• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang (Halaman 8-33)

III. PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH

3.2 Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil

3.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi/Kabupaten/Kota 3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan

Hidup Strategis

3.5 Penentuan Isu – isu Strategis

Bab IV Visi. Misi, Tujuan dan Sasaran

1.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah

9

Bab VI Rencana Program dan Kegiatan serta Pendanaan.

Bab VII Kinerja penyelenggaraan bidang urusan Bab VIII Penutup

10

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN DINAS LINGKUNGAN HIDUP KOTA PALANGKA RAYA

2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur organisasi

Dinas Lingkungan Hidup mempunyai tugas menyelenggarakan kebijakan operasional dinas dan pelayanan teknis di bidang penanganan lingkungan hidup secara terpadu bersama-sama instansi terkait sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

Susunan Organisasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya berdasarkan Peraturan Walikota Palangka Raya Nomor 55 Tahun 2016 terdiri dari :

1. Kepala Dinas 2. Sekretaris

3. Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup.

4. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

5. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dam Kerusakan Lingkungan.

6. Kepala Bidang Konservasi, Taman Hutan Raya (TAHURA) dan Bina Lingkungan.

1. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan lingkup penataan dan penaatan lingkungan,

11

pengelolaan sampah dan limbah, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan serta konservasi dan informasi lingkungan.

2. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis dan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup.

3. Kepala Bidang Penataan dan Penataatan Lingkungan Hidup

Kepala Bidang Penataan dan Penataatan Lingkungan Hidup mempunyai tugas menyiapkan, merumuskan, mengembangkan, mensosialisasikan pelaksanaan tentang kajian dampak lingkungan, penataan lingkungan dan penataan lingkungan.

4. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah dan Peningkatan Kapasitas mempunyai tugas merumuskan, merencanakan program kebijakan penanganan, pengurangan dan pengelolaan sampah, pengelolaan limbah dan penyediaan sarana dan prasarana peningkatan kapasitas lingkungan.

5. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, merumuskan, melaksanakan, mengembangkan dan mengkoordinir kegiatan pengendalian, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup;.

6. Kepala Bidang Konservasi, Taman Hutan Raya (TAHURA) dan Bina Lingkungan.

12

Kepala Bidang Konservasi dan Informasi Lingkungan mempunyai tugas merumuskan, mengembangkan dan melaksanakan koordinasi dan menyiapkan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi di bidang konservasi, taman hutan raya(tahura) dan bina lingkungan,. Struktur Organisasi Dinas Lingkungan Hidup tersaji pada tabel 2.1

13

KEPALA DINAS

SEKRETARIS

SUB BAGIAN KEUANGAN DAN ASET

SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN SUB BAGIAN

PERENCANAAN DAN EVALUASI

BIDANG

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA

DAN BERACUN (B3) BIDANG

PENATAAN DAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Jabatan Fungsional

SEKSI

KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN

SEKSI PENGADUAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN SEKSI PENATAAN HUKUM LINGKUNGAN SEKSI PENGELOLAAN SAMPAH SEKSI SARANA PRASARANA PENGELOLAAN SAMPAH SEKSI

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

U P T

BIDANG

KONSERVASI, TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) DAN BINA

LINGKUNGAN BIDANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SEKSI PENCEGAHAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SEKSI KONSERVASI LINGKUNGAN SEKSI PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN SEKSI

INFORMASI, KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN SEKSI

PEMELIHARAAN LINGKUNGAN

SEKSI

PENGENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA)

14

2.2. Sumber Daya Perangkat Daerah

Dalam pelaksanaan organisasi Dinas Lingkungan Hidup, sangat dibutuhkan sosok aparatur yang memiliki pengetahuan akan berbagai permasalahan lingkungan, pengetahuan tentang sistem fisika-kimia-biologi, memahami proses-proses industry dan teknologi bersih, serta mempunyai kemampuan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Sumber Daya Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya sebagai berikut :

1. Pegawai

Pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya berjumlah 50 (lima Puluh ) orang terdiri dari :

a) Berdasarkan jenis kelamin

- Laki- laki : 24 orang - Perempuan : 26 orang b) Berdasarkan usia - 20-30 tahun : 1 orang - 30-40 tahun : 17 orang - 40-50 tahun : 15 orang - > 50 tahun : 17 orang c) Berdasarkan pendidikan - SMA : 10 orang

- D3 / Sarjana Muda : 3 orang

- S1 : 31 orang

15

d) Berdasarkan golongan kepangkatan - Golongan IV : 10 orang - Golongan III : 33 orang - Golongan II : 7 orang

e) Berdasarkan jenis pendidikan non formal Penjenjangan struktural :

- ADUM/DIKLATPIM IV : 7 orang - ADUMLA/DIKLATPIM III : 4 orang - DIKLATPIM II : 1 orang

- SPAMEN : -

Diklat Teknis Lingkungan :

- AMDAL : 3 orang

Sumber Daya Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya tersaji dalam tabel 2.2 tingkat pendidikan sebagai berikut :

Tingkat Pendidikan Golongan Jumlah I II III IV 1 SD - - - - - 2 SMP - - - - - 3 SMA - 4 6 - 10 4 D-1 - - - - - 5 D-2 - - - - - 6 D-3 - 3 - - 3 7 D-4/S-1 - - - - - 8 S-1 - - 25 6 31 9 S-2 - - 2 4 6 10 S-3 - - - - - Jumlah - 7 33 10 50

16

Dari gambaran kondisi SDM Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya saat ini menunjukan belum meratanya kemampuan teknis/kompetensi aparatur sesuai dengan tuntutan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Seperti masih minimnya aparatur-aparatur yang mempunyai kualifikasi keahlian atau kompetensi dalam penyelidikan kasus lingkungan, pengambilan contoh dan pengujian parameter kualitas lingkungan, pengelolaan dan pengendalian pencemaran, dampak perubahan iklim serta inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRS)

2. Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana yang digunakan dalam melaksanakan tugas dan fungsi Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka, secara umum tersaji pada Tabel 2.3 berikut ini :

Tabel 2.3

No Nama / Jenis Barang Bahan Satuan Keadaan Brg. /(B/KB/RB) Jumlah

1 2 3 4 5 6

1 Gedung kantor Permanen Beton Buah Baik 2 2 Gudang Lab. Lingkungan Beton Unit Baik 1

3 Tempat Parkir Beton Unit Baik 1

4 Sepeda Motor Besi Unit B 30

5 Mobil Minibus MP Besi Unit B 4

6 Mobil Pick Up Besi Unit B 5

7 Komputer Unit B 18

8 Printer Unit B 23

9 Telepon/fax Unit B 2

17

2.3 Kinerja Pelayanan

Kinerja pelayanan pada tahun sebelumnya adalah kinerja pelayanan Badan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup. Gambaran kinerja pelayanan pada tahun 2013 – 2018 sebagaimana terinci pada table 2.4 Pencapaian Kinerja Pelayanan.

18

Tabel 2.5. Realisasi target Kinerja RPJM Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya

No. Aspek/Fokus/bidang Urusan/Indikator Kinerja

Kondisi Kineja Awal RPJMD

2013

Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Keterangan

Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 1. Cakupan Pengawasan Terhadap

Pelaksanaan Amdal (%) 84,6 100 100 100 80 100 90 100 90

2. Jumlah Ijin Gangguan Lingkungan (Ijin

Usaha) 200 220 240 240 582 260 573 280 152

3. Persentase Penegakan Hukum

Lingkungan (%) 90 100 100 100 100 100 87 100 25

4. Jumlah Pengambilan Sampel (hari/tahun) 4 8 40 60 9 6 6 6 6

5. Penurunan Udara/ISPU (hari/tahun) 321 365 289 365 180 365 310 365 365

6. Jumlah Sekolah Peduli Lingkungan

(sekolah) 3 5 3 6 9 7 10 8 12

7. Jumlah Taman Hijau (Taman) 0 2 20 4 3 6 5 8 7

8. Luas Lahan Kritis Yang Dihijaukan (Ha) 90.872 91 80 100 176,6 100 168,8

9. Menurunnya Kerusakan Kawasan Hutan

19

2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya

a.Tantangan

1) Masih rendahnya kualitas daya manusia yang mengerti pengelolaan lingkungan hidup.

2) Belum stabilnya kondisi sosial politik ekonomi dan budaya

3) Banyak potensi kegiatan yang merusak lingkungan antara lain kegiatan pertambangan, perkebunan dan lain-lain.

4) Meningkatnya potensi pencemaran lingkungan akibat pertambahan penduduk dan meningkatnya pembangunan.

5) Masih banyaknya pemanfaatan pengelolaan lingkungan hidup tanpa ijin.

6) Adanya kebijakan yang tumpang tindih dan tidak sinkron. 7) Masih banyaknya daerah rawan kebakaran.

b. Peluang

1) Wilayah administratif yang cukup luas yaitu mencapai 2.853,52 km (267.851 Ha), terdiri dari 5 (lima) kecamatan dan 30 (tiga puluh)

kelurahan. (sumber data Statisitk Kota Palangka Raya tahun 2017); 2) Adanya potensi sumber daya alam yang cukup besar.

3) Berkembangnya sektor industri jasa dan konstruksi.

4) Adanya kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang profesional.

5) Perlunya peningkatan kualitas Lingkungan Hidup.

6) Adanya kebutuhan kerjasama lintas maupun antar unit dalam organisasi.

7) Pengaruh globalisasi terhadap issue lingkungan, pemanasan bumi dan pengurangan emisi karbon

8) Terbukanya akses infomasi dan komunikasi melalui MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)

20

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi

Dinas Lingkungan Hidup

Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi menghadapi berbagai permasalahan yang lebih khusus di bidang lingkungan hidup adalah sebagai berikut :

1. Kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup masih rendah.

Pengelolaan lingkungan hidup di Kota Palangka Raya sesungguhnya menjadi kewajiban seluruh penghuni di wilayah Kota Palangka Raya, meliputi 1) warga masyarakat, 2) pelaku usaha, 3) pengelola profesional dan 4) pemerintah. Pada saat ini kemampuan dan kesadaran mengelola lingkungan hidup di Kota Palangka Raya masih belum memadai dan hal ini terbukti dengan kondisi lingkungan hidup di wilayah Kota Palangka Raya cenderung semakin menurun kualitasnya. Agar upaya pengelolaan lingkungan hidup dapat berhasil dapat berhasil, maka salah satu faktor yang sangat penting adalah 1) adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan hidup dan kelestarian hutan, 2) kesadaran terhadap hukum lingkungan, 3) kesadaran terhadap komitmen, 4) kesadaran aparat pemerintah untuk menambah wawasannya dalam hal ilmu pengetahuan dan teklnologi (IPTEK) lingkungan hidup. Dampak dari tingkat kesadaran

21

yang rendah tersebut adalah 1) masih adanya eksploitasi sumberdaya alam yang tidak berwawasan lingkungan, 2) didalam melakukan kegiatan masyarakat masih memperhatikan faktor ekonomi dari pada untuk pelestarian lingkungan, 3) masyarakat pelaku usaha belum menyadari pentingnya data dan informasi menyangkut pengelolaan lingkungan hidup.

2. Belum oftimalnya kelembagaan pengelola sumber daya alam, lingkungan hidup.

Kapasitas dan kinerja pengelola lingkungan hidup perlu dioptimalkan didalam mengelola lingkungan hidup, antara lain dengan 1) Pemberdayaan pengelola lingkungan hidup agar mampu dengan nyata berperan aktif sebagai institusi koordinator penggalangan keterpaduan dengan instansi lain yang terkait, sehingga dapat terjalin kemitraan dan komitmen bersama, 3) Menghindari sistem aparat yang terlalu cepat dimutasi dan adanya pimpinan senior yang mendekati masa pensiun, 4) adanya komitmen dari Pemerintah Kota Palangka Raya dalam menyediakan aparat yang profesional, dengan sarana dan prasarana serta dana yang cukup.

3. Terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. a. Limbah Domestik/limbah rumah tangga

Kondisi persampahan di Kota Palangka Raya dipacu oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 229.599 jiwa, jika diambil rata ratanya setiap penduduk menghasilkan sampah sekitar 0,70 Kg / hari, maka setiap hari timbunan sampah di Wilayah Kota Palangka Raya kurang lebih 160..219 Kg / hari. Sampah tersebut pada

22

umumnya merupakan sampah rumah tangga dan sekitar 70 – 90 % berupa sampah organik. Sampah organik sebenarnya masih dapat didaur ulang menjadi bahan pupuk organik atau kompos atau sebagai bahan baku dalam pembuatan energi biomasa. Limbah domestik padat berupa sampah banyak menimbulkan masalah di pemukiman yang padat penduduknya. Pengelolaan sampah rumah tangga di pedesaan cukup dimasukan dalam lubang-lubang galian tanah dipekarangan dan selanjutnya dibakar atau ditimbun kembali. Limbah domestik dalam bentuk cair di wilayah yang padat penduduknya seperti di pusat – pusat pemerintahan (kecamatan) cukup difasilitasi dengan selokan drainase kota yang mengalir ke sungai sekaligus selokan yang berupa pembuangan air hujan. Sedang di daerah perdesaaan umumnya air limbah dari dapur dan kamar mandi cukup dialirkan ke lubang galian tanah di pekarangan yang jauh dari sumur. Limbah dari buangan kotoran terkumpul pada sistem septic tank dan sumur resapan. Saat ini TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sebagai tempat pembuangan sampah masih kurang, jumlahnya sangat tidak memadai. Meskipun wilayah Kota Palangka Raya cukup luas, namun dimasa yang akan datang lahan untuk TPA semakin sulit diperoleh karena selain harga tanah yang mahal juga kehadiran TPA sering kali tidak diterima oleh masyarakat. Sedangkan lahan bekas TPA yang sudah tidak digunakan lagi, kurang sehat jika digunakan sebagai pemukiman. Sampah padat menimbulkan masalah jika tertimbun di selokan dan atau masuk ke badan sungai. Hal ini dapat mengakibatkan tersumbatnya selokan dan banjir lokal yang menyebabkan pencemaran air.

23

Limbah domestik padat jika tidak dikelola dan diolah dapat membahayakan kesehatan manusia antara lain menjadi tempat berkembanganya lalat yang selanjutnya menjadi factor penyakit seperti diare, tipus, kolera disentri dll. Sedangkan sampah yang berasal dari kaleng, ban bekas, kantong plastik dan lainnya apabila berisi air hujan dapat menjadi tempat berkembangya nyamuk Aedes Aegepty yang mampu menyebarkan penyakit demam berdarah.

b. Degradasi lahan

Penurunan fungsi (degradasi) lahan disebabkan antara lain dengan adanya penambahan lahan kristis yang disebabkan oleh penggundulan hutan/kebakaran hutan dan lahan , baik dilakukan secara legal maupun ilegal. Kondisi lahan khususnya hutan di wilayah Kota Palangka Raya setiap tahun hampir tidak pernah lepas dari bahaya kebakaran hutan yang akhirnya akan berdampak kritis terhadap hutan. Apabila dibiarkan hal ini berlarut larut akan semakin kritis dan akhirnya akan mengancam manusia karena dapat menimbulkan bencana alam.

4. Meningkatnya jumlah penduduk.

Kepadatan penduduk yang cukup tinggi dengan tingkat kehidupan sebagian besar masyarakat tergolong prasejahtera sehingga ketergantungan pada sumberdaya alam yang berada disekitarnya sangat tinggi. Tingkat pendidikan masyarakat khususnya di pedesaan yang masih rendah, tingkat pengangguran yang masih cukup tinggi dan masalah kesehatan masyarakat yang semakin komplek. Distribusi penduduk dan kepadatan penduduk di Kota Palangka Raya masih belum merata. Migrasi penduduk antar kecamatan maupun antara

24

kota masih banyak terjadi dan sulit dikendalikan. Pertumbuhan penduduk yang tinggi membawa dampak terhadap kebutuhan akan ruang dan eksploitasi sumberdaya alam. Penyebaran penduduk yang tidak merata pada setiap kecamatan berakibat terhadap penekanan penduduk pada kecamatan tertentu. Masalah kesehatan yang dihadapi oleh penduduk Kota Palangka Raya semakin hari semakin kompleks, karena munculnya jenis-jenis penyakit baru yang sulit diobati. Penyakit utama : Infeksi saluran pernafasan (ISPA), sistem otot, alergi, kulit, tekanan darah tinggi, tukak lambung, diare, TB Paru, diabetes, penyakit susunan syaraf, gangguan mental dan tetanus.

5. Penurunan kualitas air sungai

Sumber – sumber air di kota Palangka Raya berpotensi tercemar oleh kegiatan penambangan emas tanpa ijin ( PETI ), limbah rumah tangga yang tidak diolah, sampah yang masuk ke badan sungai serta penggunaan zat – zat berbahaya dan beracun lainnya. Masyarakat yang melakukan penambangan ems tanpa ijin ( PETI ) di sepajang Sungai Kahayan dan Sungai Rungan mengakibatkan kualitas air di Kota Palangka Raya menjadi menurun.

Penangkapan ikan dengan bahan yang dilarang oleh Pemerintah, seperti menggunakan bahan kimia/beracun (racun hama, tuba, potas, dan lain – lain) yang mengakibatkan lingkungan perairan akan rusak, sehingga apabila air yang mengandung racun ini mengalir sangat berbahaya bila terkonsumsi oleh manusia.

Untuk menjawab tekanan yang ada terhadap lingkungan air, Pemerintah Kota Palangka Raya telah berupaya melakukan program – program pengelolaan lingkungan secara terintegrasi. Upaya – upaya untuk pengendalian pencemaran air terus giat dilakukan.

25

6. Belum oftimalnya penataan. penerapan, pengelolaan dan pemantauan lingkungan dokumen AMDAL atau UKL-UPL.

Kegiatan pelaku usaha yang ada di wilayah Kota Palangka Raya cenderung menimbulkan masalah merusak lingkungan. Untuk pemecahan masalah lingkungan yang terjadi, maka Badan Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha yang wajib AMDAL atau UKL-UPL, meningkatkan pengawasan dan menindak tegas pelaku usaha yang tidak menerapkan sesuai dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Dalam rangka penegakan hukum bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan yang berlaku tentang lingkungan hidup adalah memberikan rekomendasi kepada instansi terkait untuk penutupan usaha sementara apabila terbukti pelaku usaha melakukan pelanggaran ketentuan yang tertuang dalam dokumen.

7. Penurunan kualitas udara akibat asap

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah yang menghasilkan kabut asap dan menyelimuti berbagai wilayah termasuk di Kota Palangka Raya. Penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan biasanya adalah kegiatan masyarakat atau perusahaan yang membuka lahan dan menggarap untuk perkebunan maupun pemukiman baru dengan cara membakar. Selain itu juga oleh faktor kesengajaan dan kecerobohan masyarakat sehingga menimbulkan kebakaran lahan dan hutan yang terjadi dimana – mana dalam frekuensi dan luas areal yang berbeda – beda dari tahun ke tahun. Dampak dari terjadinya kebakaran hutan dan lahan tersebut menimbulkan banyak kerugian baik dari segi fisik, hayati, ekonomi, sosial maupun kesehatan masyarakat.

26

Identifikasi Isu-isu strategis (lingkungan eksternal) tersaji pada tabel

27

Tabel 3.1

IDENTIFIKASI ISU-ISU STRATEGIS (LINGKUNGAN EKSTERNAL)

No Isu Strategis

Internasional Nasional Regional/Lokal Lain-lain

1 2 3 4 5

1 Perubahan iklim Mitigasi dan adaptasi Kebakaran hutan dan lahan

2 Pertumbuhan penduduk Meningkatnya pemanfaatan lahan Banjir/meningkatnya timbunan sampah 3 Penurunan keaneka ragaman hayati Menurunnya kualitas dan kerusakan lingkungan Berkurangnya

populasi flora dan fauna

4 Pencemaran lingkungan Pencemaran limbah dan sampah

Meningkatnya

pencemaran air, udara dan tanah 5 Desertifikasi Degradasi lahan Kekeringan dan

28

29

3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Walikota dan Wakil Walikota Palangka Raya

A. Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota

1. VISI

“Terwujudnya Kota Palangka Raya menjadi Kota yang Maju, Rukun dan Sejahtera untuk Semua”.

2. MISI

a. Mewujudkan Kemajuan Kota Palangka Raya Smart Environment (Lingkungan Cerdas) meliputi : pembangunan Insfrastruktur, Pengelolaan Air, Lahan, Pengelolaan Limbah, Manajemen Bangunan dan Tata Ruang Transportasi;

b. Mewujudkan Kerukanan seluruh Elemen Masyarakat Smart Society (Masyarakat Cerdas) meliputi : Pengembangan Kesehatan, pendidikan, kepemudaan, layanan public, kerukunan dan keamanan;

c. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Kota dan Masyarakat daerah Pinggiran Smart Economy (Ekonomi Cerdas) meliputi : Pengembangan Industri, usaha kecil dan menengah, pariwisata dan perbankan;

Untuk mewujudkan Misi Walikota dan Wakil Walikota Palangka Raya Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya melaksanakan Misi 1 yaitu Mewujudkan Kemajuan Kota Palangka Raya Smart Environment (Lingkungan Cerdas) meliputi : pembangunan Insfrastruktur, Pengelolaan Air,

30

Lahan, Pengelolaan Limbah, Manajemen Bangunan dan Tata Ruang Transportasi.

B. Faktor Penghambat dan Pendorong Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota

I. Faktor Penghambat

- Rendahnya kemampuan aparatur Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya.

- Kurangnya kepedulian masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

- Kurang sinerginya antar instansi terkait masalah lingkungan. - Kurangnya tenaga pengawas dan penyuluh lingkungan hidup.

II. Faktor Pendorong

- Adanya komitmen kuat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya untuk meningkatkan SDM Bidang Lingkungan Hidup.

- Adanya perda Kota Palangka Raya nomor 47 Tahun 2017 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas, fungsi dan tata kerja Dinas Kota Palangka Raya.

- Adanya Standar Operating Prosedur (SOP) pelayanan perijinan - Tersedianya sarana dan prasarana labotratorium lingkungan

Permasalahan pelayanan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya berdasarkan sasaran Renstra K/L beserta factor penghambat dan pendorong keberhasilan penanganannya tersaji pada table

31

Tabel 3.2

Permasalahan Pelayanan SOPD Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya Berdasarkan Sasaran Renstra K/L Beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganan No. Sasaran Jangka Menengah Renstra K/L Permasalahan Pelayanan SOPD

Provinsi/Kabupaten/Kota

Sebagai Faktor

Penghambat Pendorong

(1) (2) (3) (4) (5)

1.

Menjaga Kualitas Lingkungan Hidup yang memberikan daya dukung, pengendalian,

pencemaran,pengelolaan DAS,

keanekaragaman hayati serta pengendalian perubahan iklim

Jalur birokrasi yang masih panjang dan terbatasnya SDM lingkungan

Kurang kesadaran menjaga kualitas lingkungan dan penegakan hukum

- Isu global dan perhatian internasional.

- Tersedianya peraturan perundang – undangan

- Sosialisasi dan pendampingan - Penambahan SDM teknis

lingkungan

Menjaga luasan dan fungsi hutan untuk menopang kehidupan sosial, ekonomi rakyat dan menjaga jumlah dan jenis flora dan fauna serta endangered species

Terbatasnya kewenangan Kurangnya koordinasi instansi terkait

- Koordinasi instansi terkait - Kewenangan yang jelas

masing-masing SOPD

3.

Menjaga keseimbangan ekosistem dan keberadaan SDA untuk kelangsungan kehidupan, menjaga DAS dan sumber mata air serta menjaga daya dukung fisik ruang wilayah serta kualitasnya

Jalur birokrasi yang masih panjang dan terbatasnya kewenangan

Kurangnya kesadaran dalam

menjaga keseimbangan

ekosistem

-Tersedianya Peraturan –peraturan Perundang-undangan

33

3.3 Telaahan Renstra Kementerian Lingkungan Hidup dan

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang (Halaman 8-33)

Dokumen terkait