• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sapi potong menurut Webster dan Wilson (1980), membutuhkan comfort zone yaitu temperature lingkungan yang nyaman untuk memperlancar fungsi dalam proses fisiologi ternak yang tertentu dan untuk sapi daerah tropis adalah antara 220C - 300C (Yousef, 1984). Nilai THI berdasarkan nilai suhu dan kelembaban merupakan nilai yang menunjukkan tingkat kenyamanan ternak dalam berproduksi.

Berdasarkan perhitungan diperoleh kisaran nilai THI berada pada 56,87 – 82,93. Nilai tersebut menunjukkan kabupaten Bandung berada pada kondisi normal untuk pemeliharaan ternak sapi potong. Menurut Mader et al. (2006), Kisaran nilai THI kurang dari 74 dianggap normal, 75 - 78 bahaya, 79< THI >84 emergency. Wilayah bagian utara kabupaten Bandung memiliki nilai kenyamanan > 74 dan semakin ke bagian tengah hingga selatan memiliki nilai kenyamanan pada kisaran 70 - 74.

Selanjutnya kesesuaian lahan untuk ekologis ternak sapi potong diidentifikasi melalui pendekatan Weighted Linear Combination (WLC) dengan hasil perhitungan WLC ditampilkan pada Tabel 26. Diperoleh bahwa hasil perhitungan WLC kesesuaian ekologis sapi potong berada di antara 0,0000 sampai dengan 0,318896. Nilai tersebut diperoleh melalui persamaan :

WLC = (0,24X1 + 0,19X2 + 0,17X3+ 0,15X4 + 0,13X5 + 0,12X6)*C

dimana WLS = weight linear combination, W= bobot; C = kendala; Xi=

kesesuaian untuk setiap sub faktor, dengan rincian : X1 = kesesuaian penggunaan lahan sebagai sumber hijauan; X2 = akses lokasi pemeliharaan ke sumber air; X3 = tingkat curah hujan; X4 = tingkat kemiringan; X5 = tingkat elevasi; X6 = nilai THI. faktor kendala terdiri dari fasilitas umu, industri, institusi, permukiman, jalan, rawa, waduk dan daerah tambang yang merupakan hasil dari analisis tutupan lahan.

Tabel 26 Derajat kesesuaian untuk lahan pengembangan sapi potong berdasar kriteria ekologis

Kesesuaian Nilai WLC Luas Persentase

N 0,162848 – 0,000000 51.551 29,23%

S3 0,180848 – 0,162848 47 0,03%

S2 0,270456 – 0,180848 62.897 35,67%

S1 0,31889 – 0,270456 32.745 18,57%

Kelas kesesuaian dibagi dalam empat kelas yang diperoleh melalui rataan selang kelas nilai WLC yang diperoleh. Semakin mendekati nilai 0,318896 maka lahan tersebut memiliki kualitas lingkungan secara ekologis sesuai untuk sapi potong. Berdasarkan Tabel 26. luasan kesesuaian yang diperoleh mencapai 142.63 ha terbagi dalam kesesuaian S1, S2, dan S3.

43

2 3

5 6

Gambar 15. Tingkat kesesuaian masing-masing kriteria (1) Sumber hijauan, (2) Kelas Ketinggian, (3) Kelas Lereng, (4) Curah hujan, (5) Buffer Sungai, (6) Peta THI

1

44

Melalui analisis spasial berdasarkan data-data tersebut diatas, diperoleh peta kesesuaian lahan ekologis ternak sapi potong yang ditampilkan pada Gambar 16. dan distribusi luasan setiap kecamatan ditampilkan pada Tabel 27.

Gambar 16. Peta kesesuaian ekologis ternak sapi potong

Luas lahan kesesuaian ekologis sapi potong yang termasuk dalam selang kesesuaian kelas S1 adalah 32.745 ha atau 18,57% dari total luasan wilayah Kabupaten Bandung. Sebagian besar berada di bagian tengah wilayah kabupaten Bandung menyebar mulai dari timur yaitu kecamatan Rancaekek (3.569 ha), Solokanjeruk (1.148 ha), Nagrek (1.808 ha). Wilayah ke arah bagian barat meliputi kecamatan Bojongsoang (2.291 ha), Ciparay (2.360 ha), Arjasari (2.130 ha), (Pameungpeuk 861 ha), (Banjaran 932 ha) dan ujung barat di Kutawaringin (1.068 ha).

Lahan kesesuaian ekologis kelas S2 merupakan lahan yang dengan kendala namun masih dapat diusahakan dengan sedikit perbaikan sehingga lahan menjadi optimum untuk dibudidayakan. Kendala di lahan kesesuaian S2 adalah lereng antara 8 – 15 % dan elevasi antara 2.000 dan 3.000 mdpl. Luas kelas S2 lebih besar dibandingkan luasan kesesuaian kelas S1 yaitu 62.897 ha. Sebagian besar berada di wilayah bagian paling utara dan ke arah bagian selatan sebelah ujung timur kecamatan Nagrek, Paseh, dan Pacet. Bagian selatan kecamatan Pangalengan dan ke arah barat kecamatan pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali. Umumnya wilayah tersebut adalah dataran tinggi dan merupakan peternak sapi perah.

Lahan kesesuaian kelas S3 merupakan lahan dengan kendala paling besar, berada di sekitar kecamatan Pangalengan dan kecamatan Cikancung. Lahan tidak

45 sesuai sebagian besar berada di kecamatan Pasirjambu, kecamatan Kertasari, dan kecamatan Pangalengan. Sebagian besar wilayah adalah dataran tinggi dan merupakan kawasan perhutanan. Kendala dalam dataran tinggi adalah cekaman suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi mengakibatkan nilai THI tinggi. Tabel 27 Distribusi luasan lahan kesesuaian ekologis

KECAMATAN Kesesuaian Ekologis Total

N S1 S2 S3 TN Arjasari 414 2.130 1.999 1.953 6.497 Baleendah 1 1.734 436 1.983 4.155 Banjaran 940 932 1.536 881 4.291 Bojongsoang 0 2.291 1 487 2.781 Cangkuang 975 769 3 712 2.461 Cicalengka 0 1.498 1.379 724 3.603 Cikancung 5 1.539 1.171 1.297 4.013 Cilengkrang 787 693 912 618 3.011 Cileunyi 93 1.565 260 1.238 3.158 Cimaung 809 1.051 2.503 1.135 5.500 Cimenyan 281 367 3.443 1.218 5.310 Ciparay 2.360 1.263 994 4.617 Ciwidey 779 171 3.383 512 4.846 Dayeuhkolot 131 197 774 1.102 Ibun 1.176 1.283 2.493 501 5.456 Katapang 0 563 392 616 1.572 Kertasari 12.775 1.753 678 15.207 Kutawaringin 1.068 1.879 1.783 4.731 Majalaya 92 1.528 915 2.536 Margaasih 5 887 0 941 1.834 Margahayu 2 14 236 800 1.053 Nagreg 362 1.808 2.298 462 4.932 Pacet 2.776 297 5.647 472 9.193 Pameungpeuk 861 48.07 553 1.462 Pangalengan 9.215 834 7.848 44 1.635 19.578 Paseh 371 1.513 2.421 798 5.104 Pasirjambu 13.844 1.354 7.807 995 24.002 Rancabali 6.898 88 7.103 762 14.852 Rancaekek 3.569 16 938 4.524 Solokanjeruk 1.148 759 492 2.400 Soreang 14 794 517 1.223 2.550

46

Indeks Daya Dukung Limbah Sumber Hijauan Makanan Ternak

Indeks daya dukung (IDD) hijauan makanan ternak adalah angka yang menunjukkan status daya dukung hijauan makanan ternak yang tersedia terhadap kebutuhan hijauan bagi sejumlah populasi ternak ruminansia pada suatu wilayah. Sumber hijauan makanan ternak yang diperhitungkan adalah limbah tanaman pangan meliputi sawah, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar dan limbah penggunaan lahan yaitu hutan, semak, tanah lapang dan perkebunan. Sebaran wilayah nilai IDD ditampilkan pada Gambar 17.

Gambar 17. Peta indeks daya dukung hijauan makanan ternak

Sebagian besar wilayah berdasarkan Gambar 17 berada pada status aman yang artinya masih sangat memungkinkan untuk adanya penambahan populasi ternak. Status sangat kritis ada di lima kecamatan yaitu Cilengkrang, kecamatan Cikancung, kecamatan Dayeuh kolot, kecamatan Ciwidey, dan kecamatan Pangalengan. Kecamatan Pangalengan dan kecamatan Ciwidey merupakan sentra usaha sapi perah dan sudah dalam kondisi jenuh ternak dimana nilai IDD kurang dari 1 yang artinya pada kedua kecamatan tersebut ternak tidak mempunyai pilihan dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dan telah terjadi pengurasan sumberdaya dalam agro - ekosistemnya. Kecamatan Cikancung saat ini merupakan sentra pengembangan sapi potong di Kabupaten Bandung, namun berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan hijauan pakan ternak sangat kritis. Hal tersebut menunjukkan bahwa kecamatan Cikancung sudah over populasi ternak sapi potong. Kecamatan Dayeuhkolot merupakan daerah permukiman sehingga hampir sebagian lahan pertanian telah berubah fungsi.

47 Potensi dan ketersediaan hijauan makanan ternak berdasarkan kecamatan disajikan dalam Tabel 28. Berdasarkan Tabel 28. diperoleh 25 kecamatan berada pada status aman dengan nilai IDD lebih dari 2,72. Kecamatan Margahayu memiliki nilai IDD tertinggi (163,80) menunjukkan bahwa kecamatan tersebut dapat menampung ternak hingga 16.380% ternak sapi potong dari jumlah ternak sapi potong yang ada.

Tabel 28 Potensi dan ketersediaan hijauan makanan ternak Kecamatan Produksi

Jerami Padi

Kebutuhan pakan

(BKC ton/ha/thn) IDD Status Arjasari 5.734 1.381 3,64 Aman Baleendah 3.505 119 25,81 Aman Banjaran 3.844 148 22,71 Aman Bojongsoang 3.169 44 62,98 Aman Cangkuang 5.116 143 31,25 Aman Cicalengka 3.600 319 9,86 Aman Cikancung 3.200 21.113 0,13 Sangat kritis Cilengkrang 1.026 2.260 0,40 Sangat kritis Cileunyi 2.761 600 4,03 Aman Cimaung 4.415 298 12,98 Aman Cimeunyan 1.091 1.972 0,48 Sangat kritis Ciparay 8.268 226 31,95 Aman Ciwidey 4.132 495 7,31 Aman Dayeuhkolot 376 16 20,51 Aman Ibun 3.053 184 14,48 Aman Katapang 2.091 90 20,30 Aman Kertasari 488 5.110 0,08 Sangat kritis Kutawaringin 5.771 128 39,49 Aman Majalaya 4.697 63 64,63 Aman Margaasih 1.909 273 6,13 Aman Margahayu 163 0 163,80 Aman Nagreg 2.659 108 21,49 Aman Pacet 4.345 214 17,78 Aman Pameungpeuk 2.887 16 150,64 Aman Pangalengan 1.280 11.394 0,10 Sangat kritis Paseh 6.597 205 28,19 Aman Pasirjambu 4.386 3.667 1,05 Rawan Rancabali 1.488 478 2,72 Aman Rancaekek 5.404 74 63,83 Aman Solokanjeruk 3.936 108 31,80 Aman Soreang 4.198 39 93,87 Aman Kapasitas Tampung

Analisis kapasitas tampung dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak jumlah ternak sapi potong yang dapat ditampung dalam suatu wilayah. Kapasitas penambahan populasi ternak ruminansia (KPPTR) dapat diketahui berdasarkan

48

nilai daya dukung dalam satuan ternak dengan populasi ternak dalam wilayah tersebut.

Nilai total daya dukung ternak sapi potong pada lahan sawah berdasarkan data produksi BKC pada setiao kecamatan mencapai 92.552 ST artinya mampu menampung hingga 92.552 ST (132,217 ekor). Populasi sapi potong berdasarkan data BPS tahun 2011 adalah 25.794 ST maka populasi ternak sapi potong yang dapat ditambahkan adalah 66.758 ST (95.368 ekor) atau 72,13% dari populasi pada tahun 2011. Data DD setiap kecamatan disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29. Kapasitas penambahan populasi ternak sapi potong berdasarkan DD pada setiap kecamatan

Kecamatan Populasi Ternak (ST) Produksi BKC (ton/kecamata n) Daya Dukung (ST) KPPTR (ST) Persentase Penambahan (a) (b) (c) (d) (d-b) Arjasari 149 5.734 5.026 4.876 97,02% Baleendah 81 3.505 3.071 2.990 97,36% Banjaran 145 3.844 3.369 3.223 95,68% Bojongsoang 42 3.169 2.777 2.735 98,49% Cangkuang 46 5.116 4.483 4.437 98,97% Cicalengka 147 3.600 3.155 3.008 95,32% Cikancung 21.075 3.200 2.804 -18.270 -651,46% Cilengkrang 392 1.026 900 508 56,44% Cileunyi 191 2.761 2.419 2.228 92,07% Cimaung 269 4.415 3.869 3.599 93,04% Cimenyan 1.319 1.091 956 -363 -37,98% Ciparay 221 8.268 7.247 7.025 96,95% Ciwidey 1 4.132 3.621 3.620 99,96% Dayeuhkolot 14 376 330 316 95,76% Ibun 180 3.053 2.676 2.495 93,25% Katapang 88 2.091 1.833 1.744 95,19% Kertasari 52 488 428 375 87,74% Kutawaringin 123 5.771 5.058 4.934 97,56% Majalaya 61 4.697 4.116 4.055 98,50% Margaasih 273 1.909 1.673 1.400 83,69% Margahayu 0 163 143 143 100,00% Nagreg 105 2.659 2.331 2.225 95,47% Pacet 182 4.345 3.808 3.626 95,22% Pameungpeuk 16 2.887 2.530 2.513 99,34% Pangalengan 30 1.280 1.122 1.092 97,32% Paseh 193 6.597 5.782 5.589 96,66% Pasirjambu 2 4.386 3.844 3.841 99,95% Rancabali 170 1.488 1.304 1.133 86,90% Rancaekek 74 5.404 4.736 4.662 98,43% Solokanjeruk 104 3.936 3.449 3.345 96,98% Soreang 38 4.198 3.679 3.641 98,95% Jumlah 25.794 105.602 92.552 66.758 72,13%

49

Peta Kesesuaian Lahan Ekologis Berdasar Indeks Daya Dukung

Peta kesesuaian lahan ekologis berdasarkan Indeks Daya Dukung (IDD) merupakan lahan yang sesuai secara ekologis dengan ketersediaan sumberdaya pakan secara fungsional mencukupi kabutuhan lingkungan untuk ternak hidup secara efisien. Peta ditampilkan pada Gambar 18. Berdasarkan metode query dan overlay antara peta IDD dengan peta kesesuaian lahan ekologis sapi potong diperoleh lahan kesesuaian S1 secara ekologis berdasarkan IDD adalah 31.205 ha, lahan kesesuaian S2 sebesar 61.726 ha dan lahan kesesuaian S3 seluas 47 ha.

Gambar 18 Peta kesesuaian usaha ternak sapi potong berdasar IDD

Kesesuaian lahan S1 sebagian besar berada di bagian tengah wilayah kabupaten Bandung berada di kecamatan Rancaekek, Bojongsoang, Solokanjeruk, Ciparay, dan Pameungpeuk. Kecamatan tersebut memiliki nilai IDD > 2. Daerah tersebut memiliki kondisi fisik yang cocok yaitu berada pada persentase kemiringan 0 - 3%, elevasi pada 500 - 1.000 mdpl, dengan nilai THI pada kisaran 70 - 74. Kesesuaian lahan S2 sebagian besar berada di selatan dengan tingkat kemiringan 3 - 8% dan tingkat elevasi 1.000 - 2.000 mdpl. Lahan tersebut ditemui di kecamatan Cimenyan, menuju selatan lahan S2 berada di Kecamatan Cicalengka, Majalaya, Pacet, Cimaung, Pangalengan, Ciwidey, sebagian kecamatan Pasirjambu dan Rancabali. Lahan kesesuaian S3 berada di kecamatan Pangalengan, Cangkuang dan Margaasih. Hal ini dikarenakan di kecamatan Cangkuang dan Margaasih sedikit ditemui sawah dan ladang sehingga sumber hijauan sangat terbatas. Sementara di kecamatan Pangalengan dikarenakan populasi ternak sapi perah sudah jenuh mengakibatkan nilai IDD < 1.

50

Lahan Integrasi Usaha Ternak Sapi Potong dan Usahatani Padi

Lokasi yang ditetapkan sebagai lokasi integrasi adalah lahan yang sesuai secara ekologis dan merupakan lahan sawah sebagai bentuk keterpaduan sistem usahatani - ternak. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa total luasan integrasi kesesuaian S1 mencapai 7.730 ha. Lahan kesesuaian S2 mencapai 5.420 ha dan kesesuaian lahan S3 mencapai 0,01 ha. Lahan sawah yang dipergunakan sebagai basis kegiatan integrasi mencapai 41,53% dari total luasan sawah aktual 31.659 ha. Sebaran lokasi ditampilkan pada Gambar 19. dengan uraian lokasi pada Tabel 30.

Gambar 19 Peta lahan tersedia integrasi usaha ternak sapi potong dan usahatani padi

Luasan lahan integrasi paling luas berada di kecamatan Rancaekek (3.228,93 ha) terbagi dalam 3.225,65 ha kesesuaian S1 dan 3,28 ha kesesuaian S2. Menuju arah selatan kecamatan Solokanjeruk dengan luasan 1.762,27 ha terdiri atas kelas S1 seluas 1.044,42 ha dan kelas S2 seluas 717,85 ha. Sementara ke arah barat daya adalah Kecamatan Ciparay dan Bojongsoang dengan luasan 2.540,97 ha dan 2.014,14 ha.

Luas lahan integrasi kesesuaian S2 mencapai 5.740,25 ha sebagian besar berada di bagian timur menyebar di daerah kecamatan Solokan jeruk, kecamatan Majalaya (1.340,27 ha) dan Pacet (882,76 ha). Umumnya kecamatan Ibun dan Pacet merupakan daerah perbukitan dan didominasi oleh kebun/ladang. Bagian timur laut berbatasan dengan kabupaten Cianjur didominasi oleh lahan kesesuaian S2 yaitu kecamatan Ciwidey (1.069 ha) sebagian kecil kecamatan Pasirjambu (376,87 ha) dan kecamatan Rancabali (233,29 ha). Lahan S3 berada di daerah kecamatan Pangalengan.

51 Tabel 30 Distribusi lahan tersedia integrasi (ha)

KECAMATAN TERSEDIA Jumlah TIDAK TERSEDIA Jumlah

N S1 S2 S3 N S1 S2 Arjasari 212,35 171,55 383,90 188,56 9,71 198,27 Baleendah 741,58 23,87 765,45 0.41 599,10 146,65 746,16 Banjaran 125,25 128,01 253,26 311,33 17,12 328,44 Bojongsoang 393,01 0,08 393,08 1.619,44 1,61 1.621,05 Cangkuang 320,14 9,28 329,42 358,24 1,51 359,74 Cicalengka 351,68 12,72 364,40 397,09 54,08 451,17 Cikancung 453,87 453,87 43,36 438,75 Cilengkrang 4,47 43,32 47,79 6,84 5,40 12,24 Cileunyi 51,06 0,42 51,47 0,16 940,86 11,85 952,86 Cimaung 346,09 28,76 374,85 58,68 2,11 60,79 Cimenyan 0,02 0,02 12,28 6,25 18,53 Ciparay 1.540,23 545,72 2.085,94 230,46 224,57 455,03 Ciwidey 11,94 743,58 755,52 4,69 325,60 330,29 Dayeuhkolot 43,37 39,41 82,78 54,47 126,86 181,32 Ibun 265,04 357,29 622,33 129,09 140,91 270,00 Katapang 188,89 178,88 367,77 199,41 156,06 355,47 Kertasari 133,97 241,86 375,83 132,11 14,86 146,96 Kutawaringin 172,46 103,21 275,67 207,96 592,39 800,35 Majalaya 0,76 755,76 756,53 66,91 584,51 651,42 Margaasih 0,15 44,07 0,01 44,23 0,90 568,02 568,91 Margahayu 0,00 0,27 0,44 65,93 66,64 Nagreg 38,53 2,59 41,12 248,55 46,21 294,77 Pacet 37,67 745,43 783,09 3,55 137,34 140,88 Pameungpeuk 529,99 1,53 531,52 81,95 7,34 89,29 Pangalengan 13,45 48,55 62,00 0,11 0,20 0,30 Paseh 362,69 449,86 812,55 452,33 314,20 766,53 Pasirjambu 110,32 225,26 335,59 55,93 151,61 207,54 Rancabali 217,94 217,94 15,35 15,35 Rancaekek 1.115,48 1.115,48 2.110,17 3,28 2.113,45 Solokanjeruk 322,70 278,13 600,82 721,73 439,72 1.161,45 Soreang 0,09 0,09 0,00 433,83 9,58 443,42 Jumlah 133,97 7.730,02 5.420,34 0,01 13.284,34 132,94 9.890,27 4.224,20 14.247,41

Model Kegiatan Integrasi

Hasil wawancara di lapangan menunjukkan sebagian besar petani Kabupaten Bandung mengetahui dan telah melakukan kegiatan integrasi. Kegiatan integrasi tersebut terbentuk atas dasar saling membutuhkan antar petani dan peternak. Petani sengaja memelihara ternak sapi karena ingin memperoleh manfaat dari pola integrasi. Umumnya petani mengetahui pemakaian pupuk

52

anorganik (urea, Sp-36. KCL dan ZA) yang berlebihan tidak baik sehingga beberapa petani sudah mulai menguranginya dengan menambahkan pupuk kandang. Namun adanya program pupuk bersubsidi mengakibatkan petani konvensional masih tetap memberikan pupuk anorganik. Gambar 20 menunjukkan pola integrasi yang umum terjadi di Kabupaten Bandung.

Gambar 20 Model integrasi

Melalui Gambar 20 dijelaskan bahwa didapat tiga jenis pelaku dalam kegiatan pertanian di Kabupaten Bandung yaitu petani, peternak dan irisan keduanya yaitu petani yang merangkap menjadi peternak. Peternak dalam memelihara sapi potong mayoritas memanfaatkan hijauan dari kebun rumput atau tanaman sela. Jerami padi umumnya dimanfaatkan hanya saat panen dimana produksi limbah jerami berlimpah. Umumnya petani tidak membatasi peternak dalam mengambil limbah jerami yang ada. Petani sangat terbantu karena secara tidak langsung, lahan dapat segera kembali di olah. Sebagian jerami yang tidak terangkut dikembalikan kembali ke tanah sebagai pupuk organik. Peternak sapi yang tidak memiliki lahan sawah, umumnya mengolah kotoran ternak menjadi kompos untuk di jual. Namun bagi peternak yang memiliki lahan sawah atau lading, kompos langsung dimanfaatkan sendiri. Untuk wilayah sentra sapi perah umumnya kotoran ternak diolah menjadi biogas.

Berbeda pada pola integrasi kelompok usaha yang khusus bertujuan menghasilkan beras organik, sapi dikelola langsung dalam kandang yang berdekatan dengan sawah dan rumah kompos. Saat panen raya, jerami padi dimanfaatkan sebagai tambahan hijauan makanan ternak, sebagian difermentasi menjadi silase dan sebagian dikembalikan menjadi pupuk. Pola integrasi digambarkan dalam Gambar 21.

53

Gambar 21 Model integrasi berbasis Gapoktan

Hingga saat ini kedua pola tersebut masih berjalan. Umumnya peternak masih mengalami kekurangan hijauan saat musim kering tetapi berlimpah saat panen atau saat musim penghujan. Hal ini karena aplikasi teknologi pengawetan jerami belum maksimal dilakukan. Keterbatasan pengetahuan dan sarana prasarana menjadi hambatan dalam optimalisasi limbah.

Analisis Usahatani

Kelayakan usaha ditunjukkan dari nilai RC ratio. Berdasarkan data lapang, penggunaan pupuk urea umumnya petani di kabupaten Bandung adalah 350 kg/ha dan NPK 200 kg/ha pada setiap musim tanam pada pola tanam non organik. Namun pada usahatani integrasi adalah setengah dari pemberian pupuk anorganik yang umum dilakukan yaitu 150 kg urea/ha dan 50 kg NPK/ha untuk setiap musim tanam.

Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa nilai R/C pada usaha ternak (asumsi pemeliharaan sapi 6 ekor dengan luasan sawah 1 hektar dan 70% pakan berasal dari sawah) integrasi usahatani padi lebih tinggi dari pada R/C pada usaha masing-masing. Berdasarkan Tabel 31. nilai R/C pada usahatani integrasi ternak sapi potong dan usahatani padi paling tinggi (2,24) dibandingkan usaha ternak sapi saja (1,52) dan usahatani padi saja (2,12) dengan volume 1 ha/tahun. Hal tersebut menunjukkan usaha integrasi lebih efisien dimana setiap pengeluaran biaya produksi Rp 1.000,00 memberikan penerimaan sebesar Rp 2.280,00.

Tabel 31 Perbandingan hasil usahatani integrasi dan non integrasi (rupiah/thn)

Variabel Integrasi Sapi Padi

Biaya 66.766.500 71.000.000 16.970.000

Penerimaan 149.400.000 90.150.000 36.000.000

Pendapatan 82.633.000 19.150.000 19.030.000

R/C 2,24 1,27 2,12

Sumber : Petani berdasarkan harga dasar kabupaten

Menurut Priyanti (2007), usahatani tanaman - ternak dengan pengelolaan lahan 0.30 - 0.64 hektar dan sapi 2 ekor dapat meningkatkan pendapatan rumah

54

tangga Rp 852.170,00/bulan dengan kontribusi usaha peternakan terhadap total pendapatan rumah tangga mencapai 40%.

Tingginya pendapatan dari usahatani integrasi dipengaruhi oleh penjualan sapi pada tahun terakhir dan adanya penekanan pembelian pupuk kimia menjadi pupuk organik. Basuni (2012) menyatakan ada penekanan pembelian pupuk kimia pada usaha padi pola SIPT di kabupaten Cianjur dimana penggunaan pupuk urea turun menjadi 100 kg/ha, SP-36 turun menjadi 50 kg/ha dan KCL turun menjadi 50 kg/ha terjadi peningkatan pendapatan petani sebesar 60,08% dengan nilai R/C meningkat 5,18%.

Nilai Tambah Kegiatan Integrasi

Berdasarkan data Distanbunhut tahun 2014 melalui Rencana Daftar Kebutuhan Kelompok (RDKK) diketahui bahwa kebutuhan total pupuk Urea, SP 36, NPK, dan Organik masing-masing adalah 29.045 ton, 13.899 ton, 31.902 ton, dan 105.120 ton. Rekapitulasi kebutuhan pupuk ditampilkan pada Tabel 32. Berdasarkan harga pasar, nilai dari data kebutuhan pupuk tersebut mencapai Rp 135 milyar. Angka tersebut adalah nilai subsidi pupuk untuk petani yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten Bandung.

Tabel 32 Rekapitulasi kebutuhan pupuk Jenis Komoditi Luas Tanam

( Ha ) Kebutuhan Pupuk ( Kg ) Urea SP-36 NPK Organik Tanaman Pangan 82.230 20.717.303 9.393.381 25.333.845 95.154.936 Hortikultura 19.611 8.217.787 4.381.381 6.415.949 9.760.088 Perkebunan 16.695 103.200 57.328 96.749 185.729 Perikanan 251 2.895 65.885 53.736 12.952 Hutan Rakyat 7 3.906 1.302 2.604 6.510 Jumlah 29.045.091 13.899.277 31.902.883 105.120.215 Sumber : Distanbunhut Kabupaten Bandung (2014)

Perubahan pola usahatani menjadi pola usahatani integrasi berdasar asumsi sebelumnya dapat menurunkan nilai subsidi pupuk tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada empat alternatif pelaksanaan kegiatan integrasi. Alternatif I adalah bila tidak melaksanakan kegiatan integrasi. Alternatif II pelaksanaan kegiatan integrasi dilaksanakan hanya pada lahan kesesuaian integrasi S1. Alternatif III pelaksanaan kegatan integrasi pada lahan S1 dan S2. Alternatif IV adalah bila seluruh lahan sawah melaksanakan kegiatan integrasi (S1, S2, dan S3). Selengkapnya ditampilkan pada Tabel 33.

Tabel 33 Volume kebutuhan pupuk

Alternatif Penghematan Pupuk (Kg) Kebutuhan (Juta Rp) Urea NPK Pupuk Organik

I 2.621.489 7.864.468 13.107.447 67.634 II 1.607.288 6.172.570 6.008.179 39.435 III 764.829 4.767.176 111.089 16.011 IV 748.959 4.740.701 0.00 15.570

55 Berdasarkan data Tabel 33, selanjutnya untuk mengetahui nilai tambah pendapatan masyarakat melalui kegiatan integrasi maka dihitung berdasarkan luasan lahan dengan keuntungan dari setiap kegiatan tersebut ditampilkan pada Tabel 34. Berdasarkan luasan lahan kesesuaian disusun empat alternatif pengembangan dengan peluang besaran pendapatan masyarakat. Empat pilihan alternatif tersebut berurutan adalah alternatif tidak melaksanakan kegiatan integrasi (I), hanya pada lahan kesesuaian S1 (II), hanya pada lahan kesesuaian S1 dan S2 (III), dan (IV) pada seluruh lahan kesesuaian integrasi (S1, S2, dan S3). Tabel 34 Pendapatan agregat berdasarkan alternatif pengembangan

Alternatif

Kombinasi Luasan Pengembangan Lahan Integrasi (Ha)

Nilai Tambah ( jutaRp) Tidak Dimanfaatkan Luasan Integrasi S1 S2 S3 I 13.107 0.00 0.00 0.00 262.542 II 6.008 7.099 0.00 0.00 716.440 III 111 7.099 5.897 0.00 1.093.477 IV 0.00 7.099 5.897 111 1.100.579

Berdasarkan Tabel 34 disimpulkan bahwa semakin luas lahan integrasi yang digunakan maka akan semakin besar pendapatan wilayah atas kegiatan integrasi tersebut. Total nilai tambah dari kegiatan integrasi pada alternatif ke IV mencapai Rp 1.100 milyar pertahun sementara pendapatan usahatani padi konvensional adalah sebesar Rp 262 milyar per tahun.

Strategi dan Arahan

Strategi adalah cara taktis dan sistematis dalam mencapai tujuan berupa aturan atau program yang hendak dilakukan dalam strategi yang dimaksud. Kelemahan dan kekuatan adalah masalah yang merupakan faktor internal dalam analisis SWOT. Sementara ancaman dan peluang adalah tantangan yang merupakan faktor eksternal yang dihadapi pada pengembangan wilayah berbasis integrasi usaha ternak sapi potong dan usahatani padi di Kabupaten Bandung. Faktor dalam analisis SWOT didasarkan pada hasil analisa masalah dan tantangan yang dihadapi kabupaten Bandung dalam pengembangan wilayah integrasi usaha ternak sapi potong dan usahatani padi.

Analisis Masalah

Lahan sawah merupakan kekuatan yang dimiliki Kabupaten Bandung dalam pengembangan wilayah berbasis usaha ternak sapi potong dan usahatani padi. Saat ini luasan sawah di kabupaten Bandung mencapai 31.719 ha dengan nilai IP 2,45 pada sawah irigasi dan 1,93 pada sawah tadah hujan menunjukkan rata-rata penanaman lebih dari dua kali. Berdasarkan data tersebut, maka dapat diprediksi produksi limbah jerami sebesar 126.072 ton/tahun dan jerami padi sangat potensial menjadi sumber hijauan pakan ternak. Basuni (2011) menyatakan, pertambahan bobot badan harian sapi potong yang dikelola secara integrasi dapat mencapai 0,79 kg/ekor/hari sedangkan ternak sapi potong yang dikelola secara parsial hanya 0,32 kg/ekor/hari. Hal ini karena optimalisasi potensi hijauan sebagai pakan. Luas kesesuaian secara ekologis untuk sapi potong dapat hidup

56

optimal mecapai 95.689 ha. Integrasi dapat dilaksanakan berdasarkan keberadaan lahan sawah dan ketersediaan kesesuaian secara ekologis.

Sebagian besar petani sudah mengetahui keuntungan bertani dengan pola integrasi namun aplikasi di lapangan masih sangat terbatas di tingkat petani. Petani tertarik melakukan integrasi dikarenakan dalam model integrasi sangat memungkinkan adanya penyerapan tenaga kerja dimana petani dapat memanfaatkan sisa waktu dari bertani dengan memelihara ternak. Menurut Priyanti (2007) keputusan petani untuk mengadopsi program sistem integrasi tanaman – ternak cenderung lebih dipengaruhi oleh usaha sapi dimana faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut adalah penggunaan kompos, alokasi penggunaan tenaga kerja keluarga untuk usaha sapi dan pendapatan usaha sapi.

Keterlibatan pemerintah masih kurang sementara dalam pelaksanaan integrasi memerlukan sarana prasarana dan modal lebih besar dibandingkan non integrasi. Kegiatan integrasi memerlukan tambahan modal yaitu dalam penyediaan bakalan sapi potong dan sarana prasarana yang mendukung kegiatan integrasi. Diantaranya adalah ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana teknologi pengolahan limbah, tempat penyimpanan, dan pengangkutan. Syamsu (2000) menyatakan bahwa karakteristik limbah tanaman pangan bersifat kamba, terdapat kesulitan dalam mengangkut limbah dalam jumlah banyak dan tempat penyimpanan terbatas sehingga pada saat panen, limbah banyak terbuang. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan keberadaan kelembagaan yang berperan dalam efisiensi pengelolaan sarana prasarana, sumberdaya, mobilisasi, dan wadah untuk koordinasi dan komunikasi antar petani peternak.

Usaha sapi potong merupakan usaha yang prospektif karena: (1) Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup, (2) Usaha ini sudah banyak dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, dan (3) Usaha sapi potong juga sejalan dengan upaya pelestarian sumber daya lahan. Peternakan sebagai subsektor pertanian, sangat strategis dan dapat diandalkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, menekan pengangguran serta sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Tantangan

Tantangan terdiri atas peluang dan ancaman yang dihadapi dalam pengembangan berbasis integrasi usaha ternak sapi potong dan usahatani padi. Kegiatan integrasi dapat meningkatkan produksi padi dimana menurut Basuni (2011), rata-rata usahatani padi yang dikelola secara parsial (tanpa integrasi) hanya berproduksi sekitar 4,86 ton/ha/musim sedang usahatani padi yang dikelola secara terintegrasi dapat berproduksi 5,36 ton/ha/musim. Suwandi (2005) menyatakan bahwa ada perbaikan produktivitas lahan dari adopsi pupuk kompos, dimana valuasi ekonomi didekati dengan menghitung effect on product on producttion yaitu terjadi peningkatan produksi gabah permusim sekitar 0,10 ton/ha x Rp 1.450.000,00/ton = Rp 145.000,00/ha dan meningkatnya produktivitas pakan ternak yang dihitung dari nilai penghematan dari konsentrat sebesar Rp 1.500.000,00 pertahun. Sistem integrasi dapat memperbaiki kualitas lahan melalui penambahan unsur hara di dalam lahan akibat pemakaian kompos. Permintaan pupuk organik meningkat seiring meningkatnya permintaan komoditi hasil pertanian berbasis organik.

57 Ancaman alih fungsi lahan sawah cenderung terjadi di lahan produktif. Hal ini karena umumnya lahan sawah berada di dataran rendah dengan jarak relatif dekat pusat pemerintahan. Berdasarkan interpretasi citra SPOT diketahui bahwa terjadi alihfungsi lahan sawah menjadi lahan non sawah sebesar 17.940 ha dari sebelumnya 36.438 ha untuk tahun 2004 - 2011 atau terjadi pengurangan sebesar 1.898,34 ha (4,96%) akibat pembangunan (Hadinata dan Sugiyantoro 2012).

Berdasarkan hal tersebut, penguasaan lahan pertanian mengecil mengakibatkan skala usaha sektor pertanian tidak ekonomis. Rata-rata penguasaan

Dokumen terkait