BAB I PENDAHULUAN
1.4 Tinjaun Pustaka
1.4.3 Tekstil/Kain Tenun Tradisional Masyarakat Batak
Kata “tekstil” berasal dari Bahasa Latin “textilis”; yang merupakan penurunan dari kata “textere”, yang berarti “menenun” (Subagiyo 2017: 3). Kain atau tekstil pada mulanya diciptakan untuk melindungi tubuh manusia dari gangguan cuaca atau alam disekitarnya; kemudian berkembang menjadi pelengkap dalam upacara, rumah tangga, sebagai simbol kebesaran pemakai, dan media ekspresi seni. Kain tenun/tekstil memiliki banyak sisi (multi-facet), yang meliputi: antropologi (sosial dan budaya) – karena dapat menunjukkan tata-nilai atau adat istiadat dari suatu masyarakat, atau arkeologi – karena dapat melahirkan sejumlah informasi dan eksplanasi dasar pada evolusi budaya. Kain tenun/tekstil dapat pula menunjukkan informasi teknologis karena proses pembuatannya menerapkan sejumlah teknik, seperti: teknik tenun dan pewarnaan.
Tenun dalam KBBI (2021) diartikan sebagai hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya) dengan cara
8 Irwan Abdullah dalam buku Konstruksi dan reproduksi kebudayaan(2006)
9Richard Jenkins dalam bukunya Identitas Sosial (2008)
13
memasuk-masukkan pakan (benang) secara melintang pada lungsin (benang yang membujur pada barang tenunan) di abah-abah (alat, perkakas).
Rytha Tambunan (2011) menjelaskan pengertian bertenun secara teoritis dan praktek pertenunan berarti proses membuat ayaman benang dengan alat tenun untuk menghasilkan dengan spesifikasi tertentu. Bertenun adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat bertenun adalah suatu hasil gerak silang – menyilang benang lungsi (wrap) arah vertikal diatas dan dibawahnya benang-benang pakan (weft) arah horizontal secara terus menerus dan teratur, berulang kali dengan gerakan-gerakan yang sama, menjadikannya kain dan mempunyai suatu bentuk motif sehingga kain tenun itu sering dinamami sesuai dengan jenis anyaman yang di gunakan.
Kain Tenun atau tekstil pada mulanya diciptakan untuk melindungi tubuh manusia dari gangguan cuaca atau alam sekitarnya, kemudian berkembang menjadi perlengkapan dalam upacara adat istiadat, keperluan rumah tangga, sebagai simbol kebesaran pemakai, dan juga media ekspresi seni. Kain tenun/tekstil memiliki banyak sisi (multiface), yang meliputi: antropologi (sosial dan budaya) – karena dapat menunjukkan tata - nilai atau adat istiadat dari suatu masyarakat, atau arkeologi – karena dapat melahirkan sejumlah informasi dan eksplanasi dasar pada evolusi budaya.
Kain tenun/tekstil dapat pula menunjukkan informasi teknologis karena proses pembuatannya menerapkan sejumlah teknik, seperti: teknik tenun dan teknik pewarnaan. Disamping itu, kain tenun juga menerapkan aneka bahan, pola, corak dan ragam hias. Sebagai media ekspresi seni, kain tenun/tekstil yang sering kita jumpai dapat dikelompokkan dalam koleksi seni rupa (fine arts), seni rakyat (folk arts), atau seni turis (tourist arts). Sehingga kain tenun/tekstil tersebut dapat dipamerkan Bersama dengan koleksi etnografi atau dengan koleksi seni rupa di galeri seni.10
Kain Tenun/Tekstil juga sebagai benda yang dibuat dengan cara menyilangkan atau mengaitkan benang, dimana benang terbentuk dari serat-serat yang memiliki sifat serat tekstil; disamping juga ditinjau dari fungsinya. Oleh karena itu kita mungkin mengelompokkan barang tenunan, rajutan, rendaan, mantel hujan, berbagai jenis pakaian yang memiliki sifat serat tekstil yaitu dipilin dan ditenun; sedangkan sifat
10Dikutip dari Handbook Tekstil Tradisional : Pengenalan Bahan dan Teknik (Subagiyo, 2008 : 1)
14
tekstil yaitu pegangannya yang lunak dan lembut atau tidak kaku dan elastis atau lentur.
Tidak semua perempuan mampu bertenun. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh mereka yang hidup bersentuhan langsung dengan kehidupan bertenun. Seseorang yang mampu memegang benang belum tentu mampu bertenun namun yang mampu bertenun sudah pasti mampu memilin benang. Kemampuan bertenun hanya dimiliki mereka, perempuan di Desa Silalahi I yang memiliki jiwa besar yang penyabar dan tekun dalam menguntai satu helai benang demi benang. Di Desa Silalahi I, para permpuan nya memanfaatkan pengetahuan bertenun menjadi mata pencaharian utama mereka. Mereka menyadari keberadaan tenun dalam kehidupan masyarakat tidak hanya sebagai sarana sosial, namun lebih dari kehidupan budaya. Sebab kain tenun memiliki peran dan bernilai sangat baik secara ekonomi, sosial, budaya yang juga mampu menolong kehidupan para perempuan penenun.
Disamping itu, Kain tenun juga menerapkan aneka bahan, pola, corak dan ragam hias. Sebagai media ekspresi seni, Kain tenun/tekstil yang sering kita jumpai dapat dikelompokkan dalam koleksi seni rupa (fine arts), seni rakyat (folk arts), atau seni turis (tourist arts). Sehingga Kain tenun/tekstil tersebut dapat dipamerkan bersama dengan koleksi etnografi atau dengan koleksi seni rupa di galeri seni (Subagiyo, 2008: 1).
Tenun adalah hasil kerajinan benang dengan cara memasukkan benang yang arahnya horizontal (benang pakan) ke dalam benang yang terentang atau arah vertikal (benang lungsi) pada alat tenun bukan mesin. Dalam Kain tenun yang dihasilkan dengan peralatan tradisional tersimpan makna-makna yang bernilai dan agung.
Sesungguhnya dengan memegang dan memakai Kain tenun tradisional kita seakan-akan sedang mengarungi suatu lembaran dokumen sejarah dari masyarakat yang membuatnya. Kain tenun sendiri merupakan benda mati, tetapi benda itu justru merupakan saksi hidup dari suatu budaya, yang dapat mengungkapkan salah satu sisi kebudayaan. (Erni, 2003:17)
Secara umum pembuatan Kain tenun oleh sub-sub etnik Masyarakat Batak adalah sama, yang membedakan adalah bahan, nama, corak, atau motif, dan sifat kedudukan pemakaiannya yang harus sesuai dengan jenis upacara adat ketika memberikannya. Walaupun mempunyai perbedaan, akan tetapi pemberian Kain selalu
15
diartikan dan dihubungkan dengan makna simbol-simbol. Adat istiadat tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menjadi satu tradisi yang tetap dilakukan Masyarakat Batak seperti penggunaan atau pemakaian Kain dalam upacara adat baik upacara perkawinan, kelahiran, meninggal, pada saat memasuki rumah baru, serta acara upacara yang khusus dan termodifikasi oleh suatu hal seperti agama, lingkungan, dan lainnya. Perubahan fungsi dan pemaknaan Kain tenun/tekstil tradisional oleh Masyarakat Batak berubah seiring dengan perkembangan zaman.
Suku Batak memiliki sebuah pepatah yang berbunyi Ijukpangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong. Pepatah tersebut memiliki arti jika ijuk merupakan pengikat pelepah pada batang, maka ulos merupakan pengikat kasih sayang kepada sesama.
Ulos merupakan Kain tenun khas suku Batak yang berasal dari wilayah Sumatera Utara. Bagi suku Batak, Ulos bukan hanya sekedar Kain tenun biasa, namun memiliki keistimewaan khusus. Ulos dianggap sebagai pengikat rasa sayang yang mengalirkan rasa hangat dalam ikatan keluarga, persaudaraan, dan kekerabatan. Pemberian ulos kepada seseorang menjadi salah satu bentuk ikatan kasih sayang antara yang memberi dan menerima, dan penerima ulos diharapkan bisa mendapatkan rasa hangat dalam hatinya.(Siburian, 2012)
Kemajuan zaman memiliki kemungkinan untuk menghentikan regenerasi penginggal dan pengetahuan tentang Kain tenun/tekstil tradisional terkhusunya Kain tenun ulos silalahi kepada generasi muda. Namun kemajuan zaman mampu menjadi wadah bagi semua generasi untuk lebih lagi mengexplore dan mempertunjukkan nilai-nilai dan keindahan Kain tenun ini ke dunia yang lebih luas. Hal ini dapat terjadi jika dilihat tergantung pada elemen sosial yang terikat dengan Kain tenun/tekstil tradisonal itu sendiri. Keberadaan tenun dalam kehidupan masyarakat, memiliki peran dan bernilai sangat baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Pembuatan kerajinan Tenun ini biasanya dikerjakan oleh perempuan. Sebagai benda seni, Kain tenun/tekstil tradisional Masyarakat Batak telah melewati rentang waktu yang cukup lama hingga saat ini, dan telah mengalami evolusi baik bentuk dan juga pemaknaan.
Kain-Kain peninggalan dari masa lalu, begitu juga pengetahuan bagaimana pemanfaatan-nya dahulu, kebanyakan tersampaikan secara lisan dari pada tertulis.
Sampai sekarang penulisan berupa indeks atau katalog mengenai penggunaan dan asal
16
suatu Kain Tenun Masyarakat Batak mulai banyak dilakukan. Dapat dijumpai di jurnal-jurnal kebudayaan, sosial maupun kesenian. Tetapi karena sebelum-nya penyampaian pengetahuan turun-temurun secara lisan, baik cara menenun, penggunaan dan makna Kain, maka sangat sedikit orang-orang tua yang memahami dan masih mengingat. Dewasa ini semakin banyak kegiatan dan aktivitas yang merubah kebiasaan lama menyebabkan sangat sedikit yang benar-benar memahami pengetahuan dan penggunaan Kain adat ini bahkan ketika ia adalah seseorang yang berasal dari suku batak. Pengetahuan dan penggunaan suatu Kain adat menjadi sangat penting untuk dituliskan sebelum banyak orang-orang tua tidak bisa lagi menyampaikan pengetahuan ini.
Dalam jurnal yang di tulis oleh Nurmeisarah Trisna, I Gede Sudirtha dan Made Diah Angendari (2015), mereka memaknai bahwa pentingnya tinjauan tentang tenun tradisional. Mereka mendapati bahwa Tenun Tradisional yang ada di Dusun Sade Desa Rambitan Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah memiliki proses pembuatan Kain tenun yang unik serta makna ragam hias dan perkembangannya sendiri.
Menurut Barasa Christ (2019), pelestarian peninggalan dan pengetahuan mengenai Kain Tenun/Tekstil Tradisional Masyarakat Batak dapat dilakukan dengan proses Konservasi, Revitalisasi dan pelestarian yang dikerjakan oleh Kolektor Kain Tenun Ulos. Barasa menjelaskan bagaimana Kain Tenun Masyarakat Batak telah melewati rentang waktu dan proses bertahan yang panjang hingga sampai saat ini.
Kain Tenun Masyarakat Batak yang berubah-ubah fungsi seiring dengan waktu sampai dengan saat ini yang menjadi identitas dan simbolik, telah menjadi suatu benda yang memiliki nilai sejarah, budaya dan seni. Walau dalam realitas penurunan pengentahuan dan peninggalan Kain Tenun Masyarakat Batak semakin berkurang, tetapi, banyak harapan dan kegiatan dari beberapa elemen masyarakat yang memiliki tujuan masing-masing atau tersendiri seperti; akademisi, Kolektor, pedagang Kain, Ekspert Tekstil (ahli Kain) memberikan efek secara langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak pada pemberdayaan dan revitalisasi Kain Tenun Masyarakat Batak.