• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN KERANGKA BERPIKIR

F. Teknik Analisis Data

2. Teks Serat Wedha Tama

Ditinjau dari makna “katanya”, Wedha Tama berasal dari rangkaian dua

kata yaitu : Wedha berarti ngelmu, paugeran, tuntunan atau kawruh (Bahasa

Jawa) = pengetahuan, ilmu atau ajaran. Dan Tama berarti misuwur, sae

(Bahasa Jawa) = utama, baik atau luhur (Pradnya Paramita, 1984 : 1). dari

rangkaian dua kata tersebut di atas maka Wedha Tama berarti suatu ajaran

tentang ilmu menghadapi hidup dan cara – cara bersikap baik untuk dirinya

sendiri, terhadap lingkungan masyarakat maupun dengan Tuhan Yang

Mahaesa.

Menurut Yayasan Mangadeg (Badan Organisasi Istana Mangkunagaran)

ajaran Wedha Tama semula ditujukan kepada putra–putri Mangkunagaran,

supaya dalam menempuh hidup, dan dalam bermasyarakat mampu

menunjukkan sikap – sikap yang utama, sesuai dengan kedudukannya sebagai

universal, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun dan berlaku sepanjang

masa.

Dr. S. De Jong seorang Doktor dari Universitas di Amsterdam negeri

Belanda dalam tulisannya yang berjudul “Een Javaanse Levanshouding”

menulis bahwa Serat Wedha Tama berisi petunjuk praktis bagaimana orang –

orang priyayi perlu mengatur hidupnya agar mampu menjalankan perannya.

Bahkan di dalam tulisan itu dikutip beberapa bait tembang yang menunjukkan

betapa menariknya Wedha Tama tersebut. Beberapa mahasiswa asing yang

ada di Sala hilir mudik di Mangkunagaran juga antara lain ada yang tertarik

akan keagungan Serat Wedha Tama.

Namun sedemikian jauh belum dapat ditentukan kapan Serat Wedha

Tama ini ditulis. Sebab di dalam Wedha Tama tak dituliskan tahun

pembuatannya. Hal ini lain sekali dengan karya – karya lain yang biasanya

disisipkan di dalamnya candra sengkala (kalimat yang bermakna angka tahun).

Seperti misalnya Serat Wedha Tama karangan Ranggawarsita. Pada bait

terakhir ada kata – kata yang berbunyi : “Trusing rong sapteng lebu, Ki

Pujangga panggupitanipun...” (Masuk ke dalam lubang sampai mencapai

tanah, demikian Ki Pujangga dalam mencipta karyanya...). Trusing rong

sapteng lebu merupakan candra sengkala tahun pembuatannya kani 1799.

Dalam Serat Aji Pamasa juga dapat ditemukan kapan pembuatan karya

tersebut, yaitu disembunyikan dalam sengkalan “janma trus kaswareng

Dalam Wedha Tama hal demikian tidak ada, sehingga sulitlah untuk

menentukan kapan karya ini dibuat. Namun demikian dapat diperkirakan,

bahwa Serat Wedha Tama ditulis sewaktu berkuasanya K.G.P.A.A.

Mangkunagara IV antara tahun 1782 – 1810 tahun Jawa atau tahun Masehi.

Serat Wedha Tama memiliki dua jenis naskah yang menampilkan

beberapa perbedaan. Namun pada garis besarnya perbedaan – perbedaan

tersebut meliputi dua hal yaitu :

1.a. Perbedaan mengenai jumlah pupuh lagu dan jumlah pada bait. Pupuh I :

Pangkur 14 bait, pupuh II : Sinom 18 bait, pupuh III : Pocung 15 bait dan

pupuh IV : Gambuh 25 bait semuanya berjumlah 72 bait.

b. Sementara itu dalam naskah yang lain disusun sebagai berikut : Pupuh I :

Pangkur 14 bait, pupuh II : Sinom 18 bait, pupuh III : Pocung 15 bait,

pupuh IV : Gambuh 35 bait dan pupuh V : Kinanthi 35 bait sehingga

semua berjumlah 100 bait.

c. Secara universal yang telah diakses 6 Juni 2006 dari internet dalam

(http://www.wikipedia.javapalace.org. Sastra Jawa Anyar. 30 halaman)

merupakan hasil karya sastra K.G.P.A.A. Mangkunagara IV berjudul

SeratWedha Tama berjumlah 100 bait.

2. Perbedaan mengenai bunyi teks dalam salah satu pada, tertulis : “Jagat

agung ginulung lan jagat alit”, sementara dalam naskah lain tertulis :

“jagat agung ginulung lan jagat cilik.” Jika perbedaan itu dipersempit

akan jelas tampak yaitu pada pasangan kata “agung-alit” dengan “

Sebegitu jauh mengenai kedua perbedaan tersebut, belum ada penelitian

yang seksama tentang ketidakpastian jumlah pupuh dan bait dalam naskah

Wedha Tama ini. Namun demikian Anjar Any dalam bukunya yang berjudul

“Menyingkap Serat Wedha Tama” berpendapat bahwa Wedha Tama yang asli

adalah 72 bait dengan alasan :

1. Dalam buku bertuliskan huruf Jawa yang didapatkannya di Museum

Mangkunagaran, setelah bait 72 ada tanda iti artinya selesai. Kemudian

pada halaman sebaliknya ada keterangan “sambungan dari Serat Wedha

Tama, yang berdiri sebagai judul tersendiri dan pada akhir bait yang ke 100

ada tanda iti lagi.

2. Ditinjau dari kebiasaan dalam pemakaian kata, antara 72 bait di depan

dengan 18 bait terakhir ada perbedaan.

3. Pada bait 1 – 72 jika akan berganti tembang tentu ada kode, misalnya :

“mulane wong anom sami, ...” tanda akan berganti tembang Sinom.

“Tur wus manggon pamucunge mring makripat, ...” tanda akan berganti

jenis tembang Pocung dan seterusnya. Tetapi pada bait ke 73 dan

seterusnya, ketika akan masuk atau berganti jenis tembang Kinanthi tidak

ada kode seperti di atas. Hanya setelah menginjak baru ditunjukkan

“mangka kanthining tumuwuh, ...” demikianlah sehingga Anjar Any

berkesimpulan bahwa Wedha Tama yang asli adalah yang 72 bait, sedang

yang 18 bait adalah tambahan.

Lebih jauh dikatakan bahwa pihak Mangkunagaran sendiri sebagai

sebuah terbitan resmi Mangkunagaran yang berjudul “Serat – serat Anggitan

Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara IV” jilid III,

Noordholff Kolf, Jakarta 1953, keragu – raguan itu masih tampak tercantum

pada halaman 131, dalam satu catatan kaki yang berbunyi “Sawenehing serat –

seratan wonten sambetipun Serat Wedha Tama, ungelipun kados ingkang

cumandhak ing suwalik punika” (sementara tulisan ada sambungan Serat

Wedha Tama, bunyinya seperti yang tercantum pada halaman berikut), lalu

disusul dengan tambahan 10 bait Gambuh dan 18 bait terdapat satu tanda iti

yang harus diartikan bahwasanya Serat Wedha Ta ma itu sudah tamat.

Dari keragu – raguan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak

Mangkunagaran tidak atau sekurang – kurangnya belum pernah menyatakan

dengan tegas bahwa 10 bait terakhir dari pupuh Gambuh dan 18 bait Kinanthi

itu merupakan teks resmi. Sebaliknya yang sudah diakui secara resmi adalah

teks yang berakhir dengan pupuh IV Gambuh 25 bait.

Atas dasar pemahaman dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan

bahwa teks resmi Wedha Tama adalah yang sampai pada pupuh IV Gambuh 25

bait. Hal ini oleh Ki Padmasusastra juga ditegaskan dalam kumpulan sastranya

yang berjudul “Serat P iwulang Warna – warni anggitan Dalem Sawargi

K.G.P.A.A. Mangkunaga IV” cetakan ke 2 Albert Rusche & Co, Surakarta

1906, mencantumkan juga Serat Wedha Tama, penutupnya juga Gambuh 25

bait. Demikian juga dengan naskah tua bertulis tangan yang tersimpan di

bagian naskah Museum Pusat dengan nomer kode Br. 651, sesudah bait yang

Dengan demikian dari ketiga contoh di atas, baik terbitan resmi

Mangkunagaran, hasil pengumpulan Ki Padmasusastra maupun naskah koleksi

di Museum Pusat Jakarta sudah memadahi sebagai bukti “Iti” pada bait 25

Gambuh. Satu hal lagi yang dapat dipakai sebagai alasan keragu – raguan

menerima atau menganggap resmi bahwa Wedha Tama terdiri atas lima pupuh

(100 bait) adalah Isi Wedha Tama sampai pupuh IV Gambuh bait 25 itu sudah

benar – benar memet (tinggi sekali) serta momot (luas dan lengkap).

Sedangkan tambahan 10 bait Gambuh dan 18 Kinanthi terasa ringan seperti

malah mencairkan apa yang sudah memet dan momot, (Pradnya Paramita, 1984

: 71).

Dokumen terkait