BAB V. SUMBER DAYA ALAM, TEKNOLOGI DAN INDUSTRI 5.1 Sumber Daya Alam Di Bidang Per tanian
C. Bidang Teknologi Pengelolaan Tanah Dan Air di Bidang Pertanian Bila disimak keadaan iklim di Indonesia maka negar a kita sangat
7. Teknologi Budidaya Tanaman Padi Sawah S ystem Of Rice I ntensification ( SRI )
Akhir -akhir ini ber kembang suatu teknologi hemat air di lahan saw ah yang dikenal sebagai Syst em of Rice Int ensificat ion (SRI). Mekanisme dar i SRI adalah mengelola daer ah per akar an tanaman padi saw ah secar a ter padu dar i aspek air , tanah, har a dan tanaman dengan member ikan air sehemat mungkin. Pember ian air ir igasi menggunakan sistem int er mit t ent (ber selang), dan keter paduan aspek tanah, har a dan tanaman tetap diper hatikan sehingga pr oduksi dapat dijaga.
Dalam keter batasan air ter utama pada tanaman padi saw ah dimusim kemar au, dihar apkan luas ar eal tanaman padi saw ah tidak akan ber kur ang dibandingkan menggunakan sistem konvensional. SRI dihar apkan mer upakan alter natif untuk menjaga keter sediaan air ser ta dapat meningkatan pr oduksi padi. Ditinjau dar i sisi dana maka SRI mer upakan pula suatu upaya optimalisasi sumber dana, kar ena dengan menggunakan SRI tidak per lu menambah kegiatan peningkatan dan pembangunan jar ingan ir igasi bar u.
Sampai saat ini SRI ter us dikembangkan sebagai salah satu teknologi tepat guna yang dapat dilakukan oleh petani lahan saw ah. Sobar i , (2008)
107
ber pendapat bahw a khusus untuk jaw a Bar at pola pengelolaan ir igasi SRI di lahan saw ah adalah sebagai ber ikut:
1. Kondisi air di lahan saw ah diber ikan macak-macak sampai keadaan tanah r etak r ambut (kadar air tanah mencapai 80% dar i kadar air jenuh lapang) kemudian tanah diair i kembali sampai macak-macak. Keadaan ini diper tahankan sampai per iode vegetatif dan per tumbuhan anakan (umur tanaman antar a 45 sampai 50 har i setelah tanam). Penger ingan lahan pada per iode vegetatif tanaman padi sawah ber tujuan untuk menciptakan aer asi yang baik di daer ah per akar an sehingga mer angsang per tumbuhan tanaman ser ta anakan.
2. Bila jumlah anakan ter lalu banyak dapat dilakukan pengur angan dengan car a sebagai ber ikut: (i) lahan saw ah digenangi sampai 3 sentimeter selama beber apa har i atau (ii) lahan saw ah diker ingkan sampai tanah r etak selama beber apa har i.
3. Penyiangan padi dilakukan dua kali, maka pada saat penyiangan air ir igasi diber ikan sampai penggenangan 2 sentimeter , keadaan ini dimaksudkan agar memudahkan peker jaan penyiangan. Setelah peker jaan penyiangan selesai keadaan saw ah dibiar kan kembali dengan macak-macak.
4. Pada w aktu mulai fase pembungaan (50 sampai 70 har i setelah tanam), sampai keadaan bulir padi matang susu (71 sampai 95 har i setelah tanam) ir igasi lahan saw ah diper tahankan macak-macak. Pada fase ini tanaman padi sangat r entan dengan kekur angan air sehingga agar lebih aman penggenangan air dapat di ber ikan setinggi 2 sentimeter .
5. Pada masa pemesakan atau penguningan bulir padi seyogyanya air sudah tidak per lu lagi diber ikan. Keadaan ini ber tujuan akan: (i)
108
memper cepat pematangan padi, (ii) Menghindar i ker ebahan, (iii) memper mudahan peker jaan panen dan (iv) menghindar i penyakit kuning pada bulir padi (Nur pilihan 1989).
Semua teknologi yang dijelaskan di atas memer lukan keter ampilan (skill) ; sumber daya manusia selaku pengguna teknologi tepat guna dituntut untuk mengetahui kar akter istik dar i tanaman kar ena tidak semua teknologi pember ian air cocok bagi setiap tanaman. Misalnya keter batasan ilmu pengetahuan dan teknologi par a petani untuk menggunakan teknologi TOT dan TABELA atau menggunakan teknologi pember ian air macak-macak , maupun teknologi ir igasi kendi akan ber pengar uh pada pr oduksi tanaman yang diusahakan.
Tanaman padi saw ah sangat sensitif dengan kekur angan air pada masa pr imor dia dan masa bunting; maka bila pada fase tumbuh ter sebut air tidak dapat dipenuhi secar a optimal menyebabkan bulir padi tidak ber isi atau hampa.Kesalahan petani dalam menentukan w aktu yang tepat untuk menentukan masa pr imor dia dan masa bunting akan ber akibat tr agis ter hadap pr oduksi padi saw ah. Biasanya par a petani tidak ingin mengambil r esiko dengan belajar untuk memahami masa-masa per iode tumbuh tanaman padi; atau tidak ingin susah sehingga air yang diber ikan menggunakan cont inous flooding syst em (sistem penggenangan secar a ter us mener us). Metode penggenangan air irigasi ter us mener us dapat dilakukan bila air yang ter sedia memenuhi kebutuhan air tanaman atau dengan kat a lain cocok untuk musim hujan.
Per encanaan alokasi pember ian air baik di lahan saw ah maupun di lahan ker ing ber dasar kan analisis kebutuhan air sangat diper lukan agar keter sediaan air tidak mengganggu pertumbuhan tanaman yang pada gilir annya pr oduksi tanaman dapat maksimal. Per encanaan alokasi
109
pember ian air selayaknya dir ancang agar tanaman tidak mengalami cekaman air (kekur angan atau kelebihan air ).
Dar i contoh-contoh teknologi pember ian air yang tujuannya untuk menghemat air baik di lahan ker ing maupun di lahan basah (saw ah) dapat disimpulkan bahw a:
1. Teknologi yang dibahas di atas ter bukti dapat menghemat air; dapat membantu alokasi pember ian air ter utama pada w fnmusim kemar au; 2. Semua teknologi di atas dapat digunakan oleh petani, kar ena tidak
r umit,khusus untuk padi saw ah per lu dipahami per iode tumbuh tanaman yang akan menyangkut kapan air dibutuhkan dan kapan air tidak banyak dibutuhkan ser ta kapan air tidak dibutuhkan.
3. Per lu sosialisasi secar a ter us mener us di tingkat petani mengenai per lunya penggunaan hemat air di lahan per tanian; tidak ber ar ti bahw a pember ian air yang ber lebihan akan selalu menaikkan pr oduksi tanaman. Nakaboshi syst em atau mid season yang dilakukanpetani padi di Jepang ter nyata dapat menai kkan pr oduksi padi sampai 30%.
4. Pemilihan teknologi pember ian air sangatlah ter gantung pada kondisi setempat yang mencakup faktor iklim ter utama cur ah hujan, jenis dan tekstur tanah, tanaman ser ta sumber daya manusia.
5. Khusus pengelolaan per tanian lahan ker ing per lu dir encanakan pola tanam yang ber dasar kan keter sediaan air di dalam tanah ser ta teknologi pember ian air yang tepat dengan memper timbangkan faktor-faktor sosial, teknis dan ekonomi.
111