• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN FILOSOFIS NIETZSCHE DALAM ROMAN ALSO SPRACH ZARATHUSTRA

B. Tema-tema Pokok Pemikiran Filosofis Nietzsche

Roman Also Sprach Zarathustra selain mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis Nietzsche juga mengungkapkan kritik Nietzsche mengenai bahasa. Kritik bahasa yang dibahas terutama mengenai gramatika. Kritik bahasa yang disampaikan olehnya merupakan bagian dari isi filsafat postmodern. Pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan selama ini membuktikan bahwa pemikiran filosofis Nietzsche dalam roman Also Sprach Zarathustra terbagi dalam beberapa tema dan kritik bahasa terdapat dalam beberapa tema tersebut. Pemikiran filosofi Nietzsche yang terbagi dalam 5 tema pokok pemikiran, yaitu Der Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa), Übermensch (Adimanusia), Nihilismus (Nihilisme), die ewige Wiederkehr des Gleichen (Kembalinya Sesuatu yang sama yang abadi), Der Gott ist Tot (Tuhan Telah Mati). Kelima pokok pemikiran ini didapatkan dari buku-buku karya Nietzsche yang lain contohnya Fröhlichen Wissenschaft, Ecce Homo, Mörgenrote dan Der Antichrist. Buku-buku tersebut dibaca kemudian disimpulkan pokok pikiran yang ada pada masing-masing buku.

1. Der Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa)

Kehendak untuk berkuasa adalah gagasan filsafat yang pertama atau yang tercetus ketika permulaan Nietzsche menjadi seorang filsuf. Gagasan ini

diinspirasi oleh Schopenhauer. Gagasan Schopenhauer yang menginspirasi kehendak untuk berkuasa adalah Das Ding an Sich. Gagasan inilah yang membuat Nietzsche mencari apa yang sesungguhnya ada di dalam manusia. Nietzsche menemukan bahwa yang membuat manusia menjadi apa yang manusia itu harapkan, bukan disebabkan oleh kepandaian kekayaan atau jabatan. Manusia mampu mewujudkan cita-citanya karena Das Ding an Sich manusia yang berupa Der Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa) (Sunardi, 92-95:2006).

Seseorang harus sangat berhati-hati dalam memahami kehendak untuk berkuasa, jika tidak berhati-hati maka pemahaman yang keliru yang ia dapatkan dan itu berbahaya baik bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Seseorang dapat berpendirian bahwa menyakiti menindas dan melakukan kejahatan adalah tindakan yang benar, yang terpenting seseorang tersebut menjadi penguasa di semua tempat yang ia inginkan. Hal ini yang terjadi pada Hitler, jadi apa yang Hitler pahami adalah sebuah kesalahan.

Nietzsche sesungguhnya merumuskan kehendak untuk berkuasa sebagai pembeda antara manusia dengan binatang. Tanpa adanya kehendak untuk berkuasa manusia dan hewan dapat digolongkan dalam satu kelas karena kedua makhluk tersebut memiliki aktivitas yang serupa. Kehendak untuk berkuasa yang membuat manusia mengerti tujuan hakiki setiap tindakan yang ia lakukan kemudian berusaha melestarikan tujuan tersebut untuk kehidupan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pembahasan yang diungkapkan oleh Bapak St. Sunardi bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan motif dasar manusiawi dan juga merupakan titik pusat etika (Sunardi, 2006:104). Penjelasan pada kalimat-kalimat

sebelumnya yang membuat Nietzsche menjadikan kehendak untuk berkuasa sebagai dasar pandangan filsafatnya. Bukti dari hal ini nampak pada kutipan kalimat dalam prolog roman Also Sprach Zarathustra.

“Du groβes Gestirn! Was wäre dein Glück, wenn du nicht die hättest, welchen du leuchtest!”1

Artinya adalah:

“Kamulah sang Bintang Agung!Dimana keberuntunganmu, ketika kamu tidak pernah memilikinya, sebagaimana kamu bersinar”(Nietzsche, 1994 : 1)

Alle Wesen bisher schufen Etwas über sich hinaus: und ihr wollt die Ebbe dieser grossen Fluth sein und lieber noch zum Tiere zurückgehn,

als den Menschen überwinden?“2

Artinya adalah:

“Semua makhluk telah menciptakan sesuatu yang melebihi dirinya: dan

kalian akan menjadi surut dari arus pasang yang agung ini dan lebih suka

menjadi binatang kembali daripada melampaui manusia?” (Nietzsche,

1994:10).

Pada prolog roman Also Sprach Zarathustra apa yang sedang Zarathustra sampaikan ialah hasil pemikirannya. Cara-cara penggambaran tokoh, kutipan tersebut menggunakan teknik yang dinamakan teknik pikiran tokoh (Sayuti, 2000:95). Teknik ini sengaja digunakan untuk memberikan gambaran tokoh Zarathustra, karena melalui pikiran kita dapat mengenali watak seseorang. Di kutipan pertama Zarathustra mengungkapkan pemikirannya tentang siapa sesungguhnya manusia. Manusia adalah kehendak untuk berkuasa yang agung namun manusia tidak pernah menyadarinya, dan ini yang membuat manusia sebagai kehendak untuk berkuasa yang agung. Seorang manusia yang menganggap dirinya sesuatu yang sempurna justru tidak akan pernah

memperbaiki kekurangannya, bahkan bisa menyalahgunakan kesempurnaan dirinya. Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Zarathustra, terlihat bahwa Zarathustra adalah sesosok manusia yang kuat dan tahan menderita. Kekuatannya muncul pada pikirannya yaitu ia harus menjadi seorang yang mampu melampaui batas normal. Dan untuk melampaui batas tersebut tidak mudah, hanya orang yang sanggup menahan cobaan maupun kegagalan (penderitaan) yang mampu mewujudkannya. Penokohan tersebut sesuai dengan apa yang ingin Nietzsche sampaikan dalam roman Also Sprach Zarathustra. Ia ingin menyampaikan bahwa kehendak untuk berkuasa seharusnya membuat orang menjadi kuat dan tahan menderita.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa kehendak untuk berkuasa memang dimiliki untuk dipergunakan manusia yang selalu ingin meningkatkan taraf hidupnya. Manusia yang selalu dapat mengatasi tantangan dan rasa sakitnya atau manusia yang dapat mewujudkan kehendaknya adalah manusia sejati. Nietzsche memiliki pendapat bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Tujuan manusia dapat membuatnya menjadi lebih baik atau menjadikannya lebih buruk, meski ia di tempat yang baik.

Kutipan prolog di atas tidak hanya menunjukkan bahwa kehendak untuk berkuasa sebagai Das Ding an Sich agar orang menjadi kuat, tahan terhadap penderitaan demi mencapai tujuannya. Kehendak untuk berkuasa juga menunjukkan kekuatan (power) atau kehendak (Macht, will) yang dapat muncul ketika seseorang tidak menyadarinya. Dan hal ini bisa terjadi sebaliknya. Orang

membutuhkan power (Macht) supaya ia dapat mengatasi dan mengembangkan physis-nya dalam proses pencapaian tujuannya. Penjelasan pada paragraf ini juga memaparkan tentang Ethics of Power atau kekuatan etika. Semakin baik Ethics seseorang maka ia semakin berpeluang untuk menjadi kehendak untuk berkuasa yang agung (Levine, 2002:318-320).

Wujud kasat mata kehendak untuk berkuasa berupa potensi. Kehendak untuk berkuasa sebagai potensi yang dimiliki manusia terdapat dalam kalimat sebuah cerita yang berjudul Von Den Verächtern Des Leibes

“Der Leib ist eine groβe Vernunft, eine Vielheit mit Einem Sinn, ein Krieg und ein Frieden, eine Herde und ein Hirt“.

“Tubuh adalah sebuah akal yang hebat, sebuah keberagaman dengan satu tujuan, sebuah perjuangan dan sebuah kedamaian, seorang tuan dan seorang Gembala” (Nietzsche, 1994:13).3

Pada kalimat tersebut Nietzsche mengungkapkan potensi-potensi yang ada pada Übermensch. Potensi itu sudah alamiah ada di diri Übermensch. Seorang manusia harus dapat memanfaatkan potensi yang ada supaya impiannya terwujud sempurna. Seorang Übermensch tidak patut mengatakan bahwa ia tidak memiliki potensi untuk kesuksesannya. Nietzsche mengungkapkan bahwa potensi manusia terletak pada individu-individu tertingginya. Maksud Nietzsche dengan potensi terletak pada individu tertinggi bahwa karakter turut berperan menjadikannya individu yang mulia dan berharga di mata bangsanya. Karakter Übermensch yang berasal dari kehendak yang membuat dunia terus berjalan.

Terciptanya dunia dan manusia berasal dari satu kehendak. Dan dunia ini dapat terus berjalan juga disebabkan oleh kehendak. Kehendak juga yang menyebabkan adanya aturan dan norma moral yang berlaku pada suatu

masyarakat maupun manusia secara individu. Tetapi tidak selamanya kehendak untuk berkuasa memiliki pengertian yang negatif. Seharusnya manusia dapat memahami kehendak untuk berkuasa sebagai motif dasar perbuatan baik. Sebab apabila tidak ada kehendak untuk berkuasa maka manusia tidak akan pernah dapat membangun peradaban. Ketiadaan kehendak untuk berkuasa juga dapat menyebabkan manusia tidak pernah memiliki dorongan menguasai suatu ilmu. Tapi sayangnya, rasionalisme Barat meruntuhkan motif dasar ini. Rasionalisme Barat lebih sering menekankan kepraktisan sehingga manusia masa kini cenderung enggan untuk menguasai suatu ilmu, enggan mengatasi rintangan-rintangan yang ada, sering mengeluh terhadap rasa sakitnya dan lebih dimanjakan oleh kepraktisan yang ditawarkan oleh modernitas. Hal ini tercermin dalam kutipan sebagai berikut

“Ihr habt den Weg vom Wurme zum Menschen gemacht, und vieles ist in euch noch Wurm. Einst wart ihr Affen, und auch jetzt noch ist der Mensch mehr Affe, als irgend ein Affe”.

“Kalian telah berubah dari cacing menjadi manusia, tapi banyak dalam

diri kalian yang masih seekor cacing. Dulu kalian adalah kera dan bahkan sekarang pun manusia lebih kera dari kera mana pun” (Nietzsche, 1994 : 8).4

Bukti mengenai Nietzsche yang menggolongkan manusia biasa diantara hewan terdapat dalam kutipan di bawah ini

“Der Mensch ist ein Seil, geknüpft zwischen Tier und Übermensch, - ein Seil über einem Abgrunde”.

“Manusia adalah seutas tali yang terentang antara hewan dan Adimanusia

– sebuah tali di atas jurang tak berdasar” (Nietzsche, 1994: 11).5

Kita telah mengetahui bahwa dengan gagasan kehendak untuk berkuasa Nietzsche tidak bermaksud mengajukan suatu provokasi politik. Pengaruh konsep dasar filsafat Nietzsche didapat dari pandangan Schopenhauer tentang dunia.

Gagasan Schopenhauer yang tertuang dalam bukunya The World as Will and Idea pada dasarnya merupakan salah satu bentuk adaptasi dan elaborasi pemikiran Kant terhadap dunia. Ada 2 hal yang mempengaruhi sistem pemikiran Schopenhauer, 2 hal itu adalah pemikiran Kant tentang dunia dan pemikiran India yang terdapat dalam buku Upanishad (Sunardi, 2012:65). Dari pemikiran Kant, Schopenhauer juga mengakui adanya benda pada dirinya sendiri (Das Ding an sich). Contoh sederhana dari Das Ding an sich adalah ketika kita melihat benda yang mempunyai banyak daun dan ranting, serta batang yang besar berwarna

cokelat. Kemudian kita menyebutnya dengan sebutan “pohon”. Ketika kita

melihat hal-hal seperti itu dan kita menyebutnya dengan sebutan tertentu sesungguhnya yang kita lihat hanyalah fenomena yang dapat ditangkap oleh indera kita, sedangkan benda pada dirinya sendiri (Das Ding an sich) bukanlah apa yang tertangkap oleh indera kita. Dari contoh sederhana tersebut kita mendapat cara memandang dunia secara dualistik: dunia maya dan dunia paling nyata yang bersifat metafisik. Cara pandang ini yang terdapat dalam buku Upanishad. Schopenhauer dan Nietzsche mengakui cara pandang ini. Bagi mereka benda pada dirinya sendiri (Das Ding an sich) yang ada pada manusia bukanlah jasmani atau ruhani manusia, melainkan benda pada dirinya sendiri (Das Ding an sich) yang ada pada manusia adalah Kehendak. Perbedaan antara Nietzsche dan Schopenhauer ialah Nietzsche memakai gagasan tentang kehendak untuk berkuasa bukan sebagai prinsip untuk menjelaskan atau menafsirkan dunia, karena Nietzsche hanya mengakui satu dunia, yaitu dunia fenomena.

Ditinjau pada paragraf sebelumnya ternyata segala sesuatu di dunia ini memiliki benda pada dirinya sendiri, dan perubahan benda pada dirinya sendiri mengikuti perubahan kehendak. Berubahnya das ding an sich sesuai dengan kehendak menguraikan satu teori yakni kehendak merupakan hakikat dari segala-galanya. Pada kalimat selanjutnya akan dijelaskan lebih rinci mengenai kehendak untuk berkuasa merupakan hakikat dari segala-galanya. Kehendak untuk berkuasa yang merupakan hakikat dari segala-galanya tercantum dalam cuplikan roman Also Sprach Zarathustra di bawah ini:

Hinter deinen Gedanken und Gefühlen, mein Bruder, steht ein mächtiger Gebieter, ein unbekannter Weiser der heiβt Selbst“

“Di balik pikiran dan perasaanmu, saudaraku, ada seorang penguasa

besar, orang bijak tak dikenal- ia disebut Diri; ia tinggal dalam tubuhmu,

dialah tubuhmu“ (Nietzsche, 1994:82).6

Contoh das ding an sich sudah dijelaskan dengan contoh „pohon„. Das Ding an sich pohon dapat berubah sesuai „kehendak„, yakni „pohon„ dapat ditebang

kemudian dipotong kecil-kecil dan diukir, setelah itu disambung dengan paku

kemudian dicat, maka jadilah sebuah „kursi„ yang berfungsi sebagai tempat

duduk. Inilah dasar Nietzsche mengakui satu dunia, yakni dunia fenomena. Semua hal tergantung pada the way of interpreting, bagaimana kita mau memaknai isi hidup kita. The way of interpreting yang berasal dari kehendak (Levine, 104-105:2002).

Ich liebe Die, welche nicht erst hinter den Sternen einen Grund suchen, unterzugehen und Opfer zu sein: sondern die sich der Erde opfern, daβ die Erde einst des Übermenschen werde”.

“Aku mencintai mereka yang tidak mencari bintang alasan supaya mereka bisa menjadi korban, tapi yang mengorbankan diri mereka sendiri kepada bumi, supaya bumi Übermensch bisa terwujud” (Nietzsche, 1994:11).7

Maksud dari cuplikan tersebut ialah wujud seorang Übermensch yang memiliki kehendak untuk berkuasa. Seorang Übermensch bukanlah seorang yang memiliki jabatan tinggi. Bukan pula seorang yang memiliki harta yang berlimpah atau seorang pemimpin. Seorang Übermensch ialah orang yang terus mau berusaha meskipun ia harus bangkit dari kegagalannya, sebab ia tahu kesuksesan pasti terwujud jika ia tidak berhenti mewujudkannya. Ia tidak akan pernah mengatakan alasan penyebab kegagalannya. Ia juga tahu bahwa tindakannya dapat menjadi teladan bagi orang lain. Seorang Übermensch yang menjadi ilmu bagi orang lain, maka ia tidak memiliki niat untuk memanfaatkan orang lain demi kepentingannya. Kehidupan yang baik di bumi dapat tercipta dengan cara ini (Sunardi, 93-95:2006 & Levine, 236-240:2002).

Jika dicermati secara seksama sesungguhnya Zarathustra memiliki karakter yang bijak. Karakternya ini dibuktikan dalam salah satu kutipan Also Sprach Zarathustra:

Gebt mir zu essen und zu trinken, ich vergaβ es am Tage. Der, welcher den Hungrigen speiset, erquickt seine eigene Seele: So spricht die Weisheit.

Beri aku makanan dan minuman sebab aku telah melupakannya sepanjang hari tadi. Dia yang memberi makan orang lapar memberikan tenaga baru bagi jiwanya sendiri, begitulah yang dinyatakan oleh kebijaksanaan (Nietzsche, 1994:19).8

Dari kutipan di atas kita dapat melihat bahwa kehendak untuk berkuasa ada di dalam aspek intelektual dan instingtual manusia. Ia ada di dalam kesadaran dan ketidaksadaran manusia. Kehendak untuk berkuasa yang berada di dalam ketidaksadaran manusia berupa dorongan-dorongan naluri. Kebijaksanaan merupakan salah satu aspek kehendak untuk berkuasa yang berada dalam

instingtual manusia. Manusia yang bijak apabila melihat mahkluk lain kelaparan maka ia akan berusaha memberi makanan untuk mahkluk itu. Dorongan ini tidak dapat ditahan, apalagi dimusnahkan. Kehendak untuk berkuasa yang berada dalam instingtual manusia ini membentuk suatu aturan yang disebut moralitas.

Nietzsche melukiskan tentang etika kekuasaan (ethics of power) dengan jalan mengupas ungkapan-ungkapan kekuasaan dalam sejarah moralitas Barat. Nietzsche menunjukkan bahwa baik moralitas orang lemah maupun orang-orang kuat merupakan ungkapan kehendak untuk berkuasa. Dari moralitas yang tercipta pada suatu masyarakat kita dapat menyimpulkan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan pembentuk prinsip moralitas. Prinsip moralitas ini lebih jelas terwujud sebagai etika, dalam buku Also Sprach Zarathustra etika ini tercermin pada subbab berjudul Kursi-Kursi Pengajaran Kebaikan, berikut ini cuplikan isi dari subbab tersebut

“Ehre der Obrigkeit und Gehorsam, und auch der krummen Obrigkeit! So will es der gute Schlaf. Was kann ich dafür, daβ die Macht gerne auf krummen Beinen wandelt?”

“Der soll mir immer der beste Hirt heiβen, der sein Schaf auf die grünste Aue führt: so vertragt es sich mit gutem Schlafe”.

“Viel Ehren will ich nicht, noch groβe Schätze : das entzündet die Milz. Aber schlecht schläft es sich ohne einen guten Namen und einen kleinen Schatz”.

“Eine kleine Gesellschaft ist mir willkommener als eine böse : doch muβ sie gehn und kommen zur rechten Zeit. So verträgt es sich mit gutem Schlafe”.

“Sehr gefallen mir auch die Geistig-Armen : sie fördern den Schlaf. Selig sind die, sonderlich wenn man ihnen immer Recht gibt”.

“Also läuft der Tag dem Tugendsamen. Kommt nun die Nacht, so hüte ich mich wohl, den Schlaf zu rufen! Nicht will er gerufen sein, der Schlaf, der der Herr der Tugenden ist!”

“Sondern ich denke, was ich des Tages getan und gedacht. Wiederkäuend frage ich mich, geduldsam gleich einer Kuh : welches waren doch deine zehn Überwindungen?”

“Und welches waren die zehn Versöhnungen und die zehn Wahrheiten und die zehn Gelächter, mit denen sich mein Herz gütlich tat?”

“Solcherlei erwägend und gewiegt von vierzig Gedanken, überfällt mich auf einmal der Schlaf, der Ungerufene, der Herr Tugenden”.

“Der Schlaf klopft mir auf mein Auge : da wird es schwer. Der Schlaf berührt mir den Mund : da bleibt er offen”.

“Wahrlich, auf weichen Sohlen kommt er mir, der liebste der Diebe, und stiehlt mir meine Gedanken : dumm stehe ich da wie dieser Lehrstuhl”. “Aber nicht lange mehr stehe ich dann : da liege ich schon”.

“Hormat terhadap pemerintah dan kepatuhan : juga terhadap pemerintah yang tidak lurus! Demikian yang diinginkan tidur nyenyak. Apalah dayaku jika memang kekuasaan ingin berjalan dengan kaki bengkok? Dia yang membawa kawanannya ke padang rumput yang paling hijau, bagiku selalu merupakan gembala yang terbaik : ia pun selaras dengan tidur nyenyak.

Kehormatan yang berlimpah ataupun harta yang banyak tidaklah aku inginkan : sebab mereka membuat empeduku gelisah. Tapi tidur tanpa nama baik dan sedikit harta pun tak akan nyenyak.

Sedikit sahabat lebih menyenangkan bagiku daripada memiliki sahabat-sahabat yang buruk; tapi mereka harus datang dan pergi pada waktu yang tepat. Demikian barulah sesuai dengan tidur nyenyak.

Dan mereka yang miskin jiwanya pun menyenangkanku: mereka baik bagi tidur. Berbahagialah mereka terutama jika kita memberikan hak mereka.

Demikianlah, siang hari berlalu melewati mereka yang berkebajikan. Ketika malam tiba jangan memanggil tidur, sebab dia tidak suka dipanggil, penguasa kebajikan ini!

Tapi aku memikirkan apa yang telah aku lakukan dan aku pikirkan selama siang hari. Sambil memamah biak, dengan sabar seperti sapi, aku bertanya kepada diriku sendiri: apa sepuluh penahanan dirimu tadi itu?”

Dan apa sepuluh perdamaian itu, sepuluh kebenaran dan sepuluh tawa yang membuat hatiku senang?

Maka, sambil merenung dan dibuai oleh empat puluh pikiran, sang tidur mengambil diriku begitu saja – ya itulah tidur, dia yang tidak boleh dipanggil, dia sang penguasa kebajikan.

Tidur mengetuk pintu mataku dan mataku menjadi berat. Tidur menyentuh mulutku dan mulutku tetap terbuka.

Memang, dengan langkah lembut ia datang padaku, maling yang paling baik, dan mencuri pikiran dari diriku: sehingga aku menjadi bisu seperti kursi pengajaran ini.

Tidak lama aku berdiri dan aku pun akhirnya terbaring.” (Nietzsche, 1994: 28-29).9

Perwatakan yang akan dijabarkan pada paragraf ini ialah perwatakan seorang pertapa yang ada dalam roman Also Sprach Zarathustra. Di cuplikan

tersebut dapat kita ketahui bahwa Sang pertapa mempunyai watak senang memanfaatkan orang lain. Pertapa memilih untuk tidak melawan kehendak penguasa demi melindungi kebutuhan dirinya sendiri. Ia hanya mau dekat dengan orang yang bisa ia manfaatkan untuk kepentingannya sendiri, ia pun menyarankan kepada seluruh orang supaya melakukan hal yang sama sehingga selalu dalam posisi yang menguntungkan. Penokohan pertapa ini sesuai dengan kehendak untuk berkuasa sebagai etika yang didefinisikan Nietzsche.

Pada cuplikan subbab yang berjudul Kursi-Kursi Pengajaran, Nietzsche hendak menjelaskan bagaimana kehendak untuk berkuasa itu muncul dalam moralitas, dan untuk apa moralitas itu diciptakan. Langkah yang dilakukan oleh Nietzsche untuk menjelaskan bagaimana kehendak untuk berkuasa itu muncul dalam moralitas dengan cara membedakan macam-macam moralitas berdasarkan tujuan moralitas itu diciptakan. Sebagian besar manusia memiliki proses kesadaran individu untuk menerima kebenaran moralitas tanpa syarat. Kesadaran ini terjadi melalui proses interiorisasi individual secara halus. Individu dalam proses ini, dibius dengan nilai-nilai yang dapat menjamin kelangsungan moralitas. Salah satu nilai yang paling menonjol adalah ketaatan. Nietzsche menyebut moralitas ini dengan nama moralitas kawanan (Herden-Moral) karena diciptakan berdasarkan naluri komunal (Herden-Instinkt). Naluri yang paling menonjol adalah naluri ketakutan terhadap pribadi-pribadi yang kuat dan bebas. Musuh dari moralitas kawanan ini adalah orang-orang yang sering kali begitu cerdas dan kreatif sehingga mereka mampu menggoyahkan moralitas yang sudah mapan (Levine, 152-155:2002).

Nietzsche berpikir bahwa orang-orang yang sering menggoyahkan moralitas yang sudah mapan ialah sekelompok orang yang harus dibatasi dengan aturan-aturan moral oleh pencipta moralitas kawanan. Kreativitas kelompok untuk menciptakan nilai dan moralitas tidak berdasarkan afirmasi pada hidup, tetapi pada rasa takut dan dendam. Sesuatu dianggap bernilai apabila dapat menjamin keutuhan kelompok dan menjaga bahaya dari kaum yang menggoyahkan kemapanan moralitas. Menurut Nietzsche, moralitas kawanan juga dapat disebut sebagai ungkapan rasa benci dan dendam.

Bagi Nietzsche, moralitas kawanan adalah musuh kehidupan. Moralitas ini cenderung meredam nafsu-nafsu spontan yang merupakan ungkapan arus hidup itu sendiri, yaitu kehendak untuk berkuasa. Orang-orang Kristen adalah pelaku utama moralitas kawanan. Mereka merindukan kedamaian dan menjauhi perang dan konflik. Moralitas mereka diperlukan untuk menjauhi nafsu-nafsu. Semua hal yang tercipta dari dorongan kehendak untuk berkuasa cenderung dinilai sebagai