HASIL DAN PEMBAHASAN
________________________________________________________________ * Telur segar tanpa kerabang (putih + kuning telur)
P0 0 0 76 1347.37 P1 252 0 15 1749.00 P2 567 0 7.5 1554.16 P3 0 300 76 1427.15 P4 0 400 76 1676.27 P5 252 300 15 1354.00 P6 252 400 15 1410.22 P7 567 300 7.5 1412.73 P8 567 400 7.5 1602.07 _________________________________________________________________ * Telur segar tanpa kerabang (putih + kuning telur)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan vitamin A dalam telur meningkat dengan adanya suplementasi ZnO maupun enzim fitase dan kombinasinya. Besarnya peningkatan kandungan vitamin A tersebut dibandingkan dengan ransum kontrol (tanpa suplementasi ZnO maupun enzim fitase) adalah : 29.81% pada P1(ZnO 252 mg/kg ransum), 15.35% pada P2(ZnO 567 mg/kg ransum), 5.92% pada P3 (300 U fitase/kg ransum), 24.41% pada P4 (400 U fitase/kg ransum), 0.49% pada P5 (252 mg ZnO/kg ransum + 300 U fitase/kg ransum), 4.66% pada P6 (252 mg ZnO/kg ransum + 400 U fitase/kg ransum), 4.85% pada P7 (567 mg ZnO/kg ransum + 300 U fitase/kg ransum) dan 18.90% pada P8 (567 mg ZnO/kg ransum + 400 U fitase/kg ransum).
Peningkatan vitamin A tertinggi dicapai oleh perlakuan P1 ( suplementasi 254 mg ZnO/kg ransum dengan rasio molar asam fitat : Zn = 15). Suplementasi enzim fitase dengan dosis tinggi ( 400 U fitase/kg ransum) pada ransum P4 lebih efektif dalam meningkatkan kandungan vitamin A dalam telur dibandingkan
dengan dosis 300 U fitase/kg ransum (P3). Kombinasi suplementasi ZnO + fitase dalam ransum tidak mampu meningkatkan vitamin A dalam telur lebih tinggi dibandingkan dengan hanya suplementasi ZnO atau enzim fitase saja. Dari hasil ini terlihat adanya peranan mineral Zn dalam meningkatkan kandungan vitamin A dalam telur. Enzim fitase pada perlakuan P3 dan P4 juga mampu melepas ikatan antara asam fitat dengan Zn, sehingga mineral Zn menjadi tersedia untuk meningkatkan kandungan vitamin A dalam telur.
Baker et al. (1979) menyatakan bahwa defisiensi Zn dapat menurunkan pelepasan vitamin A dari hati. Lonnerdal (1988) menyatakan bahwa defisiensi Zn menurunkan vitamin A dalam plasma, retinol-binding protein (RBP) dalam plasma serta menurunkan sintesis RBP dalam hati. Mobilisasi vitamin A dari hati dihambat denga n adanya defisiensi mineral Zn. Groff dan Gropper (2000) menyatakan bahwa defisiensi Zn menurunkan mobilisasi retinol di hati dari bentuk simpannya (retinyl ester). Aktivitas enzim retinyl ester hydrolase yang melepas vitamin A dari bentuk simpannya dihambat dengan kurangnya mineral Zn.
Baker etal. (1979) menyatakan bahwa vitamin A alkohol (retinol) yang ada di mukosa usus halus diesterifikasi menjadi retinyl palmitate atau stearat, kemudian ditranspor ke hati . Sebagian besar vitamin A bentuk ester ini disimpan di hati dan hanya dalam jumlah kecil disimpan dalam ginjal. Ketika diperlukan, vitamin A bentuk ester yang ada di hati ini dihidrolisa menjadi retinol dan diangkut ke darah terikat dengan retinol –binding protein (RBP). McDowell (1992) menyatakan bahwa defisiensi Zn menurunkan RBP karena tidak cukupnya vitamin A yang dilepas dari hati ke darah. Leeson dan Summers (2001) melaporkan bahwa RBP diangkut ke jaringan target dimana RBP ini terikat ke permukaan sel reseptor dan retinol diangkut ke dalam sel jaringan target, antara lain telur.
Aktivitas Alkalin Fosfatase dalam Serum Ayam Petelur ISA-Brown
Enzim alkalin fosfatase merupakan salah satu parameter yang dapat menggambarkan status mineral Zn dalam tubuh, karena enzim tersebut sangat tergantung mineral Zn untuk aktivitas maupun strukturnya. Menurut Groff dan Gropper (2000), enzim alkalin fosfatase mengandung 4 ion Zn per molekul enzim, 2 ion dibutuhkan untuk aktivitas enzim dan 2 ion Zn diperlukan untuk strukturnya. Pengaruh perlakuan terhadap aktivitas alkalin fosfatase dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Rataan aktivitas alkaline fosfatase pada ayam petelur ISA-Brown __________________________________________________________________
Ransum ZnO Fitase Rasio Alkalin
Perlakuan (mg/kg) (U/kg) AF:Zn Fosfatase(U/liter)
__________________________________________________________________ P0 0 0 76 619.67 P1 252 0 15 743.33 P2 567 0 7.5 756.67 P3 0 300 76 850.67 P4 0 400 76 910.33 P5 252 300 15 943.00 P6 252 400 15 1186.33 P7 567 300 7.5 1165.33 P8 567 400 7.5 1500.00 Pengaruh utama : Mineral ZnO 0 76 793.56 252 15 957.55 567 7.5 1140.67 Fitase 0 76 706.56 A* 300 76 986.33 AB 400 76 1198.89 B _______________________________________________________________________________
* Superskrip dengan huruf besar yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0.01)
Suplementasi ZnO dalam ransum dapat meningkatkan aktivitas alkalin fosfatase (ALP) yang cukup tinggi dalam serum ayam petelur ISA-Brown, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Suplementasi ZnO 252 mg/kg ransum (rasio molar AF : Zn = 15) meningkatkan aktivitas alkalin fosfatase
sebesar 20.67% dibandingkan dengan ransum kontrol. Suplementasi ZnO 567 mg/kg ransum(rasio molar = 7.5 ) meningkatkan aktivitas alkalin fosfatase lebih tinggi lagi, yaitu 43.74% dibandingkan dengan ransum kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa enzim ALP membutuhkan Zn untuk aktivitasnya. Metzler (1977) menyatakan ALP membutuhkan Zn untuk aktivitas optimumnya. Dilaporkan juga bahwa fungsi ALP adalah untuk resorpsi Ca tulang, bertanggung jawab untuk menyediakan fosfor-inorganik pada tempat yang membutuhkan. ALP berada dalam jaringan yang terlibat aktif dalam transpor zat nutrisi, tetapi ALP hampir tidak ditemukan pada sel darah merah.
Suplementasi enzim fitase sebanyak 400 U/kg ransum sangat nyata (P<0.01) meningkatkan aktivitas ALP dalam serum ayam petelur ISA-Brown dibandingkan dengan kontrol. Suplementasi enzim fitase 300 U/kg juga meningkatkan aktivitas ALP dalam serum ayam, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Rataan peningkatan aktivitas ALP adalah sebesar 39.6% (suplementasi 300 U/kg ransum) dan 69.68% (suplementasi 400 U/kg ransum) dibandingkan dengan kontrol.
Adanya peningkatan aktivitas ALP dengan adanya suplementasi enzim fitase ini karena fitase mampu memecah ikatan antara asam fitat dengan mineral – mineral bervalensi-2, termasuk Zn. Mineral Zn ini sangat diperlukan oleh ALP untuk aktivitas optimalnya. Sebastian et al. (1996) menyatakan bahwa jika asam fitat dihidrolisa oleh fitase mikroba, maka fitase ini akan melepas semua mineral seperti Ca, Mg, Fe, Zn. Sanberg (2002) menyatakan bahwa degradasi fitat (myo-inositol hexakisphosphate/InsP6) terjadi selama pengolahan makanan dan dalam saluran pencernaan Degradasi fitat sangat penting dari segi nutrisi, karena kakuatan ikatan mineral akan menurun dan solubilitas meningkat ketika grup fosfat lepas dari cincin inositol, sehingga meningkatkan ketersediaan biologis (bioavailability) dari mineral esensial. Hidrolisis fitat oleh fitase mikroba (3-fitase) dapat dilihat pada Gambar 12.
Dengan adanya hidrolisis fitat seperti pada Gambar 12, suplementasi enzim fitase mikroba dalam ransum penelitian ini efektif memecah serta melepaskan fosfat dari cincin inositol, sehingga mineral- mineral yang terikat fitat menjadi lepas dan tersedia untuk ayam, diantaranya adalah mineral Zn dan Mg yang dibutuhkan untuk aktivitas alkalin fosfatase. Menurut Metzler (1977), alkalin
fosfatase membutuhkan Zn2+ untuk strukturnya serta memerlukan mineral Zn2+ dan Mg2+ untuk aktivitasnya. Dengan demikian, aktivitas alkalin fosfatase meningkat dengan adanya suplementasi enzim fitase dalam ransum. Dengan meningkatnya aktivitas alkalin fosfatase pada ayam, ketersediaan mineral P inorganik meningkat, karena menurut Metzler (1977), fungsi dari alkalin fosfatase adalah mengkatalisis hidrolisis ester fosfat untuk menghasilkan fosfat inorganik. Alkalin fosfatase ini bertanggung jawab untuk menyediakan fosfat inorganik pada tempat yang memerlukan. Menurut Underwood dan Suttle (2001), mineral P diantaranya berfungsi untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang. Mineral P juga merupakan komponen deoxy- dan ribonucleic acids (DNA dan RNA) yang sangat penting dalam pertumbuhan dan diferensiasi sel. Pada ayam petelur, defisiensi mineral P menyebabkan turunnya produksi telur, daya tetas dan ketebalan kerabang. Ins (1,2,3,4,5,6) P6 Dl-Ins (1,2,4,5,6) P5 Dl-Ins (1,2,5,6) P5 Dl-Ins (1,2,5) P3 Dl-Ins (1,2,6) P3 Dl-Ins (1,2) P2 Ins (2) P
Gambar 12. Hidrolisis fitat (Ins P6) oleh enzim fitase mikroba (Sanberg 2002)
Kombinasi suplementasi mineral ZnO dan enzim fitase juga memberikan efek positif terhadap aktivitas ALP, yaitu semakin meningkat penambahan ZnO dan enzim fitase, aktivitas ALP pun semakin tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kerjasama yang bersifat sinergis antara ZnO dengan enzim fitase
terhadap aktivitas ALP dalam serum ayam. Dari hasil tersebut juga jelas terlihat peranan enzim fitase dalam memecah ikatan antara asam fitat dengan mineral, sehingga mineral Zn menjadi tersedia untuk aktivitas ALP.
Dengan meningkatnya aktivitas enzim alkalin fosfatase dalam serum ayam tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan fosfor inorganik pada jaringan yang membutuhkan, karena sesuai dengan fungsinya bahwa enzim alkalin fosfatase berfungsi menghidrolisa monoester fosfat dari berbagai senyawa. Persentase peningkatan aktivitas ALP dari semua perlakuan dibandingkan dengan kontrol diilustrasikan pada Gambar 13.
0 19,96 22,11 37,28 46,91 52,18 91,45 88,06 142,06 0 20 40 60 80 100 120 140 160 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 Ransum perlakuan
Peningkatan aktivitas alkalin
fosfatase(%)
Gambar 13. Grafik persentase peningkatan aktivitas alkalin fosfatase dalam serum ayam petelur ISA-Brown
Tebal Kerabang Telur Ayam ISA-Brown
Rataan tebal kerabang hasil penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 22.
Rataan telur kerabang yang dihasilkan dalam penelitian ini berkisar antara 0.353 sampai dengan 0.379 mm. Menurut Rose (1997), tebal kerabang pada unggas bervariasi, dari mulai 0.13 mm (pada telur puyuh) sampai dengan 0.45 mm (pada telur kalkun). Tullet (1987) menyatakan bahwa tebal kerabang adalah faktor utama yang menentukan kekuatan kerabang, makin tebal kerabang dikatakan makin kuat kerabang telur tersebut.
Tabel 22. Rataan tebal kerabang telur ayam ISA-Brown hasil penelitian ________________________________________________________________ Ransum ZnO Fitase Rasio Tebal Kerabang Perlakuan (mg/kg ransum) (U/kg ransum) AF:Zn (mm)
_________________________________________________________________ P0 0 0 76 0.377 P1 252 0 15 0.374 P2 567 0 7.5 0.366 P3 0 300 76 0.367 P4 0 400 76 0.372 P5 252 300 15 0.374 P6 252 400 15 0.354 P7 567 300 7.5 0.379 P8 567 400 7.5 0.374 __________________________________________________________________________
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal kerabang cenderung menurun dengan adanya perlakuan suplementasi ZnO maupun enzim fitase dalam ransum, karena kandungan mineral kalsium dalam kerabang telur me nurun dengan adanya semua perlakuan tersebut dibandingkan dengan kontrol (Tabel 17). Leeson dan Summers (2001) menyatakan bahwa zat nutrisi utama yang mempengaruhi tebal kerabang telur adalah kalsium, fosfor dan vitamin D3. Georgievskii et al. (1982) menyatakan bahwa ayam petelur yang diberi ransum dengan kandungan kalsium 3.0% dan konsumsi kalsium 3.19 g/ekor/hari menghasilkan kerabang telur dengan ketebalan 0.376 mm.
Rataan tebal kerabang hasil penelitian ini mendekati Georgievskii et al. (1982), kecuali untuk perlakuan P2 (0.366 mm ), perlakuan P3 ( 0.367 mm) dan perlakuan P6 (0.354 mm). Um dan Paik (1999) mendapatkan tebal kerabang 0.357 mm pada ayam yang diberi ransum dengan kandungan kalsium 3.75% dan fosfor tersedia 0.24% dengan suplementasi enzim 500 U/kg ransum. Hasil penelitian Lim et al. (2003) menunjukkkan bahwa tebal kerabang telur ayam ISA-Brown yang diberi ransum dengan kandungan kalsium 4.0% dan fosfor tersedia 0.25% dengan suplementasi enzim fitase 300 U/kg ransum adalah sebesar 0.358 mm. Hasil penelitian Um et al. (1999) menunjukkan bahwa tebal kerabang
telur ayam ISA- Brown yang diberi ransum dengan kandungan kalsium 3.75% dan fosfor tersedia 0.26% adalah sebesar 0.372 mm.
Ransum dalam penelitian ini mengandung mineral kalsium 3.28%, dengan demikian rataan konsumsi kalsium harian (konsumsi ransum x kandungan kalsium ransum) dari ayam petelur ISA-Brown penelitian adalah : 2.96 g/ekor/hari (perlakuan P0), 2.86 g/ekor/hari (perlakuan P1), 2.88 g/ekor/hari (perlakuan P2), 3.04 g/ekor/hari (perlakuan P3), 3.03 g/ekor/hari (perlakuan P4), 3.0 g/ekor/hari (perlakuan P5), 2.84 g/ekor/hari (perlakuan P6), 0.25 g/ekor/hari (perlakuan P7) dan 2.79 g/ekor/hari (perlakuan P8). Konsumsi kalsium untuk perlakuan P3 mendekati konsumsi kalsium menur ut Georgievskii et al. (1982), tapi menghasilkan tebal kerabang lebih rendah, yaitu 0.367 mm. Hal ini karena penyerapan mineral kalsium ke dalam kerabang telur ayam penelitian mengalami penurunan dengan adanya sifat antagonis dengan mineral Zn (Georgievskii et al. 1982). Tingginya mineral Zn yang dideposit di dalam kerabang menurunkan mineral kalsium.
Kesimpulan Hasil Penelitian pada Ayam Petelur
Dari hasil penelitian pada ayam petelur dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Suplementasi ZnO 252 mg/ kg ransum (rasio molar asam fitat : Zn = 15 / P1) adalah perlakuan terbaik. Pada penambahan enzim fitase saja, 400 unit fitase/ kg ransum (P4) merupakan taraf terbaik. Kombinasi suplementasi ZnO + enzim fitase terbaik adalah 252 mg ZnO/ kg ransum + 300 unit fitase/ kg ransum (rasio molar asam fitat : Zn = 15 + 300 unit fitase/kg ransum). Dari semua perlakuan, P5 (rasio molar asam fitat : Zn =15 + 300 unit fitase/kg ransum) merupakan perlakuan terbaik. Kesimpulan tersebut ditunjukkan dengan hasil yang dirangkum dalam bagan di bawah ini :
AYAM PETELUR
PENELITIAN II
Performan Tikus Sprague Dawley Umur 45-80 Hari
Rataan performan tikus Sprague Dawley umur 45-80 hari dapat dilihat dalam Tabel 23.
Suplementasi ZnO sampai rasio molar asam fitat (AF) : Zn = 10 tidak nyata mempengaruhi pertambahan berat badan, konsumsi ransum maupun efisiensi penggunaan ransum pada tikus Sprague Dawley umur 45-80 hari. Walaupun secara statistik tidak berbeda nyata, suplementasi ZnO sebanyak 13, 29 dan 61 mg/kg ransum menurunkan konsumsi ransum pada tikus, sehingga pertambahan
Suplementasi Fitase 400 unit/kg ransum (rasio AF:Zn=76)/P4 Suplementasi 252 mg ZnO/kg ransum + 300 U fitase/kg ransum (rasio AF:Zn =15) / P5 Suplementasi ZnO 252 mg/kg ransum (rasioAF:Zn=15)/P1 •Retensi semu Zn ? (3.35 – 12.17 mg/ekor/hari) •Ef.penggunaan ransum ? (konv.ransum dari 2.86 – 2.76) •Berat telur ? •Zn telur tetap
•Zn dideposit dalam kera bang & tulang tibia •Menekan masuknya Mn, Fe, Ca dalam telur •Peningkatan vit A telur tertinggi (29.81%) •Alkalin fosfatase ? •Retensi Zn ? (3.35-12.58 mg/ekor/hari) •Prod.telur tertinggi (74.2%) •Ef.penggunaan ransum tertinggi (konv. Ransum 2.66)
•Zn telur tetap •Zn masuk dalam ke rabang, menekan Mn, Fe & Mn dalam telur & daging
•Meningkatkan Cu,P telur •Vit A ? (0.49%) •ALP ? (52.18%) •Retensi semu Zn ? (3.35 – 3.38 mg/ekor/hari) •Produksi telur ? (70.90 – 72.30%) •Berat telur ? •Ef.penngunaan ransum ? (konv. Ransum dari 2.86 – 2.79)
•Zn telur tetap
•Zn masuk dalam kera- bang, menekan Mn, Fe, Ca dalam telur, meningkatkan Cu,P telur •Vit A telur ? (24.41%) •ALP ? (46.91%)
bobot badanpun menurun, tetapi efisiensi penggunaan ransum cenderung meningkat walaupun sedikit dibandingkan dengan ransum kontrol. Underwood dan Suttle (2001) menyatakan bahwa mineral Zn berperan dalam mengontrol selera makan dengan adanya perubahan konsentrasi neurotransmitter berasal asam amino (amino acid – derived neurotransmitter) di otak.
Suplementasi enzim fitase sebanyak 750 U/kg ransum tidak nyata mempenga ruhi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan maupun efisiensi penggunaan ransum. Walaupun secara statistik tidak berbeda nyata, suplementasi fitase 750 U/kg ransum menghasilkan efisiensi penggunaan ransum lebih tinggi dibandingkan dengan ransum kontrol. Suplementasi enzim fitase 1000 U/kg ransum tidak nyata mempengaruhi konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, tetapi nyata (P<0.05) meningkatkan efisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan kontrol maupun perlakuan lainnya.
Tabel 23. Rataan pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, efisiensi penggunaan ransum, konsumsi protein dan rasio efisiensi protein pada tikus Sprague Dawley umur 45-80 hari
____________________________________________________________________________________________________________
Ransum ZnO Fitase Rasio Konsumsi Pertambahan Efisiensi1) Konsumsi2) Rasio 3) Perlakuan (mg/kg (U/kg AF:Zn Ransum Bobot Badan Penggunaan Protein Efisiensi
ransum) ransum) (g/ekor) (g/ekor) Ransum (% (g/ekor) Protein
_____________________________________________________________________________________________________________ R0 0 0 27 345.59 103.81 29.89b4) 81.77 1.27 R1 13 0 20 301.26 90.91 30.19b 71.28 1.28 R2 29 0 15 303.66 91.71 30.19b 71.85 1.27 R3 61 0 10 314.86 91.17 29.95b 74.49 1.22 R4 0 750 27 311.28 94.70 30.40b 73.65 1.29 R5 0 1000 27 315.33 104.46 33.12a 74.61 1.40 _____________________________________________________________________________________________________________ 1)
Pertambahan bobot badan (g/ekor) : konsumsi ransum (g/ekor)
2)
Konsumsi ransum (g/ekor) x kandungan protein ransum (%)
3)
Pertambahan bobot badan (g/ekor) : konsumsi protein (g/ekor)
4)
Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa suplementasi fitase sebanyak 1000 U/kg ransum (R5) efektif meningkatkan efisiensi penggunaan ransum pada tikus umur 45-80 hari. Hal ini disebabkan efisiensi penggunaan protein pada R5
(suplementasi fitase 1000 U/kg ransum) lebih tinggi dibandingkan dengan ransum kontrol (perlakuan R0), terbukti dengan konsumsi protein sebesar 74.61 g/ekor pada R5 (suplementasi enzim fitase 1000 U/kg ransum) mampu menghasilkan pertambahan bobot badan 104. 46 g/ekor, sedangkan pada R0 (ransum kontrol) dengan konsumsi protein 81.77 g/ekor hanya menghasilkan pertambahan bobot badan 103.81 g/ekor. Efsisiensi penggunaan protein per g bobot badan pada R5 adalah 1.4 (pertambahan bobot badan/konsumsi protein), artinya setiap 1 gram protein akan menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar 1.4 gram, sedangkan pada R0 hanya 1.27.
Menurut BASF (2002), enzim fitase dapat meningkatkan kecernaan protein dan asam amino. Pallauf dan Rimbach (1999) mendapatkan hasil penelitian bahwa pakan dengan rasio molar asam fitat : Zn = 25 pada tikus menyebabkan penurunan efisiensi penggunaan ransum pada tikus, pengaruh negatif ini dapat dikoreksi dengan suplementasi fitase 1000 U/kg ransum. FAO dan WHO (2002) menyatakan bahwa efek negatif asam fitat dalam makanan manusia dapat dikurangi dengan penambahan fitase mikroba.
Retensi Semu (Apparent Retention) Mineral Zn, Ca dan P pada Tikus Sprague Dawley Umur 45-80 Hari
Retensi mineral Zn, kalsium dan fosfor diukur untuk melihat sejauh mana mineral- mineral tersebut dapat dimanfaatkan oleh tikus. Retensi yang diukur dalam penelitian ini adalah retensi semu (apparent retention), karena hanya mengukur berapa yang masuk melalui mulut (konsumsi ransum) dan berapa yang keluar melalui feses dan urin. Pengukuran ini tidak memperhitungkan mineral yang diekskresikan melalui pernapasan, keringat, kulit, kehilangan rambut, dll (Solomons 1988). Rataan retensi semu mineral Zn, Ca dan P pada tikus disajikan pada Tabel 24.
Tabel 24. Rataan Retensi semu mineral Zn, Ca dan P pada tikus Sprague Dawley umur 45-80 hari
__________________________________________________________________ Retensi mineral
______________________________
Ransum ZnO Fitase Rasio
Perlakuan (mg/kg (U/kg AF:Zn Zn (%) Ca (%) P (%) ransum) ransum) __________________________________________________________________ R0 0 0 27 67.21D 35.00bA 54.54A R1 13 0 20 78.07B 32.10bC 53.98A R2 29 0 15 86.41A 12.10D 41.28B R3 61 0 10 87.78A 5.74D 20.99C R4 0 750 27 78.94B 27.91bB 35.87B R5 0 1000 27 73.51C 41.47aA 59.16A __________________________________________________________________________________________________
* Superskrip dengan huruf besar yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0.01) ; superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)
Retensi Semu Mineral Zn pada Tikus
Suplementasi ZnO dalam ransum sangat nyata (P<0.01) meningkatkan retensi Zn pada tikus. Semakin tinggi dosis suplementasi ZnO dalam ransum menghasilkan retens i Zn yang semakin tinggi, walaupun antara retensi Zn pada R2 ( rasio molar AF :Zn = 15) dan R3 ( rasio molar AF : Zn = 10) secara statistik tidak berbeda nyata. Menurut Underwood dan Suttle (2001), mineral Zn diabsorpsi menurut kebutuhan pada tikus. Dosis suplementasi pada rasio molar asam fitat : Zn = 15 sudah memenuhi kebutuhan mineral Zn untuk tikus. Hasil tertinggi retensi Zn pada tikus dengan adanya suplementasi ZnO diperoleh pada R3 ( rasio molar AF : Zn = 10).
Menurut FAO dan WHO (2002), rasio molar antara asam fitat dengan Zn dalam makanan merupakan indikator untuk melihat pengaruh asam fitat dalam menekan absorpsi mineral Zn. Dijelaskan pula bahwa pada makanan dengan rasio molar antara asam fitat : Zn >15, mineral Zn yang diabsorpsi sekitar 15%.
Pada penelitian ini, retensi Zn pada tikus yang diberi ransum dengan rasio molar antara asam fitat : Zn > 15, yaitu pada R0 ( rasio molar AF : Zn = 27) dan
R1 (rasio molar AF : Zn = 20) lebih tinggi dibandingkan dengan rekomendasi FAO dan WHO (2002). Tingginya retensi Zn pada tikus yang diberi ransum R0 tersebut disebabkan adanya protein hewani dalam ransum, yaitu susu skim. Dalam FAO dan WHO (2002) dinyatakan bahwa ketersediaan Zn meningkat jika makanan mengandung protein hewani atau susu. Hambidge (2003) mendapatkan bentuk hubungan antara absorpsi Zn dengan rasio molar asam fitat : Zn dalam makanan manusia adalah regresi linier negatif.
Suplementasi enzim fitase sebanyak 750 U/kg ransum maupun 1000 U/kg ransum sangat nyata meningkatkan (P<0.01) retensi Zn pada tikus dibandingkan dengan ransum kontrol (R0, tanpa suplementasi ZnO maupun enzim fitase). Peningkatan ini mungkin disebabkan adanya pemecahan ikatan antara asam fitat dengan mineral Zn, sehingga Zn menjadi lebih tersedia. Kornegay (2001) menemukan bahwa penambahan enzim fitase sebanyak 800 U/kg dalam ransum yang mengandung 27 mg Zn/kg ransum meningkatkan retensi Zn dan menurunkan ekskresi Zn pada anak ayam. Hambidge (2003) menyatakan bahwa asam fitat adalah faktor makanan penting yang bertanggung jawab dalam pembatasan ketersediaan biologis ( bioavailability) Zn dari makanan yang berbasis tanaman (terutama biji-bijian). Dengan demikian asam fitat mempunyai kontribusi utama terhadap kejadian defisiensi Zn di seluruh dunia.
Suplementasi enzim fitase sebanyak 750 U/kg ransum lebih efektif dalam meningkatkan retensi Zn pada tikus dibandingkan dengan suplementasi Zn sebanyak 1000 U/kg ransum. Berkurangnya absorpsi Zn pada suplementasi fitase 1000 U/kg ransum dibandingkan dengan suplementasi 750 U/kg ransum dapat disebabkan terjadinya pembebasan mineral kalsium dan fosfor lebih banyak dari ikatan antara asam fitat dengan mineral- mineral tersebut oleh enzim fitase, sehingga mineral kalsium dan fosfor mampu menekan absorpsi Zn. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 22, bahwa suplementasi fitase 1000 U/kg ransum dapat meningkatkan retensi kalsium dan fosfor, sedangkan retensi mineral Zn menurun. Georgievskii et al. (1982) menyatakan bahwa tingginya mineral kalsium atau fosfor akan menekan absorpsi mineral Zn atau terjadi interaksi antagonis antara absorpsi mineral kalsium dan Zn maupun antara mineral fosfor dan Zn.
Retensi Semu Mineral Ca
Suplementasi ZnO dalam ransum menurunkan retensi kalsium pada tikus. Retensi kalsium sangat nyata menurun (P<0.01) dengan adanya penambahan ZnO 29 mg/kg ransum (rasio molar AF : Zn = 15 pada perlakuan R2) dan menurun terus dengan suplementasi ZnO 61 mg/kg ransum (rasio molar AF : Zn = 10 pada perlakuan R3), walaupun secara statistik tidak terdapat perbedaan nyata antara perlakuan R2 dan perlakuan R3. Hasil ini menunjukkan adanya tekanan dari mineral Zn terhadap absorpsi mineral kalsium pada tikus atau terjadi interaksi antagonis antara mineral Zn dan kalsium. Semakin tinggi mineral Zn yang diretensi oleh tikus, retensi kalsium semakin menurun.
Bertolo et al. (2001a) mendapatkan hasil penelitiannya bahwa mineral kalsium bersaing dengan Zn untuk diangkut melewati membran brush border
dalam usus halus. Bertolo et al. (2001b) menyatakan bahwa mineral kalsium memp unyai afinitas lebih rendah dibandingkan dengan mineral Zn untuk protein pengangkut di dalam membran brush border usus halus. Mineral Zn dapat menggantikan kalsium dalam tempat mineral kalsium dari protein pengangkut. Menurut Bertolo et al. (2001b), masuk nya kalsium ke dalam membran brush border babi muda dihambat oleh mineral Zn pada rasio molar 0.4 : 1 (Zn : Ca) dalam waktu 20 menit. Rasio molar Zn terhadap Ca dalam ransum penelitian ini disajikan pada Tabel 25.
Pada penelitian ini diperoleh bahwa rasio molar antara Zn : Ca = 0.005 : 1 pada perlakuan R2 (suplementasi mineral ZnO 29 mg/kg ransum) sudah mampu menekan absorpsi Ca pada tikus. Perbedaan dengan hasil Bertolo et al. (2001a) dapat disebabkan kondisi fisiologis dari ternak penelitian yang berbeda. Pada penelitian tersebut pengukuran absorpsi Zn dan kalsium dilakukan pada usus halus yang diambil dari ternak babi (di luar tubuh ternak), sedangkan pada penelitian ini yang diukur adalah jumlah mineral Zn dan Ca yang dikonsumsi dikurangi jumlah yang dikeluarkan melalui ekskreta. Waktu pengamatanpun berbeda, pada penelitian Bertolo et al. (2001b) hanya melihat absorpsi selama 20 menit, sedangkan pada penelitian ini sudah mengkonsumsi ransum perlakuan selama 2 minggu, sehingga walaupun rasio molar Zn : Ca jauh lebih rendah, Zn yang dikonsumsi jauh lebih banyak.
Tabel 25. Rasio molar mineral Zn terhadap Ca dan P dalam ransum tikus perlakuan
__________________________________________________________________ Ransum ZnO Fitase Rasio Rasio Rasio Perlakuan (mg/kg (U/kg AF:Zn Zn : Ca* Zn : P**
ransum) ransum) __________________________________________________________________ R0 0 0 27 0.003:1 0.002:1 R1 13 0 20 0.004:1 0.003:1 R2 29 0 15 0.005:1 0.004:1 R3 61 0 10 0.008:1 0.007:1 R4 0 750 27 0.003:1 0.002:1 R5 0 1000 27 0.003:1 0.002:1 __________________________________________________________________
* Jumlah Zn (mg) per kg ransum/ berat atom Zn = mmol Zn/mmol Ca Jumlah Ca (mg) per kg ransum/berat atom Ca
** Jumlah Zn (mg) per kg ransum/ berat atom Zn = mmol Zn/mmol Ca Jumlah P (mg) per kg ransum/berat atom P
Suplementasi enzim fitase sebanyak 750 U/kg ransum menurunkan retensi kalsium sebesar 7.09% ( dari 35.00% menjadi 27.91%) dibandingkan dengan ransum kontrol, tapi secara statistik tidak berbeda nyata. Turunnya retensi kalsium pada perlakuan ini juga diiringi oleh meningkatnya retensi Zn. Hasil ini juga menunjukkan adanya interaksi antagonis antara Zn dengan kalsium, dimana Zn yang berhasil dibebaskan oleh enzim fitase dari ikatan asam fitat cukup untuk menekan absorpsi mineral kalsium pada tikus.
Suplementasi enzim fitase 1000 U/kg ransum mampu meningkatkan retensi kalsium sebanyak 6.47% ( dari 35.00% menjadi 41.47%) dibandingkan dengan ransum kontrol, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Dari penelitian ini dapat dijelaskan bahwa enzim fitase mampu melepas mineral kalsium dari ikatannya dengan asam fitat, sehingga dapat menekan absorpsi Zn. Hal ini terlihat dari hasil penelitian bahwa retensi Zn sangat nyata menurun (P<0.01) pada perlakuan suplementasi fitase 1000 U/kg ransum (R5) dibandingkan dengan perlakuan R4 (suplementasi fitase 750 U/kg ransum), sedangkan retensi kalsium sangat nyata meningkat (P<0.01). Georgievskii et al. (1982) menyatakan adanya
interaksi antagonis antara kalsium dan Zn, jika konsentrasi kalsium tinggi maka