• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Pengambilan data dilakukan dengan tiga tahap terdiri atas 1.) tahap pra lapangan, 2.) tahap lapangan, dan 3.) tahap analisis data dijelaskan sebagai berikut:

3.5.1 Tahap pra-lapangan

a) Menyusun rancnagan penelitian

Ditahap ini peneliti menyusun rancangan penelitian terdiri dari latar belakang, penelitian, fokus penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, serta metode penelitian yang akan digunakan selama proses penelitian.

b) Memilih lapangan penelitian

Lokasi penelitian kali ini dilaksanakan di kantor ketua program studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya tempat subjek penelitian menempuh pendidikan. UIN Sunan Ampel Surabaya beralamat di Jl. Ahmad Yani No. 117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Kota Surabaya, Jawa Timur 60237.

c) Mengurus perizinan penelitian d) Perlengkapan penelitian

Sebelum melakukan penelitian seyogyanya peneliti mempersiapkan perlengkapan yang dibutuh untuk penelitian

50

diantaranya perlengkapan fisik dan perlengkapan penelitian seperti alat tulis, buku note, recorder atau smartphone untuk dokumentasi, dan konsumsi. Perlengkapan sangat penting sebagai penunjang keberhasilan suatu peneltian penelitian.sehingga sifat keberadaannya adalah wajib.

e) Etika penelitian

Dalam proses penelitian hendaknya seorang peneliti menjaga etika atau tingkah lakunya untuk menghindari konflik. Karena peneliti merupakan orang yang meminta informasi untuk penelitian sudah semestinya peneliti menghormati tempat dimana dia melakukan penelitian.Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memahami dan menghormati peraturan, norma-norma, nilai sosial, dan adat istiadat yang berlaku di tempat penelitian.

3.5.2 Tahap Lapangan

a) Memahami latar penelitian dan persiapan diri

i. Pembatasan latar dan penelitian: Pada tahap lapangan ini pertama peneliti mencoba memahami baik latar tertutup maupun terbuka. Langkah ini dilakukan untuk menentukan sikap yang sesuai dengan proses pendekatan pada subjek penelitian serta untuk menjalin hubungan yang baik dengan subjek. Pada penelitian ini peneliti menggunakan latar terbuka. Penggunaan latar terbuka dikarenakan peneilitian bertujuan untuk menganalisis problem yang dihadapi oleh sekelompok subjek dalam menggunakan bahasa Indonesia

51

sekaligus memberikan solusi untuk permasalahan tersebut.

Pendekatan terhadap subjek penelitian juga menyesuaikan dengan keadaan subjek.

ii. Penampilan Peneliti: Peneliti hendaknya menunjukan penampilan yang menggambarkan seorang yang berpendidikan, akademisi, dan profesionalisme. Maka sudah semestinya penampilan seorang mengikuti kode etik penelitian, sopan dan menyesuaikan dengan budaya penelitian. Penampilan peneliti juga akan berepngaruh pada respon orang yang terlibat dalam penelitian. Semakin sopan penampilan yang ditunjukan maka respon orang lain semakin baik dan sebaliknya. Sehingga peneliti tidak hanya dibekali dengan kualitas intelegen yang baik tetapi juga etika yang baik juga.

iii. Pengenalan hubungan peneliti di lapangan: Sebelum melakukan penelitian ada baiknya jika peneliti menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan tempat yang akan dijadikan penelitian. Dimaksudkan agar terjalin kerja sama yang baik sehingga mempermudah dalam pencarian data, observasi, dan analisis. Selain itu dengan pengenalan peneliti dapat menghilangkan suasana canggung antara peneliti dan subjek.

iv. Waktu penelitian: Perencanaan waktu penelitian merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan sebuah penelitian.

52

Dalam hal ini berkaitan dengan diketahuinya waktu penerapan metode hingga bisa memunculkan perubahan dan perkembangan terhadap subjek. Perencanaan waktu penelitian ini juga untuk melatih kedisiplinan peneliti serta untuk menghindari keterlambatan perolehan data, analisis, dan pengumpulan hasil penelitian.

v. Tahap memasuki lapangan

1) Keakraban hubungan: Keakraban hubungan atau disebut dengan rapport merupakan hal penting yang perlu dibangun pada penelitian kualitatif. Terjalinnya hubungan baik antara peneliti dengan subjek penelitian dan informan-informannya akan memberikan sumber data yang melimpah lagi terpercaya yang nantinya akan sangat memperngaruhi hasil penelitian berikut manfaat informasi yang dapat diberikan oleh peneliti kepada masyarakat atas hasil penelitian tersebut. Tidak memungkiri raport merupakan bagian terpenting pada proses penelitian.

2) Mempelajari bahasa: Membahasa soal latar belakang tentunya antara peneliti dengan subjek memiliki latar belakang yang berbeda-beda mulai dari budaya, bahasa, sampai pendidikan. Dalam penelitian sudah semestinya peneliti selaku peminta informasi

53

hendaknya menyesuaikan perbedaan itu dengan mengikuti mereka, dengan kata lain bersikap flexible.

Mempelajari bahasa adalah salah satu bentuk penyesuaian terhadap perbedaan itu. Dengan mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang berkaitan dengan penelitian maka akan menambah kosa kata baru yang biasa mereka gunakan yang barangkali mengandung informasi baru. Apalagi subjek penelitian kali ini adala mahsiswa asing asal Malaysia yang meski serumpun dan sama-sama menggunakan bahasa melayu tetapi tetap berbeda secara struktur bahasa dan budaya.

3) Peranan penelitian: Peranan penelitian sangat besar untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis untuk digali dan dibagi selama tidak menyalahi kode etik dan melampaui batas kemanusiaan.

Peranan suatu penelitian meupakan alat untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan hati-hati, terstruktur, dan sistematis serta memiliki karakter yang sistematis, logik, empirik, reduktif, dan replikable. Atau secara umum peranan penelitian tergantung pada apa yang sedang diteliti.

54

4) Ikut serta dalam penelitian sembari mengumpulkan data

3.5.3 Mencatat Data

a) Pemilihan penelitian: Peneliti hendaknya meneliti suatu kejadian yang memiliki pertentangan atau bermasalah. Karena penelitian tujuannya bukan hanya menciptakan teori baru semata, tetapi juga solusi untuk permasalahan tersebut yang diselesaikan secara ilmiah beretika oleh seorang peneliti. Dan sikap yang semestinya ditunjukan oleh peneliti selama penelitian meskipun sedang berhadapan dengan hal yang bertentangan adalah tetap bersikap netral.

b) Tahap analisis data: Analisis data dalam penelitian merupkan pengelolahan data mentah dari lapangan untuk dijadikan informasi yang dapat diinterpretasikan. Dalam analisis data peneliti menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data agar hasil dari pada analisis tersebut dapat dipelajari dengan menjadikan teori-teori sebagai acuannya. Pada proses analisis, data akan diurai, dibedakan, dan dipilah sehingga akan ditemukan data mana yang bisa dipakai dan mana yang tidak. Dengan demikian akan diperoleh informasi yang tepat untuk dibagikan dengan masyarakat.

c) Kehadiran peneliti: Kehadiran peneliti bersifat mutlak dalam penelitian kualitatif, karena peneliti merupakan instrument penelitian itu sendiri. Sugiyono (2008) menyatakan bahwa

55

peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kapasitas data analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya. Peneliti harus mengatahui semua proses penelitiannya mulai dari perencanaan penelitian sampai kesimpulan sebab peneliti bertanggung jawab sepenuhnya terhadap hasil penelitiannya.

d) Prosedur pengumpulan data

Adapun metode-metode yang ditempuh pada penelitian ini sebagai berikut:

i. Observasi

Secara etimologi Observasi berasal dari bahasa latin yang memiliki arti “melihat dan memperhatikan”. Supriyati (2011) mengatakan bahwa observasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian dengan mempunyai sifat dasar naturalistik yang berlangsung dalam konteks natural, pelakunya berpartisipasi secara wajar dalam interaksi. Melalui observasi peneliti akan mengetahui perubahan fenomena-fenomena sosial yang terjadi disekelilingnya, seperti penggunaan bahasa, perubahan budaya dan perilaku masyarakat. Pada dasarnya teknik observasi

56

digunakan untuk melihat dan mengamati perubahan fenomena–fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang yang kemudian dapat dilakukan perubahan atas penilaian tersebut, bagi pelaksana observaser untuk melihat obyek moment tertentu, sehingga mampu memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan (Margono 2007: 159). Observasi akan memperjelas data atau informasi untuk mendukung penelitian.

ii. Wawancara

Secara umum wawancara memiliki pengertian percakapan antara 2 orang atau lebih yang bertujuan untuk menggali suatu informasi. Nasution (2009) mengatakan bahwa wawancara atau interview merupakan suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Percakapan ini bisa secara langsung atau face to face dan tidak langsung seperti melalui saluran telephone. Bentuk komunikasi pada wawancara sendiri berbentuk verbal (lisan) namun juga tidak menutup kemungkinan bisa berbentuk komunikasi non-verbal (isyarat) apabila memang narasumber memiliki kebutuhan khusus seperti tuna rungu ataupun tunawicara sehingga membutuhkan

57

bantuan orang lain. Dan untuk wawancara pada penelitian ini dilakukan secara face to face.

iii. Angket/kuesioner

Selain observasi dan wawancara, peneliti juga mengumpulkan data melalui metode angket atau kuesioner. Angket atau kuesioner merupakan sebuah teknik pengumpulan data dimana peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada partisipan dalam bentuk formulir. Pertanyaan-pertanyaan yang dimuat dalam angket dapat berupa pertanyaan yang bersifat tertutup atau terbuka.

Penggunaan angket dalam penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi kondisi partisipan terkait studinya di UIN Sunan Ampel Surabaya dan keikutsertaannya dalam program yang diselenggarakan BIPA. Oleh karena itu, peneliti menggunakan model angket dengan bentuk pertanyaan terbuka (open question) untuk mendapatkan data yang komprehensif berkaitan dengan objek yang ingin diteliti Mengingat penelitian ini berlangsung pada masa pandemic Covid-19, persebaran angket dilakukan secara online menggunakan aplikasi Google form.

iv. Dokumentasi

58

Dokumentasi dalam proses pengumpulan data pada penelitian dilakukan dengan cara menelaah dokumen-dokumen tertulis seperti buku, daftar hadir, peraturan-peraturan dan rekam jejak tertulis lain yang dimiliki oleh sebuah lembaga atau instansi.

Dalam penelitian ini, dokumentasi lebih mengarah pada penggunaan skripsi dan atau makalah serta tugas-tugas tertulis lain mahasiswa Malaysia yang menempuh Pendidikan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Dari berbagai dokumen tersebut, nantinya peneliti akan menelaah penggunaan bahasa tulis oleh mahasiswa asal Malaysia.

3.5.4 Dokumentasi

Dokumentasi merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk mendokumentasikan atau menghadirkan bukti sebagai pendukung keabsahan suatu peristiwa atau penelitian. Dokumentasi bisa diwujudkan dalam beberapa bentuk, seperti foto, video, atau rekaman suara.

Dokumentasi disebut juga metode documenter. Metode dokumenter merupakan cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip–arsip dan buku–buku tentang pendapat, teori atau hukum yang berhubungan dengan masalah penelitian (Margono, 1997: 187).

Penelitian ini menggunakan tugas-tugas tertulis sebagai bukti adanya permasalahan penggunaan bahasa Indonesai pada subjek penelitian.

59

3.5.5 Analisis data

Model analisis pada penelitian ini menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya lengkap (Miles & Huberman, 1984: 23).Jadi penelitian dengan model analisis ini menuntut peneliti untuk aktif dari awal sampai akhir penelitian. Miles dan Hubermen mengatakan bahwa analisis data interaktif dilakukan melalui beberapa empat tahap dijelaskan sebagai berikut:

a) Tahap Analisis atau Pengumpulan Data: Pada tahap ini dilakukan serangkaian pengumpulan data untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Data-data yang diperoleh pada tahap ini masih bersifat mentah yang kemudian dipilah untuk menentukan data mana yang akan dipakai dan mana yang tidak.

b) Tahap Reduksi (Reduction): Tujuan penelitian menajadi acuan utama pada tahap ini, hal tersebut dikarenakan tahap reduksi dapat dikatakan sebagai tahap kritis dimana data akan dirangkum, dipilih hal-hal pokoknya, difokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Reduksi membutuhkan kosentrasi dan sikap teliti seorang peneliti karena tahap ini berkaitan dengan data penelitian.

60

c) Tahap Penyajian (data display): Penyajian data dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman tentang apa yang terjadi dan rencana kerja selanjutnya. Pada penelitian deskriptif kualitatif penyajian data berbentuk teks narasi yang dijabarkan secara induktif. Melalui penyajian ini data-data dapat tersusun dalam pola yang saling berkaitan sehingga akan lebih mudah dipahami.

d) Tahap penarikan kesimpulan (Verification): Penarikan kesimpulan didapat dari hasil penyajian data.Keunggulan dari penelitian kualitatif pada tahap ini adalah kesimpulan dapat menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal.

Kesimpulan terdiri dari dua jenis yakni bersifat sementara apabila masih mengalami perubahaan pada saat proses pengumpulan data dan bersifat kredibel apabila sudah didukung dengan bukti yang valid dan konsisten.

61

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. 1 Setting Penelitian

Penelitian ini berawal dari kesulitan peneliti dalam mengoreksi tugas-tugas tertulis mahasiswa asing asal Malaysia dan pengamatan terhadap cara mereka berkomunikasi disaat presentasi di kelas. Menyadari permasalahan tersebut bisa berdampak pada pelaksanaan dan target pembelajaran, peneliti mencoba untuk menganalisa permasalahan tersebut. Tujuannya untuk menemukan pokok permasalahan sekaligus mencarikan solusi untuk permasalahan yang dialami oleh mahasiswa asal Malaysia. Inisiatif ini digagas lantaran jika dibiarkan maka akan berdampak tidak hanya pada mahasiswa asing asal Malaysia saja tetapi mahasiswa asing asal negara-negara lain juga akan terdampak.

Penentuan ide penelitian dilakukan pada 29 Oktober 2019 yang kemudian didiskusikan dengan rekan sejawat serta dosen-dosen yang mengalami kesulitan yang sama dengan peneliti. Setelah medapat beberapa masukan dan saran, 10 November 2019 peneliti menyusun proposal penelitian yang kemudian diajukan kepada Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya tanggal 5 Desember 2019. Dikarenakan adanya beberapa kendala dalam proses pengajuan perizinan yang menyebabkan surat perizinan terlambat turun, peneliti baru mendapatkan surat izin penelitian tanggal 31 Mei 2021.

Berikutnya peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada ketua program studi (Kaprodi) Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya pada 12 Desember 2019 dimana surat permohonan izin penelitian ini

62

akan digunakan sebagai pengantar permohonan izin penelitian di lokasi penelitian yakni gedung program studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

Setelah surat izin permohonan penelitian mendapat respon positif dari Kaprodi Bimbingan dan Konseling Islam, selanjutnya peneliti melakukan penyusunan kegiatan yang diantaranya; 1.) Menyusun kerangka teori, 2.) Menentukan teori yang akan digunakan sebagai dasar penelitian, 3.) Menyusun metode penelitian, 4.) Menentukan daftar pertanyaan untuk wawancara, dan 5.) Menentukan jumlah sample subjek penelitian. Langkah awal yang peneliti lakukan adalah observasi, sebenarnya pengamatan terhadap tugas-tugas tertulis maupun presentasi sudah dilakukan peneliti sejak lama. Pengamatan tersebut pada akhirnya menyadarkan peneliti bahwa apabila permasalahan ini terus dibiarkan maka akan berdampak pada visi misi program studi Bimbingan dan Konseling Islam maka peneliti memutuskan untuk meneliti permasalahan ini. Setelah mendapatkan gambaran situasi dan kondisi lokasi penelitian berikut subjek penelitian selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan subjek penelitian sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama yakni 21 Februari 2020. Wawancara dilaksanakan di lokasi penelitian ruang laboratorium konseling program studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Peneliti memperkuat data dengan menelusuri hasil kerja tugas tertulis para mahasiswa asing asal Malaysia tersebut mulai dari tugas makalah sampai tugas akhir skripsi yang dikumpulkan dalam bentuk hardcopy dan softcopy.

63

Tabel 4.1

Tabel Rincian Kegiatan Penelitian

NO KEGIATAN HARI/TANGGAL KETERANGAN

1 Penentuan ide penelitian

29 Oktober 2019 Problematika Pemahaman makna Bahasa Indonesia pada Mahasiswa asal Malaysia di UIN Sunan Ampel Surabaya.

2 Diskusi perihal ide penelitian

29 Oktober-10 November 2019

Dengan teman sejawat/sesama dosen yang mengalami kesulitan yang sama.

13 Desember 2019 Kepada Ketua Prodi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

64

6 Menyusun kerangka penelitian

15 Desember 2019 1. Menyusun kerangka penelitian

2. Menentukan teori-teori yang akan dipakai sebagai

2 Januari 2020 Observasi tempat dilakukan untuk menghimpun data mengenai kondisi riil mahasiswa

8 Menyusun daftar pertanyaan

wawancara dengan informan

7 Januari 2020 Pertanyaan meliputi profil, kendala yang dihadapi terkait kebahasaan serta cara-cara yang telah dilakukan untuk

65 terhadap 5 narasumber untuk menghimpun data terkait permasalahan yang dialami oleh mahasiswa terkait kebahasaan problematika 10 Menghimpun data

dengan melakukan observasi secara online via Zoom

23-25 Maret 2020 Observasi dilakukan secara online dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan peneliti untuk mahasiswa seperti makalah dan skripsi dikumpulkan melalui aplikasi penyimpanan berkas online

11 Mengolah data penelitian

Maret-Juni 2020 Pengolahan data dilakukan untuk mengetahui hasil dari rumusan masalah yang

66

ditemukan peneliti mengenai topik penelitian

Tabel 4.2

Jadwal wawancara dengan informan

No Informan Wawancara Periode Waktu Keterangan

1 1 Pertama 20 Februari

Sebenarnya setiap mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia diwajibkan untuk mengikuti pelatihan bahasa yang diselenggarakan

67

oleh Kementrian Pendidikan dan Budaya. Kewajiban menggunakan bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing itu sendiri telah di ataur oleh UU Nomor 24 tahun 2009 pasal 29 ayat 1 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional”, undang-undang tersebut berlaku untuk siapa pun yang terlibat dalam kegaiatan akademis termasuk mahasiswa asing. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Kemendikbud membentuk program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang ditujukan untuk memberi pelatihan bahasa Indonesia pada mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia. Lalu bagaimana bisa mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia khususnya di UIN Sunan Ampel Surabaya program studi Dakwah dan Komunikasi Islam masih mengalami kesulitan dalam menerapkan bahasa Indonesia baik dalam tugas maupun kegiatan komunikasi sehari-hari? Meski sudah mengikuti program BIPA. Jawabannya ada pasa analisa wawancara dengan subjek penelitian.

4. 2 Hasil Penelitian

Pada bab ini, akan dipaparkan analisis data yang berasal dari wawancara peneliti terhadap 5 narasumber yang merupakan mahasiswa asal Malaysia yang berkuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Selain melakukan analisis terhadap hasil wawancara narasumber, analisis juga dilakukan terhadap tugas perkuliahan tertulis seperti makalah dan skripsi untuk mengidentifikasi penggunaan Bahasa Indonesia ragam tulis dari berbagai narasumber tersebut.

Identifikasi berfokus pada pemaknaan bahasa, tata bahasa yang digunakan,

68

penggunaan code mixing, homonim, dan kata yang sama tapi berbeda penulisannya.

4.2.1 Problematika Pemahaman Bahasa Tulis

Salah satu problematika yang dihadapi oleh mahasiwa adalah penggunaan bahasa tulis terutama untuk memenuhi tugas-tugas perkuliahan, seperti yang dipaparkan oleh narasumber dalam sesi wawancara sebagai berikut:

“Kalau untuk komunikasi tertulis malah lebih sulit apalagi sekarang saya menempuh skripsi. Saya agak kesusahan, karena kalau ada Bahasa Malaysianya harus diubah.”

(Kutipan wawancara dengan NA)

“Susah kalau mau menulis skripsi karena kadang kita kan nggak sengaja nulis pakai Bahasa Malaysia.”

(Kutipan wawancara dengan DY)

Hal yang dipaparkan dalam wawancara ini sejalan dengan apa yang dituturkan oleh Wahya (dalam Anjasari, Nurvita, et al., 2013) bahwa diantara problematika kebahasaan lain, kesalahan penggunaan bahasa tulis masih sering ditemukan. Lebih-lebih dalam pemilihan kata, bentuk kata dan struktur penyusunan kata.

a. Code Mixing Indonesia-Malaysia

1) Code Mixing yang Memuat Perbedaan Makna Kata Kesalahan-kesalahan bahasa tulis ini dapat dilihat melalui tugas-tugas mahasiswa seperti

69

makalah dan tugas akhir (skripsi) DY salah satu mahasiswa Malaysia yang berkuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun. Diantaranya kesalahan bahasa tersebut, terdapat kesalahan bahasa tulis sebagai akibat dari code mixing (campur kode) seperti berikut:

(i) “Dia suka mencoba perkara yang baru dalam hidup di dunia ini. Orang tuanya orang yang biasa-biasa saja dan sekarang masih Bersama ibubapa serta adek-adeknya…”

(ii) “Selain itu, konseli juga merupakan anak harapan dalam keluarga tersebut karena R adalah anak tunggal dari 3 saudara”

(iii) “Insomnia yang dihadapi oleh konseli adalah kerana kecanduan bermain Mobile Legend (ML) sehingga telat malam”

(iv) “… insomnia yang telah dialami oleh konseli telah mengakibatkan urusan kehidupan seharian klien tidak seperti….”

(v) “Bagi mendapatkan data tambahan tentang diri konseli, maka konselor telah menjalankan wawancara kepada X selaku teman rapat konseli…”

(vi) “Dari wawancara dan perbualan dilakukan di rumah kontrakan konseli, konselor bisa mengetahui….”

(vii) “… sehingga ibubapa konseli bangga akan kejayaannya….”

70

Kosakata yang membuktikan adanya code mixing dalam kalimat (i) adalah “perkara” yang berarti “sesuatu” dalam Bahasa Malaysia. Contoh pencampuran ini masih berada dalam ruang lingkup struktur bahasa dimana kosakata “perkara” secara semantik dalam Bahasa Indonesia berarti masalah atau persoalan. Hal ini tentu berbeda dengan maksud penulis yang menggunakan kata “perkara” untuk merujuk pada kata thing. Dalam Bahasa Indonesia kata thing lebih tepat dituliskan dengan kata

“sesuatu”.

Penggunaan kata “ibubapa” dalam kalimat (i) juga menunjukkan adanya code mixing yang mengisyaratkan perbedaan semantik dengan maksud kata yang serupa dalam Bahasa Indonesia. Ibubapa yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai kata parents memiliki makna orang tua dalam Bahasa Indonesia. Untuk merujuk pada makna tersebut, juga digunakan kata yang sama yaitu “orang tua”.

Penggunaan kata Ibubapa kurang lazim digunakan untuk menunjukkan orang tua yang terdiri dari ibu dan bapak, akan tetapi lebih lazim digunakan untuk menunjuk pada perseorangan yaitu ibu atau bapak.

Dari sini, dapat terlihat perbedaan morfem antara

71

kedua kata yang merujuk pada kata parents dari masing-masing bahasa, yaitu Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia.

Selain itu, perbedaan semantik antara kosakata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia juga dapat dijumpai pada kalimat (ii). Kata

“anak tunggal” dalam kalimat tersebeut diterjemahkan menjadi 1st child dalam Bahasa Inggris, atau lebih lazim disebut anak pertama atau anak tertua dalam Bahasa Indonesia. Adapun kata anak tunggal lebih tepat digunakan untuk merujuk kata only child.

Pada kalimat (iii), terdapat perbedaan semantik dalam penggunaan kata “sehingga” yang dalam Bahasa Indonesia dimaknai sebagai so that, yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat (konjungsi kausalitas). Kata ini bermakna sama seperti kemudian (then) dan akhirnya (eventually), sedangkan kata “sehingga”

yang digunakan dalam kalimat tersebut merujuk pada kata hingga (until) yang digunakan sebagai untuk menandakan selang waktu terjadinya sebuah

yang digunakan dalam kalimat tersebut merujuk pada kata hingga (until) yang digunakan sebagai untuk menandakan selang waktu terjadinya sebuah

Dokumen terkait