• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Tema-tema

1. Tema-tema dasar pengalaman berkegiatan untuk Gereja

Uraian di bawah ini adalah bentuk kategorisasi sebagai tema dasar hasil pengalaman-pengalaman OMK ketika berkegiatan untuk Gereja. Tema ini merupakan hasil olah data subjek dan dibuat secara struktural. Kemudian hal tersebut menjadi bentuk sistematika analisa fenomenologis dalam penelitian ini dengan menyertakan kutipan asli pernyataan para subjek sebagai hasil penelitian.

a. Kebutuhan Akan Perkembangan Diri

Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diagendakan Gereja adalah ajang untuk mencoba tantangan peran, tugas, tanggung jawab dalam suatu posisi tertentu. Kesempatan ini menjadi sarana untuk belajar mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki setiap OMK agar menjadi individu yang lebih baik. Berikut ini adalah keinginan subjek yang diungkapkan dalam pernyataannya.

i) Kebutuhan aktualisasi dan perkembangan diri

Adanya kesadaran dan keinginan berperan aktif ketika berkegiatan untuk Gereja. Harapan subjek adalah mengembangkan talenta, mengaktualisasikan diri secara penuh serta dapat berkreasi dalam setiap kesempatan-kesempatan yang ada. Berikut ini adalah beberapa pernyataan dari subjek tentang kebutuhannya akan aktualisasi dan perkembangan diri.

“...menginginkan adanya sebuah keseimbangan bahwa saya harus menggunakan diri saya kekuatan yang saya punyai untuk digunakan supaya bisa berguna…“(Tn, 7-23)

“…aku merasa bahwa aku mungkin ini duniaku untuk bisa mengembangkan diri…” (Ir, 14)

“…dapat berperan lebih baik lagi dalam perkembangan diri…dapat katakanlah mengaktualisasi diri, memberdayakan diri…” (Tn, 122-126)

“…ya paling tidak punya semangat, jiwa-jiwa kreatiflah… ya bisa berekspresi, mampu menggagas…” (Fj, 112-117) “Ingin berkarya bahwa aku ini ya mampu lah! Bisa menggagas yang namanya liturgis, dalam arti aku ini ya belum pernah, ingin menunjukkan diriku sendiri bahwa aku bisa…” (Fj, 163-172)

“…mendapatkan porsi yang cukup untuk berkreasi di lingkungan.” (Tn, 518-523)

Subyek mempunyai harapan untuk bisa meningkatkan diri, belajar hal baru, mendapatkan ilmu baru, serta belajar menjadi seorang Pendamping Iman Anak (PIA) yang baik dalam memahami anak-anak dan perkembangannya.

“…mungkin akan lebih aku tingkatkan lagi bagaimana sebuah pengalaman bagaimana aku meningkatkan lagi…” (Ir, 59-61)

“Disitu aku bisa banyak belajar hal-hal baru tentang ya yang berhubungan dengan anak-anak…” (Ir, 98-99)

ii) Kebutuhan sosialisasi diri

Subjek memiliki keinginan mencari teman, kesadaran untuk bekerjasama antara yang satu dengan yang lainnya, dan saling mengenal karakter. Harapannya yaitu sebuah kekompakan agar terwujud dinamika yang lebih hidup di komunitas. Alasan diatas diungkapkan subjek lewat pernyataan-pernyataan berikut ini.

“Pada awalnya alasan saya sangat sederhana, ingin mendapatkan teman yang banyak. Jadi pada saat awal-awal saya mulai berkegiatan di mudika itu ingin mendapatkan teman…” (Tn, 1-4)

“…Ketika aku masuk ke kepengurusan Mudika, aku merasa bahwa aku mungkin ini duniaku untuk bisa mengembangkan diri bisa share sama temen-temen. Yang pasti karena seiman juga…” (Ir, 14-15)

“…kita bekerja sama dalam beberapa kegiatan ya memang ada itu kesadaran diri sendiri…” (Tn, 41-47)

“…kemudian kalau perasaan saya seneng banget karena dapat mengenal karakter dari banyak sekali kaum muda yang terlibat…” (Tn, 122-126)

“…mempunyai tujuan yang lebih penting lagi yaitu adanya kekompakan dan kerja sama dari kaum muda, PIA, remaja

dan mudika lingkungan di paroki Pugeran ini.” (Tn, 238-241)

Adanya keinginan dari para subjek untuk dapat berbagi dan mencoba merangkul serta melibatkan teman-teman agar dapat saling mengisi serta membantu antara satu dengan yang lainnya di dalam kegiatan Gereja.

“Aku bisa saling share tentang kondisi sekolah minggu di gereja masing-masing, tapi khususnya kita lebih pada perkembangan anak bagaimana kita sebagai pendamping PIA memahami anak-anak.” (Ir, 101-105)

‘…aku ikut, ngikuti dari awal, ini komitmennya memang untuk menyiapkan temen-temen kaum muda. Jadinya ya perasaannya memang ini cuma baru jadi awalan. Ini awalan untuk itu, membenahi dan merangkul temen-temen yang lain, dari lingkungan-lingkungan atau wilayah di paroki Pugeran ini ya dilibatkan semua. Ada keterlibatan di setiap wilayah itu ada, semua ada, terwakili semua.” (Fj, 98-99) “…membantu untuk mengatasi atau menutupi kekurangan-kekurangan yang selama ini belum ada yang mengisi…” (Tn, 187-192)

b. Kebutuhan Akan Peran & Tempat

Dalam agenda Gereja, OMK mencoba mencari posisi-posisi dimana ia bisa lebih berperan. Berusaha tampil di depan dan memperlihatkan dirinya dihadapan Gereja dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan adalah kesempatan yang dinantikan subjek agar mendapatkan tempat di tengah umat dan masyarakat secara umum. Berikut beberapa tema atas pernyataan subjek.

i) Harapan akan peran dan tempat

Subyek mempunyai harapan akan sebuah media, komunitas, dan ruang ekspresi untuk mengkoordinasi teman-teman

agar dapat beraktivitas, berperan, dan menambah pengalaman. Subjek mempunyai anggapan bahwa Gereja milik orang muda dan sebagai tempat untuk mengaktualisasi diri serta berkarya.

“…yang menjadi pikiran kami bersama bahwa Natal ini hanya sebuah media dan ada karena ada tujuan yang lebih besar lagi daripada hanya sekedar melaksanakan Natal, namun yang pertama mendapatkan kepercayaan kembali dari dewan paroki kemudian yang kedua dapat mengkonsolidasi temen-temen di wilayah yang ada di Pugeran ini untuk bergabung di perayaan Natal ini…” (Tn, 112-119)

“…nampaknya akan lebih menempatkan kaum muda sebagai ujung tombak dalam berkegiatan ini. Makanya saya merekomendasikan teman-teman kaum muda segala lingkungan untuk diberikan porsi yang cukup bagi mereka untuk berkreasi di lingkungan.” (Tn, 518-523)

“Ya harapannya mereka baik ya kan kurang gimana ya, tapi ini organisasi kan banyak di gereja. Mereka tidak memperbolehkan, langsung dicut, gitu ya gak bisa. Karena mungkin juga merasa gereja bakal miliknya siapa sih kalau bakal miliknya orang muda. Share sama ibuku gitu…” (Ir, 296-297)

Saat berkegiatan, subjek berusaha berperan, menjalankan, & menyelesaikan tugas yang ada dengan baik. Subjek mencoba membenahi teman-teman & menanggapi kesempatan yang telah ditawarkan.

“…ya mengatur acara dan membuat bagaimana sebuah sesuatu event itu bisa berhasil dalam semua acaranya…” (Ir, 37-38)

“Aku mencoba mengajak anak-anak untuk suka padaku dan memang anak-anak suka padaku. Ya memang coba aja…” (Ir, 129-131)

“Ya sebelum aku….ketika aku masih di Pugeran, masih bisalah, waktu ini. Semoga bisa mengatur waktu-waktuku dan aku masih ingin berkarya…” (Fj, 278-279)

ii) Membangun peran

Agar lebih maksimal dan lebih baik dalam berperan, subjek melakukan bermacam-macam usaha-usaha memperbaiki peran. Subyek mengadakan acara refreshing untuk menghilangkan kebosanan, refleksi atas kegagalan yang dilakukan, tetap berkepala dingin & berpikir positif serta berusaha memahami orang lain.

“…sebelum hari-Hnya itu temen-temen sempat ngedrop karena ya banyak temen-temen panitia yang mulai menarik diri untuk aktif dalam kegiatan bekerjanya dan namun hal itu bisa kami atasi dengan mengadakan sebuah agenda bersama yaitu refreshing… akhirnya kebosanan temen-temen bisa teratasi dan mulai saat itu dapat kembali baik lagi menjalankan tugas masing-masing…” (Tn, 146-153) “Saya kira saya mencoba refleksi saja. Kalau saya kalau dibilang ya seneng, iya. Meskipun kurang berhasil namun poin ada beberapa poin yang dapat tercapai sehingga yang menghapus atau minimal menutup agregat kegagalan itu…” (Tn, 161-166)

“…ya dengan adanya masalah itu kita ya tetep dengan kepala dingin artinya ketika mereka memang tidak bisa hadir ya sudah, karena ini memang bukan sesuatu yang harus, gitu. Kalau memang tidak bisa ya sudah kemudian ya tetap kita positif aja untuk temen-temen yang mempunyai motif lain…” (Tn, 282-287)

Subjek merasa harus tahu diri, mencoba mengatur waktu, dan tidak memaksakan diri. Selain itu, subjek juga mencoba untuk saling menjalankan peran yang lain dengan tetap konsisten dengan tujuan awal & selektif terhadap posisi yang dipegang.

“Hari ini aku harus bisa menyelesaikan kayak kemarin, proker. Terus besok masih bisa untuk mikir yang lain, besok lagi masih bisa untuk kegiatan lain. Jadi aku selalu mencoba mengatur waktu-waktuku sendiri…” (Ir, 306-307)

“Sebenarnya ketika aku dihadapkan dengan tidak ada aku menjalaninya dengan balance aja selagi aku bisa kerjakan kalau tidak bisa ya aku kerja ya sudah…” (Ir, 376-377)

“Siasatnya kalau aku selama ini aku tidak mau kalau diajak di suatu kepanitiaan acara Gereja, aku tidak menjadi peran pokok. Tidak mau menjadi koordinator, hal-hal yang penting, tokoh-tokoh, atau subyek-subyek penting. Aku hanya membantu saja. Posisiku gitu aja.” (Fj, 359-364)

iii) Tidak diterima dan tidak mendapatkan tempat

Ada saat dimana subjek tidak mendapatkan tempat untuk beraktivitas. Subjek mengalami kejadian dimana ia tidak mampu menyatukan diri dan menjadi bagian Mudika ketika bergabung di awal-awal keterlibatannya.

“…tapi ternyata dalam berdinamika dengan temen-temen di Mudika ternyata aku tidak mampu untuk lebih jauh lagi, maksudnya lebih menyatukan diri dalam Mudika itu…maksudnya bahwa aku bagian dari Mudika…” (Ir, 16-18)

“Ketika aku di Mudika di wilayahku dulu aku pernah tergabung, aku kurang bisa merasa homy. Aku merasa bahwa kok temen-temennya kok kaya’ gini sih, seperti ini, kok seperti itu. Banyak pertanyaan-pertanyaan besar di dalam diriku. Mungkin bukan ini tempatku untuk berorganisasi, untuk berkegiatan di Gereja.” (Ir, 207-210)

Penerimaan orang lain terhadap diri sangat penting bagi subjek. Walaupun sudah sering terlibat pada banyak kegiatan, terkadang subjek merasa dirinya tidak diterima oleh para OMK ataupun anggota Mudika.

“Aku yakin temen-temen ini banyak yang nggak menerimaku karena aku keliling di beberapa lingkungan atau beberapa temen mudika paroki, mereka menganggap bahwa aku ini sok heroic.” (Fj, 212-216)

“Gep-gepan terus itu aku merasa seperti tidak diterima…Saya seperti dicuekin, tidak diperhatikan…kaya’nya sudah mengalami banyak kekecewaan dan merasa bahwa ini mungkin aku tidak diterima di sini.” (Ir, 222-227)

iv) Kegagalan peran

Terkadang terjadi kegagalan-kegagalan dalam setiap peran yang dijalankan oleh subjek. Ia pernah merasa belum berhasil berperan dan dianggap asal jalan pada suatu kesempatan. Perannya yang tidak maksimal membuat acara tidak berjalan dengan baik.

“Ada kegagalan ketika suatu sesi dalam sebuah perayaan Natal itu terlewatkan dan tidak berjalan dengan baik…waktu itu ketika saya dan temen-teman harus bertugas…namun ternyata ada beberapa teman yang belum datang dan bila harus segera main sehingga dengan keterbatasan personil dan keterbatasan kemampuan sehingga dalam memainkannya ini kacau balau…” (Tn, 316-326)

“…aku ketika bercerita tidak bisa. Mungkin kurang ya mungkin karena mood juga kurang untuk bisa mengajak anak-anak jadi kesannya ya aku hanya sekedar membacakan sebuah cerita itu.…biasanya dari bercerita dari buku, biasanya tidak dari buku dan sangat sangat garing, terus mereka akhirnya bermain sendiri. Aku kurang bisa membawakan cerita dengan baik atau tidak bisa mengajar dengan baik.” (Ir, 160-168)

“…mereka menganggap bahwa aku ini sok heroik. Wong orang baru kok tiba-tiba buat acara asal. Asal nerabas-nerabas dan mereka ada yang beberapa ini, aku cuma mendengar rerasan aja, bahwa…”Kok kaya’ gini?” (Fj, 215-220)

c. Kebutuhan Akan Pengakuan

OMK adalah salah satu anggota dari umat Gereja. Banyak sekali kegiatan dan aktivitas liturgis maupun non-liturgis yang ada. Tentu saja dinamika yang terjadi sangat beragam. Bermacam-macamnya acara yang diselenggarakan, OMK berusaha menunjukkan kemampuannya. Mendapatkan pengakuan dari umat dan masyarakat secara umum adalah keinginan dari banyak pihak, termasuk OMK sendiri.

i) Pengakuan akan eksistensi dan tempat

Dalam menjalani kegiatan Gereja, subjek ingin mendapat porsi yang cukup & dapat menjadi ujung tombak serta mendapat kepercayaan oleh dewan. Subjek berharap terciptanya sebuah dinamika yang lebih hidup dari kaum muda di komunitas. Ada saat dimana subjek merasa diakui ketika ia diberi sebuah peran, diandalkan, serta diajak kerjasama oleh lingkungan & wilayah. Akan hal ini, subjek akhirnya merasa sudah punya tempat.

“Yang paling penting saat perayaan Natal 2009, karena kebetulan saya dengan panitia dengan temen-temen MPP dipercaya oleh dewan paroki untuk mengkoordinasi Natal, dan bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang paling penting bagi saya karena bisa bergabung dengan banyak sekali teman dan mendapatkan kepercayaan dari dewan yang sampai sekian lama itu ada sedikit pengaruh pikiran yang negatif terhadap kaum muda.” (Tn, 102-108)

“…temen-temen ini selama ini sangat nyaman. Karena mereka…kenapa aku bisa mengatakan bahwa mereka nyaman dengan atau sangat enak sama aku, ketika setelah acara itu atau ketika saya mempunyai yang lain, temen-temen saya kontak atau saya sambati, saya minta yang lain, tolong ini, mereka mau. Jadi ini menurutku menjadi sebuah indikator bahwa. Oooo, temen-temen ternyata juga istilahnya sayang atau apapun sebutannya, yang tentang aku.” (Fj, 193-202)

“…kita menetralkan itu ya sekarang tetap saya temui temen-temen, saya jelaskan tujuannya kaya’ gini, tujuannya ini. Saya beri pemahaman pada temen-temen. Tetap istilahnya aku datang secara personal, atau ke kelompok mereka, tujuannya kaya’ gini, sehingga biar temen-temen kan sama aku ini bisa beriringan enak. Tidak ada saling kecurigaan, makanya ya kaya’ gitu itu…” (Fj, 227-234)

“…ada beberapa pengurus yang ketua lingkungan kalau di lingkungan dari ketua lingkungan pada saat itu istilahe bener-bener njagakkelah ya mengandalkan saya dalam beberapa hal. Kemudian di wilayah Kraton juga mengandalkan saya dalam beberapa hal sampai-sampai saya pindah dari lingkungan lainpun dengan wilayah yang berbeda juga saya didatangi ke rumah saya yang baru untuk tetap melaksanakan kerjasama di wilayah yang sama.” (Tn, 350-354)

“Sudah bisa terbaca bahwa Fajar ini ya di situ itu… ya kaya’ gitu itu. Iya, aku apa adanya. Kalau misalnya aku sering guyon, celelekan, aku terlalu banyak celelekan, terlalu banyak bicara, itu sudah bisa. Temen-temenpun yang lain sudah sangat bisa membaca diriku aku apa adanya, aku yakin…” (Fj, 184-190)

ii) Kebanggaan dan penghargaan atas diri

Dalam diri subjek muncul rasa bangga saat suatu acara yang diselenggarakan dapat berjalan lancar. Selain itu adanya penghargaan terhadap diri atas sebuah keberhasilan suatu peran yang telah dijalankan.

“Jelas. Kalau bangga itu pasti karena bagi saya bahwa ketika saya bisa memberdayakan diri saya.untuk kepentingan bersama ini merupakan suatu kebanggaan bagi diri saya, karena ketika apa yang menjadi konsep diri saya sebisa mungkin memberdayakan diri saya untuk kepentingan orang lain dapat terlaksana di dalam kepanitiaan Natal ini.” (Tn, 171-177)

“Aku enjoy aja. Seneng dan metode itu aku gunakan ketika aku ngajar. Dulu sempet aku ngajar di TK Kanisius. Aku dulu juga ngajar bahasa Inggris dan aku juga menggunakan kostum itu untuk bercerita. Anak-anak sangat tertarik ketika aku menjadi tokoh ini, tokoh itu untuk bercerita untuk mengajar…” (Ir, 143-149)

“Ya. Aku bisa mengatakan iya. nuwun sewu agak narsis sedikit. Ya memang berpengaruh karena ya temen-temen ini ya karena yang paling tua. Seumuran ini hanya beberapa orang, paling tua ini hanya generasiku. Ketika di panitia disebelum Natal ini, itu aku sangat berpengaruh. Karena temen-temen apa-apa minta sarannya ke saya. Mereka menganggap aku ini tahu segala di temen-temen mudika…” (Fj, 236-243)

Subjek merasa dihargai dan diperhatikan oleh teman-temannya. Ia juga merasa berkesan karena diterima, diakui kemampuannya & pernah ditunjuk sebagai seorang koordinator.

Pada akhirnya subyek mendapatkan mendapatkan peran yang cocok.

“Pasti, dan cukup itu tadi menjadikan suatu dorongan bagi saya untuk...karena temen-temen sudah membantu dan menyempatkan dirinya ya otomatis sayapun juga harus menyemangati diri saya untuk lebih menyempurnakan kegiatan.” (Tn, 208-212)

“…ketika aku ke PIA kok aku merasa bahwa mendapatkan kondisi yang menyenangkan juga. Ya aku merasa ini rumahku. Aku bisa banyak berkegiatan disini.” (Ir, 213-216) “Sebetulnya aku ditunjuk. Dalam arti itu ada sebuah kesepakatan, di situ ada kesepakatan…terus kita berbagi peran….Setelah temen-temen yang lain memposisikan sendiri-sendiri, terus saya juga ya itu merasa sangat…kemungkinan di bagian itu paling aku bisa lah, aku cocok. Ya di bagian itu….” (Fj, 29-36)

d. Kesadaran akan kondisi diri (internal) dan situasi lingkungan (eksternal)

i) Potensi dan minat (diri)

Subjek mempunyai banyak peran, pengalaman & aktivitas di komunitas. Ia sering dipercaya memegang posisi-posisi tertentu dalam kepengurusan maupun kepanitiaan. Subjek menyadari bahwa hal ini merupakan suatu pengalaman yang dapat mengembangkan potensi dan minatnya. Berikut ini beberapa penyataan subjek terkait dengan potensi dan minatnya.

“…dengan adanya aktivitas saya di beberapa komunitas justru bagi saya komunitas-komunitas itu yang sangat mendukung perkembangan dari pribadi saya seperti ketika saya bekerja, di situ banyak hal yang bisa saya terapkan ketika saya berkomunitas di mudika seperti berkomunikasi dengan orang, bagaimana kita berperilaku di perusahaan-perusahan di perusahaan saya bekerja lebih-lebih saat beberapa tes wawancara ketika saya melamar di beberapa perusahaan.” (Tn, 363-372)

Potensi dan minat yang dimiliki sejak awal, seperti; perasaan bangga, sifat berani, kepercaya diri, lucu, menyukai anak-anak & merasa diri orang yang menarik adalah modal yang diharapkan subjek nantinya dapat untuk mengembangkan dirinya. Tidak terkecuali, minat dan kemampuan dibidang seni juga dapat dikembangkan lewat kegiatan non-liturgis Gereja.

“Pendamping PIA itu kan tidak kalau bisa harus malu-maluin di depan anak-anak. Jadi kita harus bisa berani, ya pedelah dengan anak-anak.” (Ir, 115-116)

“…aku suka anak-anak dan aku bisa. Maksudnya aku bisa sedikit banyak terlibat dalam kegiatan PIA dan mereka sangat sangat terbuka…” (Ir, 192-193)

“…ya aku membantu temen-temen lain yang menggarap acara atau cuma membantu temen-temen lain….Dari tahun 2008 sampai tahun ini lebih ke kesenian. Aku lebih ke bidang kesenian.” (Fj, 291-296)

ii) Kepekaan terhadap masalah (lingkungan)

Belajar dari masalah dan memikirkan bagaimana pemecahannya. Hal ini disadari oleh subjek sebagai suatu kepekaan terhadap kondisi Gereja. Subjek tahu ada masalah kemudian melakukan pendekatan pada pihak yang terkait dan mengajak untuk terlibat dalam penyelesaian.

“Yang pasti pendekatan ke temen-temen yang lebih muda dari saya dengan mengajak mereka untuk pertama-tama bukan untuk kegiatan liturgi, namun mencoba untuk mengetahui dunia mereka itu dunia yang seperti apa, kemudian kita bisa masuk ke dalam dunianya. Kita bisa dengan lebih mudah untuk mengajak mereka, menggiring mereka ke kehidupan gereja.” (Tn, 483-490)

“…karena dulunya kan memang ada tanggapan miring, opini-opini miring. Makanya ini ya semoga dengan kegiatan ini bisa tereleminir, semua ya bisa. Sebenarnya temen-temen kaum muda ini ya paling tidak punya semangat, jiwa-jiwa

kreatiflah. Salah satunya ini ya keprihatinan. Yang kedua itulah bahwa temen-temen muda ini ya bisa berekspresi, mampu menggagas yang dinamakan liturgis, tentang gereja, ya bisalah. Menghidupi Gereja ini ya bisa gitu itu.” (Fj, 112-117)

Kepekaan muncul dari sebuah keprihatin karena subjek merasa tidak punya ruang berekspresi. Kesadaran akan hal itulah yang membuat OMK ingin mendapatkan haknya dalam berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

“…merasa ada keprihatinan terhadap kaum muda ini tidak pernah diberi ruang atau tempat ekspresi di tataran liturgis. Makannya temen-temen ini memberanikan diri… Ya kebetulan saja aku ikut, ngikuti dari awal, ini komitmennya memang untuk menyiapkan temen-temen kaum muda…” (Fj, 87-96)

e. Keinginan aktivitas beriman dan melayani

Sebagai salah satu anggota Gereja yang mempunyai tugas dan kewajiban, OMK merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan misi pelayanan Gereja di tengah umat secara khusus maupun masyarakat secara umum. Berikut, beberapa pernyataan subyek yang menjelaskan hal di atas.

i) Aktivitas melayani Gereja

Berkegiatan & menjalani aktivitas dengan teman-teman OMK adalah sebuah cita-cita subjek untuk melayani Gereja. Hal ini dilakukannya demi untuk menghidupi, membangun dan berkarya untuk Gereja.

“…lebih pada kesadaran diri bahwa kita sebagai manusia diciptakan terutama saya diciptakan secara fisik itu sempurna….Tuhan juga menginginkan adanya sebuah keseimbangan bahwa saya harus menggunakan diri saya kekuatan yang saya punyai untuk digunakan supaya bisa

berguna untuk orang lain, banyak kegunaan pada diri saya sehingga dengan adanya saya, orang lain dapat terbantu minimal membantu secara pelayanan khususnya di gereja kalau untuk kaum muda ini.” (Tn, 7-23)

“Kalau komitmen awal kan membangun Gereja…” (Fj, 163) “Menghidupi Gereja ini ya bisa gitu itu..” (Fj, 121)

“Ya sebelum aku….ketika aku masih di Pugeran, masih bisalah, waktu ini. Semoga bisa mengatur waktu-waktuku dan aku masih ingin berkarya….” (Fj, 278-279)

ii) Aktivitas beriman

Selain hal-hal yang berkaitan dengan materi, subjek merasa ada sesuatu yang mereka rasa itu perlu untuk didapatkan. Kebutuhan akan iman dirasakan subyek, dan itu ia peroleh dari kegiatan-kegiatan yang diikuti.

“Ya ini. Ini caraku untuk memuji Gusti. Dengan berkegiatan untuk Gereja, berkarya untuk Gereja, ini adalah caraku

Dokumen terkait