• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik-teknik Bimbingan Konseling

Dalam dokumen BIMBINGAN DAN KONSELING (1). pdf (Halaman 33-39)

TEKNIK BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR

B. Teknik-teknik Bimbingan Konseling

Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004:119), “pelayanan bimbingan dan

konseling dapat ditempuh dengan menggunakan 2 teknik, yaitu teknik individual dan teknik kelompok

1. Bimbingan Individual (individual counseling)

Konseling atau penyuluhan merupakan salah satu teknik pemberian bantuan secara individual dan secara langsung berkomunikasi. Dalam teknik ini pemberian bantuan dilakukan dengan hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara counselor dengan kasus. Masalah yang

dipecahkan melalui teknik ini adalah masalah-masalah yang bersifat pribadi.

Dalam konseling, hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya menunjukkan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh kasus (counselee). Dan empati artinya berusaha menempatkan diri dalam situasi diri counselee dengan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan sikap ini counselee akan memberikan kepercayaan yang sepenuhnya kepada counselor. Dan ini sangat membentu keberhasilan dalam konseling.

Pada umumnya, dikenal tiga teknik khusus dalam konseling yaitu: a. Directive Counseling

Directive Counseling yaitu teknik konseling dimana yang paling berperan ialah konselor, counselor berusaha mengarahkan counselee sesuai dengan maslahnya. Konseling direktif, yang karena proses dan dinamika pengentasan masalahnya mirip “ penyembuhan penyakit”, pernah juga disebut “konseling klinis” (clinical counseling). Pendekatan ini dipelopori oleh E.G. Williamson dan J.G. Darley yang berasumsi dasar bahwa klien tidak mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Karena itu kilen membutuhkan bantuan dari orang yaitu konselor.

Dengan demikian, inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak dilakukan oleh konselor. Klien bersifat menerima perlakuan dan keputusan yang dibuat oleh konselor. Dalam konseling direktif diperlukan data yang lengkap tentang klien untuk dipergunakan dalam usaha diagnosis.

Adapun dalam penerapan proses konseling, Konseling direktif ini berlangsung menurut langkah-langkah umum sebagai berikut:

1) Analisis data tentang klien

2) Pensintesisan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien

4) Prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya

5) Pemecahan masalah

6) Tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling

b. Non-direktif counseling,

Non-directive counseling, teknik ini kebalikandari teknik di atas, yaitu semuanya berpusat pada counselee. Dengan prosedur ini, pelayanan bimbingan difokuskan pada anak yang bermasalah atau disebut juga clien centered counseling. Adanya pelayanan bimbingan bukan pelayanan yang mengambil inisiatif, tetapi klien sendiri yang mengambil prakarsa, yang menentukan sendiri apakah dia membutuhkan pertolongan dari pihak lain.

Ciri-ciri teknik konseling ini yaitu:

 Ditujukan pada klien yang sanggup memecahkan masalahnya

agar tercapai kepribadian klien terpadu

 Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan, bukan segi

intelektualnya

 Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi sosial-psikologis masa kini dan bukan pengalaman masa lalu  Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan antara ideal-

self dengan actual-self

 Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh klien, sedangkan konselor adalah pasif-reflektif, artinya tidak semata- mata diam dan pasif akan tetapi berusaha membantu agar klien aktif memecahkan masalahnya.

Adapun penerapannya dalam proses konseling sebagai berikut: 1. Klien datang pada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien

datang atas suruhan orang lain, maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif

2. Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, untuk itu konselor menyadarkan klien

3. Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya.

4. Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya

5. Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya

6. Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil (perencanaan)

7. Klien merealisasikan pilihannya itu

c. Eclective Counseling

Eclective Counseling yaitu campuran dari kedua teknik di

atas yaitu directive counseling dan non-direvtive

counseling.Dengan teknik ini, pelayanan tidak dipusatkan pada pembimbing atau klien, tetapi masalah yang dihadapi itulah yang harus ditangani secara luwes, sehingga tentang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang diperlukan.

2. Bimbingan kelompok (group guidance)

Teknik ini dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dihadapi mungkin bersifat kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat individual yaitu dirasakan oleh individu sebagai anggota kelompok. Dengan demikian penyelenggaraan bimbingan kelompok mungkin dimaksudkan untuk mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu yang menghadapi masalah dengan menempatkanya dalam suatu kehidupan kelompok. Berapa bentuk khusus teknik bimbingan kelompok yaitu:

a. Home room program

Suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat

dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dinggap perlu. b. Karyawisata

Karyawisata atau fieltrip disamping berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau metode mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. Dengan karyawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu. c. Diskusi kelompok

Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akan mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalanm memecahkan suatu masalah.

Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggung jawab dan harga diri. Masalah-masalah yang mungkin dapat didiskusikan antara lain:

1) Pembagian kerja dalam suatu kegiatan kelompok

2) Perencanaan suatu kegiatan

3) Masalah-masalah pekerjaan

4) Masalah belajar

5) Masalah penggunaan waktu senggang

6) Dan masalah-masalah lain seperti persahabatan, masalah

keluarga dsb. d. Kegiatan kelompok

Kegiatan kelompok dapat merupakan teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpartisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan dapat dilakukan melalui kegiatan kelompok. Dalam kegiatan ini setiap anak mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiranya. Juga dapat mengembangkan rasa

tanggung jawab. Teknik sosiometri dapat banyak menolong dalam

pembentukan kelompok. Dalam contoh di atas, Mardi

berkesempatan untuk memimpin kawan-kawanya dalam membuat pekerjaan bersama, dan dalam kesempatan itu ia memperoleh harga diri.

e. Organisasi murid

Organisasi murid baik dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, dapat merupakan salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. Melalui organisasi ini banyak masalah-masalah yang sifatnya individual maupun kelompok dapat diselesaikan. Dalam organisasi murid mendapat kesempatan untuk belajar mengenal berbagai aspek kehidupan social. Mengaktipkan murid dalam organisasi murid dapat mengembangkan bakat kepemimpinan disamping menunjuk rasa tanggung jawab dan harga diri. Dalam contoh Mardi dijadikan sebagai ketua kelas.

f. Sosiodrama

Sosio drama dipergunakan sebagai suatu teknik di dalam memecahkan masalah-masalah sosial, dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu situasi masalah sosial.Dalam kesempatan itu, individu akan menghayati secara langsung situasi masalah yang dihadapinya. Dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya.

g. Psikodrama

Psikodrama adalah teknik untuk memecahkan masalah-masalah psychis yang dialami oleh individu. Dengan memerankan peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada pada dirinya dapat dikurangi atau dihindarkan. Caranya dapat dilakukan dengan mengemukakan suatu cerita kepada sekelompok murid yang di dalamnya menggambarkan suatu ketegangan psychis yang sialami

memainkannya di depan kelas. Bagi murid yang mengalami ketegangan, permaina dalam perana itu dapat mengurangi ketegangannya.

h. Remedial teaching

Remedial teaching (pengajaran remedial) yaitu bentuk pengajaran yang diberikan kepada murid untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya. Remedial teaching ini mungkin berbentuk penambahan pelajaran, pengulangan kembali, latihan- latihan, penekanan aspek-aspek tertentu, tergantung dari jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dialami murid. Remedial teching ini merupakan salah satu teknik memberikan bimbingan yang dapat diberikan secara kelompok atau individu tergantung kesulitannya. Jika kesulitan itu dirasakan oleh suatu kelompok maka diberika secara kelompok, sedangkan jika hanya dialami oleh seorang murid saja maka diberikan secara individual. Teknik ini dilaksanakan setelah diadakan diagnose terhadap kesulitan yang dialami murid

C. Peran Guru di Sekolah Dasar berdasarkan Landasan Filosofis

Dalam dokumen BIMBINGAN DAN KONSELING (1). pdf (Halaman 33-39)