• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Telaah Realisme Sosialis dalam Corat-coret di Toilet

Berdasarkan kerangka konsep tentang realisme sosialis dalam sastra, Georg Lukacs memberikan empat batasan: realitas objektif, gerak dialektis, refleksi artistik, dan ungkapan kritik emansipatoris (Karyanto, 1997). Adapun analisis data realisme sosialis dalam Corat-coret di Toilet sebagai berikut.

3.1.1 Realitas Objektif

Realitas Objektif. Lukacs melihat seni realis merupakan penjabaran dunia yang mencakup sang pengarang dan realitas kenyataan yang dinamis, entah bergerak maju, bernegasi, dan berkontradiksi (Karyanto, 1997:67).

“Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata: ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan-gagasan radikal progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair-penyair yang puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh masterpiece-nya di dinding toilet. Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakkannya dengan gagasan-gagasan ’the toilet comedy’.

Hasilnya, dinding toilet penuh dengan corat-coret nakal, cerdas maupun goblok, sebagaimana toilet-toilet umum di mana pun: di terminal, di stasiun, di sekolah-sekolah, di stadion, dan bahkan di Gedung-gedung departemen”(Kurniawan, 2014:

27-28).

Melalui penggalan paragraph di atas kita mengetahui bahwa toilet merupakan realitas objektif bagi sebagian orang. Selain tempat untuk buang air, juga merupakan tempat di mana memugkinkan bertemunya pandangan orang-orang yang berbeda.

119

Meski pertemuan tidak terjadi secara langsung, atau seperti interaksi timbal balik antara orang yang bertemu dalam satu tempat dan waktu; toilet memungkinkan pertemuan itu terjadi lewat coret-coretan di dinding toilet.

Tentu toilet di sini juga tidak merujuk kepada satu titik toilet saja. Toilet di tempat lain juga merepresentasikan suatu realitas objektif. Baik toilet terminal, di stasiun, di sekolah, di stadion, bahkan Gedung departemen. Lewat toilet, individu yang terdiri dari berbagai latar belakang, entah itu pendidikan, politik, kultural dll, mereka bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Melalui toilet juga menghendaki media alternatif untuk mewujudkan ekspresinya, entah itu puisi atau syair-syair yang ditolak oleh penerbit konvensional.

“Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang berwenang di fakultas, memutuskan untuk mengecat kembali dinding toilet.

Maka terhapuslah buku harian milik umum itu. Tapi seperti kemudian diketahui, tulisan pertama mulai muncul, lalu ditanggapi oleh tulisan kedua, dan ramailah kembali dinding-dinding toilet dengan ekspresi-ekspresi yang mencoba menyaingi kisah-kisah relief di dinding candi” (Kurniawan, 2014: 28).

Meski toilet merupakan realitas objektif. Ia tidak luput dari otoritas yang memiliki wewenang untuk melakukan tindakan khusus, misalnya membersihkan dinding toilet agar tidak ada lagi corat-coretan di sana. Sang dekan jika toilet itu di lingkungan kampus, penanggung jawab stadion, kepala divisi kebersihan jika di suatu perusahaan atau Gedung departemen. Hal ini dilihat, meski toilet memungkinkan bertemunya orang dan bertukar pikir, tetapi ada satu pihak yang memiliki otoritas untuk melakukan segala sesuatu yang melebihi orang pada umumnya.

120

3.1.2 Gerak Dialektis

Setelah selesai menggambarkan realitas apa adanya dalam ranah kesusastraan.

Sastrawan dalam karyanya harus mampu menampilkan alur dan di mana posisi sang pengarang dengan dunia yang ia karang, menarik batas siapa saja yang tergambarkan dalam cerita tersebut, hal ini disebut gerak dialektis. Bagi Lukacs seni yang benar adalah seni yang berangkat dari sikap dialektis. Sikap dialektis dalam berkesenian adalah sikap yang tidak hanya didasarkan atas perasaan spontan, atau sekadar daya estetika semata (Karyanto, 1997:69).

“Bocah itu berumur dua puluh tahun, berpakaian gaya anak punk…..”(Kurniawan, 2014: 22).

Cerita dalam penggalan paragraf pertama dibuka dengan penokohan seorang bocah yang disinyalir berusia 20 tahun dan suka dengan pakaian anak punk. Hal ini menarik batas, antara tokoh-tokoh yang akan muncul setelahnya. Mengingat latar tempat ini disinyalir berada di lingkungan kampus. Dugaan terkuat, ia merupakan seorang mahasiswa.

“Pukul tujuh pagi, ketika para mahasiswa belum membuat kegaduhan di ruang kuliah mereka, seorang bocah sudah menyerbu toilet yang terdapat persis di bawah tangga” (Kurniawan, 2014: 23).

Kemudian disusul dengan tokoh lelaki yang lainnya. Perbedaannya tokoh ini tidak memiliki atribut tambahan lainnya seperti yang sebelumnya. Tokoh bocah menyerbu toilet, digambarkan secara polos tanpa ada tendensius apapun. Hanya ada

121

penambahan keterangan waktu saja, yakni ia datang lebih dahulu dari mahasiswa lainnya.

“Dan gadis itu kemudian muncul, seorang gadis tomboy yang konon suka bertualang. Ia mengenakan celana jins ketat, dan kaus oblong yang kedombrangan; lubang lehernya kadang merosot, sekali-dua kali mempertontonkan isinya yang tanpa bra” (Kurniawan, 2014: 23).

Kali ini tokoh berjenis kelamin perempuan yang dihadirkan. Seorang perempuan yang gemar berpetualang, konon penggambaran tokoh yang gemar berpetualang merujuk kepada mahasiswa/i yang tergabung dalam komunitas pencinta alam.

“Kemudian di siang bolong, muncullah seorang gadis lain dan dari jenis yang lain. Seorang hedonis yang suka dandan. Tas mungilnya yang sungguh-sungguh mungil, penuh dengan tetek-bengek alat perang seorang gadis ganjen”

(Kurniawan, 2014: 24).

Lalu dilanjut dengan tokoh perempuan yang lainnya. Berbeda dengan penggambaran tokoh perempuan sebelumnya, perempuan kali ini dikatakan orang yang hedonis dan seorang gadis ganjen. Kehidupan dua perempuan di atas digambarkan secara kontras: yakni seorang yang tidak suka hidup mewah bergelimang harta dengan perempuan yang suka menghamburkan uang untuk mengkonsumsi produk-produk kecantikan atau bisa juga dikatakan sebagai orang yang berada di kelas menengah.

Orientasi ekonomi dan pemenuhan diri dari masing-masing perempuan di atas sangat berbeda. Dan sengaja dihadirkan demikian untuk menarik garis batas dan benang merah antara kelas sosial yang melatarbelakangi dua tokoh tersebut.

122

Kehadiran kelas menengah di masa Orde Barua tau pra-reformasi dapat dilihat dalam dua momen menurut Aspinall (dalam Akmaliah, 2016: 11), ledakan ekonomi minyak bumi dan privatisasi sector komersil. Pada tahun 1965, mereka-mereka yang dekat dalam lingkaran pemerintahan atau militer mendapatkan kekayaan dari hasil kekayaan minyak bumi. Sehingga memunculkan kelas menengah. Meski sempat mengalami penurunan ekonomi pada tahun 1990, momen ledakan ekonomi kembali hadir akibat terbukanya Indonesia pada pasar kapitalisme global yang memaksanya terjadinya privatisasi sector komersil yang biasanya dipegang oleh pemerintah pusat.

Kedua hal ini membuat kelas menengah semakin merebak dan membentuk pola kehidupan kelas menengah. Hal itu ditambah dengan hadirnya fasilitas pasar yang dapat mengekspresikan budaya konsumen kelas tersebut, seperti pusat perbelanjaan mewah Pondok Indah Mall dan Plaza Indonesia, diskotek, perumahan mewah, dan kursus golf.

“Entah hari yang ke berapa setelah toilet tampil dengan cat barunya, muncullah ke toilet tersebut seorang laki-laki. Tubuhnya besar dan agak tinggi, dengan rambut pendek sisa digundul. Kumis dan janggut tipis menghiasi mukanya yang putih. Di telinga kirinya tergantung anting-anting norak, dan lehernya diganduli empat atau lima kalung. Kemeja yang dikenakannya, model longgar dari kain jumputan, dan celananya baggy. Orang kalau melihatnya, pasti menduga ia seorang homo, meskipun agak sulit untuk membuktikannya.

Bahkan melalui apa yang kemudian ditulisnya di dinding, yang merupakan ungkapan politis-ideologisnya, ia tetap tidak bisa dipastikan apakah sungguh-sungguh punya kecenderungan seksual itu atau tidak” (Kurniawan, 2014: 25-26).

Sedangkan tokoh lainnya yakni seorang lelaki yang lengkap dengan penggambaran atribut pakaiannya hingga dugaan kecenderungan seksualnya. Dari penggambaran atributnya bisa dipastikan kelas sosial yang ia tempati dengan

123

perempuan hedonis barusan tidak berbeda jauh. Lantaran komunitas gay atau yang disebut dengan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Querr (LGBTQ), mendapatkan dukungan yang cukup besar di masa reformasi.39 Dengan melesatnya perekonomian, memungkinkan arus informasi lebih mudah. Hal sama juga berlaku bagi akses pendidikan, mereka yang bisa akses pendidikan di luar Indonesia terpapar beragam kebudayaan. Salah satunya ialah orientasi seksual sesama jenis. Ketika mereka kembali ke Indonesia terkadang mereka membawa bersama orientasi seksual mereka dan hidup di Indonesia.40

“Ada seorang oknum, pasti bangsat keparat yang kurang moral, dan dikutuk oleh hampir semua pelanggan setia jasa-jasa toilet, yang bikin ulah menjijikkan.

Entah hari apa dan jam berapa, ia masuk toilet dan segera saja menghujani kakus dengan roket-roket yang keluar dari pantatnya. Gobloknya, ia kemudian keluar begitu saja tanpa membersihkan sampah-sampah keparatnya, yang menumpuk saling berpelukan di lubang kakus” (Kurniawan, 2014: 26).

Kemudian cerita dihadirkan oleh sosok anonym yang ia sebut oknum. Terlepas tanpa penggambaran atribut khusus yang melekat oleh oknum tersebut. Namun penggunaan kata oknum dengan dilekatkannya kata kurang moral, dikutuk, dann bikin ulang menjijikan, mengisyaratkan penggunakan kata oknum beserta penokohan orang tersebut merupakan orang yang tidak baik. Jika melihat konteks lebih luas soal latar waktu yang diangkat, oknum ini bisa disinonimkan dengan orang-orang yang melakukan penyelewengan sebagaimana pihak penguasa dan antek-anteknya pada saat

39 https://republika.co.id/berita/q3z76k385/jejak-homoseksual-dari-zaman-kolonial-ke-era-global-part1

40 https://republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/29/nqp37b-sosiolog-eksistensi-lgbt-bisa-dirunut-sejak-orde-baru

124

itu. Menandakan ia berasal dari kelas sosial yang berada di titik kekuasaan yang lebih tinggi dalam penokohan cerita tersebut.

“Kenyataan ini, membuat gelisah mahasiswa-mahasiswa alim, yang cinta keindahan, cinta harmoni, dan menjunjung nilai-nilai moral dalam standar tinggi.

Salah satu mahasiswa jenis ini, kemudian masuk toilet, dan segera saja merasa jengkel melihat dinding yang beberapa hari lalu masih polos, sudah kembali dipenuhi gagasan-gagasan konyol dari makhluk-makhluk usil” (Kurniawan, 2014: 28).

Hingga terakhir, muncul tokoh alim, yang berusaha menyeleraikan corat-coretan di dinding toilet lantaran terdorong oleh nilai-nilai moral yang ia anut.

Sebagaimana kata yang digunakan untuk menggambarkan tokoh alim tersebut menggunakan kata cinta keindahan, cinta harmoni, dan menjunjung nilai-nilai moral dalam standar tinggi. Menandakan penambahan baru dalam tokoh di tengah pertarungan kelas yang terjadi melalui dinding toilet tersebut.

3.1.3. Refleksi Artistik

Istilah ini merujuk kepada makna kemampuan seni dalam menggambarkan realitas palsu atau masalah yang ada di permukaan dan menunjukan sebagaimana seharusnya realitas tersebut. Kemampuan refleksi seni realisme menurut Lukacs terletak pada kemampuan menghadirkan realitas yang dialami kembali dengan makna-makna baru (Karyanto, 1997:76).

Diceritakan sebelumnya, bahwa realitas objektif terdiri dari dinding toilet yang digunakan oleh orang-orang ternyata dimanfaatkan pula untuk menuangkan aspirasi atau sekedar cara untuk berinteraksi dengan orang lain yang mengunjungi toilet

125

tersebut. Awalnya dinding itu hanya polos tidak ada core-coretan apapun. Namun setelah pengunjung pertama yang masuk ia melihat dinding tersebut dalam keadaan bersih hingga menghantarkan, bocah berumur 20 tahun dengan pakaian ala anak punk, untuk mulai coretan aspirasi pertamanya:

“dan terkagum-kagum dengan dinding toilet yang polos” (Kurniawan, 2014:

22).

Lalu dilanjutkan dengan tokoh lelaki lainnya:

“Setelah ritual paginya yang membosankan, ia menatap tulisan di dinding yang mencolok itu dengan gemas” (Kurniawan, 2014: 23).

Kemudian perempuan tomboy yang gemar berpetualang:

“Dan seperti kebanyakan konsumen toilet, ia tertarik dengan coretan di dinding, dan tergoda untuk ikut berkomentar pula. Dicarinya spidol di tasnya, tapi ia hanya menemukan lipstick” (Kurniawan, 2014: 23-24).

Lantas tokoh setelah perempuan tomboy, muncul tokoh lelaki lainnya:

“Dan sambil menikmati saat-saat penuh bau itu, si bocah mulai membacai tiga kalimat yang tertulis di dinding. Ia tersenyum dengan tulisan terakhir, dan membayangkan gadis macam apa yang menuliskannya” (Kurniawan, 2014: 24).

Disambung dengan tokoh perempuan hedonis:

“Bibirnya yang sudah pucat, disapu pula dengan warna merah menyala, semerah bendera nasional, dan ketika itulah ia membaca segala unek-unek orang di dinding” (Kurniawan, 2014: 25).

Lalu oleh tokoh terakhir, lelaki alim yang juga melihat dinding toilet tersebut dan tergerak untuk berkomentar:

126

“Si bocah merasa lega, dan mulailah ia membaca pesan-pesan di dinding dengan kemarahan yang tersisa dari tragedi yang baru saja terjadi” (Kurniawan, 2014: 27).

Semua ungkapan di atas merupakan pernyataan refleksi artistic, di mana masing-masing tokoh tergerak untuk saling bersaut-sapa, kritik-saran, hingga sekedar melakukan komunikasi sehari-hari dengan menorehkan coretan di dinding toilet. Entah menggunakan spidol, arang, hingga lipstick. Semua dimaksimalkan untuk menuangkan ekspresinya di dinding toilet tersebut, meski pada umumnya untuk menulis biasanya digunakannya kertas, papan atau apapun yang sejenisnya. Tetapi mereka lebih memilih memaksimalkan dinding toilet untuk medium berinteraksi.

3.1.4 Ungkapan Kritik Emansipatoris

Menurut Lukacs (Karyanto, 1997:80) dimensi kritis emansipatori dalam realisme sosialis menunjukkan gerak manusia dalam membebaskan diri dari kungkungan yang membuatnya kerdil. Lukacs berpandangan bahwa karya sastra harus mempu memberikan ungkapan yang kritis sebagai upaya pembebasan diri dan mendapatkan hak antar manusia.

Dengan latar tempat dan penokohan yang sudah dijelaskan di atas. Tokoh-tokoh ini kemudian mulai menulis di dinding-dinding toilet. Ada yang mengajak melakukan revolusi, menulis ancaman hingga ajakan kencan. Berikut beberapa kutipan tulisan dari masing-masing tokoh tersebut.

127

Lelaki pertama yang memasuki toilet, si bocah berumur 20 tahun yang menggunakan pakaian ala punk menulis:

“Ia merogoh tas punggungnya dan menemukan apa yang dicarinya: spidol.

Dengan penuh kemenangan, ia menulis di dinding, ”Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!” (Kurniawan, 2014: 22).

Secara sosiologis hal ini mengindikasikan prenyataan yang ideologis. Ia melihat upaya reformasi yang digaungkan oleh mahasiswa ataupun massa selama meruntuhkan Soeharto tidaklah berjalan dengan baik. Hal ini sarat akan semangat perjuangan sebagaimana yang dahulu digencarkan oleh kalangan komunisme. Diksi revolusi salah satu ciri khas dalam sastra realisme sosialis.

Kemudian dibalas oleh tokoh kedua yang memasuki toilet. Lelaki tersebut menulis:

“Dengan sebuah pena, ia membuat tanda panah dari kalimat yang terbaca, dan menulis, membalas, ”Jangan memprovokasi! Revolusi tak menyelesaikan masalah. Bangsa kita mencintai kedamaian. Mari melakukan perubahan secara bertahap” (Kurniawan, 2014: 23).

Di satu sisi dalam cerita pendek ini, juga dihadirkan tokoh yang tidak percaya akan revolusi. Melainkan ia lebih memilih reformasi sebagai bentuk wujud bangsa Indonesia yang mempercayai kedamaian. Sebagaimana yang dahulu diperjuangkan oleh kalangan humanisme universal atau lebih spesifik lagi kalangan Pujangga Baru dan Manifesto Kebudayaan.

Lantas kemudian dibalas dengan tegas oleh tokoh perempuan tomboy yang masuk setelah lelaki kedua:

128

“Maka menulislah ia dengan lipstik setelah membuat tanda panah, ”Kau pasti antek tentara! Antek orde baru! Feodal, borjuis, reaksioner goblok! Omong-kosong reformasi, persiapkan revolusi!” (Kurniawan, 2014: 24).

Secara sosiologis, pernyataan ini juga mengandung ideologis sebagaimana dua tokoh sebelumnya. Ia lebih sepakat dengan tulisan yang pertama tentang ajakan revolusi ketimbang reformasi. Penggunaan diksi antek tantara, antek orde baru, feudal, borjuis, reaksioner, mengindikasikan posisi politisnya. Sebagai penganut gerakan politik kritis, diksi di atas dapat dirunut ke dalam paham komunisme. Di mana mereka biasanya menggunakan diksi tersebut untuk mengkritik lawan yang tidak seideologis.

Lalu dibalas kembali oleh lelaki lain dengan nada bercanda:

“Setelah cebok, ia pun mengambil pena dan ikut berkomentar dengan penuh gairah, ”Hai, Gadis! Aku suka gadis revolusioner. Mau kencan denganku?”

(Kurniawan, 2014: 24).

Pernyataan di atas dianggap merupakan afirmasi bahwa dia juga merupakan dari pihak dengan ideologi yang sama dengan perempuan tomboy di atas. Meski berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang lebih berisikan muatan ideologis. Ia malah membalas dengan nada humoris, seolah tidak mengindahkan urusan orang lain atau menghujat pihak dengan ideologi yang berbeda.

Sayangnya yang kemudian masuk toilet bukanlah sang perempuan tomboy yang gemar berpetualang. Tetapi perempuan lain yang digambarkan menyukai kehidupan hedonism:

129

“Sambil tertawa centil, ia ikut menulis, juga dengan lipstik, ”Mau kencan denganku? Boleh! Jemput jam sembilan malam di cafe. NB: jangan bawa intel”

(Kurniawan, 2014: 25).

Meski tidak memiliki muatan politis yang kuat. Namun penggunaan diksi jangan bawa intel, bahwa ia tahu jika intel datang, akan ada kemungkinan bahwa dia juga ditangkap lantaran memiliki koneksi dengan orang yang menggaungkan revolusi atau beraliran paham komunisme atau kritis. Sehingga pernyataan dia malah mencoba meniru pernyataan sebelumnya, yakni mencoba mengajak kencan dengan humoris.

Dan tokoh lainnya yang disinyalir dari golongan kelas yang sama masuk.

Bukannya membalas pesan terakhir yang ditulis oleh pengunjung sebelumnya, yakni oleh perempuan yang suka bergaya hidup hedonis, malah membalas pesan yang paling utama, yakni tentang ajakan revolusi:

“Beginilah apa yang ia tulis: ”Kawan, kalau kalian sungguh-sungguh revolusioner, tunjukkan muka kalian kalau berani. Jangan cuma teriak-teriak di belakang, bikin rusuh, dasar PKI!” (Kurniawan, 2014: 26).

Pernyataan di atas sedikit ambigu, mengingat tokoh yang menulis disinyalir LGBTQ tetapi ia juga menggunakan diksi yang tendesius terhadap orang-orang yang menggaungkan revolusi. Ia dengan mudah menuduh orang-orang yang tidak sehaluan dengan pendapatnya sebagai PKI. PKI sebagai mana diketahui adalah partai yang sangat terlarang keberadaannya di Indonesia. Sehingga memberikan dia posisi di antara pendukung reformasi atau justru pendukung rezim Orde Baru. Mengingat pada Orde Baru, rezim menggaungkan keluarga berencana lewat paham ibuisme, bahwa keluarga

130

yang ideal adalah diisi dengan sepasang suami (laki-laki) dan istri (perempuan).

Adapun pernyataan lelaki ini dibalas oleh orang lain yang berisikan:

“Ia ambil spidolnya, warna biru, dan segera ikut menulis, ”Ini dia reaksioner brengsek, yang ngebom tanpa dibanjur! Jangan-jangan tak pernah cebok pula.

Hey, Kawan, aku memang PKI: Penggemar Komik Indonesia. Kau mau apa, heh?” ((Kurniawan, 2014: 27).

Tanggapan atas lelaki yang menghina orang dengan sebutan PKI, ditanggapi oleh orang lain yang diduga termasuk barisan pendukung revolusi. Ada diksi reaksioner, yang digunakan. Diksi ini biasanya disandingkan memang dengan revolusioner,yang pernah digencarkan era 1960an, terutama ketika PKI dan Lekra sedang berjaya dan berusaha menandingi pengaruh dari kalangan Manifesto Kebudayaan. Revolusioner merujuk kepada kalangan PKI dan kelompok haluannya, sedangkan reaksioner untuk yang menolak gagasan PKI. Di satu sisi ia juga melengkapi pernyataanya dengan nuansa humor komedi, yakni menulis Pecinta Komik Indonesia yang kalua disingkat memang PKI.

Di saat tengah menguatnya tulisan pesan berbalas soal revolusi dan reformasi.

Ada satu pihak yang menawarkan tulisan dengan muatan yang berbeda pula:

“Maka ia pun ikut menulis, walau hatinya nyaris menangis, ”Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan. Toilet bukan tempat menampung unek-unek. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-bapak anggota dewan” (Kurniawan, 2014: 29).

Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa tokoh alim ini tidak menyukai tindakan vandalism, bahwa perjuangan entah dalam bentuk revolusi atau reformasi tidak harus disertai dengan perusakan faslitas public seperti dinding toilet ini. Sehingga

131

menyarankan untuk langsung menyalurkan aspirasinya kepada wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga pemerintahan. Namun pernyataan anak alim tadi justru malah membuat coretan di dinding semakin banyak. Dengan bunyi balasan:

“Tulisan pertama berbunyi: ‘Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.’

Tulisan kedua berbunyi: ‘Aku juga.’

Dan seratus tulisan tersisa, juga hanya menulis, ”Aku juga.” (Kurniawan, 2014:

29).

Pernyataan di atas secara sosiologis, menandakan bahwa mereka sudah tidak percaya lagi kepada wakil rakyat yang berada di struktur pemerintahan. Bahwa aspirasi yang mereka sampaikan juga tidak akan digubris, sehingga mereka lebih melampiaskan aspirasi mereka kepada dinding toilet. Karena mereka yang berada di struktur pemerintahan tidak mengakomodir kepentingan rakyat, melainkan kelompok segelintir orang. Dinding toilet jauh lebih menjembatani aspirasi kolektif ketimbang individual saja.