- 46 - BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PENGAMATAN
Dalam kesempatan penulis menganalisis Film Dokumenter Kinipan, penulis menggunakan metode penelitian Analisis Wacana Kritis oleh Norman Fairclough. Dalam menggunakan metode Norman Fairclough;
penulis membaginya menjadi 3 dimensi yakni : Makrostruktur, Mesostruktur dan Mikrostruktur. Sebelum penulis masuk kedalam inti pembahasan mengenai Film Dokumenter Kinipan; penulis akan menyertakan informasi dan sinopsis film sebagai pengantar yang penting untuk penulisan kedepannya.
Film Dokumenter Kinipan
Film Dokumenter Kinipan adalah film karya anak bangsa yang didalamnya memuat memuat topik-topik hangat dan “keras”.
Menceritakan bagaimana konflik-konflik akar rumput yang menjadi fenomena hangat terus-menerus dalam kehidupan bernegara. Berikut ialah spesikasinya :
Tayang : 27 Maret 2021 (Di tayangkan di desa Kinipan)
Genre : Film Dokumenter
Sutradara : Dandhy Dwi Laksono dan Indra Jati
- 47 -
Produser : Andhy Panca, Inge Altemeier
Rumah Produksi : Watchdoc
Durasi : 142 Menit
Klasifikasi Penonton : Semua Umur
Pemeran (Bab 1-2) : Basuki Santoso – Aktivis Lingkungan,
Ferry Irawan – Aktivis Lingkungan
Di Bengkulu (Sumatra)
Pak Ledan – Pemandu tur Wisatawan di Taman
Nasional Tanjung Puting
Gacik – Pemburu Babi Hutan
Effendy Buhing – Aktivis dari Laman Adat; Desa Kinipan
Najwa Shihab – Host di Acara Mata Najwa
Wilem Hengki – Kepala Desa Kinipan
- 48 - Sinopsis Film Dokumenter Kinipan
Film dokumenter ini berdurasi 144 Menit. Film ini bertolak dari dasar pikir bahwa deforestasi dapat makin mendekatkan patogen (mikroorganisme parasit) pada manusia, yang bisa berujung pada munculnya pandemi. Isi film ini kemudian juga mengaitkan persoalan itu dengan kelahiran kebijakan UU Cipta Kerja omnibus law, penyingkiran masyarakat adat, dan kegagalan pemerintah menciptakan solusi bagi rusaknya hutan di Indonesia. Film berisi kritik terhadap kebijakan lingkungan hidup pemerintah. Kali ini, organisasi lingkungan yang punya saham atas bisnis karbon pun kecipratan kritik. Film ini berpandangan, kebijakan-kebijakan pemerintah gagal memulihkan lingkungan hidup dan menjawab krisis karena mengabaikan peran tradisional masyarakat di sekitar hutan.
Kinipan dibuka menggunakan kisah deforestasi dan upaya penghijauan pulang (reforestasi) di Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP) Kalimantan Tengah. dia mengisahkan kawasan-daerah terbakar, dan upaya reforestasi. Hutan terlarang dijamah sebab berada dalam taman nasional pun, namun rentan musnah karena kebakaran. kondisi pada sekeliling telah terkonversi sawit skala luas, mengakibatkan ketersediaan air pada hutan mudah hilang saat kering jadi keliru satu karena. pada sana terdapat Basuki Santoso, asal Friend of National Park Foundation (FNPF) dan masyarakat setempat yang belasan tahun bertahan menanam balik
- 49 -
hutan yang terdegradasi itu. usaha reforestasi tidak simpel, Lantaran tidak seluruh spesies pohon cepat tumbuh besar . kemudian fragmen berpindah ke Sumatera, bagian tengah. Kerusakan hutan digambarkan dengan makin menyusut populasi harimau sumatera. Ini pula mengakibatkan perkembangbiakan babi hutan meninggi, yg menjadi hama serius bagi kebun-kebun masyarakat lebih kurang hutan. Hutan Indonesia kaya keragaman hayatim itulah yang Basuki temukan pada hutan tata cara Kinipan. namun, hutan yang beliau datangi itu sudah terancam berfokus.
Sebagian sudah terkonversi menjadi perkebunan sawit. di sana terdapat jua ketegangan. warga Kinipan membentuk pos dan lebih seringkali berjaga di hutan, buat mencegah berlanjutnya aktivitas pembabatan hutan sang perusahaan sawit. hingga kemudian tokoh adat Kinipan, Effendi Buhing serta sejumlah pemuda ditangkap polisi karena dituduh mencuri gergaji mesin perusahaan.
Video penangkapan Effendi itu viral dan membuat perkara Kinipan makin diketahui publik. Gara-gara penangkapan itu, solidaritas terhadap Kinipan makin menguat. huma Kinipan makin terdegradasi, tergambar dari situasi banjir besar yg belum pernah terjadi pada Kinipan di September 2020. dari laman Kinipan, film ini berkelok ke narasi pandemi.
Bagaimana korelasinya? Film ini menyodorkan penjelasan deforestasi masif bisa mengakibatkan zoonosis alias berpindahnya penyakit pada satwa liar ke insan. di sini dijelaskan bagaimana mutasi penyakit berasal satwa ke manusia mudah terjadi. Pandemi yg terjadi saat ini ialah refleksi atas pendayagunaan kelewat batas terhadap hutan itu. Malangnya, pandemi menuntut pengorbanan lebih akbar. Pengangguran terjadi. Krisis pangan mengintai. pada situasi ini, pemerintah merespons dengan menerbitkan UU Cipta Kerja dan proyek food estate. Film ini melihat ke 2 kebijakan itu bukan jawaban atas krisis. beliau malah rawan memperparah krisis lingkungan hidup. pada UU itu, aturan mempertahankan hutan di tempat eksklusif minimal 30% hilang. Prinsip
- 50 -
perlindungan lingkungan di kawasan konsesi longgar. dalam omnibus law, korporasi tidak harus bertanggung jawab jika terdapat kerusakan dalam konsesi. Jadi, misal, terdapat kebakaran di kebun perusahaan, mereka hanya bisa dimintai pertanggungjawaban setelah melalui pembuktian sengaja membakar. (Budi Baskoro, 2021)
4.1 Analisis Makrostruktur
Fokus utama kepada fenomena dimana teks dibuat/diciptakan.
Dengan demikian; menurut Fairclough untuk memahami wacana kita tidak mampu melepaskan dari konteksnya. Kita perlu menelusuri konteks konsumsi teks, produksi teks dan keadaan sosial budaya yang keseluruhannya sangat mempengaruhi pembuatan teks.
4.1.1 Situasional
Pada tahap ini, mengarah pada suasana mikro (konteks peristiwa saat teks dibuat), dengan arti bahwa teks dihasilkan dalam suatu kondisi atau suasana yang khas atau unik sehingga suatu teks berbeda dengan teks lainnya.
- 51 -
Film dokumenter Kinipan dilahirkan; dimaksudkan untuk menutup kumpulan dari film-film karya sutradara Dandhy Laksono yang diperoleh dari pejalanan panjang Dandhy Laksono dan Ucok Suparta; petualangan itu mereka namakan Ekspedisi Indonesia Biru. Mereka berdua mengelilingi Indonesia selama 1 (satu) tahun penuh (1 Januari 2015 – 1 Januari 2016 ).
Ciri paling unik dan khas dari film-film karya Dandhy Laksono adalah karena diambil (direkam) secara langsung tanpa menyertakan banyak kru film dan percakapan tanpa naskah. Serta cara distribusi dan pemutaran film yang menggunakan sistem nonton bersama pada saat tanggal perilisan serentak seluruh indonesia; dengan mendaftarkan tempat- tempat dan komunitas untuk melaksanakan nonton bareng, setelah itu team Watchdoc akan mengirimkan soft-file serta bisa ditonton bersama dan serentak.
Hampir semua film karya rumah produksi Watchdoc diperoleh dari perjalanan dan direkam sendiri sang sutradara ini; karena memang Dandhy Laksono sendiri mengakui bahwa Watchdoc dibentuk sebagai media independen tanpa adanya bantuan dana dari iklan-iklan manapun.
Meskipun dahulunya watchdoc adalah pemasok film dokumenter untuk televisi-televisi swasta terkenal di indonesia.
Maka oleh karenanya, Watchdoc menjadi sarana utama dalam menyebarluaskan isu sosial di masyarakat; dimana sering terjadi pergolakan dan pertentangan antar kelas sosial. Kesenjangan sosial membawa berbagai konflik kepentingan serta konflik agraria menuju tahap yang lebih jauh lagi. Watchdoc menjadi corong utama penyampai informasi yang sekaligus menjadi oposisi pemerintah dan media mainstream; biasa disebut sebagai televisi swasta yang sering mengangkut berbagai kepentingan kelompok.
- 52 -
Ada beberapa film yang menjadi andalan utama watchdoc dan turut serta di tonton serentak di seluruh indonesia dan memperoleh puluhan juta penonton di platform media YouTube; channelnya bernama Watchdoc Image. Penulis akan menyertakan sinopsis film-film Watchdoc yang paling banyak di tonton dan menjadi perhatian utama masyarakat pada masanya :
1 Sexy Killers
Film Sexy Killers ialah galat satu seri dokumenter yang menjadi rangkaian Ekspedisi Indonesia Biru, sebuah ekspedisi yang dilakukan oleh rumah produksi WatchDoc buat berkeliling Indonesia serta mengangkat info-berita sosial budaya kedalam sebuah film dokumenter. WatchDoc sendiri merupakan sebuah studio film independen yang penekanan di film dokumenter atau jurnalisme investigasi. Film Sexy Killers dibuka dengan 2 orang pasangan yg sedang berada pada kamar hotel glamor lengkap menggunakan fasilitas kamar hotel tadi, termasuk listrik yang sebagai sumber daya utama semua fasilitas yg mereka pakai. dari listrik pada kamar hotel mewah tadi, penonton diajak buat menelusuri berasal mana listrik yang kita gunakan tersebut berasal.
Penonton selanjutnya akan melihat proses pengadaan listrik menggunakan tambang-tambang yg dikeruk dan sawah-sawah rakyat yg dimusnahkan buat menghasilkan PLTU. Kita akan melihat bagaimana para petani-petani mungil yg hanya mampu gigit jari ketika sawah yg menjadi asal penghasilan mereka harus dimusnahkan. Begitu juga menggunakan para nelayan yg terdampak. Penonton akan diajak buat melihat bagaimana kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara yang berseliweran dan merusak ekosistem laut sekitar. samudera terkotori, para nelayan tak bisa lagi menangkap ikan. pada akhirnya, mereka pula harus kehilangan sumber penghasilan.
- 53 -
Film ini juga menawarkan bagaimana pembangunan PLTU Mengganggu alam di lebih kurang dan menghasilkan rakyat merasa kesulitan. PLTU tadi membentuk air higienis menghilang, membentuk pencemaran udara, bahkan menjadi kawasan berbahaya bagi anak-anak yang mulanya acapkali bermain di wilayah tadi. tidak cukup hingga disitu, WatchDoc pula meneruskan investigasinya buat mengetahui siapa saja orang-orang berkepentingan yang terlibat pada bisnis listrik dan tambang tersebut. Hal ini relatif mengejutkan karena dalam film diperlihatkan sebuah sistem oligarki mengenai tokoh-tokoh yg menguasai bisnis tadi.
pada pada dasarnya, film Sexy Killers mengangkat tema mengenai informasi sosial yg belum pernah diketahui masyarakat untuk semakin membuka mata poly orang bahwa terdapat konflik sosial yang wajib dipedulikan.
Dari sudut pandang cerita yang disajikan di film Sexy Killers, jelas terlihat bahwa si penghasil film penekanan buat memberikan bagaimana dampak berasal aktivitas tambang dan pembangkit listrik terhadap rakyat- masyarakat kecil. Film ini akan menghasilkan penontonnya merasakan ikut merasakan terhadap warga mungil yang seolah tidak mampu berbuat dihadapan orang-orang yang berkepentingan. Sebuah film dokumenter memang telah seharusnya bersifat subjektif, serta subjektivitas yg diperlihatkan dalam film Sey Killers membuatnya menjadi film dokumenter yang layak diapresiasi. Sexy Killers telah memenuhi keliru satu unsur dokumenter, yaitu unsur subjektivitas. (Sri Sulistiani, 2021) (Watcdoc Images, 2019)
- 54 - 2 Samin Vs Semen
Film ini mengambil latar belakang 3 daerah yang ada di Jawa Tengah, serta kabupaten Tuban di Jawa Timur. Sepanjang film documenter ini, tak ada satupun warga pro semen yang mau diwawancarai. Dalam film ini juga ada beberapa orang dari ibu kota yang datang karena tertarik untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh warga Samin.
Di awal film diceritakan pada 16 Juni 2014, PT. Semen Indonesia sedang melakukan peletakan batu pertama, namun disini terlihat para masyarakat atau warga Rembang sedang berdemo. Warga juga mendirikan tenda di tapak pabrik untuk menunjukkan aksi penolakan terhadap pembangunan tersebut. Perdebatan dan pemberontakan ini terjadi cukup lama. Perdebatan terjadi antara warga tani yang kontra Semen dengan beberapa aparat dan juga pejabat desa yang pro Semen.
Diceritakan awal mula terjadinya permasalahan ini dimulai pada tahun 2009. Pada saat itu PT Semen Gresik Indonesia mencoba membangun pabrik di PAti, Jawa Tengah. Para warga Samin pun geram dan menolak adanya pembangunan karena takut kehilangan mata pencaharian utama warga Samin yaitu bertani.
Namun untungnya pada saat itu perkara ini dimenangkan oleh warga Samin, dan kemudian Semen Gresik mundur. Setelah kemenangan warga Sukolilo di PTUN melawan PT Semen Gresik, kini giliran warga Tambakromo dan Kayen yang menghadapi ekspansi dari perusahaan Indocement. Aksi ini diprakarsai penikut Sedulur Sikep (Samin) yang telah memiliki sejarah panjang melawan kolonialisme belanda di tanah Jawa sejak 1890.
- 55 -
Lalu pada bagian scene yang menunjukkan perkampungan Samin, diceritakan bahwa beberapa desa yang ada di Pati akan terkena dampak adanya pembangunan pabrik semen ini. Kira-kira 180 hektar lahan dari 560 orang, warga desa yang lahannya kan diambil alih.
Disini diceritakan ada sesosok pengikut Samin bernama Gunarti yang menjadi salah satu pemrakarsa yang membela warga Samin. Gunarti menuturkan bahwa ia tak menyekolahkan anak-anak nya secara normal. Ia dan masyarakat Samin berkata bahwa tujuan dari belajar atau sekolah itu bukanlah untuk mengejar pangkat dan jabatan, tapi cukup untuk memperbaiki tindakan dan ucapan. "nenek moyang dulu berkata pendidikan tidak perlu pandai, yang penting mengerti", katanya.
Gunarti mengambil peran cukup besar dalam permasalahan yang dihadapi Sedulur Sikep ini. Pada masa Semen Gresik menyerang pada tahun 2009 (7-16 mei), Gunarti bercerita bahwa di Sukolilo ini ada 7 desa yang nantinya akan terkena dampak dari pembangunan pabrik semen.
Gunarti pun mendatangi satu per satu desa yang ada.
Di sana Gunarti mencoba meminta saudara-saudara nya untuk tetap mempertahankan lahannya dan jangan menjual lahan itu kepada pihak semen. Gunarti juga mengatakan bahwa sejak jaman nenek moyang kita semua ini butuh nya tanah, air, dan pangan, bukan semen. "Daripada krisis pangan, mending krisis semen", begitulah ucapan Gunarti yang menurut saya sangat menarik.
Salah satu hal yang cukup menarik disini juga yaitu betapa keras perjuangan para wanita Samin untuk sekedar bertahan hidup. Para wanita- wanita Samin disini terlihat sangat berjuang keras untuk mempertahankan wilayah atau lahan pertanian yang sudah diwariskan oleh pendahulu- pendahulu nya agar tidak diberika kepada pihak Semen. "Tanah pertanian itu tidak boleh dijual, tanah pertanain ini adalah warisan yang nantinya
- 56 -
juga akan diberikan kepada anak cucu nanti", tutur seorang wanita pengikut ajaran Samin itu.
Selain Gunarti, ada juga satu sosok lain pengikut ajaran Samin yang juga mencoba melwan adanya pembangunan pabrik semen. Namun, sepertinya sempat ada sedikit konflik dan kesalahpahaman antara Gunretno dengan warga Samin lainnya. Warga Samin mengatakan bahwa Sedulur Sikep ini tidak pernah meminta-minta, Sedulur Sikep ini juga bukan orang yang mau mempermasalahkan permasalahan pribadinya dengan campur tangan orang lain.
Jadi warga Samin memberi klarifikasi bahwa yang meminta adanya bantuan berupa film dokumenter bukan sepenuhnya dari pihak warga Samin, melainkan permintaan pribadi dari Gunretno tanpa adanya persetujuan dari seluruh warga Samin.
Gunretno mencoba mewawancarai beberapa warga Tuban, Jawa Timur setelah 20 tahun berdirinya pabrik Semen Gresik disana. Beberapa warga yang diwawancarai oleh Gunretno ini adalah warga-warga yang dulu sempat memiliki lahan pertanian namun kini sudah tak ada karna sudah diambil alih pihak semen. Setelah ditelusuri ternyata dulu ada unsur paksaan dari pihak semen untuk meminta warga Tuban disana menjualkan lahan kepada mereka. "Kalau nggak dijual, mau lewat mana nanti ke sawahnya", ucap salah seorang warga.
Disini ternyata warga Tuban juga merasakan dampak berkepanjangan dari didirikannya pabrik semen. Pada musim kemarau, desa yang ada di sekitarnya terkena imbas debu dari pabrik. Debu ini sangat menghambat dan meresahkan para warga meskipun sudah ada filter tanaman. "tapi apadaya, orang kecil seperti kami di Desa Koro tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menerima, mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur", ucap
- 57 -
salah seorang warga. Kini yang terjadi pun banyak warga yang bingung harus bekerja apa.
Dulu warga merasa gelap mata saat ditawari uang yang cukup banyak dan langsung mau menjualkan lahan mereka, namun nyatanya sekarang uang sudah habis dan malah kekurangan. Dulu para warga juga sempat diberi janji janji oleh pihak semen bahwa yang lahannya dibeli nanti akan diberi pekerjaan, tapi kenyataannya tidak begitu.
Lalu pada scene terkahir, diperlihatkan para petani Gunem di Rembang yang berbondong-bondong menuju lahan mereka bersama warga Pati juga.
Mereka mnunggu putusan PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) melawan PT Semen Indonesia.
Bukan hanya warga Rembang yang diteror, tapi pembuat video juga menerima banyak terror. Video yang digarap oleh Dandhy bersama rekannya Suparta Arz, fotografer dan videographer dari Aceh tersebut diproses selama 1 bulan. Dalam perjalanannya, keduanya sempat dilarang masuk areal pabrik dan juga tidak diberi akses ke lokasi. (Mutiara Fatiha Puspitasari, 2018) (Watchdoc Images, 2015)
3 The Mahuzes
Film garapan Dandhy Laksonono dan kawan-kawan atau yang biasa disebut Ekspedisi Indonesia Biru ini, mengangkat konflik sengit yang terjadi antara masyarakat adat Malind dan industri kelapa sawit. Suku Malind tinggal di pelosok Merauke. Merauke adalah kabupaten yang
- 58 -
letaknya di wilayah paling timur Indonesia. Luas tanah Merauke sekitar 4,7 juta hektare dan 95.3% adalah hutan. Di Merauke terdapat beragam jenis suku, salah satunya Suku Malind. Suku Malind pun memiliki beragam marga dan Mahuze adalah salah satunya.
Diawali ketika Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Distrik Kurik, Merauke pada 10 Mei 2015 untuk membangun sawah di papua seluas 1,2 juta Ha dalam kurun waktu 3 tahun, namun pada kenyataannya, lahan yang tersedia saat ini hanya 500 ribu Ha. Anehnya lagi, pemerintah belanda dulunya pernah mencetak 43 ribu Ha sawah dan membutuhkan waktu selama 60 tahun (1954-2014).
Singkat kata, pemerintah Indonesia ingin menjadikan Papua sebagai lumbung pangan (beras) dan energi untuk kepentingan ekspor. Proyek ini biasa disebut Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).
Malind yang dihuni Marga MAHUZEs secara tegas menolak hutan dan tempat tinggal mereka dihancurkan untuk diganti dengan perusahaan kelapa sawit dan nantinya mereka menjadi buruh, bukan menjadi tuan dan nyonya di tanahnya sendiri. Penolakan tersebut akhirnya berujung konflik yang diawali ketika salah satu sesepuh Marga Mahuze menerima 'amplop' dari perusahaan. Sejak saat itu perusahaan datang dengan mengerahkan buldozernya. Hutan ulayat hendak diratakan dengan tanah. Pada tanggal 21 Juni 2015, para marga mengadakan Rapat besar untuk bermusyawarah mengenai hal tersebut. Menjelang tengah malam situasi semakin memanas. Namun akhirnya disepakati bahwasanya tanah ulayat Marga Mahuze tidak boleh dijual kepada perusahaan kelapa sawit. Dalam situasi dan kondisi apapun, tanah tidak boleh dijual.
Di lain hal, proyek MIFEE yang sudah dijelaskan di atas membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat Papua, salah satunya pencemaran air. Selain membabat habis hutan dan menghilangkan sumber
- 59 -
pangan dan sandang pribumi Papua, air sungai akan terkontaminasi oleh limbah. Tidak hanya limbah kelapa sawit, tetapi juga limbah kayu serpih.
Pribumi Papua kesulitan mencari air bersih dan ikan-ikan di sungai.
Akibat penolakan tersebut, palang yang sengaja dipasang oleh Marga MAHUZEs supaya tidak diserobot dan tidak terjadi pengrusakan hutan adat, dua oknum sewaan dari perusahaan PT. ACP (Kelapa Sawit) memaksa agar plangtersebut dilepas. Warga yang kebetulan ada di sekitar tidak berani melawan dan hanya pasrah melihat hal tersebut.
Melihat ulah tersebut, salah seorang warga mendatangi Kepala Suku Mahuze, Barnabaz Mahuse. Dirinya mengatakan "Jika mereka mencabut plang yang sudah diikat dengan daun kelapa, mati orang itu". Saya tidak tahu apa maksudnya, namun yang jelas Marga MAHUZEs tetap menolak tanahnya dijual kepada investor.
Tidak hanya itu, mereka juga kerap mendapat teror atau ancaman dari oknum untuk mengusik kelangsungan hidup mereka supaya mau melepaskan tanah tersebut. Hingga di akhir film, tidak nampak solusi dari kedua belah pihak terkait hutan adat yang akan dijadikan sebagai perusahaan kelapa sawit. Dengan kata lain ending film ini sengaja digantung dan itu sesuai dengan realita yang terjadi bahwa setiap konflik di tanah Papua selalu menjadi tanda tanya. (Wimpie Fernandez, 2017)
- 60 - 4 Lewa di Lembata
Lewa di Lembata menceritakan tentang kehidupan para nelayan pemburu paus dan pari di Desa Lamalera, pulau Lembata (NTT) dan sistem ekonomi barter yang masih dijalankan di zaman di mana uang telah ditempatkan di puncak sistem ekonomi.
Semua ikan dan mamalia laut yang dilindungi, justru diburu di sini.
Uang yang menjadi alat tukar utama dalam sistem ekonomi, justru dihindari.
Bagaimana semua bisa bertahan dan terjadi?
Lamalera juga menyajikan cerita soal pasar rakyat, pasar barter.
Ketika peluit ditiup jam 11 Wita, uang Anda tak laku lagi. Inilah saat kami merasakan betapa pangan sangat esensial dalam hidup manusia. Uang tak lagi berkuasa.
Manusia dinilai dari ketekunannya memproduksi dan mengusahakan bahan pangan agar dapat ditukar dengan bahan pangan lain. Bukan dari kehebatannya mengelola investasi sektor keuangan (fund managing).
Masyarakat pesisir membawa ikan (protein) yang ditukar dengan hasil bumi masyarakat pegunungan seperti jagung atau ubi (karbohidrat).
Sepotong ikan asin, misalnya, setara 5 tongkol jagung kering. Inilah pasar barter Leworaja, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten (pulau) Lembata, NTT. (Dasun, 2018)
- 61 -
Film yang bercerita tentang perburuan paus yang ada di laut Nusa Tenggara Timur. Tentu bukan hanya itu yang ingin disampaikan oleh film ini, melainkan pula, bagaimana relasi antara pemburu paus dengan kelangsungan hidup mereka di darat. Satu bagian yang paling saya sukai adalah saat, Kotaro (lelaki Jepang yang telah lama tinggal dan meneliti di NTT) menjelaskan bahwa daging paus bukan hanya untuk dikonsumsi bagi mereka yang berburu yang disebut Matros, tapi juga ada bagian untuk mereka yang janda dan anak yatim.
Di Lembata, ketiadaan uang barangkali bukan sesuatu yang begitu menakutkan, seperti kita yang hidup di kota–yang setiap saat di batok kepala kita selalu berkutat tentang keberadaan uang, uang, dan uang.
Ketakutan kita pada uang, benar-benar tidak berlaku di Lembata, sebab yang paling ditakutkan di Lembata adalah ketidak punyaian stok ikan kering yang bisa digunakan sebagai alat tukar di pasar. Di Lembata, masyarakat masih menggunakan ikan sebagai alat tukar pengganti uang.
Mereka membeli jagung, kasbi dan sayur-mayur dengan menggunakan ikan yang dibarterkan dengan semua itu, kecuali, pakaian dan alat elektronik. Dari sini, kamu sudah bisa membayangkan bukan bagaimana kehidupan mereka di Lembata sana, dengan segala kesederhanaan mereka.
Ihwal uang, dalam satu scene dari film dokumenter ini yang menunjukkan bagaimana uang hanya digunakan oleh para PNS saat mendatangi pasar. Sedangkan bagi mereka yang buan PNS dan notabene adalah suami mereka adalah para nelayan, peternak, petani, menggunakan ikan sebagai alat tukar.
Dalam setahun, paus-paus itu selalu datang. Bagi penduduk Pulau Lembata di NTT ada aturan yang melarang mereka untuk tidak berburu dan membunuh paus tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup paus tersebut. Aturan-aturan ini harus ditaati setidaknya sebagai pagar yang
- 62 -
melindungi paus dan manusia agar tidak menjadi serakah. (Pigura Film, 2019) (Watchdoc Image, 2015)
5 Asimetris
Film Asimetris, berangkat dari premis yang telah disebutkan, menyampaikan fakta dan data mengenai dalamnya produk olahan kelapa sawit masuk di kehidupan sehari-hari. Produk olahan kelapa sawit tersebar dalam tiga jenis, yaitu produk makanan (oleofood); bahan kimia untuk keperluan sehari-hari, seperti sampo dan sabun (oleokimia); dan campuran bahan bakar dalam biofuel.
Tingkat produksi minyak sawit di Indonesia pun cukup tinggi. Dilansir tirto.id per September 2017 Indonesia menghasilkan 4 juta ton minyak sawit. Sepanjang September pula ekspor minyak sawit mencapai 2,7 juta ton. Pada periode Januari-Agustus 2017 nilai ekspor minyak sawit menyentuh US$ 15,22 miliar. Komoditas minyak sawit menjadi penyumbang terbesar kinerja ekspor nonmigas.
Dikutip dari situs berita Antara, sektor sawit menyerap tenaga kerja sebanyak 5,7 juta orang. Dari total itu, 2,2 juta orang bekerja di perkebunan rakyat. Bahkan, menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, diperkirakan 16–20 juta orang memiliki mata pencaharian yang mengandalkan bisnis kelapa sawit dari hulu ke hilir.
Konsumen minyak sawit ini pun tersebar di seluruh dunia. Eropa, menurut Asimetris, mengonsumsi 7 juta ton minyak swait. Seperempat lebih dari total itu dikonsumsi untuk kebutuhan listrik dan pemanas ruangan ketika musim dingin. Dan 46% konsumsi adalah untuk bahan bakar kendaraan.
- 63 -
Menyangkut penggunaan untuk bahan bakar kendaraan, diprediksi minyak sawit akan makin dibutuhkan pada tahun-tahun mendatang. Bahan bakar jenis biofuel makin marak digunakan. Setiap liter biodiesel, masih menurut Asimetris, memiliki kandungan 20% dari minyak sawit. Pada tahun 2020, kandungan minyak sawit akan makin besar pada biodiesel menjadi 30%. Percobaan mencampurkan minyak sawit untuk bahan bakar pesawat pun sedang dilakukan.
Namun, di sisi lain komditas minyak sawit menyimpan banyak permasalahan. Hal yang paling pertama diperlihatkan dalam film Asimetris adalah akibat berupa deforestasi dan bencana asap. Dilansir tirto.id dari laporan WWF berjudul The Enviromental Status of Borneo 2016 pendorong utama penggundulan hutan adalah pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Aktivitas itu sebagian besar merupakan tindakan ilegal (80%). Perkebunan kelapa sawit di Borneo saja sudah menghuni 7 juta hektare lahan atau 10 persen luas pulau tersebut. Ini belum menyebut deforestasi dan luas lahan kelapa sawit di Sumatra, Papua, dan daerah-daerah lainnya.
Akibat penggundulan lahan ilegal dan dilakukan secara sembrono, terjadi kebakaran besar yang menghasilkan bencana asap pada 2015. Pada Oktober 2015 kadar polusi di Palangkaraya disebut mencapai 1300 persen dari ambang batas kualitas udara yang sehat. Bencana asap itu menyebabkan korban jiwa dan mengakibatkan setengah juta orang mengidap penyakit infeksi saluran pernapasan.
Penggundulan dan kebakaran hutan pun mengancam keanekaragaman hayati Indonesia. Hewan-hewan yang rentan punah, seperti gajah kerdil borneo, gajah sumatra, harimau sumatera, badak sumatera, dan orang utan.
Perkebunan kelapa sawit pun diketahui merusak tanah. Seorang warga yang diwawancarai Watchdoc menggambarkan “Di mana ada sawit
- 64 -
itu dikembangkan, sumber-sumber air itu akan segera kering. Tapi, kalau hujan juga akan segera banjir.”
Persaingan antara perkebunan sawit rakyat dan industri pun begitu kencang. Industri, menurut warga, kerap mencaplok tanah yang ditelantarkan. Akibat pencaplokan ini ada warga yang menjadi korban kriminalisasi karena dianggap mengambil dari lahan milik industri.
Sementara, menurut keterangan para pemilik perkebunan sawit skala kecil, bila memilih menanami seluruh lahannya dengan sawit, mereka tak memiliki cukup modal untuk perawatan sawit. Akibatnya, perkebunan mereka tidak dapat menghasilkan secara maksimal, seperti ujaran Jokowi yang ditampilkan dalam film ini. Keuntungan yang didapat para pelaku bisnis itu begitu kecil dan mereka kerap berhutang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Pekerja di perkebunan sawit milik industri pun tidak dijamin haknya. Mereka bahkan harus bekerja dalam waktu 12 jam. Selain itu, industri sawit pun menghasilkan polusi. Limbah dari industri pengolahan kelapa sawit mengotori sungai.
Kebijakan Pemerintah yang mendorong kemajuan industri sawit itu memakan korban. Pemerintah sekali lagi mengulangi kesalahan yang sama, seperti dalam proyek cetak lahan untuk sawah padi di Kalimantan pada zaman Orde Baru dan di Papua pada masa kini. Kemajuan industri sawit menghantam budaya masyarakat adat, lingkungan hidup, kesehatan, dan mengabaikan isu hak asasi manusia.
Dalam industri kelapa sawit sendiri, ada regulasi untuk menghilangkan dampak buruk industri sawit, yaitu ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).
Sistem sertifikasi industri ini adalah hasil kompromi agar industri sawit
- 65 -
dari hulu ke hilir tidak mengabaikan isu lingkungan, ketenagakerjaan, dan lain-lain.
Namun, selain bermasalah sejak tahap regulasi ini khusus ISPO praktik di lapangan pun tidak berjalan baik. Seorang pemilik perkebunan sawit skala kecil yang memasok sawit ke industri pengolahan minyak sawit mengaku dalam film Asimetris, tidak mengetahui apa itu ISPO dan RSPO. Ia juga tidak diberi sosialisasi atau pelatihan agar produksi sawit di kebunnya tidak melanggar prinsip-prinsip dalam ISPO dan RSPO.
Di sisi lain, Watcdoc memberikan alternatif pandangan lewat cuplikan kehidupan masyarakat adat Dayak. Masyarakat Dayak digambarkan mencintai lingkungan dan hidup dalam masyarakat yang komunal. Mereka memiliki batasan-batasan perilaku berupa hukum adat yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat Dayak, alih-alih ikut dalam keramaian industri sawit, masih setia dengan pola hidup tradisional mereka. Salah satu tradisi yang penting berkaitan dalam konteks sawit dan deforestasi adalah cara pembukaan lahan masyarakat Dayak. Mereka melakukan pembukaan lahan dengan gotong-royong dan cara tertentu agar resiko kebakaran hutan tidak terjadi. (Ahmad Zuhad, 2018) (Watchdoc Image, 2018)
- 66 - 4.1.2 Institusional
Pada awalnya, media lebih banyak menjalankan fungsinya sebagai sebuah institusi sosial yang bertugas untuk melayani kepentingan umum (sosial). Dalam perkembangannya, institusi media mengalami pergeseran idealisme sehingga muncul anggapan bahwa media telah berubah fungsi dari yang tadinya merupakan institusi sosial, dan saat ini kebanyakan menjadi institusi ekonomi dan institusi politik (Junaedi, 2005:165).
Fungsi media yang berubah menjadi institusi ekonomi dan institusi politik sangat berkemungkinan berpengaruh terhadap produksi wacana.
Institusi bisa berasal dari dalam media ataupun dari faktor eksternal di luar media. Contohnya saat pemilihan Presiden 2014, sangat terasa sekali ada 2 (dua) perusahaan televisi swasta ternama yang menyiarkan berita Pemilu. Namun dari hasil yang ditampillan, jelas berbeda sekali antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing televisi cenderung membawa kepentingan personal-individu salah satu Pemilihan Presiden yang memiliki hubungan dengan kepentingan sang pemilik media swasta.
Watcdoc Studio Documentary
Sebagai rumah produksi, tentu saja Watcdoc Documentary memiliki tujuan ekonomi atau dalam hal ini bertujuan kapitalisme yakni mencari untung. Namun cara yang dilakukan Watchdoc dalam mencari untung dengan membuat film yang tentunya berdampak bagi khalayak dengan cara mengedukasi. Selain memiliki tujuan profit, Watchdoc juga memiliki agenda politik, yakni melalui film yang diproduksi. Dengan cara seperti itu, Watchdoc berharap dapat turut serta mengedukasi penonton untuk lebih sadar akan politik yang terjadi di negaranya. Hal itu tampak dalam
- 67 -
film Kinipan yang diproduksi. Konten politik yang dibuat merupakan sudut pandang dari sang sutradara akan kondisi politik yang sedang terjadi, dan diharapkan khalayak dapat mengambil makna dari konten tersebut.
Watchdoc adalah rumah produksi audio visual yang terletak di Bekasi yang berdiri sejak 2009. Telah memproduksi 165 episode dokumenter, 715 feature televisi, dan sedikitnya 45 karya video komersial
& non komersial yang memperoleh berbagai penghargaan. Memiliki kurang lebihnya 11-50 orang karyawan. (Linkedin, Watchdoc)
Produser dan Sutradara
Watchdoc didirikan dan produseri oleh Andhy Prapanca dan Dandhy Laksono, sebagai media independent berdasar asas-asas jurnalisme investigasi dan dokumentaris.
Dandhy Dwi Laksono adalah seorang jurnalis yang dikenal dengan produk-produk jurnalistik berupa buku maupun film dokumenter dengan pendekatan jurnalisme investigatif. Dandhy dikenal sebagai seorang idealis yang selalu menjadikan pembelaan terhadap orang-orang kecil atau marjinal sebagai dasarnya dalam berkarya, terutama dalam film-film dokumenternya yang menggugah perhatian publik.
Dalam sebuah wawancara dengan The Jakarta Post, sedari muda ia mulai mendedikasikan dirinya untuk membuat karya yang bermutu baik dan membuat Dandhy kenyang akan segala macam serangan yang dilancarkan dari pihak-pihak yang ia kritisi di karya-karya jurnalistiknya.
Dandhy selalu berpegangan pada fakta saat berkarya dan siap berhadapan dengan siapa saja yang menghadang jalannya dalam rangka mencari dan mengungkap kebenaran. Keberaniannya dalam mengungkap
- 68 -
kasus yang sensitif, semisal kasus Munir, menempatkan dirinya pada posisi yang siap “dimangsa” pihak-pihak yang tak sejalan. Bahkan istrinya pun pernah difoto oleh dua orang tak dikenal saat turun dari bus.
Dandhy mengawali karir di penghujung era 1990-an alias masa dimana hak untuk berekspresi terutama di ranah jurnalistik masih terkekang. Di era reformasi, Dandhy masih bertahan sebagai jurnalis yang idealis, hingga kemudian ia tak tahan dengan perlakuan sebuah perusahaan media tempat ia bekerja sampai akhirnya ia dipecat.
Kasus pemecatannya memang berakhir tak baik untuknya setelah kalah di pengadilan. Namun mulai saat itulah idealismenya mulai teruji dan ia yakin bahwa pemecatannya terkait dengan laporannya tentang operasi militer di Aceh yang memicu kemarahan beberapa pejabat tinggi.
Ia juga pernah memutuskan keluar dari sebuah perusahaan media nasional terkemuka karena muak dengan kepentingan politis yang hadir di meja redaksinya.
Ia memulai karier di tahun 1998 sebagai reporter di tabloid Kapital, dan selama ia menjalani karier dunia kewartawannya selama 14 tahun, Dandhy telah mencoba hampir semua jenis media: cetak, TV, online, dan lain sebagainya. Namun pada akhirnya, hatinya berlabuh untuk film dokumenter. Padahal di tahun 2008 ia dianugerahi titel jurnalis terbaik oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atas laporan investigasinya tentang Munir.
Ia adalah pendiri rumah produksi Watchdoc, dan menghasilkan banyak karya dokumenter dengan tema-tema seputar isu kemanusiaan.
Beberapa karya Watchdoc yang menyita perhatian publik antara lain Di Balik Tembok Arsip Nasional (2008), Kiri Hijau Kanan Merah (2009), Baret Coklat (2010), dan yang paling menimbulkan kontroversi namun juga dianggap salah satu yang terbaik, Alkinemokiye (2012).
- 69 -
Tahun 2015-2016 Dhandy dan seorang kawan jurnalisnya melakukan perjalanan panjang berkeliling Indonesia dengan memakai sepeda motor dan dinamai Ekspedisi Biru. Ia melakukan dokumentasi terkait isu-isu energi, ekonomi mikro, kearifan lokal, sosial-budaya, dan menghasilkan beberapa film dokumenter pendek yang membahas isu-isu lokal namun sensitif dan berdaya jangkau nasional yang jarang dilaporkan media secara mendalam.
Hingga di umurnya yang mendekati kepala empat, Dandhy masih terus berkarya sambil sesekali menjadi pembicara terkait jurnalisme investigatif di banyak forum. (Tirtoid, 2020)
4.1.3 Sosial
Terkait dengan pembuatan film Kinipan serta setting yang dipilih, maka pada level sosial, peneliti akan menjelaskan tentang negara Indonesia dan aspek-aspek yang berkembang di negara tersebut. Dalam artian bahwa penulis harus peka terhadap permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat dewasa ini. Karena permasalahan sosial akan selalu berkembang dalam setiap jaman. Hal itulah yang membedakan film Kinipan dan film Watchdoc lainnya. Masih segar dalam ingatan, bahwa akses dalam memproduksi film betul-betul terkonsentrasi di tangan para penguasa media dan korporasi pemilik modal. Para produser film, distributor, pengimpor film, juga pemilik bioskop mau tak mau dikelompokkan ke dalam sebuah organisasi atau konsorsium yang direstui pemerintah sebagai kelas “less dominant” di bawah represi Pemerintahan Jokowi. Organisasi semacam itu secara simultan dimanfaatkan sebagai aparatus negara untuk mengendalikan dinamika dunia film Indonesia.
- 70 -
Metode yang digunakan penguasa selalu sama dalam menjaga dan melanggengkan kekuasaan.
Seperti kebijkan pada rezim Jokowi dengan mensahkan beberapa regulasi dan peraturan baru yang dirangkum dalam UUD Ciptaker; dimana masih banyak pro kontra dan kegentingan menghadapi Covid-19. Negara seperti sebuah korporasi besar dimana ia mengambil setiap peluang yang ada untuk melakukan tindakan yang tentu saja bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan. Seperti kutipan dari buku Machiavelli “Orang bijak akan memastikan bahwa tindakannya selalu tampak sukarela dan tidak dilakukan dengan paksaan, betapapun ia terpaksa karena kebutuhan”
(Machiavelli, 1932 : 119)
Hal-hal yang terjadi di rezim Jokowi sangat berhubungan dengan rezim Soeharto yang biasa disebut sebagai rezim orde baru. Contoh paling kecilnya saja dengan diangkatnya Wiranto sebagai Mentri Pertahanan pada awal Jokowi menjabat 2014-2019. Wiranto diduga sebagai dalang atas penghilangan paksa dan pelanggaran HAM berat di Timor Timur (Timur Leste) Sejumlah nama pejabat sipil dan militer yang diduga terkait dengan tragedi itu juga disebut. Salah satunya adalah Jenderal Wiranto.
Sebagai panglima ABRI pada masa itu, ia disebut mengetahui semua pelanggaran yang terjadi. Bahkan, Djoko Soegianto juga mengungkapkan bahwa “aparat sipil dan militer termasuk kepolisian, bekerja sama dengan milisi telah menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan”.
Semua produksi film dengan cermat diawasi dan disensor sejak tahap pembuatan naskah. Para pembuat film diorganisasikan dalam sebuah hierarki karir, sehingga akses pembuatan film ada di tangan mereka yang disetujui pemerintah melalui penyediaan Departemen Penerangan.
(Irwanto 1990:90)
- 71 -
Orde Baru memiliki bentuk kekuasaan yang cenderung represif jika dibandingkan dengan pemerintahan era Reformasi. Orang-orang film takut mengajukan usulan kepada pemerintah, akhirnya mau tak mau pelaku perfilman menjalankan semua kebijakan yang telah digariskan pemerintah Orde Baru itu dengan tertatih dan penuh beban sekaligus kekhawatiran.
Maka perundangan dan hasil kebijakan yang dilahirkan dalam latar belakang pemerintahan dengan kondisi sosial politik yang represif dan hegemonic seperti itu cenderung top-down. Sementara itu undang-undang perfilman yang sifatnya top-down (di era Orde Baru berkuasa) sudah tidak sesuai lagi dengan semangat jaman dan kondisi masyarakat sekarang ini.
Hal ini bisa kita lihat pada produk kebijakan perfilman era Orde Baru yaitu UU No. 8 Tahun 1992 yang ketat, mengikat, topdown mengatur para pelaku perfilman hingga tingkat praktis sekalipun. Hasilnya, perkembangan perfilman nasional terhambat saat itu, hingga pada kondisi yang dapat dikatakan ‘mati suri’.
Pemerintahan era Reformasi dengan agenda politik dan perubahan disana-sini sungguh berat untuk berdiri apalagi berjalan lantaran dibebani dengan amanat desakan keinginan rakyat yang besar, yang telah lama terkungkung di era Orde Baru. Akhirnya perfilman diurus pula oleh pemerintahan yang baru yaitu Reformasi diawali dengan desakan beberapa pelaku perfilman yang telah lama menyoroti usangnya UU No 8 Tahun 1992 buah tangan Orde Baru yang tak lagi relevan untuk dilaksanakan. UU perfilman baru yang mengakomodir aspirasi pelaku perfilman sangat dinanti dan peran Pemerintah begitu ditunggu-tunggu. Cukup lama dari waktu desakan publik film itu melahirkan UU No 33 Tahun 2009.
Lahirnya kebijakan perfilman yang baru, yang menggantikan UU perfilman buatan Orde Baru bukannya melenggang tanpa masalah. Orde reformasi sejak kehadirannya sebenarnya telah menanggung beban berat perombakan sistem tata negara. Dalam arti yang sebenarnya reformasi lahir di dalam kondisi sosial politik yang kronis. Kemudian tumbuh lambat
- 72 -
laun di tengah kondisi masyarakat yang serba curiga. Reformasi lemah pada persoalan ketegasan dan kesigapan mengambil langkah cepat untuk mengatasi masalah-masalah kronis yang ditinggalkan masa pemerintahan Orde Baru. Mengaca dari beberapa hal tersebut, kita dapat mengkaji ulang dalam latar belakang situasi dan kondisi yang bagaimana kebijakan perfilman tersebut dilahirkan, kemudian bagaimana para penguasa mengasuh dan mengelola kebijakan tersebut sekaligus dapat melihat seberapa dalam keikutsertaan pemerintah dalam melahirkan undang- undang.
4.2 Analisis Meostruktur (Discourse Practice)
Tingkatan ini berpusat pada aspek produksi teks (individu) dan aspek konsumsi teks (khalayak). Norman Fairclough mengungkapkan bahwa kedua aspek tersebut berhubungan dengan jaringan yang kompleks.
Dari beberapa faktor yang kompleks, setidaknya ada 3 (tiga) aspek penting. Pertama, sisi individu dan dalam konteks ini adalah Pembuat Film Kinipan. Kedua, penulis dengan struktur organisasi, baik itu sesama produser, sutradara, penulis, dan berbagai crew. Ketiga, praktik kerja mulai dari penulisan, produksi, editing dan hingga muncul di khalayak.
Keseluruhan elemen tersebut merupakan keseluruhan dari praktik wacana yang saling berkaitan dalam memproduksi suatu wacana. (Eriyanto, 2001:317)
4.2.1 Produksi Teks
Norman Fairclough secara sosiologis tidak menyelidiki cara-cara produksi suatu teks. Yang sering terjadi Norman Fairclough mengambil
- 73 -
titik awal linguistik pada teks-teks konkrit, dengan mengidentifikasi wacana apa yang digunakan dan bagaimana wacana itu secara antartekstual menggunakan teks-teks lain. Teks yang lahir merupakan perpaduan antara kondisi sosial yang terjadi pada saat pengambilan gambar di lapangan; karena film Kinipan ialah film dokumenter dan di rekam secara langsung dengan situasi sosial masyarakat yang apa adanya tanpa konsep settingan studio maupun briefing. Selain dari segi sosial yang terjadi, peneliti juga memaparkan latar belakang dari penulis naskah (jika ada) karena hal ini dapat mempengaruhi terciptanya sebuah karya.
4.2.2 Teknisi Produksi
Menggambarkan dan menjelaskan bagaimana suatu wacana kritis yang berusaha dikembangkan film ini, untuk menggambarkan suatu realitas sosial yang saat ini sedang terjadi di tengah masyarakat.
Meskipun watchdoc memiliki 2 sutradara dan sekaligus produser, akan tetapi sosok yang paling mencolok dari semuanya dan pastinya menjadi jantung dan jiwa watchdoc ialah Dandhy Laksono.
Film-film dokumenter Watchdoc selain Sexy Killer juga tidak kalah apik. Tema yang diangkat tak jauh-jauh dari persoalan kesenjangan sosial ekonomi, politik, dan ancaman terhadap kelestarian lingkungan. Beberapa di antaranya adalah Asimetris, yang mengulas industri kelapa sawit dan dampaknya terhadap lingkungan dan kaitannya dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap. Kemudian ada juga film yang bertajuk Rayuan Pulau Palsu. Isinya mengulas tentang pro kontra reklamasi di pantai utara Jakarta. Dandhy juga pernah membuat film Samin vs Semen. Isinya membahas tentang perjuangan masyarakat Samin
- 74 -
yang menentang pembangunan pabrik semen yang mengancam kelestarian lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Ada juga film Kala Benoa yang menyinggung soal pro kontra reklamasi Teluk Benoa, Bali. Dandhy juga mencoba merangkum praktik kearifan lokal masyarakat Indonesia di sejumlah daerah melalui film dokumenter. Beberapa judulnya yakni Made In Siberut, Boti, Gorontalo Baik, Huhate, Kasepuhan Ciptagelar, Baduy, The MAHUZEs dan Lewa di Lembata. Kini Dandhy sebagai ujung tombak Watchdoc ditetapkan sebagai tersangka. Polisi menjeratnya dengan UU Nomor 8 tahun 2016 tentang ITE dan UU Nomor 1 tahun 1946 tentang hukum pidana, karena dianggap menyampaikan ujaran kebencian. Diduga cuitan Dandhy melalui Twitter terkait persoalan Papua dianggap sebagai pangkal persoalan.
(CNN, 2019)
- 75 -
Ada beberapa teknik produksi watchdoc yang seringnya menjadi andalan Dandhy Laksono dalam memproduksi sebuah film dokumenter :
2 Pemilihan waktu penayangan film dokumenter, seperti film dokumenter Sexy Killer yang ditayangkan tepat pada 4 hari sebelum pemilihan presiden. "Saya ingin film ini menjadi perdebatan utama politik," ujar Dandhy Laksono sang sutradara saat ditemui dalam 'Diskusi Publik: Menggugat Sexy Killers bersama Dandhy Laksono di Visinema Campus, Cilandak, Jakarta Selatan, belum lama ini. (Hanif Hawari, 2019)
2. Isu-isu sosial yang dibawakan selalu baru dan hangat, serta diambil dari beberapa perspektif. Penjelasan perspektif ialah bahwa suatu topik khusus dalam film diambil dari sudut pandang beragam.
Contoh paling sederhana ialah pembukaan Tambang Batubara, dimana Dandhy sebagai sutradara dan produser mengambil sudut pandang dari korban terdampak tambang dan korporasi atau investor pengada tambang. Perspektif berbeda tersebut digambungkan dan akan ditarik kesimpulan pada akhir film.
3 Studio Watchdoc sebagai media independent yang memproduksi film dokumenter, watchdoc juga memproduksi musik latar film mereka secara independent. Di balik musik latar yang ada di film- film dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru dan Watchdoc, ada sosok yang bekerja dengan kreativitas penuh energi. Betul, musik yang kami pakai tidak mencomot kanan-kiri, melainkan dikonsep dengan baik oleh seorang independent music arranger and
- 76 -
composer. Perkenalkan, David Suhartoyo. (Ekspedisi Indonesia Biru, 2015)
4 Pola distibusi film watcdoc ialah hal yang paling menarik.
Watchdoc mengadakan Nobar (Nonton Bareng) film dokumenter mereka yang barusan saja selesai dari proses editing di tempat dimana mereka meliput film tersebut. Setelah itu mereka akan menditribusikannya lewat file-file google drive kepada komunitas- komunitas di berbagai kota di indonesia, agar komunitas tersebut bisa mengadakan nonton bareng juga. Sebelum dirilis secara publik melalui platform media sosial (Youtube) Watchdoc terlebih daluhulu menayangkan film dokumenter mereka dengan mengajak komunitas-komunitas penggiat lingkungan di seluruh indonesia untuk nonton bareng.
5 Pemutaran film di daerah pada perjalanan ekspedisi indonesia biru, pada proses perjalanan ekspedisi Dandhy dan Ucok; mereka melaksanakan proses nonton bareng film-film mereka yang sudah selesai mereka edit di perjalanan. Kegiatan nobar tersebut mereka adakan di setiap desa/tempat mereka singgahi dengan harapan orang-orang desa memiliki perspektif persoalan sosial yang terjadi di daerah lain di indonesia.
- 77 - 4.3 Analisis Mikrostuktur (Text)
Tahapan ini memiliki kegunaan untuk menganalisis teks dengan lebih detail supaya memperoleh data yang dapat menggambarkan apa yang menjadi tujuan dalam pembuatan teks (representasi) tersebut. Selain itu juga, akan menjelaskan secara detail mengenai aspek yang dibutuhkan dalam tingkat analisis, yang berisi garis besar atau isi teks, lokasi, sikap, serta tindakan tokoh atau pemeran tersebut dan seterusnya. Norman Fairclough melihat teks dalam beberapa tingkatan. Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana hubungan suatu objek digambarkan tetapi juga bagaimana hubungan antar objek didefinisikan. Ada 3 (tiga) elemen dasar dalam model Norman Fairclough, yang dapat digambarkan dalam tabel berikut:
Tabel Tiga Elemen Dasar dalam Model Norman Fairclogh
Unsur Yang ingin dilihat
Representasi
Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apapun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
(Bagaimana realitas sosial di representasikan)
Relasi
Bagaimana hubungan antar pembuat film/ media, khalayak dan partisipan berita ditampilkan (artis-aktor yang memainkan peran) Contoh: seperti apa teks
- 78 -
disampaikan, secara informal atau formal, terbuka atau tertutup.
Identitas
Bagaimana konstruksi dari identitas pembuat film/ media, khalayak dan partisipan berita (artis-aktor yang memainkan peran ) ditampilkan dan digambarkan dalam teks.
(Junaedi, 289 )
- 79 -
1. Norman Fairclough mengusulkan sejumlah piranti bagi analisis teks, berikut istilah-istilah yang memiliki kecenderungan pada bidang linguistik (Jorgensen, 2007:152).
2. Kendali interaksional, hubungan antara penutur-penutur, termasuk pertanyaan tentang siapa yang menetapkan agenda percakapan (Fairclough, 1992 : 152)
3. Etos, bagaimana identitas dikonstruksi melalui bahasa dan aspek-aspek tubuh (Fairclough, 1992b: 166)
4. Metafora (Fairclough, 1992b: 194)
5. Kata (Fairclough, 1992b: 190)
6. Tata bahasa (Fariclough, 1992b: 158, 169)
Istilah tersebut memberikan wawasan mengenai cara-cara teks memperlakukan peristiwa dan hubungan sosial dan juga mengkonstruksi versi realita tertentu, identitas sosial, dan hubungan sosial.
- 80 - Scene 1
Gambar 1. Basuki Sedang Memegang Mayat Bekantan (Nasalis larvatus)
Scene Gambar Visual Time Dialog
1 1 Basuki sedang
mengangkat mayat Bekantan (Nasalis larvatus) yang hanyut di sungai.
1 : 06 - 1 : 45
Basuki : “orang utan kah yang hanyut?’
Rekan Basuki : “Sepertinya Orang Utan yang hanyut”
Basuki “aduh keknya gajadi jalan kita ni”
Basuki : “bukan orang utan ini pak, ini Bekantan”
Scene saat Basuki memegang bangkai Bekantan
Dalam Scene Satu (1) di awal film dimulai, digambarkan Basuki dalam perjalanan menuju camp untuk mengantarkan bibit pohon untuk
- 81 -
ditanam di area taman nasional. Pada perjalanan rekan Basuki melihat ada bangkai satwa yang hanyut disungai dan diduga kuat bangkai Orang Utan (Pongo pygmaeus).
Setelah berbalik arah menggunakan perahu yang lebih kecil, basuki melihat dan menghampiri bangkai tersebut. Tetapi dugaan rekannya keliru, dikarenakan bangkai yang hanyut tersebut ialah bangkai Bekantan (Nasalis larvatus).
Ada pesan kuat yang peneliti tangkap dari scene ini, sebab kenapa sutradara Dandhy menempatkan scene ini di awal film. Alasannya adalah karena scene ini ialah scene masalah inti dari film; dan ditepatkan di awal sebagai pengantar film. Karena pada pertengahan film, penonton akan disuguhkan sebab dan akibat kematian satwa ini.
Kekecewaan juga ada pada reaksi Basuki ketika ia berkata “aduh keknya gajadi jalan kita ni” disini peneliti simpulkan bahwa reaksi basuki ialah reaksi kekecewaan yang biasa. Kenapa disebut “biasa” karena kematian satwa yang dilindungi bukanlah hal yang tabu lagi di Taman Nasional Tanjung Puting tempat basuki menetap.
Dikarenakan ada data mengenai kematian satwa di Taman Nasional Tanjung Puting dari Ramadhani; Manajer Perlindungan Habitat, Centre for Orangutan Protection (COP) Yogyakarta, dalam siaran pers, Kamis (5/7/18) mengatakan, dari 14 temuan orangutan mati itu tak ada satupun diungkap tuntas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
(Mongabay, 2018)
- 82 - Scene 2
Gambar 2. Mayat Orang Utan yang hanyut di tanggul perusahaan sawit
- 83 -
Gambar 3. Zoom out lokasi kematian Orang Utan pada Gambar (2)
- 84 -
Pada scene (2) dua diperlihatkan ada bangkai satwa langka yaitu orang utan yang tergeletak di kanal buatan perusahaan sawit. Dimana ini menjadi pemandangan yang ironis sekali, karena kematian satwa yang dilindungi sekaligus langka kerap terjadi di lingkungan taman nasional tanjung puting. Adegan tersebut sangat tidak asing bagi orang seperti Basuki yang telah lama menjadi aktivis lingkungan di tanjung puting.
Menjadi kritik besar bagi pemangku kebijakan, bagaimana mereka seharusnya memiliki kuasa untuk melakukan upaya perlindungan terhadap satwa langka yang dilindungi. Bukan malah memberikan izin korporasi untuk merenggut ruang hidup satwa.
Scene Gambar Time Visual Dialog
2 2 5 : 42 Bangkai Orang Utan yang dilindungi terlihat di tanggul perusahaan sawit yang bersebelahan dengan taman nasional Tanjung Puting
Narator : “Bagi Basuki kehilangan satu ekor satwa,berati kehilangan kawan yang ikut menyebarluaskan benih pohon, lewat kotoran ke seantero hutan”
2 3 5 : 52 Zoom out mengenai letak bangkai ditemukan dan peneliti tandai dengan lingkaran berwarna merah.
- 85 -
Sesuai dengan kata-kata yang diucapkan narator pada scene tersebut, bahwa kehilangan satwa ialah berarti akan kehilangan hutan dan keberlangsungan hidup manusia kedepannya.
Scene 3
Gambar 4. Reboisasi Hutan
- 86 -
Gambar 5. Hasil Reboisasi 15 tahun lalu
Scene Gambar Time Visual Dialog
3 4 & 5 8 : 40 – 9 : 30 Gambar ke empat (4) Basuki dan relawan taman nasional melakukan reboisasi di bekas hutan yang terbakar pada kebakaran hebat 2015 di taman nasional tanjung puting.
Gambar ke lima (5) Menunjukkan lahan yang di reboisasi oleh Basuki dan staff-
Narator : “mereka berbagi mimpi yang sama, yaitu kembalinya hutan seperti semula.
Narator : “Basuki lalu menunjukkan lokasi dimana mereka pernah menanam 15 tahun sebelumnya”
- 87 -
Pada gambar (4) dan (5) di scene (3) tersebut menjelaskan bahwa reboisasi hutan akan melahirkan bio-diversitas baru atau lingkungan baru yang nantinya akan ditempati oleh satwa liar kembali. Pada dialog pengantar yang di ucapkan oleh narator sudah cukup menunjukkan bahwa hutan yang telah rusak dan terbakar bisa menjadi hutan kembali jika ada upaya dari orang-orang yang mau dan bersukarela seperti Basuki. Pada akhirnya semuanya reboisiasi terbukti berhasil, meskipun belum sepenuhnya kembali seperti hutan sepenuhnya; Basuki secara tidak langsung membuktikan bahwa manusia bisa menghidupkan kembali apa yang telah lama mati.
staffnya pada 15 tahun yang lalu sekarang pohon-pohonnya sudah membentuk bio- diversitas yang baru.
Basuki : “Saya disini dihadapkan pada realita bahwa, kawan dan staff semua disini adalah orang lokal dan mereka tidak punya banyak pengalaman. Mereka semua adalah para penebang liar sebelumnya, 2003 tempat ini masih tempat yang kosong habis terbakar dan cuma ada ilalang.
Kemudian kami datang ketempat ini dan membawa konsep bahwa, kami akan mengembalikan tempat ini kembali menjadi sebuah hutan seperti semula”
- 88 - Scene 4
Gambar 6. Kulit Harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica)
Gambar 7. Penjelasan Petugas pengelola taman nasional Kerinci Seblat
- 89 -
- 90 -
Scene Gambar Time Visual Dialog
4 6 & 7 14 : 00 – 14 : 47
Temuan kulit harimau sumatra (Panthera tigris sondaica)
Dari tersangka penyelundupan satwa liar di bengkulu
Percakapan Feri Irawan dengan petugas taman nasional kerinci seblat tentang rentang usia harimau dan jenis kelaminnya.
Feri : “Seberapa besar pak? Seberapa panjang?
Petugas : “ini panjang 180 Cm”
Feri : “Jenis Kelamin?”
Petugas : “Laki-Laki”
Petugas : “Kita amankan dari pelaku penyelundupan”
Feri : “Usia berapa ini pak?”
Petugas : “Ini Kemungkinan berusia 2 Tahun dan sudah dewasa. Jadi kalau ukuran 180 Cm berarti dia (Harimau) telah dewasa”
Narator : “Di Taman Nasional Kerinci Seblat diperkirakan Cuma bersisa 40 sampai 80 ekor harimau tersisa; seluruh sumatra tersisa 400 Ekor. Artinya hanya ada kemungkinan
- 91 -
Pada gambar (6) & (7) scene ke-4 berbeda dari scene ke-3, karena lokasinya sudah berbeda pulau. Scene ke-3 di pulau kalimantan dan scene ke-4 ada di pulau Sumatra di Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada scene ke-4 gambar ke (6) & (7) ada point penting yang diperoleh, ialah bahwa kemungkinan rata-rata harimau yang diambil kulitnya berusia 2 tahun dan telah menginjak usia dewasa.
Dialog percakapan Basuki dan Petugas juga menyebutkan bahwa
“Kulit disita dari tersangka penyelundup” semakin menunjukkan bahwa Harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica) sudah sangat langka dan terancam punah. Diakarenakan habitatnya yang tergerus oleh pembalakan liar, perburuan satwa, dan karena gusuran dari populasi manusia semakin membeludak, sehingga mempersempit habitat Harimau Sumatra. Pada akhirnya, tak ada tempat aman bagi raja hutan di pulau sumatra.
berjumpa 1 ekor harimau di sekitar 1200 Km2 ; berarti sama dengan 2x luas Jakarta”
- 92 - Scene 5
Gambar 8. Protes di depan kantor Wilmar eropa
Gambar 9. Feri dan Masyarakat Adat didepan kantor Wilmar
- 93 -
Pada scene 5 gambar 8 & 9 Feri sebagai aktivis lingkungan pergi ke eropa dengan dana urunan dari berbagai NGO pemerhati lingkungan. Feri pergi ke eropa dan langsung menuju kantor Nestley dengan berdemo di depan kantornya, menyerukan beberapa tuntutan yang salah satunya ialah agar Nestley berhenti melakukan permintaan minyak sawit-nabati dari perusahaan..multinasional..Wilmar..Group.
Pesan dan Makna yang bisa diambil dari kasus yang ditangani Feri diatas adalah massivenya permintaan dari perusahaan internasional akan juga menyebabkan dampak yang besar di indonesia. Penyebabnya dikarenakan perusahaan sawit Wilmar mengimport sejumblah banyak jenis minyak sawit dengan harga murah dan membebankan masalah lingkungan kepada warga disekitar perusahaan. Seperti adalah sebuah takdir bahwa menjadi masyarakat lokal di era teknologi akan mendatangkan lebih banyak kesengsaraan bagi kehidupan mereka.
Scene Gambar Time Visual Dialog
5 8 & 9 17 : 00 –
17 : 30
Feri Protes di depan kantor Nestley sebagai perusahaan paling banyak mengkonsumsi minyak nabati dari bahan baku minyak kelapa sawit.
Wakil pembicara dari perusahaan multi nasional Nestley keluar dengan kenginan untuk menjelaskan bahwa kesepakatan tentang masalah hutan dan tanah masyarakat adat sudah diperbincangkan
dengan Wilmar, tetapi masyarakat adat menolak negosiasi dengan Wilmar.
- 94 - (Lokadata Id, 2019)
Scene 6
Gambar 10. Basuki Mendata Jenis Kayu
- 95 -
Gambar 11. Lahan Tempat Basuki Mendata Kayu
Scene Gambar Time Visual Dialog
6 10 & 11 32 : 20-
33 : 00 Gambar setelahnya adalah pembukaan lahan yang luas oleh perusahaan sawit PT. SML (Sawit Mandiri Lestari) diduga dari pengakuan Effendy Buhing, lahan adat mereka diserobot paksa oleh perusahaan dengan kerugian sekitar 3000 Hektare.
Basuki :”Termasuk benteng terakhir pak Buhing.
Effendi : “Iya”
Basuki : “Karena kalau lepas disini, habis.
Narator : “Effendi Buhing dan warga Dayak Tomun
- 96 -
dari desa Kinipan mengaku telah kehilangan 3000 Hektare hutan yang telah dibabat untuk perkebunan sawit.
Pada Scene (6) gambar (10) & (11) digambarkan bahwa Basuki dan Effendi Buhing sedang mengambil beberapa foto kayu yang telah dipotong oleh perusahaan sawit PT.SML. Sembari mengambil foto, Basuki mengatakan bahwa “ini adalah benteng terakhir” yang artinya bisa disimpulkan hutan desa Kinipan akan menjadi benteng terakhir hutan primer di Kabupaten Lamandau.
Eksploitasi dan pembabatan hutan secara massive juga diungkapkan oleh Eddendy Buhing pada dialog-dialog yang disampaikan oleh narator pada gambar (11). Pembabatan hutan ini merugikan masyarakat desa Kinipan dengan hilangnya 3000 Hektar hutan adat yang telah mereka kelola dari generasi ke generasi. Menyempitnya ruang hidup yang hijau, akan berdampat di sektor ekonomi masyarakat adat desa Kinipan.
Meskipun perusahaan menawarkan pekerjaan dengan gajih yang besar, tetap saja menurut masyarakat adat hutan adalah harta yang takkan pernah bisa digantikan dengan apapun.
- 97 - Scene 7
Gambar 12. Masyarakat adat mengusir para utusan PT.SML
Gambar 13. Mengusir sekelompok orang utusan PT.SML (2)
Scene Gambar Time Visual Dialog
7 12 & 13 33 : 11 –
33 : 20 Masyarakat penjaga hutan adat Kinipan mengusir orang-orang
Masyarakat Adat: “Tanah ini milik Kinipan, Pergi kalian semua A*jing! Ini
- 98 -
utusan PT.SML yang ingin melakukan pengukuran dan penggarapan lahan menggunakan
bulldozer.
hak Kinipan, kalian pulang semua; pulang sana pulang!”
Effendi :”Siapa yang suruh garap dan turunkan Bulldozer ini?!
Di scene (7) pada gambar (12) & (13) digambarkan bahwa terjadi konflik disebabkan oleh penolakan warga adat dayak Tomun yang menolak penggusuran lahan secara sepihak oleh pihak perusahaan sawit PT. SML. Adegan-adegan dalam film Kinipan memperlihatkan bahwa mereka menolak serta mengusir orang-orang suruhan dari PT. SML, karena menurut masyarakat adat; tanah kinipan adalah titipan dari nenek moyang mereka dan akan selalu begitu sampai kapanpun.
Kejadian-kejadian ini menambah rentetan konflik agraria di indonesia, sudah tidak terhitung banyaknya konflik-konflik yang disebabkan oleh pengambilan hak atas tanah secara sewenang- wenangnnya oleh korporasi maupun dengan adanya campur tangan aparatur negara dalam mengamankan pengambilan tanah dan hak masyarakat adat.
Seharusnya masyakat adat dilindungi dan di fasilitasi oleh pemerintah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di indonesia, bukan
- 99 -
sebaliknya. Kuasa memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan ketentraman maupun perpecahan karena kepentingan beberapa kalangan.
Scene 8
Gambar 14. Pos jaga Hutan dari atas
- 100 -
Gambar 15. Pos jaga Hutan dari depan
Scene Gambar Time Visual Dialog
8 14 34 : 26
Pos jaga hutan yang dibangun oleh masyarakat adat kinipan dari atas
Narator : “Orang-orang kinipan lebih sering berjaga di pos-pos jaga hutan yang mereka buat secara gotong royong”
15 34 : 34 –
36 : 00 Pos jaga hutan yang dibangun oleh masyarakat dayak tomun desa kinipan dari depan
Effendi Buhing : “Pak presiden, pak Jokowi ini adalah orang Kinipan yang menjaga hutannya, kementrian lingkungan hidup dan kehutanan juga perhatikan; kami mati matian menjaga hutan tapi kenapa pemerintah mengeluarkan izin terus untuk hutan kami. Oleh sebab itu pak jokowi, tolonglah kami, kami mati- matian menjaga hutan untuk anak cucu kami dan juga untuk Co2.
Kepada pak jokowi sendiri juga menghirup udara dari hutan-hutan ini pak, kalo seluruh hutan ini habis bukan hanya pak jokowi yang akan mati, kami semua juga akan mati. Tapi kami sudah mati saat ini pak, mati usaha kami, kami tidak bisa lagi berladang, kami tidak bisa lagi berburu, kami tidak bisa lagi mengambil air disungai karena sungai kami sekarang keruh. Hanya untuk kepentingan pihak investor yang tidak menguntungkan kami.
Menjanjikan kesejahteraan tapi kesengsaraan yang kami dapat.
Oleh sebab itu perhatikan kami pak, setiap hari kami menjaga hutan ini pak terus kenapa pemerintah berdiam diri dan tidak memperhatikan kami, tidak perduli dengan kami. Apakah hutan ini harus kita habiskan biar kita mati semua?!”
- 101 -
Pada scene (8) di gambar (14) menunjukkan pemandangan dari atas bahwa posko yang dibangun oleh masyarakat adat menghalangi jalan masuk untuk alat-alat berat, bisa diartikan sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk kegiatan yang akan dilakukan oleh PT. SML yaitu mengambil tanah adat yang dimiliki orlh masyarakat adat Kinipan.
Gambar (15) ada salah satu tokoh pelopor gerakan penolakan yaitu Effendi Buhing. Effendi mengeluarkan pidato pernyataan tentang bagaaimana situasi dan kondisi yang dihadapi masyarakat adat kinipan pada saat itu.
Inti dari pernyataan effendi buhing ialah berharap ada tindakan tegas dari pemerintah tentang tanah adat kinipan yang diambil secara sepihak oleh korporasi dengan bantuan-bantuan aparat.
Pernyataan effendi buhing berarti mereka semakin terdesak oleh perusahaan sawit dan dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin hari semakin menggerogoti masyarakat adat laman Kinipan. Seharusnya pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan sebagai penguasa, tidak pernah tunduk terhadap korporasi dalam bentuk apapun.
- 102 -
Scene 9
Gambar 16. Polisi Mendatangi rumah Effendi Buhing
Gambar 17. Polisi Membawa paksa Effendi Buhing
- 103 -
Gambar 18. Effendi Buhing dibawa paksa kedalam mobil
Scene Gambar Time Visual Dialog
9 16 36 : 05 Beberapa polisi berpakaian preman membawa surat penangkapan tertuju kepada Pak Effendi Buhing
Polisi : “Kami datang dengan tuduhan terdap bapa dengan kasus perampasan alat pemotong kayu”
Effendi :”Bapak tau saya merampas kapan?!”
Polisi :”Nanti bapak ikut kami dahulu dan kami akan mintain keterangan dulu”
Effendi : “ngapain, kan bisa dimintain dan ngisi keterangan disini, ngapain harus bawa saya?”
- 104 -
17 36 : 58 Pak Effendi Buhing meronta tak ingin dibawa oleh anggota polisi
Narator : “Video yang direkam oleh istri Effendi Buhing ini dengan cepat menyebar”
Istri Effendi : “Pak effendi bukan penjahat pak!”
18 37 : 05 Effendi Buhing dikawal ketat oleh beberapa anggota kepolisan dengan senjata laras panjang di masing- masing anggotanya.
Istri Effendi : “Aduh mati aku mati! Bapak!”
- 105 -
Scene (9) pada gambar (16) dengan jelas menunjukkan Effendi didatangi oleh beberapa anggota kepolisian dengan membawa surat penangkapan dengan dalil pencurian alat pemotong kayu. Gambar selanjutnya, yaitu gambar (17) dan (18) terlihat bahwa Effendi Buhing diseret dengan paksa oleh anggota kepolisan, bahkan sebelum ia bisa menjelaskan dan tanpa surat panggilan.
Beberapa adegan yang terlihat di scene (9) menunjukkan dengan jelas bahwa hukum tunduk dan mengayomi penguasa/pemodal. Terlihat bahwa beberapa polisi juga membawa senjata laras panjang lengkap yang seharusnya tidak perlu, diakarenakan tersangkanya cuma satu orang yaitu Effendi Buhing. Bisa diartikan bahwa hukum di indonesia sekarang tumpul keatas dan runcing kebawah.
Scene 10
Gambar 19. Effendi Buhing di televisi nasional