• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat Parkir Kendaraan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 27-35)

Kebutuhan tempat parkir untuk kendaraan baik kendaraan pribadi, angkutan penumpang umum, sepeda motor maupun truk adalah sangat penting. Kebutuhan tersebut bervariasi tergantung dari bentuk dan karakteristik masing-masing kendaraan desain dan lokasi parkir.

2.6.2.1 Penempatan fasilitas parkir

Penempatan fasilitas parkir dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Parkir di badan jalan (on street parking) yaitu :

a. Pada tepi jalan tanpa pengendalian parkir.

b. Kawasan parkir, dengan pengendalian parkir. 2. Parkir di luar badan jalan (off street parking) yaitu :

a. Fasilitas parkir untuk umum, yaitu parkir yang berupa gedung parkir atau taman parkir yang diusahakan sebagai kegiatan usaha tersendiri dengan menyediakan jasa pelayanan parkir untuk umum.

b. Fasilitas parkir sebagai fasilitas penunjang, adalah parkir yang berupa gedung parkir atau taman parkir yang disediakan untuk menunjang kegiatan pada bangunan utama.

2.6.2.2 Kebutuhan Ruang parkir

Jenis peruntukan kebutuhan bangunan parkir dikelompokkan menjadi : 1. Untuk kegiatan parkir yang tetap, seperti :

a. pusat perdagangan

b. pusat perkantoran swasta atau pemerintah c. pusat perdagangan eceran atau pasar swalayan d. pasar

e. sekolah f. tempat rekreasi

g. hotel atau tempat penginapan h. rumah sakit

2. Untuk kegiatan parkir yang bersifat sementara, seperti : a. bioskop

b. tempat pertunjukan

c. tempat pertandingan olahraga d. rumah ibadah

Ukuran kebutuhan ruang parkir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.16

Ukuran Kebutuhan Ruang Parkir

Peruntukan Satuan (SRP untuk mobil penumpang)

Kebutuhan Ruang Parkir Pusat Perdagangan :

- Pertokoan SRP / 100 m2 luas lantai efektif 3,5 – 7,5

- Pasar Swalayan SRP / 100 m2 luas lantai efektif 3,5 – 7,5

- Pasar SRP / 100 m2 luas lantai efektif

Pusat Perkantoran :

- Pelayanan bukan Umum SRP / 100 m2 luas lantai 1,5 – 3,5

- Pelayanan Umum SRP / 100 m2 luas lantai

Sekolah SRP / Mahasiswa 0,7 – 1,0

Hotel / Tempat Penginapan SRP / Kamar 0,2 – 1,0

Rumah Sakit SRP / Tempat tidur 0,2 – 1,3

Bioskop SRP / Tempat duduk 0,1 – 0,4

Sumber : NAASRA 1988

Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP) didasarkan atas : 1. Dimensi kendaraan standar untuk mobil penumpang 2. Ruang bebas kendaraan parkir

3. Lebar bukaan pintu kendaraan

Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP) dibagi atas 3 jenis kendaraan, dan penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk mobil penumpang diklasifikasikan menjadi 3 golongan seperti tabel berikut :

Tabel 2.17

Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP)

Jenis Kendaraan Satuan Ruang Parkir (m2) 1. a. Mobil penumpang golongan I 2,30 x 5,00 b. Mobil penumpang golongan II 2,50 x 5,00 c. Mobil penumpang golongan III 3,00 x 5,00

2. Bis / Truk 3,40 x 12,50

3. Sepeda motor 0,750 x 2,00

Sumber : NAASRA 1988

2.6.2.3 Larangan Parkir

Disini juga dijelaskan mengenai larangan parkir, yaitu :

- Sepanjang 6 m sebelum dan sesudah tempat penyeberangan pejalan kaki atau tempat penyeberangan sepeda yang telah ditentukan.

- Sepanjang 25 m sebelum dan sesudah tikungan tajam dengan radius kurang dari 500 m.

- Sepanjang 50 m sebelum dan sesudah jembatan.

- Sepanjang 100 m sebelum dan sesudah lintasan sebidang. - Sepanjang 25 m sebelum dan sesudah persimpangan.

- Sepanjang 6 m sebelum dan sesudah akses bangunan gedung. - Sepanjang tidak menimbulkan kemacetan dan menimbulkan bahaya.

Dalam merencanakan tempat parkir, harus dilakukan pengukuran terhadap kebutuhan parkir yang utama adalah :

a. Akumulasi parkir, merupakan jumlah kendaraan yang diparkir di suatu tempat pada waktu tertentu, dimana jumlah tersebut selama periode tertentu menunjukkan beban parkir (jumlah kendaraan parkir) dalam satuan jam kendaraan per periode waktu tertentu.

b. Volume parkir, menyatakan jumlah kendaraan yang termasuk dalam beban parkir (yaitu jumlah kendaraan per periode waktu tertentu, biasanya per hari).

c. Indeks Parkir, adalah ukuran yang lain untuk menyatakan penggunaan panjang jalan dan dinyatakan dalam prosentase ruang yang ditempati kendaraan parkir pada tiap panjang jalan.

2.6.3 Terminal

Terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan trnsportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum yaitu tempat untuk naik dan turunnya penumpang dan atau bongkar muat barang, untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum, serta sebagai tempat pemberhentian intra dan antar moda transportasi.

2.6.3.1 Fungsi Terminal

Fungsi terminal secara umum adalah:

1. Tempat berganti dan beralihnya penggunaan moda transportasi. 2. Menaikkan dan menurunkan penumpang dan barang.

Fungsi terminal dilihat dari 3 (tiga) unsur, yaitu:

1. Bagi penumpang adalah untuk kenyamanan menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda atau kendaraan ke moda atau kendaraan yang lain, tempat fasilitas-fasilitas informasi dan fasililitas parkir kendaraan pribadi. 2. Bagi pemerintah adalah segi perencanaan dan manajemen lalu lintas untuk

menata lalu lintas dan angkutan serta menghindari dari kemacetan , sebagai pengendali kendaraan umum.

3. Bagi operator/pengusaha adalah untuk pengaturan opersi bus, penyediaan fasilitas istirahat dan informasi bagi awak bus dan sebagai fasilitas pangkalan.

Tabel 2.18

Nama Umum untuk Fasilitas-fasilitas yang Berfungsi sebagai Terminal untuk Berbagai Moda Transportasi

No. Moda Transportasi Fasilitas Fungsi Utama

1. Mobil (dan kendaraan

jalan lain) Garasi parkir

Stasiun bahan bakar Loket tol

Penyimpanan kendaraan, akses dengan pejalan kaki.

Reparasi dan perawatan kendaraan.

Pengumpulan karcis dan biaya.

2. Bis Stasiun bis

Pemberhentian bis

Bis antarkota dan hubungan moda akses. Hubungan dengan akses berjalan kaki.

Sumber: Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi (Edward K. Morlok, 1991)

2.6.3.2 Jenis Terminal

Jenis terminal berdasarkan jenis angkutannya dapat dikelompokkan menjadi: 1. Terminal angkutan penumpang

2. Terminal angkutan barang

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 30 tahun 1995 (KM No. 30/ 1995), terminal angkutan penumpang dibagi atas: 1. Terminal penumpang tipe A.

Terminal ini berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Terminal ini memiliki ciri: a. Lokasinya terletak di ibukota provinsi, dilewati jalur kendaraan umum akap,

sebagian besar melalui jalan arteri, dengan kelas sekurang-kurangnya IIIA, serta terletak 20km dengan terminal yang setipe (untuk pulau Jawa)

b. Kriteria Pembangunan berdasarkan tingakat pelayanan 50-100 kendaraan per jam, dengan luas terminal minimal 5 ha (untuk pulau Jawa) dan minimal 3 ha (di luar Jawa). Akses ke terminal minimum 100 m.

c. Kewenangan terminal, khususnya lokasi ditetapkan oleh Direktur Jendral Perhubungan Darat dengan mendengar usulan Gubernur stempat.

d. Fasilitas terminal yang harus ada adalah jalur pemberangkatan dan kedatangan, tempat parkir, kantor terminal, tempat tunggu, menara pengawas, loket penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, pelataran parkir pengantar atau taksi.

2. Terminal penumpang tipe B

Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan / atau angkutan pedesaan.

a. Lokasinya terletak di Kota/ Kabupaten, dilewati jalur AKDP, jalan arteri atau kolektor, dengan kelas sekurang-kurangnya IIB, terletak 15 km dengan terminal yang setipe (di Jawa)

b. Kriteria pembangunan berdasarkan tingkat pelayanan yang mencapai 25-50 kendaraan per jam dengan luas terminal minimal 3 ha (di Jawa) dan 2 ha (di pulau lain). Akses terminal minimum sejauh 50m.

c. Kewenangan terminal, khususnya lokasi ditetapkan oleh Gubernur atas persetujuan Dirjen Perhubungan Darat.

d. Fasilitas terminal meliputi jalur pemberangkatan dan kedatangan, tempat parkir, kantor terminal, tempat tunggu, menara pengawas, loket penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, pelataran parkir pengantar atau taksi.

3. Terminal penumpang tipe C

Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan

j. Lokasi terletak di kota/ kabupaten, dilewati jalur Pedesaan,jalan kolektor atau lokal, dengan kelas setinggi-tingginya IIIA.

k. Kriteria pembangunan, tinkat pelayanan mencapai 25 kendaraan per jam, luas tergantung kebutuhan, akses ke termonal sesuai kebutuhan.

l. Kewenangan terminal, lokasi ditetapkan Bupati/ Walikota setelah mendapatkan persetujuan.

m. Fasilitas terminal: jalur pemberangkatan dan kedatangan, tempat parkir, kantor teerminal, tempat tunggu, rambu-rambu dan papan informasi.

Berdasarkan fungsinya, maka terminal angkutan penumpang dapat dibagi menjadi:

1. Terminal Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi, dan atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi dan angkuatan kota. 2. Terminal Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) yang berfungsi untuk melayani

kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan atau angkutan pedesaan.

3. Terminal lokal, berfungsi untuk melakukan pelayanan kendaraan umum untuk angkutan dan atau angkutan pedesaan.

2.6.3.3 Operasional dan Sirkulasi Terminal Operasional Terminal

Kegiatan operasional terminal dapat dibagi menjadi 2 proses, yaitu : 1. Proses Utama, proses ini dibagi menjadi 6 subproses :

• Subproses penaikan dan penurunan penumpang • Subproses penumpang menunggu sesaat

• Subproses pemilihan rute, pembelian dan pemesanan tiket • Subproses pelayanan pergantian dari peralihan moda angkutan • Subproses penyimpanan dan perawatan angkutan

• Subproses pengaturan penyimpanan dan perawatan Sirkulasi Terminal

Sirkulasi di dalam terminal dapat dibedakan menjadi 4, yaitu : 1. Sirkulasi Penumpang

Penumpang adalah orang yang akan naik ataupun turun dari bus. Sebelum naik penumpang membeli karcis, menunggu di ruang tunggu menuju arah bis yang dituju, penumpang turun meninggalkan bis, kemudian keluar terminal untuk berganti moda atau berjalan kaki.

2. Sirkulasi Barang

Barang disini adalah barang bawaan penumpang, sehingga dengan sendirinya pergerakan barang mengikuti sirkulasi penumpang

3. Sirkulasi Bis

Tipe sirkulasi bis pada terminal memperhatikan pola kedatangan dan kepergian (Knipe, 1979), yaitu pola melangsir, menerus dan memutar.

4. Sirkulasi Angkutan Kota

Angkutan kota digunakan untuk melayani penumpang dalam kota, sehingga setelah penumpang turun dari bis kemudian penumpang berpindah ke angkutan kota dengan rute tertentu menuju ke kota.

2.6.3.4 Fasilitas Terminal Fasilitas Utama Terminal

1. Jalur pemberangkatan kendaraan umum

Areal untuk menaikkan penumpang (loading) dan memulai perjalanan atau berangkat meninggalkan terminal.

2. Areal kedatangan kendaraan umum

Daerah atau jalur kendaraan yang ditujukan untuk melayani kedatangan kendaraan dan atau mengakhiri perjalanan serta menurunkan penumpang (unloading).

3. Tempat penurunan dan penaikan penumpang dari atau ke kendaraan umum Areal pada terminal yang bias berupa shelter/selasar dimana penumpang dapat memulai atau mengakhiri perjalanan dengan moda transportasi yang dipilihnya.

4. Tempat tunggu sementara kendaraan umum (parkir istirahat)

Areal terminal yang digunakan oelh kendaraan yang menuju antrian pada lajur keberangkatan atau sedang beristirahat ataupun mengalami perbaikan kecil. 5. Tempat tunggu penumpan dan atau pengantar

Yaitu ruangan yang digunakan untuk penumpang atau pengantar untuk menunggu.

6. Jalur lintasan

Jalur yang disediakan bagi kendaraan umum yang akan langsung melanjutkan perjalanan setelah menaikkan atau menurunkan penumpang.

Ruangan yang disediakan untuk para pegawai terminal melaksanakan aktivitas kerjanya.

8. Pos DLLAJR dan keamanan. 9. Menara pengawas.

10. Loket penjualan karcis.

Fasilitas Penunjang, yaitu : 1. Toilet

2. mushola. 3. Parkir pengantar 4. Kios atau kantin 5. Telepon umum 6. Ruang pengobatan

7. Ruang informasi dan pengaduan 8. Taman dan lain-lain

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 27-35)

Dokumen terkait