Minimum Maksimum Rata-rata
NO JENIS PERALATAN KAPASITAS PELAYANAN KETERANGAN
A. Tingkat Pelayanan
Berdasarkan perhitungan tingkat pelayanan pengelolaan persampahan pada tahun 2012, maka tingkat pelayanan pengelolaan persampahan baru mencapai 12% dari jumlah sampah yang dihasilkan oleh Masyarakat Kabupaten Maros saat ini belum mencapai 70% dari Target MDGs pada tahun 2015. Dengan tingkat pelayanan tersebut maka akan diperlukan upaya yang cukup untuk meningkatkan pelayanan sehingga mencapai standard yang ditetapkan oleh pemerintah.
Tingkat pelayanan juga dapat ditetapkan berdasarkan target pencapaian sasaran MDGs. Sasaran MDGs adalah meningkatkan sasaran tingkat pelayanan pengelolaan persampahan sehingga setengah dari penduduk yang belum terlayani saat ini akan mendapat pelayanan persampahan pada tahun 2015. Peningkatan pelayanan pengelolaan persampahan tersebut akan dilakukan dengan melaksanakan pengembangan daerah pelayanan baru. Penetapan pengembangan daerah pelayanan pengelolaan persampahan akan dilakukan berdasarkan urutan prioritas sebagai berikut:
1) Daerah yang menjadi wajah kota. 2) Daerah komersil.
3) Daerah permukiman dengan kepadatan > 100 jiwa/ha. 4) Daerah timbulan sampah besar.
BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 121 Peningkatan pelayanan dapat dilakukan dengan pengembangan pola konvensional seperti di atas, tetapi juga dapat dilaksanakan melalui pengelolaan dengan cara:
1) Skala Rumah Tangga dengan menitik beratkan pengolahan sampah organik menjadi kompos, dengan beberapa opsi teknologi misalnya dengan gentong komposter, keranjang Takakura dan Biopori,
2) Skala Kawasan/Lingkungan, yaitu pengelolaan yang dilakukan untuk melayani suatu kelompok Masyarakat yang terdiri atas sekurang-kurangnya 100 Kepala Keluarga.
Dengan beberapa opsi teknologi, antara lain : Pemilahan sampah di sumber
Pemilahan sampah di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) B. Pola Operasional
Analisis terhadap pola operasional adalah sebagai berikut:
1.Pewadahan
Di daerah pemukiman pada umumnya mempergunakan pewadahan berupa gentong plastik (bin/tong sampah), keranjang bekas, kaleng bekas cat, kantong plastik bekas dan ada juga yang tidak mempunyai pewadahan. Dari segi operasional pewadahan seperti disebutkan di atas cukup layak dipergunakan selanjutnya, akan tetapi dari segi kesehatan/kebersihan (kecuali kantong plastik, gentong plastik) harus ekstra hati-hati karena kalau sampahnya tidak cepat dibuang akan menimbulkan bau dan adanya lalat, hal ini tentunya tidak baik. Untuk itu, jika sampahnya tidak cepat dibuang, pewadahan tersebut harus ditutupi dengan plastik.
Di daerah perkantoran dan komersil pada umumnya mempergunakan bin plastik, drum bekas dan kantong plastik besar. Prasarana pewadahan semacam ini cukup layak, kecuali drum bekas permanen (yang tidak mempunyai kaki) mempunyai kelemahan antara lain :
1. Pengoperasiannya memerlukan waktu dan tenaga. 2. Sifatnya terbuka.
Dari analisis tersebut diatas disarankan untuk mempergunakan pewadahan sifatnya: tertutup, mudah dikosongkan, murah dan pengadaannya mudah. Misalnya : bin plastik atau kantong plastik.
BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 122
2.Pengumpulan
Pasar
Pengumpulan sampah di daerah pasar dilaksanakan oleh penghasil sampah dengan membuang ke kontainer. Letak kontainer mudah dicapai oleh penghasil sampah sehingga ini sangat menguntungkan dalam pengumpulan. Pola pengumpulan di daerah pasar yang saat ini dilayani sudah cukup baik dan dapat dikembangkan dan dipertahankan.
Pertokoan/perkantoran/rumah makan/permukiman
Pengumpulan dilakukan dengan pola komunal dan individual (untuk penghasil sampah besar), semua sampah dikumpulkan ke Tong/ Bak Sampah dan TPS oleh penghasil sampah atau dikumpulkan pada satu tempat tertentu dengan ditumpuk rapi. Dari hasil pengamatan di lapangan pengumpulan dengan pola seperti ini dinilai cukup memadai pada batas tertentu, khususnya di daerah kumuh dan tidak teratur.
3. Pengangkutan
Pengangkutan sampah dilaksanakan dengan dump truck sebanyak 8 unit per hari dengan ritasi rata-rata 1-2 rit/hari/mobil dan Arm roll sebanyak 8 unit dengan ritasi sebanyak 1-2 rit/hari/mobil.
Dari hasil pemantauan dilapangan/di lokasi TPA sampah, umumnya untuk ritasi 2 rit tiap dump truck belum optimal, sedangkan ritasi Arm Roll 1-2 rit dinilai belum cukup baik.
Dari hasil analisis diatas, pengangkutan sampah ke TPA disarankan perlu optimalisasi pengangkutan sampai sore hari, sehingga ritasi dapat mencapai 3-4 rit/dump truck. Setiap truk harus dilengkapi dengan jaring plastik dan pada sisi-sisi dump truk harus diberi triplek sehingga kapasitas dump truck lebih besar.
BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 123
4.Pemprosesan Akhir
Metode yang dipergunakan dalam pemprosesan akhir adalah masih mempergunakan open dumping, metode ini dipakai semenjak adanya TPA. Hal-hal yang dapat dianalisis dari proses pemprosesan akhir di TPA sampah, yaitu: Sistem yang digunakan adalah controlled dan sanitary landfill, dimana dasar dari TPA telah diberi lapisan kedap air sehingga air lindi yang dihasilkan tidak akan mencemari air tanah dan sungai yang terdekat. Ditinjau dari kapasitas TPA sampah. Perlunya penanganan sampah dengan metode 3R, antara lain dengan Pembuatan TPST dan Bank Sampah diperbanyak dan tersebar terutama untuk daerah yang belum dilayani dan daerah yang rawan terhadap sampah seperti di bataran sungai.
Peranan TPA Bontoramba sebagai tempat pemprosesan akhir Kabupaten Maros masih tetap diperlukan, tetapi beban sampah yang dibuang ke TPA makin terus direduksi sampai akhirnya fungsi TPA sebagai tempat pemprosesan akhir berubah menjadi tempat komposting terintegrasi atau fungsi-fungsi lain yang lebih ramah lingkungan. Selama masa transisi fungsi tersebut, maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengoptimalisasi peranan sebelumnya. Beberapa hal dapat dilakukan antara lain, melakukan pembenahan sistem pengangkutan menuju TPA dan melakukan penyempurnaan pengolahan dan pengelolaan di TPA.
5.Kapasitas Kemampuan Operasional
Satuan timbulan sampah untuk permukiman Kabupaten Maros adalah 2,5 liter/orang/hari, sehingga jumlah total sampah Kabupaten Maros adalah 1.171 m³/hari. Timbulan sampah untuk Kabupaten Maros akan selalu bertambah sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk, perekonomian dan perkembangan kota. Saat ini jumlah sampah yang diangkut oleh BLHKP baik terangkut di TPS maupun di TPA sebesar 71 m³/hari atau 33% dari total timbulan sampah, yang seharusnya dapat dilayani >40% jika pengangkutan sampah dioptimalkan dengan ritasi lebih dari 2-3 rit/mobil.
BLHKP | Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 124
6.2.3 Sub Sistem Pembiayaan
A. Sumber Dana
Total biaya pengelolaan persampahan saat ini yang dikeluarkan/dialokasikan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp. 10.432.858.000,- pada tahun 2013 untuk operasional (penyapuan jalan, pengangkutan sampah dan pembuangan sampah), dengan tingkat pelayanan 33%.
Dari uraian tersebut maka analisis awal untuk aspek pembiayaan adalah :
1) Anggaran biaya kebersihan sebesar Rp. 10.432.858.000,- pada tahun 2013. 2) Biaya satuan pengelolaan sampah tahun 2013, Biaya satuan pengelolaan
sampah (pengangkutan + operasi + BBM ) Kabupaten Maros pada tahun 2013 adalah Rp 931.658.000,-
a) Perkiraan biaya satuan pelayanan penduduk
1) Perkiraan jumlah penduduk yang terlayani = 327.787 jiwa
2) Biaya satuan pelayanan kebersihan keluarga per bulan = Rp. 5.000,-
3) Biaya satuan pelayanan kebersihan per keluarga per bulan ini hanya diperhitungkan terhadap biaya operasional pengangkutan, biaya pengolahan akhir di TPA, belum termasuk biaya pengumpulan, dan biaya investasi peralatan.
b) Retribusi yang ditagih ( yang dapat ditarik dari Masyarakat )
Pada tahun 2012 sebesar Rp. 52.860.000,- dari target PAD Kebersihan sebesar Rp. 100.000.000,-. Pemasukan hasil retribusi dapat ditingkatkan dengan cara peningkatan daerah pelayanan terutama dengan pelayanan komunal dengan menyediakan TPS-TPS umum serta ditingkatan penarikan retribusi melalui Kolektor Petugas Kebersihan. Untuk mengelola kebersihan Kabupaten diperlukan dana baik dan dana awal atau penunjang dari Pemerintah Daerah Kabupaten Maros, dana ini dapat melalui APBD atau kontribusi Masyarakat.