 1.7
Data Jumlah Siswa Berdasarkan Agama
Agama L P Total SMA Negeri 6 Metro Tahun 2020-2021
B. Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Bentuk Kenakalan Siswa di SMA Negeri 6 Metro
Bentuk kenakalan siswa di SMA Negeri 6 Metro yakni seperti keluar dari kelas dengan alasan ke Toilet tetapi malah ke kantin atau terkadang siswa laki-laki yang meminta izin keluar tetapi malah merokok berjama‟ah di sekitaran toilet dan siswa sering juga membolos dengan cara keluar kelas meskipun jam pelajaran belum selesai. Bentuk kenakalan siswa dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan yakni tingkat kenakalan rendah, tingkat kenakalan sedang dan tingkat kenakalan tinggi (Lampiran 4 Gambar 1.4, Lampiran 5 Gambar 1.5, Lampiran 9 Tabel 1.4, Lampiran
14 Gambar 1.7, Lampiran 15 Gambar 1.8). Kenakalan pada tingkatan yang rendah masih bersifat wajar biasanya hanya mendapat arahan dan teguran dari guru pendidikan agama islam seperti kurang sopan dalam perkataan, tidak mengerjakan tugas dan mencontek, kenakalan pada tingkatan sedang biasanya lebih pada prilaku tetapi masih dalam aspek pembelajaran seperti mengambil buku siswa lain sedangkan kenakalan siswa pada tingkatan paling tinggi yakni siswa berani membolos dan merokok pada lingkungan sekolah di SMA Negeri 6 Metro (Lampiran 1 Gambar 1.1, Lampiran 6 Tabel 1.1, Lampiran 8 Tabel 1.3, Lampiran 10 Gambar 1.6, Lampiran 12 Gambar 1.8).
Sudut pandang lain menyatakan semua yang telah dijabarkan tersebut tidak termasuk kedalam kategori kenakalan siswa sebab pada usia remaja mereka masih dalam proses mencari jati diri sehingga belum mampu bersikap dengan baik secara konstan sehingga diperlukan arahan dan bimbingan agar siswa menjadi lebih baik. Tugas seorang guru agama islam dianggap sebagai guru yang paling efisien untuk menamkan pembelajaran karakter yang lebih baik sehingga dapat dikatakan dalam dunia pendidikan itu tidak ada yang namanya kenakalan siswa hanya saja pihak pendidik belum mampu untuk mengarahkan dan membimbing siswa untuk melakukan yang baik ( Lampiran 2 Gambar 1.2, Lampiran 7 Tabel 1.2, Lampiran 11 Gambar 1.7).
2. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Siswa di SMA Negeri 6 Metro
Upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam melakukan pencegahan (upaya preventif) bagi kenakalan siswa di SMA Negeri 6 Metro yakni (Lampiran 1 Gambar 1.1, Lampiran 4 Gambar 1.4, Lampiran 5 Gambar 1.5, Lampiran 6 Tabel 1.1, Lampiran 9 Tabel 1.4, Lampiran 13 Gambar 1.9, Lampiran 14 Gambar 1.7) :
a. Diadakan program dan kegiatan tertentu yang dapat mencegah siswa melakukan kenakalan seperti penertiban sholat duhur oleh guru pendidikan agama islam di sekolah dengan menerapkan absensi setelah sholat, diadakan pengajian setiap hari Jum‟at, dan pesantren kilat pada saat menjelang Puasa Ramadhan.
b. Diadakan diskusi atau panel ceramah tamu oleh tokoh agama atau orang terkemuka tentang bahaya-bahaya prilaku menyimpang siswa.
c. Memberikannya pengarahan, memberi peringatan dan membimbing siswa agar tidak melakukan kenakalan pada siswa. Upaya tersebut bertujuan agar mereka takut dosa dan akibat yang akan timbul jika mereka melakukan sesuatu yang menyalahi aturan. Terutama pada mata pelajaran agama islam guru pendidikan agama islam menyisipkan pendidikan karakter agar mereka tidak melakukan kenakalan.
c. Memberikannya pengarahan, memberi peringatan dan membimbing siswa agar tidak melakukan kenakalan pada siswa. Upaya tersebut bertujuan agar mereka takut dosa dan akibat yang akan timbul jika mereka melakukan sesuatu yang menyalahi aturan. Terutama pada mata pelajaran agama islam guru pendidikan agama islam menyisipkan pendidikan karakter agar mereka tidak melakukan kenakalan.