• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknisi Produksi

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN DAN PENGAMATAN (Halaman 28-69)

4.2 Analisis Meostruktur (Discourse Practice)

4.2.2 Teknisi Produksi

Menggambarkan dan menjelaskan bagaimana suatu wacana kritis yang berusaha dikembangkan film ini, untuk menggambarkan suatu realitas sosial yang saat ini sedang terjadi di tengah masyarakat.

Meskipun watchdoc memiliki 2 sutradara dan sekaligus produser, akan tetapi sosok yang paling mencolok dari semuanya dan pastinya menjadi jantung dan jiwa watchdoc ialah Dandhy Laksono.

Film-film dokumenter Watchdoc selain Sexy Killer juga tidak kalah apik. Tema yang diangkat tak jauh-jauh dari persoalan kesenjangan sosial ekonomi, politik, dan ancaman terhadap kelestarian lingkungan. Beberapa di antaranya adalah Asimetris, yang mengulas industri kelapa sawit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kaitannya dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap. Kemudian ada juga film yang bertajuk Rayuan Pulau Palsu. Isinya mengulas tentang pro kontra reklamasi di pantai utara Jakarta. Dandhy juga pernah membuat film Samin vs Semen. Isinya membahas tentang perjuangan masyarakat Samin

- 74 -

yang menentang pembangunan pabrik semen yang mengancam kelestarian lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

Ada juga film Kala Benoa yang menyinggung soal pro kontra reklamasi Teluk Benoa, Bali. Dandhy juga mencoba merangkum praktik kearifan lokal masyarakat Indonesia di sejumlah daerah melalui film dokumenter. Beberapa judulnya yakni Made In Siberut, Boti, Gorontalo Baik, Huhate, Kasepuhan Ciptagelar, Baduy, The MAHUZEs dan Lewa di Lembata. Kini Dandhy sebagai ujung tombak Watchdoc ditetapkan sebagai tersangka. Polisi menjeratnya dengan UU Nomor 8 tahun 2016 tentang ITE dan UU Nomor 1 tahun 1946 tentang hukum pidana, karena dianggap menyampaikan ujaran kebencian. Diduga cuitan Dandhy melalui Twitter terkait persoalan Papua dianggap sebagai pangkal persoalan.

(CNN, 2019)

- 75 -

Ada beberapa teknik produksi watchdoc yang seringnya menjadi andalan Dandhy Laksono dalam memproduksi sebuah film dokumenter :

2 Pemilihan waktu penayangan film dokumenter, seperti film dokumenter Sexy Killer yang ditayangkan tepat pada 4 hari sebelum pemilihan presiden. "Saya ingin film ini menjadi perdebatan utama politik," ujar Dandhy Laksono sang sutradara saat ditemui dalam 'Diskusi Publik: Menggugat Sexy Killers bersama Dandhy Laksono di Visinema Campus, Cilandak, Jakarta Selatan, belum lama ini. (Hanif Hawari, 2019)

2. Isu-isu sosial yang dibawakan selalu baru dan hangat, serta diambil dari beberapa perspektif. Penjelasan perspektif ialah bahwa suatu topik khusus dalam film diambil dari sudut pandang beragam.

Contoh paling sederhana ialah pembukaan Tambang Batubara, dimana Dandhy sebagai sutradara dan produser mengambil sudut pandang dari korban terdampak tambang dan korporasi atau investor pengada tambang. Perspektif berbeda tersebut digambungkan dan akan ditarik kesimpulan pada akhir film.

3 Studio Watchdoc sebagai media independent yang memproduksi film dokumenter, watchdoc juga memproduksi musik latar film mereka secara independent. Di balik musik latar yang ada di film-film dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru dan Watchdoc, ada sosok yang bekerja dengan kreativitas penuh energi. Betul, musik yang kami pakai tidak mencomot kanan-kiri, melainkan dikonsep dengan baik oleh seorang independent music arranger and

- 76 -

composer. Perkenalkan, David Suhartoyo. (Ekspedisi Indonesia Biru, 2015)

4 Pola distibusi film watcdoc ialah hal yang paling menarik.

Watchdoc mengadakan Nobar (Nonton Bareng) film dokumenter mereka yang barusan saja selesai dari proses editing di tempat dimana mereka meliput film tersebut. Setelah itu mereka akan menditribusikannya lewat file-file google drive kepada komunitas-komunitas di berbagai kota di indonesia, agar komunitas-komunitas tersebut bisa mengadakan nonton bareng juga. Sebelum dirilis secara publik melalui platform media sosial (Youtube) Watchdoc terlebih daluhulu menayangkan film dokumenter mereka dengan mengajak komunitas-komunitas penggiat lingkungan di seluruh indonesia untuk nonton bareng.

5 Pemutaran film di daerah pada perjalanan ekspedisi indonesia biru, pada proses perjalanan ekspedisi Dandhy dan Ucok; mereka melaksanakan proses nonton bareng film-film mereka yang sudah selesai mereka edit di perjalanan. Kegiatan nobar tersebut mereka adakan di setiap desa/tempat mereka singgahi dengan harapan orang-orang desa memiliki perspektif persoalan sosial yang terjadi di daerah lain di indonesia.

- 77 - 4.3 Analisis Mikrostuktur (Text)

Tahapan ini memiliki kegunaan untuk menganalisis teks dengan lebih detail supaya memperoleh data yang dapat menggambarkan apa yang menjadi tujuan dalam pembuatan teks (representasi) tersebut. Selain itu juga, akan menjelaskan secara detail mengenai aspek yang dibutuhkan dalam tingkat analisis, yang berisi garis besar atau isi teks, lokasi, sikap, serta tindakan tokoh atau pemeran tersebut dan seterusnya. Norman Fairclough melihat teks dalam beberapa tingkatan. Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana hubungan suatu objek digambarkan tetapi juga bagaimana hubungan antar objek didefinisikan. Ada 3 (tiga) elemen dasar dalam model Norman Fairclough, yang dapat digambarkan dalam tabel berikut:

Tabel Tiga Elemen Dasar dalam Model Norman Fairclogh

Unsur Yang ingin dilihat

Representasi

Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

(Bagaimana realitas sosial di representasikan)

Relasi

Bagaimana hubungan antar pembuat film/ media, khalayak dan partisipan berita ditampilkan (artis-aktor yang memainkan peran) Contoh: seperti apa teks

- 78 -

disampaikan, secara informal atau formal, terbuka atau tertutup.

Identitas

Bagaimana konstruksi dari identitas pembuat film/ media, khalayak dan partisipan berita (artis-aktor yang memainkan peran ) ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

(Junaedi, 289 )

- 79 -

1. Norman Fairclough mengusulkan sejumlah piranti bagi analisis teks, berikut istilah-istilah yang memiliki kecenderungan pada bidang linguistik (Jorgensen, 2007:152).

2. Kendali interaksional, hubungan antara penutur-penutur, termasuk pertanyaan tentang siapa yang menetapkan agenda percakapan (Fairclough, 1992 : 152)

3. Etos, bagaimana identitas dikonstruksi melalui bahasa dan aspek-aspek tubuh (Fairclough, 1992b: 166)

4. Metafora (Fairclough, 1992b: 194)

5. Kata (Fairclough, 1992b: 190)

6. Tata bahasa (Fariclough, 1992b: 158, 169)

Istilah tersebut memberikan wawasan mengenai cara-cara teks memperlakukan peristiwa dan hubungan sosial dan juga mengkonstruksi versi realita tertentu, identitas sosial, dan hubungan sosial.

- 80 - Scene 1

Gambar 1. Basuki Sedang Memegang Mayat Bekantan (Nasalis larvatus)

Scene Gambar Visual Time Dialog

1 1 Basuki sedang

mengangkat mayat Bekantan (Nasalis larvatus) yang hanyut di sungai.

1 : 06 - 1 : 45

Basuki : “orang utan kah yang hanyut?’

Rekan Basuki : “Sepertinya Orang Utan yang hanyut”

Basuki “aduh keknya gajadi jalan kita ni”

Basuki : “bukan orang utan ini pak, ini Bekantan”

Scene saat Basuki memegang bangkai Bekantan

Dalam Scene Satu (1) di awal film dimulai, digambarkan Basuki dalam perjalanan menuju camp untuk mengantarkan bibit pohon untuk

- 81 -

ditanam di area taman nasional. Pada perjalanan rekan Basuki melihat ada bangkai satwa yang hanyut disungai dan diduga kuat bangkai Orang Utan (Pongo pygmaeus).

Setelah berbalik arah menggunakan perahu yang lebih kecil, basuki melihat dan menghampiri bangkai tersebut. Tetapi dugaan rekannya keliru, dikarenakan bangkai yang hanyut tersebut ialah bangkai Bekantan (Nasalis larvatus).

Ada pesan kuat yang peneliti tangkap dari scene ini, sebab kenapa sutradara Dandhy menempatkan scene ini di awal film. Alasannya adalah karena scene ini ialah scene masalah inti dari film; dan ditepatkan di awal sebagai pengantar film. Karena pada pertengahan film, penonton akan disuguhkan sebab dan akibat kematian satwa ini.

Kekecewaan juga ada pada reaksi Basuki ketika ia berkata “aduh keknya gajadi jalan kita ni” disini peneliti simpulkan bahwa reaksi basuki ialah reaksi kekecewaan yang biasa. Kenapa disebut “biasa” karena kematian satwa yang dilindungi bukanlah hal yang tabu lagi di Taman Nasional Tanjung Puting tempat basuki menetap.

Dikarenakan ada data mengenai kematian satwa di Taman Nasional Tanjung Puting dari Ramadhani; Manajer Perlindungan Habitat, Centre for Orangutan Protection (COP) Yogyakarta, dalam siaran pers, Kamis (5/7/18) mengatakan, dari 14 temuan orangutan mati itu tak ada satupun diungkap tuntas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(Mongabay, 2018)

- 82 - Scene 2

Gambar 2. Mayat Orang Utan yang hanyut di tanggul perusahaan sawit

- 83 -

Gambar 3. Zoom out lokasi kematian Orang Utan pada Gambar (2)

- 84 -

Pada scene (2) dua diperlihatkan ada bangkai satwa langka yaitu orang utan yang tergeletak di kanal buatan perusahaan sawit. Dimana ini menjadi pemandangan yang ironis sekali, karena kematian satwa yang dilindungi sekaligus langka kerap terjadi di lingkungan taman nasional tanjung puting. Adegan tersebut sangat tidak asing bagi orang seperti Basuki yang telah lama menjadi aktivis lingkungan di tanjung puting.

Menjadi kritik besar bagi pemangku kebijakan, bagaimana mereka seharusnya memiliki kuasa untuk melakukan upaya perlindungan terhadap satwa langka yang dilindungi. Bukan malah memberikan izin korporasi untuk merenggut ruang hidup satwa.

Scene Gambar Time Visual Dialog

2 2 5 : 42 Bangkai Orang Utan yang dilindungi terlihat di tanggul perusahaan sawit yang bersebelahan dengan taman nasional Tanjung Puting

Narator : “Bagi Basuki kehilangan satu ekor satwa,berati kehilangan ditemukan dan peneliti tandai dengan lingkaran berwarna merah.

- 85 -

Sesuai dengan kata-kata yang diucapkan narator pada scene tersebut, bahwa kehilangan satwa ialah berarti akan kehilangan hutan dan keberlangsungan hidup manusia kedepannya.

Scene 3

Gambar 4. Reboisasi Hutan

- 86 -

Gambar 5. Hasil Reboisasi 15 tahun lalu

Scene Gambar Time Visual Dialog

3 4 & 5 8 : 40 – 9 : 30 Gambar ke empat (4) Basuki dan relawan taman nasional melakukan reboisasi di bekas hutan yang terbakar pada kebakaran hebat 2015 di taman nasional tanjung puting.

Gambar ke lima (5) Menunjukkan lahan yang di reboisasi oleh Basuki dan

staff-Narator : “mereka berbagi mimpi yang sama, yaitu kembalinya hutan seperti semula.

Narator : “Basuki lalu menunjukkan lokasi dimana mereka pernah menanam 15 tahun sebelumnya”

- 87 -

Pada gambar (4) dan (5) di scene (3) tersebut menjelaskan bahwa reboisasi hutan akan melahirkan bio-diversitas baru atau lingkungan baru yang nantinya akan ditempati oleh satwa liar kembali. Pada dialog pengantar yang di ucapkan oleh narator sudah cukup menunjukkan bahwa hutan yang telah rusak dan terbakar bisa menjadi hutan kembali jika ada upaya dari orang-orang yang mau dan bersukarela seperti Basuki. Pada akhirnya semuanya reboisiasi terbukti berhasil, meskipun belum sepenuhnya kembali seperti hutan sepenuhnya; Basuki secara tidak langsung membuktikan bahwa manusia bisa menghidupkan kembali apa yang telah lama mati.

staffnya pada 15 tahun yang lalu sekarang pohon-pohonnya sudah membentuk bio-diversitas yang baru.

Basuki : “Saya disini dihadapkan pada realita bahwa, kawan dan staff semua disini adalah orang lokal dan mereka tidak punya banyak pengalaman. Mereka semua adalah para penebang liar sebelumnya, 2003 tempat ini masih tempat yang kosong habis terbakar dan cuma ada ilalang.

Kemudian kami datang ketempat ini dan membawa konsep bahwa, kami akan mengembalikan tempat ini kembali menjadi sebuah hutan seperti semula”

- 88 - Scene 4

Gambar 6. Kulit Harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica)

Gambar 7. Penjelasan Petugas pengelola taman nasional Kerinci Seblat

- 89 -

- 90 -

Scene Gambar Time Visual Dialog

4 6 & 7 14 : 00 – 14 : 47

Temuan kulit harimau sumatra (Panthera tigris sondaica)

Dari tersangka penyelundupan satwa liar di bengkulu

Percakapan Feri Irawan dengan petugas taman nasional kerinci seblat tentang rentang usia harimau dan jenis kelaminnya.

Feri : “Seberapa besar pak? Seberapa panjang?

Petugas : “ini panjang 180 Cm”

Feri : “Jenis Kelamin?” dan sudah dewasa. Jadi kalau ukuran 180 Cm berarti dia (Harimau) telah dewasa”

Narator : “Di Taman Nasional Kerinci Seblat diperkirakan Cuma bersisa 40 sampai 80 ekor harimau tersisa; seluruh sumatra tersisa 400 Ekor. Artinya hanya ada kemungkinan

- 91 -

Pada gambar (6) & (7) scene ke-4 berbeda dari scene ke-3, karena lokasinya sudah berbeda pulau. Scene ke-3 di pulau kalimantan dan scene ke-4 ada di pulau Sumatra di Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada scene ke-4 gambar ke (6) & (7) ada point penting yang diperoleh, ialah bahwa kemungkinan rata-rata harimau yang diambil kulitnya berusia 2 tahun dan telah menginjak usia dewasa.

Dialog percakapan Basuki dan Petugas juga menyebutkan bahwa

“Kulit disita dari tersangka penyelundup” semakin menunjukkan bahwa Harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica) sudah sangat langka dan terancam punah. Diakarenakan habitatnya yang tergerus oleh pembalakan liar, perburuan satwa, dan karena gusuran dari populasi manusia semakin membeludak, sehingga mempersempit habitat Harimau Sumatra. Pada akhirnya, tak ada tempat aman bagi raja hutan di pulau sumatra.

berjumpa 1 ekor harimau di sekitar 1200 Km2 ; berarti sama dengan 2x luas Jakarta”

- 92 - Scene 5

Gambar 8. Protes di depan kantor Wilmar eropa

Gambar 9. Feri dan Masyarakat Adat didepan kantor Wilmar

- 93 -

Pada scene 5 gambar 8 & 9 Feri sebagai aktivis lingkungan pergi ke eropa dengan dana urunan dari berbagai NGO pemerhati lingkungan. Feri pergi ke eropa dan langsung menuju kantor Nestley dengan berdemo di depan kantornya, menyerukan beberapa tuntutan yang salah satunya ialah agar Nestley berhenti melakukan permintaan minyak sawit-nabati dari perusahaan..multinasional..Wilmar..Group.

Pesan dan Makna yang bisa diambil dari kasus yang ditangani Feri diatas adalah massivenya permintaan dari perusahaan internasional akan juga menyebabkan dampak yang besar di indonesia. Penyebabnya dikarenakan perusahaan sawit Wilmar mengimport sejumblah banyak jenis minyak sawit dengan harga murah dan membebankan masalah lingkungan kepada warga disekitar perusahaan. Seperti adalah sebuah takdir bahwa menjadi masyarakat lokal di era teknologi akan mendatangkan lebih banyak kesengsaraan bagi kehidupan mereka.

Scene Gambar Time Visual Dialog

5 8 & 9 17 : 00 –

17 : 30

Feri Protes di depan kantor Nestley sebagai perusahaan paling banyak mengkonsumsi minyak nabati dari bahan baku minyak kelapa sawit.

Wakil pembicara dari perusahaan multi nasional Nestley keluar dengan kenginan untuk menjelaskan bahwa kesepakatan tentang masalah hutan dan tanah masyarakat adat sudah diperbincangkan

dengan Wilmar, tetapi masyarakat adat menolak negosiasi dengan Wilmar.

- 94 - (Lokadata Id, 2019)

Scene 6

Gambar 10. Basuki Mendata Jenis Kayu

- 95 -

Gambar 11. Lahan Tempat Basuki Mendata Kayu

Scene Gambar Time Visual Dialog

6 10 & 11 32 : 20-

33 : 00 Gambar setelahnya adalah pembukaan lahan yang luas oleh perusahaan sawit PT. SML (Sawit Mandiri Lestari) diduga dari pengakuan Effendy Buhing, lahan adat mereka diserobot paksa oleh perusahaan dengan kerugian sekitar 3000 Hektare.

Basuki :”Termasuk benteng terakhir pak Buhing.

Effendi : “Iya”

Basuki : “Karena kalau lepas disini, habis.

Narator : “Effendi Buhing dan warga Dayak Tomun

- 96 -

dari desa Kinipan mengaku telah kehilangan 3000 Hektare hutan yang telah dibabat untuk perkebunan sawit.

Pada Scene (6) gambar (10) & (11) digambarkan bahwa Basuki dan Effendi Buhing sedang mengambil beberapa foto kayu yang telah dipotong oleh perusahaan sawit PT.SML. Sembari mengambil foto, Basuki mengatakan bahwa “ini adalah benteng terakhir” yang artinya bisa disimpulkan hutan desa Kinipan akan menjadi benteng terakhir hutan primer di Kabupaten Lamandau.

Eksploitasi dan pembabatan hutan secara massive juga diungkapkan oleh Eddendy Buhing pada dialog-dialog yang disampaikan oleh narator pada gambar (11). Pembabatan hutan ini merugikan masyarakat desa Kinipan dengan hilangnya 3000 Hektar hutan adat yang telah mereka kelola dari generasi ke generasi. Menyempitnya ruang hidup yang hijau, akan berdampat di sektor ekonomi masyarakat adat desa Kinipan.

Meskipun perusahaan menawarkan pekerjaan dengan gajih yang besar, tetap saja menurut masyarakat adat hutan adalah harta yang takkan pernah bisa digantikan dengan apapun.

- 97 - Scene 7

Gambar 12. Masyarakat adat mengusir para utusan PT.SML

Gambar 13. Mengusir sekelompok orang utusan PT.SML (2)

Scene Gambar Time Visual Dialog

7 12 & 13 33 : 11 –

33 : 20 Masyarakat penjaga hutan adat Kinipan mengusir orang-orang

Masyarakat Adat: “Tanah ini milik Kinipan, Pergi kalian semua A*jing! Ini

- 98 -

Di scene (7) pada gambar (12) & (13) digambarkan bahwa terjadi konflik disebabkan oleh penolakan warga adat dayak Tomun yang menolak penggusuran lahan secara sepihak oleh pihak perusahaan sawit PT. SML. Adegan-adegan dalam film Kinipan memperlihatkan bahwa mereka menolak serta mengusir orang-orang suruhan dari PT. SML, karena menurut masyarakat adat; tanah kinipan adalah titipan dari nenek moyang mereka dan akan selalu begitu sampai kapanpun.

Kejadian-kejadian ini menambah rentetan konflik agraria di indonesia, sudah tidak terhitung banyaknya konflik-konflik yang disebabkan oleh pengambilan hak atas tanah secara sewenang-wenangnnya oleh korporasi maupun dengan adanya campur tangan aparatur negara dalam mengamankan pengambilan tanah dan hak masyarakat adat.

Seharusnya masyakat adat dilindungi dan di fasilitasi oleh pemerintah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di indonesia, bukan

- 99 -

sebaliknya. Kuasa memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan ketentraman maupun perpecahan karena kepentingan beberapa kalangan.

Scene 8

Gambar 14. Pos jaga Hutan dari atas

- 100 -

Gambar 15. Pos jaga Hutan dari depan

Scene Gambar Time Visual Dialog jaga hutan yang mereka buat secara gotong royong”

15 34 : 34 – Kinipan yang menjaga hutannya, kementrian lingkungan hidup dan kehutanan juga perhatikan; kami mati matian menjaga hutan tapi kenapa pemerintah mengeluarkan izin terus untuk hutan kami. Oleh sebab itu pak jokowi, tolonglah kami, kami mati-matian menjaga hutan untuk anak cucu kami dan juga untuk Co2.

Kepada pak jokowi sendiri juga menghirup udara dari hutan-hutan ini pak, kalo seluruh hutan ini habis bukan hanya pak jokowi yang akan mati, kami semua juga akan mati. Tapi kami sudah mati saat ini pak, mati usaha kami, kami tidak bisa lagi berladang, kami tidak bisa lagi berburu, kami tidak bisa lagi mengambil air disungai karena sungai kami sekarang keruh. Hanya untuk kepentingan pihak investor yang tidak menguntungkan kami.

Menjanjikan kesejahteraan tapi kesengsaraan yang kami dapat.

Oleh sebab itu perhatikan kami pak, setiap hari kami menjaga hutan ini pak terus kenapa pemerintah berdiam diri dan tidak memperhatikan kami, tidak perduli dengan kami. Apakah hutan ini harus kita habiskan biar kita mati semua?!”

- 101 -

Pada scene (8) di gambar (14) menunjukkan pemandangan dari atas bahwa posko yang dibangun oleh masyarakat adat menghalangi jalan masuk untuk alat-alat berat, bisa diartikan sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk kegiatan yang akan dilakukan oleh PT. SML yaitu mengambil tanah adat yang dimiliki orlh masyarakat adat Kinipan.

Gambar (15) ada salah satu tokoh pelopor gerakan penolakan yaitu Effendi Buhing. Effendi mengeluarkan pidato pernyataan tentang bagaaimana situasi dan kondisi yang dihadapi masyarakat adat kinipan pada saat itu.

Inti dari pernyataan effendi buhing ialah berharap ada tindakan tegas dari pemerintah tentang tanah adat kinipan yang diambil secara sepihak oleh korporasi dengan bantuan-bantuan aparat.

Pernyataan effendi buhing berarti mereka semakin terdesak oleh perusahaan sawit dan dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin hari semakin menggerogoti masyarakat adat laman Kinipan. Seharusnya pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan sebagai penguasa, tidak pernah tunduk terhadap korporasi dalam bentuk apapun.

- 102 -

Scene 9

Gambar 16. Polisi Mendatangi rumah Effendi Buhing

Gambar 17. Polisi Membawa paksa Effendi Buhing

- 103 -

Gambar 18. Effendi Buhing dibawa paksa kedalam mobil

Scene Gambar Time Visual Dialog

9 16 36 : 05 Beberapa polisi berpakaian preman membawa surat penangkapan tertuju kepada Pak Effendi Buhing

Polisi : “Kami datang dengan tuduhan terdap bapa dengan kasus perampasan alat pemotong kayu”

Effendi :”Bapak tau saya merampas kapan?!”

Polisi :”Nanti bapak ikut kami dahulu dan kami akan mintain keterangan dulu”

Effendi : “ngapain, kan bisa dimintain dan ngisi keterangan disini, ngapain harus bawa saya?”

- 104 -

17 36 : 58 Pak Effendi Buhing meronta tak ingin dibawa oleh anggota polisi

Narator : “Video yang direkam oleh istri Effendi Buhing ini dengan cepat menyebar”

Istri Effendi : “Pak effendi bukan penjahat pak!”

18 37 : 05 Effendi Buhing dikawal ketat oleh beberapa anggota kepolisan dengan senjata laras panjang di masing-masing anggotanya.

Istri Effendi : “Aduh mati aku mati! Bapak!”

- 105 -

Scene (9) pada gambar (16) dengan jelas menunjukkan Effendi didatangi oleh beberapa anggota kepolisian dengan membawa surat penangkapan dengan dalil pencurian alat pemotong kayu. Gambar selanjutnya, yaitu gambar (17) dan (18) terlihat bahwa Effendi Buhing diseret dengan paksa oleh anggota kepolisan, bahkan sebelum ia bisa menjelaskan dan tanpa surat panggilan.

Beberapa adegan yang terlihat di scene (9) menunjukkan dengan jelas bahwa hukum tunduk dan mengayomi penguasa/pemodal. Terlihat bahwa beberapa polisi juga membawa senjata laras panjang lengkap yang seharusnya tidak perlu, diakarenakan tersangkanya cuma satu orang yaitu Effendi Buhing. Bisa diartikan bahwa hukum di indonesia sekarang tumpul keatas dan runcing kebawah.

Scene 10

Gambar 19. Effendi Buhing di televisi nasional

- 106 -

Scene Gambar Time Visual Dialog

10 19 39 : 20

Effendi Buhing diwawancarai dalam salah satu program talkshow bernama “Mata Najwa” yang dibawakan oleh host bernama Najwa Shihab

Najwa : “yang jelas kan tadi seperti yang pak Buhing sampaikan, tuduhannya ialah pak Buhing menyuruh seseorang untuk melakukan pencurian alat geregaji pohon; apa yang bisa pak Buhing jelaskan tentang tuduhan itu?”

20 39 : 53

Effendi Buhing Menyebutkan beberapa alasan kenapa ia bisa di tangkap oleh pihak kepolisian.

Effendi Buhing : ”Pertama, saya tidak di lokasi pada saat itu. Kedua bahwa pada saat itu anak-anak menjaga hutan, karena kami sudah bosan karena perusahaan SML ini yang sudah bertahun-tahun mereka menggarap hutan. Kalau mereka kami

- 107 -

Gambar 20. Effendi Buhing berbusana adat Dayak Tomun

Pada Scene (10) gambar (19) dan (20) konflik agraria tentang tanah adat di desa Kinipan menuju titik paling tinggi pemberitaannya dalam beberapa tahun belakangan, ini dikarenakan kali pertamanya kasus mengenai konflik agraria yang terjadi di desa Kinipan akhirnya di liput di salah satu televisi Nasional.

Effendi Buhing di undang ke acara televisi nasional berasal dari video yang ada di Scene 9 yang viral di social media, sehingga banyak

Effendi Buhing di undang ke acara televisi nasional berasal dari video yang ada di Scene 9 yang viral di social media, sehingga banyak

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN DAN PENGAMATAN (Halaman 28-69)

Dokumen terkait