• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN, INTELLECTUAL CAPITAL DAN STRUKTUR MODAL TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN, INTELLECTUAL CAPITAL DAN STRUKTUR MODAL TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN, INTELLECTUAL

CAPITAL DAN STRUKTUR MODAL TERHADAP

KINERJA PERUSAHAAN

(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018)

Oleh:

Rafli Mugni Rahman NIM: 11160820000061

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H/2020

(2)

i

PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN, INTELLECTUAL

CAPITAL DAN STRUKTUR MODAL TERHADAP

KINERJA PERUSAHAAN

(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Akuntansi

oleh

Rafli Mugni Rahman

NIM: 11160820000061

Di Bawah Bimbingan

Yusro Rahma, SE., MSi. NIP. 19800506 200801 2 016

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Selasa Tanggal 07 Bulan April Tahun Dua Ribu Dua Puluh telah dilakukan Ujian Komprehensif atas mahasiswa:

1. Nama : Rafli Mugni Rahman

2. NIM : 11160820000061

3. Jurusan : Akuntansi

4. Judul Skripsi : Pengaruh Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital, dan Struktur Modal Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018).

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa tersebut di atas dinyatakan lulus dan diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 07 April 2020

1. Dr. Rini, SE., AK., CA. ( )

NIP. 19760315 200501 2 002 Penguji I

2. Fitri Yani Jalil, SE., M.Sc. ( )

(4)
(5)

iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Rafli Mugni Rahman

NIM : 11160820000061

Jurusan : Akuntansi

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya :

1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah orang lain.

3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa izin pemilik karya.

4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.

5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya ini. Jikalau di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, 15 September 2020 Yang Menyatakan

(6)

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama : Rafli Mugni Rahman

2. Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 27 Juli 1998

3. Alamat : Jln. Anggaran No. 16, 04/003, Kecamatan Karang Tengah, Kelurahan Karang

Tengah, Kota Tangerang, Banten - 15157.

4. Telepon : 088210374958

5. Email : [email protected]

B. PENDIDIKAN

1. S1 (2016-2020) : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2. SMA (2013-2016) : SMA Negeri 3 Tangerang 3. SMP (2010-2013) : SMP Negeri 3 Tangerang

4. SD ( 2004-2010) : SDN Karang Tengah 2 Tangerang

C. LATAR BELAKANG KELUARGA

1. Nama Ayah : Agus Supriyatno

2. Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 16 Agustus 1969

3. Nama Ibu : Martini

4. Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Februari 1974

D. PENGALAMAN ORGANISASI

1. Kepala Biro Pengembangan Ekonomi UKM Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2019.

2. Kepala Bidang Sosial dan Agama HMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2017-2018.

3. Kepala Biro Pengembangan Ekonomi LSO Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid) FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2017-2018.

(7)

vi

4. Anggota Departemen Event LSO Tax Center FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2017-2018.

5. Anggota Bidang Kemahasiswaan HMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2016-2017.

6. Anggota Biro Pengembangan Ekonomi LSO Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid) FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2016-2017.

E. PENGALAMAN KEPANITIAAN

1. Pengarah Panitia (Steering Committee) Business Plan Competition dan Talkshow Enterpreneur yang diselenggarakan oleh UKM Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2019).

2. Pengarah Panitia (Steering Committee) Ramadhan Berkah yang diselenggarakan oleh LSO Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid) FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2018).

3. Ketua Pelaksana Simulasi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dengan Bimbingan Belajar Salemba

Group (2018).

4. Pengarah Panitia (Steering Committee) Bina Desa dan Bakti Sosial yang diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2018).

5. Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) yang diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017).

(8)

vii ABSTRACT

THE EFFECTS OF ENVIRONMENTAL PERFORMANCE, INTELLECTUAL CAPITAL AND CAPITAL STRUCTURE ON COMPANY PERFORMANCE

(Empirical Study on Manufacturing Companies Listed on Indonesia Stock Exchange in Period 2014-2018)

By

Rafli Mugni Rahman

This study aims to examine the effect of environmental performance, intellectual capital and capital structure on company performance. The dependent variable used is company performance measured by ROA and ROE, the independent variable used is environmental performance proxied by PROPER, intellectual capital proxied by , and capital structure proxied by DAR. The population of this

research is manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2014-2018. The research sample was determined by purposive sampling method so that a total of 139 data were processed. This research hypothesis testing using multiple linear regression analysis with the help of SPSS version 25 software.

The results showed that environmental performance has no effect on company performance. Meanwhile, intellectual capital has a significant effect on company performance, capital structure has a significant effect on company performance (ROA), and has no effect on company performance (ROE).

Keywords : Environmental Performance, Intellectual Capital, Capital Structure, Company Performance

(9)

viii ABSTRAK

PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN, INTELLECTUAL CAPITAL DAN STRUKTUR MODAL TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar

di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018)

Oleh

Rafli Mugni Rahman

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Kinerja Lingkungan, Intellectual

Capital, dan Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan. Variabel dependen yang

digunakan adalah Kinerja Perusahaan diukur dengan ROA dan ROE, variabel independen yang digunakan adalah Kinerja Lingkungan diproksikan dengan PROPER, Intellectual Capital diproksikan dengan , dan Struktur Modal diproksikan dengan DAR. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2018. Sampel penelitian ini ditentukan dengan metode purposive sampling sehingga diperoleh total 139 data yang diolah. Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS versi 25.

Hasil Penelitian menunjukkan Kinerja Lingkungan tidak berpengaruh pada Kinerja Perusahaan. Sedangkan Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Perusahaan, Struktur Modal berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Perusahaan (ROA), dan tidak berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan (ROE).

Kata Kunci : Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital, Struktur Modal, Kinerja Perusahaan.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena taufik dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital dan Struktur Modal Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018”. Shalawat serta salam tak lupa untuk selalu diucapkan dan disampaikan kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad SAW. Beserta para keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman nanti.

Adapun penyusunan Skripsi ini guna memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Akuntansi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis tentunya menyadari bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini mendapat berbagai bantuan berupa dukungan moril dan hal lainnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, terutama kepada:

1. Kedua orang tua yang saya cintai yaitu Papah Agus Supriyatno dan Mamah Martini yang selalu memberikan saran, nasihat, doa serta dukungan moril maupun materil yang selalu dilimpahkan kepada penulis.

2. Kedua Kakak dan Adik saya, Yudi Armansyah dan Riska Cahya Ningrum, yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada penulis.

3. Bapak Prof. Dr. Amilin, S.E, Ak., M.Si, CA., QIA., BKP. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Yessi Fitri, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(11)

x

5. Ibu Fitri Damayanti, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Ibu Yusro Rahma, SE., M.Si., selaku Dosen Pembimbing skripsi yang dengan senantiasa meluangkan waktu dan perhatiannya dalam memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini. 7. Ibu Nur Wachidah Yulianti SE., M.Ak., selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang selalu memberikan arahan dan motivasi kepada penulis dalam melewati masa perkuliahan termasuk dalam proses penulisan skripsi ini.

8. Seluruh Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang senantiasa memberikan ilmu serta pengajaran yang bermanfaat kepada penulis.

9. Seluruh staff Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah ikut serta membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

10. Teman-teman Akuntansi Beo 2016 (Adam, Ahmad Rizky, Sonny, Tevan, Fauzan, Wildan, Fikkih) terima kasih atas kekompakan dan dukungannya selama ini.

11. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan banyak pengalaman kepada penulis di masa perkuliahan.

12. Keluarga besar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (LDK Syahid).

13. Semua pihak yang terkait dalam pembuatan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

(12)

xi

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini sangat jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sebagai ajang evaluasi bagi diri penulis sendiri dan demi kesempurnaan untuk penelitian-penelitian yang berikutnya.

Jakarta, 30 Agustus 2020

(13)

xii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ...ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRACT... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1. Tujuan Penelitian ... 8

2. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori-teori Terkait dengan Penelitian ... 10

1. Teori Legitimasi ... …. ....………..10

2. Stakeholder Theory ... 11

3. Kinerja Lingkungan ... 12

(14)

xiii

5. Struktur Modal ... 20

6. Kinerja Perusahaan ... 24

B. Penelitian Terdahulu ... 36

C. Kerangka Pemikiran ... 41

D. Keterkaitan Antar Variabel dan Hipotesis... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Populasi dan Sampel ... 46

B. Data dan Sumber Data ... 47

C. Metode Pengumpulan Data ... 47

D. Metode Analisis Data ... 48

1. Statistik Deskriptif ... 48

2. Uji Asumsi Klasik ... 48

3. Uji Hipotesis ... 51

E. Definisi Operasional Variabel ... 54

1. Variabel Dependen (Y) ... 54

2. Variabel Independen (X) ... 55

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 61

B. Temuan Hasil Penelitian ... 63

1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 63

2. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 66

a. Hasil Uji Normalitas ... 67

b. Hasil Uji Multikolinieritas ... 71

c. Hasil Uji Autokorelasi ... 73

d. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 74

3. Hasil Uji Hipotesis ... 75

a. Uji Koefisien Determinasi ( ) ... 75

(15)

xiv

c. Uji Signifikansi Parameter Individual (t-test) ... 79

C. Pembahasan ... 81

1. Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Perusahaan (ROA). ... 81

2. Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Perusahaan (ROE) ... 83

3. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan (ROA) ... 84

4. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan (ROE) ... 86

5. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan (ROA) ... 86

6. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan (ROE) ... 87

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 90

B. Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 94

(16)

xv

DAFTAR TABEL

2.1 Peringkat PROPER ... 14

2.2 Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ... 36

3.1 Nilai Berdasarkan Peringkat PROPER ... 57

3.2 Pengukuran Operasional Variabel Penelitian ... 59

4.1 Rincian Perolehan Sampel yang akan diteliti ... 62

4.2 Hasil Uji Analisis Statistik Deskriptif ... 64

4.3 Hasil Uji Normalitas One Sample Kolmogorov Smirnov ... 67

4.4 Hasil Uji Multikolinieritas ... 72

4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 73

4.6 Hasil Uji Koefisiensi Determinasi ... 76

4.7 Hasil Uji Statistik F ... 78

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

2.1 Kerangka Pemikiran ... 36

4.1 Hasil Uji Normalitas Grafik Histogram terkait ROA ... 68

4.2 Hasil Uji Normalitas Grafik Histogram terkait ROE ... 69

4.3 Grafik Normal Probability Plot terkait ROA ... 70

4.4 Grafik Normal Probability Plot terkait ROE ... 71

4.5 Hasil Grafik Scatterplot terkait ROA ... 74

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam era globalisasi dan kemajuan industri, dapat menimbulkan persaingan

yang ketat antar perusahaan. Hal ini menimbulkan setiap entitas perusahaan dituntut

untuk mampu berkembang di tengah persaingan bisnis. Perusahaan yang berkembang

dipastikan mampu untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan

kinerja entitas tersebut. Laba perusahaan menjadi perhatian utama suatu entitas pada

umumnya dalam pengukuran kinerja perusahaan. Makna dari kinerja keuangan dapat

diartikan merupakan penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur

keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba (Sucipto, 2003 dalam

Setyaningsih & Asyik, 2016).

Hal yang menjadi perhatian utama dalam penilaian kinerja perusahaan adalah

dengan cara melihat kinerja perusahaan untuk menghasilkan laba. Perusahaan selain

mempunyai kewajiban untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa

depan, juga mempunyai kewajiban kepada pihak stakeholder untuk menjaga

kepercayaan akan dana yang dikelola oleh perusahaan. Kinerja keuangan dapat

dijadikan sebagai acuan dalam mencerminkan keadaan perusahaan dari segi

keuangan. Ketika keuangan perusahaan dalam kondisi tidak baik, akan menjadi

pertimbangan stakeholder untuk mengambil keputusan terkait investasi yang

berhubungan dengan aspek permodalan perusahaan. Apabila kinerja keuangan

(19)

2

sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan (Hastawati & Sarsiti, 2016).

Dengan demikian kinerja keuangan juga sebagai penentu kelangsungan suatu

perusahaan. Hal ini dikarenakan dukungan keuangan yang didapat perusahaan

menjadi landasan untuk berjalannya proses bisnis kedepannya. Oleh karena itu, bisa

dikatakan bahwa kinerja keuangan adalah salah satu bentuk tanggung jawab dari

perusahaan (Meiyana & Aisyah, 2019).

Berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi,

rasio yang mengukur tingkat efektivitas manajemen adalah rasio profitabilitas, dalam

hal ini digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba

bagi stakeholder dengan menggunakan aset yang dimiliki dinamakan rasio return on

asset (ROA), Semakin tinggi nilai return on assets (ROA) suatu perusahaan maka

semakin baik perusahaan tersebut, karena menandakan bahwa perusahaan mampu

memanfaatkan secara efektif dan efisien total aset yang dimilikinya guna memperoleh

laba. Sedangkan return on equity (ROE) digunakan dalam mengukur kemampuan

suatu perusahaan dalam memperoleh laba bersih yang dihasilkan dengan

menggunakan total modal yang dimiliki perusahaan, dan menghitung pengembalian

atas total modal setelah bunga dan pajak (Kristianti, 2018).

Saat ini perusahaan mulai menyadari bahwa tujuan dari kegiatan usaha yang

dilakukan bukan hanya sekedar menghasilkan laba sebesar-besarnya, tetapi juga

bagaimana agar laba yang dihasilkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat

(Setyaningsih & Asyik, 2016). Perusahaan diharapkan tidak hanya sekedar

(20)

3

memikirkan atau mempertimbangkan faktor lingkungan hidup dalam kegiatan

operasinya karena aktivitas perusahaan tersebut dapat menimbulkan dampak bagi

lingkungan hidup. Namun dalam kenyataannya dalam bidang perindustrian, Industri

merupakan pelaku pembangunan yang mempunyai andil cukup besar dalam

pencemaran lingkungan. Pada tahap perencanaan, perusahaan berfokus pada hal yang

berkaitan dengan lingkungan, akan tetapi, banyak perusahaan beranggapan bahwa

aktivitas industri yang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan pemborosan

karena memerlukan alokasi dana yang besar (Meiyana & Aisyah, 2019).

Hal tersebut didukung dengan munculnya kasus perusahaan manufaktur

dengan menyandang status sebagai perusahaan go public yang terjadi pada tahun

2017, dimana PT Indah Kiat Pulp and Paper yang bergerak dalam industri kertas

dalam menjalankan aktivitasnya menyebabkan kerusakan lingkungan dengan

tercemarnya udara, air dan tanah yang dirasakan oleh masyarakat di daerah Siak,

Provinsi Riau (Kurniawan & Sadra, 2017). Dengan adanya kasus tersebut

menunjukkan bahwa era industrialisasi di satu pihak menitikberatkan pada

penggunaan teknologi seefisien mungkin sehingga terkadang mengabaikan aspek

lingkungan. Kesadaran akan hal tersebut diharapkan sebagai sistem pengawasan bagi

perusahaan sehingga efek samping dari aktivitas industri dapat diminimalisir.

Aktualisasi kesadaran ini mulai tampak dengan sikap masyarakat terhadap perubahan

yang terjadi dari suatu sistem (Fitriana, 2003 dalam Putra & Utami, 2018).

Kinerja Lingkungan adalah kinerja perusahaan dengan memperhatikan pada

(21)

4

dampak yang terjadi akibat aktivitas produksi perusahaan (Setyono, 2016).

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup membentuk formulasi yang

disebut dengan PROPER atau Program Peringkat Penilaian Kinerja Perusahaan

dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai upaya pengawasan aspek lingkungan

hidup perusahaan-perusahaan di Indonesia (Putra & Utami, 2018). Hal ini dilakukan

dengan harapan perusahaan dapat terpacu untuk meningkatkan kinerja lingkungan

demi terciptanya citra baik perusahaan di mata masyarakat.

Menurut Yanti (2015), menjelaskan bahwa program PROPER bertujuan untuk

memacu perusahaan untuk patuh pada peraturan lingkungan hidup demi tercapainya

keunggulan dalam aspek lingkungan melalui prinsip pembangunan berkelanjutan

dalam aktivitas industri perusahaan, pelaksanaan sistem berbasis lingkungan, dan

pelaksanaan bisnis yang menerapkan nilai etika serta bertanggung jawab terhadap

masyarakat melalui program pengembangan masyarakat. Variabel kinerja lingkungan

pada penelitian Purnama (2018), Supadi & Sudana (2018), menunjukkan bahwa

kinerja lingkungan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Sedangkan pada

penelitian Meiyana & Aisyah (2019) menunjukkan hasil yang berbeda yaitu bahwa

kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Dengan berkembangnya perekonomian mendorong perusahaan untuk

berinovasi dengan mengubah cara bisnisnya yang pada awalnya berdasarkan pada

tenaga kerja menjadi bisnis berbasis pengetahuan (Sawarjuwono & Kadir 2003 dalam

Dermawan, 2017). Salah satu upaya dalam pencapaian tujuan perusahaan dapat

(22)

5

Dengan menerapkan intellectual capital, perusahaan mendapatkan kepercayaan lebih

dari investor dengan memanfaatkan dan mengelola sumber daya intelektual dengan

baik (Ratnasari, dkk, 2015) . Hal ini didukung oleh penelitian Agustina, dkk. (2015),

dan Puspitosari (2016), yang menjelaskan bahwa modal intelektual berpengaruh

positif terhadap kinerja keuangan. Tetapi, pada penelitian Hudaya (2017),

menunjukkan hasil yang berbeda yaitu Intellectual Capital berpengaruh negatif

terhadap kinerja perusahaan.

Selain dari segi kinerja lingkungan dan Intellectual Capital, hal yang tidak

kalah penting adalah aspek pendanaan. Struktur modal dapat dikatakan sebagai

perpaduan sumber-sumber pendanaan jangka panjang dalam perusahaan (Setyawan,

dkk, 2016). Hasil dari setiap investasi yang dibiayai dengan hutang diharapkan lebih

besar daripada biaya hutang tersebut sehingga turut membantu memaksimalkan laba

(Hudaya, 2017). Struktur modal merupakan bentuk penggambaran proporsi finansial

perusahaan antara modal yang dimiliki yang bersumber dari hutang jangka panjang

dan modal sendiri yang menjadi sumber pembiayaan suatu perusahaan (Fahmi, 2013

dalam Swastika, dkk, 2017). Dapat dikatakan bahwa jika perusahaan dapat

melakukan pengelolaan struktur modal dengan baik maka dapat meningkatkan

profitabilitas perusahaan.

Risiko bisnis yang dijalani oleh perusahaan dapat mempengaruhi adanya

variasi beragam atas komposisi struktur modal suatu industri atau pada industri yang

berbeda (Kristianti, 2018). Dengan struktur modal yang maksimal maka perusahaan

(23)

6

perusahaan yang memperoleh keuntungan, tetapi para pemegang saham dapat

memperoleh keuntungan tersebut (Brigham & Houston, 2006 dalam Romadhoni &

Sunaryo, 2017). Hal ini didukung oleh penelitian Violita & Sulasmiyati (2017),

Marusya & Magantar (2016) yang menjelaskan bahwa struktur modal berpengaruh

positif terhadap kinerja keuangan.

Berdasarkan uraian diatas peneliti termotivasi melakukan penelitian untuk

melihat apakah kinerja lingkungan, intellectual capital dan struktur modal

berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul

“Pengaruh Pengaruh Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital Dan Struktur Modal Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014- 2018) ”. Perusahaan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Perusahaan Manufaktur

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2014-2018.

Penelitian ini merupakan replikasi dan modifikasi dari penelitian yang

dilakukan oleh Sagara & Chairunissa (2018). Dimana dalam penelitian ini terdapat

beberapa perbedaan dengan penelitian terdahulu sebagai berikut:

1. Pada penelitian terdahulu menggunakan variabel intellectual capital,

pengungkapan corporate social responsibility, dan struktur modal terhadap

kinerja keuangan. Sedangkan, dalam penelitian ini menghilangkan variabel

pengungkapan corporate social responsibility, kemudian menambahkan variabel

(24)

7

variabel kinerja keuangan menjadi kinerja perusahaan.

2. Pada penelitian terdahulu menggunakan populasi perusahaan sektor industri

dasar dan kimia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia periode 2013-2016.

Sedangkan, pada penelitian ini memperluas populasi dan memperbaharui periode

penelitian yakni menggunakan populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar

dalam Bursa Efek Indonesia dengan periode penelitian 2014-2018.

3. Pada penelitian terdahulu, proksi struktur modal menggunakan rasio Debt to

Equity (DER). Sedangkan, pada penelitian ini, proksi struktur modal

menggunakan rasio Debt to Asset (DAR).

4. Pada penelitian terdahulu, proksi kinerja keuangan diukur menggunakan rasio

Return on Assets (ROA). Sedangkan, pada penelitian ini menggunakan dua

proksi kinerja perusahaan yaitu Return on Assets (ROA) dan Return on Equity

(ROE).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan diteliti

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Kinerja Lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja

Perusahaan dengan proksi Return on Assets (ROA) ?

2. Apakah Kinerja Lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja

Perusahaan dengan proksi Return on Equity (ROE) ?

(25)

8

Perusahaan dengan proksi Return on Assets (ROA) ?

4. Apakah Intellectual Capital berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja

Perusahaan dengan proksi Return on Equity (ROE) ?

5. Apakah Struktur Modal berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja

Perusahaan dengan proksi Return on Assets (ROA) ?

6. Apakah Struktur Modal berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja

Perusahaan dengan proksi Return on Equity (ROE) ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan sebagai

berikut:

a. Untuk menganalisa pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja

Perusahaan baik dengan menggunakan proksi Return on Asset (ROA) dan

Return on Equity (ROE).

b. Untuk menganalisa pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja

Perusahaan baik dengan menggunakan proksi Return on Asset (ROA) dan

Return on Equity (ROE)..

c. Untuk menganalisa pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan

baik dengan menggunakan proksi Return on Asset (ROA) dan Return on

(26)

9 2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Bagi penulis, penelitian ini sebagai sarana untuk literasi dan menambah

pengetahuan mengenai penerapan Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital

dan Struktur Modal dan makna Kinerja Perusahaan sebenarnya yang ada di

perusahaan pada saat ini.

b. Bagi mahasiswa jurusan akuntansi, penelitian ini bermanfaat untuk menjadi

bahan referensi dan pemahaman mengenai penerapan Kinerja Lingkungan,

Intellectual Capital dan Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan

Manufaktur yang terdapat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI).

c. Bagi pihak manajemen perusahaan, sebagai tinjauan dan referensi dalam

upaya peningkatan Kinerja Perusahaan dan kelangsungan dalam menjalankan

penerapan Kinerja Lingkungan dengan mengeksplorasi potensi Intellectual

Capital dan Struktur Modal pada perusahaan.

d. Bagi Masyarakat, sebagai sarana untuk menambah wawasan tentang

bagaimana Aspek Kinerja Lingkungan, Intellectual Capital dan Struktur

Modal dapat mempengaruhi Kinerja Perusahaan.

e. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan referensi bagi pihak yang akan

(27)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori-teori Terkait dengan Penelitian 1. Teori Legitimasi

Teori legitimasi adalah teori yang berkaitan dengan aspek psikologis

dimana keberpihakan seseorang maupun kelompok sangat berpengaruh terhadap

fenomena lingkungan di sekitarnya baik berwujud maupun tidak berwujud (Putra

& Utami, 2018). Deegan (2004) dalam Bahri & Cahyani (2016), menyatakan

bahwa legitimasi adalah upaya perusahaan untuk terus memastikan perusahaan

beroperasi dalam koridor yang ada di dalam norma masyarakat dan lingkungan

dimana perusahaan itu menjalankan usahanya, dan untuk memastikan bahwa

kegiatan perusahaan diterima pihak eksternal perusahaan sebagai sesuatu yang “sah”. Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari

perusahaan dari masyarakat (O'Donovan, 2002 dalam Putra & Utami, 2018).

Ketika perusahaan sudah memenuhi ekspektasi yang diharapkan oleh

masyarakat maka perusahaan sudah mendapatkan legitimasi tersebut, namun

sebaliknya apabila sistem yang diterapkan oleh perusahaan tidak berhasil

memenuhi apa yang diekspektasikan oleh masyarakat, maka perusahaan tidak

mendapatkan legitimasi (Setyono, 2016). Menurut Yanti (2015), Legitimasi

(28)

11

perusahaan untuk bertahan hidup, bahkan dapat meningkatkan reputasi

perusahaan dimata masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, teori ini memfokuskan perusahaan untuk melakukan

aktivitas operasionalnya perlu memperhatikan kesesuaian dengan norma dan

nilai sosial yang berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat agar mendapat

legitimasi yang nantinya akan mendapatkan citra baik yang diberikan oleh

masyarakat di wilayah dimana aktivitas operasional dilakukan. Perusahaan

diharapkan untuk melakukan pelaporan lingkungan kepada masyarakat sebagai

bentuk informasi yang lebih luas tentang kepedulian perusahaan pada

lingkungan (Purnama, 2018). Hal tersebut menjadi sangat penting guna menjaga

eksistensi dan keberlangsungan hidup sebuah perusahaan secara jangka panjang.

2. Stakeholder Theory

Stakeholder Theory adalah teori yang mengarahkan perusahaan untuk

kepada pihak mana saja perusahaan harus memenuhi tanggung jawab (Freeman,

dkk, 1984 dalam Haninun, dkk, 2018). Setiawan, dkk. (2018) menjelaskan

bahwa stakeholder theory adalah teori yang menjelaskan bahwa perusahaan

harus memberikan manfaat kepada para stakeholder yaitu pemegang saham,

kreditur, konsumen, pemerintah, atau pihak lainnya sehingga perusahaan

tersebut bukanlah entitas yang hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingannya

sendiri. Setyaningsih & Asyik (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa

Stakeholder theory sebagai teori yang membahas tentang kumpulan kebijakan

(29)

12

komitmen di dalam dunia usaha untuk berperan aktif pada pembangunan secara

berkelanjutan. Dapat diartikan bahwa perusahaan diharap dalam melakukan

operasional bisnisnya dengan memperhatikan manfaat yang dibutuhkan oleh

para stakeholder dikarenakan dukungan yang diberikan pihak stakeholder

kepada perusahaan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup perusahaan

tersebut.

Seluruh aktivitas perusahaan bertujuan untuk menciptakan nilai (value

creation) perusahaan, serta pemanfaatan sumber daya intelektual yang

memungkinkan perusahaan menciptakan nilai tambah bagi kinerja perusahaan.

Karena jika perusahaan menerapkan pengelolaan yang maksimal atas seluruh

potensi yang dimiliki maka akan berdampak pada kinerja keuangan yang

menjadi acuan para stakeholder dalam mengintervensi manajemen (Widoarjo,

2011 dalam Faradina & Gayatri, 2016).

3. Kinerja Lingkungan

Kinerja Lingkungan menurut Meiyana & Aisyah (2019) didefinisikan

sebagai mekanisme peraturan bagi perusahaan untuk mengintegrasikan aspek

lingkungan ke dalam operasinya demi terciptanya sinergitas kepada para

stakeholder. Pengukuran kinerja lingkungan merupakan bagian penting dari

sistem manajemen lingkungan. Hal tersebut merupakan ukuran hasil dari sistem

manajemen lingkungan yang diberikan terhadap perusahaan secara riil dan

konkrit. Di Indonesia penilaian kinerja lingkungan perusahaan dibawah

(30)

13

Pengelolaan Lingkungan pada Perusahaan (PROPER). Menurut Peraturan

Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2014 Pasal 1 tentang Program

Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup,

PROPER adalah evaluasi ketaatan dan kinerja melebihi ketaatan penanggung

jawab usaha dan/atau kegiatan dibidang pengendalian pencemaran dan/atau

kerusakan lingkungan hidup, serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan

beracun. PROPER bertujuan agar perusahaan patuh terhadap peraturan

lingkungan hidup melalui integrasi prinsip pembangunan berkelanjutan dalam

operasional bisnisnya, dengan penerapan sistem manajemen lingkungan,

penghematan energi, konservasi sumber daya dan penerapan bisnis yang beretika

serta bertanggung jawab kepada masyarakat (Setiawan, dkk, 2018). Dalam

pelaksanaan program ini, dilakukan terhadap usaha sebagaimana tertuang dalam

Permenlh No. 3 Tahun 2014 Pasal 3 adalah :

a. Hasil produknya untuk tujuan ekspor.

b. Terdapat dalam pasar bursa.

c. Menjadi perhatian masyarakat, baik dalam lingkup regional maupun

nasional.

d. Skala kegiatan signifikan untuk menimbulkan dampak terhadap

lingkungan hidup.

Apabila sebuah perusahaan termasuk dalam kegiatan yang dimaksud

dalam pasal tersebut dianjurkan untuk mendaftarkan usahanya dalam mengikuti

(31)

14

ketaatan dilakukan pada aspek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Permenlh

No. 3 Tahun 2014 adalah :

a. Pemenuhan ketentuan dalam izin lingkungan.

b. Pengendalian pencemaran air.

c. Pengendalian pencemaran udara.

d. Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun.

e. Pengendalian kerusakan lingkungan hidup (khusus untuk sektor

pertambangan).

Adapun penilaian PROPER yang diberlakukan kepada setiap perusahaan

dapat dilihat dengan 5 indikator warna, yang mana setiap warna masing-masing

mewakili capaian kinerja lingkungan yang telah dilakukan. Lebih lanjut

dijelaskan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Peringkat PROPER

Warna Keterangan

Emas Adalah untuk usaha dan/atau kegiatan yang telah secara konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

(32)

15 Tabel 2.1

Peringkat PROPER (Lanjutan)

Hijau Adalah untuk usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan pengelolan lingkungan dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (Beyond compliance) melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan melakukan upaya tanggung jawab sosial dengan baik.

Biru Adalah untuk usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Merah Adalah upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan belum sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Hitam Adalah untuk usaha dan/atau kegiatan yang sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak melaksanakan sanksi

administrasi.

Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup.

Pemilihan peserta dalam program PROPER ini bersifat rekomendasi dan

sukarela, artinya calon peserta PROPER terdiri atas usaha/kegiatan yang telah

(33)

16

sukarela mendaftarkan usaha/kegiatannya untuk mengikuti program PROPER

ini. Walaupun tidak ada kewajiban yang mendasari untuk mengikuti program ini,

akan tetapi tidak menghilangkan esensi dari PROPER itu sendiri. Menurut Yanti

(2015), kebijakan PROPER erat dengan pengungkapan informasi mengenai

lingkungan hidup kepada masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat mampu

menyikapi secara aktif terkait hasil PROPER suatu perusahaan dengan

memberikan respon tertentu berdasarkan informasi PROPER tersebut. Selain itu,

bagi perusahaan itu sendiri program ini menjadi penting dikarenakan

berdasarkan pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang

Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Pasal 10-11 disebutkan bahwa prospek

usaha menjadi salah satu faktor penilaian kualitas kredit yang diterapkan dimana

upaya yang dilakukan debitur dalam rangka memelihara lingkungan hidup

menjadi poin yang dinilai dalam aspek prospek usaha suatu perusahaan,

didukung dengan Surat Edaran Departemen Penelitian dan Pengaturan

Perbankan Nomor 15/28/DPNP tertanggal 31 Juli 2013, menyebutkan bahwa

Bank dalam menyalurkan dana kredit kepada perusahaan memperhatikan hasil

penilaian program PROPER yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan

Hidup dan Kehutanan. Dapat disimpulkan bahwa program ini menjadi

keuntungan tersendiri bagi perusahaan ketika ingin menambahkan permodalan

usahanya dengan mengambil dana kredit dari bank sehingga dapat menjaga

(34)

17

Menurut Permenlh No. 03 Tahun 2014 Pasal 16-17, tindak lanjut dari

peringkat PROPER yang telah diumumkan bagi perusahaan yang mendapat

peringkat warna emas dan hijau adalah mendapatkan trofi dan sertifikat

penghargaan, untuk peringkat dengan warna biru meraih sertifikat penghargaan,

untuk peringkat warna merah dikenakan sanksi administratif apabila aspek

penilaian PROPER perusahaan yang dinilai meraih hasil peringkat warna merah

sebanyak dua kali, untuk peringkat hitam dilakukan penegakan hukum

lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam hal ini

tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009

tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tercantum dalam Pasal

79-81 mengenai sanksi pembekuan atau pencabutan izin lingkungan dan

keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintahan hingga tercantum pada

Pasal 114 mengenai pidana dan denda tergantung tingkat keparahan pelanggaran

lingkungan yang dilakukan oleh suatu perusahaan.

4. Intellectual Capital

Menurut Roos, dkk. (2005) dalam Puspitosari (2016), Intellectual Capital

adalah semua sumber daya non fisik dan non keuangan yang sebagian atau

seluruhnya dikendalikan oleh organisasi dan berkontribusi dalam menciptakan

nilai. Sehingga dalam pengukuran Intellectual Capital berfokus pada

pengelolaan perusahaan dalam mengelola setiap potensi yang dimiliki oleh

(35)

18

Sawarjuwono (2003) dalam Artati (2017), berpendapat bahwa ada

banyak konsep yang digunakan dalam pengukuran Intellectual Capital yang

dikembangkan oleh banyak peneliti sampai saat ini. Akan tetapi meskipun

terdapat banyak versi mengenai komponen dalam pengukuran Intellectual

Capital, pada intinya hanya tiga elemen pembentuk Intellectual Capital itu

sendiri yaitu (Tan, dkk. 2007 dalam Laurensia & Hatane, 2015):

4.1 Human Capital

Human Capital dapat dikatakan merupakan komponen utama

dalam pengukuran Intellectual Capital dikarenakan interaksi aktivitas

manusia merupakan faktor penting dari intangible value sehingga sumber

daya manusia merupakan potensi yang sejatinya adalah potensi yang

dimiliki perusahaan untuk mendorong produktivitas usaha perusahaan

tersebut.

4.2 Structural Capital

Structural Capital adalah kemampuan suatu organisasi untuk

menunjang kegiatan rutinitas perusahaan dan mengedepankan sinergitas

antara struktur dan usaha karyawan dalam menghasilkan kinerja bisnis

yang maksimal secara menyeluruh.

4.3 Customer Capital

Customer Capital adalah komponen pada intellectual capital yang

berfokus pada hubungan masyarakat yang merupakan konsumen pada

(36)

19

nyata bagi perusahaan karena berhubungan langsung dengan konsumen.

Apabila relasi perusahaan dengan masyarakat dijalin dengan baik maka

perusahaan akan mendapatkan nilai tambah dari aspek customer capital.

4.4 Rumus Perhitungan Intellectual Capital.

Untuk mengukur variabel intellectual capital ini menggunakan

rumus yang dikembangkan oleh Pulic (1998) dalam Sagara & Chairunissa

(2018) yang terdiri dari:

Dimana VACA (value added capital coefficient) adalah suatu bentuk yang

menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengelola sumber daya yang

dimilikinya berupa capital asset. Ketika perusahaan dapat mengelola

capital asset dengan baik, maka kinerja perusahaan dapat meningkat.

Pengukuran VAHU (value added human capital coefficient) untuk

menunjukkan besarnya nilai tambah yang dihasilkan dari satu unit uang

yang berasal dari investasi dalam karyawan. Sedangkan STVA (structural

capital value added coefficient) pengukuran yang bertujuan untuk

mengukur bagian structural capital dalam menciptakan nilai tambah

(37)

20 5. Struktur Modal

Struktur modal perusahaan adalah proporsi pendanaan jangka panjang

pada perusahaan yang mempunyai komposisi dalam bentuk liabilitas, saham

preferen, serta saham biasa (Horne & Wachowicz jr, 2005 dalam Kristianti,

2018). Menurut Komara, dkk. (2016), struktur modal perusahaan merupakan

komposisi atau struktur dari liabilitas perusahaan. Dapat disimpulkan peran

struktur modal sangat vital ketika berbicara tentang keuangan perusahaan.

Sejalan dengan pendapat Wardani & Dewi (2015), dalam penelitiannya

menyatakan bahwa struktur modal merupakan hal penting untuk

keberlangsungan bisnis suatu perusahaan dikarenakan kegiatan dan

perkembangan perusahaan ditandai dengan adanya modal. Sehingga dapat

dipahami bahwa untuk menggambarkan bagaimana cara sebuah perusahaan

membiayai seluruh aktivitas operasionalnya dan perkembangan perusahaan dari

berbagai sumber pendanaan yang dimilikinya.

Teori perkembangan struktur modal itu sendiri telah mengalami banyak

perkembangan, berikut adalah perkembangan teori struktur modal yang terdiri

dari beberapa pendekatan, yaitu:

5.1 Pendekatan Tradisional

Berdasarkan pendekatan tradisional, pada kondisi pasar modal

sempurna dan tidak ada pajak, nilai perusahaan atau biaya modal

perusahaan dapat diubah dengan cara merubah struktur modalnya.

(38)

21 5.2 Teori Modigliani dan Miller

Teori struktur modal modern bermula pada tahun 1958 ketika

Professor Franco Modigliani dan Merton Miller membuktikan bahwa

dalam serangkaian kondisi dan asumsi tertentu, nilai sebuah perusahaan

seharusnya tidak terpengaruh oleh struktur modalnya. Apapun cara sebuah

perusahaan mendanai kegiatan operasionalnya, struktur modal tidak akan

relevan mempengaruhi nilai perusahaan tersebut. Modigliani dan Miller

(1958) menyatakan bahwa pada pasar modal yang sempurna, struktur

modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan, teori struktur modal tidak

ada hubungan yang relevan bahwa nilai perusahaan tergantung pada

kemampuan asetnya untuk menciptakan nilai dan tidak relevan jika aset

berasal dari sumber kas internal atau modal eksternal (Suhardi & Afrizal,

2019).

Teori Modigliani dan Miller menunjukkan bahwa dalam keadaan

pasar modal sempurna dan tidak ada pajak, maka keputusan pendanaan

menjadi tidak relevan, sehingga penggunaan hutang maupun modal

sendiri akan memberi dampak yang sama bagi kemakmuran pemilik

perusahaan. Asumsi atas penelitian Modigliani dan Miller tersebut

mencakup kondisi-kondisi tidak ada beban broker, tidak ada pajak, tidak

ada beban kebangkrutan, investor dapat meminjam dengan tingkat bunga

yang sama dengan korporasi, semua investor memiliki informasi yang

(39)

22

perusahaan, serta laba sebelum pajak (EBIT) tidak terpengaruh oleh

jumlah hutang. Dengan kata lain, teori Modigliani dan Miller menyatakan

bahwa struktur modal bersifat independen (Supriyanto, 2017 dalam

Kristanti, 2018). Namun, meski asumsi-asumsi yang mendasari teori

Modigliani dan Miller sangat tidak realistis, hasil yang tidak relevan dari

teori tersebut sangatlah penting. Dengan mengindikasikan kondisi-kondisi

yang menunjukkan struktur modal yang tidak relevan, teori Modigliani

dan Miller menyediakan petunjuk tentang kondisi yang memungkinkan

struktur modal relevan dan dengan demikian mempengaruhi nilai

perusahaan.

5.3 Pecking Order Theory

Pecking order theory adalah teori yang menjelaskan tahapan yang

dilakukan perusahaan dalam upaya meningkatkan jumlah pendanaan dan

mempengaruhi keputusan struktur modal melalui hutang, laba ditahan,

hutang lainnya, dan menerbitkan saham biasa. Secara ringkas, teori ini

menyatakan bahwa perusahaan lebih menyukai pendanaan internal

dibandingkan pendanaan eksternal, karena dana internal memungkinkan

perusahaan untuk tidak perlu membuka diri terhadap pihak eksternal

(Kristianti, 2018). Oleh karena itu, investor akan mengharapkan tingkat

pengembalian yang lebih tinggi terhadap penggunaan ekuitas

dibandingkan hutang. Pandangan perusahaan, laba ditahan merupakan

(40)

23

merupakan sumber pendanaan yang lebih baik dibandingkan ekuitas

(Suhardi & Afrizal, 2019).

Dalam kondisi perusahaan harus memperoleh pendanaan dari eksternal,

maka pendanaan dalam bentuk hutang lebih disukai dibandingkan pendanaan

dalam bentuk modal sendiri. Beberapa pertimbangan yang mempengaruhi

keputusan tersebut adalah antara lain terkait biaya emisi penerbitan hutang yang

lebih murah dibandingkan biaya emisi penerbitan saham baru. Dengan timbulnya

beban untuk penerbitan saham yang cukup tinggi dan munculnya asimetri

informasi antara manajemen dan pihak eksternal dapat menimbulkan signaling

effects yang dapat menurunkan harga saham. Oleh karena itu, perusahaan

semakin tidak mengharapkan pendanaan dengan penerbitan saham baru

(Kristianti, 2018).

Dasar pemikiran logis bagi sebuah perusahaan untuk mengikuti tahapan-tahapan tersebut adalah karena tidak ada beban yang harus ditanggung untuk meningkatkan modal dengan menggunakan pendanaan bentuk hutang secara spontan maupun laba ditahan, serta beban akan relatif rendah ketika perusahaan menerbitkan hutang yang baru. Perusahaan mendanai asetnya dengan berbagai kombinasi komposisi ekuitas dan likuiditas, yaitu dengan bauran atas hutang jangka panjang, utang spesifik jangka pendek, saham biasa maupun saham preferen. Struktur modal merupakan bauran atas pendanaan yang dipilih untuk membiayai keseluruhan operasional dan pertumbuhan perusahaan dengan menggunakan berbagai variasi sumber dana. hutang dapat berupa penerbitan obligasi atau hutang wesel jangka panjang,

(41)

24

sementara ekuitas dapat diklasifikasikan dalam saham biasa, saham preferen, maupun laba ditahan (Hudaya, 2017).

Dalam mengukur Struktur Modal pada perusahaan menggunakan proksi

Debt to Asset Ratio (DAR) merupakan rasio hutang yang digunakan untuk

mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau seberapa

besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva

Pengukurannya menggunakan rumus sebagai berikut:

DAR =

6. Kinerja Perusahaan

Kinerja keuangan perusahaan adalah kondisi keuangan yang dipengaruhi

oleh proses pengambilan keputusan manajemen. Kinerja keuangan merupakan

hal yang kompleks karena menyangkut efektivitas pemanfaatan modal, dan

efisiensi dari kegiatan perusahaan. Di sisi lain, pemegang saham melakukan

investasi bisnis dengan tujuan utama mencapai peningkatan kesejahteraan.

Analisis laporan keuangan merupakan permulaan masa depan bila dilihat dari

sudut pandang investor, sedangkan bagi manajemen bermanfaat untuk

membantu mengantisipasi kondisi mendatang dan menjadi titik awal

perencanaan tindakan yang akan mempengaruhi jalannya kejadian mendatang.

Dengan demikian, pengukuran kinerja keuangan perusahaan harus mampu

memberikan indikator atas perubahan tingkat kesejahteraan para pemegang

(42)

25

Dalam praktiknya, terdapat beberapa macam jenis rasio keuangan yang

dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan. Masing- masing

jenis rasio yang digunakan akan memberikan arti tertentu tentang posisi yang

diinginkan. Berikut ini jenis-jenis rasio keuangan menurut Kasmir (2019) yaitu:

6.1 Rasio Likuiditas.

Fred Weston (1996) dalam Kasmir (2019), menyatakan bahwa

rasio likuiditas (liquidity ratio) adalah rasio yang memberi gambaran

tentang kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka

pendek. Dapat diartikan bila perusahaan menerima penagihan, maka

mampu memenuhi hutang (membayar) hutang yang sudah jatuh tempo.

Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan terdiri dari:

6.1.1 Rasio Lancar.

Rasio Lancar yaitu rasio yang mengukur kapasitas

perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek akan jatuh tempo

ketika ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, banyaknya

aktiva lancar yang ada untuk memenuhi kewajiban jangka

pendek yang akan jatuh tempo. Rasio lancar dapat dikatakan rasio

yang mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu

perusahaan.

6.1.2 Rasio Sangat Lancar

Rasio cepat (quick ratio) atau rasio sangat lancar yaitu

(43)

26

kewajiban lancar (hutang jangka pendek) dengan menggunakan

aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory).

Hal ini dikarenakan nilai sediaan memerlukan waktu lebih lama

untuk dikonversi dalam bentuk uang, apabila perusahaan

memerlukan dana cepat untuk memenuhi kewajibannya

dibandingkan aktiva lancar lainnya.

6.1.3 Rasio Kas

Rasio kas atau cash ratio, adalah alat yang digunakan

ketika mengukur seberapa banyak uang kas tersedia untuk

digunakan saat membayar hutang. Ketersediaan uang kas bisa

terlihat dari tersedianya kas atau setara kas seperti rekening giro

atau tabungan bank. Dapat disimpulkan rasio ini menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang-hutang jangka

pendeknya.

6.1.4 Rasio Perputaran Kas

Rasio yang ditujukan untuk menilai tingkat kecukupan

modal kerja pada perusahaan dan dibutuhkan untuk memenuhi

kewajiban tagihan dan membiayai penjualan. Artinya,

ketersediaan kas dalam memenuhi tagihan (hutang) dan biaya

yang terkait dengan penjualan.

6.1.5 Inventory to Net Working Capital

(44)

27

jumlah sediaan yang ada pada perusahaan dengan modal kerja

yang dimiliki oleh perusahaan. Modal kerja tersebut terdiri atas

pengurangan aktiva lancar dengan hutang lancar.

6.2 Rasio Solvabilitas.

Rasio Solvabilitas merupakan rasio yang berfungsi untuk

mengukur kemampuan aktiva perusahaan dapat dibiayai dengan

menggunakan hutang. Dapat diartikan, besarnya beban hutang yang

dimiliki perusahaan dibandingkan dengan aktiva perusahaan. Adapun

jenis-jenis rasio solvabilitas adalah :

6.2.1 Debt to Assets Ratio (Debt Ratio).

Merupakan rasio yang digunakan saat mengukur

kemampuan aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau

kemampuan hutang perusahaan mempunyai pengaruh terhadap

pengelolaan aktiva. diukur dengan membandingkan total hutang

dengan total aktiva.

6.2.2 Debt to Equity Ratio.

Merupakan rasio untuk membandingkan hutang dengan

ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang

disediakan peminjam (kreditur) dengan pemilik perusahaan. Dapat

diartikan bahwa rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah

(45)

28

6.2.3 Long term Debt to Equity Ratio.

Long term debt to equity ratio merupakan rasio yang

membandingkan hutang jangka panjang dengan modal sendiri.

Bertujuan untuk mengukur bagian dari setiap rupiah modal sendiri

yang dijadikan jaminan hutang jangka panjang dengan cara

membandingkan antara hutang jangka panjang dengan modal

sendiri yang dimiliki oleh perusahaan.

6.2.4 Times Interest Earned.

Times Interest Earned Ratio adalah rasio yang digunakan

untuk menilai kemampuan perusahaan saat memenuhi beban

bunga di masa yang akan datang. Rasio ini dapat digolongkan

sebagai rasio keuangan dalam rasio solvabilitas, Hal ini

disebabkan Times Interest Earned Ratio adalah rasio yang

digunakan untuk mengukur perusahaan dalam memenuhi beban

bunga dan hutang pokoknya.

6.2.5 Fixed Charge Coverage.

Fixed Charge Coverage atau lingkup biaya tetap

merupakan rasio yang digunakan apabila perusahaan mendapatkan

hutang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan pada

kontrak sewa (lease contract). Biaya tetap adalah biaya bunga

(46)

29 6.3 Rasio Aktivitas.

Rasio Aktivitas (activity ratio), merupakan rasio berfungsi untuk

mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva yang ada.

Dapat dikatakan pula rasio ini untuk mengukur tingkat efisiensi

pengelolaan sumber daya perusahaan. Efisiensi yang dapat dilakukan

biasanya pada bidang penjualan, sediaan, penagihan, piutang, dan efisiensi

di bidang lainnya. Rasio aktivitas dapat digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan melaksanakan aktivitas bisnis pada umumnya.

Jenis rasio aktivitas terdiri dari:

6.3.1 Perputaran Piutang (Receivable Turnover).

Perputaran Piutang (Receivable Turnover), merupakan rasio

yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang

selama satu periode. Atau berapa kali dana yang ditanam dalam

piutang ini berputar dalam satu periode. semakin tinggi rasio

menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang

makin rendah (perbandingan dengan rasio tahun sebelumnya) dan

tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik. Sebaliknya jika

rasio semakin rendah, maka ada over investment dalam piutang.

6.3.2 Hari Rata-rata Penagihan Piutang (Days of Receivable)

Hari Rata-rata Penagihan Piutang (Days of Receivable)

adalah rasio yang menunjukkan jumlah hari (berapa hari) piutang

(47)

30

disebut dengan days sales uncollected. Pada umumnya rasio ini

digunakan untuk perusahaan perbankan yang akan memberikan

kredit.

6.3.3 Perputaran Sediaan (Inventory Turnover).

Perputaran sediaan (Inventory turnover), merupakan rasio

yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam

dalam sediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode. Dapat

diartikan pula bahwa perputaran persediaan merupakan rasio yang

menunjukkan berapa kali jumlah barang sediaan diganti dalam satu

tahun. Semakin kecil rasio ini, maka semakin buruk perusahaan,

demikian pula sebaliknya.

6.3.4 Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover).

Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover),

merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai

keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu.

Artinya, seberapa banyak modal kerja berputar selama suatu

periode. Untuk mengukur rasio ini dengan cara membandingkan

antara penjualan dengan modal kerja atau dengan modal kerja

rata-rata.

6.3.5 Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover).

Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover),

(48)

31

yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode.

Atau dengan kata lain untuk mengukur apakah perusahaan sudah

menggunakan kapasitas aktiva tetap sepenuhnya atau belum. Untuk

mencari rasio ini caranya adalah membandingkan antara penjualan

bersih dengan aktiva tetap dalam satu periode.

6.3.6 Perputaran Aktiva (Assets Turnover).

Perputaran Aktiva (Assets Turnover), merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki

perusahaan. Kemudian juga mengukur berapa jumlah penjualan

yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.

6.4 Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk melihat

kemampuan perusahaan untuk mencari laba. Hal ini dapat dilihat oleh laba

yang dihasilkan dari aktivitas penjualan serta pendapatan investasi. Intinya

bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. Jenis-jenis

rasio profitabilitas sebagai berikut:

6.4.1 Profit Margin (Profit Margin on Sales).

Profit Margin on Sales atau Rasio Profit Margin atau margin

laba atas penjualan, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai

margin laba atas penjualan yang dihasilkan. Untuk mengukur rasio

(49)

32

dengan penjualan bersih. Rasio ini juga dikenal dengan nama profit

margin.

6.4.2 Return on Investment (ROI).

Hasil Pengembalian Investasi atau dikenal dengan sebutan

Return on Investment (ROI) atau Return on Total Assets (ROA),

adalah rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva

yang dikelola dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu

penilaian tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasi

yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

6.4.3 Return on Equity (ROE).

Hasil Pengembalian Ekuitas atau Return on Equity

merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan

modal sendiri (ekuitas). Rasio ini menginformasikan efisiensi

pengelolaan modal sendiri. semakin tinggi nilai rasio ini, maka

kondisi perusahaan semakin baik. Artinya, posisi pemilik

perusahaan semakin kuat, dan sebaliknya.

6.4.4 Laba Per Lembar Saham

Rasio Laba Per Lembar Saham (Earnings Per Share) adalah

rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen untuk

mencapai tingkat laba tertentu bagi pemegang saham. Rasio yang

rendah menandakan manajemen belum berhasil memenuhi

(50)

33

dihasilkan tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat.

6.5 Rasio Pertumbuhan

Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) merupakan rasio yang

menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi

ekonominya di tengah pertumbuhan perekonomian. Dalam rasio

pertumbuhan yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan yang

dihasilkan, pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan per saham,

dan pertumbuhan dividen per saham pada periode tersebut.

6.6 Rasio Penilaian.

Rasio Penilaian (Valuation Ratio), yaitu rasio yang

menginformasikan ukuran kemampuan manajemen dalam menciptakan

nilai pasar usahanya atas biaya investasi, seperti :

6.6.1 Rasio harga saham terhadap pendapatan.

Rasio harga pasar per saham terhadap laba bersih per saham.

adalah rasio valuasi harga saham perusahaan saat ini dibandingkan

dengan laba bersih per sahamnya.Dapat dikatakan rasio ini sering

digunakan untuk mengevaluasi investasi prospektif. Rasio ini juga

berfungsi membantu investor dalam pengambilan keputusan untuk

membeli saham perusahaan tertentu.

6.6.2 Rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku.

Rasio pasar harga saham terhadap nilai buku memberikan

(51)

34

dapat dianggap baik oleh investor, yang berarti bahwa perusahaan

menghasilkan laba dan arus kas dengan baik. Dan mengalami

pertumbuhan penjualan dengan rasio nilai buku tinggi dibandingkan

perusahaan dengan pengembalian yang rendah.

Penilaian kinerja keuangan dapat diukur dengan menggunakan rasio

profitabilitas. Profitabilitas merupakan salah satu rasio yang memiliki peran

penting dan sering dimanfaatkan sebagai kriteria dalam menilai hasil operasi

perusahaan serta dapat digunakan sebagai analisis kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba yang ditujukan untuk mendeteksi sebab timbulnya laba rugi

yang dihasilkan oleh suatu entitas perusahaan, sehingga dengan melihat

profitabilitas dapat tercermin bagaimana kondisi kinerja keuangan apakah

mengalami kenaikan ataupun penurunan. Profitabilitas perusahaan yang tinggi

menunjukkan laba yang dimiliki bertumbuh.

Manajemen memanfaatkan profitabilitas sebagai alat pengendali oleh

pihak intern dalam menyusun target yang ingin dicapai, anggaran, koordinasi,

serta mengevaluasi hasil pelaksanaan operasi perusahaan sebagai dasar dalam

penentuan suatu keputusan. Return On Asset (ROA) merupakan salah satu rasio

keuangan dalam menganalisis profitabilitas perusahaan. Rasio ini menunjukkan

tingkat efisiensi dari perusahaan dalam mengelola seluruh aktivanya untuk

memperoleh pendapatan. ROA dalam perusahaan biasanya digunakan sebagai

pengukuran kinerja keuangan karena untuk melihat bagaimana pengelolaan aset

(52)

35

dapat menunjukkan baik atau buruknya kinerja manajer. Sebab, semakin besar

persentase ROA yang dihasilkan oleh perusahaan menandakan bahwa kinerja

keuangan perusahaan akan semakin baik (Kristianti, 2018). Dalam mengukur

Return On Asset pada perusahaan menggunakan rumus sebagai berikut :

ROA =

Return on equity (ROE) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan modal

sendiri. ROE merupakan suatu pengukuran dari perhitungan laba yang tersedia

bagi pemilik perusahaan, baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham

preferen, atas modal yang telah diinvestasikan dalam perusahaan. ROE

mempunyai arti penting bagi para pemegang saham, karena ROE menunjukkan

kemampuan manajemen dalam menghasilkan laba bersih dengan

mengoptimalkan modal yang tersedia. ROE menunjukkan seberapa banyak

perusahaan yang telah memperoleh dana atas dana yang diinvestasikan oleh

pemegang saham.

Dalam mengukur Return On Equity pada perusahaan menggunakan

rumus sebagai berikut :

ROE =

Gambar

Tabel 2.1   Peringkat PROPER
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Tabel 4.7  Hasil Uji Statistik F
Tabel 4.8  Hasil Uji t-test

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan tindakan dari siklus kesiklus dikarenakan guru dapat melaksanakan rancangan pembelajaran dengan baik sesuai dengan pendekatan yang digunakan,

Kepesertaan BPJS Kesehatan adalah wajib bagi seluruh penduduk atau masyarakat Indonesia, meskipun demikian ditemukan banyak masyarakat yang tidak ikutserta dalam

Denah yang baik untuk bangunan rumah di daerah gempa adalah sebagai berikut: (Sumber: (Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan.. Gempa,

Sekiranya produk bercampur atau diproses dengan bahan-bahan lain, atau sesuatu pembaikan dilakukan, pernyataan di dalam helaian data keselamatan ini tidak boleh diguna pakai

Jadi, pada dasarnya seluruh sampel produk hijab (kerudung dan jilbab) yang telah dianalisis baik Zoya maupun Rabbani menunjukkan adanya muatan fetisisme komoditas, sehingga

arsitektur tradisional sunda; (2) merekam dan mendeskripsikan penerapan arsitektur sunda pada resort yang diteliti dengan cara mengamati bentuk fisik lanskap dan

Karena posyandu adalah kegiatan yang bersifat partisipatif dan dilakukan swadaya oleh masyarakat, sehingga yang terlibat sebagai kader posyandu pada umumnya adalah

Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk mensosialisasikan TOGA kepada masyarakat Desa Ringinputih yang pada dasarnya belum memiliki pengetahuan berkaitan dengan TOGA