BAB I PENDAHULUAN
H. Teknis Analisis Data
Dalam pembahasan skripsi ini penulis menggunakan teknik analisis data (deskriptis analisis), yaitu data yang penulis dapatkan tentang konsep revolusi Islam menurut Imam Khomeini akan diuraikan secara umum dengan cara menguraikan sesuai dengan data yang ada di lapangan. Jenis penelitian deskriptif analisis ini dimaksud untuk menggambarkan objek atau fakta sosial yang diamati dengan duduk permasalahan dan permasalahan sosial yang terdapat di dalamnya.
Teknik penulisan dalam pembuatan skripsi ini mengacu kepada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Syarif Hidayatullah Jakarta.
I. Sistematika Pembahasan
Penulisan skripsi ini akan dibangun secara sistematis, yang terdiri dari lima bab termasuk di dalamnya pendahuluan. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab pertama adalah pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, menjelaskan tentang biografi Imam Khomeini, mengenai pendidikan, latar belakang sosial, dan aktifitas politik
Bab ketiga, membahas tentang devinisi revolusi secara umum, devinisi revolusi Islam, peristiwa kudeta dan demonstrasi di masa sahabat Nabi Muhammad, dan revolusi menurut litelatur Syiah.
Bab keempat, membahas konsep revolusi Islam menurut Imam Khomeini. Bab kelima penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.
15
BAB II
Biografi Imam Khomeini
Imam Khomeini sebagai tokoh sentral gerakan revolusi Islam Iran tahun 1979 merupakan sosok yang sangat tegas terhadap nilai-nilai Islam. Ketegasan tersebut terbentuk dari latar belakang keluarga, pendidikan dan perjuangan panjang menentang kekuasaan dinasti Qajar dan Pahlevi. Imam Khomeini juga merupakan sosok pemimpin kharismatis yang sangat berpengaruh bahkan setelah dinasti Pahlevi tumbang dan setelah revolusi.
A. Latar Belakang Keluarga dan Sosial Politik di Iran Abad 20
Imam Khomeini lahir dengan nama Ruhullah Musawi Khumaini pada 20 Jumadil Akhir 1320 H atau 24 September 1902 disebuah kota kecil bernama Khumayn, sekitar 160 kilometer barat daya kota Qum.1 Khomeini dipercaya ketururan langsung Rasulullah dari jalur Sayyidah Fatimah al-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu beliau bergelar Sayyid.2 Tanggal lahir Khomeini bertepatan dengan ulang tahun kelahiran Sayyidah Fatimah al-Zahra.3 Silsilah Imam Khomeini bermuara pada garis keturunan Nabi Muhammad Saw
melalaui jalur Imam Syi‟ah ketujuh, Musa al-Kazim.4
Melihat leluhur Khomeini berasal dari keluarga yang sangat religius terlihat dari ayah-nya, Ayatullah Sayyid Mustafa al-Musavi al-Khomeini,
1
Abdar Rahman Koya, Apa Kata Tokoh Sunni Tentang Imam Khomeini, Dierjemahkan dari: Imam Khomeini Life, Thought and Legacy Essays From an Islamic Movement Perspective, Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dkk, (Depok: Pustaka IIMaN, 2009), h.34.
2
Panitia Peringatan Haul Ke 11 Imam Khomeini, Imam Khomeini: Pandangan ,Hidup, dan Perjuangan, (T.tp: T.pn, t.t.), h. 4.
3
Ringkasan Biografi, Pidato-pidato dan Wasiat Imam Khomeini, h.1. 4
kakeknya, Sayyid Ahmad Hindi, maupun kakek ayahnya, Sayyid Din Ali Syah, dikenal sebagai tokoh-tokoh agama yang disegani pada masanya. Begitu pula kakek dari ibunya (Hajar Agha Khanom), Ayatullah Aqa Mirza Ahmad Khwansari. Sayyid Din Ali Syah adalah seorang cendekiawan muslim (religious scholar) dari Nishapur atau Neyshabur (Iran timur laut) yang bermigrasi ke Kashmir dimana kemudian ia menetap untuk selama-lamanya.
Sayyid Mustafa al-Musavi al-Khomeini adalah seorang tokoh ulama yang sangat berpengaruh sampai ke luar Khomein. Sebagai tradisi keluarganya, ia berusaha sebisa mungkin, seperti ayahnya, melindungi orang-orang tak berdaya dari kezaliman dan tekanan kaum feodal. Pada masa pemerintahan dinasti Qajar, kehormatan dan hak milik rakyat berada di bawah belas kasihan golongan yang berkuasa, Sayyid Mustafa dengan beraninya melawan para khan (penguasa) setempat yang buas dan para penjahat feodal yang memangsa rakyat tak berdaya dan lemah. Tiga tokoh terkemuka diantara para khan lokal, Behram Khan, Ridho
Quli Sulthan dan Ja‟far Quli Khan, menganggap Sayyid Mustafa sebagai
penghalang bagi rencana-rencana mereka.5
Pada 1903 ayah Imam Khomeini meninggal dunia pada usia 42 tahun.6 Sang ayah Sayyid Mustafa terbunuh di tangan Wali kota Khomein ketika memprotes pemerasan dan pajak yang tidak adil, serta praktik-praktik penindasan yang dilakukan oleh aparat Dinasti Qajar di daerahnya itu7. Kabarnya, Sayyid
Mustafa dibunuh oleh dua orang bernama Ja‟far Quli Khan dan Ridha Quli
5
Sekilas Tentang Imam Khomeini, h. 44. 6
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h. 39.
7
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam, (Bandung:Mizan, 2002), h. 110.
17
Sultan, agen-agen rezim Dinasti Qajar yang berkuasa. Jenazah Sayyid Mustafa segera dibawa ke Najaf. Para ulama di Teheran, Arak, Isfahan, Golpaygan, dan Khumayn, mengadakan upacara untuk mengenang kematian (majlis-e tarhim) Sayyid Mustafa.
Di bawah tekanan rakyat, rezim Syah Muzaffar al-Din (1896-1907) dari dinasti Qajar berjanji untuk menghukum para pembunuh Sayyid Mustafa. Tapi, salah seorang pembunuhnya, Ridha Quli Sultan, tewas sebelum dipenjarakan.
Sedangkan Ja‟far Quli Khan tidak lama berada di penjara, karena pada 1905 ia
dieksekusi atas perintah putra mahkota Muhammad Ali Mirza ketika Syah sedang melewat ke Eropa. Pada umumnya suratkabar-surat kabar itu menuduh bahwa syah sebenarnya berada dibelakang pembunuhan Sayyid Mustafa.8
Ada pendapat yang mengatakan bahwa motif pembunuhan Sayyid Mustafa disamping karena membela para petani miskin, pembunuhan tersebut juga didasari oleh perselisihan memperebutkan hak irigasi, karena disamping menjalani tugas keagamaan, Sayyid Mustafa sendiri juga seorang petani yang lumayan makmur. Perselisihan irigasi tersebut merupakan hal yang kaprah diantara para petani pada waktu itu. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kapasitasnya sebagai hakim Syariat di Khumayn, Sayyid Mustafa menjatuhkan hukuman kepada sejumlah orang lantaran melanggar ketentuan publik pada bulan
8
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h. 38 .
suci Ramadhan, kemudian keluarga tersangka melancarkan pembalasan yang mematikan.9
Karena wafatnya sang ayah dalam usia muda, ia dibesarkan dalam asuhan ibu dan bibi nya, Sahiba. Baru limabelas tahun umurnya, ketika sang bibi pun meninggalkannya untuk menghadap Tuhan. Tak lama kemudian, menyusul pula ibunya wafat. Wafatnya orang-orang yang paling disayangi itu dalam usianya yang masih muda, tak urung memukulnya. Menurut riwayat, ia pun besar sebagai anak muda yang serius, banyak merenung, bahkan menyendiri di padang pasir di dekat tempat kediamannya. Dengan demikian, giliran sang kakak, Pasandideh-kelak juga seorang Ayatullah- mengasuhnya, sekaligus menjadi guru pertamanya di bidang ilmu-ilmu keislaman, khususnya di bidang logika dan bahasa Arab.
Setelah kematian bibi dan ibunya, tanggung jawab keluarga jatuh ke tangan abang tertuanya, Sayyid Murtaza (belakangan dikenal dengan Ayatullah Pasandida). Secara materi kakak-beradik ini hidup berkecukupan dengan mengandalkan tanah milik ayah mereka. Namun ketidakamanan dan situasi tak berhukum terus mengganggu kehidupan mereka. Betapa tidak, disamping kekisruhan yang kerapa terjadi antar- tuan tanah, Khumayn juga dikacaukan dengan pemberontakan yang berkali-kali dilancarkan suku Bakhtiari dan Lurr. Begitu kepala suku Bakhtiyari, yakni Rajab Ali, mengumumkan perang, Imam
9
Abdar Rahman Koya, Apa Kata Tokoh Sunni Tentang Imam Khomeini, Dierjemahkan dari: Imam Khomeini Life, Thought and Legacy Essays From an Islamic Movement Perspective, Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dkk, (Depok: Pustaka IIMaN, 2009), h.36.
19
Khomeini yang masih belia harus mengangkat senjata bersama-sama kakaknya, demi mempertahankan rumah keluarga.10
Semasa kecil, Imam Khomeini mulai belajar bahasa Arab, syair Persia, dan kaligrafi di sekolah negeri dan di maktab. Menjelang dewasa, beliau mulai belajar agama dengan lebih serius. Ketika berusia lima belas tahun, Imam Khomeini mulai belajar tata bahasa Arab kepada saudaranya,Murtadha, yang belajar bahasa Arab dan Teologi di Isfahan. Pada usia tujuh belas tahun, Imam Khomeini pergi ke Arak, kota dekat Isfahan, untuk belajar dari Syekh „Abdul Karim Ha‟eri Yazdi, seorang ulama yanag terkemuka11
.
Setelah runtuhnya imperium Usmaniyah, Syekh Ha‟eri enggan tinggal di
kota-kota yang berada dibawah mandat Inggris. Ia kemudian pindah ke Qum.
Lima bulan kemudian Imam Khomeini mengikuti jejak Syekh Ha‟eri pindah ke
Qum. Segera saja, Khomeini tampil sebagai salah seorang murid yang paling menonjol di hauze ‘ilmiye kota itu. Di bawah bimbingan Syekh Ha‟eri Khomeini
belajar fikih dan ushul fiqh. Pada saat yang sama, ia juga mempelajari filsafat dan
„irfan–yakni Tasawuf- dibawah bimbingan seorang guru yang dipandang ahli di bidang itu, Mirza Muhammad „Ali Syahabadi. Sebelum kelak menjadi mujtahid
(marja’ taqlid), kemasyhuran Khomeini diperoleh dalam kedua bidang ini. ia
bahkan telah menjadi guru filsafat dan „irfan sejak usia 27 tahun12.
10
Abdar Rahman Koya, Apa Kata Tokoh Sunni Tentang Imam Khomeini, Dierjemahkan dari: Imam Khomeini Life, Thought and Legacy Essays From an Islamic Movement Perspective, Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dkk, (Depok: Pustaka IIMaN, 2009), h.37.
11
Imam Khomeini, Palestina Tragedi Keterhinaan Kaum Muslim, ( T.tp : Zahra, 2004). h. 1.
12
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam , (Bandung:Mizan, 2002), h. 111.
Mirza Muhammad „Ali Syahabadi merupakan guru yang memberikan pengaruh paling besar terhadap perkembangan spiritual Imam Khomeini. Kepadanyalah beliau persembahkan sejumlah karyanya, seperti Syaikhuna dan
‘Arif-I kamil. Dan hubungan belaiu dengan Syahabadi sama seperti seorang murid dengan mursyidnya. Ketika Syahabadi pertama datang ke Qum pada tahun 1928 M, Imam Khomeini yang masih muda mengajukan pertanyaan menyangkut karakter wahyu. Beliau terpesona dengan jawaban yang diberikan dan memohon agar Syahabadi bersedia menjadi guru. Secara sadar atau tidak, Imam Khomeini mewarisi campuran minat terhadap gnostic dan politik, setidaknya sebagian, dari Syahabadi. Syahabadi juga merupakan segelintir ulama pada masa Reza Syah yang memberi khutbah terbuka yang menentang kebobrokan rezim itu.13
Di Qum Khomeini juga belajar retorika syair dan tata bahasa dari gurunya yang bernama Syekh Muhammad Reza Masjed Syahi. Selama belajar di Qum, Khomeini juga menyelesaikan studi fikih dan ushul fikih di bawah bimbingan seorang guru dari Kasyan, yang sebelas tahun lebih tua darinya, yaitu
Ayatullah „Alio Yasrebi.14
Pada usia 27 tahun, selain sudah menjadi guru dalam bidang filsafat dan irfan, Khomeini juga menulis sejumlah buku-buku agama dan sebagian merupakan komentar (syarh) atas karya penulis klasik.
Kepribadian Imam Khomeini menunjukkam minatnya pada bidang irfan.
Muhammad Shadruddin al-Syirazi yang dikenal dengan Mulla Sadra mengatakan dalam dalam karya monumentalnya, al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Ashfar
13
Abdar Rahman Koya, Apa Kata Tokoh Sunni Tentang Imam Khomeini, Dierjemahkan dari: Imam Khomeini Life, Thought and Legacy Essays From an Islamic Movement Perspective, Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dkk, (Depok: Pustaka IIMaN, 2009), h.42.
14
Imam Khomeini, Palestina Tragedi Keterhinaan Kaum Muslim, (Jakarta:Zahra Publishing House,2009), h. 1.
21
Arba’ah, mendiskripsikan bahwa perjalanan menuju Allah SWT terdiri dalam
empat pos. Dalam kata pengantarnya beliau mengatakan, “ketahuilah,
sesungguhnya para pesuluk dari kalangan ‘urfa dan „Auliya mempunyai empat pos; pertama, perjalanan dari makhluk menuju al-Haq. Kedua, perjalanan dengan al-Haq di dalam al-Haq. Ketiga, kebalikan dari pertama, perjalanan dari al-Haq menuju makhluk dengan al-Haq. keempat; kebalikan dari yang kedua, perjalanan dengan al-Haq di tengah makhluk.”
Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, seperti yang dikutip oleh Sayid Kamal Haydari, dalam kuliah filsafat dan kalam-nya di kota Qom tahun 1992, bahwa
dalam perjalanan spiritualnya, Imam Khomeini telah melewati “pos ketiga.”15 Pada usia 30 tahun Khomeini menikah dengan putri seorang agamawan terkemuka dan memiliki dua orang putra dan tiga orang putri. Putranya, Musthafa Khomeini yang merupakan seorang hujjatul Islam terkemuka sekaligus tangan kanan ayahnya wafat secara misterius dan diduga besar SAVAK (agen-agen dinas rahasia Iran pada masa Syah) adalah dalang dibalik pembunuhannya. Putra Imam Khomeini yang kedua adalah Ahmad Khomeini yang juga merupakan seorang hujjatul Islam dan kemudian menjadi tokoh yang berpengaruh di Republik Islam Iran (RII). Sedangkan putri-putrinya, Zahra Musthafawi adalah seorang doctor dan dosen filsafat di salah satu Universitas Iran.16
15
Muhammad Abdul Kadir Alcaff (penerjemah), Kedududkan Wanita dalam Pandangan Imam Khomeini judul asli Makanah al-mar’ah fi Fikr al-Imam al-Khomeini, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2004) h.17.
16
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam, (Bandung:Mizan, 2002), h. 111.
Kecaman-kecaman Imam Khomeini terhadap rezim Pahlevi disebabkan kondisi sosial politik Iran yang hanya di dominasi oleh kalangan istana dan kaum borjuis industrialis.
B. Karir dan Aktifitas Politik Imam Khomeini
Sepanjang tahun1930-an, Imam Khomeini tidak terlibat dalam aktivitas politik terbuka. Beliau selalu yakin bahwa kepemimpinan aktivitas politik seharusnya berada di tangan cendekiawan agama yang paling mumpuni. Dan
karena itulah, beliau bertanggun jawab untuk menerima keputusan Ha‟iri untuk
tetap relative pasif terhadap tindakan Reza Syah. Sebagai sosok yang masih yunior dalam institusi keagamaan di Qum, bukanlah posisi beliau untuk memobilisasi opini masyarakat dalam skala nasional. Kendati demikian, beliau menjalin kontak dengan segelintir ulama yang terang-terangan menentang Reza Syah.17
Imam Khomeini memang sangat mendambakan para marja’ taqlid atau pemimpin tertinggi ulama untuk memimpin Iran. Selain wakil sah Imam Mahdi as, para marja’ taqlid adalah orang-orang yang telah mencapai kualitas keilmuan dan ketaqwaan yang sangat tinggi. Karena itu, Imam Khomeini selalu mendorong Ayatullah Burujurdi yang pada masa itu merupakan marja’taqlid
utama, agar bersedia mengamban amanah ini.18 Namun karena ada beberapa hal Ayatullah Burujurdi tidak bisa mengembannya.
17
Abdar Rahman Koya, Apa Kata Tokoh Sunni Tentang Imam Khomeini, Dierjemahkan dari: Imam Khomeini Life, Thought and Legacy Essays From an Islamic Movement Perspective, Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dkk, (Depok: Pustaka IIMaN, 2009), h.46.
18
23
Sejak usia muda, Imam Khomeini memiliki keprihatian yang mendalam terhadap kondisi negaranya terutama para penguasa. Ketika umur 39 tahun Imam Khomeini yang pada waktu itu seorang hujjatul Islam, secara terbuka menuding Reza Syah sebagai budak Inggris, zalim, koruptor dan penguasa anti Islam.19Pada tahun 1943 Khomeini menerbitkan bukunya yang berjudul Kasyhf al-Asrar
(Menyingkap Rahasia), di mana ia mengecam pemerintahan Reza Syah, dengan menegaskan bahwa sebuah monarki seharusnya dibatasi oleh aturan-aturan dalam syariat sebagaimana ditafsirkan para mujtahid dan mengisyaratkan keutamaan suatu pemerintahan oleh para mujtahid.20 Buku tersebut tergolong sangat berani pada waktu itu karena merupakan kritikan terang-terangan kepada Syah.
Tudingan Khomeini kepada Reza Syah didasarkan atas fakta bahwa Reza Syah melakukan banyak perubahan di berbagai bidang. Di bidang hukum misalnya mulai diperlakukan sistem hukum ala Prancis, yang tentu saja mendapat tantangan keras dari para ulama Islam. Walaupun sebenarnya Reza Syah bermaksud menjadikan Iran sebagai Negara Republik tetapi ditentang oleh para Ulama yang khawatir terhadap kemungkinan berkembangnya Iran menjadi Negara sekuler seperti Turki.21
Bagi Imam Khomeini, Islam ada di atas segalanya. Sambil mengecam tata tertib yang berlaku menurut Baqir Moin, Imam Khomeini menyanjung kebaikan suatu pemerintahan Islam, tanpa merinci mekanisme untuk mewujudkannya.
19
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam, (Bandung:Mizan, 2002), h. 112.
20
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini Filsafat Politik Islam, h. 111. 21
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h .7.
tetapi ia cukup berani untuk mendorong kaum muda untuk “membungkam mereka yang mengancam para ulama secara terbuka”. Walaupun demikian, pandangan-pandangan Imam Khomeini tidak diikuti oleh semua ulama. Serangan Imam Ayatullah terhadap golongan kanan anti-ulama, terjadi pada waktu ancaman dari golongan kiri belum sepenuhnya dirasakan oleh Imam Khomeini.22
Awal 1960-an, Imam Khomeini melewatkan hidupnya di kota suci Qum. Ia berkomitmen bahwa Islam memiliki komitmen terhadap kehidupan sosial dan politik. Iran, katanya, harus merdeka baik dari kolonialisme Barat Maupu Timur. Selama periode kepemimpinan Ayatullah Husain Burujirdi, imam Khomeini secara langsung tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik, tetapi tahun-tahun ini khususnya pada tahun 1962-sejak meninggalnya Ayatullah Husain Burujirdi- melalui ceramah-ceramah yang diberikannya, Imam Khomeini secara terbuka mengkritik pemerintah. Pada 1961 PM Ali Amini mengumumkan program land reform-nya dan juga mengajukan sebuah RUU tentang pemilihan dewan lokal pada November 1962 disamping juga terdapat isu Referendum nasinional (1963). Pada masa inilah untuk pertama kali Imam Khomeini tampil sebagai tokoh politik nasional terdepan yang menentang Syah. Slogan land reform di Iran adalah suatu penyamaran untuk penghancuran ekonomi agraris dalam satu cara yang direncanakan untuk menjamin keuntungan maksimum bagi keluarga raja dan memberikan keuntungan-keuntungan bagi perusahaan-perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat, Eropa dan Israel.23
22
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h. 46.
23
25
Kecamannya terhadap Syah serta pemboikotan terhadap referendum nasinoal tersebut membuat Imam Khomeini-untuk pertama- kalinya ditahan tepatnya pada tanggal 25 Januari 1963. Ia memberikan kecamannya yang berbentuk khutbah di madrasah Faiziyeh (Qum) dan menganjurkan para ulama melakukan pemogokan dengan tidak pergi ke mesjid-mesjid. Madrasah Faiziyeh diserang oleh pasukan terjun tentara SAVAK, sejumlah tollab (santri/siswa teologi) banyak yang gugur. Ini semua merupakan tindakan keras yang dilakukan Syah kepada pihak yang menentang referendum.
Tidak lama setelah di jebloskan ke penjara, Imam Khomeini kembali melancarkan kritikan tajam terhadap rezim dan kebijakan Syah. Imam Khomeini
mengecam dominasi AS di Iran dan mengangap AS sebagai “musuh Islam”
karena mendukung Israel. 24
Pada 3 Juni 1963 dalam sebuah khutbah yang bersejarah di Qom, Imam Khomeini mendeklarasikan perang terhadap Syah. Keesokan harinya, 4 Juni 1963, sewaktu berlangsung peringatan berlangsung peringatan ulang tahun syahidnya Imam Husain, rezim Syah menangkap Imam Khomeini untuk yang kedua kalinya. Syah juga menangkap sejumlah ulama, diantaranya Ayatullah Fazlullah Mahallati di Shiraz, Ayatullah Hasan Tabataba‟I Qommi di Mashad, dan Muhammad Taqi
Falsafi di Teheran. Ketika berita ditangkapnya Imam Khomeini samapai ke Teheran prosesi ulang tahun peringatan syahidnya Imam Husain berubah menjadi suatu demonstrasi besar-besaran. Besoknya, demonstrasi meluas ke kota-kota Shiraz, Khasan, dan Mashad. Kendaki di bawah tekanan pihak militer,
24
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h. 46.
demonstrasi terus berlanjut hingga jumat, 7 Juni 1963 dimana ditemukan sebuah pamflet yang menyerukan perang jihad terhadap rezim Syah. Beberapa hari kemudian demonstrasi baru berhasil dipadamkan dengan jatuhnya ratusan korban jiwa.25
Imam khomaeni baru di bebaskan pada Agustus 1963. Oktober 19963 Iran mengadakan pemilu anggota parlemen. Karena menyeru kepada para pengikutnya untuk memboikot parlemen tersebut, Imam Khomeini untuk yang ketiga kalinya ditahan pada 5 November 1963. Sejumlah tokoh ulama seperti: Syariatmadari,
Najafi Mar‟ashi, dan Montazeri secara bersamaan melancarkan kampanye yang
efektif bagi pemebebasaan Imam Khomeini. Enam minggu setelah dipenjara akhirnya Imam Khomeini dibebaskan, tapi tidak diperbolehkan kembali ke Qom, dan berada dalam status tahanan rumah di Teheran sampai bulan Mei 1964. Setelah Imam Khomeini dibebaskan dari penjara, kaum ulama yang melancarkan protes kembali ke Qum.
Pemilu anggota parlemen tersebut tetap berjalan dan dimenangkan oleh
kelompok “progresif tengah” yang dipimpin Hasan Ali Mansur. Mansur yang kemudian diangkat sebagai PM tidak mau meneruskan kebijakan pendahulunya (PM Alam) yang berkonfrontasi dengan kaum ulama. Guna memperbaiki hubungannya dengan kaum ulama, Mansur mengizinkan Imam Khomeini untuk kembali ke Qum.
Pada bulan Januari 1964, Imam Khomeini kembali ke Qum dan muncul sebagai pemimpim agama yang paling popular di Iran serta disambut bak
25
Riza Sihbudi, Biografi Politik Imam Khomeini, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1996), h. 47.
27
pahlawan oleh para muridnya. Tidak lama kemudian murid-muridnya mengajukan rencana 10 pasal kepada pemerintah, yang merupakan refleksi akurat dari aspirasi dan persuasi ideology pereka. Di antara rencana 10 pasal itu, terdapat tuntutan bagi diberlakukannya Konstitusi 1906, khususnya pasal 2 yang memberikan hak veto pada kaum ulama terhadap legislasi majlis.
Seperti telah disinggung bahwasanya Imam Khomeini merupakan sosok yang sangat keras dan paling terus terang menentang rezim Syah. Betapa bagaimanapun Syah telah berulangkali menahannya. Pada November 1964 untuk yang keempat dan terakhir kalinya, Imam Khomeini ditahan dan kemudian diasungkan ke Bursah, sebuah kota kecil di Turki. Ia diusir dengan paksa dari negaranya setelah dengan keras menentang rancangan undang-undang yang akan memberikan hak-hak istimewa bagi warga Amerika di Iran. Menurut Imam Khomeini rezim Syah telah menempatkan bangsa Iran lebih rendah dari anjing Amerika. Apabila ada seseorang memukul anjing Amerika, ia akan diusut, tetapi bila seorang koki Amerika memukul Syah Iran atau tokoh yang sangat penting disini, maka tidak ada orang yang berhak memprotes.26
Pada awalnya Imam Khomeini akan diungsikan ke Pakistan dan India, tapi kedua Negara ini menolak. Sesampainya di Bursah, Turki, Imam Khomeini