BAB II. DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA PIKIR DAN
B. Teknik-teknik Pembelajaran Kooperatif
2. Teknik Think Pair Square
a. Pengertian Think Pair Square
Teknik pembelajaran yang menekankan kepada peserta didik agar dapat mengutarakan pendapatnya secara individual bukan hanya teknik Think-Pair-Share, namun ada pula teknik lain yaitu teknik Think-Pair-Square yang merupakan variasi dari teknik Think-Pair-Share dimana siswa dalam pasangannya mendiskusikan jawabannya dengan kelompok berempat daripada dengan kelas.28 Dengan demikian siswa percaya diri dan kompeten.29 Think Pair Square memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.30
Think Pair Square merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dan juga merupakan modifikasi dari model Think Pair Share yang dikembangkan oleh Lyman. Perbedaannya terletak pada tahapan diskusinya saja. Pada model Think Pair Share setelah tahapan pair selesai, kemudian dilaksanakan diskusi kelas (share). Sedangkan pada model Think Pair Square, setelah tahapan pair selesai, mereka hanya melakukan tahapan diskusi kelompok berempat (square), dan tidak dilakukan diskusi kelas.
28James L. Cooper, dkk,….h. 19
29
Ian Clark, …., h. 4 30
Anita Lie, Cooperative learning mempraktikkan cooperative learning di ruang-ruang
b. Langkah-langkah (tahapan) Think Pair Square
Sebagai seorang guru juga membutuhkan satu pola ini (Think Pair Square) yang secara sederhana dapat meningkatkan pola pikir dan membangkitkan sebuah diskusi. Dalam hal ini, seorang guru tidak membutuhkan murid untuk saling berbagi mengenai jawaban-jawaban pada kelas. Tahapan teknik pembelajaran Think Pair Square tidak berbeda jauh dengan tahapan pada teknik pembelajaran Think Pair Share.
Penerapan pembelajaran kooperatif teknik think pair square hampir sama dengan teknik think pair share. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) teknik Think Pair Square pada kelas X-B ini terlebih dahulu diawali dengan pemberian pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa yang ada dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) yang kemudian masing-masing siswa diinstruksikan supaya berpikir secara mandiri [“think”], berpikir dalam mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Hal ini penting untuk merangsang daya pikir masing-masing siswa sebelum sampai pada tahap [“Pair”] yaitu proses bertukar jawaban atau gagasan sesama pasangan sebagai output dari proses berpikir pada tahapan sebelumnya. Selama tahap ini, siswa mendiskusikan jawaban mereka secara bersama-sama dari setiap pasangan kemudian mengisi jawaban mereka di Lembar Kerja Siswa yang telah disediakan. Berikutnya adalah
tahapan yang terakhir yaitu [“square”], kedua pasangan bertemu kembali membentuk kelompok berempat untuk mendiskusikan kembali dari hasil diskusi berpasangan [“pair”].
Menurut Laura Candler, dalam tahap pelaksanaan think pair square, para siswa berpikir tentang jawaban mereka, berpasangan untuk mendiskusiknnya, dan membicarakan pemikiran-pemikiran yang dimilikinya dalam kelompok. Pada tahap akhir, mereka berdiskusi
berempat dari pada berbagi dengan kelas.31 Sedangkan menurut Fennell, tahap awal siswa diharapkan memikirkan jawaban secara individual terhadap pertanyaan yang diajukan guru (think), kemudian siswa dipasangkan dengan siswa lain dan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapatnya (pair). Tahap akhir adalah squaring, dua pasangan bersama-sama mendiskusikan jawaban-jawaban mereka. 32
Berikut ini tahapan dalam melaksanakan teknik Think Pair Square yang dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah menurut Anita Lie sebagaimana yang telah dikutip oleh Juliah Dayrini:33
1) Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
2) Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri. 3) Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan
berdiskusi dengan pasangannya.
4) Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
Sumber lain mengatakan, langkah-langkah teknik think pair square dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:34
Tahap 1: Kelompok Kooperatif
Setiap siswa ditempatkan dalam suatu kelompok kecil (terdiri dari empat orang siswa) yang disebut kelompok kooperatif.
Tahap 2: Thinking (berpikir sendiri)
31
Laura Candler, Cooperative learning & Hands-On Science, Science division, Kagan Cooperative Learning 1 800 WEE CO-OP, 2000
32
Fennell, Hope-Arlene, Students perceptions of cooperative learning strategies in post-scondary classrooms, diakses di www.eric.ed.gov.com. Tgl. 13-01-2009
33
Juliah Dayrini, perbandingan hasil belajar matematika siswa antara yang diajar
menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Think Pair Square dengan yang menggunakan metode discovery learning, Jakarta:UIN Jakarta, 2008. Skripsi
34Nub’atussaniyah, Pengaruh pembelajaran kooperatif teknik think pair square terhadap hasil belajar matematika siswa, Jakarta: Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008. Skripsi
Guru mengajukan pertanyaan kepada semua kelompok kooperatif yang berhubungan dengan materi pelajaran, kemudian setiap siswa dari kelompok kooperatif diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 3: Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain dalam kelompok berempat untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide. Jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi.
Tahap 4: Square (berempat)
Guru meminta kepada siswa berpasangan untuk bertemu kembali dalam kelompok berempat. Dan masing-masing siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat, dapat berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah dibicarakan secara bergiliran dari masing-masing kelompok berempat di depan kelas.
Secara ringkas, kesimpulan dari berbagai pendapat tersebut dapat dilihat pada bagan alur berikut ini:35
1. PEMBERIAN SOAL
Guru memberikan lembar soal yang berisikan tentang suatu permasalahan, berikut beberapa pertanyaan tentang permasalahan tersebut.
2. THINK
Siswa A, B, C dan D secara individu mengerjakan soal yang telah diberikan. Ket: Siswa A & B adalah teman satu bangku. Begitu juga dengan siswa C dan D.
35
Intang Rustini, Keterampilan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran kooperatif
teknik think pair square dalam kegiatan praktikum materi pencemaran air, Bandung: FMIPA UPI, Skripsi
B A
D C
3. PAIR
Siswa Mengerjakan Soal Yang Sama, Bekerja Sama Dengan Teman Satu Bangkunya (Berpasangan).
Ket: Siswa A bekerja dengan siswa B. Begitu juga dengan siswa C dan D.
1. THINK
Siswa A, B, C dan D secara individu mengerjakan soal yang telah diberikan. Ket: Siswa A & B adalah teman satu bangku. Begitu juga dengan siswa C dan D.
Gambar 2.1 Ilustrasi teknik Think-Pair-Square
Pelaksanaan teknik Think-Pair-Square dimulai dengan tahap Think di mana setiap siswa dituntut untuk berusaha memecahkan permasalahan secara mandiri. Disusul dengan tahap Pair di mana setiap siswa bergabung dengan siswa lainnya, mereka dituntut untuk mengerjakan permasalahan yang sama seperti sebelumnya dengan cara diskusi. Masuk ke tahap selanjutnya yaitu tahap Square di mana setiap kelompok pair bergabung dengan kelompok pair lainnya sehingga dibentuk kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang untuk mengerjakan permasalahan yang sama seperti pada tahapan-tahapan selanjutnya.
A B
C
4. SQUARE
Setiap pasangan kerja bergabung dengan pasangan kerja lain (bergabung dengan pasangan kerja/bangku belakangnya), dan mengerjakan soal yang sama.
B A
D C
Penulis menyimpulkan bahwa langkah-langkah teknik think pair square sebagai berikut:
1)Proses pemberian pertanyaan atau masalah oleh guru. 2)Think
Siswa diwajibkan memikirkan jawaban secara individual terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru.
3)Pair
Siswa berpasangan untuk mendiskusikan jawaban yang telah diperoleh
dari proses ”think”.
4)Square
Berdiskusi membentuk kelompok berempat.
C. Hasil belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Di dalam pendidikan, seorang guru memberikan suatu metode pembelajaran kepada peserta didik haruslah sesuai dengan karakteristik peserta didik tersebut agar tujuan pembelajaran tersebut tercapai dan dapat dipahami dengan mudah. Belajar atau yang disebut juga dengan learning, merupakan kewajiban bagi setiap manusia, karena sebagai makhluk sosial dan berbudaya memerlukan perkembangan yang baik antara dirinya dan lingkungannya. Sehingga dengan belajar, manusia dapat mengembangkan dirinya. Belajar didefinisikan sebagai salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia.36 Sedangkan menurut Wittrock, belajar adalah suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman, dan proses tersebut mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman.37 Belajar sebagai
36
Zikri Neni Iska, Psikologi: Pengantar Pemahaman Diri dan Ligkungan, (Jakarta: Kizi
Brother’s, 2006), h. 76
37
Nurdin Ibrahim, Pemanfaatan tutorial audio interaktif untuk perataan kualitas hasil belajar (suatu kajian), (Jurnal pendidikan dan kebudayaan, No. 044, Tahun Ke-9, September, 2003), h. 734
proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya.
Burton dalam bukunya The Guidance of Learning activities seperti yang dikutip oleh Drs. Moh. Uzer Usman menjelaskan bahwa dalam belajar akan terdapat change atau ”perubahan” yang berarti bahwa
seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya.
Selanjutnya mengenai hasil belajar, Gagne dkk menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa.38 Definisi lain oleh beliau mengenai hasil belajar adalah terbentuknya konsep yaitu kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Skema itu akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seeorang.39 Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar adalah tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuh.
Beberapa pengertian tentang hasil belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat memberi gambaran bahwa hasil belajar merupakan produk yang telah dicapai oleh siswa dalam bentuk perubahan-perubahan pada diri siswa yang diharapkan terjadi setelah proses belajar. Proses belajar siswa bukan hanya merupakan penguasaan pengetahuan semata atau berbagai hal yang pernah diajarkan atau dilatih akan tetapi
38
I Wayan Koyan, Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif dan Kemampuan
Penalaran Verbal Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), (Jurnal pendidikan dan pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXVI Januari 2003), h. 7
39
Purwanto, Tujuan pendidikan dan hasil belajar, jurnal teknodik (Jakarta: pustekom, 2005), h.153
juga meliputi perubahan tingkah laku yang relatif menetap dalam diri siswa. Dengan demikian maka hasil belajar merupakan perolehan dari proses belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran serta prestasi siswa dalam proses pembelajaran.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Belajar biologi akan berhasil bila proses belajarnya baik, yaitu melibatkan intelektual anak secara optimal. Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya atau di luar dirinya. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Zikri Neni Iska, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar antara lain:40
a. Internal/dalam, yakni:
1) Fisiologi, yang terdiri dari kondisi fisik dan panca indera.
2) Psikologi, yang terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognisi.
b. Eksternal/luar, yakni:
1) Lingkungan, yang terdiri dari alam dan sosial.
2) Instrumental, yang terdiri dari kurikulum, guru, sarana prasarana, administrasi dan manajemen.
Faktor-faktor tersebut berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dalam proses dan hasil belajar yang dicapai siswa.