BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan bentuk kegiatan konkrit yang dilaksanakan untuk memperoleh data yang mencerminkan cara-cara yang bersifat mikro atau teknis. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.4.1 Wawancara
Teknik pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara merupakan percakapan untuk mendapatkan informasi tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2005: 186). Sebagaimana ditegaskan oleh Lincoln dan Guba, bahwa maksud mengadakan wawancara antara lain: mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan; merekonstruksi kebulatankebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan memverifikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota (Moleong, 2005:186).
Menurut Nasir (seperti dikutip Mubarok, 2013:31) , wawancara
merupakan, “Proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya atau pewawancara dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide atau panduan wawancara”. Dalam melakukan teknik wawancara, peneliti memerlukan teknik yang tepat agar memperoleh data sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian. Agar wawancara tetap fokus pada permasalahan yang akan diteliti, sebelumnya peneliti telah menyusun pedoman wawancara yang berisi tentang daftar pertanyaan secara sistematis mengenai kasus pembunuhan Fransciesca Yofie, sehingga diharapkan dengan itu peneliti mendapatkan informasi yang rinci dan mendalam.
3.4.2 Telaah Dokumen
Teknik pengumpulan data sekunder penelitian ini dilakukan dengan studi atau telaah dokumen, yang merupakan pelengkap dari kegiatan
wawancara di lapangan. “Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah
berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, karya-karya monumenal dari
seseorang” (Sugiyono, 2012:82).
Penelitian ini sendiri menggunakan dokumen resmi yang telah ada berupa Berita Acara Penyidikan kasus Fransciesca Yofie, berita surat kabar, peraturan perundang-undangan, skripsi, majalah, website serta buku yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2012:89).
Data hasil wawancara denga n sumber primer yang telah disebutkan sebelumnya dan hasil telaah dokumen terkait kasus pembunuhan Fransciesca Yofie disajikan dalam temuan penelitian skripsi ini.
Sumber data yang berbeda membutuhkan proses analisis yang tidak mudah. Menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2012:88) :
”Melakukan analisis adalah pekerjaan yang sulit, memerlukan kerja
keras. Analisis memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi. Tidak ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk mengadakan analisis, sehingga setiap peneliti harus mencari sendiri metode yang dirasakan cocok dengan sifat penelitiannya. Bahan yang
sama dapat diklasifikasikan berbeda oleh peneliti yang berbeda”.
Data yang diperoleh di lapangan selanjutnya akan dianalisis oleh peneliti melalui tahapan sebagai berikut :
a. Reduksi Data
Disini penulis mereduksi data-data yang ditemukan melalui proses wawancara dan studi/telaah dokumen terkait kasus pembunuhan Fransciesca Yofie. Reduksi data dilakukan peneliti dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus yang telah disebutkan dalam latar belakang, serta dikaitkan dengan permasalahan yang telah dibuat. Data yang tidak diperlukan disingkirkan, sedangkan data yang dibutuhkan dan berkaitan dengan penelitian diperdalam sehingga pembahasan terfokus dan bersifat ilmiah.
b. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi
Data yang sudah peneliti dapatkan dan direduksi selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan metode tringgulasi, yang merupakan memadukan antara data, fakta dan konsep ataupun teori yang digunakan untuk membahas dan menjawab permasalahan penelitian yang diangkat dalam penelitian ini. Setelah proses analisis data selesai, peneliti akan memberikan kesimpulan akhir melalui proses penarikan kesimpulan atau verifikasi terhadap
skripsi yang berjudul “Tinjauan Psikologi Sosial Terhadap Pengungkapan
Kasus Pembunuhan Fransciesca Yofie Oleh Penyidik Satuan Reserse Kriminal
Polrestabes Bandung”. Selanjutnya dapat memberikan saran yang tepat terkait pengungkapan kasus pidana oleh pihak kepolisian dan menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian.
Validitas dan reabilitas data penelitian merupakan aspek penilaian data yang menentukan keabsahan data penelitian tersebut nantinya. Dalam penelitian kualitatif, validitas tidak memiliki konotasi yang sama dengan validitas pada penelitian kuantitatif, begitu pula de ngan reabilitas (Creswell, 2012:285).
Menurut Gibss (2007) dalam Reaserch Design (Creswell, 2012:285), validitas kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu, sementara reabilitas kualitatif mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika menerapkan pada peneliti-peneliti lain dan proyek berbeda.Salah satu prosedur reabilitas yang disebutkan Gibss (2007) adalah dengan mengecek hasil transkripsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang dibuat dalam proses transkripsi.
Identifikasi merupakan prosedur lain dalam rencana penelitian guna memeriksa akurasi hasil penelitian. Terdapat delapan strategi validitas yang disusun dari yang paling mudah dilakukan sampai yang paling sulit dilakukan (Creswell, 2012:286).
1. Mentriangulasi sumber-sumber data yang berbeda dengan memeriksa bukti-bukti yang berasal dari sumber-sumber tersebut dan menggunakannya untuk membangun justifikasi tema-tema secara koheren.
2. Menerapkan member checking untuk mengetahui akurasi hasil penelitian.
3. Membuat deskripsi yang padat dan kaya tentang hasil penelitian. 4. Mengklarifikasi bias yang mungkin dibawa peneliti kedalam
penelitian. Dengan melakukan refleksi diri terhadap munculnya bias penelitian, peneliti akan mampumembuat narasi yang terbuka dan jujur sesuai dengan yang dirasakan pembaca.
5. Menyajikan informasi “yang berbeda” atau “negatif” yang dapat
memberikan perlawanan pada tema -tema tertentu.
6. Memanfaatkan waktu yang relatif lama di lapangan atau lokasi penelitian.
7. Melakukan tanya jawab kepada sesama rekan peneliti guna meningkatkan keakuratan hasil penelitian
8. Mengajak seorang auditor untuk mereview keseluruhan proyek penelitian.
BAB IV
TEMUAN PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Gambaran Umun Kota Bandung
Berdasarkan Laporan Intelijen Dasar Polres Kota Besar Bandung Tahun 2013 yang peneliti peroleh pada saat pelaksanaan penelitian dijelaskan bahwa kota Bandung adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Barat yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Daratannya terletak pada ketinggian 768 meter di atas permukaan laut, titik tertinggi di daerah utara dengan ketinggian 1.050 Meter dan terendah di sebelah selatan adalah 675 meter di atas permukaan laut. Bagian Selatan Kota Bandung permukaan tanah relatif datar, sedangkan di wilayah bagian utara berbukit-bukit, sehingga menjadi panorama yang indah.
Secara geografis, Kota Bandung terletak antara 107O36’ Bujur Timur (BT) dan 6O55’ Lintang Selatan (LS). Berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung, rincian batas-batas administratif Kota Bandung sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.
b. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.
c. Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Terusan Pasteur, Cimahi Utara, Cimahi Selatan dan Kota Cimahi.
d. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Dayeuh Kolot, Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Gambar 2
Peta Wilayah Hukum Polrestabes Bandung
Lokasi Kota Bandung cukup strategis baik dilihat dari segi komunikasi, perekonomian maupun keamanan. Hal tersebut disebabkan Kota Bandung
terletak pada poros pertemuan poros jalan raya dimana bagian Barat - Timur yang memudahkan hubungan dengan Ibukota Negara dan Utara - Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah daerah penghasil perkebunan, peternakan dan perikanan seperti Subang dan Pangalengan.
Terkait dengan sumber daya alam, Kota Bandung lebih banyak bergantung kepada daerah lain, mengingat Kota Bandung wilayahnya telah dipenuhi dengan pemukiman penduduk, kawasan industri dan obyek pariwisata serta pusat-pusat perbelanjaan/pertokoan serta perkantoran, sehingga keadaan lahan tersebut kurang memungkinkan adanya eksploitasi terhadap sumber daya alam. Letak yang tidak terisolasi dengan panjang jalan 1.221,69 Kilo Meter (Km), mendukung komunikasi yang baik sehingga memudahkan aparat keamanan untuk bergerak ke setiap penjuru.
Luas wilayah Kota Bandung adalah 16.729,65 Hektar (Ha). Kota Bandung terbagi atas 30 kecamatan sebagai berikut :
Tabel 1
Kecamatan di Kota Bandung
Sumber: Bag Min Polrestabes Bandung, Tahun 2013
NO NAMA KECAMATAN NO NAMA KECAMATAN
1 SUKASARI 16 KIARACONDONG
2 COBLONG 17 BOJONGLOA KIDUL
3 BABAKAN CIPARAY 18 CIBEUYING KALER 4 BOJONGLOA KALER 19 SUMUR BANDUNG
5 ANDIR 20 ANTAPANI
6 CICENDO 21 BANDUNG KIDUL
7 SUKAJADI 22 BUAH BATU
8 CADADAP 23 RANCASARI
9 BANDUNG WETAN 24 ARCAMANIK
10 ASTANA ANYAR 25 CIBIRU
11 REGOL 26 UJUNGBERUNG
12 BATUNUNGGAL 27 GEDEBAGE
13 LENGKONG 28 PANYILEUKAN
14 CIBEUYING KIDUL 29 CINAMBO 15 BANDUNG KULON 30 MANDALAJATI
Kecamatan merupakan unsur pelaksana dan penunjang Pemerintah Daerah. Setiap kecamatan masing-masing dipimpin oleh seorang Camat dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Walikota sesuai dengan spesifikasi tugas pokok dan fungsinya. Tugas pokok Kecamatan yaitu melaksanakan sebagian kewenangan yang dilimpahkan oleh Walikota dibidang pemerintahan, pembangunan, perekonomian, kemasyarakatan, ketentraman dan ketertiban.
Ditinjau dari segi demografi, jumlah penduduk Kota Bandung berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Kependudukan Kota Bandung adalah 2. 581.527 orang/jiwa. Terdiri atas golongan penduduk pribumi yaitu suku sunda, pendatang (suku Jawa, Batak, Bali, Ambon, Irian, Palembang, Padang, Makassar, Manado, Kalimantan, Madura dan sebagainya), dan orang asing. Sifat penduduk asli pribumi Kota Bandung pada umumnya sederhana, ramah, suka merendahkan diri, cinta kepada kampung halamannya sehingga sulit untuk meninggalkan kampung halaman dan keluarganya, serta taat kepada agama yang mana mayoritas beragama Islam.
Mata pencaharian penduduk Kota Bandung sebagian besar adalah pegawai negeri, karyawan/buruh pabrik, pedagang, TNI/Polri, sebagian kecil petani dan penduduk yang bekerja pada sektor jasa. Dampak dari kemajuan pembangunan dan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Kota Bandung serta sulitnya lapangan kerja di daerah menjadikan Kota Bandung sebagai sasaran pencari kerja, akibatnya terjadilah urbanisasi ke Kota Bandung, sehingga mengakibatkan terjadinya kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk Kota Bandung tiap Km dihuni kurang lebih 13.646 jiwa. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
Tabel 2 Jumlah Penduduk
Di Kota Bandung NO. NAMA KECAMATAN
JUMLAH PENDUDUK
JUMLAH LAKI - LAKI PEREMP UAN
1 SUKASARI 41.128 39.505 80.633 2 COBLONG 65.013 61.465 126.478 3 BABAKAN CIPARAY 65.480 61.585 127.057 4 BOJONGLOA KALER 61.544 58.150 119.694 5 ANDIR 57.315 54.356 111.671 6 CICE NDO 54.315 52.836 107.645 7 SUKAJA DI 51.942 50.343 102.285 8 CADA DAP 27.393 25.704 53.097 9 BANDUNG WETA N 18.642 17.601 36.243 10 ASTANA A NYAR 40.935 39.650 80.585 11 REGOL 55.371 53.155 108.526 12 BATUNUNGGA L 64.926 62.843 127.769 13 LENGK ONG 45.299 43.719 89.018
14 CIBE UYING K IDUL 59.499 56.708 116.207
15 BANDUNG KULON 65.934 63.381 129.315
16 KIARA CONDONG 64.824 62.936 127.760
17 BOJONGLOA KIDUL 42.625 40.106 82.731
18 CIBE UYING KALE R 37.218 35.800 73.018
19 SUMUR BANDUNG 22.412 20.917 43.329 20 ANTAPANI 38.207 36.649 74.856 21 BANDUNG KIDUL 28.929 28.081 57.010 22 BUAH BA TU 55.292 53.259 108.551 23 RANCASARI 45,174 43.476 88.650 24 ARCAMA NIK 35.133 33.817 68.950 25 CIB IRU 44.530 41.375 85.905 26 UJUNGBERUNG 41.490 39.445 80.935 27 GEDEBAGE 19.813 19.115 38.928 28 PANYILE UKAN 19.475 18.746 38.221 29 CINAMBO 13.016 12.133 25.149 30 MANDA LAJA TI 36.499 34.804 71.303 JUMLAH 1.319. 867 1.261. 660 2.581. 527 Sumber: Bag Min Polrestabes Bandung, Tahun 2013
4.1.2 Gambaran Umum satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung Berdasarkan Perkap No. 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort (Polres) dan Kepolisian Sektor (Polsek) disebutkan bahwa Polres adalah pelaksana tugas dan wewenang Polri di wilayah kabupaten/Kota yang berada di bawah Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda).
Pasal 2 Perkap No. 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pada Tingkat Polres dan Polsek menjelaskan bahwa peraturan ini bertujuan untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tugas guna menyamakan pola pikir dan pola tindak dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan organisasi Polres dan Polsek. Adapun struktur organisasi Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Bandung adalah seperti pada gambar berikut :
Gambar 3
Wilayah hukum Polrestabes Bandung terbagi menjadi 27 Kepolisian Sektor (Polsek) dalam pelaksanaan tugas pokok kepolisian, yaitu :
Tabel 3
Kepolisian Sektor (Polsek) Di Kota Bandung
Sumber: Bag Min Pol restabes Bandung, Tahun 2013
Berdasarkan Keputusan Kapolri Nopol : KEP/23/2010, tanggal 30 September 2010 tentang Organisasi dan Tata kerja Satuan-Satuan Organisasi pada tingkat Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort dan Sektor, struktur organisasi Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung adalah sebagai berikut :
NO. NAMA ALAMAT
1 Polsek Sukasari Jl. Gegerkalong Hilir No. 155 2 Polsek Sukajadi Jl. Sukajadi No. 141
3 Polsek Cicendo Jl. Hos Cokroaminot o No. 117 4 Polsek Andir Jl. Saritem No. No. 14 5 Polsek Astanaanyar Jl. Astanaany ar
6 Polsek Babakan Ciparay Jl. Soekarno Hatta No. 24 7 Polsek Bojongloa Kaler Jl. Tugu Kencana No. 9 8 Polsek Bojongloa Kidul Jl. Peta No. 104 9 Polsek Bandung Kulon Jl. Syahbanar No. 07 10 Polsek Cidadap Jl. DR. Setiabudi No. 396 11 Polsek Coblong Jl. Sangkuriang No. 10 A 12 Polsek Bandung Wetan Jl. Cihapit No. 7 A 13 Polsek Sumur Bandung Jl. Kebon Sirih No. 39 14 Polsek Regol Jl. Moh. Toha No. 81 15 Polsek Lengkong Jl. Buahbatu No. 193 16 Polsek Kiaracondong Jl. Ibrahim Aji No. 167 17 Polsek Cibeunying Kaler Jl. Cikutra Barat No. 05 18 Polsek Cibeunying Kidul Jl. A. Yani No. 879
19 Polsek Antapani Jl. Ah. Nasution Km 6,5 No. 10 20 Polsek Arcamanik Jl. Cisaranten Kulon
21 Polsek Panyileukan Jl. AH. Nasution No. 06 22 Polsek Bandung Kidul Jl. Batununggal No. 06 23 Polsek Buahbat u Jl. Ciwastra No. 289 24 Polsek Rancasari Jl. Bumi Asih No. 2 A 25 Polsek Gedebage Jl. Raya Adi Pura No. 01 26 Polsek Ujungberung Jl. AH. Nasution No. 20 27 Polsek Cinambo Jl. Soekarno Hatta No. 783
Gambar 4
Bagan Struktur Organisasi Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung
Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polrestabes Bandung merupakan satuan kerja yang berada di bawah Kepala Kepolisian Resort (Kapolres). Dalam pelaksanaan tugasnya, Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung dipimpin oleh seorang Kepala Satuan (Kasat) yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan tugas sehari -hari di bawah kendali Wakapolres. Dalam Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung terdapat beberapa pendukung pelaksanaan tugas, yaitu urusan pembinaan operasional (Urbinops), urusan administrasi dan ketatausahaan (Urmintu), urusan identifikasi (Urident) serta 6 Unit kerja.
Urbinops merupakan unsur Staf Sat Reskrim Polrestabes Bandung yang bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan segala
pekerjaan/kegiatan Staf/ administrasi yang menyangkut administrasi penyidikan, administrasi Operasional Rutin (Opstin) maupun Operasional Khusus (Opsus) Kepolisian yang mengedepankan fungsi Reskrim, administrasi personil dan administrasi umum lainnya.
Urident adalah unsur pelaksanaan Staf pada Sat Reskrim Polrestabes Bandung yang bertugas memberikan bimbingan tekhnis atas pelaksanaan fungsi Identifikasi dalam lingkungan Polrestabes Bandung serta menyelenggarakan dan melaksanakan fungsi Reserse maupun untuk kepentingan pelayanan umum pada tingkat Polrestabes Bandung.
Unit I / Reserse Umum (Resum) bertugas melaksanakan penyidikan kasus-kasus tindak pidana pencurian biasa, pencurian dengan pemberatan, Penipuan, Penggelapan, Penganiayaan, pembunuhan, Korupsi dan perjudian. Unit II / Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) bertugas melaksanakan penyidikan untuk kasus-kasus menonjol dan berintensitas tinggi, Kejahatan dengan Kekerasan, Tindak pidana yang menyangkut harta benda, Penculikan, Pembunuhan serta memberikan bantuan terhadap Unit-Unit yang memerlukan tindakan kepolisian (penangkapan).
Unit III / Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) bertugas melaksanakan penyidikan dan penyelidikan terhadap tindak pidana tertentu khususnya menyangkut Undang-Undang diluar KUHP selain itu juga bertugas memberikan bimbingan tekhnis, koordinasi dan pengawasan terhadap PPNS dalam lingkungan Polrestabes Bandung dalam menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).
Unit IV / Reserse Ekonomi (Resek) bertugas melaksanakan penyidikan kasus tindak pidana khususnya yang menyangkut tindak pidana ekonomi terutama di bidang perbankan, penyelundupan, produk dan perdagangan serta melakukan pengawasan/ penindakan terhadap pengusaha yang melakukan tindak pidana dalam dokumen perusahaan tentang ekspor dan impor barang.
Unit V / Kenderaan Bermotor (Ranmor) bertugas melaksanakan penyidikan tindak pidana pencurian, pemalsuan surat-surat kendaraan dan tindak pidana penipuan/penggelapan yang berhubungan dengan ranmor R-2 maupun R-4. Unit VI / Penanganan Perempuan dan Anak (PPA) bertugas melaksanakan penyidikan tindak pidana yang menyangkut kekerasan terhadap wanita dan anak-anak serta kekerasan dalam rumah tangga.
Sesuai dengan pasal 43 Peraturan Kapolri Nomor 23 tanggal 30 September 2010 tentang susunan Organisasi dan tata kerja pada tingkat Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes), tugas Pokok Sat Reskrim Polrestabes Bandung sebagai berikut :
a. Sat Reskrim adalah unsur pelaksana Tugas Pokok pada Polrestabes yang berada dibawah Kapolrestabes.
b. Sat Reskrim bertugas melaksanakan penyelidikan,penyidikan, dan pengawasan penyidikan tindak pidana, termasuk fungsi identifikasi dan laboratorium forensik lapangan serta pembinaan, koordinasi dan pengawasan PPNS
c. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada point b, Sat Reskrim menyelenggarakan fungsi:
1) Pembinaan teknisterhadap administrasi penyelidikan dan penyidikan, serta identifikasi dan laboratorium forensik lapangan;
2) Pelayanan dan perlindungan khusus kepada remaja, anak, dan wanita baik sebagi pelaku maupun korban
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
3) Penidentifikasian untuk kepentingan penyidikan dan pelayanan umum;
4) Penganalisisan khusus beserta penanganannya, serta mengkaji efektivitas pelaksanaan Sat Reskrim;
5) Pelaksanaan pengawasan penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik pada unit Reskrim Polsek dan Sat Reskrim Polres;
6) Pembinaan, koordinasi, dan pengawasan PPNS baik dibidang operasional maupun administrasi penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;
7) Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana umum dan khusus, antara lain tindak pidana ekonomi, korupsi, dan tindak pidana tertentu di daerah hukum Polres.
d. Sat Reskrim dipimpin oleh Kasat Reskrim yang bertanggung jawab kepada Kapolres dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di bawah kendali Wakapolres.
e. Kasat Reskrim dalam melaksanakan tugasnya dibantu Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal (Wakasat Reskrim), Kaur Bin Ops, Kaur Identifikasi dan Kanit.
Adapun Daftar Susunan Personel (DSP) Sat Reskrim Polrestabes Bandung adalah sebagai berikut :
Tabel 4
Susunan Personil Satuan Reskrim Polrestabes Bandung
NO URAIAN PANGKAT ESELON JUMLAH KET DSPP RIIL
1. KASAT AKBP IIIA 1 1
2. WAKASAT KOMPOL III B 1 1
3. KAUR BINOPS AKP IVA 1 1
4. PAUR MINTU IP IVB 1 1
5. BAMIN BA - 2 10
6. KAUR IDENT AKP IVA 1 -
7. PAUR IDENT IP IVB 2 2
8. BAUR IDENT BA - 12 16
9. KANIT IDIK AKP IVA 6 6
10. KASUBNIT IP IVB 12 9
11. BANIT BA - 120 110
12. BANUM PNS II/I - 8 4
JUMLAH 167 161
Sumber: Min Sat Res Polrestabes Bandung, Tahun 2013
Merujuk pada Tabel 4 di atas, terlihat bahwa terdapat beberapa jabatan kosong dan ketidaksesuaian jumlah anggota pada Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung, misalkan jabatan Kaur Ident yang seharusnya diperkuat oleh 1 personil yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) tetapi pada Sat Reskrim tidak ada yang menduduki jabatan tersebut sehingga tidak sesuai dengan apa yang disyaratkan dalam DSP.
Jumlah Bintara Unit (Banit), Bagian Umum (Banum), dan Kepala Sub Unit (Kasubnit) yang disusun dalam DSP belum sesuai dengan jumlah yang ada. Ketidaksesuaian lainnya terlihat pada jabatan Bintara Administrasi (Bamin) dan Bintara Urusan identifikasi, jabatan ini memang telah terisi, tetapi hal tersebut tidak sesuai karena kenyataannya jabatan tersebut diduduki oleh jumlah personel berpangkat bintara yang lebih banyak dibandingkan yang disyaratkan dalam DSP.
Keterangan Kaur Bin Ops Reserse Kriminal Polrestabes Bandung AKP. ESTI PRATIWI, SH (wawancara, 6 Februari 2014)
“Tindak Pidana yang terjadi di wilayah Polrestabes Bandung sangat
banyak dan kompleks, sehingga pembagian personil disesuaikan dengan kebutuhan penyelesaian perkara pidana yang terjadi tidak terpatok hanya kepada perencanaan awal personel.”
Tindak pidana yang terjadi di Daerah Jawa Barat khususnya di wilayah hukum Polrestabes Bandung dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 5
Data Tindak Pidana yang Ditangani Sat Reskrim Polrestabes Bandung dan Jajaran Tahun 2013
NO JENIS KEJAHATAN CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC CT CC 1 CURANMOR R-2 124 9 78 11 68 13 91 8 85 15 71 12 73 13 63 8 84 6 103 8 61 15 69 14 970 132 2 CURANMOR R-4 16 0 15 0 15 0 15 2 11 1 10 0 15 0 8 0 11 0 19 3 16 2 13 0 164 8 3 CURING 17 15 32 17 25 13 13 12 19 18 18 14 19 14 17 9 16 10 15 12 19 5 18 12 228 151 4 CURAT 43 16 53 24 55 15 50 18 43 11 44 12 49 19 43 17 32 14 31 22 30 16 38 17 511 201 5 CURAS 36 12 37 13 39 10 33 8 34 9 27 13 29 7 28 14 25 7 36 7 24 9 44 15 392 124 6 PEMERASAN 2 2 2 2 3 1 1 2 3 1 7 2 6 3 10 3 2 1 0 2 0 0 4 2 40 21 7 ANIAYA RINGAN 7 4 8 3 14 8 4 1 8 1 4 3 2 1 2 0 6 2 5 3 7 0 4 1 71 27 8 PENGANIAYAAN 18 9 23 17 15 16 23 12 20 23 33 16 24 14 16 9 12 10 15 6 20 10 23 10 242 152 9 PENIPUAN 58 19 56 13 67 14 62 16 85 19 57 15 66 21 72 14 64 13 64 17 55 21 49 16 755 198 10 PENGGELAPAN 17 6 29 8 20 19 24 13 27 13 36 9 21 9 18 10 25 11 27 10 21 12 23 13 288 133 11 PEMALSUAN 1 1 3 1 6 0 3 0 10 0 2 2 4 4 2 0 6 3 2 4 4 4 2 3 45 22 12 PENGROYOKAN 5 4 6 3 11 5 10 7 23 8 13 8 16 5 17 9 16 6 17 11 13 3 10 7 157 76 13 PENGRUSAKAN 4 3 3 3 4 0 2 1 2 0 13 0 4 0 5 0 4 1 4 2 6 2 2 1 53 13 14 PENADAHAN 0 1 0 1 0 2 0 1 0 4 0 0 0 4 0 4 0 1 0 6 2 1 0 3 2 28 15 PERJUDIAN 1 4 1 2 3 1 6 1 8 7 10 5 11 11 3 6 2 16 4 6 9 4 1 7 59 70 16 PENGHINAAN 1 2 3 0 2 3 3 0 2 0 2 0 0 0 2 0 1 0 0 0 1 0 2 0 19 5 17 PEMBUNUHAN 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 2 0 1 1 0 0 0 2 1 1 0 2 1 0 7 8 18 PERKOSAAN 1 0 1 0 1 0 3 0 1 0 1 1 4 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 14 1 19 SENPI 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 1 1 0 0 0 4 1 0 2 0 0 0 5 7 20 SAJAM 0 2 2 0 1 1 2 3 2 1 0 0 1 0 0 2 2 1 3 2 3 3 3 1 19 16 21 MERK / HAKI 0 0 0 0 1 0 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 1 0 1 1 1 0 2 0 9 4 22 LAIN-LAIN 33 27 59 16 50 23 53 21 71 10 59 10 48 22 43 7 42 17 52 12 49 14 53 11 612 190 J U M L A H 384 136 412 135 402 144 398 128 454 144 410 122 396 150 349 112 352 125 401 135 343 123 361 133 4662 1587 JAN PEB MAR APR MEI JUNI JULI AGUST SEPT OKT NOP DES JML
% 35,42 32,77 35,82 32,16 31,72 29,76 37,88 32,09 35,51 33,67 35,86 36,84 34,04 Sumber: Min Sat Res Polrestabes Bandung, Tahun 2013
Salah satu tindak pidana berupa pencurian dengan kekerasan (curas) yang terjadi di kota Bandung pada bulan Agustus 2013 adalah kasus pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan me ninggal dunia terhadap korban yang bernama Fransciesca Yofie. Keterangan Kanit I Reserse Kriminal Polrestabes Bandung AKP. SUPRIYONO (wawancara, 2 Februari 2014) :
“Kasus pidana pembunuhan maupun curas sebenarnya sudah biasa
terjadi, apalagi di kota besar seperti Bandung, namun karena kasus Sisca menonjol dan sudah menjadi perhatian publik, sehingga jadi atensi pimpinan. Jadinya selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari awal datangnya laporan kejadian hingga penyerahan berkas ke kejaksaan sangat menguras tenaga dan perhatian seluruh penyidik unit saya demi terungkapnya kasus Sisca ini, apalagi banyak LSM, media bahkan Kompolnas yang datang langsung untuk mendapatkan keterangan,seakan-akan memberikan interfensi.”
4.1.3 Gambaran Umum Kasus Pembunuhan Fransciesca Yofie
Berdasarkan Resume Berita Acara Pendapat yang diberikan oleh penyidik pembantu Sat Reskrim Polrestabes Bandung, Brigadir.Pol Arief,SH kepada peneliti, peristiwa tindak pidana pencurian dengan kekerasan atau kejahatan terhadap nyawa orang dan atau pembunuhan terhadap korban bernama Fransciesca Yofie (34 tahun), terjadi pada hari Senin, 5 Agustus 2013 sekitar pukul 18.30 WIB. Tersangka pembunuhan bernama Wawan alias Awing (39 tahun) dan Ade Ismayadi alias Epul (24 tahun). Kejadian tersebut terjadi di Jl. Setra Indah Utara II di depan rumah No. 11 Kel. Cipedes Kec. Sukajadi Kota Bandung.
Kejadian tersebut berawal ketika Tanggal 5 Agustus sekitar pukul 18.00 WIB tersangka Ade sedang berbuka puasa di mesjid Baiturrahman Jl.Sukamulya. Ade adalah keponakan dari tersangka Wawan yang saat diajak
oleh tersangka Wawan mengajak tersangka Ade untuk menjambret sambil mengancam dengan memperlihatkan sebuah golok yang dibawanya. Awalnya tersangka Ade sempat menolak kemudian menyetujuinya.