BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Remaja
2.4.6 Tempat Remaja Berdiskusi Masalah Seks
orangtua sendiri. Diwujudkan melalui cara hidup orangtua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan yang diberikan dalam suasana akrab dan terbuka dari hati ke hati antara orangtua dan anak (Howard, 1990). Kesulitan yang timbul adalah apabila pengetahuan orangtua kurang memadai (secara teoritis dan objektif) menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Tentang hal ini Davis (1957) menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa informasi seks yang tidak sehat pada usia remaja mengakibatkan remaja terlihat dalam kasus-kasus berupa
konflik-29
konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks.
Pendidikan seks di sekolah merupakan komplemen dari pendidikan seks di rumah (Kilander, 1997). Peran sekolah dalam memberikan pendidikan seks harus dipahami sebagai pelengkap pengetahuan sari rumah dan istitusi lainnya yang berupaya keras untuk mendidik remaja tentang seksualitas dan tidak berarti bahwa sekolah mengambil porsi orangtua (Yeni, 1992).
2.5 Kerangka Pikir
Untuk menggambarkan penelitian maka kerangka berfikir di bawah ini yang akan mendeskripsikan bagaimana pengetahuan dan sikap guru terhadap perilaku seksual remaja.
Faktor Predisposisi - Pengetahuan - Sikap
- Sosial Budaya
Faktor Pemungkin - Media massa
Faktor Pendorong - Peran Orangtua - Guru
Perilaku Seksual Remaja
30
Kerangka pikir diatas mengacu kepada teori Lawrence Green. Green menyatakan faktor perilaku terbagi dari tiga, yaitu :
1. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mepredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai, tradisi.
2. Faktor pemungkin (enabling factors) adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau menfasilitasi perilaku atau tindakan. Artinya faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan
3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian dengan metode naratif, yaitu studi yang berfokus pada narasi, cerita, atau deskripsi tentang serangkaian peristiwa terkait dengan pengalaman manusia. studi ini bisa mencakup banyak hal. antara lain Biografi yaitu narasi tentang pengalaman orang lain. Auto-etnografi atau autobiografi yaitu pengalaman yang ditulis sendiri oleh subjek penelitian. Penulis mencoba menjabarkan kondisi kongkrit dari obyek penelitian dan menghubungkan variabel-variabel dan selanjutnya akan menghasilkan obyek penelitian (Suharsimi Arikunto;1997). Jenis penelitian ini dipilih untuk memperoleh gambaran terhadap gambaran pengetahuan dan sikap guru terhadap perilaku seksual remaja di Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kotanopan. Selain itu lokasi tempat penelitian ini tidak jauh dari pusat kota/ akses informasi.
Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian tersebut adalah :
1. Belum pernah dilakukannya penelitian tentang gambaran pengetahuan dan sikap guru terhadap perilaku seksual remaja di SMA Negeri 1 Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal
32
2. Karena masih terdapatnya perkawinan di bawah umur 20 tahun dan melakukan hubungan seks diluar nikah di SMA Negeri 1 Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal pada April- selesai 2016.
3.3 Pemilihan Informan
Informan dalam penelitian ini adalah guru di SMA Negeri 1 Kotanopan.
Informan dipilih berdasarkan kecukupan dan kesesuaian peneliti. Wawancara dilakukan dengan cara mendatangi informan langsung ke tempat penelitian.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh peniliti dengan cara observasi langsung pada tempat penelitian. Data ini bisa berupa pengamatan maupun wawancara kepada perwakilan guru.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi terkait kantor kelurahan dan dinas kesehatan atau yang lainnya. Dalam hal ini peneliti mendapatkan data sekunder dari masyarakat setempat.
33
3.5 Defenisi Istilah
1. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
2. Sikap adalah merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
3. Guru adalah guru professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
4. Perilaku seksual adalah keterlibatan remaja dalam berbagai perilaku seksual yang membuatnya terjebak pada resiko yang berkaitan dengan aspek social, emosional, maupun kesehatan
5. Remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa remaja
3.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif dengan metode matriks berdasarkan data-data yang diperoleh dari wawancara mendalam (indepth interview) terhadap informan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kotanopan terletak di Jl. Medan Padang Kelurahan Pasar Kotanopan Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal berdiri sejak tahun 1950. Sekolah ini mulai beraktifitas mengajar sejak tahun 1957 dengan akreditasi nilai yang sangat memuaskan yaitu A.
Sekolah ini berdiri di atas tanah milik Negara. Luas areal seluruhnya 7227m2, semua bangunan merupakan hak milik Negara dengan luas bangunan 1871m2.
a. Sebelah Utara berbatasan dengan SMK N 1 Kotanopan
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan kantor kelurahan Pasar Kotanopan c. Sebelah Timur berbatasan dengan SMP N 1 Kotanopan
d. Sebelah Barat berbatasan dengan kantor Camat Pasar Kotanopan
1. Visi dan Misi SMA Negeri 1 Kotanopan a. Visi
“ berakhlak berbudaya, disiplin, beriman dan taqwa serta unggul dalam prestasi untuk menyongsong masa depan “
b. Misi
1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa berkembang secara obtimal sesuai dengan potensi yag dimiliki
35
2) Menumbuh kembangkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah
3) Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stake holder)
4) Meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan perkembangan IPTEK
5) Menumbuhkan penghayatan untuk terlaksananya ajaran agama masing-masing dan aturan serta norma yang berlaku dalam semua aspek kehidupan
6) Meningkatkan prestasi dalam bidang ekstra kurikuler sesuai dengan potensi yang dimiliki
2. Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Kotanopan
Dalam proses belajar mengajar SMA Negeri 1 Kotanopan memiliki perlengkapan dan guru-guru yang kompeten dalam bidangnya masing-masing yang berjumlah 40 orang terdiri dari 27 orang PNS DAN 12 ORANG Non-PNS, 1 orang KTU, 2 orang TU dengan jumlah siswa/i 534 orang.
Sarana dan prasarana yang ada seperti :
a. Ruang kepala sekolah 1 ruang
b. Ruang guru 1 ruang
c. Mushalah 1 ruang
d. Ruang kelas 18 ruang
36
e. Ruang perpustakaan 1 ruang
f. Ruang lab biologi 1 ruang
g. Ruang lab komputer 1 ruang
h. Ruang TU 1 ruang
i. Ruang BK/BP 1 ruang
j. Ruang OSIS 1 ruang
k. WC/jamban 2
l. Gudang 1 ruang
4.2 Gambaran Informan 4.2.1 Karakteristik Informan
Karakteristik informan meliputi : umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan/jabatan, dan agama.
No. Nama Umur
(Tahun) Pendidikan
Jenis Kelamin
Pekerjaan/
jabatan Agama
1 Informan 1 32 S1 L Guru Islam
2 Informan 2 48 S1 P Guru Kristen
3 Informan 3 30 S1 P Guru Islam
4 Informan 4 23 S1 P Guru Islam
5 Informan 5 27 S1 P Guru Islam
37
4.3 Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Guru Terhadap Perilaku Seksual Remaja Di SMA Negeri 1 Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016
4.3.1 Pengetahuan Tentang Perilaku Seksual Remaja
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang pengetahuan informan terhdap perilaku seksual remaja adalah :
4.2 Matrix
Distribusi Pengetahuan Informan Tentang Perilaku Seksual Remaja
Informan Pernyataan
Informan 1 Perilaku seksual ya? Perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh lawan jenis yang tidak dalam ikatan pernikahan yang kebiasaan dilakukan anak zaman sekarang yang masih berpacaran sudah ada yang melakukan seks diluar nikah menurut bapak ya gitu
Pendapat saya sendiri yang saya kemukakan
Penting, Karena diberikannya informasi mengenai seks dari dini diharapkan mampu menghindari anak remaja melakukan hal-hal yang salah
Informan 2 Perilaku seksual yang dimaksud ya? Kalau menurut saya adalah Hubungan intim yang dilakukan sepasang manusia dewasa yang berlawanan jenis
Dari Internetlahh
Penting, karena mereka nanti tau mana positif dan negatif bagi mereka
Informan 3 Ya.... perilaku seksual itu menurut saya bercampurnya dua orang yang tidak selayaknya dilakukan
Pendapat sendiri
Menurut saya penting sekali, nanti berguna bagi dirinya sendiri untuk menghindari hal-hal negatif dari ligkungannya
Informan 4 Tingkah laku yang didorong hasrat seksual.
Baik dengan sesama jenis ataupun lawan jenisnya,menurut ibuk demikian
Didapat dari hasil pemikiran saya sendiri
Sangat pentinglahhhh,,, kasihan anak sekarang banyak yang hancur akibat masalah seks, dikarenakan masi tabu bagi orang tua untuk memberikan informasi mengenai seks
Informan 5 Menurut pendapat saya adalah perilaku yang salah, yang tidak selayaknya diperbuat anak remaja
Saya dapat dari banyak membaca
Penting sekali,,, bila diterapkan sejak dini anak akan tau untuk menghindar dari perilaku seks yang salah
38
Berdasarkan matrix 4.2 di atas menunjukkan bahwa semua informan berpendapat bahwa perilaku seks adalah suatu perilaku menyimpang yang dilakukan lawan jenis atau sejenisnya yang tidak dalam ikatan perkawinan. Pertanyaan mengenai mendapatkan informasi mengenai perilaku seksual, 4 informan menjawab merupakan hasil dari pemikiran sendiri dan 1 informan menjawab mendapatkan informasi perilaku seksual dari internet. Mengenai pentingkah informasi seksual diberikan kepada anak remaja. 5 informan menjawab bahwa sangat penting diberikan kepada anak remaja karena jika diberikan sejak dini nantinya mereka akan tahu mana yang baik bagi mereka dan merugikan bagi dirinya.
4.3.2 Sikap tentang Perilaku Seksual Remaja
Dari hasil wawancara mengenai sikap guru terhadap perilaku seksual remaja, dapat dilihat pada matrix berikut ini :
Matrix 4.3
Distribusi Sikap Terhadap Perilaku Seksual Remaja
Informan Pernyataan
Informan 1 Kalau saya sihhhh, setuju setuju aja karena saya melihat perilaku remaja saat ini di kotanopan sudah lebih luarbiasa daripada di kota-kota besar. Sudah tidak bermoral lagi, dibuatnya program yang diusung BKKBN yaitu GenRe diharapkan dapat menaungi remaja untuk mempersikit ataupun mengurangi dari perilaku seks yang menyimpang pada remaja. Sejauh ini sihhh itu yang diharapkan, karena kasihan kebanyakan remaja sudah banyak yang hancur moral dan etikanya.
Informan 2 Kalau menurut pendapat saya enggak perlu, saya bilang seperti itu karena saya yakin sekolah tidak akan mau membuat satu mata pelajaran yang dikhususkan membahas perilaku menyimpang remaja dengan alasan banyak hallahh,,,,,
Informan 3 Perlu sekali,, kasihan anak remaja sekarang, begitu ketauan ML langsung dinikahkan dan orangtua pun tidak ada yang melapor dan anak remaja jadi putus sekolah, saya harapkan dengan dibuatnya program dari BKKBN bisa merubah perilaku-perilaku seks yang salah pada remaja saati ini,,, agar kehidupannya lebih baik, pendapat saya begitu.
Informan 4 Sangat setujulah, bagus itu dibuat disini bisa mempersikit anak putus dari sekolah Informan 5 Saya yakin tidak akan dilaksanakan, saya bilang seperti itu karena payah lohh iya
memang dibuat tapi kan,,,, hanya sebentar saja kebanyakan guru-guru lebih mementingkan mata pelajaran wajib mereka daripada melaksanakan program seperti itu,,,, nggak tau ya pendapat guru-guru yang lain.
39
Berdasrkan matrix 4.3 diatas dapat dilihat dari keseluruhan informan, ada 3 informan yang setuju dengan program usulan dari BKKBN dibuat disekolah dan 2 informan mengatakan tidak bisa ataupun tidak yakin bakal dilaksanakan disekolah program GenRe disekolah.
4.3.3 Sosial Budaya terhadap Perilaku Seksual Remaja
Berdasarkan hasil wawancara mengenai perilaku seksual remaja, dapat dilihat pada matrix berikut ini :
Matrix 4.4
Distribusi Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pernikahan Dini
Informan Pernyataan
Informan 1 Kalau dilingkungan sekolah sihhh,, sepengetahuan saya tidak ada, kebanyakan kejadian diluar sekolah tetapi masih menggunakan seragam sekolah
Sebenarnya tidak, dikarenakan para remaja duduk berduaan itu pada saat jam-jam istirahat dan itu diluar sepengetahuan kami para guru.
Sejauh ini tindakan dari sekolah hanya sebatas mengingatkan, dan masih tetap dilakukan
Informan 2 Tidak ada, paling yang ada hanya duduk berduaan dikelas saja itupun saat istrihat
Kalau dibilang hal biasa sihhh kayaknya tidak, tetapi siswa banyak nuri-nyuri kesempatan
Tindakan dari sekolah sihhh sering mengingatkan para siswa agar dikelas pada jam istirahat dikosongkan, kadang pintu sengaja ditutup agar semua siswa diluar semua untuk menghindari para siswa pacaran disekolah Informan 3 Sejauh ini nggak ada sih,,,,,
Tidak juga, kalau setau saya tidak ada yang pacaran disekolah
Dari sekolah hanya selalu memberi arahan agar menjaga nama sekolah agar tidak rusak dengan kelakuan siswanya
Informan 4 Selama saya mengajar disini belum ada yang melakukan demikian, Tidak juga, kan disekolah untuk belajar, mana ada yang pacar-pacaran Kami memberi sanksi bagi yang kedapatan melakukan yang aneh-aneh
disekolah
Informan 5 Belum ada sihhh, karena mungkin waktu untuk melakukan hal-hal yang dilarang tidak memungkinkan, istrihat pun kan terbatas hanya beberapa menit saja, lagianpun kan banyak orang ya nggak mungkinlah mereka melakukan demikian, lainhalnya pas pulang sekolah suasana disekolah kan udah sepi ya kan kalau uda sepi tak ada ketakutan lagi, kemungkinan begitu.
Dibilang hal biasa sihhh nggak, seperti yang saya bilang,,, pas selesai belajar yaaa pulang sekolah mencari kesempatan untuk berduaan
40
Berdasarkan matrix 4.4 diatas terlihat bahwa semua informan menyatakan tidak ada yang ketauan pada saat jam-jam sekolah tetapi diluar sekolah tetapi masi memakai pakean seragam sekolah. Mengenai pertanyaan sudah hal biasakah pacaran disekolah, 5 informan menjawab tidak, kebanyakan remaja sih pacaran pada saat pulang sekolah kalau dilingkugan sekolah sihh bukan hal biasa. Mengenai pertanyaan tindakan dari sekolah, 4 informan mengatan hanya sekedar mengingatkan saja, 1 informan mengatakan tindakan dari sekolah memberi sanksi dari sekolah.
4.3.4 Pengaruh Media Massa terhadap Perilaku Seksual Remaja
Berdasarkan hasil wawancara mengenai pengaruh media massa terhadap perilaku seksual remaja, dapat dilihat pada matrix berikut :
Matrix 4.5
Distribusi Pengaruh Media Massa Terhadap Perilaku Seksual Remaja
Informan Pernyataan
Informan 1 Seringnya sihh saya kurang tau, soalnya kan bukan 24 jam disekolah, mungkin,,,, pas jadwal-jadwal kosong pelajaran dan istirahat saja yang bisa mereka buka media massa
Tidak pernah, tapi pas razia Handphone ada kedapatan siswa yang menyimpan foto-foto yang seharusnya tidak disimpan siswa SMA
Setau saya kebanyakan remaja memperoleh informasi dari internet, remaja saat ini kan uda hampir semua mempunyai Hanphone
Informan 2 Seberapa sering! Nggak tau juga sih Kalau melihat langsung sihh enggak ya,,,
Dari gadget mereka karena dengan menggunakan tekhnologi canggih anak lebih mudah mengakses semua hal-hal yang negatif-negatif gitu Informan 3 Mungkin hanya pada jam-jam mata pelajaran kosong saja ataupun
mungkin pada saat pulang sekolah kan dirumah banyak waktu luang bagi mereka, kebanyakan kulihat anak remaja sekarang tidak lepas dari yang namanya media massa selama 24 jam tidak ada waktu untuk tidak buka media massa, begitulah anak remaja sekarang ini
Tidak pernah nampakkk
Kalau menurut saya dari menonton film karena mereka lebih cepat mendapatkannya karena mudahnya mengakses lewat handphone mereka jadi dapat mempermudah remaja itu mengakses informasi yang salah, ya,,, mungkin membuka video-video pornolah gambar-gambar pornolah
41
Matrix 4.5 (Lanjutan)
Informan Pernyataan
Informan 4 Saya kurang tau, tapi otomatis pasti seringlah
Selama saya mengajar disini tidak penah melihatnya.
Saya melihat dari kebanyakan remaja memperoleh informasi mengenai seks itu dari menonton film –film sampai pernah dilakukannya razia handphone ternyata kebanyakan remaja cowok yang menyimpan video yang menyimpang
Informan 5 Pas istirahat aja, kalau dirumah beda lagilah ya.
Tak pernah nampakk aku
Remaja banyak memperoleh informasi mengenai seks dari gadget, menonton film karena adanya handphone lebih cepat bagi remaja memperoleh ataupun mendapatkan masalah seks yang salah dan menyimpang itu,,,
Berdasarkan matrix 4.5 di atas dapat dilihat semua informan menyatakan bahwa tidak tahu seberapa sering, yang pasti anak remaja selalu menggunakan menggunakan media massa Dari 5 informan, 2 informan menyatakan bahwa kebanyakan remaja mengakses media massa pada jam-jam kosong pekajaran.
Mengenai pertanyaan pernah nggak melihat siswa mengakses hal-hal yang menyimpang, dari semua informan mengatakan tidak pernah melihat langsung, dan mengenai pertanyaan dari media mana kebanyakan remaja memperoleh informasi tersebut, 3 informan mengatakan remaja memperoleh informasi dari gadget atau hanphone mereka karena semua remaja rata-rata sudah mempunyai gadget masing-masing sehingga mempermudah mereka mengakses hal yang meyimpang. Dan 2 informan mengatakan kebanyakan anak remaja memperoleh informasi mengenai seks dari menonton film.
4.3.5 Peran Orangtua terhadap Perilaku Seksual Remaja
Berdasarkan hasil wawancara mengenai peran orangtua terhadap perilaku
42
Matrix 4.6
Distribusi Peran Orangtua Terhadap Perilaku Seksual Remaja
Informan Pernyataan
Informan 1 Sejauh ini yang saya perhatikan ya,, jika ada anaknya yang kedapatan melakukan hubungan intim itu langsung dinikahkan karena merupakan aib bagi keluarga dan setelah itu tidak ada konfirmasi kesekolah mengenai kejadian yang dialami anaknya, sebagai murid disekolah ini seharusnya ataupun setidaknya kan...
ada pelaporan kesekolah, ya memang orangtua manapun pasti malu dengan kejadian anaknya begituuu,,,,,
Dibilang mendukung yaaaa nggak cuman yang saya lihat orangtua mending milih diam ajaaaa
Tidak ada,,,
Informan 2 Tidak ada,,, jika terjadi yaaa terjadilahhhhh
Yaaaa,,, mungkinnn soalnya seperti yang salah bilang kalau terjadi ya terjadilahhh
Sama sekali nggak adaaa tuh
Informan 3 Mungkin sekedar mengingatkan aja,,,,,,cuman karena malu yaaa orangtua siswa memilih diam ajaaaa
Yaaaa orangtua mana yang mau anaknya hancur,,, nggak mungkinlah mendukung
Tidak adalahhhh,,, kan orangtua pasti malu dengan perilaku anaknya
Informan 4 Peran orangtua sihhh masih hanya mengingatkan anaknya sajaaa kalau anak sudah keluar dari rumah otomatis sudah diluar pengawasan anaknya terutama kesekolahhh,,, nanti pulang sekolah yang alasan kerja kelompoklah kerumah kawan ehhh,,, ternyata ya kan kedapatan pacaran ditengah sawahhh,,memang anak zaman sekarang naudzubillah .
Nggak mungkinlah mendukung dengan perilaku tidak bermoral gituuuuu
Setiap ada kejadian kayak gitu, kayaknya tidak ada.
Informan 5 Sebagian orangtua memperketat pengawasan anaknya bagi orangtua yang cuek ya biarkan saja yang penting anakku laku,,, ada gituuu pendapat orang tuaaa,,, yang kayak gitu pendapat orang tua zaman baholak dulu ituuu,,,hehhheee
Mana mungkin didukung,,,,kalau mendukung pasti orangtuanya uda lain ituuuu hahhaaa
Belum ada sihhh...
Berdasarkan matrix 4.6 diatas dapat dilihat 2 informan mengatakan peran orangtua menanggapi permasalahan anak remaja adalah hanya sekedar mengingatkan saja, 2 informan mengatakn tidak ada yang dilakukan orangtua hanya membiarkan
43
saja, dan 1 informan mengatakan bahwa sebagian orangtua memperketat pengawasan pada anaknya. Mengenai pertanyaan apakah orangtua remaja mendukung sikap remaja saat ini, dari semua informan mengatakan orangtua tidak mendukung dengan sikap anak zaman sekarang. Dan mengenai pertanyaan ada tidaknya orangtua melapor kesekolah mengenai sikap remaja saat ini, dan semua informan mengatakan tidak ada orangtua yang datang kesekolah untuk melapor bahwa anaknya nggak sekolah lagi setelah kejadian yang dilakukan remaja.
4.3.6 Peran Guru terhadap Perilaku Seksual Remaja
Berdasarkan hasil wawancara mengenai peran guru terhadap perilaku seksual remaja, dapat dilihat pada matrix berikut :
Matrix 4.7
Distribusi Peran Guru Terhadap Perilaku Seksual Remaja
Informan Pernyataan
Informan 1 Ya,,, mendidik anak didik kearah yang lebih baik menurut saya yang penting saat ini, dengan melakukan atau memberikan ekskul yang banyak sehingga mereka tidak ada waktu untuk mengakses hal-hal yang tidak bagus
Saat ini kalau materi khususnya sih tidak ada, kayak kemaren ada pertemuan dibuat di sini, orangtua murid diundang untuk membahas mengenai kenakalan remaja dan sanksinya jika dilanggar
Informan 2 Kalau menurut saya sih,,, meningkatkan kegiatan yang bermanfaat, membangun mentalnya juga dan yang paling penting meningkatkan pelajaran agamanya
Hmmmmm,,,, materi khusus ya? Setau saya nggak ada sihhh tapi kalau ngingatin ada, pada saat upacara hanya sekilas saja
Informan 3 Hmmmm apa ya.... memberikan penyuluhan mungkin juga bisa untuk mengatasi perilaku seksual
Kalau materi khusus,,, nggak ada sih nak
Informan 4 Kalau menurut saya untuk mengatasinya adalah lebih memberikan informasi mengenai apa dampak dan positifnya dari perilaku seks tersebut dan lebih memberi arahan mendekatkan diri kepada tuhan YME Informan 5 Menjelaskan kepada siswanya dampak positif dan negatifnya,
kemungkinan mereka akan menyaring diotaknya mana yang bermanfaat untuk mereka sih kan uda remaja udah dibilang menuju dewasa
Belum ada nak hanya sebatas mengingatkan aja...
44
Berdasarkan matrix 4.7 diatas menunjukkan bahwa 2 informan mengatakan menjelaskan dampak positif negatifnya kepada siswa, dan 1 informan mengatakan memberikan ekskul kepada remaja agar memperkecil waktu remaja untuk melakukan hal-hal yang tidak baik bagi dirinya, 1 informan mengatakan meningkatkan pelajaran agamanya, 1 informan lagi mengatakan dengan memberikan penyuluhan disekolah kepada siswanya. Mengenai pertanyaan ada tidak materi khusus yang membahas perilaku seks menyimpang remaja saat ini, 3 informan mengatakan tidak ada materi khusus, dan 2informan mengatakan hanya mengingatkan saja pada saat upacara dan pada disaat di adakannya pertemuan orangtua disekolah dibuat membahas mengenai perilaku seks menyimpang remaja
Berdasarkan matrix 4.7 diatas menunjukkan bahwa 2 informan mengatakan menjelaskan dampak positif negatifnya kepada siswa, dan 1 informan mengatakan memberikan ekskul kepada remaja agar memperkecil waktu remaja untuk melakukan hal-hal yang tidak baik bagi dirinya, 1 informan mengatakan meningkatkan pelajaran agamanya, 1 informan lagi mengatakan dengan memberikan penyuluhan disekolah kepada siswanya. Mengenai pertanyaan ada tidak materi khusus yang membahas perilaku seks menyimpang remaja saat ini, 3 informan mengatakan tidak ada materi khusus, dan 2informan mengatakan hanya mengingatkan saja pada saat upacara dan pada disaat di adakannya pertemuan orangtua disekolah dibuat membahas mengenai perilaku seks menyimpang remaja