• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Teknik Pengumpulan Data .1 Wawancara

Wawancara merupakan unsur yang penting dalam proses penelitian ini. Peneliti melakukan wawancara kepada pengurus sekolah, guru kelas dan ibu Xxx. Wawancara yang dilakukan dalam proses penelitian ini dengan cara tidak terstruktur atau terbuka (Sugiyono, 2007).

Dalam proses wawancara untuk mengumpulkan data, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan

dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian yang lebih mendalam tentang responden.

Wawancara dibagi menjadi tiga fokus yaitu :

• Fokus pertama, wawancara dilakukan kepada pengurus dan guru Xxx. Wawancara dilakukan untuk memberikan informasi tentang penelitian, mencari, menentukan dan mendapatkan sampel.

Wawancara lanjutan dilakukan peneliti untuk mendapatkan informasi tentang sampel dan mendapatkan sekilas informasi tentang gaya asuh orangtua sampel.

• Fokus kedua, wawancara dilakukan kepada guru Xxx. Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan laporan dari pihak guru kelas Xxx, telah terjadi perubahan perilaku atas diri Xxx. Laporan ini didapat dari hasil observasi orangtua Xxx di rumah yang

Tabel 3.1. Wawancara

kemudian dilaporkan kepada guru kelas Xxx serta hasil observasi guru Xxx di sekolah.

• Fokus ketiga, wawancara dilakukan kepada ibu Xxx. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi lebih dalam lagi mengenai keluarga Xxx, gaya asuh orangtua Xxx dan mengetahui perubahan perilaku Xxx. Data-data ini berguna untuk memperkuat perubahan perilaku Xxx dan berguna untuk membantu menjawab pertanyaan penelitian.

3.5.1.1 Wawancara pertama dengan pengurus sekolah, awal Februari 2008.

Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menerangkan tujuan dan manfaat dari penelitihan ini, meminta ijin untuk melakukan penelitian dan menanyakan apakah ada sampel penelitian yang sesuai untuk penelitian ini (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.2 Wawancara kedua dengan pengurus sekolah, tanggal 18 Februari 2008.

Dalam wawancara ini, pihak pengurus sekolah memberikan izin untuk melakukan penelitian di sekolahnya, dan memberitahukan bahwa ada sampel yang sesuai. Seorang anak yang mempunyai masalah perilaku. Perilaku aktif dan agresif anak tersebut paling menonjol dibandingkan teman-temannya di kelas, terkadang sampai membuat guru-guru cukup kewalahan untuk menangani

perilaku anak tersebut. Pihak pengurus sekolah membantu untuk meminta ijin kepada orang tua sampel. Dan orangtua sampel memberikan tanggapan yang positif dan persetujuan kepada peneliti untuk mengadakan penelitian kepada sampel (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.3 Wawancara dengan pihak guru, tanggal 25 Februari 2008.

Tujuan dari wawancara ini adalah mendapatkan informasi lebih banyak tentang Xxx, mengenai tindakan-tindakannya di dalam kelas, menanyakan tentang kemampuan akademisnya, informasi tentang orangtua Xxx dan meminta bantuannya untuk melakukan aktivitas penelitian nantinya (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.4 Wawancara dengan ibu Xxx, tanggal 29 Februari 2008.

Memberikan informasi tujuan dan manfaat penelitian ini, lebih mendapatkan informasi tentang Xxx dan mengetahui gaya asuh orangtua Xxx (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.5 Wawancara dengan guru kelas, tanggal 7 April 2008.

Adanya laporan dari pihak ibu Xxx dan guru kelas Xxx yang memberikan informasi adanya perubahan perilaku pada Xxx.

Tujuan wawancara ingin mengetahui perubahan perilaku Xxx (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.6 Wawancara dengan ibu Xxx, tanggal 30 April 2008.

Tujuan wawancara untuk mengetahui keluarga Xxx dan perubahan yang terjadi pada perilaku Xxx (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.1.7 Wawancara dengan ibu Xxx, tanggal 5 Mei 2008.

Tujuan wawancara mengetahui keluarga Xxx, gaya asuh orangtua Xxx, perubahan perilaku Xxx (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.2 Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dalam proses observasi ada dua faktor yang terpenting yaitu proses pengamatan dan ingatan (Hadi, 1986). Dalam melakukan proses observasi, peneliti berperan sebagai nonpartisipan.

Peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.

Instrumen yang dipakai peneliti untuk observasi adalah instrumen tidak terstruktur. Dengan instrumen tersebut, proses observasi tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti tidak menggunakan instrumen yang baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu saja (Sugiyono, 2007).

Observasi dilakukan pada awal Maret 2008 sampai kira-kira akhir April 2008. Kegiatan dilakukan dua kali dalam satu minggu, setiap hari Senin dan Rabu, dimulai pada pukul 10:30 sampai kira-kira pukul 12:00

siang. Observasi ini dilakukan sebanyak dua belas kali pertemuan. Selama proses penelitian, peneliti memberikan perlakuan menggambar dengan 4 macam teknik menggambar yaitu memori, observasi, emosi dan imajinasi.

Imajinasi diberikan dengan dua macam media yang berbeda yaitu dengan spidol dan dengan cat (Finger Painting).

Pada pemberian perlakuan, pada hari pertama perlakuan, peneliti menggunakan kertas berukuran 29,7 x 42 cm (A3). Kemudian peneliti mengganti kertas menjadi berukuran 42 x 59,4 cm (A2). Pengantian kertas ini dilakukan pada pertemua kedua dan selama penelitian, peneliti menggunakan kertas ukuran besar. Perubahan ukuran ini dilakukan peneliti untuk meningkatkan percaya diri Xxx.

Tabel 3.2. Perlakuan

Menurut Professor of Art dari universitas Goshen Amerika Dr. Marvin Bartel (2006), sebuah gambar dapat dihasilkan dengan tiga macam teknik yaitu: memori, imajinasi dan observasi. Dari hasil literatur ini, peneliti mendapatkan informasi mengenai metode pemberian teknik-teknik tersebut, kemudian peneliti mencobakan teknik-teknik tersebut kepada Xxx.

Teknik memori, adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengungkapkan pengalaman anak. Dengan teknik ini, anak menceritakan pengalamannya lewat gambara. Anak diajak bercakap-cakap untuk membantu mengingat pengalamannya. Dengan teknik ini, membuat kecerdasan pasif menjadi aktif.

Teknik observasi dirasakan perlu karena dapat meningkatkan kepercayaan diri anak, melatih konsentrasi dan kesabaran anak. Dengan memberikan teknik tersebut kepada Xxx, diharapkan Xxx belajar untuk dapat lebih mengkontrol perilakunya. Karena dengan pendekatan teknik ini, Xxx harus mencoba mengkontrol dirinya, Xxx harus belajar berkonsentrasi, meningkatkan kesabaran dan pengkontrolan diri. Dengan pemikiran tersebut diharapkan Xxx dapat belajar mengkontrol dirinya dan akan berdampak positf bagi perilaku Xxx (Bartel, 2006).

Untuk perlakuan teknik emosi, peneliti melakukan pendekatan dengan cara memperkenalkan bermacam ekspresi wajah kepada Xxx dan mengajak Xxx untuk menyebutkan perasaan apa yang terwakilkan dalam ekspresi wajah pada gambar-gambar tersebut. Setelah itu peneliti

mengajak Xxx untuk menggambar perasaan Xxx pada hari tersebut.

Setelah Xxx selesai menggambar, peneliti mengajak Xxx untuk bermain tebak-tebakan dengan menggambar. Peneliti mempersiapkan label-label yang telah ditempelkan di atas kertas gambar. Label-label tersebut bertuliskan kalimat-kalimat seperti apa yang membuat Xxx marah, sedih, senang, malu dan sebagainya. Kemudian peneliti mengajak Xxx untuk mengambar sesuai dengan kalimat tersebut.

Hasil dari pendekatan ini kurang mendapatkan respon yang baik dari Xxx. Lamanya waktu Xxx untuk mengikuti pendekatan ini sangat singkat, kegiatan berlangsung tidak sampai 10 menit. Penggunan kertas yang minin, di bawah 5 lembar. Dengan teknik ini, Xxx kurang termotivasi, terlihat kurang semangat dan antusias dan hasil gambar kurang spontan dan ekspresif. Xxx juga meminta mengganti kegiatan tersebut dengan teknik mengambar imajinasi.

Pada perlakuan dengan teknik imajinasi, peneliti menggunakan dua media yang berbeda, yaitu spidol dan cat. Teknik imajinasi dengan media cat (finger Painting), diperoleh peneliti pada saat peneliti memberikan perlakuan di lapangan kepada Xxx. Dimana ketika proses menggambar sedang berlangsung, Xxx bertanya kepada peneliti, apakah peneliti mempunyai cat. Pada saat itu peneliti tidak menyediakan dan tidak terpikir rencana untuk memberikan media tersebut kepada Xxx. Xxx kemudian mencari cat di sekolah dan memakai cat sebagai material menggambar.

Sejak saat itu, peneliti menyediakan cat tempra berukuran besar dengan bermacam-macam warna untuk Xxx gunakan.

Dalam proses observasi ini, peneliti melakukan pencatatan data, mengambil gambar dan rekaman serta mengumpulkan hasil gambar Xxx selama observasi yang dapat digunakan untuk menunjang penelitian ini (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.3 Dokumentasi

Untuk memperkuat penelitian, peneliti melakukan dokumentasi dari observasi di lapangan dan hasil gambar dari Xxx selama proses penelitian (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.4 Kuesioner

Kuesioner dilakukan sebanyak satu kali dan diberikan kepada ibu Xxx dan guru kelas Xxx. Kuesioner diberikan kepada mereka setelah Xxx diberikan perlakuan di lapangan. Kuesioner berisikan pertanyaan-pertanyaan tentang perilaku Xxx sebelum dan setelah Xxx diberikan perlakuan.

Kuesioner digunakan untuk mengukur perubahan perilaku Xxx, dilakukan pada akhir penelitian dan diajukan kepada orangtua dan guru kelas Xxx. Peneliti mendapatkan bantuan dari orangtua dan guru Xxx untuk mengetahui perubahan perilaku Xxx. Dalam membuat kuesioner, peneliti menggunakan skala Semantic Deferensial (Sugiyono, 2007). Skala ini dikembangkan oleh Osgood dan biasanya digunakan untuk mengukur

sikap seseorang. Jawaban berbentuk tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabanya dari ”sangat positif” terletak di bagian kiri atau sebaliknya. Data yang didapat adalah data interval, digunakan untuk mengukur sikap atau karakterisitik yang dipunyai seseorang.

Metode kuesioner pada penelitian ini mempunyai kelemahan karena pengukuran perubahan perilaku Xxx, sebelum dan sesudah melakukan aktivitas menggambar dilakukan pada akhir penelitian. Jadi ada proses mengingat kembali oleh orangtua dan guru kelas Xxx mengenai perilaku Xxx sebelum mengikuti aktivitas.

3.5.4.1 Pemberian kuestioner kepada ibu Xxx, tanggal 5 Mei 2008

Tujuan kuesioner adalah mengetahui perubahan yang terjadi pada perilaku Xxx setelah mengikuti kegiatan menggambar (keterangan tersedia di lampiran).

3.5.4.2 Pemberian kuestioner questioner kepada guru kelas, tanggal 10 Mei 2008

Tujuan kuesioner adalah mengetahui perubahan yang terjadi pada perilaku Xxx setelah mengikuti kegiatan menggambar (keterangan tersedia di lampiran).

Dokumen terkait