BAPPEDA KOTA BOGOR | POKJA SANITAS
B. Tempat Pemrosesan Akhir
Pemerintah Kota Bogor sebenarnya saat ini telah mempunyai TPA yang berlokasi di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan luas lahan ± 13,6 Ha, tetapi Ijin pemakaian atau penggunaanya terbatas hanya untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun yaitu berdasarkan Keputusan Bupati Bogor Nomor 658.1/393/KPTS/HUK/2008 pada tanggal 24 Juli 2008 sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Pemerintah Kota Bogor tentang Perpanjangan Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhit (TPA) Sampah Galuga di Desa Galuga Kecamatan Cibungbulang
Kabupaten Bogor No. 658.1/42/Prjn/Huk/2008, No. 658.1/Perj.24-DLHK/2008 pada tanggal 06 Agustus 2008 , Izin penggunaan terakhir yang berlaku sampai dengan bulan Juli 2011 akan diperpanjang kembali dan saat ini sedang dalam proses dan diharapkan ijin penggunaan kedepan dapat disepakati sampai dengan TPPAS Regional Nambo beroperasi.
Lokasi TPA Alternatif di wilayah Kota Bogor sudah pula dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Bogor. Pembangunan TPA Alternatif ini merupakan sutau kebutuhan bagi suatu kota dalam upaya penanganan sampah yang mendekati sumber timbulan sampah, TPA tidak hanya sebagai “Tempat Pembuangan Akhir sampah” tetapi juga merupakan tempat pengelolaan awal sampah, dimana produk olahan sampai dapat menghasilkan produk sehingga dapat membantu
meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar lokasi TPA serta untuk mendukung pelayanan publik dalam penyediaan lahan TPA yang layak dari berbagai aspek (kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, biaya dan sosial ekonomi)
Metode Pengolahan
Sebagai Kota Besar, metode pembuangan akhir sampah yang seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah Kota Bogor adalah Sistem Sanitary Landfill. Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang timbul dapat diminimalkan.
TPA Galuga pada awalnya dioperasikan dengan menggunakan metode controlled landfill. Hal ini bertujuan untuk mengurangi bau yang ditimbulkan, berkembang biaknya binatang pengerat dan lalat serta juga mengurangi terbentuknya timbulan leachate akibat air hujan yang masuk dalam lahan
timbunan sampah. Sementara untuk mengalirkan limbah cair/air lindi dari timbunan sampah tersebut telah dibuat saluran drainase lindi (pipa) yang
bermuara ke kolam leachate. Air lindi tersebut seterusnya dinormaliasasikan dan diolah di dalam IPAl sebelum dialirkan ke badan air penerima. Namun seiring dengan perjalanan waktu karena keterbatasan sarana dan prasarana serta biaya maka pengoperasian TPA saat ini dilakukan secara open dumping.
Sesuai dengan UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan sampah, pada tahun 2013 sudah tidak diperbolehkan lagi TPA Open Dumping. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bogor perlu menyediakan anggaran untuk penutupan sampah dengan tanah karena pengurugan memerlukan biaya yang sangat besar, serta mempersiapkan rencana penggantian sistem dari open dumping menuju sanitary landfill.
Beberapa kegiatan yang dilakukan di TPA antara lain: 1. Pencatatan volume/ritasi sampah yang masuk 2. Perataan dan pemadatan sampah oleh alat berat 3. Pemilahan dan pengurangan sampah oleh pemulung 4. Pengomposan secara berkala
5. Penutupan sampah dengan lapisan tanah secara periodik
6. Pengaliran dan pengolahan leachate/lindi di Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL)
Gambar 3.12 Fasilitas Pendukung
Tuntutan pengelolaan TPA Galuga yang lebih baik datang dari berbagai pihak dan pemerintah Kota Bogor telah berupaya untuk menciptakan kondisi TPA sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, terutama dalam rangka
memenuhi isi Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Pemerintah Kota Bogor.
Sejak tahun 2009 TPA Galuga tidak hanya dipergunakan untuk kepentingan Kota Bogor saja, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Bogor dan dapat dikatakan sebagai TPA Regional. Penggunaan TPA dalam kondisi seperti diatas menimbulkan beban pengelolaan dan pengolahan yang besar.
TPA Galuga memiliki sarana dan prasarana pendukung, antara lain : a. Pos Jaga
Digunakan untuk pengawasan kendaraan sekaligus kontrol terhadap sirkulasi kendaraan dan memantau setiap kegiatan pembuangan secara umum.
b. Jalan Masuk
Jalan masuk angkutan sampah dari jalan raya menuju lokasi TPA melalui jalur pemukiman. Kondisi eksisting jalan masuk saat ini adalah panjang jalan 1500 meter dan lebar badan jalan 4 meter. Kondisi jalan di sekitar pemukiman cukup sempit sehingga mengganggu jalannya kendaraan apabila terjadi papasan antara mobil yang akan membuang sampah ke TPA dengan mobil yang telah membuang sampah di TPA. Oleh karena Itu, perlu adanya perlebaran jalan menuju TPA di luar kawasan pemukiman.
c. Peralatan Berat
Di TPA Galuga terdapat tiga unit bulldozer, satu unit track loader dan satu unit escavator yang berfungsi untuk meratakan dan memadatkan sampah. d. Rumah Kompos
Rumah kompos di TPA Galuga digunakan untuk melakukan kegiatan pengomposan sampah terutama sampah organik dari pasar. Kegiatan pengomposan dilakukan dengan menggunakan perangkat pencacah sebanyak tiga unit. Kompos yang telah dibuat di rumah kompos nantinya akan dipasarkan untuk mendukung kegiatan operasional rumah kompos tersebut.
e. Zona Penyangga
Di TPA Galuga terdapat banyak pepohonan yang digunakan sebagai kawasan penyangga. Zona penyangga berfungsi untuk mengurangi bau karena sampah yang ditimbun dalam jumlah yang sangat besar dan juga untuk mengurangi populasi lalat.
f. Kolam Pengelolaan Leachate dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Pada saat ini, kolam pengolahan leachete sudah tidak difungsikan karena terkena dampak longsoran sampah, hanya bak terakhir yang masih berfungsi sebagai bak pengumpul sebelum dialirkan ke IPAL. IPAL TPA Galuga dibangun pada tahun 2009 menggunakan sistem oksidasi dan filtrasi, sehingga effluen yang dibuang ke badan air penerima diupayakan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
g. Saluran Drainase
Saluran drainase di TPA Galuga berfungsi selain membuang air hujan juga menghindarkan masuknya air hujan ke dalam sel-sel sampah yang
ditimbun sehingga dapat menekan sekecil mungkin leachete yang dihasilkan. Namun saat ini kondisi saluran drainase baik drainase jalan maupun drainase kavling TPA masih bersatu dalam satu saluran sehingga menyebabkan sebagian leachete dan air hujan bersatu mengalir ke badan air (saluran air).
h. Pipa Gas
Pipa gas yang dipasang berfungsi sebagai jalan keluarnya gas metan dan karbon dioksida. Gas-gas tersebut perlu dikendalikan karena dapat menimbulkan bahaya kebakaran dan dapat berpengaruh pada pemanasan global.
i. Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU)
Untuk memudahkan operasional TPA dan penerangan jalan akses TPA Galuga, sampai saat ini telah dipasang fasilitas penerangan jalan umum yakni dari akses jalan masuk sampai dengan Kampung Cisasak.
j. Hanggar (Garasi Alat Berat)
TPA Galuga tidak memiliki jembatan timbang sehingga kegiatan pencatatan volume sampah yang masuk ke TPA setiap hari belum akurat karena hanya berdasarkan perkiraan petugas.
Untuk mengotimalkan pengelolaan TPA Galuga juga telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Melaksanakan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor terkait dengan izin operasional penggunaan TPA Galuga.
2. Memberikan layanan kesehatan secara berkala kepada masyarakat sekitar TPA Galuga, penyediaan air bersih dan melaksanakan fogging untuk meminimalkan penyebaran jentik /latat di area pemukiman di sekitar lokasi TPA.
3. Melakukan pengelolaan Lingkungan di sekitar TPA Galuga dengan membuat dokumen lingkungan UPL/UKL dan hasilnya disampaikan kepada
Pemerintah Kabupaten Bogor.
4. Pemeliharaan sarana yang ada dilaksanakan antara lain : a. Pemeliharaan Jl. Akses menuju TPA
b. Penyediaan Jaringan Air Bersih Untuk Warga sekitar TPA c. Bangunan Tempat Kerja (Kantor TPA)
d. Pemeliharaan PJU di Areal TPA
e. Pemeliharaan Saluran Pembuangan Leacheate f. Pemeliharaan saluran drainase
g. Pemeliharaan emplacement /tempat pembuangan sampah h. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Leachate
i. Pembangunan Garasi Alat Berat (Hanggar)
j. Penutupan Zona Tidak Aktif dengan tanah dan rumput k. Pembuatan Ventilasi Gas Methane
l. Penanaman Pohon Pelindung sebagai buffer zone m. Pemasangan papan informasi dan petunjuk
Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Dalam upaya penanggulangan sampah di Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Bogor karena mengingat kondisi usia pakai TPA yang selama ini
digunakan sudah melampaui umur teknis TPA serta untuk menciptakan
keterpaduan pembangunan antar kawasan dan mewujudkan efisiensi, efektifitas dan sinergitas penyediaan pelayanan umum, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan dan menjadikan sampah sebagai sumber daya dan berdaya guna, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menandatangai Kesepakatan Bersama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Kota Depok tentang Kerjasama Pengolahan dan
Pemrosesan Akhir Sampah Regional yang berlokasi di Nambo, serta
direncanakan pada awalnya TPPAS Regional Nambo pada tahun 2012 sudah dapat dioperasionalkan. Gambar 3.13 Gambar 3.14 3.3.5. Peran serta Masyarakat dan Jender dalam Pengelolaan Sampah 1 Peran serta masyarakat sangat
Mendukung pembangunan TPPAS Regional Nambo dengan mempersipakan sarana dan prasarana untuk menunjang operasional TPA Regional yaitu :
• Pembangunan sarana SPA termasuk sarana jalan, Buffer Zone, sarana pemilahan dan sarana lainnya.
• Pengadaan sarana angkut dari SPA ke TPA Regional dengan alternatif alat angkut antara lain Compactor Truck.
diperlukan dalam pengelolaan sampah karena sampah yang dikelola suatu kota dihasilkan oleh aktivitas masyarakatnya.
Bentuk peran serta masyarakat menurut Revisi SK SNI 03-3242-1994 dapat dinyatakan sebagai berikut:
1. Melakukan pemilahan sampah di sumber
2. Melakukan pengolahan sampah dengan konsep 3R 3. Berkewajiban membayar iuran/retribusi sampah
4. Mematuhi aturan pembuangan sampah yang ditetapkan 5. Turut menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya 6. Berperan aktif dalam sosialisasi pengelolaan sampah lingkungan
Faktor utama yang menjamin pencapaian tujuan kebersihan adalah faktor manusia, baik petugas maupun masyarakat. Oleh karena itu untuk dapat
membantu Pemerintah Daerah dalam mengelola kebersihan antara lain dengan cara membiasakan masyarakat bersikap dan bertingkah laku yang didasari oleh kesadaran akan lingkungan yang bersih, sehingga sikap dan perilaku terhadap kebersihan atau sampah tidak berdasarkan kewajiban, tetapi pada nilai kebutuhan (Dirjen Cipta Karya, 1992).
Penanganan persampahan Kota Bogor didukung peran serta atau
partisipasi masyarakat melalui membuang sampah pada waktu dan tempat yang tepat dan pada beberapa lokasi sudah mencoba memulai pengurangan dari sumber, selain itu turut memelihara kebersihan lingkungan melalui kegiatan kekerja bakti yang berlangsung tiap hari jumat di seluruh wilayah Kota Bogor. Pengolahan Sampah
Sistem pengolahan sampah yang dilaksanakan di Kota Bogor berdasarkan
Pengelolaan Sampah Terpadu adalah dengan cara pemilahan sampah, daur ulang, pengomposan dan pembuangan akhir. Namun, kegiatan pemilahan dan penerapan 3R di Kota Bogor belum berjalan optimal, sampai saat ini sampah yang dibuang masyarakat masih tercampur antara organik dan anorganik. Kesadaran
masyarakat untuk meyediakan dua buah wadah sampah di masing-masing rumah masih rendah. Fasilitas pemindahan yang dibangun oleh bidang Kebersihan DCKTR sebenarnya juga masih kurang mendukung disebabkan masih sedikinya wadah sampah yang menggunakan sistem pemisahan antara sampah organik dan anorganik.
Upaya Penanganan sampah mulai dari sumber dengan membuat pilot project telah dimulai dari tahun 2005 dan sekarang sudah ada di beberapa lokasi dengan target setiap tahunnya dua (2) Rukun Warga (RW).
Selain penanganan sampah yang dilakukan di sumber pada beberapa lokasi, pengurangan timbulan sampah dilaksanakan juga melalui cara 3 R (Reduse, Reuse, Recycle) atau mengurangi produksi sampah, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang sampah, yang dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat baik dimulai oleh beberapa kelompok lapak daur ulang yang berada di kota maupun yang berada di TPA Galuga.
Pada tahun 2008 telah dibuat pengelolaan sampah dengan sistem 3R di Depo Idraprasta dan Perumahan Yasmin Sektor V. Untuk sampah-sampah yang masih memiliki nilai ekonomi seperti kardus/kertas dan botol-botol plastik masih
belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang menghasilkan sampah selain pemulung.
Pengolahan sampah di Kota Bogor dilakukan juga melalui kegiatan
pengomposan. Pengomposan ini dilakukan di beberapa perumahan, transfer depo dan TPA. Hasil pengomposan yang dilakukan di perumahan oleh masyarakat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Sedangkan kompos yang dibuat di tranfer depo dan rumah kompos di TPA galuga digunakan untuk memupuk pohon-pohon di pinggir jalan maupun dijual kepada pihak-pihak yang yang memerlukan.
Sampai dengan tahun 2010 ini sudah terdapat beberapa lokasi pengomposan yang secara konsisten telah melaksanakan pengelolaan sampah melalui kegiatan
composting yaitu : Perumahan Griya Melati, Indra Prasta, Bantar Kemang, Gunung Batu, Yasmin dan Mulya Harja.
Gambar 3.15
Pada tahun 2010 ini juga Bidang Kebersihan membuat suatu terobosan baru yaitu mengadakan Kerjasama dengan Kelompok Usaha MITTRAN dalam bentuk uji coba system pengolahan sampah perkotaan. Harapan dengan
adanyakerjasama dalam uji coba ini agar memberikan keyakinan dan membentuk cara pandang baru dalam penanganan sampah di Kota Bogor.
Gambar. 3.16
PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN POLA 3R KERJA SAMA DENGAN