BAB III METODE PENELITIAN
G. Teknis Analisis Data
Analisis data yang penulis lakukan adalah analisis Balance scorcard dengan analisis deskriptif, yaitunya analisis data dengan cara memberikan gambaran dari data yang tersedia untuk menjelaskan hasil dari penelitian yang penulis lakukan. Analisis Balance scorcard yang penulis gunakan, yaitu:
1. Financial Perspective (Perspektif Keuangan)
Kinerja persepektif keuangan merupakan kinerja yang digunakan untuk mengetahui apakah strategi perusahaan, implementasi serta pelaksanaannya akan membawa perbaikan perusahaan.
Penelitian ini dilakukan pada sektor publik berdasarkan konsep desentralisasi dan otonomi daerah dilihat dari perspektif organisasi dan manajemen lebih menekankan pada aspek ekonomi, efisiensi, dan efektifitas. Maka, dalam perspektif ini diukur dengan menggunakan instrument pengukur value for money yang dikembangkan oleh Mardiasmo (2002).
Untuk mengukur perspektif keuangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang menggunakan indikator sebagai berikut:
a. Rasio Ekonomi
Rasio Ekonomi adalah rasio yang menggambarkan kehematan dalam penggunaaan anggaran dan kemermatan dalam pengelolaaan serta menghindari pemborosan. Kegiatan operasional dikatakan ekonomis jika dapat mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu. Untuk menghitung pengukuran Rasio Ekonomi dengan menggunakan rumus sebagai berikut
Rasio ekonomi =
x 100%
Setelah menghitung pengukuran rasio kemudian dimasukkkan kedalam kriteria tingkat ekonomi kinerja pada tabel berikut:
Tabel 3. 2 Kriteria Tingkat Ekonomis Kinerja Keuangan Presentase Kinerja
Keuangan
Kriteria
Kurang dari 100% Ekonomis
Sama dengan 100% Ekonomis Berimbang Lebih dari 100 % Tidak Ekonomis (Mohamad Mahsun, 2006)
b. Rasio Efisiensi
Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input.
Semakin besar output dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi. Rasio ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan. Untuk menghitung Pengukuran Rasio Efisiensi dengan rumus sebagai berikut:
Rasio Efisiensi =
x 100%
Setelah menghitung pengukuran rasio kemudian dimasukkan kedalam kriteria tingkat efisiensi kinerja pada tabel berikut:
Tabel 3. 3 Kriteria Tingkat Efisiensi Kinerja Keuangan
Kriteria Ekonomi Keterangan
Lebih dari 100% Tidak Efisien
Sama dengan 100% Efisiensi berimbang
Kurang dari 100% Efisien
(Muhamad Mahsun, 2006) c. Rasio Efektivitas
Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Efektifitas tidak menyatakan tentang seberapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Biaya bisa jadi melebihi apa yang telah dianggarkan. Efektifitas hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, efektifitas diukur dengan antara realisasi pendapatan dengan target pendapatan yang telah ditetapkan manajemen. Untuk menghitung pengukuran rasio efektivitas dengan rumus sebagai berikut
Rasio Efektifitas =
x 100%
Setelah menghitung pengukuran rasio kemudian dimasukkan kedalam kriteria tingkat efektifitas pada tabel berikut:
Tabel 3.4
Kriteria Tingkat Efektifitas Kinerja Keuangan Tabel 3. 4 Kriteria Tingkat Efektifitas Kinerja Keuangan
Kriteria Ekonomi Keterangan
Kurang dari 100% Tidak Efektif Sama dengan 100% Efektif Berimbang
Lebih dari 100% Efektif
(Mohamad Mahsun, 2006)
2. Customer Perspective (Perspektif pelanggan)
Pengukuran kinerja ada perspektif pelanggan ii digunakan untuk mengetahui bagaimana respon pelanggan terhadap pelayan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang.
a) Pangsa pasar
Pangsa pasar menunjukkan sejauh mana kemampuan unit bisnis menarik pelanggan baru. indkator ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru pada perusahaan untuk memeproleh tambahan pendapatan. Pangsa pasar yang
meningkatkan di segmen sasaran menggambarkan seberapa besar promosi yang dikuasai oleh perusahaan dalam segmen tertentu.
b) Akuisisi pelanggan baru
Akuisisi pelanggan baru adalah tingkat kemampuan perusahaan demi memperoleh dan menarik pelanggan baru dalam pasar
Akuisisi Pasien =
x 100%
Akuisisi pelanggan baru untuk mengukur seberapa banyak perusahaan mampu menarik pelanggan baru atau memnangkan bisnis baru pada pengukuran akuisisi pelanggan atau retensi pelanggan menunjukkan apakah perusahaan telah menyediakan barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan.
c) Retensi Pelanggan
Retensi pelanggan adalah tingkat kemampuan perusahaan untuk mempertahankan pelanggannya. Seperti seberapa besar perusahaan untuk mempertahankan pelanggan lama.
Retensi Pasien =
x 100%
Retensi pelanggan ini dikatakan baik jika perhitungan retensi pelanggan selama periode pengamatan mengalami peningkatan, diukur dengan cukup baik apabila konstan dan diukur kurang apabila mengalami penurunan.
d) Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan, dan kebutuhan pelanggan terpenuhi atau kepuasan pelanggan adalah tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelanggan yang diberikan oleh perusahaan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kepuasan pasien yaitu:
1) Pelayanan yang diberikan rumah sakit
Strategi ini diukur dengan menggunakan empat pengukuran, yaitu pengobatan yang memuaskan selama menjalani perawatan di RSUD, keramahan semua karyawan RSUD, kenyamanan saat berada di dalam RSUD, serta sistem adiministrasi dan keuangan yang mudah
2) Kecepatan dan tepat waktu pelayanan
Strategi ini diukur dengan menggunakan tiga ukuran, yaitu pemeriksa yang rutin oleh dokter, kecepatan pelayanan yang diberikan perawat, serta pemberian obat dan makanan yang selalu tepat waktu
3) Fasilitas yang memadai
Strategi ini diukur dengan menggunakan satu ukuran yaitu fasilitas yang bagus dan memadai
4) Keterampilan dari dokter dan perawat
Strategi di ukur dengan menggunakan dua ukuran yaitu keterampilan perawat dalam mengurus pasien, serta tanggapan mamuaskan dari Dokter/ perawat atas keluhan pasien
Tabel 3. 5 Indikator dalam pernyataan kuesioner (Pasien)
No Indikator Pernyataaan dalam
kuesioner 1 Pelayanan Jasa yang diberikan Pernyataan 1,2,3,8 2 Kecepatan dan ketepatan
waktu pelayanan
Pernyataan 4,5,6,7
3 Fasilitas yang memadai Pernyataan 9 4 Keterampilan Dokter dan
Perawat
Pernyataan 10,11
Dari semua pernyataan yang disebarkan data jawaban responden dapat diolah dengan cara menghasilkan setiap jumlah
responden dengan bobot yang sudah ditentukan dengan tabel nilai sebagai berikut:
Tabel 3. 6 Bobot Pengukuran Kuesioner
Keterangan Nilai Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Kurang Setuju 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
Untuk mendapatkan hasil interpretasi, harus diketahui dahulu skor tertinggi (Y) dan skor terendah (X) untuk item penilaian dengan rumus sebagai berikut:
Y : Skor Tertingi Likert x jumlah respon den (angka 5) X : Skor terendah likerta x jumlah responden (angka 1)
Kemudian menghitung total skor responden diperoleh, maka pengukuran interpretasi responden terhadap indikator yang telah ditentukan adalah hasil dengan menggunakan rumus indek %.
Rumus Indek % = Total Skor/ Y x 100
Setelah hasil perhitungan dengan rumus index didapatkan kartegori responden dari kuisioner ke dalam tabel berikut:
Tabel 3. 7 Pengukuran Rata-rata Responden
Responden Kategori
0% - 19,9% Sangat Tidak Setuju
20% - 39,99% Tidak Setuju
40% - 59,99% Ragu-ragu
60% - 79,99% Setuju
80% - 100% Sangat Tidak Setuju
Jika diukur yang dihasilkan dari rumus index sama dengan 75%, artinya 75% dari jumlah responden memberikan responsetuju atas pertanyaan yang diajukan dan tingkat kepuasan responden terhadap indikator yang diajukan dapat dikategorikan tinggi
3. Perspektif proses internal, menggunakan alat ukur sebagai berikut:
a) Proses inovasi
Dalam proses inovasi, unit bisnis mengukur kebutuhan pelanggan yang sedang berkembang atau masih tersembunyi dan kemudian menciptakan produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan tersebut . semakin inovasi yang dikembangkan berarti semakin baik kinerja yang dimiliki
b) Proses operasi
Proses operasi yaitu bagaimana proses pelayanan produk/layanan jasa perusahaan. Semakin baik pelayanan yang diberikan berarti semakin baik kinerja yang dimiliki. Dalam tahap operasional tahap dimana organisasi berupaya untuk memberikan solusi kepada para pelanggan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Dalam hal ini yang menjadi indikator pada RSUD Kota Padang Panjang untuk tahap operasinya adalah:
1) Sensus pasien rawat inap
Adalah jumlah pasien difasilitasi kesehatan pada suuatu saat (biasanya dihitung jam 00.00). atau jumlah pasien yang ada pada suatu ketka. Sensus bisa disusun oelh bagian masuk/registrasi, layanan keperawatan, rekening pasien atau
informasi kesehatan dan bisa dikumpulkan secra manual atau melalui komputer.
2) Sensus harian rata-rata
Adalah catatan angka rata-rata pasien rawat inap yang ada pada rumah sakit setiap hari pada perioden tertentu
Rumus:
3) BOR (Bed Occupancy Ratio/ Angka penggunaan tempat tidur) Rumus:
4) ALOS (Average Length of Stay/ Rata-rata lamanya pasien dirawat)
Rumus:
5) BTO (Bed Turn Over = Angka pemutaran tempat tidur) Rumus:
6) Turn Over Interval (TOI= tenggang perputaran) Rumus:
7) NDR (Net Death Rate)
Adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Rumus:
Nilai NDR yang dianggap masi dapat di tolerir adalah kurang dari 25 per 1000.
8) GDR (Gross Death Rate)
Adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.
Rumus:
Nilai GDR seyogyanya tidak lebih dari 45 per 1000 penderita keluar
Berikut ini adalah standar nilai rasio yang digunakan untuk mengukur proses operasi dalam perspektif proses bisnis internal berdasarkan DEPKES RI tahun 2005:
Tabel 3. 8 Standar Ideal Indikator terkait dengan Pelayanan Rumah Sakit
Indikator Standar Ideal
ALOS 6-9 hari
BOR 60-85%
TOI 1-3 hari
BTO 40-50 Kali
GDR Tidak lebih dari 45 per 1000 pasien keluar
NDR Tidak lebih dari 25 per 1000 pasien keluar DEPKES RI 2005
4. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
Untuk mengukur Perspektif Pembelajaran dan Pertumbungan dilakukan dengan cara menyebar kuesioner kepada para karyawan.
Selain itu ada skor yang diberikan yang sesuai dengan pernyataan.
Tabel 3. 9 Skala Likert (Kuesioner Karyawan)
No Jawaban Responden Skor
1 Sangat Tidak Setuju 5
2 Tidak Setuju 4
3 Ragu-ragu 3
4 Setuju 2
5 Sangat Setuju 1
Indikator yang digunakan untuk mengukur kepuasan karyawan yaitu:
1. Peningkatan kepuasan kerja
Strategi ini diukur menggunakan satu ukuran, yaitu kepuasan karyawan bekerja di rumah sakit.
2. Pengembangan karyawan
Strategi ini diukur dengan menggunakan satu ukuran, yaitu pelatihan untuk meningkatkan keterampilan karyawan.
3. Penciptaan iklim yang mendorong motivasi
Strategi ini diukur dengan menggambarkan dua ukkuran, yaitu, keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan,
peningkatan ketanggapan terhadap kebutuhan pegawai, pemberian motivasi kepada karyawan, serta pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi.
4. Kapabilitas sistem informasi
Strategi diukur dengan menggunakan satu ukuran yaitu, karyawan dapat mengakses semua informasi yang dibutuhkan.
5. Jumlah Karyawan RSUD Kota Padang Panjang
Tabel 3. 10 Indikator Dalam Pernyataan Kuesioner (Karyawan)
No Indikator Pernyataan dalam
kuesioner 1 Peningkatan kepuasan kerja Pernyataan 2,3 2 Pengembangan karyawan Pernyataan 4,7 3 Penciptaan iklim yang mendorong
motivasi
Pernyataan 1,5,6,8
4 Kapabilitas sistem informasi Pernyataan 9,10
Setelah mendapatkan data jawaban responden, kemudian diolah dengan cara mengalikan setiap jumlah responden dengan bobot yang sudah ditentukan. Untuk mendapatkan hasil interpretasi, harus diketahui dahulu skor tertinggi (Y) dan Skor Terendah (X) untuk item penilain dengan rumus sebagai berikut:
Y = Skor tertinggi likert x jumlah responden (Angka Tertinggi 5)
X = Skor terendah Likert x jumlah responden (Angka Terendah 1)
Kemudian menghitung total skor responden diperoleh, maka penilain interpretasi responden terhadap indikator yang telah ditentukan adalah nilai yang dihalikan dengan menggunakan Rumus Index %.
Rumus Index % = Total Skor/ Y x 100
Setelah hasil perhitungan dengan rumus index didapat, tentukan kategori dari kuesioner ke dalam taberl berikut ini:
Tabel 3. 11 Indikator dalam Pernyataan Kuesioner (Pasien/Pelanggan)
Responden Kategori
0% - 19,9% Sangat Tidak Setuju
20% - 39,99% Tidak Setuju
40% - 59,99% Ragu-ragu
60% - 79,99% Setuju
80% - 100% Sangat Tidak Setuju
(Sugiyono, 2001)
63 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang
1. Sejarah berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang adalah rumah sakit yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1940 Belanda mendirikan sebuah poliklinik di kota padang panjang, tepatnya di Jl. KH. A. Dahlan No. 50. Tahun 1943 tentara jepang merebut poliklinik tersebut sebagai pos polisi militer jepang sekaligus sebagai balai pengobatan tentara jepang.
Tahun 1946 TNI merebut poliklinik tersebut dari jepang dan menjadikan sebagai tempat pengobatan, yang dikhususkan untuk keluarga TNI tetapi masyarakat umum juga diperbolehkan memanfaatkan poliklinik tersebut. Sampai akhir 1969 poliklinik tersebut dipegang oleh TNI, dan semenjak 1970 diserahkan kepada pemerintah daerah dan telah dijadikan sebagai rumah sakit yang dikhususkan untuk masyarakat umum, dengan direktur utama saat itu dr. Lim
Pada tahun 1980 rumah sakit tersebut dijadikan sebagai rumah sakit bertipe D, pada tamggal 12 november 1984 menteri kesehatan RI Dr. Suwardjono Surjaningrat meresmikan rumah sakit tersebut sebagai rumah sakit umum daerah bertipe C dengan direktur Dr. Sulaiman.
Setelah masa jabatan Dr. Sulaiman sebagai direktur berakhir pada tahun 1988 maka dengan ketetapan pemerintah daerah, bahwa masa jabatan diterktur rumah sakit berakhir selama 4-5 tahun menjabat dirumah sakit, dengan urutan direktur dan masa jabatan sebagai berikut:
a. Dr. Darmansyah dengan masa jabatan pada tahun 1988-1993 b. Dr. Rusdi dengan masa jabatan pada tahun 1993-1997
c. Dr. Ishak Daud dengan masa jabatan tahun 1997- Desember 2000 d. Dr. Yunir Salim dengan masa jabatan Februari 2001- Desember
2004
e. Dr. Dasril dengan masa jabatan pada Februari 2005- Februari 2007 f. Dr. Adi Zulhardi dengan masa jabatan pada tahun 10 maret 2007 g. Dan dari Agustus 2008 sampai April 2014 di pimpin oleh Drs. H.
Nuryanuwar, Apt. MM, M.Kes
h. Mei 2014 sampai sekarang dipimpin oleh Dr. Ardoni
Pada tanggal 18 Mei 2017 RSUD Kota Padang Panjang sudah terakreditasi Versi 2012 dnegan predikat Paripurna. RSUD Kota Padang Panjang mempunyai tekad untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan prosedur yang berlaku sehingga dapat mencapai visi, misi, dan tujuan serta terciptanya pelayanan yang berkualitas.
2. Visi, Misi, dan Motto
a. Visi RSUD Kota Padang Panjang yaitu “RUMAH SAKIT YANG AMANAH”.
b. Misi RSUD Kota Padang panjang yaitu “Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan SDM yang profesional, Mandiri, Adil dan Humanis”
c. Motto RSUD Kota Padang Panjang yaitu “Melayani dengan Hati”
3. Struktur Organisasi RSUD Kota Padang Panjang
Gambar 4. 1 Struktur Organisasi
WALIKOTA
KASI PENUNJANG NON MEDIS ASMAYUNI,SKM,MKM
STRUKTUR ORGANISASI RSUD KOTA PADANG PANJANG TAHUN 2019 BERDASARKAN PERDA NO 16 TAHUN 2010
B. Pembahasan dan Analisis
Pengukuran kinerja RSUD Kota Padang Panjang dilakukan dengan menggunakan metode Balanced Scorcard yang dilihat dari empat perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Adapun hasil analisis data pengukuran kinerja dengan menggunakan metode Balanced Scorcard RSUD Kota Padang Panjang sebagai berikut:
1. Perspektif Keuangan
Pengukuran kinerja pada perspektif keuangan dilakukan analisis dengan menggunakan metode Value For Money. Analisis ini digunakan untuk melihat kinerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang pada tahun 2015-2019.
a. Rasio Ekonomis
Rasio Ekonomis adalah rasio yang menggambarkan kehematan dalam penggunaan anggaran dan kecermatan dalam pengelolaan serta menghindari pemborosan.
Rasio ekonomi =
x 100%
Rasio Ekonomis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang panjang pada Tahun 2015 sampai 2019 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4. 1 Rasio Ekonomis RSUD Kota Padang Panjang Tahun 2015 51.200.785.909,00 55.426.034.935,00 92,38%
2016 60.413.183.687,00 62.278.255.337,00 96,39%
2017 66.687.539.161,00 68.749.936.673,00 97,01%
2018 76.482.967.404,00 82.613.717.873,00 92,58%
2019 75.364.630.629,00 82.197.726.509,00 91,69%
Sumber: Laporan Keuangan RSUD Kota Padang Panjang
Berdasarkan Tabel 4.1, bisa dilihat bahwa secara umum kinerja keuangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang untuk Rasio Ekonomi yaitu telah masuk kedalam kategori ekonomis karena kinerja keuangan bisa dikategorikan ekonomis jika nilai yang diperoleh kurang dari 100% (x < 100%).
Cara untuk mengukur rasio ekonomi tersebut yang dengan membandingkan biaya belanja organisasi yang terealisasi dengan jumlah biaya yang dianggarkan. Seperti yang tertera pada tabel diatas setiap tahunnya persentase rasio ekonomi RSUD Kota Padang Panjang kurang dari 100%. Dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 realisasi belanja RSUD tidak pernah melebihi anggaran belanja yang telah ditetapkan. Realisasi belanja selalu lebih kecil dari anggaran belanja yang dianggarkan. Pada tahun 2015 penggunaan biaya yang dilakukan oleh RSUD Kota Padang Panjang yaitu terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa.
Berdasarkan tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa tingkat keekonomisan keuangan RSUD Kota Padang panjang untuk tahun 2015 sebesar 92,38 % hal tersebut bisa dikatakan bahwa realiasasi
Pengeluaran tidak melebihi anggaran pengeluaran yang telah ditetapkan dan melakukan penghematan biaya sebesar Rp 4.261.249.026.
Pada tahun 2016 penggunaan biaya yang dilakukan oleh RSUD Kota Padang Panjang yaitu sama dengan tahun 2015 yaitu trdiri dari belanja pegawai dan belanja barang. Pada tahun 2016 rasio ekonomi RSUD Kota Padang Panjang yaitu sebesar 96,39%
dan melakukan penghematan anggaran belanja sebesar Rp 1.865.072.650,00
Pada tahun tahun 2017 penggunaan biaya yang dilakukan oleh RSUD Kota Padang panjan juga sama dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 rasio ekonomi RSUD Kota Padang Panjang yaitu sebesar 97,01% dan melakukan penghematan biaya sebesar Rp 2.062.397.512,00
Pada tahun 2018 rasio ekonomi RSUD Kota Padang Panjang yaitu sebesar 92,58% dan melakukan penghematan biaya sebesar Rp 6.130.750.469,00 dan pada tahun 2019 rasio ekonomi RSUD Kota Padang Panjang yaitu sebesar 91,69 % dan melakukan penghematan biaya sebesar Rp 6.833.095.880,00
b. Rasio Efisiensi
Rasio Efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan.
Rasio Efisiensi =
x 100%
Rasio Efisiensi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang Panjang tahun 2015-2019 dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini:
Tabel 4. 2 Rasio Efisiensi RSUD Kota Padang Panjang Tahun 2015-2019
Tahun Realisasi Belanja Realisasi Pendapatan
Rasio Efisiensi 2015 61.270.427.979,00 37.043.893.197,00 165,40%
2016 82.122.216.341,38 39.907.866.232,00 205,80%
2017 88.928.862.364,55 43.871.739.226,98 202,70%
2018 85.021.578.861,73 45.143.487.303,00 188,34%
2019 89.072.441.660,50 45.109.911.067,00 197,46%
Sumber: Laporan Keuangan RSUD Kota Padang Panjang
Berdasarkan tebel 4.2 dapat dilihat bahwa dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 Rasio Efisiensi RSUD Kota Padang Panjang untuk kinerja keuangannya tidak efisien karena lebih dari 100%. Kinerja keungan dikatakan efisiensi jika nilai yang diperoleh kurang dari 100% (x<100%). Cara mengukur tingkat efisiensi keuangan yaitu dengan cara membandingkan realisasi belanja dengan realisasi pendapatan. Pada tahun 2015 tingkat efisiensi sebesar 165,40%, pada tahun 2016 naik menjadi 205,50%, pada tahun 2017 juga turen sebesar 202,70%, pada tahun 2018 juga semakin turun sebesar 188,34% dan pada tahun 2019 kembali naik sebesar 197,46%. Walaupun tingkat efisiensi dari tahun 2015 sampai tahun 2019 naik turun namun tetap tidak efisien.
Dari tabel 4.2 diatas , dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 rasio efisiensi RSUD Kota Padang Panjang tidak efisien karena pada tahun 205 rasio efisiensinya menunjukkan 165, 40%, artinya RSUD Kota Padang Panjang mengeluarkan biaya lebih kurang 1,7 kali lipat dari pendapatan yang dapat durealisasikan di tahun 2015.
Pada tahun 2016 rasio efisiensi RSUD Kota Padang pamjang mengalami peningkatan nilai rasio menjadi 205,80% yang artinya pengeluran belanja naik menjadi lebih kurang 2,1 kali dari pendapatan yang direalisasikan. Untuk tahun 2017 rasio efisiensi mengalami sedikit penurunan nilai rasio menjadi 202,70% yang mana artinya pengeluaran belanja menurun lebih kurang 2 kali dari pendapatan yang terealisasi. Pada tahun 2018 rasio efisiensi RSUD Kota Padang Panjang kembali mengalami penurunan menjadi 188,34%, artinya pengeluaran belanja menurun lebih kuran 1,9 kali dari pendapatan yang direalisasikan. Dan pada tahun 2019 rasio efisiensi RSUD Kota Padang Panjang mengalami kenaikan nilai rasio menjadi 197,46% artinya pengeluaran belanja naik menjadi lebih krang 2 kali dari pendapatan yang terealisasi.
Dari tabel 4.2 diatas RSUD Kota Padang Panjang untuk realisasi belanjanya dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 lebih besar dari realisasi pendapatannya. Sumber pendapatan RSUD Kota Paang panjang yaitu berasal dari Retribusi Pelayanan Kesehatan. Sedangkan belanja yang dilakukan oleh RSUD Kota Padang Panjang antara lain terdiri dari belanja operasi dan belanja modal. Walaupun rasio efisiensi RSUD Kota Padang Panjang tidak Efisien namun akan tetapi dapat dipahami bahwasanya tujuan utama berdirinya yaitu memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.
c. Rasio Efektifitas
Rasio Efektifitas adalah rasio yang menggambarkan berhasil atau tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuannya.
Efektifitas diukur antara realisasi pendapatan dengan target pendapatan yang telah ditetapkan manajemen.
Rasio Efektifitas =
x 100%
Rasio EfektifitasRumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang panjang pada Tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:
Tabel 4. 3 Rasio Efektifitas RSUD Kota Padang Panjang Tahun 2015-2019
Tahun Realisasi Pendapatan
Anggaran Pendapatan
Rasio Efektifitas 2015 37.043.893.197,00 28.000.000.000,00 132,30%
2016 39.907.866.232,00 36.000.000.000,00 110,86%
2017 43.871.739.226,98 42.404.100.000,00 103,46%
2018 45.143.487.303,00 50.000.000.000,00 90,29%
2019 45.109.911.067,00 52.000.000.000,00 86,75%
Sumber: Laporan Keuangan RSUD Kota Padang Panjang
Berdasarkan tabel 4.3 dapat lihat bahwa Realisasi pendapatan dan anggaran pendapatan RSUD Kota Padang Panjang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Namun akan tetapi untuk kinerja keuangan rasio efektifitas mengalami penurunan setiap tahunnya.
Untuk kinerja keuangan rasio efektifitas jika nilai rasio kurang dari 100% (x<100%) maka rasio efektifitasnya tidak efektif, namun akan tetapi jika nilai rasio efektifitas lebih dari 100% (x>100%) maka nilai rasio efektifitasnya efektif. Bisa dilihat pada tebel diatas bahwa rasio efektifitas RSUD Kota Padang Panjang padang tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 efektif, sedangkan untuk tahun 2018 dan tahun 2019 rasio efektifitasnya tidak efektif.
Pada tahun 2015 Rasio efektifitas RSUD Kota Padang Panjang yaitu sebesar 132,30% yang tergolong rasio efektifitsnya efektif karena
anggaran pendapatan yang ditetapkan sebesar Rp 28.000.000.000,00 sedangkan tersealisasi sebesar Rp 37.043.893.197,00. Untuk tahun 2016 Rasio efektifitas RSUD Kota Padang Panjang mengalami penurunan dari tahun 2015 menjadi Rp 110,86% dan masih tergolong efektif, karena anggaran pendapatan yang ditetapkan sebesar Rp 36.000.000.000,00 dan realisasi pendapatannya sebesar Rp 39.907.866.232,00. Di tahun 2017 rasio efektifitas RSUD Kota Panjang juga mengalami penurunan dari tahun 2016 menjadi 103,46%
dan juga masih tergolong efektif karena masih di atas 100%.
Sedangkan untuk tahun 2018 dan 2019 rasio efektifitas RSUD Kota Padang Panjang tidak efektif karena rasio efektifitasnya 90,29% dan 86, 75%. Hal tersebut terjadi karena Realisasi Pendapatannya lebih kecil dari anggaran pendapatan yang telah ditetapkan, untuk tahun 2018 saja Anggaran pendapatan yang ditetapkan sebesar 50.000.000.000,00 sedangkan realisasi pendapatan hanya sebesar Rp 45.143.487.303,00. Dan hal tersebut juga berlaku untuk tahun 2019 anggaran pendapatan yang ditetakan sebesar Rp 52.000.000.000,00 namun realisasi pendapatan hanya sebesar Rp 45.109.911.067,00.
2. Perspektif Pelanggan
Perspektif pelanggan merupakan indikator tentang bagaimana pelanggan melihat organisasi dan bagaimana organisasi memandang mereka. Indikator yang dapat digunakan untuk menilai bagaimana pelanggan memandang organisasi adalah tingkat kepuasan pelanggan yang bisa diketahui dari keluhan-keluhan yang mereka sampaikan (Mahsun, 2006:16) untuk perspektif pelanggan ini teknik pengukuran yang dilakukan yaitu menggunakan hasil kuesioner dan data dari jumlah pasien RSUD Kota Padang Panjang.
Jumlah kuesioner yang dibagikan penulis kepada pelanggan yaitu sebanyak 99 kuesioner dan semunya telah memenuhi syarat untuk diolah dan sedangkan jumlah pertanyaan dalam kuesioner tersebut adalah sebanyak 11 pertanyaan. Untuk proses penyebaran
kuesioner tersebut delakukan dengan cara menyebarkan langsung kepada pasien rawat inap RSUD Kota Padang Panjang
kuesioner tersebut delakukan dengan cara menyebarkan langsung kepada pasien rawat inap RSUD Kota Padang Panjang