V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Teknis Pengelolaan Usahatani Kakao
Teknis pengelolaan usahatani tanaman kakao di Desa Kuala Lau Bicik secara umum masih bersifat sederhana (tradisional) dari pembuatan lubang tanam, penanaman, penyulaman, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama penyakit, serta panen. Pengelolaan usahatani di daerah penelitian dikatakan sederhana karena semua tahap-tahap pengelolaan usahatani masih mengandalkan sumberdaya manusia dan juga alat-alat yang digunakan juga tergolong sederhana seperti cangkul, babat, gunting, pisau, egrek dan tidak mengandalkan tenaga mesin.
Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan masih dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan menggunakan alat-alat pertanian seperti cangkul dan babat dalam membersihkan lahan. Demikian juga dalam pembuatan lubang tanam kakao dilakukan 1 minggu sebelum ditanam, dalam pembuatan lubang tanam petani masih masih menggunakan alat-alat sederhana seperti cangkul.
Tabel 6. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Pengolahan Lahan Usahatani Kakao Selama 5 Tahun.
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 555.917
2. Tenaga kerja Luar Keluarga Rp. 283.183
Total Rp. 839.100
Dalam melakukan pengolahan lahan dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata total biaya tenaga kerja selama pengolahan lahan sebesar Rp. 839.100.
Penanaman
Penanaman pada tanaman kakao dilakukan pada lubang tanam yang telah dipersiapkan dan sebaiknya lubang tanam dibuat bersamaan dengan waktu tanam akan lebih terjamin kualitasnya. Petani membuat jarak tanam hanya ada 1 macam yaitu jarak tanam 3x3 m. Petani membuat jarak tanam 3 x 3 m sesuai dengan anjuran PPLsetempat. Pada tahap penanaman, setelah lubang tanam selesai dibuat sekitar 1 minggu maka kegiatan pembibitan tanaman kakao mulai dilakukan di daerah penelitian dengan cara sederhana yaitu sebagai berikut:
- Bibit yang telah disediakan ditanam di lubang tanam yang telah disediakan sebelumnya.
- Kemudian lubang tanah ditutup kembali dan dipadatkan
- Setelah itu batang bibit ditopang dengan menggunakan dua potong batang kayu/bambu
- Untuk mencegah gangguan hewan atau angin yang dapat merusak tanaman bibit maka tanaman kakao diberi pagar pengaman dari bambu.
Tabel 7. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Penanaman Usahatani Kakao Selama 5 Tahun.
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 346.267
2. Tenaga kerja Luar Keluarga Rp. 165.917
Total Rp. 512.183
Dalam proses penanaman usahatani kakao dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Total biaya tenaga kerja selama penanaman sebesar Rp. 512.183.
Penyiangan
Petani di Desa Kuala Lau Bicik melakukan penyiangan tanaman kakao dengan berhati-hati, pengendalian gulma dilakukan membabat tanaman pengganggu atau dengan menyemprotkan herbisida. Penyiangan yang paling sering dilakukan petani di desa ini adalah dengan cara mencabut tanaman penggangu walaupun cara ini tidak efektif karena memakan waktu yang lama namun tidak merusak lingkungan dan tidak menyebabkan polusi air karena sisa-sisa herbisida.
Tabel 8. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Penyiangan Usahatani Kakao Selama 5 Tahun.
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 3.237.067
2. Tenaga kerja Luar Keluarga Rp. 1.705.783
Total Rp. 4.942.850
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 6
Dalam melakukan penyiangan dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata biaya tenaga kerja selama penyiangan sebesar Rp. 4.942.850.
Pemangkasan
Pemangkasan yang dilakukan petani sampel pada umumnya dilakukan 2 kali dalam setahun dan biasanya alat yang digunakan untuk memotong atau memangkas adalah gunting pangkas. Hal ini dilakukan agar mudah melakukan pemanenan dan juga agar tanaman tidak mudah terserang penyakit dan pada akhirnya dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Namun disamping itu juga petani melakukan pemangkasan untuk permeliharaan yaitu agar dahan tidak terlalu rimbun.
Tabel 9. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Pemangkasan Usahatani Kakao Selama 5 Tahun.
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 1.994.833
2. Tenaga kerja Luar Keluarga Rp. 652.000
Total Rp. 2.646.833
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 6
Dalam melakukan pemangkasan dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata biaya tenaga kerja selama pemangkasan sebesar Rp. 2.646.833.
Pemupukan
Pemupukan yang dilakukan petani di darah penelitian adalah di awal musim hujan dan di akhir musim hujan. Cara pemupukan yang dilakukan petani dengan cara membuat lubang dekat batang tanaman kakao sebagai tempat pupuk. Petani dalam pemupukan tidak melakukan sistem tabur, karena apabila
ditaburkan, maka sebagian pupuk akan hilang terbawa air dan bila trkena sinar matahari panas akan mengakibatkan beberapa unsur hara akan menguap.
Petani di Desa Kuala Lau Bicik menggunakan TSP, Urea dan KCL. Pupuk ini diperoleh petani dengan membeli di pasar terdekat. Harga pupuk TSP Rp. 2.000,-/Kg, pupuk Urea Rp. 1.500,-/Kg, dan pupuk KCL Rp. 1.900,-/Kg.
Tabel 10. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Pemupukan Usahatani Kakao Selama 5 Tahun
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 1.187.333
2. Tenaga Kerja Luar Keluarga Rp. 555.167
Total Rp. 1.742.500
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 6
Dalam melakukan pemupukan dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata biaya tenaga kerja selama pemangkasan sebesar Rp. 1,742,500.
Pengendalian Hama Penyakit
Tanaman kakao sedapat mungkin harus terhindar dari serangan hama dan penyakit. Kedua faktor ini dapat menurunkan produksi dan mutu buah yang dihasilkan tanaman kakao. Pemberantasan yang dilakukan adalah dengan cara manual yaitu dengan cara memasang perangkap dipohon coklat dengan menggunakan botol yang diisi dengan zat kimia yang gunanya merangsang agar serangga dapat masuk dalam botol tersebut dan tidak akan dapat keluar lagi dan petani juga menangkap hama yang menyerang tanaman kakao dan memotong bagian yang terserang penyakit, dan dengan cara kimiawi yaitu dengan cara menyemprot dengan zat kimia yaitu pestisida. Adapun obat-obatan yang
digunakan petani adalah Dhesis, Gramoxone, dan Roundup. Jenis hama yang biasa menyerang adalah hama kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) sedangkan penyakit yang menyerang tanaman kakao bercak daun, mati ranting dan busuk buah adalah Colletorichum sp. (jamur). Bagian yang diserang adalah daun, ranting, buah. Gejala : bercak daun, daun gugur, pucuk mati, buah mudah keriput kering (busuk kering).
Tanaman kakao bila dirawat dengan baik biasanya sudah mulai berproduksi mulai umur 4 tahun, tetapi tingkat produksi tanaman kakao belum meningkat, meningkatnya produksi tanaman kakao seiring dengan bertambahnya umur tanaman kakao, dan juga bergantung pada pemupukan.
Tabel 11. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Pengendalian Hama dan penyakit Usahatani Kakao Selama 5 Tahun
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 1.932.000
2. Tenaga Kerja Luar Keluarga Rp. 1.091.000
Total Rp. 3.023,000
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 6
Dalam proses pengendalian hama dan penyakit dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata biaya tenaga kerja selama proses pengendalian hama dan penyakit sebesar Rp. 3.023,000
Panen
Di daerah penelitian, biasanya petani sampel melakukan pemanenan yaitu dengan menggunakan pisau tajam. Bila letak buah tinggi, pisau disambung dengan bambu. Cara pemetikannya yaitu tidak sampai melukai batang yang
ditumbuhi buah. Ciri-ciri buah yang akan dipanen yaitu warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah, warna kuning pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah.
Tabel 12.Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Proses Pemanenan Usahatani Kakao Selama 5 tahun
No. Keterangan Rata-rata Biaya
1. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Rp. 4.571.000
2. Tenaga Kerja Luar Keluarga Rp. 1.864.150
Total Rp. 6.435.150
Sumber: Analisis Data Primer Lampiran 6
Dalam proses pemanenan dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Rata-rata biaya tenaga kerja selama proses pemanenan sebesar Rp. 4.125.730.
5.1.2. Ketersediaan Input Produksi Usahatani Kakao (Bibit, Pupuk,