• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ( TPST)

Minimum Maksimum Rata-rata

NO JENIS PERALATAN KAPASITAS PELAYANAN KETERANGAN

D. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ( TPST)

Pewadahan, pewadahan harus disediakan sendiri oleh Masyarakat, dapat berupa bin/tong sampah, Karung plastik, dan keranjang Takaruka. Volume pewadahan disesuaikan produk sampah yang dihasilkan dan mampu menampung selama untuk produk 3 hari. Pembuatan kompos dapat dilakukan mulai dari sumber sampah (pengolahan sampah rumah tangga), ada bebarapa cara pengomposan yaitu : cara pengomposan dengan metode Takakura, Komposter dan dengan pembuatan lobang sampah di tanah.

C. Pengumpulan/Pengangkutan

Pengumpulan/pengangkutan sampah dilakukan dengan cara individual yaitu pengumpulan sampah langsung dengan Motor Sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), setiap motor sampah akan dilayani oleh 2 petugas. Pengumpulan dengan cara individual akan dilakukan dengan gerobak, setiap gerobak dilayani oleh 2 petugas.

D. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ( TPST)

Semua sampah yang diangkut oleh motor sampah di daerah pelayanan akan berakhir di TPST dimana semua sampah akan diolah secara terpadu berupa

BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 130 seperangkat alat pengolahan terpadu. Di TPST akan dilaksanakan kegiatan pemilahan dan Composting. Untuk pembuatan kompos di lokasi TPST dipergunakan alat composter, sedangkan sampah yang tidak dapat di daur ulang dan sisa komposting akan di packing dan ditrasfortasikan untuk dibuang ke TPA.

6.3.Tempat Pemprosesan Akhir (TPA)

Sampah yang diangkut oleh truck sampah dibuang di TPA yang terletak di Kecamatan Mandai Kelurahan Borong Dusun Bontoramba yang berjarak ±15 km dari Ibu kota Kabupaten. Metoda pembuangan sampah yang dilakukan masih menggunakan sistem open dumping. Lokasi yang digunakan untuk TPA saat ini merupakan tanah kosong yang tidak produktif. Sedangkan daerah sekitarnya berupa areal perkebunan dan pemukiman.

6.3.1 Kriteria Pemilihan TPA

Salah satu kendala dalam penerapan metoda perencanaan Tempat Pemprosesan Ahkir (TPA) baik sanitary landfill maupun controled landfill adalah pemilihan lokasi yang cocok, baik dilihat dari sudut kelangsungan pengoperasian, maupun dari sudut perlindungan terhadap lingkungan hidup. Karakteristik lahan (terutama permeabilitas) akan menentukan karakteristik sampah yang diperbolehkan masuk ke TPA. Lahan yang tepat tidak selalu mudah didapat. Suatu metode pemilihan yang baik perlu digunakan agar memudahkan dan mengevaluasi calon lokasi tersebut.

Sampah merupakan kumpulan dari beberapa jenis buangan hasil samping dari kegiatan, yang akhirnya harus diolah dan diurug di suatu lokasi yang sesuai. Permasalahan yang timbul adalah bahwa sarana ini merupakan sesuatu yang dijauhi oleh Masyarakat sehingga persyaratan teknis untuk penempatan sarana ini perlu didampingi oleh persyaratan non–teknis. Lebih luas lagi kecocokan lokasi ini di pengaruhi oleh kebijakan daerah yang dalam bentuk formal dinyatakan dalam rencana tata ruang. Dalam rencana tersebut biasanya sudah dinyatakan rencana penggunaan lahan.

BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 131 Aspek kesehatan Masyarakat berkaitan langsung dengan manusia, terutama kenaikan mortalitas (kematian), morbiditas (penyakit), serta kecelakaan karena operasional sarana tersebut. Aspek lingkungan hidup terutama berkaitan dengan dampak terhadap ekosistem akibat pengoperasian sarana tersebut, termasuk akibat transportasi sampah. Aspek biaya berhubungan dengan biaya spesifik antara satu lokasi yang lain, terutama dengan adanya biaya ekstra pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan. Aspek sosio-ekonomi berhubungan dengan dampak sosial dan ekonomi terhadap penduduk sekitar lahan yang dimaksud disini adalah keuntungan atau kerugian akibat nilai tambah yang dapat dinikmati penduduk, ataupun penurunan nilai hak milik karena berdekatan dengan sarana tersebut. Walaupun dua lokasi yang berbeda mempunyai pengaruh yang sama dilihat dari apsek sebelumnya, namun reaksi Masyarakat setempat dengan dibangunnya sarana tersebut bisa berbeda.

Suatu metodologi yang baik tentunya diharapkan bisa memilih lahan yang paling menguntungkan dengan kerugian yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian metodologi tersebut akan memberikan hasil pemilihan lokasi yang terbaik. Hal ini mengandung pengertian, yaitu : Lahan terpilih hendaknya memberikan nilai tertinggi ditinjau dari berbagai aspek di atas, Pemilihan yang dibuat hendaknya dapat dipertanggung jawabkan, artinya harus dapat ditunjukan secara jelas bagaimana dan mengapa suatu lokasi terpilih diantara yang lainya. Dalam hal ini pemilihan TPA tidak lepas dari kriteria-kriteria sebagai berikut :

1) Kriteria regional, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan daerah layak atau tidak layak sebagai berikut :

a. Kondisi geologi :

1) Tidak berlokasi di daerah holocene fault. 2) Tidak boleh di daerah bahaya geologi.

b.Kondisi hidrogeologi

1. Tidak boleh mempunyai tinggi air tanah kurang dari 3 meter. 2. Tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dari 10-5 cm/det. 3. Jarak terhadap sumber air minum harus > 100 m di hilir aliran.

4. Dalam hal tidak ada zona yang memenuhi kriteria tersebut maka harus dilakukan masukan teknologi.

c. Kemiringan lokasi harus kurang dari 20%

1. Jarak dari lapangan terbang harus lebih besar dari 3.000 meter untuk penerbangan turbo jet dan harus lebih besar dari 1.500 meter untuk jenis lain.

BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 132 2. Tidak boleh pada daerah hutan lindung/cagar alam dan daerah banjir

dengan periode ulang 25 tahun.

3. Untuk lokasi TPA yang jaraknya >25 km dari kota perlu dipertimbangkan adanya transfer depo/TPST.

4. Kriteria penyisihan yaitu kriteria yang digunakan untuk memilih lokasi yang terbaik yaitu terdiri dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut :

d.Iklim

1. Hujan : makin kecil curah hujan makin baik.

2. Angin : arah angin dominan tidak menuju ke pemukiman dinilai makin baik.

3. Utilitas : tersedia lebih lengkap dinilai makin baik.

e.Lingkungan biologis :

1. Habitat : habitat kurang bervariasi dinilai makin baik.

2. Daya dukung : kurang menunjang kehidupan flora dan fauna dinilai makin baik.

3. Produktifitas tanah : tanah tidak produktif dinilai lebih tinggi.

4. Kapasitas dan umur : dapat menampung sampah lebih banyak dan lebih lama dinilai makin baik.

5. Ketersediaan tanah penutup : mempunyai tanah penutup yang cukup dinilai lebih baik.

6. Status tanah : makin bervariasi nilai tanah, dinilai tidak baik.

7. Demografi : kepadatan penduduk lebih rendah, dinilai semakin baik. 8. Kebisingan: Semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik. 9. Bau : Semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik.

10. Estetika : Semakin tidak terlihat dari luar dinilai semakin baik.

11. Ekonomi : semakin kecil biaya satuan pengelolaan sampah (per m³/ton dinilai semakin baik.

6.3.2 Pemilihan Lokasi TPA

Pemilihan lokasi layak TPA sampah dilakukan dengan meninjau aspek-aspek sebagai berikut:

1. Aspek Tata Guna Lahan. 2. Aspek Geologi.

BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 133 4. Aspek Hidrogeologi.

5. Aspek Bahaya Lingkungan.