• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.2. Televisi sebagai Media Massa

2.2.1. Pengertian Televisi dan Perkembangan Televisi di Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan arti televisi sebagai system penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar. Pesawat televisi berwarna mulai diperkenalkan kepada publik pada tahun 1950-an. Siaran televisi berwarna dilaksanakan pertama kali oleh stasiun televisi NBC pada tahun 1960 dengan menayangkan program siaran berwarna selama tiga jam setiap harinya. Televisi dalam buku Atmowiloto (1996 : 6) adalah salah satu bentuk media massa yang selain mempunyai daya tarik kuat, disebabkan adanya unsur kata – kata, music, dan efek suara, juga mempunyai keunggulan lain yaitu unsur visual berupa

gambar hidup yang dapat menimbulkan kesan mendalam bagi pemirsanya. Dalam usaha untuk mempengaruhi khalayak dengan menggugah emosi dan pikiran pemirsanya, televisi lebih mempunyai kemampuan yang menonjol dibanding media massa lainnya.

Televisi dianggap sebagai perpaduan radio dan film salah satu media massa yang efektif untuk menyampaikan iklan kepada konsumen potensial. Media massa ini memanfaaatkan pengaruh psikologi terhadap penontonya. Kemampuan televisi yang mampu mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan para penonton sehingga seakan – akan menghipnotis dan menghanyutkan penonton dalam suasana pertunjukan televisi. Media televisi menimbulkan dampak yang kuat terhadap konsumen potensial dalam hal menciptakan kelenturan dengan mengkombinasikan audiovisual sehingga produk dapat dikemas dalam iklan yang menarik.

Sejak 24 Agustus 1962 pemerintah Indonesia membuka siaran TVRI secara resmi, maka 27 tahun penonton televisi di Indonesia hanya dapat menonton satu saluran televisi. Barulah pada tahun 1989, pemerintah memberikan izin operasi kepada kelompok usaha Bimantara untuk membuka stasiun televisi RCTI yang merupakan stasiun televisi swasta pertama di Indonesia, disusul kemudian dengan SCTV, Indosiar, ANTV, dan TPI (Morissan,2008:9). Gerakan reformasi muncul di tahun 1998 telah memicu perkembangan industri media massa khususnya televisi. Seiriing dengan itu kebutuhan masyarakat akan informasi pun kian meningkat. Menjelang awal tahun 2000 muncul hampir secara serentak lima televisi swasta baru (Metro, Trans, TV7, Lativi, dan Global) serta beberapa

televisi daerah yang mencapai jumlah puluhan. Tidak ketinggalan pula munculnya televisi berlangganan yang menyajikan berbagai program luar dan dalam negeri.

2.2.2. Sifat dan Fungsi Media Televisi

Televisi juga merupakan media yang mempunyai kelebihan dibanding dengan media lain, yakni dapat didengar dan dilihat, dapat dilihat dan didengar bila diputar kembali, daya rangsang sangat tinggi, elektris, sangat mahal, daya jangkau besar. Televisi merupakan salah satu media terfavorit bagi para pemasang iklan di Indonesia. Media televisi merupakan industri yang padat modal, padat teknologi dan padat sumber daya manusia. Dengan demikian bisa disimpulkan beberapa karakteristik televisi sebagai media komunikasi massa berdasarkan defenisi para ahli diatas yang sangat sesuai dengan tujuan penelitian ini, yakni : komunikator dalam media televisi merupakan massa terlembaga, pesan yang disampaikan bersifat umum, komunikan dalam komunikasi massa dengan televisi anonim dan heterogen, televisi menimbulkan keserempakan, proses penyampaiannya mengutamakan isi ketimbang hubungan, bersifat satu arah, stimulasi alat indera “terbatas”, dan umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda (Morissan,2008:10).

Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian pakar yang dengan serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat, demikian halnya televisi. Lasswell (1948/1960), pakar komunikasi dan professor hukum di Yale mencatat ada tiga fungsi media massa. Disamping tiga fungsi tersebut, Wright (1959) menambahkan fungsi keempat. Adapun fungsi tersebut adalah :

a. Pengawasan (Surveillance)

Fungsi pertama ini menyatakan media massa termasuk televisi seringkali memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi termasuk berita penting dalam ekonomi, public dam masyarakat, seperti kondisi cuaca yang ekstrem, ancaman militer, lalu lintas, laporan bursa pasar dan sebagainya. Namun, fungsi pengawasan juga bisa menyebabkan beberapa disfungsi, seperti kemabukan dan kepanikan karena adanya penekanan yang berlebihan terhadap bahaya atau ancaman di masyarakat.

b. Korelasi (Correlation)

Korelasi adalah seleksi dan interpretasi informasi tentang lingkungan. Media seringkali memasukkan kritik dan cara bagaimana seseorang harus bereaksi terhadap kejadian tertentu, karena itu televisi juga merupakan bagian dari media yang berisi editorial dan propaganda. Fungsi korelasi bertujuan untuk menjalankan norma sosial dan menjaga konsensus dengan mengekspos penyimpangan, memberikan status dengan cara menyoroti individu terpilih, dan dapat berfungsi untuk mengawasi pemerintah.

Fungsi korelasi dapat menjadi disfungsi ketika televisi terus menerus melanggengkan steoreotype dan menumbuhkan kesamaan, menghalangi perubahan sosial, dan inovas, mengurangi kritik, melindungi serta memperluas kekuasaan yang mungkin perlu diawasi.

c. Penyampaian Warisan Sosial (Transmission of The Social Heritage)

Media televisi juga bertujuan meningkatkan kesatuan masyarakat dengan cara memperluas dasar pengalaman umum mereka. Media membantu

integrasi individu ke masyarakat baik dengan cara melanjutkan sosialisasi setelah pendidikan formal berakhir ataupun dengan mengawalinya pada masa pra – sekolah. Sama seperti fungsi televisi yang lainnya, fungsi ini juga bisa menyebabkan disfungsi dengan menyebabkan berkurangnya keanekaragaman budaya dan membantu meningkatkan masyarakat massa dengan menayangkan hal yang sama misalnya tentang cara berpakaian yang sama. Dalam hal ini iklan juga merupakan tayangan televisi yang bisa mencapai fungsi penyampaian warisan sosial.

d. Hiburan (Entertainment)

Media dalam hal ini televisi dimaksudkan untuk memberi waktu istirahat dari masalah setiap hari dan mangisi waktu luang. Media mengekspos budaya massa berupa seni dan musik pada berjuta – juta orang, dan sebagian besar orang merasa senang karena bisa meningkatkan rasa dan pilihan publik dalam seni. Fungsi ini mencapai persentase 75 % ada dalam acara televisi.

2.2.3. Kelebihan dan Kekurangan Media Televisi Beberapa kelebihan televisi di antaranya:

1. Karena sifatnya yang audio visual, pemirsa dapat terbantu oleh kehadiran gambar. Oleh karena itu setiap orang pasti memiliki gambaran yang sama, tidak ada imajinasi yang berbeda.

2. Dapat menyaksikan kejadian di tempat jauh tanpa harus pergi ke tempat tersebut. Hal ini dapat dinikmati dalam siaran langsung pertandingan olahraga atau konser musik. Tak perlu pergi ke Italia untuk menyaksikan pertandingan Juventus melawan Inter Milan. Cukup duduk santai di depan televisi bisa menyaksikan pertandingan tersebut.

3. Dapat menikmati beragam tayangan hiburan dengan gratis. Tak perlu pergi ke movie theater untuk menyaksikan film yang bermutu.

4. Informasi yang disajikan bersifat up to date, kejadian yang baru terjadi dapat disaksikan di televisi.

5. Banyaknya saluran dalam televisi membuat setiap orang dapat menyaksikan program favorit masing-masing.

Beberapa kekurangan televisi di antaranya:

1. Dibatasi oleh durasi program dan panjangnya visualisasi. 2. Tidak bisa didengarkan sambil lalu.

3. Kemungkinan muncul tayangan yang mengandung unsur kekerasan, kriminalitas, dan seks tanpa disensor semakin banyak. Hal ini dapat berperangaruh buruk terutama bagi anak-anak dan remaja.

4. Sebagai media elektronik, pesan yang disampaikan bersifat selintas. 5. Berita yang disampaikan kurang mendalam (Morissan,2008:56 – 60)

Dokumen terkait