• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder, yaitu

data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak lain. Data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan perusahaan

Makanan dan Minuman yang go publik di Bursa Efek Indonesia pada tahun

2005 sampai tahun 2008.

3.3.2. Sumber Data.

Dalam penelitian ini data bersumber dari PT. BURSA EFEK

INDONESIA (BEI) berupa laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba)

dari tahun 2005-2008 yang terangkum dalam Indonesia Capital Market

Directory (ICMD) perusahaan Makanan dan Minuman yang telah dipilih

sebagai sampel penelitian.

3.3.3. Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data yang digunakan selama penelitian

sebagai berikut :

1. Studi Lapangan

Studi lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data sekunder

yang diperlukan. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari

instansi-instansi yang terkait dalam penyusunan penelitian ini yaitu

2. Studi Kepustakaan

Yaitu teknik pengumpulan data dengan jalan mempelajari buku-buku

literatur dan catatan yang berhubungan dengan penelitian ini.

3. Dokumenter

Yaitu suatu cara yang digunakan dalam pengumpulan data atau

informasi yang digunakan dengan cara mempelajari dokumen-

dokumen perusahaan yang telah ada dan berkaitan dengan penelitian.

3.4. Teknik Analisa dan Uji Hipotesis 3.4.1. Regresi Linier Berganda

Teknik analisa yang digunakan adalah Analisis Regresi Linier

Berganda. Dikarenakan dalam analisis pemilihan regresi linier berganda

dapat menerangkan ketergantungan satu variabel terikat (Y) yaitu Price

Earning Ratio dengan satu atau lebih variabel bebas (X), yang meliputi tiga

variabel bebas yaitu Current Ratio, Leverage dan Firm Size.

Maka kaitan antara variabel penelitian dapat digunakan model

sebagai berikut :

Y = ß0 + ß1X1 + ß2X2 + ß3X3 + ei (Widarjono,2005 : 77)

Dimana :

Y = Price Earning Ratio

X1 = Current Ratio

X2 = Leverage

ß0 = Intersep (konstanta)

ß1, ß2, ß3 = Koefisien regresi

e = Residual atau kesalahan pengganggu

3.4.2. Uji Asumsi Klasik

Persamaan regresi tersebut diatas harus bersifat BLUE

(Best,Linier,Unbiased,Estimator) artinya pengambilan keputusan melalui uji

F tidak boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus

dipenuhi tiga asumsi dasar yang tidak boleh dilanggar oleh regresi, yaitu :

1. Tidak boleh ada multikoloniaritas

2. Tidak boleh ada heteroskedastisitas

3. Tidak boleh ada autokorelasi

Apabila salah satu dari tiga asumsi dasar tersebut dilanggarmaka

persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE sehingga

pengambilan keputusan melalui uji t menjadi bias (Gujarati, 1995:153)

Menurut Sumodiningrat (2002: 115) sifat blue dapat dijelaskan

sebagai berikut:

1. Best : Pentingnya sifat ini bila diterapkan uji signifikan baku

terhadap α dan ß.

2. Linier : Sifat ini dibutuhkan untuk memudahkan dalam penaksiran.

3. Unbiased : Nilai jumlah sampel sangat besar penaksir parameter

diperoleh dari sampel besar kira-kira lebih mendekati nilai

parameter sebenarnya.

Yang diasumsikan tidak terjadi pengaruh antara variabel bebas atau

regresi bersifat BLUE (Best, Linier, Unbiased, Estimator) artinya koefisien

regresi pada persamaan tersebut betul-betul linier dan tidak bias atau tidak

terjadi penyimpangan-penyimpangan persamaan, seperti:

A. Multikolinearitas

Tepatnya istilah multikolinearitas berkenaan dengan terdapatnya

lebih dari satu hubungan linier pasti dan istilah kolinearitas berkenaan

dengan terdapatnya satu hubungan linier (Gujarati,1995: 157)

Menurut Widarjono (2003:131), mengemukakan bahwa

multikolinearitas berarti adanya hubungan linier antara variabel

independen di dalam regresi linier berganda dalam suatu persamaan.

Multikolinearitas merupakan korelasi variabel independen dalam regresi

berganda.

Deteksi adanya Multikolinearitas :

a. Besarnya VIF (Variance Inflation Factor)

Jika VIF melebihi angka 10, maka variabel tersebut

mengindikasikan adanya multikolinearitas.

b. Nilai Eigenvalue mendekati 0 dan Condition Index melebihi angka

15 (Nachrowi dan Usman,2006: 100)

B. Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas merupakan varian dari residual atau error yang

tidak konstan atau berubah-ubah. Model regresi yang baik tidak

Deteksi adanya Heteroskedastisitas :

Pada regresi linier nilsai residual tidak boleh ada hubungan dengan

variabel X. Hal ini bisa diidentifikasi dengan cara menghitung korelasi

rank spearman.

Menurut Gujarati (1995: 188) rumus rank spearman adalah :

Σ di2

rs = 1 – 6

N(N2 – 1)

Keterangan :

di = Perbedaan dalam rank antara residual dengan variabel bebas ke-i

N = Banyaknya data

Menurut Gujarati (1995:177), mendeteksi adanya heteroskedastisitas

adalah sebagai berikut :

a. Nilai probabilitas > 0.05 berarti bebas dari heteroskedastisitas

b. Nilai probabilitas < 0.05 berarti terkena heteroskedastisitas

C. Autokorelasi

Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota serangkaian

observasi yang diurutkan menurut waktu.

Prosedur untuk menguji autokorelasi yang sebenarnya dapat

dijelaskan lebih baik dengan bantuan gambar dibawah ini, yang

Gambar 1. Statistik d Durbin – Watson, (Gujarati,1995: 216)

Menolak Ho Daerah Daerah Menolak Bukti auto Keragu- Keragu- H*o Bukti korelasi raguan raguan auto kore- positif lasi negatif

Menerima Ho atau H*o atau kedua-duanya

0 dL dU 2 4-dU 4-dL 4 d

Mekanisme tes Durbin-Watson adalah sebagai berikut, dengan

mengasumsikan bahwa asumsi yang mendasari tes dipenuhi :

a. Untuk ukuran sampel tertentu dan banyaknya variabel yang menjelaskan

tertentu dapatkan nilai kritis dL dan du.

b. Jika hipotesis Ho adalah bahwa tidak ada serial korelasi positif, maka jika

d < dL : menolak Ho

d > du : tidak menolak Ho

dL < d < du : pengujian tidak meyakinkan

c. Jika hipotesis nol Ho adalah bahwa tidak ada serial korelasi korelasi

negatif, maka jika

d > 4 – dL : menolak Ho

d < 4 – du : tidak menolak Ho

d. Jika Ho adalah dua-ujung, yaitu bahwa tidak ada serial autokorelasi baik

positif ataupun negatif, maka jika

d < dL : menolak Ho

d > 4 – dL : menolak Ho

du < d < 4 – du : tidak menolak Ho

dL < d < du

atau pengujian tidak meyakinkan

4 – du < d < 4 – dL

Seperti langkah tadi menunjukkan, kelemahan besar dari tes d adalah

bahwa jika d tadi jatuh dalam daerah yang meragukan atau daerah

ketidaktahuan, orang tidak dapat menyimpulkan apakah autokorelasi ada

atau tidak ada. Dalam kasus ini orang bisa mungkin terpaksa melakukan tes

lain (beberapa diantaranya diberikan dalam bentuk soal latihan) atau

mendapatkan data tambahan data atau sampel yang berbeda. Harus juga

diperhatikan bahwa banyaknya observasi minimum yang diperlukan

sehubungan dengan tabel Durbin Watson adalah 15. Alasannya adalah

bahwa suatu sampel yang lebih kecil dari 15 observasi akan menjadi sangat

sulit untuk bisa menarik kesimpulan yang pasti (definitif) mengenai

3.4.3. Uji Hipotesis

3.4.3.1. Uji Simultan (Uji F)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan

antara variabel independen terhadap variabel dependen, dengan prosedur

sebagai berikut :

1. H0 : β1 = β2 = 0

Artinya secara simultan variabel bebas tidak mempunyai pengaruh

terhadap variabel terikat

H1 : β1 = β2  0

Artinya secara simultan variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap

variabel terikat

2. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan sebesar α = 0,05 (5%) dengan derajat bebas [n-k], dimana n : jumlah pengamatan, dam

k : jumlah variable

3. Dengan F hitung sebesar

2 2 / ( 1) (1 ) / hit R k F R n k   Keterangan :

Fhit = F hasil perhitungan

R2 = koefisien variabel

k = jumlah variabel

4. Kriteria pengujian sebagai berikut

a. Jika Fhitung > Ftabel maka Ho di tolak dan Hi diterima (berarti

secara simultan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terkait).

b. Jika Fhitung < Ftabel maka Ho di terima dan Hi ditolak (berarti secara

simultan variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terkait).

3.4.3.2. Uji Parsial (Uji t)

Uji t adalah uji yang digunakan untuk melihat pengaruh masing-

masing variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat

(Widarjono,2005:58).

Hipotesis dirumuskan sebagai berikut :

1. Ho = β1 = β2 = 0

Artinya secara parsial varibel bebas tidak mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap variabel terikat.

Hi = β1 = β2≠ 0

Artinya secara parsial varibel bebas ada pengaruh terhadap variabel

terikat.

2. Menentukan Level of Significant = 5% dengan derajat bebas = ( n-k ),

dimana n : jumlah data dan k : jumlah variable bebas.

3. thitung = βi

Se ( βi )

Dimana: βi = koefisien regresi Se(βi) = Standar error 4. Kriteria pengujian sebagai berikut:

1. Apabila thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, berarti ada

pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat.

2. Apabila thitung < ttabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya tidak

Dokumen terkait