BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
3.3. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengamatan berperan-serta (participant-observation) adalah upaya Peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara menjadi bagian atau terasosiasikan dengan subyek penelitian. Melalui teknik ini, Peneliti berkesempatan untuk tidak hanya sekedar mengamati, namun juga dapat menggali – dan dalam beberapa kesempatan bahkan mengadaptasi – perspektif dari subyek penelitian dalam situasi naturalnya (Frankfort-Nachmias dan Nachmias, dalam Medlin, 2008:66). Howard Becker, sebagaimana dikutip Mulyana (2010:162) mengajukan satu definisi praktis bahwa pengamatan berperan-serta adalah teknik yang dilakukan sambil sedikit banyak turut ambil bagian dalam kehidupan orang yang diteliti. Dalam hal ini, pengamat mengikuti subyek penelitiannya dalam kehidupan sehari-hari mereka, untuk melihat hal-hal apa yang mereka lakukan, kapan, dengan siapa, dalam keadaan apa, serta menanyai mereka mengenai tindakan mereka (Mulyana, 2010:163).
Karena berbasis logika penemuan (logic of discovery), maka teknik pengamatan berperan-serta memiliki kelebihan apabila dipergunakan untuk meneliti pola manusia berperilaku serta memandang realitas kehidupan mereka dalam lingkungan yang biasa dan rutin. Ini dikarenakan perilaku manusia tidak cocok diteliti dalam sebuah lingkungan buatan, yang diyakini akan membuat mereka berperilaku tidak alamiah (Mulyana, 2010:167).
Secara lebih spesifik, Idrus (2009:102) mengutip Guba dan Lincoln yang meyakini ada beberapa keunggulan dari pengamatan berperan serta, antara lain
bahwa teknik ini memungkinan Peneliti melihat dan mengamati sendiri, lalu mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya, sekaligus memungkinkan Peneliti memahami situasi-situasi yang rumit. Namun karena sifatnya yang terkesan tidak memiliki nilai keilmiahan seperti yang dituntut dalam proses penelitian, Jehoda et al. (sebagaimana dikutip Idrus, 2009:102) menyarankan perlunya Peneliti mengikuti kaidah-kaidah berikut agar teknik ini tetap berada dalam koridor ilmiah, yaitu:
1. Untuk terus mengabdi kepada tujuan penelitian yang telah dirumuskan; 2. Merencanakan pengamatan berperan-serta secara sistematis, dan bukan
terjadi secara tidak teratur;
3. Tercatat dan dihubungkan dengan proposisi yang lebih umum, dan tidak hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu belaka;
4. Dapat dicek dan dikontrol validitas dan reliabilitas ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.
Mulyana (2010:168) juga menggaris-bawahi bahwa tantangan bagi teknik pengamatan berperan-serta adalah sifatnya yang mencakup berbagai metode dan cara penelitian, sehingga membuatnya sulit dibakukan oleh komunitas ilmuwan sosial. Namun ia sependapat dengan Louise Kidder, yang berargumen bahwa yang menjadikan penelitian kualitatif menjadi sistematik justru bukanlah standarisasinya, melainkan analisis kasus negatif. Maka, apabila Peneliti memunculkan satu kasus yang menegasikan hipotesisnya, Peneliti merevisi hipotesisnya tersebut agar mengakomodasi bukti baru, dan hal ini dilakukan terus-menerus hingga tidak ada lagi diskonfirmasi (Mulyana, 2010:169). Ini konsisten dengan apa yang dikonsepsikan oleh Bogdan dan Biklen (sebagaimana dikutip
Idrus, 2009:256) sebagai “kejenuhan data” (“data saturation”). Dari sini dapat disimpulkan bahwa arah penelitian berperan-serta adalah induktif, yaitu bahwa data dipergunakan untuk merumuskan satu hipotesis atau teori.
3.3.2. Wawancara
Teknik pengamatan berperan-serta juga mencakup teknik wawancara. Kombinasi antara wawancara dan pengamatan berperan-serta adalah konsisten dengan metode logis yang memberi peluang Peneliti untuk mengawinkan sifat-sifat tertutup tindakan sosial dengan sifat-sifatnya yang terbuka dan dapat diamati. Pada akhirnya, gambaran yang komprehensif tentang subyek penelitian dapat dicapai melalui perbandingan antara apa yang dikatakan subyek tersebut dengan apa yang dilakukannya ketika berada pada situasi tertentu (Mulyana, 2010:163). Terkait penelitian ini, wawancara yang dilakukan Peneliti adalah wawancara yang tidak berstruktur, atau apa yang disebut Idrus sebagai wawancara tak berencana namun selalu terpusat pada satu pokok masalah tertentu (Idrus, 2009:104). Moleong menyebutkan bahwa wawancara jenis ini digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku, lebih menekankan kekecualian, penyimpangan, penafsiran yang tidak lazim, penafsiran kembali, pendekatan baru, pandangan ahli, atau perspektif tunggal (dalam Arief, 2010: 61). Peneliti juga mendapati bahwa dalam konteks penelitian berperan-serta ini, wawancara tak terstruktur memberi peluang bagi diskusi yang lebih terbuka antara Peneliti dan subyek penelitian. Hal ini membuka peluang untuk memunculkan fakta dan data yang tidak terpikirkan oleh Peneliti sebelumnya, dan pada gilirannya memperkaya pemahaman Peneliti terhadap situasi yang dihadapi.
Dalam penelitian ini, Peneliti memanfaatkan wawancara langsung dan tidak langsung. Untuk wawancara langsung, Peneliti melakukannya terhadap tiga orang, yaitu:
1. Walikota Solo Jokowi. Wawancara dengannya tidak dilakukan pada waktu-waktu yang ditentukan secara khusus dan terstruktur, tetapi pada situasi yang memungkinkan dan secara spontan di sela-sela proses pengamatan berperan-serta.
2. “Ani” (nama disamarkan dan transkrip tidak dilampirkan dalam tesis ini sesuai kesepakatan), penasehat informal komunikasi politik Jokowi. Pada saat penelitian berlangsung, ia adalah konsultan komunikasi lepas di beberapa organisasi. Peneliti menganggap ia adalah responden yang penting, karena terlibat dalam pembentukan strategi komunikasi Jokowi di awal tugasnya sebagai pemimpin daerah, dan sampai saat penelitian berlangsung masih memberikan pengaruh terhadap komunikasi politik Jokowi. Wawancara dilakukan pada tanggal 10 Februari dan 9 Maret 2012. 3. “Hoe” (nama disamarkan dan transkrip tidak dilampirkan dalam tesis ini
sesuai kesepakatan), mantan anggota tim perumus kebijakan Jokowi pada Pilkada 2005. Pada saat penelitian dilangsungkan, ia menjabat sebagai pemimpin utama di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Solo. Meskipun ia tidak berkecimpung dalam aspek komunikasi politik Jokowi secara langsung, namun ia termasuk pihak yang membantu Jokowi merancang kebijakan dari sebuah konsep menjadi tindakan riil, sehingga Peneliti menganggap pentingnya menyertakan sudut pandangnya ke dalam penelitian ini. Wawancara dilakukan pada tanggal 7 Maret 2012.
Selain melakukan wawancara secara langsung, Peneliti juga mendapatkan informasi melalui wawancara tidak langsung, yaitu yang dilakukan oleh pihak-pihak lain seperti kelompok wartawan dan para tamu yang berdiskusi dengan Jokowi dan disaksikan oleh Peneliti. Hal ini merupakan manfaat lain dari pengamatan berperan-serta yang Peneliti rasakan, yaitu mendapatkan akses informasi yang sebenarnya tidak secara langsung digali oleh Peneliti, namun dilakukan oleh pihak ketiga. Secara ilmiah, teknik ini merupakan bagian dari kegiatan pengamatan berperan-serta yang disebut dengan “mencuri-dengar”
(eavesdropping), yaitu mendengarkan suara yang tidak diminta. Hal ini diyakini
Schatzman dan Strauss (dalam Mulyana, 2010:178) memiliki fungsi sama dengan menyaksikan adegan kegiatan yang sedang berlangsung.
3.3.3. Analisis Dokumen
Di dalam penelitian ini, Peneliti juga menggunakan teknik analisis dokumen, yakni mengumpulkan data sekunder dari berbagai literatur kepustakaan. Dokumen-dokumen yang menjadi rujukan terkait subyek penelitian antara lain:
1. Dua tesis yang telah ditulis sebelumnya yang bertemakan Jokowi dan Pemerintah Kota Solo;
2. Dua buku populer tentang Jokowi;
3. Sekurang-kurangnya 23 artikel surat kabar mengenai Jokowi, aspek-aspek kepemimpinannya, dan hal-hal terkait lainnya;
4. Profil Kota terbitan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Solo; 5. Sekurang-kurangnya 10 brosur/pamflet terbitan Dinas Informasi dan
Komunikasi Pemerintah Kota Solo; 6. Buku agenda kegiatan harian Jokowi;
7. Tulisan Jokowi sendiri yang pernah dipublikasikan.
Hasil analisis terhadap dokumen-dokumen di atas kemudian dijadikan sebagai data penunjang untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan baik melalui penelitian berperan-serta dan wawancara mendalam.
Peneliti melihat pentingnya analisis dokumen dalam penelitian ini, karena hal tersebut memberi konteks dan latar belakang rasional bagi Peneliti untuk memahami hasil penelitian berperan-serta yang dilakukan dalam periode yang relatif terbatas. Hal ini didukung oleh pendapat Schatzman dan Strauss, bahwa sebuah penelitian diperkenankan unutk menelaah dokumen historis dan sumber-sumber sekunder lainnya, karena kebanyakan situasi yang dikaji mempunyai sejarah dan dokumen-dokumen yang ada sering dapat menjelaskan sebagian aspek situasi tersebut (Mulyana, 2010:196).