TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Hasil Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi
berganda, dengan tujuan memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai
hubungan kausalitas antara variabel independen (kinerja lingkungan, intellectual
capital, dan struktur modal) terhadap variabel dependen yaitu kinerja perusahaan
(ROA dan ROE).
1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif dapat memberikan gambaran atau deskripsi
data meliputi dari nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata (mean), dan standar
deviasi yang dihasilkan dari variabel penelitian. Nilai minimum menggambarkan
nilai terkecil yang diperoleh dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan
terhadap sampel, dan sebaliknya, nilai maksimum menggambarkan nilai terbesar
64
sedangkan mean (rata-rata) menunjukkan nilai rata-rata dari setiap variabel yang
digunakan dalam penelitian.
Deskripsi variabel penelitian mengenai kinerja lingkungan, intellectual
capital, struktur modal dan kinerja perusahaan dapat disajikan dalam tabel 4.2
dibawah ini.
Tabel 4.2
Hasil Uji Analisis Statistik Deskriptif Descriptive Statistics N Minimum Maximu m Mean Std. Deviation PROPER 139 2 4 3,05 0,423 139 1,13679 8,79873 3,6644713 1,54801651 DAR 139 0,06918 0,86377 0,4108497 0,19197923 ROA 139 0,00076 0,28924 0,0794657 0,05666667 ROE 139 0,00101 0,37941 0,1317261 0,07270977 Valid N (listwise) 139
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.2 menggambarkan
statistik deskriptif untuk variabel dependen (ROA dan ROE) dan variabel
independen (PROPER, , dan DAR) dengan jumlah data yang dapat
diolah sebanyak 139 data perusahaan. Berikut ini adalah penjabaran statistik
deskriptif variabel x dan y pada penelitian ini:
a. Variabel Independen.
1) Kinerja Lingkungan
65
dengan PROPER menggunakan skala likert, memperoleh nilai minimum
2 dan maksimum 4, hal ini menunjukkan dalam sampel, dalam hal
pengelolaan kinerja lingkungan paling kecil bernilai 2 berasal dari 9 data
perusahaan diantaranya adalah PT Kabelindo Murni Tbk tahun 2014 dan
2018, PT Sri Rejeki Isman Tbk tahun 2015 dan 2017 dan beberapa
perusahaan lainnya. Sedangkan nilai paling besar bernilai 4 berasal dari
15 data perusahaan diantaranya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
tahun 2014 hingga 2018, PT Semen Indonesia Tbk tahun 2014 hingga
2017, dan beberapa perusahaan lainnya. Rata-rata (mean) sebesar 3,05,
menunjukkan bahwa pengelolaan perusahaan dalam aspek kinerja
lingkungan rata-rata sebesar 3,05 dengan standar deviasi 0,423.
2) Intellectual Capital
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel independen Intellectual
Capital yang diproksikan menunjukkan nilai minimum 1,136
diperoleh dari PT Indospring Tbk pada tahun 2015 dan nilai maksimum
8,798 diperoleh dari PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk pada tahun 2018,
sedangkan nilai rata-rata sebesar 3,664 dengan nilai standar deviasi
sebesar 1,548.
3) Struktur Modal
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel independen struktur
66
dari PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk pada tahun 2014
dan nilai maksimum 0,863 diperoleh dari PT Indal Aluminium Industry
Tbk pada tahun 2014, sedangkan nilai rata-rata sebesar 0,410 dengan
nilai standar deviasi sebesar 0,191.
b. Variabel Dependen (Kinerja Perusahaan).
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel dependen kinerja
perusahaan dengan proksi ROA menunjukkan nilai minimum 0,00076,
diperoleh dari PT Indospring Tbk pada tahun 2015 dan nilai maksimum
0,2892 diperoleh dari PT Delta Djakarta Tbk pada tahun 2014. Adapun nilai
rata-rata sebesar 0,794 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,566. Sedangkan
hasil statistik deskriptif kinerja perusahaan dengan proksi ROE menunjukkan
nilai minimum 0,001 yang diperoleh dari PT Indospring Tbk pada tahun
2015 dan nilai maksimum 0,379 diperoleh Dari PT Delta Djakarta Tbk pada
tahun 2014, dengan nilai rata-rata sebesar 0,131 dan nilai standar deviasi
sebesar 0,072.
2. Hasil Uji Asumsi Klasik
Pada proses uji asumsi klasik dalam penelitian ini, pada model regresi
dengan variabel dependen ROE dilakukan proses transformasi data dengan
menggunakan metode square root (SQRT) guna menyesuaikan dengan proses
pengolahan data yang akan dilakukan. Sedangkan pada model regresi dengan
67
sesuai dengan proses pengolahan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini.
a. Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan bertujuan untuk menguji dalam model
regresi, apakah terdapat variabel pengganggu atau residual memiliki
distribusi normal. Cara yang digunakan untuk mendeteksi residual
berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan menggunakan uji One Sample
kolmogorov smirnov (K-S), grafik histogram, dan normal probability plot.
Berikut ini penulis sajikan hasil uji statistik One Sample kolmogorov
smirnov (K-S) yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas One Sample Kolmogorov Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual (ROA). Unstandardized Residual (ROE). N 139 139 Normal Mean 0,0000000 0,0000000 Std. Deviation 0,03539849 0,8117996 Most Extreme Differences Absolute 0,075 0,046 Positive 0,075 0,036 Negative -0,058 -0,046 Test Statistics 0,075 0,046 Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance Sumber: Output SPSS yang diolah.
68
Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa besarnya nilai
Asymp. Sig 2-tailed pada model regresi dengan variabel dependen ROA
adalah 0,051. Nilai tersebut lebih besar dari ketentuan nilai signifikan
untuk menandakan apakah data tersebut terdistribusi normal atau tidak
yaitu 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual terdistribusi secara
normal. Sedangkan pada model regresi dengan variabel dependen ROE
dapat dilihat bahwa nilai dari Asymp. Sig 2-tailed sebesar 0,200, hal ini
dikarenakan pada model regresi dengan menggunakan variabel dependen
yang diproksikan dengan ROE menggunakan data transformasi agar dapat
memenuhi uji normalitas Kolmogorov Smirnov. Karena P = 0,200 0,05
maka dapat dikatakan bahwa residual terdistribusi secara normal. Berikut
ini adalah uji normalitas data yang dijelaskan melalui grafik histogram
berikut :
Gambar 4.1
Hasil uji normalitas grafik histogram terkait ROA
69
Gambar 4.2
Hasil uji normalitas grafik histogram terkait ROE
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Berdasarkan grafik histogram pada gambar 4.1 dan gambar 4.2
dapat dilihat bahwa data terdistribusi secara normal. Hal itu dapat diketahui
karena baik grafik pada gambar 4.1 dan gambar 4.2 berbentuk simetris
tidak menceng (skewness) ke kanan ataupun ke kiri, melainkan hasil yang
dihasilkan pada grafik diatas berbentuk lonceng dengan titik puncak yang
memiliki lengkungan tepat berada di tengah grafik. Maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa kedua model regresi yang digunakan dalam penelitian
ini telah memenuhi asumsi uji normalitas ditandai dengan bentuk grafik
yang berbentuk simetris tidak menceng sehingga dapat dilanjutkan pada
70
Pengujian selanjutnya adalah uji normalitas data dengan
menggunakan grafik normal probability plot. Berikut ini adalah uji
normalitas data yang digunakan untuk menguji apakah kedua model regresi
yang digunakan dalam penelitian ini telah terdistribusi normal atau tidak.
Pada uji normalitas kali ini menghasilkan bentuk grafik yang membentuk
satu garis lurus diagonal, dengan titik-titik yang menyebar disekitar garis
diagonal. Grafik normal probability plot dijelaskan melalui gambar 4.3 dan
gambar 4.4 dibawah ini:
Gambar 4.3
Grafik Normal Probability Plot terkait ROA
71
Gambar 4.4
Grafik Normal Probability Plot terkait ROE
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Berdasarkan uji normalitas dengan grafik Normal Probability Plot
pada gambar 4.3 dan gambar 4.4 terlihat titik-titik menyebar dengan pola
mengikuti garis diagonal, hal ini menunjukkan bahwa pola yang dihasilkan
dari kedua model regresi yang digunakan dalam penelitian ini memiliki
pola distribusi normal sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua model
regresi memenuhi uji normalitas.
b. Hasil Uji Multikolinieritas
Tujuan dari uji multikolinieritas adalah untuk menguji model
72
(independen). Untuk mendeteksi gejala multikolinieritas antar variabel
independen dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan
Tolerance. Batas dari tolerance value 0,10 dan nilai VIF 10 maka
tidak terdapat adanya gejala multikoliniearitas. Hasil dari uji
multikolinieritas adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficients
Model Tolerance VIF Tolerance VIF 1. (Constant)
PROPER 0,928 1,078 0,928 1,078
VAIC-TM 0,886 1,128 0,886 1,128
DAR 0,861 1,161 0,861 1,161
a. Dependent Variable: ROA. b. Dependent Variable: sqrtROE.
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Berdasarkan tabel 4.4 hasil uji multikolinieritas pada semua
variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Kinerja
Lingkungan, Intellectual Capital, dan Struktur Modal baik dalam model
regresi dengan variabel dependen ROA dan ROE masing-masing
menunjukkan nilai tolerance 0,10 dan nilai VIF 10. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada gejala multikoiniearitas dalam kedua model
73 c. Hasil Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk melihat apakah dalam model
regresi linear terdapat adanya korelasi diantara data pengamatan, dimana
munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya. Apabila pada
model regresi bebas dari autokorelasi maka model regresi tersebut
dikatakan baik. Untuk mendeteksi autokorelasi pada model regresi dapat
dilihat dari hasil angka signifikansi pada uji run test. Adapun hasil uji
autokorelasi pada penelitian ini disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.5
Hasil Uji Autokorelasi
Runs Test Unstandardized Residual (ROA) Unstandardized Residual (ROE) -0,00641 -0,00204
Cases Test Value 69 69
Cases = Test Value 70 70
Total Cases 139 139
Number of Runs 72 72
Z 0,256 0,256
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,798 0,798
a. Median
Sumber : Output SPSS yang diolah.
Dari tabel hasil output SPSS menunjukkan nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) lebih besar dari 0,05. Pada tabel 4.8 dan 4.9 dengan variabel
dependen menggunakan proksi ROA dan ROE, keduanya menunjukkan
nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sama yaitu 0,798 lebih besar dari 0,05. Hal ini
74
terjadi autokorelasi antar nilai residual. Hasil ini menunjukkan bahwa
kedua model penelitian dengan variabel kinerja lingkungan, intellectual
capital dan struktur modal dalam penelitian ini telah bebas dari masalah
autokorelasi.
d. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan bertujuan untuk menguji dalam
model regresi apakah terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini, uji
heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan grafik scatterplot.
Berikut ini disajikan hasil dari grafik scatterplot dalam pengujian
heteroskedastisitas:
Gambar 4.5
Hasil grafik scatterplot terkait ROA
75
Gambar 4.6
Hasil grafik scatterplot terkait ROE
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Pada kedua grafik scatterplot gambar 4.5 dan 4.6 diatas
menunjukkan keadaan dimana titik-titik menyebar secara acak dan tersebar
baik diatas maupun dibawah nilai 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat adanya heteroskedastisitas pada kedua
model regresi. Sehingga kedua model regresi layak digunakan untuk
memprediksi hubungan antara kinerja lingkungan, intellectual capital dan
struktur modal dengan kinerja perusahaan.
3. Hasil Uji Hipotesis
a. Uji Koefisien Determinasi ( )
Uji koefisien determinasi pada penelitian ini digunakan untuk
76
intellectual capital dan struktur modal) terhadap variabel dependen (kinerja
perusahaan).
Tabel 4.6
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1. 0,610 0,601 0,03578965
a. Predictors: (Constant), PROPER, IC, DAR b. Dependent Variable: ROA.
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1. 0,468 0,456 0,08208
a. Predictors: (Constant), PROPER, IC, DAR b. Dependent Variable: sqrtROE.
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Hasil pengujian koefisien determinasi pada tabel 4.6 dimana
merupakan model regresi dengan variabel dependen kinerja perusahaan
menggunakan proksi ROA menunjukkan nilai sebesar 0,601 atau
60,1%. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebesar 60,1% kinerja perusahaan
manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode 2014-2018
disebabkan oleh kinerja lingkungan, intellectual capital dan struktur modal.
sedangkan 39,9% kinerja perusahaan disebabkan oleh pengaruh variabel
77
Pada hasil pengujian koefisien determinasi dalam tabel 4.6 pada
bagian model regresi dengan variabel dependen kinerja perusahaan
menggunakan proksi ROE menunjukkan bahwa nilai menunjukkan nilai
sebesar 0,456 atau 45,6%. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebesar 45,6%
kinerja perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia
pada periode 2014-2018 disebabkan oleh kinerja lingkungan, intellectual
capital dan struktur modal. sedangkan 54,4% kinerja perusahaan
disebabkan oleh pengaruh variabel lain selain variabel yang digunakan
dalam penelitian ini seperti pengungkapan Corporate Social Responsibility
(CSR), ukuran perusahaan dan nilai perusahaan.
b. Uji Signifikansi Keseluruhan dari Regresi Sampel (F-test)
Uji Statistik F digunakan dalam penelitian ini bertujuan agar dapat
diketahui apakah semua variabel independen yang digunakan dalam model
regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap
variabel dependen atau dapat digunakan untuk menguji kedua model
regresi yang digunakan pada penelitian ini memiliki hasil yang signifikan
atau tidak signifikan. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat besaran
nilai yang terdapat pada output tabel pengujian di bagian kolom F dan
78
Hasil uji statistik F pada penelitian ini disajikan dalam tabel 4.7
berikut ini:
Tabel 4.7 Hasil Uji Statistik F
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 0,270 3 0,090 70,318 Residual 0,173 135 0,001 Total 0,443 138
a. Dependent Variabel: ROA.
b. Predictors: (Constant), PROPER, IC, DAR. Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 0,800 3 0,267 39,583 Residual 0,909 135 0,007 Total 1,709 138
a. Dependent Variabel: sqrtROE.
b. Predictors: (Constant), PROPER, IC, DAR.
Sumber: Output SPSS yang diolah.
Pada tabel 4.7 menunjukkan hasil uji F hitung masing-masing
sebesar 70,318 dan 39,583 dengan nilai sig keduanya sebesar 0,000. Hal ini
menunjukkan bahwa nilai signifikansi alpha (α . Maka dapat
disimpulkan bahwa pada kedua model penelitian terdapat pengaruh yang
signifikan secara simultan antara kinerja lingkungan, intellectual capital
79
c. Uji Signfikan Parameter Individual (t-test)
Uji signifikansi parameter individual (t-test) dilakukan untuk
menunjukkan pengaruh setiap variabel independen secara individual
terhadap variabel dependen. Pada pengujian ini, pengambilan keputusan
dalam penelitian ini yaitu apabila tingkat signifikan yang dihasilkan
. Maka ditolak dan diterima (Ghozali, 2018). Berikut tabel
yang merupakan hasil uji signifikansi individual (t-test) pada variabel yang
digunakan dalam kedua model regresi penelitian ini.
Tabel 4.8 Hasil Uji t-test
Model Unstandardized B Coefficients Std. Error Standarized Coefficients Beta T Sig. 1 (Constant) 0,046 0,026 1,750 0,082 PROPER 0,001 0,007 0,009 0,156 0,877 VAIC-TM 0,021 0,002 0,567 9,934 0,000 DAR -0,113 0,017 -0,382 -6,593 0,000
a. Dependent Variable: ROA.
Model Unstandardized B Coefficients Std. Error Standarized Coefficients Beta T Sig. 1 (Constant) 0,126 0,060 2,090 0,038 PROPER 0,001 0,017 0,005 0,081 0,936 VAIC-TM 0,051 0,005 0,711 10,670 0,000 DAR 0,067 0,039 0,116 1,710 0,090
a. Dependent Variable: sqrtROE.
80
Berdasarkan hasil pada tabel maka dapat disimpulkan bahwa
persamaan kedua model regresi berganda pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
ROA = 0,046 + 0,001PROPER + 0,021 – 0,113DAR
ROE = 0,126 + 0,001PROPER + 0,051 + 0,067DAR
Dari kedua model regresi diatas dapat dilihat bahwa nilai konstanta sebesar
0,046 dan 0,126 yang dapat disimpulkan: dengan adanya penambahan pada
kinerja lingkungan, intellectual capital, dan struktur modal, maka kinerja
perusahaan dengan proksi ROA dan ROE akan meningkat sebesar 0,046
dan 0,126 pada tahun 2014-2018.
Nilai koefisien PROPER pada kedua model regresi menghasilkan
hasil yang sama yaitu 0,001 dengan menunjukkan hasil positif, dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif terhadap kinerja perusahaan
baik dengan proksi ROA maupun dengan proksi ROE pada perusahaan
manufaktur. Hal ini menandakan bahwa setiap kenaikan 1% PROPER,
dengan asumsi variabel lain tetap maka akan menaikkan kinerja perusahaan
sebesar 0,001 pada kedua model regresi.
Nilai koefisien intellectual capital pada kedua model regresi adalah
masing-masing sebesar 0,021 dan 0,051 menunjukkan hasil positif, dapat
81
baik dengan menggunakan proksi ROA, maupun dengan proksi ROE. Hasil
ini menandakan bahwa jika terjadi kenaikan 1% variabel intellectual
capital, dengan asumsi variabel lain tetap, maka akan menaikkan kinerja
perusahaan (ROA) sebesar 0,021 dan 0,051 pada kenaikkan kinerja
perusahaan (ROE).
Nilai koefisien struktur modal yang diproksikan dengan DAR pada
kedua model regresi yang digunakan adalah -0,113 dan 0,067. Nilai
koefisien regresi negatif menunjukkan bahwa struktur modal memiliki
hubungan negatif terhadap kinerja perusahaan (ROA). Hasil ini
menunjukkan bahwa ketika terjadi setiap penambahan 1% variabel struktur
modal dengan asumsi variabel lain tetap, maka akan menurunkan kinerja
perusahaan sebesar 0,113. Sedangkan, pengaruh terhadap kinerja
perusahaan dengan proksi ROE, struktur modal memiliki hubungan positif.
Dapat disimpulkan bahwa ketika terjadi penambahan 1% variabel struktur
modal dengan asumsi variabel lain tetap, maka akan menaikkan kinerja
perusahaan sebesar 0,067.
C. Pembahasan
1. Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Perusahaan (ROA).
Dari hasil yang ditunjukkan dalam tabel 4.8 diatas, menunjukkan
bahwa kinerja lingkungan yang diproksikan menggunakan PROPER
82
sebesar 0,877. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat signifikansinya di
atas 0,05. Dengan demikian ditolak, yang berarti bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (ROA).
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh
Putra (2017) dan Rafianto (2015) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan
tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil ini tentu tidak sejalan
dengan teori legitimasi yang menyatakan perusahaan dituntut untuk mampu
melakukan kegiatan yang menunjukkan rasa tanggung jawab pada lingkungan
masyarakat, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan kinerja
lingkungan. Menurut Putra (2017) masyarakat belum menyadari pentingnya
produk atau perusahaan yang ramah lingkungan, bahkan produk yang
dihasilkan cenderung lebih mahal jika memperhatikan aspek ramah
lingkungan sehingga dapat menurunkan daya beli konsumen. Dalam sudut
pandang perusahaan, untuk menjalankan program pelestarian lingkungan
memerlukan alokasi dana yang akan menambah biaya bagi perusahaan
sehingga dapat menurunkan laba yang dapat menandakan adanya penurunan
kinerja perusahaan.
Akan tetapi, program PROPER ini penting untuk kelangsungan bisnis
perusahaan dalam jangka panjang, selain berguna untuk mendapatkan citra
baik masyarakat kepada perusahaan, program PROPER ini juga menjadi
83
perusahaan apabila perusahaan ingin meminjam dana kredit dari pihak bank
sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang
Penilaian Kualitas Aset Bank Umum didukung dengan Surat Edaran
Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Nomor 15/28/DPNP
tertanggal 31 Juli 2013, yang menyatakan bahwa pihak bank tetap
memperhatikan hasil penilaian program PROPER yang diadakan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa perusahaan yang berpartisipasi dalam program PROPER ini
mendapatkan keuntungan tersendiri dalam memenuhi penilaian prospek usaha
yang dilakukan oleh bank umum ketika perusahaan memerlukan dana kredit
dari bank umum untuk menunjang aktifitas bisnis perusahaan.
Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Widhiastuti,
dkk. (2017) dan Setyono (2016) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2. Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Perusahaan (ROE).
Dari tabel 4.8 di atas, menunjukkan bahwa kinerja lingkungan yang
diproksikan menggunakan PROPER menghasilkan nilai sebesar 0,081
dengan tingkat signifikansinya sebesar 0,936. Hal tersebut menunjukkan
bahwa tingkat signifikansinya di atas 0,05. Dengan demikian ditolak, yang berarti bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap kinerja
84
menyatakan bahwa perusahaan diharapkan mampu untuk menjalankan
aktivitas usahanya sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku. Akan
tetapi, perusahaan perlu memandang PROPER ini sebagai suatu program
yang penting dikarenakan melalui program ini menjadi indikator bahwa
perusahaan melakukan upaya untuk meredakan kemungkinan konflik sosial
yang terjadi di masa yang akan datang dan sebagai pemenuhan tanggung
jawab kepada pihak stakeholder akan kelangsungan hidup perusahaan di masa
yang akan datang.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh
Rafianto (2015) dan Hastawati & Sarsiti (2016) yang menyatakan bahwa
kinerja lingkungan tidak terpengaruh terhadap kinerja perusahaan, hasil ini
juga menyimpulkan tidak sejalan dengan teori legitimasi yang dijelaskan
sebelumnya. Selain itu hasil dalam penelitian ini tidak konsisten dengan
penelitian yang dilakukan oleh Kristianti (2018) dan Yanti (2015) yang
menyatakan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap kinerja
perusahaan.
3. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan (ROA).
Dari tabel 4.8 di atas, menunjukkan bahwa intellectual capital yang
diproksikan menggunakan rumus menghasilkan nilai sebesar
9,934 dengan tingkat signifikansinya sebesar 0,000. Dengan demikian
85
kinerja perusahaan (ROA). Hal tersebut mendukung penelitian yang
dilakukan oleh Agustina, dkk. (2015) dan Sagara & Chairunissa (2018) yang
membuktikan bahwa intellectual capital berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan. Hasil ini memberikan implikasi manajerial bahwa untuk
menghasilkan ROA yang lebih baik, perusahaan dituntut untuk mampu
melakukan pengelolaan intellectual capital dengan baik, sehingga berdampak
pada meningkatnya laba yang dihasilkan dan juga berdampak pada kinerja
perusahaan (Faradina & Gayatri, 2016).
Hasil ini konsisten dengan stakeholder theory yang menjelaskan
tentang pengelolaan hubungan dan tanggung jawab yang dimiliki perusahaan
kepada pihak-pihak yang terlibat pada aktivitas operasional perusahaan, jika
perusahaan memiliki pengelolaan intellectual capital dengan baik, maka
kinerja keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan juga dapat meningkatkan
kepercayaan kepada pihak stakeholder terhadap perusahaan. Hal ini
dikarenakan perusahaan mampu untuk memaksimalkan pengelolaan asetnya
untuk meningkatkan kualitas karyawan yang ada guna meningkatkan laba
yang dihasilkan.
Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian yang
dilakukan oleh Ratnasari, dkk. (2015) yang menyatakan bahwa intellectual
86
4. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan (ROE).
Dari tabel 4.8 di atas, menunjukkan bahwa intellectual capital yang
diproksikan menggunakan rumus menghasilkan nilai sebesar
10,670 dengan tingkat signifikansinya sebesar 0,000. Dengan demikian
diterima, yang berarti bahwa intellectual capital berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (ROE).
Hasil dalam penelitian ini konsisten dengan penelitian Laurensia &
Hatane (2015) dan Puniayasa & Triaryati (2016) yang menyatakan bahwa
intellectual capital berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Dalam hasil
penelitian ini sejalan dengan stakeholder theory dimana dengan pengelolaan
intellectual capital yang baik dapat meningkatkan ROE yang dihasilkan oleh
perusahaan, sehingga perusahaan dapat memenuhi tanggung jawab yang
diharapkan oleh pihak stakeholder. Akan tetapi hasil penelitian ini tidak
konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hudaya (2017) yang
menyatakan bahwa intellectual capital tidak berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan.
5. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan (ROA).
Dari tabel 4.8 di atas, menunjukkan bahwa struktur modal yang
diproksikan menggunakan rasio DAR menghasilkan nilai sebesar
-6,593 dengan tingkat signifikansinya sebesar 0,000. Dengan demikian