BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Pendampingan
2.4.3 Teknik-Teknik Pendampingan
kompetensi yakni kompetensi yang merujuk pada area pekerjaan atau peranan, dan kompetensi yang merujuk pada dimensi-dimensi perilaku yang terletak dibalik kinerja yang kompeten (Prihadi, 2004).
Nuryanto (2008) mengambil 10 dimensi kompetensi yang dirasa harus dimiliki oleh penyuluh, yakni: kemampuan penyuluh berkomunikasi secara efektif, kemampuan penyuluh menggunakan media internet untuk pengembangan kompetensi, kemampuan penyuluh membangun jejaring kerja secara sinergis, kemampuan penyuluh mengakses informasi terkait dengan bidang tugasnya, kemampuan penyuluh dalam penguasaan inovasi tepat guna, kemampuan penyuluh bekerjasama dalam tim, kemampuan penyuluh menganalisis masalah, kemampuan penyuluh berpikir secara sistem/logis, kemampuan penyuluh memahami potensi wilayah, dan kemampuan penyuluh memahami kebutuhan petani. Selanjutnya, kesepuluh kompetensi tersebut dijadikan peubah/indikator dalam penelitian untuk menentukan tingkat kompetensi penyuluh dalam pembangunan. Oleh karena itu, berdasarkan ke sepuluh kompetensi di atas yang telah diambil sesuai dengan penelitian ini yaitu: 1) keefektifan komunikasi/sosialisasi, 2) membangun jejaring kerja, 3), dan pemahaman terhadap wilayah.
2.4.3 Teknik-Teknik Pendampingan
Teknik-teknik pendampingan dapat diartikan sebagai suatu cara memberdayakan masyarakat yang dilakukan pendamping agar masyarakat dapat mengembangkan potensi diri untuk meningkatkan kesejahteraannya. Teknik yang dapat dilakukan pendamping sangat beragam. Mulai dari yang menggunakan metode bersifat top-down atau bottom-up. Metode top-down merupakan pendekatan yang dalam pengaturannya bersifat terpusat berasal dari mereka yang berada diatas. Seperti yang diungkapkan Nasdian (2006) yakni, sebagai suatu rencana induk ataupun paket program terpadu
24
dimana persepsi, desain, dan instrumen lebih banyak dikembangkan oleh mereka yang berada di atas (top down). Pendamping dalam metode top-down dilihat sebagai perantara pemerintah dalam menggerakan masyarakat. Masyarakat hanya dipandang sebagai objek yang pasif tanpa diberi kesempatan untuk berperan serta dalam mengembangkan dirinya sendiri. Sedangkan bottom-up adalah suatu metode yang lebih menekankan partisipasi masyarakat. Ide-ide dalam pengembangan suatu komunitas berasal dari masyarakat itu sendiri. Pendamping hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi masyarakat. Penyuluh dibentuk bukan hanya untuk memiliki seperangkat keterampilan teknis tetapi perlu memiliki kiat menyuluh dan sikap yang profesional (Nuryanto, 2008).
Agar peranan seorang pendamping dalam program pemberdayaan sesuai dengan prinsip dan konsep belajar orang dewasa dengan tetap memperhatikan peran serta masyarakat, maka harus terdapat unsur power dan akses yang setara dalam pemberdayaan. Tugas seorang pendamping adalah memastikan agar masyarakat memiliki akses dan power tersebut. Berikut ini merupakan tahapan yang dapat digunakan pendamping menurut Lippitt et al. (1958):
1. Tahap pengembangan kebutuhan akan perubahan (unfreezing);
Sebelum proses perubahan berencana dimulai, kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat harus diterjemahkan sebagai kesadaran mengenai masalah yang ada (problem awareness). Hal ini merupakan inti dari keinginan untuk berubah dan keinginan untuk mencari bantuan di luar sistem. Tetapi pada kasus-kasus tertentu masyarakat tidak tahu bagaimana harus menggali kebutuhan yang mereka rasakan (felt needs) dan kebutuhan riil (real needs) mereka, serta tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan yang dirasakan dan kebutuhan riil mereka. Dalam kasus seperti ini, mereka
25
memerlukan hadirnya agen perubahan (change agen) dari luar sistem untuk membantu dan menstimulasi mereka untuk memikirkan apa yang mereka butuhkan.
2. Tahap pemantapan relasi kerja dengan agen perubahan (dalam hal ini community worker) merupakan isu utama pada fase ini;
Pengembangan relasi ini dibutuhkan karena adanya keterbatasan dari community worker dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat (sistem klien) melalui masyarakat sendiri (self determination). Hal yang sangat penting pada fase kedua adalah ketika sistem klien mulai memikirkan tentang agen perubahan mereka yang potensial. Pembentukan dan pembinaan relasi dengan warga masyarakat sangat diperlukan untuk dapat bekerjasama dengan mereka ke arah perubahan yang direncanakan. Pembinaan relasi akan sangat membantu untuk dapat memperoleh data akurat mengenai kebutuhan dan sumberdaya sistem klien. Serta membentuk kepercayaan warga yang ikut aktif melakukan perubahan dalam masyarakat.
3. Tahap klarifikasi/diagnosis masalah sistem klien;
Pada saat data telah terkumpul, masalah yang semula tampaknya sederhana, kemungkinan bertambah rumit, karena adanya kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok-kelompok yang menolak pembaharuan, masalah-masalah ketergantungan terhadap lembaga tersebut. Pada tahap ini community worker harus mengklarifikasi dan menganalisis hakekat permasalahan sistem klien.
4. Tahap pengkajian alternatif jalur dan tujuan perubahan, serta penentuan tujuan program dan kehendak untuk melakukan tindakan;
Data yang telah dianalisis kemudian ditentukan tujuan operasional dari program/kegiatan yang akan dilakukan serta alternatif cara yang ditempuh guna mencapai tujuan. Kemudian dari beberapa alternatif akan diputuskan alternatif mana yang akan diterapkan serta kegiatan/program apa yang akan dilaksanakan. Akan tetapi,
26
dalam kaitan dengan upaya mengembangkan kegiatan untuk bertindak, komunitas lokal kadangkala mempunyai kendala yang terkait dengan aspek kognitif dan motivasionalnya. Kelompok yang sudah dibentuk untuk mempelajari masalah yang dihadapi masyarakat mungkin sudah mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah mereka, tetapi hal ini tidak menjamin bahwa gagasan mengenai apa yang akan dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya akan otomatis muncul mengikuti proses sebelumnya.
5. Tahap transformasi kehendak ke dalam upaya perubahan yang nyata;
Tahap ini merupakan tahapan yang memfokuskan pada upaya mentransfer perencanaan program (program planning) menjadi pelaksanaan program dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang nyata (action program). Kunci keberhasilan dari fase ini sangat ditentukan kepada kemampuan masyarakat dan community worker untuk melakukan kegiatan secara efisien dan efektif. Untuk mengatahui ketidakefisienan kerja, agen perubahan dan sistem klien harus melakukan pemantauan secara progresif, guna mempertahankan atau mencapai kinerja yang mereka butuhkan. Keberhasilan dari program kerja diukur dari bagaimana suatu rencana dan kehendak dapat ditransformasikan kedalam bentuk pencapaian yang aktual (actual achievement).
6. Tahap generalisasi dan stabilisasi perubahan; dan
Perubahan sebagai akibat dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan program sebagaimana ditetapkan di atas, akan stabil bila dampak perubahan itu akan diikuti kelompok-kelompok lain dalam masyarakat atau meluas pada desa/kelurahan lainnya. Tahap ini seringkali disebut sebagai proses institusionalisasi, yaitu proses melembagakan perubahan. Prasyarat utama dari tahap ini adalah adanya dukungan dari sistem secara keseluruhan maka diperlukan evaluasi dari pelaksanaan program.
27
7. Tahap terminasi merupakan akhir dari suatu relasi perubahan.
Berakhirnya suatu relasi perubahan dapat terjadi karena waktu bertugas sudah berakhir atau karena masyarakat itu sudah siap untuk mandiri (mempunyai keterampilan teknis) untuk dapat terus mengembangkan kegiatan yang ada. Dalam proses pengembangan masyarakat, terminasi yang diharapkan adalah siapnya masyarakat untuk mandiri, sehingga tidak lagi diperlukan kehadiran community worker di daerah tersebut. Hal ini dapat terjadi kalau warga masyarakat diikutsertakan sejak tahap awal upaya perubahan berencana. Akan tetapi dalam kenyataan yang ada tidak jarang terminasi terjadi karena adanya keterbatasan dana dari lembaga yang ingin memberikan bantun, dan bukan karena masyarakat sudah mandiri.
Pendamping dapat menggunakan falsafah penyuluhan yang telah lama di kembangkan di Amerika Serikat sebagai salah satu teknik pendampingan untuk digunakan dalam pemberdayaan masyarakat. Falsafah tersebut dikenal dengan istilah 3T, yaitu Teach (Pendidikan), Truth (Kebenaran/Keyakinan), Trust (Kepercayaan). Artinya, 1) Bahwa pendidikan adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan, 2) Membantu masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri, oleh karenanya harus ada kepercayaan dari masyarakat sasaran, 3) Belajar sambil melakukan sesuatu, sehingga ada keyakinan atas kebenaran terhadap apa yang diajarkan. Sehubungan dengan falsafah penyuluhan, terdapat empat hal penting yang harus diperhatikan (Setiana, 2005):
1. Penyuluh harus bekerja sama dengan masyarakat, dan bukan bekerja untuk masyarakat;
2. Penyuluh tidak boleh menciptakan ketergantungan, tetapi justru harus mampu mendorong kemandirian;