I V. HASI L DAN PEMBAHASAN
4.1. Meningkatkan sinergi, komunikasi dan diseminasi program strategis Balitbangtan dan kementerian pertanian dengan dinas
4.1.1. Temu teknis tanaman padi dan kedelai di lahan sub optimal
Penerapan teknologi pada usaha pertanian ber-evolusi sejalan dengan perkembangan budaya dan kehidupan manusia, karena pada dasarnya usaha menyediakan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, pertanian modern tingkat penerapannya sejalan
dengan tingkat perkembangan teknologi masyarakat pelakunya. Bangsa I ndonesia yang jumlah penduduknya 250 juta jiwa mempunyai pendidikan yang sangat beragam, dimana pada masyarakat pelaku pertanian rata-rata pendidikan mereka rendah,sehingga tingkat penguasaan teknologinya juga rendah. Bagusnya, teknologi bidang pertanian dapat diadopsi berdasarkan pengalaman empiris, tanpa harus mengetahui proses ilmiahnya. Namun akibat dari hal tersebut, adopsi komponen teknologi pertanian modern sering mendatangkan dampak negatif terhadap lingkungan dan keberlanjutan produksi, tanpa disadari oleh para pelakunya.
Pertanian merupakan industri biologis yang memanfaatkan proses biokimia, menggunakan media tanaman. Pertanian modern mengubah proses alamiah tanaman yang semula semata-mata hanya menggunakan unsur-unsur hara asli dari dalam tanah, diganti dengan proses pemacuan pertumbuhan dan hasil penennya melalui pemupukan, pestisida, dan varietas-varietas sintetik yang rakus hara untuk berproduksi tinggi. Penerapan teknologi pertanian modern sejak tahun 1970 atau yang dikenal sebagai teknologi revolusi hijau, disamping telah meningkatkan produksi 300 dibandingkan produksi tahun 1960-an, juga meninggalkan dampak negatif pada mutu lingkungan dan keanekaragaman hayati (I RRI , 2004)
I ndonesia pada saat ini dan terlebih lagi pada masa mendatang, menghadapi masalah dan dilema dalam mencukupi produksi pangan, terkait dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan menurunnya kualitas lingkungan. Penambahan jumlah penduduk memaksa pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan pada lahan pertanian yang relatif sempit dan bahkan terus berkurang, yang berarti diperlukan penggunaan input agrokimia dalam jumlah tinggi, yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan penurunan keberlanjutan sistem produksi pertanian. Pada sisi lain, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan makanan yang aman konsumsi, pada kondisi petani belum siap untuk memproduksinya, akan berakibat I ndonesia menjadi pasar terbuka bagi produk bersertifikat jaminan mutu dan aman konsumsi dari negara-negara lain. Masalah yang kita hadapi adalah, bisakah kebutuhan bahan pangan yang terus meningkat yang membutuhkan dukungan input agrokimia dosis tinggi, diharmonisasikan dengan produk aman konsumsi dan konservasi lingkungan untuk mencapai keberlanjutan produksi. Jawabannya
tentu harus bisa, asalkan terdapat partisipasi antara produsen (petani), pedagang, dan konsumen secara aktif dan masing-masing pihak ikut bertanggung jawab untuk mencapai tujuan tersebut.
Kedelai dan padi merupakan salah satu komoditas pangan utama yang dikembangkan di I ndonesia, dan potensial untuk dikembangkan di wilayah Bengkulu. I ndonesia merupakan negara produsen kedelai terbesar ke enam di dunia, setelah Amerika Serikat,Brzail, Argentina, China dan I ndia. Walaupun demikian, produksi kedelai domestik belum mampu mencukupi kebutuhan kedelai nasional yang terus meningkat (Zakaria, 2010). Padahal pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mencanangkan program swasembada kedelai nasional. Zakaria (2010) menyatakan swasembada kedelai belum tercapai disebabkan karena (a) rendahnya minat petani, (b) belum berkembangnya penerapan teknologi anjuran di tingkat usahatani, (c) meningkatnya impor kedelai karena kemudahan tataniaga, (d) terjadinya persaiangan penggunaan sumberdaya lahan dengan komoditas lainnya seperti jagung.Selain permasalahan tersebut, pencapaian swasembada juga terkendala oleh rendahnya produktivitas kedelai yang dihasilkan.
Menurut Suyamto dan Swastika (2011) peningkatan produktivitas kedelai nasional berjalan lambat, dari sekitar 1,1 t/ ha pada tahun 1990 menjadi hanya sekitar 1,3 t/ ha pada tahun 2008. Menurutnya, peran inovasi teknologi terhadap peningkatan produktivitas kedelai di lapangan masih sangat kecil. Selain itu, produksi kedelai sangat ditentukan oleh luas areal panen sehingga luas areal panen harus ditingkatkan. Beranjak dari permasalahan tersebut, maka beberapa solusi untuk pengembangan kedelai adalah melalui optimalisasi pemanfaatan lahan serta penerapan inovasi teknologi anjuran di tingkat petani. Ketersediaan lahan sub optimal sangat mendukung dalam rangka perluasan areal tanam kedelai, namun perlu dibarengi dengan penerapan inovasi teknologi agar dapat meningkatkan produktivitas kedelai tersebut. Bengkulu memiliki potensi lahan sub optimal yang besar untuk pengembangan tanaman pangan padi dan kedelai.
Lakitan dan Gofar (2013) menyatakan lahan suboptimal pada dasarnya merupakan lahan-lahan yang secara alami mempunyai satu atau lebih kendala sehingga butuh upaya ekstra agar dapat dij adikan lahan budidaya yang produktif untuk tanaman,ternak, atau ikan. Namun menurutnya untuk mengelola lahan-lahan suboptimal tentu akan lebih rumit, kendala teknis/ agronomis yang dihadapi
membutuhkan teknologi yang berkesesuaian.Suyamto dan Widiarta (2011) menyatakan, peran teknologi sangat vital dalam pengembangan kedelai dan padi nasional. Menurutnya, teknologi varietas unggul telah berkontribusi sangat nyata dalam pengmbangan kedelai maupun padi nasional. Untuk kedelai saja sekitar 80% dari total area panen kedelai yang mencapai 0,7 juta hektar didominasi oleh penggunaan varietas unggul.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai unit pelaksana teknis Badan Litbang Pertanian di daerah, melalui pelaksanaan fungsi informasi, komunikasi dan diseminasi diharapkan menjadi roda penggerak dalam mempercepat dan memperluas pemanfaatan berbagai inovási pertanian hasil litkaji oleh pengguna (pelaku utama dan pelaku usaha sektor pertanian). Diseminasi adalah cara dan proses penyebarluasan inovasi/ teknologi hasil-hasil litkaji kepada masyarakat atau pengguna untuk diketahui dan dimanfaatkan. Kegiatan diseminasi hasil litkaji dapat dimaknai juga sebagai upaya scalling up
hasil litkaji.
Berkaitan dengan hal dimaksud, BPTP melaksanakan temu teknis budidaya tanaman padi dan kedelai di lahan suboptimal. Dalam pertemuan tersebut akan dilibatkan, dinas/ instansi lingkup pertanian, lembaga penyuluhan pertanian, kontak tani serta instansi terkait lainnya.
Tujuan temu teknis budidaya tanaman padi dan kedelai di lahan sub optimal adalah :
a) Meningkatkan pengetahuan petani dan penyuluh tentang budidaya usahatani padi dan kedelai di lahan sub optimal
b) Menyebarluaskan inovasi teknologi budidaya padi dan kedelai di lahan suboptimal
Keluaran yang diharapkan dari temu teknis budidaya tanaman padi dan kedelai di lahan sub optimal adalah :
a) Meningkatnya pengetahuan petani dan penyuluh tentang budidaya usahatani padi dan kedelai di lahan sub optimal
b) Menyebarluaskan inovasi teknologi budidaya padi dan kedelai di lahan sub optimal.
Peserta pertemuan adalah petani di kecamatan Pondok Kelapa, penyuluh se Kecamatan Pondok Kelapa, penyuluh dan peneliti BPTP yang berjumlah 40 peserta, dengan daftar peserta pertemuan sebagai berikut :
Table 1. Daftar peserta temu teknis budidaya padi dan kedelai di lahan sub optimal 2 Juni 2016
No. I nstansi Jumlah
(orang) 1. Petani, aparat Desa se Kecamatan Pondok Kelapa 20
2. Penyuluh kecamatan Pondok Kelapa 10
3. Peneliti, penyuluh BPTP 8
4. BP4K Kabupaten Bengkulu Tengah 2
Jumlah 40
Kegiatan dilaksanakan di rumah ketua kelompok P4S Sungai Suci Kecamatan Pondok Kelapa dimulai pk. 9.00 – 14.30 WI B. Sebelum acara dimulai dilakukan pre tes untuk peserta dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman peserta tentang teknis budidaya padi dan kedele di lahan sub optimal.
Acara diawali dengan pembukaan dengan susunan acara :
- Pembingkaian acara kegiatan oleh Kepala BPTP Bengkulu (Dr. Dedi Sugandi)
- Sambutan dan pembukaan oleh Camat Kecamatan Pondok Kelapa - Rehat
Penyampaian materi disampaikan secara paralel dipandu oleh Dr. Rudi Hartono,MP. Dalam penyampaian materi ini narasumbe5r telah dibagi menjadi tiga sesi dan dilanjutkan dengan sesi diskusi setelah selesai penyampaian semua materi. Jadwal dan sesi penyampaian materi dapat dilihat pada table 2.
Table 2. Jadwal acara temu teknis budidaya padi dan kedelai di lahan sub optimal 2 Juni 2016
Waktu Materi Prasaran/ I nstansi
9.30 –
12.00
I novasi budidaya kedelai di lahan sub optimal melalui pendekatan PTT
Dr. Umi Pudji Astuti BPTP Bengkulu
melalui pendekatan PTT BPTP Bengkulu Peranan lembaga penyuluhan dalam
pelaksanaan program peningkatan produksi Padi dan Keelai di Kabupaten Bengkulu Utara
Sailan, SP.MSi
BP4K Kabupaten Bengkulu Tengah
Diskusi Dr. Rudi Hartono
Hasil diskusi:
1. Pelaksanaan display PTT Kedelai yang sedang berjalan diharapkan dapat produksi dengan baik sehingga petani akan mengembangkan tanaman ini secara tumpang sari dengan tanaman ubi dan tanaman kelapa sawit yang masih muda
2. Pemasaran kedele tidak menjadi masalah karena petani sudah bermitra dengan pengrajin tahu dan tempe
3. Untuk tanam padi system legowo dengan sisip masih sulit diterapkan karena buruh tanam enggandengan alasan lebih rumit. Diusulkan ada pertemuan petani dan buruh tanam untuk penjelasan cara tanam yang benar, direncanakan dilaksanakan 1 minggu sebelum tanam padi
4. Rekomendasi pupuk untuk tanaman padi belum dipahami petani baik dosis dan waktu pemupukan. Dianjurkan untuk memakai anjuran yang terdapat pada Kalender tanam terpadu, dengan waktu pemberian pupuk 3 kali, yaitu pemupukan I = 7-14 HST, I I = 21 – 25 HST dan I I I = 35 – 40 HST.
5. Varietas padi spesifik padi rawa belum banyak digunakan petani karena petani tidak pernah mencari benih tetapi saling tukar menukar sesama petani yang hasilnya bagus ataupun mendapat bantuan dari dinas pertanian.
Diharapkan adanya display yang akan dilaksanakan bulan juni 2016 di Desa Panca Mukti benih padi spesifik lahan rawa (I npara) akan berkembang di daerah khususnya llahan sawah rawa
6. Dalam pelaksanaan program PAJALE, BP4K sangat berperan dalam penyampaian laporan Luas Tambah Tanam yang harus dilaporkan setiap hari ke BPTP, Distan Provinsi dan Pusat. Oleh karena itu peran koordinator penyuluh dapat ditingkatkan mengingat target tanam untuk kecamatan Pondok Kelapa untuk bulan Mei 2016 belum memenuhi target.
Permasalahan belum tercapainya target tanam adalah sebagian lahan sawah masih tergenang air karena air laut yang pasang. Pada lokasi yang tidak terkena banjir petani masih menunda tanam karena menghindari masa bunting tanaman padi pada bulan agustus yang kebiasaannya banyak serangan tikus.
Pada kesempatan ini disepakati untuk mempercepat penanaman pada lokasi yang telah panen dan penyuluh dapat menyakinkan petani untuk menghindari serangan tikus dengan melakukan sanitasi lingkungan pada saat akana turun sawah
Setelah diskusi dilakukan kunjungan lapangan di lahan display kedelai dengan harapan untuk meyakinkan petani di wilayah kecamatan bahwa tanaman kedele dapat dibudidayakan di lahan sub optimal dengan inovasi yang diterapkan. Pada saat itu juga dijelaskan beberapa hama yang ada dan cara penanggulangannya oleh petugas pengamat hama kecamatan. Pertumbuhan tanaman cukup baik, diperkirakan 3 – 4 minggu ke depan sudah dapat dilakukan pemanenan.
Kegiatan diakhiri dengan pengisian daftar pertanyaan setelah kegiatan berlangsung (post tes) dengan kuesioner yang berisi tentang teknologi padi dan kedelai di lahan sub optimal. Kuesioner ini diberikan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta akan mat eri yang telah di sampaikan. Setelah itu dilakukan penyelesaian administrasi. Hasil pengujian terhadap tingkat pengetahuan peserta temu teknis pada Tabel berikut:
Tabel 3. Rata Rata Peningkatan Pengetahuan Peserta Temu Teknis Di Kecamatan Pondok Kelapa Tahun 2016
Rata-rata umur responden (% ) Rata-rata pendidikan (% ) Rata –rata Nilai pengetahuan sebelum T. T Rata-rata Nilai pengetahuan setelah T T Peningkatan pengetahuan (% ) < 20 th 4 < SLTP 46 50,28 54,96 9,33 21 – 49 th 57 SLTA 25
50 th
39 Sarjana 29
Sumber : tabulasi hasil pre tes dan pos tes
Metode Temu teknis dengan presentasi, diskusi dan kunjungan lapangan mampu meningkatkan pengetahuan peserta 9,33% , artinya metode ini tidak mampu memberikan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Oleh karena itu masih ada metode lain yang lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan peserta misalnya melalui pelatihan ataupun pemutaran film. Hal ini sejalan dengan hasil kajian Astuti, dan kawan kawan di Kabupaten Lebong tahun 2014 tentang berbagai metode penyuluhan yang efektif adalah dari 6 jenis media dan metoda yang telah dianalisis yaitu pemutaran film, membaca komik, membaca folder, serta mengikuti presentasi dan diskusi, ternyata menonton film cukup efektif meningkatkan pengetahuan responden tentang inovasi PTKJS, sedangkan membaca komik dan mengikuti presentasi kurang efektif.