• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi burung hantu celepuk di Laboratorium Ornitologi (Zoologi), LIPI Bogor. Penelitian dilaksanakan dari bulan September hingga November 2012.

Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan uji yaitu burung hantu celepuk (Gambar 1), tikus putih (Gambar 2), rodentisida bahan aktif flokumafen, bromadiolon, dan brodifakum masing-masing dengan konsentrasi 0.005% (Gambar 3). Selain itu digunakan mangkok kecil sebagai tempat pakan dan minum, timbangan elektronik (analytical top loading animal balance) (Gambar 4), kurungan tikus (Gambar 5), kurungan tunggal (single cage) yang di dalamnya terdapat kayu sebagai tempat bertengger burung hantu celepuk (Gambar 6), kawat untuk mengambil sisa makanan burung, serta plastik untuk menimbang burung hantu dan tikus.

Gambar 1 Burung hantu celepuk Gambar 2 Tikus putih

Gambar 5 Kurungan tikus Gambar 6 Kurungan burung hantu

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan modifikasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Newton et al. pada tahun 1996 di Eropa Selatan. Metode yang digunakan adalah metode tanpa pilihan (no choice test) yaitu pengujian burung hantu dengan pemberian umpan tikus putih yang telah mengonsumsi rodentisida pada masa perlakuan, dan pemberian umpan tikus putih yang mengonsumsi gabah untuk masa pemulihan. Burung hantu celepuk sebagai hewan uji tidak memiliki alternatif umpan lain. Ada tiga perlakuan yang digunakan dalam pengujian ini yaitu pemberian tikus putih yang mengonsumsi rodentisida selama dua hari, tiga hari dan empat hari. Setelah perlakuan, burung hantu celepuk mengalami masa pemulihan selama tiga belas hari. Pengujian ini menggunakan lima kali ulangan untuk rodentisida berbahan aktif flokumafen dan bromadiolon serta empat kali ulangan untuk rodentisida berbahan aktif brodifakum.

Persiapan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih dan burung hantu celepuk yang diperoleh dari pasar burung di Jakarta Selatan. Pada pengujian ini digunakan 126 ekor tikus putih untuk perlakuan rodentisida, dan 630 ekor untuk masa pemulihan sedangkan burung hantu celepuk yang digunakan ada 16 ekor. Dalam penelitian hanya ada 14 ekor burung hantu celepuk yang diuji karena dua ekor burung hantu celepuk yang lain mati sebelum perlakuan. Bobot tubuh tikus putih yang digunakan untuk pengujian berkisar antara 20-30 g.

Burung hantu celepuk yang mengalami perlakuan ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui bobot awalnya. Setelah itu, burung hantu dimasukkan pada kurungan tunggal (single cage). Setiap kurungan hanya untuk satu burung dan di dalam kurungan tersebut ada kayu yang digunakan untuk bertengger. Pada setiap kurungan diberi label sebagai penanda dan mempermudah dalam melakukan pengujian.

Identifikasi Burung Hantu Celepuk

Identifikasi dilakukan dengan bantuan ahli burung dan mengacu kepada beberapa pustaka. Pustaka yang digunakan untuk identifikasi yaitu Dickinson (2003), Del Hoyo et al. (1999), Konig et al. (1999), dan MacKinnon et al. (1992).

Proses identifikasi dilakukan dengan mengamati dan mengukur morfologi burung hantu celepuk.

Persiapan Rodentisida

Pengujian ini menggunakan tiga rodentisida dengan bahan aktif yang berbeda, yaitu flokumafen, bromadiolon, dan brodifakum dengan konsentrasi masing-masing 0.005%. Rodentisida yang digunakan untuk pengujian merupakan rodentisida siap pakai yang berbentuk blok berwarna biru. Setiap hari 4 atau sekitar 12 g rodentisida diberikan kepada tikus putih dan ditimbang dengan menggunakan timbangan elektronik.

Pengujian Rodentisida

Pengujian pertama yaitu pemberian rodentisida sebagai umpan tikus putih yang mengalami perlakuan. Pada pengujian ini, tikus putih diberi rodentisida. Rodentisida yang diberikan merupakan antikoagulan berbahan aktif flokumafen dan bromadiolon yang diberikan kepada lima ekor tikus putih, sedangkan untuk rodentisida berbahan aktif brodifakum diberikan kepada empat ekor tikus putih. Selama masa pengujian ini, tikus putih hanya diberi rodentisida selama dua hari berturut-turut. Pemberian rodentisida selama dua hari ini berlaku untuk semua jenis rodentisida (flokumafen, bromadiolon, dan brodifakum).

Rodentisida diberikan selama 2 x 24 jam dan dihitung jumlah konsumsinya. Konsumsi tikus putih terhadap rodentisida didasarkan pada jumlah rodentisida yang diberikan sekitar 12 g dikurangi dengan sisa rodentisida yang tidak dikonsumsi. Tikus putih yang mengonsumsi rodentisida dihitung bobot awal dan akhirnya, lalu diberi label untuk mempermudah dalam pengujian.

Pengujian Lama Pemberian Tikus Beracun terhadap Burung Hantu Celepuk Tikus yang sudah mengonsumsi racun digunakan sebagai umpan untuk burung hantu celepuk. Perlakuan yang diberikan pada burung hantu adalah lama pemberian tikus beracun yaitu dua, tiga, dan empat hari. Perlakuan dua hari artinya selama dua hari burung hantu diberi tikus putih yang telah memakan racun masing-masing sebanyak dua hari pemberian. Perlakuan tiga hari, selama tiga hari burung hantu celepuk diberi makan tikus putih yang telah memakan racun sebanyak dua hari pemberian. Perlakuan empat hari, selama empat hari burung hantu celepuk diberi tikus putih yang telah makan racun sebanyak dua hari pemberian. Antara perlakuan yang satu dengan perlakuan yang lain, burung hantu celepuk mengalami masa pemulihan selama 13 hari. Pada pemulihan tersebut burung hantu celepuk diberi umpan berupa tikus putih yang mengonsumsi gabah secara melimpah (ad libitum).

Pengujian efek sekunder ini merupakan tindak lanjut dari pengujian sebelumnya yaitu pemberian umpan rodentisida terhadap tikus putih. Sama halnya dengan pengujian tikus putih yang mengonsumsi rodentisida, ada lima ekor tikus putih yang mengonsumsi rodentisida berbahan aktif flokumafen diberikan kepada lima burung hantu celepuk masing-masing satu ekor. Demikan juga untuk bromadiolon, sedangkan untuk brodifakum hanya empat ekor tikus putih yang diberikan kepada empat ekor burung hantu. Hal yang sama diterapkan untuk perlakuan tiga hari dan empat hari menggunakan rodentisida dengan bahan aktif yang sama.

Sebelum pemberian tikus putih yang mengonsumsi rodentisida kepada burung hantu, maka tikus putih dimatikan terlebih dahulu. Tikus dimatikan dengan menggunakan kloroform, kemudian tubuh tikus putih dibelah dengan tujuan agar bau kloroform cepat menguap. Tikus putih yang sudah terbelah dibiarkan beberapa jam terlebih dahulu, kemudian ditimbang dan dicatat bobot tubuhnya lalu diberikan kepada burung hantu. Pengamatan dilakukan setiap hari terhadap jumlah tikus putih yang dikonsumsi oleh burung hantu celepuk dengan cara mengurangi bobot tikus putih yang diberikan pada burung hantu celepuk dengan sisa tikus putih yang tidak dimakan atau tidak dapat dicerna.

Pemberian Tikus sebagai Umpan Burung Hantu Celepuk Pasca Perlakuan Burung hantu celepuk yang telah mengalami perlakuan mengalami masa pemulihan selama 13 hari dengan diberi makan tikus putih yang mengonsumsi gabah secara melimpah (ad libitum). Penggantian umpan burung hantu celepuk dengan tikus putih yang tidak mengonsumsi rodentisida bertujuan memberikan masa istirahat pada burung hantu celepuk sekaligus diamati efek sekunder burung hantu celepuk. Burung hantu celepuk yang tidak mati sampai masa pemulihan selesai, maka dianggap selamat (escape) dan dilanjutkan dengan perlakuan berikutnya.

Konversi Umpan

Semua data yang diperoleh dari pengujian tikus putih makan racun, burung hantu celepuk makan tikus putih racun, dan racun yang dikonsumsi burung hantu celepuk dikonversi terlebih dahulu terhadap 100 g bobot tikus putih dan burung hantu celepuk dengan rumus sebagai berikut :

Konversi umpan/ = Bobot umpan/rodentisida yang dikonsumsi (g) x 100 rodentisida pada Rerata bobot tikus putih/ burung hantu (g) tikus putih/ burung

hantu celepuk (g)

Peubah yang diamati

Peubah yang diamati dalam pengujian ini adalah: (a) konsumsi tikus putih terhadap rodentisida, (b) konsumsi burung hantu celepuk terhadap tikus putih yang mengonsumsi rodentisida, (c) konsumsi burung hantu celepuk terhadap tikus putih pada masa pemulihan selama tiga belas hari, (d) bobot tikus putih dan burung hantu celepuk sebelum dan sesudah perlakuan, dan (e) kematian burung hantu celepuk.

Analisis Data

Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua jenis hewan uji dan tiga rodentisida serta lima ulangan untuk rodentisida flokumafen dan bromadiolon, serta empat kali ulangan untuk rodentisida brodifakum. Perbandingan nilai tengah dan analisis ragam diproses dengan one way Analysis of Variance. Apabila hasil yang diperoleh berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Selang Ganda Duncan (DuncanMultiple Range Test) pada taraf α=5% menggunakan bantuan program SAS forWindows Versi09.1.3.

Dokumen terkait